Kamis, 18 Oktober 2018

Aesthetically Pleasing

Aku tidak suka mengubah penampilan, tetapi aku harus melakukannya untuk berbaur dengan masyarakat. Kebanyakan lelaki mengklaim tidak menyukai sandiwara yang dilakukan oleh para perempuan. Mereka mengklaim ingin kecantikan yang alami, bukan hasil dandan.



Aku tidak berbeda dengan perempuan lain.

Aku suka berdandan, sangat suka, tetapi itu merepotkan. Pacarku harus menunggu di ruang tamu selama berjam-jam ketika aku bersiap untuk berkencan dengannya, mencoba menyempurnakan beberapa imajiner estetika. Seperti kebanyakan wanita, aku menolak untuk meninggalkan kamar mandi sampai aku sepenuhnya puas, tersenyum riang di depan cermin yang menampilkan sosok palsu dari diriku sendiri.

Tanpa diketahui pacarku dan populasi lelaki pada umumnya, tidak ada lagi yang alami. Dalam komunitasku, siapa pun yang tanpa dandan tidak lagi disukai, terlepas dari kecantikan yang mungkin mereka tampilkan. Jika kau tidak menampilkan mata seksi, dada montok, bibir merah, kulit berseri, atau rambut panjang yang indah, kau bukan siapa-siapa lagi di dunia. Hanya monster.

Meskipun telah sampai pada kesimpulan yang dangkal ini, kami sering ditekan oleh pasangan untuk menghargai keindahan yang diciptakan Tuhan, meskipun begitu, aku telah mengalami siksaan yang parah berkali-kali di masa lalu oleh pacar yang telah menyaksikan diriku yang sebenarnya. Aku ingin bisa mencintai penampilanku, aku ingin percaya diri dan berteriak kepada dunia bahwa aku cantik, tetapi itu tidak akan terjadi.

Terlepas dari ketakutanku, terlepas dari reaksi yang tidak diketahui pasanganku, aku tidak bisa mengizinkan pacarku untuk menginap dan tidur bersama.

Betapa konyolnya aku.

Ketika aku mandi, aku mendengar pintu kamar mandi terbuka. Untuk perempuan normal, itu adalah undangan untuk rute keintiman yang mendalam, tetapi, bagiku, itu adalah petaka. Seperti yang kuduga, suara kejutan yang familiar memenuhi udara.

"A-apa-apaan ini," katanya, sambil gemetar.

Aku mematikan air, perlahan menggeser tirai kamar mandi. Pacarku menatapku, meskipun pandangannya naik dan turun melihat tubuhku yang telanjang, yang dia sukai sebelumnya, tetapi kali ini dia tampak ketakutan.

"Maukah kamu mendengar penjelasanku?" tanyaku ketika dia mulai mundur.

Dia menggelengkan kepala, gemetar ketika tersandung.

"Di mana hidungmu? S-sebenarnya kamu ini apa?" dia bertanya, dengan histeris.

Aku menghela napas panjang, mengulurkan tangan ke arahnya.

"Tolong, jangan pergi dariku," aku memohon padanya.

Dia terus mundur, memutar kepala dengan cepat ke arah pintu, berniat untuk melarikan diri.

"Kau tidak boleh pergi," kataku, sambil menggelengkan kepala ketika air mata jatuh di pipiku.

Karena nada suaraku yang mengerikan, perhatiannya kembali padaku, ekspresinya bahkan tampak lebih takut. Seperti semua pacarku di masa lalu, dia berlari menuju pintu, memutar pegangan, kesulitan untuk membuka semua kunci.

Aku menyaksikan selama beberapa detik, mengamati ketakutan, keterkejutan, dan penolakan terhadap diriku. Kemarahanku kembali karena kekecewaan yang kurasakan ketika aku menyaksikan dia yang mencoba untuk meninggalkan aku yang tanpa rambut tambahan, warna kulit sawo matang, hidung dan telinga, lensa kontak merah kecoklatan, dan bibir yang merah... Dia tidak menghargai upayaku untuk menenangkan dirinya... Dia hanya berpikir kalau aku mengerikan.



Jadi, ketika dia berjuang membuka kunci terakhir, sambil berteriak minta tolong, aku berjalan mendekat, membantunya membuka kunci pintu. Ketika berada di luar, dia mulai berlari menyusuri lorong, pertumbuhan populasi perempuan terjadi di sana. Salah satu monster menusuk dan membaringkannya ke lantai ketika mereka berkumpul di sekitarnya. Semua saudariku melepas topeng, dan mulai mencabik-cabik lelaki itu.



Written by GreyOwl
Content is available under CC BY-SA

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna