Sabtu, 27 Oktober 2018

Sleep Forever

Saat aku membuka mata, aku tidak melihat apa pun kecuali cahaya di depan sana. Bukan karena aku buta, tetapi keadaan di sekitar gelap gulita. Entah kenapa saat itu posisiku sedang duduk. Lagi pula bagaimana aku bisa ada di sini? Di mana ini?



Aku bukan tipe orang yang menyerah terhadap sesuatu. Jadi, kuputuskan untuk berdiri, melangkah mendekati cahaya di depan sana.

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kakiku menggema, seolah-olah aku berjalan di lorong atau gua. Mungkin memang seperti itu, tetapi aku tidak tahu. Seperti kataku tadi, keadaan di sekitarku gelap kecuali di depan sana.

Dalam terang, mataku menyesuaikan sekitar. Cahaya yang kulihat tadi berasal dari ruangan bercahaya. Di depanku, kini tampak dua orang, mereka saling berbicara. Jadi, aku bertanya "Hei, ini di mana?"

Keduanya menoleh ke arahku. Mereka terkejut, begitu juga aku. Kami saling mengenal. Mereka adalah Toni dan Guntur.

Dug!

Jantungku serasa berhenti. Apa-apaan ini? Tanyaku dalam hati. Guntur meninggal dua hari yang lalu. Dia mati terbunuh. Akulah yang membunuhnya.

Jangan berpikir jika itu murni keinginanku. Aku hanya disuruh. Apa aku pembunuh bayaran? Ya. Salahkah aku membunuh demi makan sehari-hari? Kemudian aku berpikir, apa aku diculik? Untuk balas dendam? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Ditambah, kenapa Guntur bisa hidup lagi?

Aku tidak mengerti terhadap kejadian selanjutnya. Tiba-tiba Toni berlari pergi dari ruangan lewat pintu lain yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Aku takjub, dunia apa ini? Sebelum aku larut dalam takjub, sebilah pisau menancap di bahu kiriku. Darah mengucur dari sana, tetapi aku tidak merasakan sakit sama sekali. Sekali lagi aku bertanya dalam hati, dunia apa ini. Sebilah pisau hendak mendarat di tubuhku lagi. Namun karena aku lebih siap, aku berhasil menghindar. Tanpa meringis, aku mencabut pisau di bahu kiriku.

"Baiklah, kau yang memulainya," gumamku.

Aku berlari mendekati Guntur. Pertarungan jarak dekat adalah keahlianku. Dari dekat kulihat raut muka Guntur yang menunjukkan kebencian. Kami saling menusuk bagian-bagian vital. Dia terkena tikaman di dada dan lehernya. Sementara aku tertusuk di perut dan betis. Darah muncrat di setiap luka, tetapi seperti tadi, aku tidak merasakan sakit sama sekali. Meski begitu tanganku tetap memegang perut, agar tidak mengeluarkan darah. Karena meski aku tak merasa sakit, tubuhku melemah secara perlahan. Sebelum aku terbunuh aku harus membunuh Guntur lebih dulu. Karena sepertinya dia sangat ingin membunuhku.

Meskipun masih terengah-engah, aku segera menubruk tubuh Guntur. Mengunci kedua kakinya dengan kakiku. Posisiku kini di atas tubuhnya. Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana cara membunuh di dunia ini. Jika aku menguras darahnya, akan memerlukan waktu yang cukup lama. Jadi, kutekan saja rahangnya ke atas. Tusukan di leher yang kubuat tadi melebar. Guntur meronta sekuat tenaga, sekuat kuncian kakiku juga. Tangannya hanya mampu memukul pelan tubuhku. Karena di dunia ini segalanya mungkin saja terjadi. Beberapa lama kemudian tangannya berhenti memukul. Kakinya tak lagi meronta. Lehernya menganga lebar, menyisakan kulit tengkuk yang belum putus. Darah membasahi tubuhku.

Aku memeriksa detak jantung dan napasnya. Memastikan bahwa dia benar-benar sudah mati. Aku beranjak dari tubuhnya, ketika sudah kupastikan dia benar-benar mati. Aku terduduk lemas di sampingnya. Menghela napas berat. "Maaf! Aku hanya ingin hidup!" kataku menyesal telah membunuhnya. Aku memang pembunuh. Namun aku tak pernah membunuh tanpa disuruh. Kupejamkan mata untuk berdoa, semoga dia tenang di sana.

Saat membuka mata, aku tidak melihat apa pun kecuali cahaya di depan sana. Bukan karena aku buta, tetapi keadaan di sekitar gelap gulita. Pisau, Guntur, dan luka-lukaku juga menghilang. Aku mengerutkan dahi. Ada apa ini? Dunia macam apa ini? Pikiran itu kembali di kepalaku.

Untuk kedua kalinya aku menuju cahaya itu. Semua terlihat sama. Dua orang saling berbicara yang tak lain adalah Toni dan Guntur. Aku tidak lagi bertanya, "Hei, ini di mana?"

Sekarang dengan marah aku bertanya, "Hei, apa yang kalian lakukan padaku, hah?" mereka berdua menoleh ke arahku. Skenario berikutnya terulang kembali. Toni tiba-tiba pergi dan Guntur langsung menyerangku dengan pisaunya. Hanya saja pisau itu tidak lagi menancap di bahu kiriku. Melainkan langsung kurampas. Untuk kedua kalinya aku membunuh Guntur. Aku mencoba tidak memejamkan mata lagi tentunya agar kegelapan itu tidak kembali, ada debu masuk ke mataku. Membuat pedih hingga kututup mata.

"Sial!" kataku dalam hati. Kau mungkin tahu kejadian selanjutnya.

Saat aku membuka mata, aku tidak melihat apa pun kecuali cahaya di depan sana. Bukan karena aku buta, tetapi keadaan di sekitar gelap gulita. Pisau, Guntur, dan luka-lukaku kembali hilang. Aku berteriak keras. Bingung dengan keadaanku yang tidak jelas ini. Rasa cemas mulai datang.

Ini tidak nyata!

Ini tidak nyata!

Ucapku dalam hati. Ini di mana? Kenapa aku bisa sampai di sini?

Aku memukul lantai sekeras mungkin. Bukan karena aku menyerah, tetapi aku bingung. Aku bukan tipe orang yang mudah menyerah terhadap hidup. Untuk ketiga kalinya aku mendekati ruangan bercahaya itu. Berulang kali aku mengalami hal serupa. Berkali-kali pula aku melihat Toni pergi lewat pintu misterius dan aku membunuh Guntur. Aku jadi bertanya sendiri, berapa nyawa yang dipunyai Guntur. Tujuh? Delapan? Sembilan? Seratus? Tak terhingga?

Aku selalu gagal di bagian ketika menjaga mata tetap terbuka. Selalu saja ada gangguan yang membuat mataku kembali terpejam. Untuk kesekian kalinya aku mendekati cahaya itu. Kali ini akan berbeda dari kejadian-kejadian sebelumnya. Aku tidak berteriak. Telah kupelajari sebelumnya, kalau mereka tidak akan tahu keberadaanku sebelum aku membuat suara. Aku mengendap-endap. Ketika sudah dekat, kuraih kepala Guntur dengan cepat. Kuputar 180 derajat hingga menimbulkan suara.

Krek!

Suara itu membuat Toni menoleh ke arahku. Skenario selanjutnya terjadi lagi. Tiba-tiba pintu muncul di belakang Toni. Sebelum Toni masuk, aku yang masuk lebih dulu. Ini membuat Toni bingung. Aku bertanya padanya, "Apa yang kau lakukan padaku, hah? Ini di mana? Apa maumu?"

Toni diam, dia tidak maju ataupun mundur.

"Tentu saja balas dendam," dia menyeringai.

Di kedua tangannya muncul dua pisau panjang. "Kau kan, telah membunuh sahabatku."

Dia mendekatiku.

"Dengar! Aku membunuh bukan karena keinginanku, tetapi aku hanya disuruh. Lagi pula itu pekerjaanku."

"Siapa yang menyuruhmu?"

"Elisa, alias mantan pacarnya."

Dia tak terkejut sama sekali, tetap menyeringai lebar. Jarak kami tak lebih dari lima sentimeter.

"Terima kasih telah memberi tahuku, tetapi aku sudah tahu lebih dulu." Kemudian dia menancapkan kedua pisaunya di ulu hati dan jantungku.

"Namun kau tetap telah membunuh sahabatku."

Aku diam saja. Aku tahu ini tidak akan terasa sakit. Malahan aku tersenyum. Namun saat Toni mengangkat jari di udara, aku merasakan rasa sakit itu. Toni tertawa melihatku tersiksa.

Napasku terengah-engah.

Kemudian...

Bruk!

Tubuhku terjatuh dari kasur. Semua hanya mimpi. Aku menghela napas lega. Aku menuju pintu untuk pergi ke kamar mandi, tetapi ketika aku hendak membuka pintu aku mendengar seseorang berbicara.

"Hei, loser."

Aku berbalik dan melihat Toni duduk di atas kasurku.


"Aku tahu kau yang telah membunuh sahabatku Guntur, karena aku juga seorang pembunuh bayaran tetapi aku punya kekuatan. Meskipun kau adalah psikopat, tetapi kau hanya manusia biasa."

Tiba-tiba di tangannya muncul sebuah kapak dan dia bangkit dari kasur.

"Sekarang aku akan membunuhmu keparat. Tidurlah untuk selamanya."


Penulis: Galih Firmansyah
Editor: Gugun Reaper

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna