Kamis, 13 Desember 2018

Holder of War

Di kota mana pun, di negara mana pun, pergilah ke institusi mental atau panti rehabilitasi yang bisa dimasuki. Lihatlah ke langit-langit dengan ekspresi bosan ketika kau berjalan ke meja resepsionis, dan dengan suara yang terdengar seperti dingin dan acuh tak acuh memintalah untuk menemui sang "Pemegang Perang". Kau akan mendapat tepukan ringan di bahu; sekarang aman untuk menurunkan pandangan. Pegawai laki-laki itu akan tersenyum sopan dan mulai berjalan, memberikan pidato yang terdengar hampir mekanis ketika dia menjelaskan sejarah rumah sakit jiwa itu. Jangan bereaksi terhadap pidatonya- isinya berdarah dan dipenuhi dengan deskripsi grafis, tetapi bereaksi pada titik ini bermakna perjalanan ke neraka.

Setelah beberapa saat berjalan, kau akan tiba di sebuah pintu berukiran rumit dari mahoni dan emas. Berhentilah di depan pintu itu. Tahan ekspresi bosan di wajahmu, boleh juga menambahkan seringai hampa, tetapi jangan bereaksi ketika pekerja itu meraih bagian belakang bajumu, atau dia akan mengubah cengkeramannya dan dirimu akan tanpa kepala.

Pekerja itu akan melemparmu melalui pintu, dan kau akan mendengar pintu terbanting tertutup di belakangmu. Kau berada di apa yang dulunya tanah pertanian subur tetapi sekarang adalah medan perang yang porak-poranda. Tentara-tentara berseragam dalam dua warna terang, tetapi entah bagaimana ternoda, putih dan kotor, hitam memuakkan- bertempur dengan cara yang paling mengerikan mungkin, dengan senapan, meriam, pedang, busur, semua senjata perang yang telah ada sejak dahulu kala.

Jangan ciut nyali dari medan perang ini, atau perhatian para tentara akan teralih padamu, menghentikan perselisihan mereka, dan mengubah arah kebencian mereka yang rakus padamu, karena kau adalah alasan perjuangan mereka, dan dalam pikiran panas mereka yang gila pertempuran, itu berarti kaulah penyebab dari semua pertumpahan darah mereka.

Juga, jangan mencoba dan kembali ke pintu. Pintu telah rata dengan lumpur, terdorong oleh jeritan infanteri yang menghunuskan sebuah senapan berpisau bayonet. Jika kau membiarkannya menangkapmu, dia akan mencabik-cabikmu menjadi beberapa bagian dalam hitungan detik, tetapi entah bagaimana dia tidak berusaha untuk membunuhmu. Rasa sakit dari pengalaman itu tidak diragukan lagi akan mendorong apa yang tersisa dari pikiranmu gila.

Sebaliknya, ganti ekspresi bosanmu dan pasang raut muka suram. Berjalanlah dengan langkah ala militer yang lurus ke depan sampai kau melihat struktur beton tiga tingkat yang mungkin pernah menjadi bungker komando. Jangan berbalik ketika melakukannya; kendaraan lapis baja telah tiba di medan perang, dan jika kau berhenti, atau mengubah langkahmu, tank-tank itu akan menghabisimu.

Setelah kau berhasil memasuki bungker, jangan memberi perhatian kepada siapa pun yang memohon atau mencoba berbicara denganmu, tidak peduli betapa putus asanya mereka. Masing-masing dari mereka menganggapmu adalah musuh, dan ketika kau merespons, kau akan dihadiahi sebilah pisau ke wajahmu. Sebaliknya, pergilah menaiki tangga di depanmu, ke lantai dua bungker. Ketika kau menaiki tangga, dentaman akan terdengar di belakangmu- itu adalah penyegelan pintu api ketika serangan detasemen pelontar api.

Di lantai dua, hanya ada seorang pria, duduk di meja, berseru di ponsel. Tangga ke lantai tiga adalah sekumpulan beton berbelit. Pria di meja mengenakan bintang seorang jendral, tetapi sepertinya tidak memerhatikan karena ponsel itu, seperti orang-orang di lantai itu, sudah mati.

Berjalanlah ke arahnya, beri hormat, dan dalam suara militer terbaikmu, berserulah "TUAN!" Dia akan segera menatapmu. Jika dia berpikir kau tidak pantas untuk pasukannya, dia perlahan akan membongkarmu dengan tangannya, dan kau akan bergabung dengan dia dalam kematian yang semakin dekat. Jika dia berpikir kau pantas, dia akan mengangguk dan menatap tajam padamu. Dia tidak suka pemalas, dengan cepat ajukan pertanyaanmu padanya.

Satu-satunya pertanyaan yang akan dia respons adalah: "Ke mana aku pergi, Tuan?"

Dia akan memberi tahumu. Dia akan memberi tahumu secara detail, detail yang mengerikan, bahwa kau akan tergoda untuk mencekiknya. Jangan melakukan itu- dia adalah pejuang yang jauh lebih berpengalaman dari yang kau harapkan, dan seandainya kau mematahkan hormatmu, kau akan menemui kematian yang mengenaskan. Ketika dia selesai, dia akan mengatakan "tenang", dan memberikan padamu pistolnya. Ini adalah isyarat untuk menurunkan hormatmu. Ambil pistol itu dan menempatkannya di sarung pistolmu- jika kau tidak punya sebelumnya, maka kau punya sekarang.

Satu ledakan tiba-tiba merusak dinding di seberangmu dan menghancurkan tubuh sang jenderal. Melalui lubang itu kau akan melihat, di cakrawala, misil yang tipis dan panjang.

Tutup matamu rapat-rapat dan buka tanpa maksud apa pun. Suara-suara dari pertempuran yang mengerikan akan memudar sampai, keluar dari kesunyian, terdengar satu tembakan. Buka matamu.

Kau berdiri di tengah ladang gandum yang melambai-lambai. Entah bagaimana, kau tahu bahwa di sinilah pertempuran mengerikan yang dilalui akan terjadi. Dan kau juga tahu, entah bagaimana, kau akan berada di posisi jenderal.

Pistol yang dia berikan padamu adalah Objek ke-44 dari 538 yang ada. Pelajari cara menggunakannya- hanya ada satu tempat peluru yang tersisa. Jika kau menembakkan tembakan terakhir pada waktu yang tepat, kau akan menghindari takdir jenderal itu. Jika tidak, kau akan bergabung dengannya.

Translator: Gugun Reaper

Source: The Holders Series

<< Previous Object | Next Object >>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna