Minggu, 10 Juni 2018

NoEnd House 3

Bagian 1

David terhuyung-huyung ke mobilnya dalam keadaan linglung. Ingatan beberapa jam terakhir tampak kabur. Bayangan itu melintas di benaknya dengan samar, perlahan mengingatkan kembali akan neraka yang sekarang dia tinggalkan. Dia mengambil ponsel di sakunya dan hendak menelepon 911. Mustahil baginya untuk menjelaskan semua yang terjadi, tetapi untuk beberapa alasan dia ingin menelepon--mungkin mereka bisa datang dan memastikan bahwa itu tidak lebih dari rumah biasa. Mereka bisa membuat pikirannya tenang dan dia bisa pulang, hidup normal dengan--



Kemudian dia teringat. Tanah berhamburan ketika David berlari ke rumah itu.

Maggie.

Maggie ada di sana. Ketika dia berlari, dia membalik ponselnya - melihat pesan lama yang telah dia kirim. Namun pesan itu kosong. Tulisan yang terbaca hanya, untuk Maggie, dari Maggie. David mencapai pintu dan mencoba memutar gagang pintu, tetapi pintu tidak terbuka. Dia menggedor pintu dengan kedua tangan, meneriaki nama Maggie. Tidak ada yang terjadi. Kepalan tangan memerah dengan rasa panas, dan David berlutut, kepalan tangannya turun dari pintu. Setelah beberapa saat, David merasakan rasa perih di mata. Dia meninggalkannya di sana. Wanita yang dicintai masuk ke sana dengan nekat hanya untuk menyelamatkannya, dan menggantikannya. Dia harus menemukan cara untuk masuk. Pasti ada cara lain. David berdiri dengan semangat baru, tetapi sebelum dia sempat bergerak, dia merasakan ponselnya bergetar. Dia melihat ada satu pesan masuk, dan melihat nama yang membuatnya merasa lega.

Pesan itu dari Peter Terry. Mungkin dia bisa membantu.

-Hei, Dave. Kau baik-baik saja? Aku belum mendengar kabarmu belakangan ini.
-peter - ya Tuhan - di mana kau
-Aku di dalam Rumah ini. Aku masuk untuk mencarimu, men. Aku kan sudah bilang padamu untuk tidak pergi ke NoEnd House.
-terserah sekarang sudah terjadi tetapi peter aku harus masuk kembali ke dalam - apa kau tahu bagaimana caranya
-Lihatlah ke sekelilingmu - ada pohon ek di samping rumah ini dengan pintu kolong di bawahnya. Pergilah ke sana, itu adalah pintu masuk khusus.
-apa, kenapa tempat aneh seperti ini punya pintu masuk khusus
-Yang penting kau harus pergi ke pohon itu, men. Aku sedang mencoba untuk membantu.

David tidak punya banyak waktu untuk bertanya. Dia berlari menuruni serambi, melompati pagar dan mendarat di tanah. Dia bisa melihat pohon itu berada tak jauh - pohon itu sangat besar sehingga perkiraan kedalamannya sulit untuk dibayangkan. Dan bahkan apakah pohon itu sudah ada di sana sebelumnya? Yah, pikirannya tadi mungkin belum fokus, dan dia tidak memerhatikan pohon itu, tetapi pohon yang satu ini - sangat besar. Dia berlari ke samping rumah dan sampai di depan pohon itu - ada sebuah pintu kayu kecil di bawahnya, seperti salah satu pintu di rumah lamanya yang digunakan untuk memasuki ruang bawah tanah. David melihat ke belakang, dan dia bahkan tidak tahu kenapa. Dia hanya menganggap itu sebagai perasaan tak jelas. Setelah menghela napas, David menarik pegangan pintu. Engsel berkarat berderit dengan suara yang mengganggu, tetapi kemudian, apa yang dia lihat adalah kegelapan pekat. Perlahan David menuruni tangga.

Ya Tuhan, di bawah sangat gelap. Dengan segera David mencium bau yang mengganggu. Bau seperti rambut terbakar yang dilumuri kotoran dan jamur. Dia meludah - merasa terganggu dengan bau busuk itu. David mengeluarkan ponsel dan meningkatkan kecerahan cahaya. Dengan cahaya redup, David melihat sesuatu yang aneh. Dia tidak berpikir bahwa dia sedang berada di terowongan bawah tanah, agar tidak bingung, dia berasumsi bahwa dinding pasti dilapisi tanah, lumpur, atau semacamnya. Dia tidak tahu dinding apa itu sebenarnya, tetapi sepertinya bukan buatan manusia, atau bisa jadi memang dindingnya dilapisi tanah. Dia semakin penasaran, dan mengulurkan ponsel ke salah satu sisi dinding. Dia mendekat, dengan ponsel hampir menyentuh dinding. Mata David melebar. Tidak. Dengan tangan yang satunya lagi, David menyentuh dinding. Terasa cukup padat. Dia teringat dengan bau itu, dan dia sekarang tahu. Itu adalah daging. Dinding terowongan dilapisi kulit yang terbakar. David menjauhkan ponselnya beberapa inci dan mengikuti cahaya ponsel. Dia melihat ada kulit yang berbeda dijahit dengan tali metalik, hampir seperti kawat tembaga. Salah satu bagian dinding membuat perutnya mual. Itu adalah wajah. Wajah manusia, dengan mata dan mulut yang dijahit tertutup. Tanpa hidung yang seolah-oleh telah dicabut, dan lubang dari pencabutan hidung juga dijahit. Mungkin itu yang menjadi sumber bau, tetapi David sudah tidak tahan. Dia berpaling dan muntah.

Terowongan yang sangat panjang. Padahal ini hanya berlangsung selama beberapa menit, tetapi seolah-olah berlangsung selama berjam-jam. Dia harus masuk dan menyelamatkan Maggie. Tidak ada hal lain yang penting baginya. Peter adalah temannya, tetapi jika Peter ada di sana, Maggie yang pertama akan dia selamatkan. David juga tak akan segan-segan membiarkan Peter membusuk di sana. Kemudian, David teringat bahwa Peter yang memberitahu jalan ini. Perdebatan mental David terhenti setelah sesuatu dari belakang menyentuhnya. Dia berbalik dan tidak melihat apa pun. Kebingungan, David mengangkat ponselnya dan mengulurkan tangan ke kegelapan. Tidak ada. Tidak ada apa pun, kecuali dinding. Dinding itu tidak ada pada dua menit yang lalu, busuk dan dilapisi daging. David berteriak dan melayangkan pukulan ke dinding di hadapannya, dinding tampak sedikit kesakitan. Lorong menyusut dan menjebaknya. Membentur David. Dia sedang berada di terowongan khusus, tetapi seolah-olah berada di dalam rumah itu. Ya, dia sedang berada di dalam rumah itu. Tidak ada jalan untuk pulang, rumah itu menyedotnya dan menikmati pemandangan seorang David yang kebingungan.



Tentu saja, David merasa terganggu. Dia terjebak di sana, di terowongan neraka. Dia telah mengetahui apa yang bisa dilakukan oleh tempat ini - atau begitulah setidaknya. Sekarang, ketika David berjalan, dia bisa mendengar terowongan menyusut dari belakang. Suara penggilingan daging membuatnya merasa tidak nyaman lagi, tetapi dia hanya merespon dengan mempercepat langkah. Beberapa saat kemudian, dia berhenti melangkah karena mendengar sesuatu. Terdengar suara seorang gadis - dan bukan suara Maggie.

“Kenapa kau kembali? Kenapa kau kembali?

David hanya berdiri mematung. Seolah-olah suara datang dari segala arah.

Kenapa kau kembali? KENAPA?”

Teriakan itu semakin dekat dan David bersandar di dinding belakang. Segera setelah itu dia mendengar langkah seseorang yang berlari ke arahnya. Dan kemudian dia melihatnya. Seorang gadis, usianya tidak lebih dari tiga belas tahun, dia berlari ke arahnya sambil berteriak bertanya. David hanya berdiri mematung. Gadis itu berlari ke arahnya dan mulai memukul dadanya, awalnya keras, tetapi semakin melemah - seperti gadis manja yang memukul lantai ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan.

“Kenapa, David... kenapa kau kembali...?”

Gadis itu berlutut di hadapannya, dengan satu pukulan terakhir ke kaki David. David hanya berdiri mematung dengan terkejut, tangannya sedikit terangkat dan tegang. Ketakutannya mulai mereda. Gadis itu tidak berbahaya, dan tidak tampak seperti hantu atau apa pun.

“Hei,” David mulai berbicara, “kau baik-baik saja? Siapa kau?” Gadis itu terkejut dengan apa yang dikatakan David. Perlahan dia mengangkat kepala. Hati David seolah-olah tenggelam ketika melihat wajahnya. Tidak ada mata di wajah gadis itu. Hanya Kegelapan yang pekat. Dan ketika dia berbicara, dia bisa melihat bagian dalam mulutnya. Tidak ada lidah dan gigi, hanya kehampaan.

“Kau pasti datang untuk menyelamatkan kami... bukankah begitu?"

Bagian 2

Gadis itu berdiri dan mengibaskan rambut dari wajahnya. Untuk beberapa alasan, meskipun gadis itu menakutkan tetapi dia tampak normal. Dia berambut cokelat sebahu, dengan bintik-bintik di hidung dan pipinya. Bahkan pakaian yang dipakai bisa ditemukan di toko mana pun - kaos kutang hitam dan celana jeans yang dimasukkan ke dalam sepatu bot merah hitam. David berubah pikiran bahwa usia gadis itu lebih ke enam belas tahun - dia tidak tahu apakah gadis itu punya usia. Dengungan yang terdengar dari belakang mengejutkan mereka berdua, dan mengingatkan David pada situasi.

“Kita harus pergi,” kata gadis itu. “Sekarang.” Gadis itu meraih tangannya dan mulai melangkah. Sambil terkejut, David mengikutinya dan hampir menjatuhkan ponsel. Dia mengangkat ponsel sejauh yang dia bisa untuk menerangi jalan.

“Tidak perlu,” kata gadis itu sambil mengangkat tangan yang satunya, “Baiklah.” Gadis itu bergumam, bukan dalam bahasa Inggris, cahaya bersinar dan mereka mengikuti cahaya itu. Seperti ada lampu sorot dari atas yang mengikuti gerakan mereka. Dengungan dari arah belakang terdengar semakin keras ketika mereka mendekati persimpangan pertama di terowongan. Tanpa ragu-ragu, gadis itu memilih yang kanan. Jelas bahwa dia mengetahui jalan, dan David tidak protes. Setelah beberapa saat, dengungan berhenti, dan mereka berdiri di depan tangga menuju kegelapan.

“Ayo naik!” Gadis itu mulai menaiki tangga. David tersentak, dan merasa bingung.

“Tunggu!” Gadis itu berhenti naik dan menoleh.

“Yah, aku tahu ini aneh-”

“Tidak. Tidak, aku tahu mana yang aneh dan mana yang tidak. Aku sudah sering melihat sesuatu yang aneh. Siapa kau?”



“Nanti akan aku jelaskan, oke? Kita harus segera keluar dari sini, oke? Seharusnya tidak ada orang yang berada di sini termasuk kita-” Dan dengan obrolan singkat itu dia kembali menaiki tangga. David hendak membalas, tetapi dengungan dari arah belakang terdengar semakin keras. Keselamatan adalah hal terpenting, David mulai naik dan mengikuti gadis itu, meninggalkan terowongan dengan harapan bahwa itu yang terakhir kalinya.

Tangga membawa mereka ke ruang kosong. Terdapat sebuah lemari sapu yang besar. Beberapa ember berserakan dan beberapa pel terpasang di sangkutan, tetapi mungkin saja ini adalah bagian dari rumah itu. Gadis di sampingnya tersipu malu dan mengulurkan tangan pada David. Perubahan suasana hatinya jelas sesuatu yang mengesankan, meskipun enggan, tetapi David berjabat tangan dengannya.

“Kau mungkin bertanya-tanya siapa aku sebenarnya, dan kenapa aku tahu tentang kau.” Gadis itu bahkan tidak menunggu respon David. “Namaku adalah Natalie, dan tempat ini bisa disebut rumahku.”

“Apa maksud dari perkataanmu? Bagaimana bisa tempat ini rumahmu? Jadi tempat menjengkelkan ini adalah rumahmu?”

“Aku tahu kenapa kau bertanya seperti itu, tetapi kau harus mengerti dengan apa yang terjadi. Tidak selalu situasi seperti ini-”

“Dan apa-apaan ini - apa yang kau lakukan dengan cahaya di bawah sana?”

“Ya. Biarkan aku menjelaskan.” Natalie diam dan menatap David. David menutup mulut dan menoleh pada gadis itu, membiarkan dia berbicara dengan bebas tanpa gangguan. “Ini adalah rumahku. Aku tahu tempat ini mungkin tampak seperti neraka sekarang, dan kau benar. Keluargaku berurusan dengan beberapa hal aneh. Kami pindah ke rumah ini sekitar sepuluh tahun yang lalu dan aku senang. Tempat kecil yang aneh, ya, mengingat aku sudah terbiasa dengan kota - tetapi aku senang. Masalahnya adalah, keluargaku, kami... bisa melakukan banyak hal. Karena kami adalah penyihir, kurasa.” Natalie tampak tertawa. “Kebanyakan hanya trik-trik biasa, seperti pertunjukan cahaya yang kau lihat di terowongan tadi. Namun beberapa dari kami, seperti kakakku, menyalahgunakan sihir. Dia mulai berurusan dengan sesuatu yang gelap - pemanggilan dan iblis. Maksudku, tidak selalu apa yang dipanggil buruk. Misalnya, aku bisa memanggil kucing tetapi apa yang dilakukan kakakku jauh lebih buruk. Kami akan mengatakan padanya untuk menyudahi hal-hal seperti itu, tetapi dia seolah-olah dikendalikan oleh kekuatan. Peter tidak pernah mau mendengarkan kami.”

“...Peter?” Gagasan itu berputar-putar di kepala David, tetapi dia belum siap menerima apa yang terjadi. Peter sudah menjadi temannya selama bertahun-tahun...

“Pada malam ini, tujuh tahun yang lalu, kakakku melakukan sesuatu yang buruk. Dia memanggil iblis dalam jangka waktu beberapa menit di tempat ini dan belum merasa puas, dia terus melakukannya. Kami akan bertanya kenapa dia begitu terobsesi dengan semua ini, dan dia hanya akan merespon dengan bertanya "kenapa tidak?" Apa yang terjadi pada beberapa malam berikutnya... sulit untuk dijelaskan.” Bahkan dengan mata hitam gadis itu, David tahu bahwa memori ini benar-benar membuat gadis remaja itu menderita. Semua ini - neraka ini - karena ulah kakaknya, yaitu teman David. Bagi David, gadis ini sama seperti tahanan yang terkurung.

“Baiklah,” David meletakkan tangan di pundak gadis itu, “ayo kita cari jalan keluar dari tempat ini.”

David melihat ke sekeliling. Jantung David berdebar. Tidak ada pintu keluar - hanya dinding semen yang halus.

“Apa kau tahu di mana kita berada?” David bertanya pada gadis itu, berharap kepada Tuhan bahwa gadis itu punya ide.

“Ya, tentu saja,” kata gadis itu dengan bimbang, “Ini adalah rumahku, benar?” Gadis itu berjalan ke salah satu dinding yang jauh. Permukaan dinding hanya semen abu-abu yang halus - tidak ada jalan tersembunyi, tidak ada pintu, tidak ada apa pun. Natalie merogoh sakunya dan mengambil sebatang arang.

Dia mulai menggambar sesuatu, David hanya menyaksikan dengan kagum. Dia belum pernah melihat hal seperti ini selain di film fantasi. Gambar itu seperti yin dicampur pentagram dan coretan anak-anak. Natalie memasukkan arang itu kembali ke sakunya dan mengibaskan rambut. Setelah kesunyian yang terjadi, dia meletakkan telapak tangan kanannya pada simbol itu, dan dua jari tangan yang satu lagi ditempelkan di pelipisnya. Awalnya David mengira gadis itu berbicara padanya, tetapi kemudian dia menyadari bahwa gadis itu kembali mengucapkan bahasa yang aneh. Segera setelah simbol itu tampak bergetar, David memerhatikan bahwa simbol itu mulai bersinar ungu terang. Natalie tersenyum ketika merasakan getaran itu sebelum dinding terbelah menjadi dua.



"Aku selalu suka trik seperti itu."



Credited to Brian Russell

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki

< Previous        |        Next >

1 komentar:

  1. Apakah ada sekuel berikutnya? Seperti no end house 4, or something???

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna