Minggu, 23 Desember 2018

Tak Usah Menggambar

Tak Usah Menggambar. Sejak kecil orang-orang terus mengatakan padaku untuk tidak usah menggambar. Aku tidak tahu kenapa tetapi ketika kutanya, mereka akan marah lalu mengejekku.

"Gambarmu itu sungguh menggelikan!"

Setelah mengejekku seperti itu aku sering berpikir aku suka menggambar tetapi kenapa orang-orang benci gambarku? Apakah karena iri? Atau gambarku terlalu jelek di mata mereka? Jika gambarku terlalu jelek di mata mereka maka aku akan membuatnya jadi indah di mata mereka.

Beberapa tahun berlalu. Ketika aku sekolah dasar teman-temanku membully-ku mulai dari mengejekku hingga mencelakaiku seperti mendorongku dari tangga. Aku bisa menahannya, tetapi pada suatu hari aku sangat marah ketika aku telah menggambar seorang pemuda dengan susah payah dan teman-temanku merobek dan menginjak-injaknya ke lantai. Tentu saja aku tak terima dan marah tetapi apa daya, tenagaku tak cukup untuk melawan mereka semua.

"Sudah kubilang, kan? Gambarmu itu menggelikan serta menjijikkan!" kata salah satu temanku.

"Gambar seperti itu seharusnya lenyap berserta pembuatnya!" sambung temanku yang lain.

Kemarahanku semakin memanas dan berulang kali aku menggertak gigiku dan mengepalkan tanganku melihat reaksiku mereka tertawa lalu menumpahkan segelas coca-cola ke kepalaku kemudian pergi sambil tertawa penuh kemenangan.

"Aku tak terima ini..." kataku dalam hati.

"Aku sudah muak dengan kalian!" Hatiku mulai hancur.

Kemudian aku kembali menggambar dan anehnya saat aku menggambar seluruh dendam dan amarahku seperti tersedot ke dalam gambarku itu. Setelah selesai aku terkejut melihat gambar itu.

"Perasaan ini... Berbeda sekali dengan gambarku yang lainnya," kataku tertegun mengamati gambar itu.

Aku telah menggambar seorang gadis yang sebagai kekasih pemuda yang kugambar tadi, dalam gambar itu gadis itu terlihat sangat marah dan dendam karena kekasihnya telah dihina orang lain.

"Akan kusimpan gambar ini," pikirku sambil menyimpan gambarku dalam tas.

Malamnya aku terbangun tanpa sebab. Lalu aku merasa harus melihat gambarku itu. Ketika aku mengambil gambarku itu aku sungguh terkejut melihat gambarku telah berubah menjadi mengerikan. Dalam gambar itu terlihat teman-teman yang menindasku telah terkapar dengan luka-luka di wajah, tangan atau kaki mereka. Dan gadis yang kugambar terlihat tersenyum menyeringai lalu ada tulisan yang terbuat dari goresan dalam gambarku.

"Coba lihatlah di sekolahmu besok. Kau pasti akan terkejut."

Aku mengusap mata dan kulihat gambar itu telah seperti semula.

"Pasti aku mengigau," kataku sebelum kembali tidur.

Esoknya aku dikejutkan oleh teman-temanku yang mencemaskan tubuh mereka karena mendapat luka misterius. Beberapa bahkan tidak masuk sekolah.

"Kalian semua kenapa?" tanyaku.

"Semalam seorang gadis datang dan marah-marah padaku, kemudian dia melukaiku. Ketika bangun tahu-tahunya aku sudah mendapat luka ini," jelas seorang temanku yang merintih kesakitan.

"Aku juga."

"Aku juga."

Semua temanku mengatakan hal yang sama, kemudian aku memeriksa tasku dan kulihat gambar itu berubah lagi. Gadis dalam gambarku itu tersenyum lebar dan ada tulisan di samping gadis itu.

"Aku sudah membalaskan semua dendammu. Terima kasih sudah memberiku semua perasaan dendammu itu. Menyenangkan bukan?"

Penulis: Liliyani Tanaka

1 komentar:

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna