Selasa, 18 Desember 2018

Holder of Peace

Di kota mana pun, di negara mana pun, pergilah ke institusi mental atau panti rehabilitasi yang bisa dimasuki. Bergegaslah ke meja resepsionis dengan raut muka marah, dan memintalah sesegera mungkin untuk menemui seseorang yang menyebut dirinya "Sang Pemegang Perdamaian". Pegawai laki-laki itu akan takut, dan memintamu untuk berbicara lebih lembut. Jangan memenuhi permintaannya- sebaliknya; berbicaralah lebih keras- karena kemarahan dalam suaramu adalah segala yang membuat rantai di pintu di belakang meja tetap terkunci.



Pertahankan kemarahan dalam suaramu- pegawai itu akan membungkuk dengan ketakutan ke bawah meja dan menunjuk sambil gemetar ke lorong di sebelah kanan yang tidak ada sebelumnya. Segera berbalik dan melangkah menyusuri lorong. Jangan melihat ke balik bahumu, karena seandainya pegawai itu menatapmu- dan sepenuhnya menatapmu- dia akan dengan santainya bersandar dan membuka kunci pintu di belakangnya.

Berjalanlah sampai kau menemukan sebuah pintu dengan desain tatahan induk mutiara. Banting pintu hingga terbuka, tetapi lepas kemarahan dari wajahmu segera- orang-orang di dalam tidak menyukai kemarahan.

Dengan tampilan damai di wajahmu, masuklah. Kau berada di sebuah kuil terbuka yang indah, dengan tumbuhan menjalar melingkari pilar-pilar marmer dan mozaik-mozaik indah yang menghiasi dinding. Pintu akan terkunci di belakangmu. Jangan mencoba membukanya, karena itu akan sia-sia, dan para pendeta berjubah cokelat yang kau lihat lalu-lalang akan melakukan apa pun untuk membuatmu tetap tinggal- bahkan jika kau harus mati.

Berkelilinglah. Tidak peduli bahasa apa yang kau gunakan, para pendeta juga menggunakannya. Mereka ramah, dan mereka semua akan senang untuk bercakap-cakap, tetapi menolaklah dengan sopan. Beri tahu mereka bahwa kau harus berbicara dengan Kepala Pendeta.

Akhirnya kau akan diarahkan ke seorang pria yang duduk menghadap papan catur - pemimpin kuil itu. Sosok di seberangnya bertudung dan mengenakan baju besi. Jangan mencoba berbicara dengan sosok bertudung itu, atau kematianmu akan jauh lebih buruk daripada pemandangan neraka. Sebaliknya, beralihlah ke pria berjubah cokelat yang sekarang tampak familier. Permainan hanya tinggal satu langkah dari skakmat.

Membungkuk, dan bertanyalah dengan sopan, "Kenapa mereka berkumpul, Bapa?"

Dia akan membuka mulutnya seolah-olah ingin berbicara. Namun sosok di seberangnya akan melolong dengan kemarahan jahat dan mencabut pedang. Pedang itu dibuat dengan indah, tetapi sepertinya entah bagaimana ternoda oleh kejahatan yang tak terpikirkan. Dengan berseru, sosok itu akan menendangmu ke bawah dan secara sistematis mulai membantai para pendeta lain. Mereka akan mencoba melawan balik, tetapi mereka hanya punya tongkat, dan pedang yang digunakan pria gila itu sangat tajam sehingga menyayat pilar-pilar itu seperti pisau mengiris mentega.

Ketika kau menyaksikan ini, kepala kuil akan mengambil langkah terakhir dalam permainan. Pria berbaju besi akan mengayunkan pedang, dan kemudian berlari ke arahmu sambil menghunuskan pedangnya.

Jika kau tidak sopan atau melakukan kesalahan, kau akan dicincang menjadi bagian kecil dengan bilah pedang, dan rasa sakit itu tidak akan pernah berhenti. Namun, jika kau sopan, kepala kuil akan melangkah ke depanmu dan menjejalkan raja hitam ke mata kanan prajurit itu.

Jangan menghiraukan atau simpati ketika dia jatuh, menjerit, atau kepala kuil akan berbalik dan melakukan hal yang sama terhadapmu dengan raja putih. Sebaliknya, fokus ke kepala kuil, yang kini berbalik untuk menghadapmu.

Dia akan memberi tahumu kenapa mereka berkumpul. Ini adalah satu cerita yang panjang, penuh pertumpahan darah dan kengerian yang mungkin akan menyentak pikiranmu. Namun jika kau bertahan dari penceritaannya, dia akan merogoh ke bawah meja dengan papan catur dan memberimu sarung yang kaya permata dan dihiasi emas. Meskipun kau belum pernah melihatnya, secara naluriah kau tahu bahwa sarung itu cocok dengan pedang yang digunakan prajurit tadi beberapa saat yang lalu. Jangan ragu- ambillah, berjalan ke depan, ambil pedang pria gila itu, bersihkan, dan sarungkan. Ikat dengan baik- kau akan memerlukannya.

Keluar dari tempat itu, tetapi sebelum kau melakukannya, Bapa yang baik itu akan menghentikanmu dan menunjuk ke wajah prajurit yang sekarang tidak bertudung. Dia tampan, tetapi jangan menghiraukan. Satu hal yang harus kau fokuskan adalah kenyataan bahwa bidak raja hitam menghilang. Alihkan pandangan ke kepala kuil, yang akan mengangguk dan mengatakan satu kata: "Pembunuh raja".

Kilatan cahaya akan membutakanmu, dan ketika pandanganmu kembali kau akan berdiri di tepi jalan dua blok dari rumah sakit jiwa itu. Melangkahlah ke trotoar- kau pasti tidak ingin mengalami kecelakaan.



Pedang yang sekarang menjadi milikmu dulunya adalah milik raja putih, dan itu adalah Objek nomor 45 dari 538 yang ada. Sang Raja Hitam melarikan diri dari tempat pembunuhannya, dan pedang Raja Putih mendambakan balas dendam.

Translator: Gugun Reaper

Source: The Holders Series

<< Previous Object | Next Object >>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna