Jumat, 21 Desember 2018

The Eighth Floor

Aku menginap di sebuah hotel di Chicago Illinois selama melakukan perjalanan bisnis dan aku akan menginap selama akhir pekan. Itu adalah hotel tua, satu-satunya yang masih menggunakan kunci kecil dibanding menggunakan kartu kunci untuk memasuki kamar. Aku tidak memikirkannya, tampak bagus untuk menjauh dari gempuran teknologi.



Ketika aku memasuki hotel, di sana penuh sesak. Ada serangan badai, banyak turis mengantri dan penerbangan dibatalkan. Tidak ada kamar lebih yang tersedia dan banyak pemesanan ditolak karena tidak ada kamar tersisa. Ketika aku mendekat ke meja resepsionis untuk check-in, aku melihat semua kunci untuk kamar di lantai delapan masih berada di dinding. Aneh rasanya bahwa seluruh lantai akan kosong ketika banyak orang naik dan memasuki kamar mereka.

Aku hanya bisa memerhatikan juru tulis laki-laki itu tertekan dan sepertinya dia sudah siap untuk menyerah dan pulang, jadi aku mencoba untuk meringankan suasana hatinya. "Sepertinya aneh, kan?"

"Apanya?" Tanya juru tulis itu.

“Kok bisa orang-orang di lantai delapan menghilang."

Juru tulis itu memberiku tatapan aneh dan wajahnya memucat. "Apa yang Anda ketahui tentang lantai delapan?" Dia menjawab dengan nada serius.

“Apa? Tidak ada!" Aku menjawab dengan jujur, sedikit merasa malu bahwa usahaku untuk meringankan suasana hatinya malah menjadi bumerang. "Aku hanya melihat kalau semua kunci untuk lantai delapan masih berada di belakang meja ini."

Wajah juru tulis itu sedikit memerah dan mencoba untuk menertawakannya. "Oh, iya, aku tahu..." Dia kembali memeriksa data dan menyerahkan kunci kamarku di lantai sembilan. "Selamat menikmati acara menginap Anda."

“Tentu... Terima kasih." Dengan canggung aku menerima kunci dan mengambil tasku, lalu berjalan ke lift.

Sama seperti lobi, lift pun juga penuh sesak, susah rasanya untuk berdiri di sebelah banyak orang asing secara berdekatan, apalagi masuk dan keluar dari ruang kecil. Aku berusaha mencapai dan menekan tombol ke lantai sembilan, tetapi aku berhasil melewati kerumunan orang dan mencapai panel tombol. Saat itulah aku menyadari bahwa tombol yang hilang adalah untuk lantai nomor: 8.

"Ini lucu." Aku berpikir keras. "Aku heran kenapa di sini tidak ada tombol untuk lantai delapan."

Namun tidak seorang pun di lift yang bereaksi. Mungkin mereka tidak peduli atau mereka terlalu asyik sendiri dan tidak mendengarku.

Ketika aku akhirnya sampai ke lantaiku dan masuk ke dalam kamar, aku mengambil waktu sejenak untuk bersantai dan berbaring di tempat tidur. Besok aku harus memberikan presentasi dan aku perlu bersiap-siap. Aku memutuskan untuk pergi tidur lebih cepat sehingga malamnya aku bisa berlatih pidato selama beberapa saat untuk meyakinkan bahwa aku terdengar percaya diri.

Aku mandi, menggosok gigi dan berdiri di depan cermin di kamar mandi sambil berlatih strategi pemasaranku beberapa kali.

Terdengar suara erangan aneh dari ruangan di bawah kamar, menarik perhatianku. Suara itu terdengar seperti ada seorang pria yang kesakitan atau terganggu. Aku mengabaikan dan melanjutkan latihan pidatoku. Suara erangan dari lantai bawah terus berlanjut menjadi semakin keras dan keras setiap menitnya.

Dengan marah aku menghentakkan kaki ke lantai sekuat yang aku bisa dan berteriak: "Hei, bung! Apa kau baik-baik saja?"

Tidak ada jawaban, suara erangan itu berhenti.

Yakin bahwa pria itu menyadari kalau dia terlalu berisik, aku melanjutkan latihan pidatoku. Ketika aku baru menyelesaikan separuh bagian pertama dari pidato, suara erangan itu terdengar lagi. Namun kali ini terdengar lebih keras dan marah.

Jika ini akan berlangsung semalaman, tidak ada cara yang bisa aku persiapkan untuk presentasi besok. Aku mengetuk pintu kamar sebelah dan disambut dengan jawaban galak dari seorang wanita muda dan suaminya.

“Permisi," Dengan sopan aku mencoba mengajak mereka ke dalam percakapan.

"Apakah kalian mendengar suara dari ruangan di bawah kita?"

“Tidaaakk..." Si wanita terdengar lebih terganggu daripada menggerutu. "Kami tidak mendengar apa pun sampai kau menggedor pintu."

“Oh, maafkan saya." Aku meminta maaf, sekali lagi merasa malu. "Mungkin ada masalah pipa atau sesuatu lain." Aku mencoba untuk memikirkan penjelasan lain yang memungkinkan jadi aku tidak terlihat seperti orang gila. "Yah, kalau begitu saya akan memanggil pihak manajemen. Selamat malam."

Pasangan itu menutup pintu dan menguncinya. Aku kembali ke kamarku di mana suara erangan masih terus terdengar. Aku mengangkat telepon di meja kecil di sebelah tempat tidur dan menelepon resepsionis untuk memprotes tentang suara itu. Ketika aku mengatakan bahwa suara itu tampaknya terdengar dari ruangan di bawahku, yaitu kamar di lantai delapan, wanita yang menjawab telepon tiba-tiba terdiam.

“Pak, tidak ada satu pun orang yang memesan kamar di sana. Mungkin itu suara dari seseorang di lantai sembilan."

“Tidak," aku mencoba untuk terdengar yakin. "Suara itu tidak berasal dari dinding, itu berasal dari lantai."

“Yah..." Suara wanita itu terdengar bingung dan aku bisa merasakan bahwa dia sedang mencoba memikirkan penjelasan agar aku menutup telepon. "Saya akan memanggil petugas pemeliharaan. Mungkin suara itu berasal dari pipa bocor atau ada masalah dengan pipa penghangat."

"Ya, terima kasih." Aku menutup telepon, tidak memercayainya secepat itu.

Suara erangan semakin keras dan semakin marah setiap menitnya. Aku meletakkan tanganku ke telinga untuk mencoba menghalangi suara agar tidak terdengar tetapi itu tidak cukup. Aku berjalan kembali ke kamar mandi dan menyalakan pancuran dan wastafel sampai penuh, berharap air yang mengalir akan menenggelamkan kebisingan tetapi itu hanya membantu sedikit.

Aku duduk di lantai kamar mandi, mencoba memikirkan cara untuk bisa tidur tetapi aku tidak punya pilihan lain. Semua kamar sudah dipesan, aku tidak bisa meminta kamar baru dan tidak ada hotel lain yang masih menyediakan kamar kosong selama badai melanda.

Tiba-tiba pipa pancuran mulai berderak keras. Guncangan sangat kuat yang menyebabkan aliran air rintik-rintik terus berjalan. Suara itu seperti gemuruh dari dalam dinding dan gemuruh dari luar hotel, serta hujan deras terdengar seperti kereta barang yang meluncur dengan cepat melaju ke arahku.

Aku meninggalkan kamar, menggenggam kunci kamar dan ponsel, aku berjalan ke lift sehingga bisa mengajukan protes di lobi. Segera setelah aku melangkah masuk ke lift, aku ingat kalau lantai delapan tidak bisa diakses, tombolnya tidak ada. Lalu bagaimana jika ada orang yang mau memeriksa lantai delapan?

Penasaran, aku keluar dari lift dan berjalan menuju tangga. Aku menyusuri ruangan tempat tangga dari lantai sembilan dan langsung sampai ke lantai tujuh! Itu mustahil, aku berkata pada diri sendiri. Aku kembali menaiki tangga dan memeriksa nomor lantai dua kali, cukup yakin, sama seperti lift, tidak ada nomor 8.

Aku menaiki dan menuruni tangga beberapa kali, mencoba untuk memahami apa yang terjadi, ketika kemudian aku melihat sebuah celah kecil di dinding di sebelah pintu keluar masuk menuju lantai tujuh. Aku memeriksa dan menyadari bahwa itu adalah sebuah celah. Celah itu berada di antara pintu tersembunyi dan bingkai pintunya.

Dengan menggunakan ujung jari, aku membongkar pintu dan menemukan sebuah tangga mengarah kembali ke suatu lorong. Itu menuju ke lantai delapan yang keberadaannya tidak ada. Di sana gelap dan berdebu, seperti tidak ada yang menggunakan lorong ini selama bertahun-tahun.

Aku menggunakan layar dari ponselku untuk menerangi jalan ketika aku berjalan menyusuri tangga rahasia. Ada pintu lain berada di puncak tangga, tidak disegel atau disembunyikan, itu bisa dengan mudah dicapai. Pintu itu bertuliskan nomor 8.

Membuka pintu, aku merasakan diriku berada di lantai delapan dan sendirian. Aku bisa merasakannya, tidak akan ada seorang pun yang berada di lantai ini bersamaku. Lorong panjang ini gelap, bahkan tanda keluarnya tidak menyala. Aku melanjutkan menggunakan ponselku ketika menyusuri lorong, memeriksa setiap pintu yang aku lewati. Semuanya dikunci, kecuali satu pintu. Pintu yang tidak terkunci itu berasal dari kamar yang berada tepat di bawah kamarku.

Aku mengetuk sekali, hanya untuk memastikan tidak ada pemeriksaan di dalam kamar itu secara rahasia, tetapi tidak ada jawaban. Aku membuka pintu, masih mencoba untuk memahami kenapa pintu ini tidak terkunci, dan mendapati diriku berdiri di dalam kamar yang mencerminkan kamarku sendiri secara sempurna.

Lampunya tidak bisa menyala, aku menekan sakelar beberapa kali tetapi tidak ada daya di lantai ini. "Halo?" Aku berseru. "Apa... Apakah ada orang di sini?"

Masih tidak ada jawaban. Aku memeriksa ponselku dan mengangkatnya, tetapi garis sinyal mati. Banyaknya debu dan jaring laba-laba memberi tahuku bahwa tidak ada orang di kamar ini dalam waktu cukup lama, tetapi aku masih merasa harus melihat-lihat.

Aku membuka pintu kamar mandi dan terkejut ketika melihat apa yang ada di sana. Ada bak mandi di ruangan itu, tetapi tidak sama seperti kamar mandiku yang punya pancuran, dan wastafelnya penuh dengan air. Air yang berada di bak mandi, seolah-olah bisa tumpah kapan saja. Aku melangkah mendekat, masih menggunakan ponselku untuk menerangi jalan, ketika aku melihat sosok hitam di dalam bak mandi.

Sosok itu terlihat seperti seorang pria. Mayat seorang pria.

Aku menyorotkan ponselku ke arahnya dan aku menatap ke bawah air yang tenang, seolah-olah tidak sadar mencoba untuk melihat wajah pria yang sudah mati itu. Ketika indraku perlahan kembali, mata pria itu terbuka dan dia menatapku secara langsung.

Aku jatuh terjungkal ke lantai, menjatuhkan ponselku dan kehilangan penerangan.

Suara cipratan datang dari bak mandi dan aku bisa merasakan air dingin tumpah ke lantai, meresap ke pakaianku. Suara langkah berat yang basah keluar dari bak mandi. Langkah kedua adalah dorongan yang kubutuhkan untuk bangkit dan berlari!

Aku kabur dari kamar itu, tidak peduli tentang ponselku atau siapa pria itu, dan berlari menyusuri lorong kembali ke pintu di mana aku masuk. Aku berlari menuruni tangga menuju lobi dan tidak berhenti sampai aku menabrak meja.

Dengan terengah-engah aku mencoba untuk menceritakan kepada juru tulis tentang apa yang telah aku lihat dan kami perlu memanggil polisi.

Juru tulis itu terlihat ketakutan, bukan karena ada mayat di hotel tetapi lebih seperti dia takut dipecat, dia mengantarku ke kantor manajer di belakang meja.

"Pak," juru tulis itu mencoba bersuara tenang dan menenangkan. "Seperti apa yang Anda lihat?"

Aku menceritakan apa yang telah aku lihat dan aku dengar. Aku menunjukkannya noda basah di bajuku di mana air bak terciprat ke arahku. Aku tidak peduli jika aku ditangkap karena masuk tanpa izin atau menyebabkan gangguan, tetapi aku harus menceritakan apa yang terjadi.

Juru tulis itu mendengarkan ceritaku dengan saksama, tidak berkedip dan tidak mengalihkan pandangan. Ketika aku sudah selesai bercerita dia bangkit dan berjalan ke lemari arsip berukuran besar. Dia membuka laci yang tidak ditandai dan mulai membolak-balik koleksi berkas yang banyak. Menarik sebuah berkas dari laci, dia membukanya dan mengeluarkan artikel koran yang sangat tua.

"Apakah ini pria yang Anda lihat?" Dia bertanya sambil menyerahkan artikel padaku.

Aku melihat artikel itu dan aku merasa perutku mual. Benar, itu adalah pria yang kulihat.

Juru tulis itu duduk di depanku dan tersenyum kecil. "Anda bukanlah yang pertama kali melihatnya."

Ini bukan reaksi yang bisa aku bayangkan.

"Bacalah artikel itu, itu bisa membantu menyelesaikan masalahnya."

Artikel itu menceritakan kisah seorang pria yang pergi untuk urusan bisnis dan kembali ke rumah lalu mengetahui bahwa istrinya yang sedang hamil telah berselingkuh dan bayinya itu bukan anaknya. Patah hati dan merasa dikhianati, pria itu memesan kamar hotel dan tidak pernah meninggalkan kamarnya. Dia terdengar menangis dan meratap putus asa selama tiga hari sebelum akhirnya dia berhenti. Ketika pelayan memasuki kamarnya untuk bersih-bersih, dia menemukan tubuh pria itu di dalam bak mandi. Dia telah bunuh diri, menenggelamkan dirinya di bak setelah menelan banyak pil tidur.

"Inikah... inikah alasan kenapa kalian tidak membiarkan orang lain memesan kamar di lantai delapan? Karena pria ini?" Aku bertanya dengan perasaan lebih tenang ketika mengetahui bahwa aku tidak gila.

"Tidak." Juru tulis itu mengaku. "Dia bukan satu-satunya alasan kenapa kami tidak membiarkan orang lain memesan kamar di lantai delapan."

“Apa... Apa maksudmu?"

Juru tulis itu tersenyum lagi. "Anda lihat lemari arsip itu?"

"Ya."

“Dan laci yang tidak ditandai di bawah itu?"

“Ya," jawabku lagi. "Apa itu?"

"Laci itu berisi setiap alasan untuk tidak membiarkan orang lain memesan kamar di lantai delapan. Sejak hotel ini dibuka pada tahun 1873, kami selalu menangani orang mati dengan cara yang sangat tidak biasa. Selalu di lantai delapan.”

"Itu aneh." Aku berkomentar, merasa sedikit muak.

“Apa yang lebih aneh adalah kenyataan bahwa tidak ada dua kematian yang sama DAN tidak ada dua kematian yang pernah terjadi di ruangan yang sama. Setiap kamar di lantai delapan telah menjadi tempat kematian yang tragis, dan setiap kamar dilaporkan telah dihantui oleh orang mati."

Ini membuatku merinding. "Apa... Bagaimana... Apa Anda mengatakan kalau lantai delapan itu dikutuk? Siapa saja yang memeriksa ruangan di sana akan mati atau dihantui?”

Juru tulis itu menundukkan kepala. “Bukan hanya kamar yang telah menjadi tempat kematian. Pekerja pemeliharaan meninggal setelah melakukan perbaikan kecil. Satu orang tersengat listrik ketika mencoba memperbaiki lampu. Yang lain jatuh ke lubang lift, mengantarkannya menuju kematian. Seorang pelayan ditemukan tewas, tergantung lehernya di ujung lorong."

Aku duduk dengan ketakutan dan terpaku pada cerita juru tulis itu dan aku tidak ingin memercayainya. “Tapi... bukankah kita harus memanggil polisi? AKU MELIHAT mayat!”

“Semua orang melakukannya." Juru tulis itu menjelaskan. "Bahkan polisi pun melihat mayat juga, tetapi mereka tidak pernah bisa menjelaskan situasi ini."



Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sudah larut malam, aku lelah dan tidak ingin mengganggu lagi. Dengan enggan aku kembali ke kamar. Aku menaiki lift dan menahan napas ketika melewati lantai delapan yang ditutup. Ketika aku mendekat ke kamar, aku melihat sesuatu yang basah tergeletak di lantai di luar pintu kamar.

Itu adalah ponselku.

Translator: Reta

Original Author: WayWardWanderer

Source: Creepypasta Index

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna