Jumat, 10 Agustus 2018

Menyegel Penyihir

“Ah, gak seru!” Aku berkomentar setelah keluar dari gedung bioskop dan menuju parkiran. Rasanya seperti tertipu trailer di YouTube. Niat hati ingin membuat gebetan takut biar bisa dipeluk, ternyata gagal. Anya, dia malah serius menonton.



Gadis itu tidak seperti biasanya. Selama film diputar, dia tidak banyak berkomentar. Bahkan sampai saat ini, dia belum bicara sama sekali. Aku menggaruk kepala, bingung apa yang harus aku lakukan untuk mencairkan suasana.

Apa aku harus ajak dia makan? Membeli novel keluaran baru? Atau-

“Menurut kamu, ada ngga yang kayak gitu di dunia?” Anya berbicara mendahuluiku. Hah, aku tertolong!

“Kayak gitu, maksudnya?”

“Iya kayak yang ada di film. Menganut aliran tertentu sampe rela ngelakuin apa aja. Termasuk ngebunuh diri mereka sendiri atau orang lain.”

Entah hanya perasaanku saja, atau suasana di tempat parkir mendadak mencekam. Sunyi. Tak ada seorang pun 'kah di sini selain aku dan Anya? Terlebih lagi, Anya seperti bukan dirinya yang kukenal selama tiga bulan ini. Dia seperti sosok yang lain.

“Euh, kita ke toko buku dulu yuk. Ada yang pengen aku beli.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, tetapi...

“Jawab dulu!” Dia tiba-tiba mencengkeram erat pergelangan tanganku. Kuat sekali, sehingga rasanya tulangku akan patah. Membuatku melenguh kesakitan.

“Sakit, An!”

“Jawab!”

“Mu-mungkin ada,” jawabku, “tapi nggak sampe ngebunuh orang.”

Anya melepaskan cengkeramannya. Aku mengusap pergelangan tanganku, meredakan rasa sakit. Kulihat, tubuh Anya gemetar, seperti orang yang ketakutan. Ya Tuhan, gadis ini kenapa lagi?

Anya berkata lirih, “Aku takut.”

“Jujur saja An, kamu lebih membuatku takut!” Kataku dalam hati.

“Aku takut, Joe.” Dia mendekatkan dirinya padaku. Ini membuatku kebingungan. Namun akhirnya, yang kulakukan adalah merangkulnya dengan lembut.

“Kamu takut apa, An?” Tanyaku, “Itu cuma ada di film.”

Tiba-tiba saja Anya menatapku. Pandangannya kosong. “Menjadikanmu tumbal.”

Ada benda dingin yang menusuk perutku. Anya, aku melihat gadis itu menyeringai seram sebelum pandanganku memudar. Rasa perih mulai menjalar ke seluruh tubuh. Apakah aku... akan mati sekarang?

Kemudian semuanya menjadi gelap.

***

Aku tersadar dan berada di ruangan yang gelap gulita, bajuku ternodai darah. Kulihat sosok Anya berdiri di pintu, tampilannya kini berbeda. Dia berjubah hitam seperti seorang penyihir kuno.

“Apa maksud dari semua ini Anya?” Tanyaku.

“Maksud dari semua ini? Dengar ya bajingan, aku hanya memperalatmu selama ini dan kau akan kujadikan tumbal!” Itu adalah kalimat terakhir yang kudengar sebelum dia menutup dan mengunci pintu ruangan ini. Aku terjebak dengan tengkorak manusia dan sebuah lilin besar di tengah ruangan.



Original Author: Suzanna Dewi
Editor: Gugun Reaper

< Previous        |        Next >

2 komentar:

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna