Senin, 24 Desember 2018

Code Name 13: Blood

Part 1

Hujan mengguyur kota malam ini dengan derasnya, membuat setiap manusia yang tinggal di dalamnya urung untuk menampakkan diri. Malam sudah kian larut. Tak ada cahaya bulan yang biasanya berwarna pucat menggantung di langit malam. Intensitas hujan kini mulai mereda tetapi masih belum berhenti turun membasahi malam yang kian mencekam.


Terdengar kerumunan orang berlari memecah gelapnya malam. Membelah keheningan malam dengan langkah kaki mereka yang menapaki jalanan yang tergenang air.

"Kita harus segera pergi dari sini! Dia mengikuti kita!" Teriak salah seorang pria yang memakai hoodie dengan menutupi wajahnya.

"Cepat masuk ke sana!" Tunjuk pria lain ke salah satu gang kecil yang gelap.

Lima orang pria berlari menuju arah yang ditunjuk. Mereka bersembunyi dibalik bak sampah berwarna hijau. Berusaha tak membuat suara sedikit pun. Bahkan napas mereka pun mereka tahan untuk menyembunyikan keberadaan mereka. Mereka tengah di kejar sesuatu tetapi yang pasti mereka harus bisa menyelamatkan diri mereka terlebih dahulu.

Tiba-tiba sebuah mobil van hitam berhenti tepat di pintu masuk gang. Dari dalam mobil itu keluar seorang pria tinggi dengan mengenakan setelan jas hitam, rambut pirangnya yang panjang dia ikat rapi ke belakang. Dia membuka sebuah payung hitam untuk mencegah hujan membasahi tubuhnya.

"Oh di sini rupanya para tikus kotor itu bersembunyi," kata pria itu sambil melangkah maju.

"Keluarlah para pengecut atau kalian akan tahu apa akibatnya!" Lanjut pria itu lagi.

Kelima pria yang tadi bersembunyi mulai keluar perlahan. Meski takut tetapi mereka tetap memberanikan diri untuk menghadapi pria berjas itu.

"Sudah kami bilang, kami tidak tahu apa pun! Meski kami tahu sekali pun, kami tak akan memberi tahunya padamu!" Salah satu pria berhoodie itu memaki sambil mengacungkan jari tengahnya.

"Baiklah kalau itu mau kalian." Pria berjas hitam itu lalu membuka pintu belakang mobilnya.

Lalu keluarlah seorang anak laki-laki dari pintu belakang mobil itu. Dia memakai jaket pasien rumah sakit jiwa dengan tangan yang dirantai ke belakang. Wajahnya tertutup dengan jaket yang dia kenakan.

"Hah hanya seorang bocah!" Ejek pria yang memakai hoodie meremehkan.

"Kau menyuruh seorang bocah untuk melawan kami?! Hahahahahaha." Kata pria lainnya.

Pria berjas hitam itu hanya tersenyum santai. Dia melepaskan rantai yang membelenggu tangan anak laki-laki itu.

"Mereka adalah mangsamu selanjutnya Red, selesaikan dengan cepat!" Kata pria berjas hitam itu sedikit berbisik.

Anak itu hanya menyeringai dengan mata berwarna merah menyala di sebelah kanannya, dia maju dengan santai menghadapi lima pria tadi.

"Habisi mereka tanpa sisa!" Teriak pria berjas hitam.

Anak laki-laki itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya dan mulai menerjang maju tanpa keraguan. Matanya mengisyaratkan sebuah hasrat. Hasrat membunuh.

.
.
.

Lalu semuanya menjadi gelap.

Hanya jeritan-jeritan putus asa yang sempat terdengar tetapi hujan seolah-olah menelan semuanya. Yang tersisa dari itu hanyalah anak laki-laki tadi yang berdiri di tumpukan mayat lima pria yang mencoba melawannya. Semua tewas mengenaskan dengan luka menganga dan ekspresi wajah yang ketakutan. Dia masih menyeringai senang. Mata merahnya menyala di kegelapan seperti predator yang selesai berburu mangsa.

Anak itu menengadahkan wajahnya ke atas, membiarkan hujan turun membasahinya. Hanya mata kanannya saja yang terlihat karena mata kirinya tertutup dengan penutup mata berbentuk seperti masker berwarna putih dengan sedikit bercak darah. Dia merentangkan kedua tangannya menikmati setiap rintik hujan yang jatuh mengenai tubuhnya. Dia berbalik ke arah pria berjas hitam yang menunggunya.

"Ayo pulang, Red!" kata pria berjas hitam itu.

Anak laki-laki itu menghentikan apa yang sedang dia lakukan dan berjalan perlahan menghampiri pria berjas hitam yang sedang menunggunya. Tangannya menggenggam sebilah pisau kecil berlumuran darah. Dia menjilat darah yang tersisa di pisaunya seolah-olah membersihkannya.

"Ayo pulang atau kau akan sakit nanti," kata pria berjas itu sambil memayungi anak tadi lalu berjalan memasuki mobil.

Anak itu kembali menyimpan pisaunya sebelum memasuki mobil, tangannya kembali dirantai oleh si pria berjas hitam tadi.

Keduanya kini telah memasuki mobil dengan si pria berjas duduk di kursi kemudi. Mobil hitam itu pun melaju pelan menerobos hujan. Menyisakan mayat-mayat bergelimpangan terkena hujan. Darah masih mengalir dari mayat-mayat itu seolah-olah hujan turun dengan warna merah darah. Suasana malam yang gelap membuat mayat-mayat itu tak terlihat, ditambah hujan yang masih mengguyur membuat tak ada seorang pun yang mengetahui kejadian barusan.

Tiba-tiba suara ponsel pria berjas itu berbunyi. Dia mengangkatnya sambil menyetir mobil yang dia kendarai.

"Ya halo? Sudah saya selesaikan Komandan, sisanya tinggal Anda yang bereskan. Lokasinya di Avenue Street di gang dekat sebuah toko daging. Baiklah, aku tunggu kabar selanjutnya." Kata pria berjas itu berbicara dengan orang di seberang ponselnya.

"Kerja bagus, Red." Lanjut pria berjas itu sambil menyalakan sebatang rokok yang kini berada di bibirnya dengan pematik kemudian membuka sedikit jendela mobilnya.

Dia melihat ke jok belakang mobilnya. Melihat keadaan si anak laki-laki tadi.

"Huh, rupanya dia tertidur. Padahal biasanya dia berisik sekali bila hanya mendapat sedikit mangsa! Haaahh sungguh merepotkan saja!" Keluh pria itu menaikkan salah satu ujung bibirnya lalu mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sambil terus menyetir mobil yang dia kendarai menjauh dari tempat kejadian itu.

Bersambung.

Penulis: Imay Ertiana

1 komentar:

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna