Jumat, 30 November 2018

Ordinary Life

Tanggal 19 Maret. Pukul 06.00 pagi, aku sedang mengoreng beberapa telur untuk sarapan. Aku memanggil suami dan anakku, tetapi ternyata mereka sudah duduk dan menungguku di meja makan.



Aku menata telur yang telah matang di atas piring, bersebelahan dengan sosis dan nasi. Aku mematikan kompor, lalu membawa piring berisi makanan ke meja makan. Anakku tampak tidak sabar ingin makan. Aku hanya tersenyum dan menasihatinya agar makan dengan pelan-pelan. Sementara itu, suamiku membaca koran sambil minum kopi.

Kami sangat menikmati sarapan sederhana ini. Aku bersyukur bisa terus bertahan dalam keadaan seperti ini. Keberadaan mereka benar-benar menguatkanku. Tanpa mereka, aku bisa gila.

Setelah sarapan, aku memutuskan untuk berbelanja bahan makanan untuk makan siang. Aku berpamitan dengan suamiku, tetapi anakku malah bersikeras untuk ikut. Dengan tertawa kecil aku menggandeng tangannya dan kami pergi ke pasar terdekat.

Dalam perjalanan menuju pasar, aku merasakan ada hal aneh. Orang-orang yang kutemui tidak menyapaku sama sekali. Malah ketika aku menyapa, mereka hanya menatapku dengan pandangan kosong. Aku tidak begitu memikirkannya dan lebih memilih mendengarkan senandung yang dinyanyikan anakku.

Sesampainya di pasar, entah kenapa anakku berhenti bernyanyi. Mungkin dia sedikit tidak suka berada di kerumunan orang banyak. Kebetulan pasar ini berada dekat pantai, jadi kebanyakan yang dijual di sini adalah ikan laut. Aku menghampiri salah satu penjual lalu mengamati beberapa ikan.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki menyentuh pelan tanganku. Aku sedikit terkejut, tetapi tersenyum saat melihat bahwa anak itu menawarkan koran padaku. Aku mengambilnya, lalu menyerahkan uang. Sebuah kalimat judul yang dicetak besar menarik perhatianku.

"GEMPA DAN TSUNAMI MELULUHLANTAKKAN SELURUH PULAU. HAMPIR TIDAK ADA KORBAN SELAMAT."

Aku terkejut saat melihat tanggal yang tertera. 14 Maret. Aku melihat ke sekelilingku dan mendapati pasar yang tadinya ramai berubah menjadi tempat yang sudah porak-poranda. Hampir tidak ada yang tersisa di sini. Aku melihat ke arah anakku. Namun dia telah berubah menjadi makhluk tak bernyawa di sebelahku. Aku jatuh terduduk sambil memegangi kepalaku. Tidak, jangan ingatan ini lagi. Aku tidak tahan dengan ini. Aku tidak ingin hidup sendirian di pulau mati ini.

Penulis: Reta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna