Sabtu, 10 November 2018

Menyegel Penyihir: Pertarungan Sengit

Cerita sebelumnya: Menyegel Penyihir


Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terjebak di tempat ini, tidak ada jam dan lampu. Hanya ditemani tengkorak manusia dan sebuah lilin. Cahaya lilin terus bersinar, hanya dalam hitungan detik api itu akan padam.



Kini api telah padam, aku telah merasakan penderitaan di tempat ini. Diawali dengan rasa sakit di bagian perut tepat di mana Anya menusukku, kemudian merasa lemas dan lapar, juga bau bangkai yang telah membusuk. Bisa saja aku mati di tempat ini. Terdengar langkah kaki, ada seseorang memasuki ruangan.

"Joe Ahmad?" kata seorang pria.

"Ya, sa-ya... Joe-Ahmad." kataku dengan lemas.

Seketika cahaya ungu memenuhi ruangan, kulihat sesosok pria berpakaian serba gelap mengangkat tangannya. Aku pingsan. Ketika tersadar, aku berada di ruangan lain. Aku duduk di bangku, kaki dan tanganku terikat rantai. Pria tadi berada di hadapanku, dia duduk dengan tangan dilipat di atas meja. Aku melihat ke sekeliling, sumber penerangan ruangan ini hanya obor, tidak ada lampu.

"Halo, Joe Ahmad. Aku tidak akan menyakitimu."

Pandanganku tertuju padanya.

"Hei, tempat apa ini? Dan siapa kau?" tanyaku dengan nada kesal.

"Ini adalah kastel kami, kami adalah para pencari keabadian. Siapa pun yang sudah diculik ke sini, tidak akan bisa keluar."

Dia membuka penutup kepala, aku memandangnya dengan ekspresi terkejut. Kulihat seorang pria berambut dan berjanggut putih, meskipun demikian, dia tampak muda. Orang jahat atau orang baik aku tidak tahu, yang jelas sepertinya pria ini mempunyai kekuatan.

"Kalian telah menculikku ke tempat ini, bisa saja pihak kepolisian berhasil melacak kalian. Dengan sedikit bukti, seperti; darah, CCTV, dan sidik jari di kendaraanku." kataku, dengan raut muka jengkel.

"Hei anak muda, tidak ada yang bisa menemukan tempat ini. Ah sudahlah kau pasti lapar, kan?" dia bertanya, seolah-olah menghina.

Tiba-tiba, rantai menghilang dan lukaku sembuh.

"Bangunlah, dan ikuti aku."

Aku mengikutinya melewati pintu, dan kami tiba di sebuah ruangan dengan banyak lilin. Ada sebuah meja yang sangat panjang, di atasnya terdapat banyak makanan, daging, buah dan sayur. Aku tidak tahu apa maksud dari semua ini. Mungkinkah aku dipersilakan untuk memakan apa yang aku mau?

"Kau bebas untuk memakannya."

Aku terkejut.

"Benarkah?" tanyaku dengan tergiur.

"Tentu saja, silakan." jawab pria itu, sambil tersenyum.

Aku langsung memakan telur dadar, daging sapi, ayam, tak lupa sayur-sayuran, dan terakhir buah-buahan sebagai penutup. Padahal masih banyak makanan yang berada di atas meja, tetapi aku sudah kenyang dan mengantuk.

"Pintu ini akan membawamu ke kasur empuk, masuklah." kata pria itu.

Aku masuk, kulihat ruangan ini tidak berbeda dengan ruang makan tadi. Namun, hanya ada kasur di sini. Aku langsung berbaring dan tertidur. Kemudian aku mendengar suara jeritan dan kata-kata gelisah, di sekitar tempat tidur terdapat banyak orang. Mereka memperingatkanku untuk tidak tertipu dengan suasana, bahwa tempat ini sangat mengerikan. Seketika aku terbangun terduduk dan berkeringat, di sampingku ada pria tadi. Kini dengan raut muka marah.

"Waktumu sudah habis, nak."

Entah apa yang terjadi, aku berdiri di atas Colosseum yang tampaknya berada di ruang bawah tanah. Segalanya berwarna ungu. Aku tidak tahu tata letak di kastel ini. Di depanku, berdiri sesosok monster singa. Di tangan kiriku, ada sebuah tameng yang kupegang. Di tangan kananku, aku memegang sebuah pedang. Keduanya berwarna abu-abu kecokelatan, dan terasa berat.

Banyak orang yang memenuhi Colosseum, bermacam-macam wajah dan tubuh dan pakaian yang mereka pakai. Namun tidak ada yang tampak tua.

Tiba-tiba pria tadi berada di tengah-tengah Colosseum, dia berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Para penonton bersiul keras dan bertepuk tangan. Tak lama kemudian aku melihat Anya, dia duduk di bangku seperti singgasana. Dia tampak menikmati acara ini. Pria tadi kini berbicara padaku.

"Wahai anak muda, kau harus membunuh monster itu. Atau kau akan mati. Barulah setelah itu kau bisa melarikan diri dari tempat ini melalui pintu bercahaya hitam di sana. Yang entah membawamu ke mana. Bersiap... Mulai!" kata pria itu sebelum menghilang.

Monster itu berlari ke arahku. Dia semakin dekat, dia menerjangku. Untung saja, aku bisa menghindar dengan gerak refleks. Aku bangkit dan berlari, aku merasa lelah. Monster itu mengejarku dan kembali menerjangku. Kali ini lengan dan mataku tergores. Aku manahan rasa sakit. Aku berhasil menusuk tangannya dengan pedang. Monster itu mengangkat tangannya sehingga aku ikut terangkat. Aku terhempas ke udara dengan pedang yang masih menusuk, aku merasa pusing.

Dia menghempaskan tangannya ke lantai, aku memberanikan diri naik ke kepalanya. Aku berhasil menusuk kepalanya dengan pedang, sepertinya pedang ini sangat tajam. Aku tidak peduli, yang penting aku berhasil. Monster ini menjerit kesakitan, hingga akhirnya jatuh bersama diriku.

Aku menjauhkan diri dan berbaring di lantai. Para penonton bertepuk tangan, pria tadi kembali dan berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Kemudian dia berbicara padaku lagi.

"Nah anak muda, kau bebas untuk melarikan diri. Cepatlah lari, karena sekelompok anjing-anjing buas akan menangkap dan mencabik-cabikmu. Sekarang larilah."

Aku bangkit dan berlari, entah bagaimana mata dan lenganku sembuh dengan sendirinya, aku mendengar gonggongan anjing dan langkah kaki mengejarku. Aku terus belari sekuat tenaga meskipun lemas, aku berhasil mencapai pintu. Semuanya tampak gelap, sebelum aku menyadari di mana aku berada.



Keadaan ini membuatku sangat terkejut.

"Astaga, tempat macam apa ini!"

Bersambung...

Penulis: Gugun Reaper

< Previous        |        Next >

1 komentar:

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna