Sabtu, 01 September 2018

Ubloo, Part Six

Ini adalah bagian keenam dari Seri Ubloo. Silakan ke bawah artikel untuk membaca bagian sebelumnya!

Aku telah mengawal beberapa penjahat sewaktu berada di angkatan, mulai dari kasus pencurian biasa sampai minuman keras dan percobaan pembunuhan. Apa yang aku pelajari sebenarnya hanya ada dua jenis orang. Orang yang diam di belakang mobil, dan orang yang membuat keributan.



Jika kau membuat keributan di belakang mobil polisi kau mungkin juga baru saja menandatangani sebuah pengakuan. Kami punya pepatah untuk hal ini di kepolisian; “biarlah anjing menggonggong,” dan pepatah itu sepenuhnya benar dari sekadar yang kau bayangkan. Namun orang-orang yang diam sangat berbeda. Lebih sering daripada tidak mereka bersih, namun terkadang—hanya terkadang—mereka adalah orang yang paling berbahaya.

Aku melirik ke kaca spion tengah dan melihat pria tua itu duduk di sana, dengan tangan berlipat di pangkuannya, memandang keluar jendela samping pada rumah-rumah ketika kami melaju ke kantor polisi. Dia tenang dan pasrah—bukan berarti aku mengharapkan sebuah pemberontakan—namun aku tidak bisa melepaskan perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan interaksi pertama itu.

Setelah saling diam di awal dengan rasa tidak nyaman, dia bertanya apakah aku adalah orang yang menyelidiki kasus kematian Abian. Aku memberi tahunya, dan bertanya apakah dia kenal pria itu. Dia mengatakan bahwa hanya pernah bertemu secara singkat namun mereka sudah berhubungan. Setelah itu, aku bertanya apakah dia mau dibawa ke kantor polisi untuk menjawab beberapa pertanyaan—dia harus dibawa—dan di sinilah kami.

Dia memandangi jurnal itu, dan matanya melebar ketika melihat pelat namaku… Aku menggelengkan kepala. Aku tahu bahwa aku pasti membayangkan yang aneh-aneh. Mungkin karena mimpi buruk menyebalkan tadi malam, namun naluriku terasa tidak setajam biasanya.

Akhirnya kami sampai di kantor polisi, melewati resepsionis, kemudian bilik yang berbau samar-samar dari uap kopi Bill, dan masuk ke dalam ruang interogasi, tempat di mana kami bisa berbicara secara pribadi.

“Kau bisa duduk di sini—” Aku menarik sebuah kursi untuknya dari satu sisi meja kemudian bermanuver ke sisi yang lain.

“Terima kasih, pak.” Katanya sambil menghela napas kecil dan duduk di kursi. Dia pasti lebih tua dari yang terlihat.

Aku duduk di kursiku dan menempatkan jurnal di meja tepatnya di sebelah kananku. Aku mengeluarkan pena dan buku catatan, membalik ke halaman yang kosong.

“Baiklah mari kita mulai, beri tahu aku siapa namamu dan—sesuatu untuk menguatkan kepercayaan—surat izin mengemudi jika kau punya.”

“Tentu saja.” Katanya sambil merogoh saku belakang untuk mengeluarkan dompet. “Namaku adalah Eli Jacobs.”

Dia mencabut surat izin mengemudi dari dompet dan menggesernya padaku. Aku mulai menyalin informasi ke buku catatan.

“Bagus, terima kasih. Dan apakah kau masih tinggal di alamat yang tertera di sini?”

“Ya pak, masih.”

Aku melihat kembali padanya ketika telah menulis alamat tersebut.

“Natchez, Mississippi ya? Kau pasti menempuh perjalanan yang panjang.”

“Ya pak, aku tinggal di sebuah rumah petani kecil. Aku sudah pensiun sekarang namun aku pernah menjadi profesor Sejarah Afrika di Northwestern. Setelah semua musim dingin yang panjang dan musim panas kota disertai kebisingan aku memutuskan ingin berada di suatu tempat hangat dan tenang—Natchez adalah pilihan yang tepat.”

“Jadi.” Kataku sambil menekan pena di atas kumpulan kertas, dan menggeser mengembalikan surat izin mengemudi padanya. “Tidak bisakah menembak hal sialan seperti ini, huh?”

“Tidak bisa.” Balasnya, sambil menyimpan dompet, wajahnya tidak menunjukkan emosi.

Leherku terasa merinding.

“Mari mulai dari awal. Bagaimana caramu mengenal Thomas Abian?”

Pria tua itu melepaskan topinya, menaruh di atas meja dan memegang janggut putihnya. Kemudian mendorong kacamata ke atas batang hidungnya, melipat tangannya di atas meja dan duduk membungkuk. Aku juga melakukannya.

“Suatu hari aku mendapatkan sebuah email. Dikirim oleh orang ini, dia mengatakan punya sebuah buku kuno—ditulis dalam bahasa yang hampir punah dan harus diterjemahkan. Yah, karena penasaran, aku membalas dan memintanya untuk mengirimkan contoh teks.”

“Apakah kau bisa menerjemahkannya?” Tanyaku.

“Ya, itu adalah hari keberuntungannya karena mungkin aku adalah satu dari empat atau lima orang yang tersisa di muka bumi ini bisa membacanya. Lihat, tulisan Afrika kuno dekat dengan hieroglif—tidak sepenuhnya seperti itu—namun serupa. Lihat, itu digunakan kombinasi simbol untuk kata benda, namun ditulis kata-kata untuk dialog dan hampir semuanya. Untuk mata yang tidak terlatih itu hampir tidak mungkin untuk membedakan apa itu sebuah kata benda atau sebuah karakter dalam satu kata, dan ini juga membuat penulisan kamus menjadi masalah besar, terus terang dari empat atau lima orang itu—orang termuda kedua mungkin adalah dia yang sedang berbicara denganmu—hanya saja tidak punya waktu dan sumber daya untuk menyelesaikan.”

“Itu sangat mengesankan.” Aku akhirnya merespons setelah dia membalas dengan panjang lebar. “Aku pernah belajar bahasa Spanyol di sekolah menengah atas namun aku hampir melupakan semua itu sekarang. Mempelajari beberapa bahasa Arab ketika aku berada di luar negeri, namun sepertinya mulai lupa.”

“Waktu dan praktik, itulah kuncinya.” Kata dia. “Hal pertama, jelas bahwa aku telah mengalahkanmu.”

Aku sedikit tertawa dan bersandar, menekan penaku lagi.

“Jadi mari kita mempercepat. Orang yang bernama Abian ini, kau memberi tahunya bahwa kau bisa menerjemahkan. Kemudian bagaimana?”

Eli terus menceritakan padaku tentang bagaimana caranya Abian melaju dari Massachusetts ke Tawson, dan bisa berhenti di Mississippi. Bahwa dia tampak kacau ketika akhirnya tiba di rumah Eli. Dia mengatakan buku yang dibawa sangat tua dan bernilai—namun Abian tidak menjelaskan bagaimana dia bisa menjadi pemiliknya. Ternyata dia hanya menginginkan satu bagian kecil dari teks yang diterjemahkan—dan ketika dia selesai—dia langsung pergi, meninggalkan buku itu dengan Eli. Jadi aku menanyakan pertanyaan yang jelas.

“Apa yang tercantum di teks itu? Bagian yang dia ingin untuk diterjemahkan?”

Eli kembali menatapku dan menghela napas panjang ketika dia bersandar di kursi. Dia memegang topi di atas meja dan memutar pinggirnya dengan lembut di atas meja aluminium yang halus.

“Sebelum aku menceritakan, aku ingin kau berjanji untuk tidak menahan apa yang aku katakan.”

Aku mengangkat alis.

“Sulit untuk dikatakan.” Balasku. “Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menahanmu, namun sekali lagi, kita belum merekam obrolan kecil ini.”

Eli tersenyum di sudut bibirnya.

“Percayalah padaku petugas. Tidak ada yang akan memercayaimu.”

Aku benci ekspresi itu, “membuat darahku menjadi dingin” karena ucapannya. Aku berusaha untuk kembali tenang dan menaruh penaku.

“Ceritakan.” Kataku.

“Thomas Abian ingin mengetahui tentang seorang dukun tua dan kuat. Seseorang yang hidup ribuan tahun lalu.” Dia bercerita, tidak mengalihkan pandangannya, bahkan tidak berkedip. “Dukun ini melakukan ritual dan memanggil roh yang sangat marah dan pendendam, roh itu menjangkit seorang melalui mimpi, membuatnya tidak bisa tidur—dan akhirnya—mencabut nyawanya sendiri.”

Aku sedikit mengerutkan dahi.

“Abian memercayai semua ini?”

Eli menatap mataku. “Iya.”

“Dan bagaimana denganmu?”

Dia berhenti sebentar, menutup mata dan menghela napas kecil.

“Iya.”

Aku bersandar di kursi.

“Dan biar kutebak, alasan kenapa si Abian ini tampak kacau adalah karena dia belum tidur—bahwa dia diserang oleh monster tidur ini.”

Eli mengangguk.

“Baiklah, pak tua.” Kataku, menutup buku catatan. “Bisa jadi di forensik sedang memeriksa barang-barang milik orang ini namun aku malah membuang-buang waktu di sini untuk berbicara dengan seseorang yang bodoh.”

Aku mundur dari meja dan berdiri. Aku berbalik dan memeriksa jam di dinding. Setengah lima. Sempurna. Tidak mungkin aku bisa melalui semua omong kosong pria ini sebelum waktunya—

“Ubloo.”

Pikiranku terhenti.

Aku berbalik dan melihat Eli, masih duduk di kursi, melipat tangannya di atas meja.

“Apa yang baru saja kau katakan?”

Eli kembali mendorong kacamata ke atas hidungnya.

“Kau adalah orang yang menemukan mayatnya, bukan? Yang pertama kali melihat? Orang yang berbicara denganku di telepon?”

Aku menelan ludah, dan mengangguk.

“Kau telah mendengar kata itu sebelumnya, bukankah begitu?”

Suaraku hilang. Teringat kembali dengan tempat suram, Danny, para penyandera, dan kata itu.

“Bahasa Arab, kah? Pria di dalam mimpiku tadi malam mengatakan kata itu, aku tidak ingat apa artinya.” Aku akhirnya berhasil mendorong dia menyangkal. “Tetapi bagaimana—”

“Bukan bahasa Arab.” Balasnya, berdiri. “Kata itu dari bahasa Afrika—lebih tepatnya Khoe.”

Dia perlahan berjalan mengitari meja ke tempatku berdiri. Aku tahu aku harus memintanya untuk berhenti namun aku mematung ketakutan.

“Itu adalah sebutan pendek untuk ‘Ubua Loo’ yang merupakan frasa umum di lidah mereka. Kurang lebih artinya ‘bangunlah.’”

Aku menggelengkan kepala.

“Kau pasti membohongiku.”

“Maaf tetapi kau harus menerima kenyataan ini petugas.”

“Mundur.” Kataku, mempererat peganganku pada buku catatan.

“Monster itu melompat dari orang ke orang dengan menjangkit siapa pun yang pertama kali menemukan mayat korban sebelumnya.”

“Kuperingatkan kau, berhentilah berbicara omong kosong.”

“Pasien Dokter Abian telah terjangkiti dan ditemukan tewas di apartemennya, sang pasien terjangkiti karena menemukan Ayahnya tidak lama setelah kematian beliau, sang ayah terjangkiti karena menemukan penyewa tewas di apartemen miliknya yang belum membayar uang sewa selama beberapa bulan.”

Aku menyadari bahwa aku terpojok, tumitku menyentuh dinding ruang interogasi.

“Kau menemukan Dokter Abian di rumah tua itu—dia datang ke sana untuk menyelidiki kasus dari salah satu korban sebelumnya. Kau mendengar kata itu hanya di dalam mimpi, tidak ada cara namun aku tahu kalau ini berat untukmu. Aku benar-benar minta maaf, Jeff, namun monster itu, dia mengatakan padamu untuk bangun.”

“Tetapi…” Kataku dengan gagap, mencoba menyelesaikan sekaligus. “Tetapi kenapa menyuruhku untuk bangun?”

“Maaf, aku tidak tahu.” Balasnya, beralih menatap lantai. “Thomas punya satu teori. Kau lihat, kembali ke Afrika kuno siapa pun yang terjangkiti akan ditemani seseorang untuk membangunkan mereka jika mulai meronta ketika tidur. Orang-orang ini akan menggoyangkan korban dan berteriak ‘Ubloo’ untuk membangunkan mereka, memberi tahu bahwa mereka hanya bermimpi. Thomas percaya bahwa, roh baik datang, dan mengatakan itu untuk membangunkan.”

“Tetapi kenapa? Jika hanya kuat di dalam mimpi kenapa membangunkan kita?”



“Bagian itu masih belum diketahui.” Eli mendesah.

Ada jeda panjang di antara kami, karena Eli membiarkan suasana menjadi sunyi.

“Jadi bagaimana sekarang?” Aku akhirnya berkata.

“Begini, buku itu kubawa. Jika kau mengizinkan, aku akan pergi dan membacanya lagi. Mungkin ada sesuatu yang terlewati. Sementara itu kau harus membalik-balik buku harian Abian—kemungkinan dia menulis catatan secara detail tentang seluruh cobaan berat yang dirasakan dan—”

“Tidak.” Aku menginterupsi. Eli berhenti berbicara seketika. “Maksudku apa yang terjadi padaku?”

Eli mengulurkan tangan dan mengambil topinya. Kembali dipakai, menggeser sedikit dan kemudian kembali mendorong kacamatanya.

“Cobalah untuk tidak tidur.”

Sekarang sudah mendekati jam delapan malam—atau mungkin sembilan—aku kehilangan jejak kejujuran.

Dengan enggan aku membiarkan Eli kembali ke hotelnya. Bagaimanapun juga aku tidak punya bukti untuk mendakwa dan membuatnya tetap di sini. Kami bertukar nomor dan dia mengatakan akan menelepon jika mengetahui sesuatu, bahwa aku harus melakukan hal yang sama, atau jika aku punya pertanyaan.

Halaman-halaman buku harian Thomas kaku dari tinta yang menempel di dalamnya. Aku membalik halaman demi halaman dengan hati-hati, membaca secara perlahan untuk memastikan tidak ada yang terlewati. Pria itu mungkin telah kehilangan kesadaran di akhir namun dia tetap teliti, patut diapresiasi.

Buku hariannya menguatkan semua yang dikatakan Eli padaku, dengan lebih detail. Dia bahkan mencatat jadwal tidurnya—berapa lama dia tidur dan berapa lama dia merasa bermimpi—mencoba mencari hubungan di antara keduanya untuk melihat apakah dia bisa mengoptimalkan waktu yang dihabiskan untuk bermimpi. Sangat mengesankan—namun sepertinya dia terus mengalami masalah “microsleep,” kejadian di mana dia tidak akan tahu kalau sedang tertidur sampai dia bangun.

“Ubloo telah mempelajari cara menghancurkan hidupku melalui mimpi, dia berhasil, sehingga aku tidak curiga. Dia mengerti bahwa ketakutanku jauh lebih besar ketika aku tidak tahu kalau aku telah tertidur. Adderall mungkin bisa membuatku terjaga dalam jangka waktu panjang namun tanpa gerakan mata yang cepat aku akan terus mengalami microsleep. Aku merasa seperti anjing yang mengejar ekornya. Entah apakah aku akan menyerah dan tidur melebihi 24 jam atau terus terjaga, setidaknya aku sedikit lebih aman.”

Kehidupan yang sangat mengerikan dan suram. Ada paragraf panjang dari teori yang telah dicoret—catatan di garis tepi menjelaskan kenapa dia menyangkal itu.

Aku akhirnya mencapai ujung, dan gemetar ketika membacanya.

“Tiba di sekolah. Pukul 02:31. Tidak ada tanda-tanda aktivitas di dalam bangunan dari luar sini. Mungkin tidak perlu melakukan pencarian sampai lebih dari setengah jam—akan kucatat temuanku nanti.”

Aku menutup buku catatan, meletakkannya di atas mejaku dan menyesap kopi, mencerna segalanya.

“Jeff!”

Jantungku hampir meledak.

“Persetan, Bill. Hampir saja aku menumpahkan kopi ini ke bajuku. Kau tidak boleh menyelinap seperti itu.”

“Kupikir kau selalu mengatakan kalau aku terlalu gemuk untuk menjadi licik.” Katanya sambil tersenyum bodoh.

Aku mengerutkan dahi dan menatapnya. Sial, dia benar, dia mendapatiku kali ini.

“Bukti telah datang kembali dan disimpan di lantai bawah di dalam loker.”

Mataku melebar.

“Aku akan memeriksanya sekarang, siapa yang memegang kunci?”

Bill melemparkan kunci-kunci itu padaku dan mulai kembali ke mejanya.

Aku bangkit dan langsung berlari ke ruang bukti. Aku meraba-raba dengan kunci, namun akhirnya pintu terbuka.

Kotak Abian berada di rak paling bawah. Aku berjongkok, mengambil benda itu dan membawanya ke meja. Ada sebuah ransel yang berisi alat-alat pembobolan, sebuah dompet, setengah kosong botol pil, revolver berlumuran darah. Aku mulai berusaha untuk memahami semua ini.

Pil-pil tersebut digunakan agar dia tetap terjaga, sehingga bisa menulis di buku hariannya. Alat-alat pembobolan digunakan untuk masuk ke dalam bangunan gereja—itu sangat masuk akal. Revolver untuk perlindungan, meskipun tidak tampak seperti itu membuatnya jauh lebih baik.

Aku terus menggeledah tasnya sampai tanganku menyentuh sesuatu yang terasa rapuh. Aku berhenti, dengan lembut menggenggam dan menariknya dari dalam tas.

Itu adalah selembar kertas, yang dilipat, tampak sudah tua. Aku membuka kertas itu dan membaca dengan suara keras.

“Aku ingin bertanya tentang bagaimana caramu tidur di malam hari, sekarang aku sudah mendapat jawabannya.

-Monaya Guthrie”

Kepalaku mulai berputar. Abian menyebutkan di buku hariannya kalau Eli telah memberi tahu bahwa monster itu telah terhenti. Jangka waktu panjang di mana tidak ada kematian yang tercatat, namun entah bagaimana monster itu selalu berhasil kembali, tanpa penjelasan.

Aku membaca catatan itu sekali lagi.

“Monaya Guthrie.” Kataku sambil menggelengkan kepala. Siapa gerangan ini, dan kenapa Abian punya catatan ini?

Kemudian ponselku berdering.

Aku menarik ponselku dari saku untuk melihat foto istriku yang menatapku, digunakan untuk panggilan masuknya. Aku menjawab panggilan itu.

“Hei sayang ada apa?”

“JEFF! JEFF KAMU HARUS PULANG.” Dia berteriak dengan panik.

“Kenapa? Apa semua baik-baik saja?”

“DANNY. DIA BERADA DI BAK MANDI DAN—DAN—DAN TIRAI KAMAR MANDI JATUH DAN DIA TERSANGKUT. DIA TERJEBAK DI BAWAH AIR DAN TIDAK BERNAPAS!”

Jantungku berdebar kencang sehingga seluruh tubuhku gemetar.

“Sayang panggil 911. Aku akan pulang sekarang. Mulailah melakukan resusitasi jantung paru.”

Aku bergegas keluar pintu loker bukti dan berlari menyusuri lorong ke pintu masuk utama, dengan ponsel masih di telinga. Istriku menangis histeris.

“A-AKU TIDAK TAHU CARANYA!”

“Tiga puluh kali kompresi dan dua kali ventilasi! Kamu bisa mendengarku?! Memiringkan kepalanya ke belakang ketika kamu melakukan ventilasi. Aku akan mengakhiri pembicaraan kita untuk menelepon 911 sehingga kamu bisa melakukan ini, kamu harus bisa.”

Dia masih terisak-isak.

“Jeff tolonglah.”

“LAKUKAN.”

Aku mengakhiri panggilan telepon dan segera menghubungi 911. Pada saat ini aku berada di mobilku dan melompat ke kursi pengemudi. Aku memutar kunci dan mobil meraung hidup seolah-olah merasakan urgensiku. Aku mengalihkan tombol untuk menyalakan lampu dan sirene dan keluar dari tempat parkir, melaju pulang.

“911 apa keadaan darurat Anda?”

Aku meneriakkan alamat rumahku ke ponsel, atau setidaknya kupikir aku tidak tahu, aku sedang berada di jalan.

“—TIDAK BERNAPAS. BERUSIA TUJUH TAHUN. BUTUH SEBUAH DEFIBRILATOR EKSTERNAL OTOMATIS, RESUSITASI JANTUNG PARU SEDANG DILAKUKAN. BISAKAH ANDA KONFIRMASI?”

“Ya pak, saya akan segera mengirim ambulans.”

Aku melempar ponselku ke kursi penumpang tanpa repot-repot mengakhiri panggilan telepon. Mesin menggeram ketika kecepatanku naik hampir 100 mil per jam. Aku melewati tikungan dan merasa mobil hampir tidak bisa menahan cengkeraman itu di jalan. Aku menghentikan laju berdecit di luar rumahku dan berlari secepat mungkin ke pintu, memasuki ruang tamu.

“MARY!” TERIAKKU.

“JEFF! JEFF DI SINI!”

Aku berlari menyusuri lorong ke kamar tidur kami. Mary duduk bersandar terhadap tempat tidur, mata merah dan mekap luntur di wajahnya. Dia kacau, mencengkeram sebotol minuman keras begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

“Mary… Apa yang terjadi? Di mana Danny?!” Tanyaku, dengan bingung dan panik.

“Dia…” Katanya sambil terisak-isak. “Aku tidak bisa Jeff, aku tidak bisa.” Mary mengangkat lengannya dan menunjuk ke ruangan di seberang lorong.

Aku berbalik dan berlari memasuki ruangan itu. Mary tidak pernah menyentuh setetes minuman keras sejak Danny lahir. Apakah dia memang mabuk atau mulai melakukan ini karena tidak mampu menangani—

Aku berlutut.

Di sana yang terlentang di lantai adalah putraku, Danny, bibirnya berwarna biru pucat, warna terang tubuhnya juga memucat.

“TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK!” Aku merangkak ke samping dia untuk mendengarkan napasnya.

Tidak ada.


Aku memiringkan kepalanya ke belakang dan memulai dua kali ventilasi ke mulutnya, kemudian melakukan kompresi, menghitung di kepalaku terhadap isak tangis Mary dari ruangan lain.

Aku melakukan ini untuk apa yang terasa seperti kekekalan.

“Halo? Ambulans?”

Aku akhirnya mendengar suara seseorang dari ujung lorong.

“KEMARILAH! CEPAT!” Teriakku.

Dua pemuda yang tidak mungkin berusia lebih dari 30 tahun memasuki ruangan. Salah satu membawa sebuah masker oksigen dan yang satunya lagi membawa sebuah koper plastik besar—kemungkinan pasti itu Defibrilator Eksternal Otomatis.

Aku berdiri dan melangkah mundur ketika mereka mulai bertindak, pria pertama memasang masker dan yang lainnya berfokus pada Defibrilator Eksternal Otomatis.

“MENYALURKAN KEJUTAN. SETRUM.” Terdengar suara melalui mesin.

Pria pertama terus memompa oksigen, pria kedua mengatur penyetelan pada Defibrilator Eksternal Otomatis.

“BERSIAP UNTUK KEJUTAN.”

“SIAP!” Teriak pria itu.

Terdengar bunyi desing dan berdebum ketika tubuh Danny tersentak dan kembali ke lantai. Tidak membuahkan hasil.

“MENYALURKAN KEJUTAN. BERSIAP UNTUK KEJUTAN.”

“SIAP!” Lagi.

Terdengar bunyi desing dan berdebum lagi, namun tidak membuahkan hasil.

Kemudian aku mendengar seseorang yang lain berkata dengan keras di lorong. “Jeff?”

“DI SINI!” Teriakku.

Bill berlari memasuki ruangan, terengah-engah.

“Jeff ya ampun aku benar-benar minta maaf, aku datang secepat yang kubisa ketika mendengar di radar.”

Aku tidak mendengarkan, mataku tertuju pada Danny.

“MENYALURKAN KEJUTAN. BERSIAP UNTUK KEJUTAN.”

“SIAP!”

Terdengar bunyi desing dan berdebum lalu tidak membuahkan hasil, atau seperti itulah kelihatannya. Kemudian aku melihat detak jantung terekam di Defibrilator Eksternal Otomatis.

“YA TUHANKU!” Aku menunjuk ke sana.

Kenapa tidak mengatakan apa pun? Mereka seharusnya bangkit dan mundur—

“MENYALURKAN KEJUTAN. BERSIAP UNTUK KEJUTAN.”

“TIDAK! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN!”

Aku menerjang pria dengan Defibrilator Eksternal Otomatis namun aku ditahan. Aku menunduk panik dan melihat lengan Bill di pinggangku.

“SIAP!”

“TIDAK! ITU TIDAK BOLEH! LEPASKAN AKU!”

Aku menunduk ngeri ketika mata Danny berkibar terbuka secara singkat. Melihat ke sekeliling ruangan dengan panik dan kemudian mengunci pandangan padaku.

BERDESING-BERDEBUM

Suara kejutan memenuhi ruangan, dan mata Danny menggulung ke atas hanya memperlihatkan sisi bawah berwarna putih sebelum menutup lagi.

“TIDAK APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN!” Aku berjuang melepaskan pegangan Bill namun tidak bisa.

Aku menatap ngeri ketika monitor detak jantung kembali ke nol.

“MENYALURKAN KEJUTAN. BERSIAP UNTUK KEJUTAN.”

Ada asap yang naik sekarang dari letak di mana panel-panel Defibrilator Eksternal Otomatis menempel di kulit Danny.

“HENTIKAN! KALIAN MEMBAKARNYA!”

Mereka bahkan tidak repot-repot berteriak dengan jelas kali ini.

BERDESING-BERDEBUM

Asap semakin tebal sekarang.

“TOLONGLAH! HENTIKAN! KUMOHON!”

BERDESING-BERDEBUM

Kemudian mata Danny berkibar terbuka lagi. Menatapku melalui kepulan asap dan kekacauan yang memenuhi ruangan. Aku bisa mencium kulit yang terbakar sekarang, dan memualkanku sehingga aku hampir muntah. Asap mulai gelap dan tebal, menutupi langit-langit ruangan. Di bawah masker oksigen kulihat bibirnya bergerak namun aku tidak bisa mendengarnya, meskipun aku tidak harus mengetahui apa yang dia katakan.

“Ayah?” Dia berbicara padaku.

BERDESING-BERDEBUM

Tubuh Danny meledak. Ruangan terpenuhi darah dan potongan tulang dan kulit. Muncrat ke lantai, dinding dan langit-langit.

Aku berdiri dengan kaget dan ngeri, tidak mampu bergerak atau berbicara. Aku berlumuran darah, sedikit isi perut menempel di rambutku dan irisan kulit di pipiku. Aku menunduk ngeri ketika dua teknisi medis darurat itu sepenuhnya bersih, dan bersiap-siap untuk mengejutkan apa yang tersisa dari mayat Danny di lantai.

“MENYALURKAN KEJUTAN. BERSIAP UNTUK KEJUTAN.”

“UBLOO!”

Kepalaku tersentak naik dari meja dan refleksi cahaya dari dinding putih hampir membutakanku. Ponselku berdering. Aku menatap ke sekeliling ruangan dengan keringat dingin dan panik, jantungku memompa satu mil per menit.

Akhirnya ponsel berhenti berdering dan aku mendapat bantalan peluruku. Aku menunduk ke meja.

Aku tertidur di loker bukti.

Kepalaku jatuh ke tanganku dan aku mendesah panjang, kemudian menyadari apa yang telah terjadi dan dengan panik mencari ponselku.

Aku berbalik dan menariknya dari dalam saku jaketku di belakang kursi.

“Satu Panggilan Tak Terjawab: Mary”

Perutku terasa sakit. Aku membuka ponsel dan segera menelepon balik.

“Halo?”

“Mary? Apa semua baik-baik saja?”

“…Iya?” Dia terdengar bingung.

Aku bersandar terhadap kursi dengan lega.

“Bagus, bagus…” Kataku menenangkan suasana.

“Jeff sudah hampir jam satu pagi, kupikir kamu hanya bekerja sampai jam sepuluh?”

Aku menatap jam tanganku, dia benar. Berapa lama aku tertidur?

“Yah maaf, aku ketiduran di mejaku.” Aku tertawa.

“Sangat bagus Jeff.” Aku bisa mendengar senyumannya melalui ponsel. “Senang kamu bisa memberikan uang pajak untuk pekerjaan yang hebat.”

Aku tertawa lagi.

“Kamu tahu apa pekerjaan ini.” Kataku, sekarang tersenyum juga.

“Aku tahu, aku tahu.” Dia merespons, kemudian melakukan kesan berlebihan dari suaraku. “Di satu sisi aku bisa jalan-jalan ke luar rumah setiap hari.”

Kami berdua tertawa. Itu benar, aku suka mengatakan itu padanya dan dia senang mendengarnya.

“Aku akan segera pulang sayang, jangan menunggu.”

“Baiklah, kucinta kamu.”

“Aku juga cinta kamu.”

Aku mengakhiri panggilan telepon dan menaruh ponsel kembali ke dalam saku. Aku dengan rapi mengemas bukti Abian dan menaruh kembali ke atas rak.

Kumpulan kecil pekerja masih berada di kantor. Beberapa bajingan malang bekerja lembur dan menyuruh, yang saat ini mengatakan kepada pembersih kantor untuk menyedot debu sementara pria itu mencoba menuliskan nomor pelat. Tepat sebelum aku mencapai pintu ke jalan masuk utama aku berhenti.

Aku berdiri di sana sebentar, kemudian berbalik dan berjalan kembali ke mejaku. Aku duduk, menggoyangkan tetikus komputer dan layar menyala.

Aku pergi ke basis data kami dan mengetik nama.

“Monaya Guthrie”

Ada satu yang muncul, dan aku membuka berkas itu.

Aku mengamati, berhenti, kemudian mengeluarkan ponselku untuk yang terakhir kalinya dan menekan nomor.

Ponsel berdering sebanyak dua kali sebelum seseorang menjawab.

“Halo?”

“Ini Jeff. Aku sudah mendapat petunjuk ke mana Abian akan menuju selanjutnya. Dia mengejar seorang wanita bernama Monaya Guthrie. Aku akan ke sana besok, kalau kau tidak keberatan.”

Ada jeda.

“Tentu. Aku akan siap pada jam tujuh.” Eli merespons.

“Kedengarannya bagus.” Kataku, jeda kembali terjadi. “Semoga tidurmu nyenyak.”



“Kau juga.” Katanya, dan kemudian ponselku hening.

Credit: DifferentWind

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Ubloo part one bisa ditemukan di sini
Ubloo part two di sini
Ubloo part three di sini
Ubloo part four di sini
Ubloo part four and half di sini
Ubloo part five di sini
Ubloo part six di sini
Ubloo part seven di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna