Minggu, 23 Desember 2018

The Last Emergency Call I Took

Aku Nina Rodriguez, aku menjadi seorang petugas kepolisian selama tujuh tahun. Selama aku di kepolisian, aku telah melihat beberapa hal yang cukup kacau, sedikitnya: pecandu narkoba, orang tua yang kejam, dan bahkan beberapa panggilan minta tolong dari bunuh diri. Namun, tidak ada dari hal-hal tersebut yang bisa dibandingkan dengan satu panggilan darurat yang kuambil sebulan yang lalu.

Sekarang aku tidak menyukai saat menjawab panggilan darurat, bukan karena rasa khawatir berlebihan dari orang yang menelepon tentang setiap decitan kecil di rumah mereka, suara keluhan-keluhan, atau bahkan terkadang telepon iseng, walaupun itu sangat menggangu. Bukan itu, hal paling buruk tentang menjawab panggilan darurat adalah mengetahui bahwa aku berada di sisi lain dari telepon dan tidak peduli seberapa banyak aku berharap atau seberapa cepat mobil polisi bisa sampai di tkp, aku sama sekali tidak punya kekuatan atas situasi ini. Sayangnya, yang berikut ini adalah situasi tersebut:

Hari itu sama seperti biasanya, saking membosankannya sampai bisa diprediksi. Saat itu adalah hari Rabu malam dan jam berakhirnya shiftku masih lama. Jangan salah paham, aku suka menjadi petugas kepolisian, tetapi aku tidak mendaftar menjadi seorang sekretaris. Aku menghela napas panjang dan melemparkan berkas-berkas ke mejaku, tanpa sadar memindai melalui berbagai laporan dari awal hari itu. Tidak ada kejadian penting yang menakutkan, tidak ada tabrak lari, perampokan, atau kekerasan. Hidup di negara ini tidak memerlukan banyak perhatian polisi, katakanlah, seperti banyak di kota besar. Teleponku berdering di pojok mejaku, membangunkanku dari lamunan.

"911, apa keadaan darurat Anda?" aku bertanya dalam nada yang monokrom.

"Tolong, aku butuh bantuanmu." Suara kecil yang feminim menjawab. Aku duduk dengan tegak.

"Ya, apa keadaan daruratnya, nona?" aku mengulangi sambil menyiapkan pulpen dan buku catatanku.

"Ada seseorang di luar rumahku, dia hanya berdiri di sana." Jawabnya, suaranya terdengar ketakutan. Ini sama sekali bukan situasi yang tidak biasa. Sudah ada beberapa kasus yang berbeda berisi tentang penguntit gila.

"Sekarang, tetaplah tenang, semuanya akan baik-baik saja." Aku berkata dengan suara yang paling meyakinkan dan lemah lembut. Kemudian aku melanjutkan dengan pertanyaan standar. "Dan sudah berapa lama dia berada di sana, nona?"

"Aku tidak tahu. Aku baru saja melihat ke luar jendela beberapa saat yang lalu dan dia masih berada di sana. Dia baru saja muncul di sana beberapa saat setelah hari mulai gelap... Sekitar satu jam yang lalu. Dan dia tidak berpindah satu inci pun atau berhenti melihat ke arahku." Aku berhenti menulis, ini menjadi sedikit aneh, seseorang hanya berdiri di satu tempat, tidak bergerak atau mengalihkan pandangan. Siapa pun dia, aku merasa kalau dia orang yang sangat berbahaya.

"Baik, nona, kami akan mengirimkan petugas. Apa nama dan alamat jalan Anda?"

"Elizabeth Traville, 1465 Wellington Rd." Dengan menggumam, aku menulis alamatnya, dan memberikannya kepada seorang petugas laki-laki yang bersiaga dan dia pun pergi ke sana.

"Baiklah, nona, kami mengirim satu mobil polisi sekarang." Aku bisa mendengar suara napas lega.

"Sementara petugas itu ke sana," aku memulai, "Bisakah Anda mencoba menjelaskan seseorang itu kepada saya, apakah Anda mengenalnya?" tanyaku, mengidentifikasi pelaku dan meyakinkan bahwa dia aman adalah hal terpenting saat ini.

"Yah... aku tidak mengenal secara pasti, atau siapa pun dengan tubuh seperti itu. Dia... tinggi, sangat tinggi, pucat, dan kurus, hampir... terlihat kurus. Dan dia... telanjang, kurasa. Namun kupikir dia terlalu jauh untuk diceritakan."

"Oke, bisakah Anda melihat wajahnya dan menjelaskannya kepada saya?"

"Tidak, terlalu gelap untuk bisa melihat wajahnya. Dan aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan tentang dia, tetapi aku tahu dia pasti melihat ke arahku, sepanjang waktu dia berada di sana."

"Apakah semua pintu rumah Anda terkunci?" tanyaku.

"Aku rasa pintu belakang masih belum dikunci, aku akan pergi mengunci secepatnya."

"Baik, saya akan menunggu." Aku mendengar dia berjalan dan suara klik yang kukenal bergema dari kunci deadbolt.

———

"Oke, aku kembali, sekarang semua pintu sudah terkunci dan dia..." Dia terdiam.

"Ada apa, nona?" tanyaku.

"Nona?" Aku menjadi sangat dan sangat tidak nyaman dalam keheningan. Kesunyian seperti berlangsung selamanya sampai dia berbicara lagi dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya.

"Sekarang dia mendekat. Sebelumnya dia hanya berada di pinggir hutanku yang beberapa meter jauhnya, tetapi sekarang dia berada di separuhnya."

"Penting bagi Anda untuk tetap tenang. Sekarang, bisakah Anda melihat apa pun bentuknya setelah dia mendekat?"

"Yah, itu aneh. Dia telanjang tetapi aku tidak bisa melihat alat kelamin atau rambut atau yah... Ciri-ciri penentu apa pun, dia seperti mengenakan setelan ketat dari kulit. Aku masih tidak bisa melihat wajahnya tetapi aku bisa menjelaskan kalau wajahnya cacat di beberapa bagian. Dia masih menatap ke arahku, itu sangat mengerikan."

"Oke, nona, saya meminta Anda untuk menemukan tempat yang aman untuk mencegah dari sesuatu apabila ada yang salah." Aku berkata setenang mungkin, mencoba untuk tidak menakutinya lebih jauh.

"Y-Ya, baiklah. Pintu kamarku ada penguncinya dan begitu juga kamar man—" Dia terdiam lebih lama dan aku bisa mendengar rengekan kecil.

"Nona? Apakah semua baik-baik saja?"

"Dia mendekat." Suaranya sangat pelan jadi jika aku tidak mendengarkan secara bersungguh-sungguh, aku bisa melewatkannya.

"Nona?" tanyaku lagi.

"Dia semakin dekat. Aku hanya melamun sejenak sambil memandang kamar mandi, dan kemudian jaraknya hampir 30 meter dari tempat dia berada ke rumah ini. Namun setidaknya sekarang aku bisa melihat... oh Tuhan."

"Nona?" Suaraku keluar mencicit kecil, aku berada di pinggir kursiku.

"Ya Tuhan, wajahnya. Aku bisa melihatnya, wajahnya menempel di jendela. Ini sangat mengerikan. Matanya sangat lebar, seperti bola biliar hitam menggelembung keluar dari kepalanya, dan dia.. tersenyum dari telinga ke telinga, atau jika itu disebut telinganya." Dia mulai terisak. Aku harus menghentikannya agar tidak histeris... dari apapun yang sekarang berada di sisi lain jendelanya itu.

"Nona, Anda harus pergi ke tempat yang lebih aman sekarang." Kataku setelah mendapatkan kembali suara aba-abaku.

Tak ada jawaban.

“Nona?"

"No—" Perkataanku disela.

"Tolong aku." Suaranya memohon tepat di pengeras suara telepon dan segera disusul oleh suara kaca pecah.

Telepon jatuh ke lantai dengan suara keletak dari cekung plastik. Dia menjerit keras. Dia mengatakan berbagai permohonan, memohon agar pergi, tetapi itu percuma. Jeritannya mulai menghilang, terdengar semakin jauh sampai aku tidak bisa mendengarnya lagi.

Tidak ada suara kecuali keheningan yang diikuti dengan waktu yang berlalu. Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sini menunggu sesuatu atau apa pun itu. Aku juga tidak sadar betapa eratnya aku menggenggam telepon, tidak menyadari sampai aku mendengar suara sirene dari mobil polisi lalu aku menutup telepon. Itu adalah mobil polisi yang aku kirimkan lima belas menit yang lalu.

Original Author: Cinderelly

Translator: Reta

Source: Creepypasta Index

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna