Selasa, 21 Agustus 2018

Stalker

Kami selalu menaiki kereta yang sama. Namun hanya aku yang menyadarinya. Dia, sama sekali tidak.



Dia gadis paling cantik yang pernah kulihat. Dengan riasan wajah yang natural, orang-orang pasti meliriknya, setidaknya dua kali menoleh.

Cekrek.

Aku mendapat fotonya lagi. Untuk menambah koleksiku.

Kereta sampai di stasiun tempat dia tinggal. Gadisku segera turun. Aku, selalu mengikutinya secara diam-diam.

Dia selalu berjalan sendirian, meski malam sudah larut. Jalanan yang dia lewati selalu sepi. Aku bahkan sering melihatnya keluar tengah malam untuk sekadar membeli camilan.

Tidak. Aku tidak berdiri seharian hanya untuk memandanginya. Aku, memasang kamera-kamera kecil di sekitar rumahnya. Seperti di gang dekat rumahnya, di depan rumahnya, dan di pohon besar yang menghadap langsung ke kamarnya. Sehingga aku bisa mengawasinya dari rumahku atau di mana pun dengan ponselku. Dan itu semua butuh perjuangan besar.

Aku terengah-engah seolah-olah baru saja berlari. Di hadapan gadisku berdiri tiga orang laki-laki berbadan besar. Geng liar. Gadisku terus berjalan sambil menundukkan kepala, mungkin berharap agar geng liar itu tidak mengganggunya.

Jantungku berdebar ketika salah satu anggota geng liar itu mendekati tubuh mungilnya. Menggamit tangannya, lalu ditepis dengan kasar. Namun dua orang laki-laki yang lain mengunci kedua tangan gadisku.

Mereka tertawa ketika dia berontak. Tampak seperti mereka mendapatkan mainan baru. Salah satu dari mereka mencolek dagunya, bahkan mencoba untuk menciumnya. Gadisku meronta, aku bisa melihatnya mulai menangis.

Aku meremas benda yang ada digenggamanku. Ponsel. Lalu mendial nomor telepon 911. Menunggu tersambung, dan mulai menjelaskan apa yang terjadi. Setelah menanyakan alamat kejadian, para polisi akan datang secepatnya. Lalu telepon diputus secara sepihak.

Secepatnya. Mereka memang tidak pernah bisa diandalkan. Mau tak mau, akhirnya aku menghampiri mereka. Untung saja saat ini aku tidak jauh dari lokasi kejadian.

"Hei!" Aku berteriak mengambil perhatian para geng liar. Mereka menoleh, menatapku dengan tajam, "Jangan sakiti dia!"

Mereka tertawa mendengar suaraku yang bergetar. Salah satunya menghampiriku.

"Mau jadi pahlawan?" katanya, "Atau ingin ikut bersenang-senang dengan kami?" dia tertawa, mencoba meraih bahu namun aku menghindar.

Tubuh laki-laki itu mungkin tiga kali lebih besar dibanding tubuhku, membuat pergerakannya lebih lambat. Namun aku memukulnya, sudah dipastikan aku yang akan merasa sakit. Maka yang kulakukan, mengeluarkan blackpaper spray dan menyemprotkannya tepat ke mata. Laki-laki itu berteriak.

Tindakanku ternyata mengambil alih perhatian kedua temannya. Ini kesempatan bagus!

"Gigit tangannya!" Aku berteriak pada gadisku. Beruntung dia mempunyai refleks yang cepat dan langsung menggigit salah satu tangan anggota geng, lalu menginjak kaki yang lain.

Dia berlari ke arahku. Kalau saja aku tidak menangkap tubuhnya, dia bisa terjatuh. Kulihat, kedua laki-laku itu menghampiri kami. Aku menyeringai.

"Tunggu sebentar," kataku melepas pelukannya. Aku membuka tas, mengambil cairan asam yang kuminta dari lab tempatku bekerja.

Keduanya sampai, mereka kusiram.

Jeritan ketiga gangster itu memenuhi malam yang makin larut. Kemudian aku menarik gadisku menjauh. Suara sirine polisi mulai terdengar.

Dalam genggamanku, tangannya gemetar. Dia ketakutan, "Udah, enggak apa-apa. Mereka udah ditangkap. Kita aman."

"Terima kasih udah nolongin aku," katanya, "Tapi kamu hebat bisa ngelawan mereka sendirian."

Aku tersenyum, "Aku selalu bawa alat pertahanan diri. Aku juga sering pulang malam."

"Kamu bukan orang sini, kan?"

"Euh, bukan. Tadi berkunjung ke rumah teman."

Dia mengangguk saja. Masih kurasakan tubuhnya gemetar. Kugenggam dengan erat tangannya, "Jangan takut. Ada aku. Kalo mau, aku bisa jagain kamu. Kita bisa jadi teman."

Setelah kejadian itu, kami benar-benar menjadi teman. Setiap hari pergi dan pulang bersama. Berjalan-jalan di akhir pekan bersama, menikmati senja bersama. Aku bahagia. Ini seperti mimpi yang menjadi nyata.

"Pacarku besok ngajak kencan. Maaf ya, kita engga jadi nonton."

Harus kutelan rasa kecewa karena dia membatalkan acara kami. Demi kekasihnya.

Aku cemburu. Namun tidak bisa dengan terang-terangan mengatakannya. Cukup membuatku frustrasi. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk pergi.

Esoknya, pagi-pagi buta Adelle meneleponku sambil terisak. Dia mengatakan bahwa kekasihnya, ditemukan tewas di dalam mobil karena menabrak pohon.

Aku tersenyum. Takdir memang selalu berpihak padaku. Apa pun yang kurencanakan, selalu berhasil. Beruntung aku menemukan situs-situs terlarang. Seperti; situs taktik para pembunuh agar tak tercium jejak.

Aku mengajak gadisku ke rumah setelah pemakaman dengan alasan ingin menemaninya. Namun yang kupikirkan adalah, hari ini dia harus benar-benar menjadi gadisku.

Aku memintanya membersihkan diri dahulu, lalu mencarikannya pakaian yang cocok; sederhana namun seksi. Aku tersenyum sambil membayangkan.

Adelle keluar dengan pakaian yang kuberikan. Seperti bayanganku, dia semakin terlihat cantik meski raut sedih masih menggelayut di wajahnya.

"Anne, terima kasih udah jadi temanku." Dia mendekat lalu memelukku erat. Membuat hatiku senang. Aku benar-benar tidak kuat lagi menahan rasa.

"Aku tidak ingin menjadi temanmu."

"Apa?"

"Aku ingin kamu jadi milikku, Adelle."

Dia melepaskan pelukannya, "Apa maksudmu?"

"Kamu harus jadi milikku sebagai pasangan hidup." Sebelum dia menyahut, sudah kugamit tangannya. Menariknya ke kamarku, "Lihat! Aku mencintaimu! Sangat tergila-gila padamu!"

Adelle tidak bersuara. Dia memerhatikan isi kamarku. Ada fotonya yang memenuhi dinding, patungnya, bahkan layar yang berisikan CCTV di rumahnya. Dia menurunkan rahang, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia beralih menatapku.

"Ta-tapi, kita sama-sama perempuan, Ann ...." Suaranya begitu lirih.

"Aku tidak peduli." Dengan cepat aku menangkup wajahnya, menciumnya dengan kasar. Dia mendorongku. Aku menamparnya, menariknya dan kujatuhkan ke ranjang.

"Anna! Kau gila!" Dia berteriak sambil menepis tanganku yang mencoba menyentuhnya. Aku menamparnya dengan kencang. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.

"Aku ngga ingin membunuhmu seperti Rio." Matanya membulat mendengar aku menyebut nama kekasihnya.

"Jadi-"

"Maaf udah motong kabel rem mobilnya. Maaf juga udah bikin dia mabuk semalam," jelasku, "Tapi ini aku lakuin karena aku cinta kamu, Adelle!"

Dia menangis. Tubuhnya mulai gemetar ketakutan seperti malam itu.

"Jangan... Sentuh... Aku, Ann." Suaranya begitu lirih. Aku tak sanggup melihatnya sedih. Aku hanya ingin melihat senyumnya.

"Aku mencintaimu, Adelle." Kuambil sebuah suntikan yang berisi racun. Aku sudah mempersiapkannya jika Adelle tidak mau menerimaku.



Akan kubiarkan dia mati secara perlahan. Lalu kusuntik lagi cairan pengawet. Kita akan hidup bersama. Aku, dan tubuhmu. Aku, dan senyummu.

Original Author: Suzanna Dewi

4 komentar:

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna