Sabtu, 28 Juli 2018

Ubloo, Part Five

Ini adalah bagian kelima dari Seri Ubloo. Silakan ke bawah artikel untuk membaca bagian sebelumnya!

Poniku menutupi dahi kecil di atas penutup mataku dalam gumpalan kusut. Sebagian besar karena keringat, namun juga dari kotoran dan debu di tempat kumuh ini selama satu setengah bulan terakhir.



Aku mengangkat bokongku dari tumit pada posisi berlutut untuk menghindari kram di paha, dan sedikit bergoyang untuk melancarkan aliran darah. Jika mereka tidak memberi kami makan sebelum kami berpindah lagi, kupikir aku tidak akan bertahan.

Lututku berdenyut ketika aku kembali duduk. Melalui pintu kayu usang, aku bisa mendengar jeritan di antara pukulan keras berirama. Benda apa yang dipakai hari ini? Gagang sapu? Tongkat kriket? Apa pun itu terdengar relatif ringan. Aku selalu berpikir canggung bahwa benda-benda ringan cenderung lebih menyakitkan ketika kau dipukul dengan benda tersebut.

Suara-suara pemukulan mereda dan aku mendengar beberapa kata kemarahan. Terdengar gerisik, berderak, dan kemudian suara kaki diseret.

Pintu terbuka dengan cara dibanting, dan aku mendengar suara gedebuk di tengah ruangan di mana mereka melempar Mitch.

Para penjaga saling bertukar kata dalam bahasa Arab, dan kemudian aku merasa penutup mataku dirobek kembali, cahaya dunia bisa kulihat meskipun berada di dalam gubuk kotor yang suram ini. Mereka menarikku berdiri ketika ruangan mulai fokus. Ini bukan wajah yang biasa kukenal. Yang ini baru. Dia berdiri di hadapanku dengan pakaian bersih, janggutnya berbentuk bagus dan terawat.

Kami saling menatap satu sama lain untuk sesaat, dan kemudian dia tersenyum. Menampilkan beberapa gigi ompong.

“Kami akan memperlakukan yang terbaik untukmu.” Katanya dengan aksen Arab yang berat.

Dengan ucapan itu, mereka menyeretku keluar ke ruangan lain dan aku mendengar pintu ditutup dengan cara dibanting di belakangku. Mereka melemparku ke tengah ruangan.

Aku berguling ke samping dan memandang ke sekeliling ruangan. Penerjemah menatapku dari pojok, tampak frustrasi. Dua orang yang menyeretku masuk dan orang baru itu berdiri di dekat pintu, hanya menatapku.

Orang baru itu mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Arab yang cukup kumengerti. Mereka berjalan mendekat, masing-masing menempatkan tangan di bawah ketiakku dan mengangkatku ke kursi. Orang pertama berjalan ke belakang kursi dan diam di tempat, yang kedua perlahan bermanuver di depanku. Tarian yang sangat tak asing bagiku.

Aku menengadah ke wajahnya, tak sedikit pun mengalihkan pandangan. Dia tampak sangat marah hari ini.

Orang baru itu meneriakkan kata dengan cepat dalam bahasa Arab bahwa seolah-olah bel di ring tinju telah dibunyikan, dan orang yang marah itu melampiaskan kemarahannya.

Dia melayangkan dua pukulan keras tepat di perutku dan membuatku membungkuk.

“Bagaimana rencana orang Amerika untuk mengambil alih kota? Kapan mereka akan menyerang?” Tanya si penerjemah.

Aku hanya diam.

Sisi kiri kepalaku terasa meledak ketika aku ditampar keras dengan daging berisi di telingaku. Telinga dengan segera berdenging.

“Tempat persembunyian seperti apa yang mereka ketahui? Mereka mengira kami bersembunyi di mana?”

Aku diam lagi, dan kemudian kurasakan tembakan keras di tulang rusukku, diikuti oleh pukulan cepat lain di pelipisku yang memasukkanku ke dalam visi terowongan.

Ini berlangsung selama beberapa menit. Interogasi berulang dan tanpa henti, pemukulan, napas terengah-engah dan perjuangan untuk tetap sadar. Namun entah bagaimana, aku masih gelisah dengan orang baru itu.

Segera sesudah orang yang marah kehabisan napas, aku mendengar beberapa kata dalam bahasa Arab dari sisi ruangan. Kepalaku menggantung di dada, berdenyut tak terkendali.

Aku mendengar pintu terbuka. Bagus, sudah berakhir.

Namun kemudian aku mendengar langkah kaki dari belakang kursiku, ketika orang yang menahanku di tempat berjalan ke ruangan lain.

Aku merosot ke lantai dengan sesak napas. Kubuka mata tepat ketika mereka menyeret masuk Danny. Mereka membuka ikatan tangan dan mendorongnya ke kursi berlengan di mana penerjemah biasanya duduk. Mereka kemudian mengikat tangannya ke lengan kursi, dan kemudian pergelangan kakinya ke kaki kursi.

Ketika mereka selesai, mereka berjalan ke ruang tamu dan di luar pandangan. Aku menatap Danny yang sedang melihat ke sekeliling ruangan, pada semua orang di dalam, dan kemudian padaku. Sementara orang baru hanya berdiri bersandar pada dinding, memutar-mutar ujung janggutnya.

Langkah kaki terdengar kembali dari ruang tamu dengan denting kaca. Datanglah orang yang biasanya menahan kursiku, dia menaruh meja kecil di sampingku, dan kemudian pemukul, meletakkan sebuah botol air besar yang sangat dingin sehingga telah mulai kondensat, sepiring roti dan daging domba. Daging domba itu juga dingin, namun aku bisa menciumnya di tempat aku berbaring tak berdaya.

Kemudian, dua pria itu berjalan ke lemari dan membuka pintu. Aku mendengar mereka menyeret sesuatu namun tidak bisa kulihat dari tempatku berbaring. Aku mendengar mereka menyeret dan mengotak-atik benda itu, kemudian beberapa lagi gerakan yang tidak bisa kulihat, terdengar mereka menjatuhkan sesuatu ke lantai yang sepertinya berat, akhirnya mereka berjalan ke tempatku berbaring dan mengangkatku kembali ke kursi.

Aku mengangkat kepalaku dari bahu dan memaksa mataku terbuka. Di sana, orang yang menatap tepat padaku adalah Danny. Matanya kemudian tertuju ke meja di sampingku, sekaraf air, sepiring roti dan daging yang cukup dekat sehingga aku praktis bisa merasakannya. Aku tahu dia juga bisa. Dan kemudian, dari sudut mataku, aku melihat apa yang telah disusun oleh dua penjaga itu.

Pada dinding ruangan kulihat sebuah generator. Mesin hitam besar dengan selang air panjang dan sesuatu seperti garden wand yang menempel di ujungnya. Aku hanya menatap bingung. Kemudian, salah satu penjaga berjalan ke generator. Benda itu dihidupkan, awalnya mesin tersendat. Aku melihat selang mesin hitam itu dan merasa ngeri.

Itu adalah sebuah pressure washer.

Orang baru itu perlahan berjalan dan meraih gagangnya. Dia memegang pegangan itu di tangannya ketika membungkuk untuk menatap langsung ke mataku.

“’Imma ‘an tashrab, ‘aw yafeal.” Katanya sambil menyeringai.

Aku mengalihkan pandangan dengan cemas pada penerjemah, yang bahkan dirinya sendiri tampak ketakutan.

“Dia bilang, ‘siapa yang mau minum, kau atau dia.’”

Orang baru itu perlahan berjalan kembali ke tempat Danny duduk, berbalik dan menatapku dengan seringai yang sama, mengangkat ujung pressure washer dengan jarak satu inci dari betis terbuka Danny, dan menarik pelatuknya.

Bau air hangat dan ledakan jeritan memenuhi ruangan. Aku hanya bisa duduk dan menatap dengan ketakutan ketika air deras merobek daging kakinya sedikit demi sedikit, genangan air kotor dan darah becek di bawah kakinya dan memercik ke kaki dia yang lain.

Setelah lima detik atau lebih, air berhenti mengalir dan jeritan Danny yang memantul di dinding berhenti.

Orang baru itu mengangguk kepada para penjaga, yang membungkuk di belakangku dan memotong ikatan di pergelangan tanganku. Aku menarik tanganku dan menggesek di mana tali-tali itu menjepit kulitku dan melepasnya.

Orang baru itu menatapku dengan senyum lebar.

“Shurb.”

Penerjemah menoleh padaku.

“Dia bilang ‘minumlah.’”

Aku menunduk ke air dan kemudian menoleh kembali padanya. Dia tersenyum.

Perlahan, aku mengulurkan tanganku menuju air.

Dia kemudian meneriakkan sesuatu dalam bahasa Arab yang mengejutkanku dan menyebabkan tanganku mundur.

“Dia bilang untuk setiap sesapan, kau harus menjawab satu pertanyaanku.”

Aku menatap kembali pada penerjemah yang sekarang tersenyum juga.

Sekarang aku mengerti permainan ini.

“Kalau aku minum, dan tidak menjawab?” Tanyaku padanya.

Terjadi pertukaran kata dalam bahasa Arab, dan kemudian respons dengan cepat datang.

“Maka dia akan menderita.” Kata penerjemah sambil mengangguk ke arah Danny, dia mulai merengek, kepalanya menunduk menatap apa yang tersisa dari kakinya.

Perutku mual, dan dadaku terasa sesak seperti ada ular yang membelit.

Aku menatap kembali pada pria yang memegang pressure washer, memohon dengan mata melas untuk tidak membuatku melakukan hal ini. Dia tersenyum kembali, dan kemudian senyuman itu perlahan memudar menjadi raut muka marah.

Dia mengambil ujung pressure washer, mengangkatnya ke salah satu tangan Danny yang terikat dan menarik pelatuknya.



Ruangan langsung dipenuhi lagi dengan kelembapan, jeritan dan bau luka segar. Aku berusaha duduk tegak namun dua penjaga di belakang memundurkanku dan menahan di pundakku. Danny meronta-ronta berusaha untuk keluar dari rasa sakit. Kedutan pada jari-jarinya dan mengejang seperti kaki laba-laba yang terluka.

Setelah apa yang terasa seperti kekekalan aliran air berhenti, dan kulihat sisa tangannya. Daging robek dan tulang putih pucat. Danny menangis sekarang, tubuhnya lemas.

“SHURB.” Teriak pria itu padaku.

Aku mulai menangis juga.

“Danny, mereka akan membunuhmu.” Isakku.

Dia terengah-engah dan tersendat, tidak bisa berkata. Kami berdua duduk di dalam ruangan dan menangis. Hanya beberapa kaki jauhnya namun seolah-olah dunia terpisah.

“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa hanya duduk di sini sementara mereka membunuhmu.”

Orang baru itu tersenyum lagi. Dia perlahan membungkuk sampai setinggi mata kami.

“Kita buat kesepakatan, Jeff.” Katanya di antara tangisan. “Kita tahu ini akan terjadi. Jangan takut.”

“Tapi sekarang aku takut Danny.” Aku kembali terisak, menyadari apa yang dia katakan. “Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa.”

Danny mengangkat kepalanya dengan pandangan yang cukup untuk menatap mataku selama sesaat.

“Lakukan.”

Aku menutup mata dan air mata mengalir di wajahku, terisak tak terkendali. Aku mengangkat tangan kiriku dan memukul bagian atas meja dengan punggung tanganku, melempar sepiring makanan dan botol kaca ke dinding dan lantai sampai hancur.

Kami berdua duduk dan menangis.

Ada yang berteriak dalam bahasa Arab namun aku tidak bisa mendengarnya. Aku menengadah dan mengambil satu pandangan terakhir pada teman terbaikku, salah satu penjaga mengeluarkan sebuah parang yang berkilau dari ikat pinggangnya. Aku tidak yakin, juga tidak peduli.

Pressure washer membentur lantai ketika dia melempar dalam kemarahan, parang dipegang di kedua tangannya. Dia terus menunjukku dan berteriak dalam bahasa Arab namun aku tidak mendengarkan. Aku terlalu sibuk minum setiap saat terakhir bersama temanku.

Salah satu penjaga berjalan mendekat dan menjambak rambut Danny, menarik kepalanya ke bawah sehingga dia membungkuk. Orang baru itu tidak tersenyum lagi. Dia sangat marah. Berteriak padaku dalam bahasa Arab, mengayunkan parang ke atas dan ke bawah seperti orang gila.

Dia memposisikan dirinya di sisi Danny. Dia berbalik dan menatap mataku dan berteriak lagi. Mengangkat parang ke atas kepalanya.

“TIDAK! KUMOHON HENTIKAN!” Teriakku dalam ruangan yang remang-remang dan kejam itu.

Parang diturunkan ke bawah dengan sorotan tajam dari logam dan pantulan cahaya, mengenai bagian belakang leher Danny dan meledaklah.

“UBLOO!”

Aku merasa diriku berteriak sebelum aku terbangun. Ketika segalanya menjadi nyata lagi, aku merasakan dadaku berdebar sementara aku bangkit sampai duduk.

Jeritanku digantikan oleh suara AC, aku duduk menghirup udara dingin di dalam kegelapan. Aku berkeringat dan terengah-engah. Aku menggigil ketika hawa mimpi buruk digantikan dengan kenyataan.

Lampu dinyalakan dan kegelapan mulai dapat dikenali.

“Kau baik-baik saja?” Kata Mary dengan cemas. “Dari tadi kau terus meronta.”

“Ya, ya aku baik-baik saja.” Aku menghela napas. “Hanya mimpi buruk.”

Ada keheningan panjang di antara kami ketika aku terus mengatur napas.

“Mimpi seperti film The box?” Dia bertanya, dengan takut.

Aku menjatuhkan diri ke bantal dan meletakkan tanganku di atas kepalaku.

“Ya seperti itulah.” Jawabku.

Dia berbaring kembali dan memelukku, menempatkan kepalanya di dadaku. Aku menurunkan salah satu tanganku yang berkeringat ke dekatnya, menyisir bagian belakang kepalanya. Dia mulai menangis dengan tenang.

“Hei, sudah sudah. Aku baik-baik saja, aku ada di sini.” Aku meyakinkannya, mengangkat kepalaku sehingga aku bisa menatap matanya. “Itu cuma mimpi buruk.”

Kami berbaring selama beberapa saat dalam keheningan. Dia mulai berhenti menangis, aku akan melupakan mimpi itu. Apa yang pria itu katakan ketika mimpi berakhir? “Ubloo?”

Aku mengetahui sedikit bahasa Arab namun aku tidak ingat pernah mendengar kata ini. Aku mengenyahkan pikiran itu dari kepalaku. Kemudian pintu berdecit pada engselnya dengan sedikit terbuka.

Istriku berguling kembali ke bantalnya ketika aku bangkit dan berjalan perlahan menuju pintu, aku berjongkok.

“Maaf nak, apa Ayah membangunkanmu?”

Putraku mengangguk padaku dari lorong, setengah wajahnya bersembunyi di balik boneka hitam.

“Aku minta maaf karena telah membangunkanmu, Ayah hanya bermimpi buruk itu saja.”

Dia mengangguk lagi dan menatap lantai, khawatir dan malu.

Aku menghela napas.

“Nak, kenapa kau tidak masuk ke dalam dan menemani Ayah? Ayah tidak ingin Ibu tahu bahwa Ayah seorang penakut. Ayah tidak berani seperti kamu.” Kataku melalui celah di pintu.

Matanya menyala.

“Tentu Ayah.”

Aku membuka pintu dan dia berlari kecil dan menguap. Aku menutup pintu di belakang putraku dan kemudian menggendongnya kemudian membawanya ke tempat tidur, aku membaringkannya di antara aku dan Mary.

Mary tersenyum padaku ketika aku memberi putra kami bantal dan berguling untuk mematikan lampu.

Dalam kegelapan putraku berguling dan menempelkan tangannya di tanganku.

“Aku sayang Ayah.” Kata putraku dengan melamun melalui bulu palsu bonekanya.

Aku tersenyum.

“Aku juga sayang Danny.”

. . .

Ponsel berdering seperti kesibukan di sekitar stasiun. Aku meneguk kopi hitamku dan mengerutkan dahi ketika mencicipi cairan panas yang membosankan.

“Hei Bill, kerja bagus pada kopi hari ini teman!” Kataku dengan sarkastis ketika aku melewati mejanya.



“Terima kasih Jeff!” Dia merespons dengan penuh semangat, tidak tahu apa yang kumaksud.

Aku meletakkan binder ke mejaku dan menggoyangkan tetikus sampai layar komputer kembali hidup.

Apa yang menatapku adalah wajah Thomas Abian.

Aku meminum kopi dalam jangka waktu lama dan kembali ke berkas lagi.

Residen Stoneham, Massachusetts. Praktik psikiater dan jika apa yang dikatakan resepsionis itu padaku adalah benar, pasti sangat bagus. Suatu hari dia bangkit dan meninggalkan kehidupannya, keadaan gelap dan berangin di Tawson, Louisiana dengan mobil sesak, pil dan botol minuman keras kosong serta pistol di mulutnya di rumah hantu lokal.

Aku menggelengkan kepala. Berita lokal tertarik dengan kasus ini. Mobil van sudah mulai berkumpul melingkari tempat seperti burung hering. Aku senang kami telah selesai mengeluarkan mayat itu sebelum mereka sampai di lokasi kejadian.

“Hei, Jeff.” Aku mendengar persis sebelum folder dijatuhkan ke meja di sampingku. Aku menengadah untuk melihat Reg, Ketua kami. “Hasil autopsi ada di sini.”

“Bagus, terima kasih bos.” Kataku ketika dia berjalan pergi, menyesap kopinya.

Aku suka gaya Reg. Dia adalah tipe orang yang serius, militer lama sepertiku. Meskipun begitu, dia memiliki banyak pengalaman.

Aku membuka laporan autopsi dan mulai meninjau informasi. Kematian karena luka tembak fatal, itu sudah jelas. Secara sudut pandang mencerminkan karena penderitaan, tidak ada kecurigaan lain…

Berkas itu terus aktif, dan kemudian ada sedikit informasi yang menarik perhatianku:

“Mayat menunjukkan tanda-tanda gangguan kardiovaskular terkait dengan kekurangan tidur yang ekstrim, juga kerusakan hati akibat penyalahgunaan alkohol secara berlebihan.”

Aneh. Aku bisa menjelaskan bahwa dia tidak tidur karena efek dari Adderall. Ya, pria itu memiliki sekitar 10-15 botol kosong di dalam mobilnya, dan dia meminum seluruh gin penyulingan sepanjang perjalanan, namun kenapa?

Aku duduk bersandar di kursi dan memainkan janggut di daguku.

Kenapa seorang Dokter kaya meninggalkan kehidupan yang makmur, beralih ke botol dan pil serta pergi ke Louisiana? Ini tidak masuk akal. Aku terus menggaruk daguku, dan kemudian membungkuk ke ponsel di mejaku.

Aku berselancar di google dan mencari hotel-hotel di daerah tersebut, dimulai dengan yang paling dekat dengan sekolah tua dan luaran. Pada hasil keempat, di luar Tawson, aku mendapatkan apa yang aku cari.

Perjalanan lebih singkat dan menyenangkan. Masih pagi sehingga lalu lintas tidak padat, dan aku baru saja berhasil mengejar akhir segmen radio olahraga yang biasanya kusetel ketika berpatroli.

Aku memarkir mobilku tepat di depan lobi hotel dan berjalan masuk. Salah satu keistimewaan menjadi polisi; kau tidak perlu berjalan terlalu jauh melintasi parkiran.

Lobi hotel menyambutku dengan hembusan AC dingin. Aku mendekati wanita resepsionis bermata biru yang baru saja mengirim pasangan tua dengan seorang pelayan ke kamar mereka. Ketika dia melihatku mendekat, dia tersenyum.

“Halo Madam.” Aku memulai percakapan. “Saya adalah Petugas Jeff Danvers dari kepolisian Tawson, apakah Anda yang berbicara di telepon?”

“Ya, Petugas.” Dia membalas dengan senyuman menggoda. “Kami sudah menunggu Anda.”

Dia mengetik di papan ketik selama beberapa detik dan kemudian menarik sebuah kartu kunci dari laci di sampingnya. Dia melihat ke layar dan kemudian menekan angka dari bagian belakang kartu ke komputer.

“Ini kartu Anda.” Katanya sambil menggeser kartu di meja. “Kamar 359, di bagian pojok.”

Aku membalas senyumnya dan mengambil kartu dari meja. Aku mulai berbalik namun kemudian berhenti.

“359, apakah kamar itu di pojok?” Tanyaku.

“Ya, Petugas.”

Aku berdiri dan berpikir selama beberapa detik.

“Kamar itu berada tepat di tangga darurat, ya?”

Dia sedikit terkejut.

“Ya, itu benar.”

Cukup menarik. Ketika aku pergi, kudengar suara dia dari arah belakang.

“Petugas!” Dia memanggil. Aku berbalik dan melihat dia menatapku. “Apakah benar bahwa… Bahwa dia…”

Dia memposisikan jarinya ke leher dan membuat gerakan pemotongan. Pikiranku melayang ke gambaran parang yang kabur.

“Mengenai itu, rahasia sayang.” Kataku dengan nada tenang, dan memasuki lift yang terbuka.

Ada bunyi ding ketika pintu terbuka. Karpet bermotif merah cocok dengan garis lobi di lantai lorong. Ada dua tanda tepat di seberang lift yang terbuka.

“301-325” dan panah yang mengarah ke kiri. “325-360” dan panah yang mengarah ke kanan.

Aku menjulurkan kepala dan melihat ke dua arah. Tidak ada orang di sekitar. Aku mulai berjalan menyusuri lorong menuju kamar 359.

Lorong membuatku takut. Fakta yang tidak bisa kusangkal. Aku tidak yakin apakah ini karena menonton film ‘The Shining’ bersama ibuku sewaktu kecil di liburan musim dingin. Kupikir perasaan ini karena aku hanya memiliki satu pilihan arah untuk pergi. Hanya satu pilihan, tidak ada pilihan lain.

Tanpa kusadari, aku sudah berada di depan kamar 359. Aku menarik napas dalam-dalam, menyelipkan kartu di pintu mekanisme, kulihat lampu hijau menyala dan pintu terdorong terbuka.

Bau gin seketika tercium. Keganjilan terasa meskipun tempat tidur tampak sempurna.

Aku menyalakan lampu dan melihat banyak botol gin kosong berserakan di kamar. Di antara mereka ada beberapa kotak dokumen. Apakah ini berkas yang dia bawa bersamanya sepanjang perjalanan? Aku mengangkat bahu, berjalan di sekitar kamar ketika memakai sepasang sarung tangan karet berwarna putih.

Selain botol-botol gin, yang lainnya disimpan dengan teratur. Ada setumpuk pakaian yang dilipat secara rapi di samping jendela dan satu set cadangan kunci mobil, juga sepasang sepatu baru. Aku membuka tirai untuk melihat bahwa jendela mengarah langsung ke tangga darurat dan kecurigaanku terkonfirmasi. Pasti ada seseorang yang mengejar pria ini. Dia telah merencanakan rute pelarian dan akan lewat sana ketika dia pergi. Persiapan yang mengagumkan.

Aku membuka lemari dan dalamnya kosong. Hanya gantungan mantel, tidak ada apa pun di atas karpet selain botol-botol gin dan kotak pil yang kosong.

Aku berjalan ke meja dan mulai membuka laci. Laci pertama kosong. Aku merasakan ada sesuatu bergelindingan ketika menarik laci kedua dan melihat isinya penuh dengan peluru dan Adderall. Aku mengambil salah satu peluru dan mengamatinya. Pistol Magnum, dan peluru .357, cocok dengan senjata yang digunakan. Aku menaruh peluru kembali dan membuka laci teratas. Isi laci ini membuat mataku melebar.

Secara perlahan dan hati-hati, aku mengeluarkan buku catatan dari laci. Aku memegang dan mengamatinya selama beberapa detik hanya untuk memastikan bahwa ini real. Ini adalah buku catatan jenis blue spiral-bound dengan sesuatu yang tertulis dengan buru-buru di bagian depan.

Aku mendengar lantai di luar kamar berderit. Aku berbalik untuk melihat seorang pria berdiri di pintu. Dia mengenakan setelan celana panjang berwarna cokelat dengan sepatu berwarna cokelat. Bretel di kemeja putih yang cocok dengan rambut dan janggutnya. Aku bisa melihat kacamata di hidungnya pada kulit cokelat gelapnya, dan melihat bahwa dia adalah seorang pria tua berkulit gelap.



Kami berdiri dan saling menatap, kemudian dia menunduk melihat pada sesuatu yang ada di tanganku, dan begitu juga denganku. Sampul buku catatan yang kupegang terbaca:

“Buku Harian Thomas Abian”

Credit: DifferentWind

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Ubloo part one bisa ditemukan di sini
Ubloo part two di sini
Ubloo part three di sini
Ubloo part four di sini
Ubloo part four and half di sini
Ubloo part five di sini
Ubloo part six di sini
Ubloo part seven di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna