Sabtu, 06 Oktober 2018

Penyiksaan Mental

Rafi adalah seorang anak SMA yang kesepian, terkadang dia ikut berbaur dengan teman-temannya.



Ketika dia berbaur, dia selalu tersenyum dan tertawa. Teman-temannya sering menjadikan dia sebagai bahan tawa seperti menyuruhnya menarik tali beha dan mengangkat rok anak perempuan. Bahkan memotret celana dalam anak perempuan di sekolah ketika mereka lengah.

"Kerja bagus fi, haha lumayan nih foto kancut perawan. SHAREitlah," kata salah satu teman.

Rafi hanya tersenyum dan mengirim foto tersebut ke ponsel temannya menggunakan aplikasi SHAREit, bel berbunyi tanda waktu istirahat berakhir.

Kemudian, mereka kembali ke kelas. Rafi duduk di tempat duduknya yang berada di paling belakang. Namun, dia hanya terus merenung teringat dengan masa lalunya yang kelam. Sejak TK dia selalu menjadi bahan pembulian seperti dikucilkan, dijadikan samsak tinju, dll.

Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan kesedihannya dan seolah-olah tampak fokus kepada guru yang mengajar.

Hari berlalu seperti biasa, dia berjalan pulang sendirian sambil menunduk dengan raut muka dingin. Menahan sesak di dada, matanya melebar. Dirinya seolah-olah berbeda dari biasanya yang tampak selalu ceria. Ini terus terjadi sampai dia tiba di rumah, entah bagaimana.

Keesokan harinya, dia tidak masuk sekolah tanpa kabar.

"Rafi kenapa bro kok gak masuk? Gue mager banget nih jalan ke kantin, niatnya mau nyuruh dia."

"Entahlah, sama gue juga mager. Palingan dia ngeDota."

Beberapa hari kemudian, pihak sekolah mendapat kabar bahwa Rafi meninggal karena bunuh diri. Kematian Rafi diketahui ketika ayahnya pulang bekerja, orang tuanya bercerai ketika Rafi masih kecil dan dia tinggal bersama sang ayah yang jarang pulang karena sibuk bekerja. Menurut laporan, Rafi mengambil sebilah pisau di dapur dan menusuk dadanya, sampai jantungnya berhenti berdetak dan mati.

Salah satu bukti kematian yang mengejutkan di tkp, ketika tim forensik melihat isi buku yang berada di atas meja belajarnya, buku itu dibuka sampai tiba di halaman terakhir yang belum kosong. Itu adalah catatan terakhir, ditulis di hari sebelumnya. Catatan itu terbaca:

"Maaf, aku sudah tak tahan. Selamat tinggal."


Penjelasan:
Cerita di atas dibuat berdasarkan beberapa kejadian yang terjadi di kehidupan kita, pembulian adalah penyiksaan mental sehingga jika korban pembulian sudah tak tahan dengan penindasan terhadap dirinya, maka tak mustahil jika orang tersebut akan melakukan aksi bunuh diri.

Original Author: Gugun Reaper

1 komentar:

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna