Rabu, 17 Oktober 2018

The Holder of Perspective

James melangkah memasuki institusi mental, dengan instruksi di tangan. Dia tidak berharap ritual konyol ini akan berhasil, tetapi, satu-satunya risiko adalah waktu satu jam yang terbuang dan mungkin sedikit rasa malu. Dia mendekati wanita yang bekerja di meja resepsionis dan bertanya dengan bisikan tenang apakah dia bisa mengunjungi seseorang yang menyebut dirinya "Sang Pemegang Perspektif."



Apa yang terjadi selanjutnya membuat dia sedikit terkejut: resepsionis itu mengangguk dengan raut muka serius, seperti yang dikatakan di instruksi. "Oke," pikir James. "Tampaknya aku bukan orang pertama yang tertarik melakukan sesuatu seperti ini. Kemungkinan wanita ini sudah tahu dan hanya bermain-main. Mungkin dia akan membawaku kembali ke ruang istirahat mereka atau apa pun supaya dia bisa pamer ke para rekan kerjanya bahwa ada si idiot baru yang menanyakan hal bodoh. Biarlah mereka semua tertawa. Ya Tuhan, kenapa aku berpikir kalau ada sedikit kesempatan untuk berhasil?"

Pikiran mencemooh yang bertele-tele itu terbungkam. Bagaimanapun, ketika si wanita membuka kunci pintu ganda dirantai, James melihat tangga sempit panjang yang mengarah ke atas, jauh lebih tinggi daripada bangunan tersebut kalau dilihat secara fisik.

"Anjir, ini beneran nyata."

James menaiki tangga dengan hati-hati. Seperti yang dia harapkan, ketika dia mencapai ketinggian tertentu, dia mulai melihat gambar-gambar proyeksi ke dinding. Semua itu adalah bencana terbesar dan paling mematikan untuk umat manusia; hancurnya kota Pompeii, kebinasaan akibat Wabah Hitam, Holokaus, Serangan 11 September 2001. Proyeksi menampilkan tragedi ini melalui setiap mata dan setiap korban. James hanya bisa menahan sedih, tetapi dia tahu betul harga yang harus dibayar jika menyerah pada putus asa. Selain itu, melampaui harapan terliar dia sudah sampai sejauh ini; dia tidak bisa membiarkan dirinya gagal sekarang.

Setelah lama naik dan merasa letih, akhirnya dia berhasil sampai di puncak tangga di mana terdapat dinding marmer dengan beberapa jendela kaca kecil berbentuk mata. Dia mengingat instruksi dan mengintip ke jendela yang disertai retakan vertikal di tengah dengan mata kirinya. Dalam sekejap, sudut pandang beralih dari tubuhnya sendiri ke tubuh seorang pria kuno di dalam sebuah ruang batu berbentuk bulat telur. Pria itu menggunakan jari-jari yang kurus untuk meraba protesa mata besarnya. James merasa pikirannya melemah, sehingga sebelum dia kehilangan seluruh pikirannya, dia berpikir sekeras yang dia bisa, "Bagaimana Mereka akan melihat Akhir?"

Dalam sekejap, ribuan gambar mulai melintas di depan matanya. Gambar-gambar dari pemandangan yang dia lihat di lorong tangga, hanya saja kali ini dari protesa mata pria tersebut. Perasaan apatis, kesedihan, dan suka cita membanjiri dirinya. Gambar terakhir yang dilihatnya adalah neraka tak berujung; di sini, tidak ada emosi selain ketakutan tak terkendali. Setelah secara fisik dan mental terkuras, James tidak bisa lagi menangani ketegangan itu dan tumbang di tempat.

---------

Ah, si Pencari yang menyedihkan ini tidak bisa menangani penglihatanku. Hanya orang kuat mental saja yang mampu, kau lihat, dan untuk alasan yang bagus; orang biasa tidak akan mampu menyaksikan penglihatan Akhir, dan tentu bukan seorang amatir seperti orang ini. Aku akan membuang tubuh dan menempatkan jiwanya di dalam protesa mataku, di mana dia akan bergabung dengan ribuan orang yang telah gagal.

Protesa mataku adalah objek ke-26 dari 538 yang ada. Objek ini menunggu seseorang yang mampu melihat dunia melalui perspektif Mereka.

Translator: Gugun Reaper

Source: The Holders Series

<< Previous Object | Next Object >>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna