Rabu, 02 Mei 2018

Ubloo, Part Four and a Half

Ini adalah bagian empat setengah dari Seri Ubloo. Silakan ke bawah artikel ini untuk membaca bagian sebelumnya!

Aku menafsirkan bahwa lampu polisi dirancang agar mata manusia tidak mampu melaraskan, sehingga tampak selalu menarik perhatian. Aku telah menguji teori ini selama empat tahun ketika berada di kepolisian dan kupikir teoriku benar.



Selalu berpatroli dengan lampu tanpa suara terasa aneh bagiku, namun pada larut malam begini aku tidak ingin membangunkan siapa pun. Selain itu, tidak ada mobil lain yang melintas dan terus terang, lampu itu mungkin bukanlah sesuatu yang penting.

Aku mendapat laporan bahwa warga sekitar mendengar suara tembakan senjata di sekolah tua yang terbengkalai. Mungkin beberapa remaja menyalakan kembang api dan berpura-pura bahwa mereka melihat hantu atau omong kosong lain.

Aku menggelengkan kepala.

Berharap bukan ulah dua anak bodoh itu lagi, dengan penjelasan ingin melakukan “uji nyali.” Sungguh perilaku yang buruk. Si kakak beradik dari Westchester? Winchendon? Siapa tahu.

Mesin di bawah kap mobil mendidih ketika aku melaju ke tempat di mana sekolah itu berada. Aku mematikan lampu ketika mengitari tikungan terakhir dan parkir di luar. Aku keluar dari mobil, mengamati gerbang dengan senter. Tampak terbuka. Seseorang pasti lupa menguncinya. Aku menggelengkan kepala lagi. Seolah-olah mereka membiarkan orang untuk masuk.

Aku berjalan ke gerbang dan mendorongnya. Terus terang, aku tidak percaya dengan paranormal namun tempat ini membuatku merinding. Aku menaiki tangga depan dan mendengarkan dengan saksama. Tidak ada suara anak-anak. Aku terus berusaha mendengar suara selama dua atau tiga menit untuk memastikan, dan kemudian berpikir bahwa mereka pasti sudah pergi. Aku berjalan ke salah satu jendela dan menyinarinya dengan senter. Segalanya tampak normal.

“Mobil 4 kepada Pengirim.” Kataku ke radio di bahuku.

“Katakan Mobil 4.” Jawab orang di radio.

Aku mulai berjalan mengitari bangunan, mengarahkan senter ke sana-sini.

“Sepertinya orang yang memasuki sekolah ini sudah pergi. Aku tidak mendengar keributan apa pun di dalamnya.”

“Diterima Mobil 4.”

“Aku akan memeriksa tempat ini, jika terjadi sesuatu. Aku akan memberitahumu. Dengan segera.”

Aku berjalan mengitari bangunan dan memakan waktu cukup lama karena tempatnya cukup besar. Ini bukan yang pertama kalinya. Tempat ini menarik banyak perhatian, apalagi menjelang Halloween ketika mitos lokal akan beredar lagi bahwa tempat ini berhantu. Terutama anak-anak. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak akan percaya dengan hal seperti itu.

Aku telah mulai mengitari sekolah searah jarum jam dari pintu depan. Aku hendak melapor ketika melihat sesuatu melalui jendela. Sesuatu yang… aneh. Seperti yang kukatakan, sebelumnya aku sudah berkali-kali ke sini sehingga aku tahu bahwa ada yang aneh. Aku menghampiri jendela itu dan mengarahkan cahaya senter ke dalam.

Apa yang kulihat membingungkanku. Salah satu kusen pintu sepenuhnya rusak dan hancur. Sepertinya seseorang telah menghancurkan kusen pintu dengan palu.

“Sial.” Teriakku. “Mobil 4 kepada Pengirim.” Kataku dengan nada kesal ke radio.

“Katakan Mobil 4.”

“Sepertinya orang yang masuk ke sini merusak beberapa tempat di dalam bangunan. Aku akan masuk ke dalam sana dan memeriksanya. Bantuan diminta.”

“Diterima Mobil 4. Mobil 2 melaju ke posisi Mobil 4 dan siap membantu.”

“Diterima.” Kata Bill melalui radio. “Aku akan sampai ke sana dalam waktu sekitar lima menit Mobil 4. Dimulai dari sekarang.”

“Diterima. Siap menunggu.” Balasku.

Aku berlari kembali ke tangga depan dan mengeluarkan pistolku dari sarungnya. Aku tidak yakin apakah ini insting yang kudapat dari dua pariwisata di Irak atau hanya merasa aneh karena kusen pintu hancur namun tidak ada sesuatu di sini. Aku perlahan berjalan ke pintu depan dan memutar gagangnya. Sangat (namun tidak terlalu) mengherankan bagiku.

Pintunya terayun ke dalam dengan lembut dan sunyi. Aku menempatkan senterku di bawah pistolku dan mengamati serambi. Tidak ada keganjilan di sini. Aku mulai berjalan menyusuri lorong ke kanan, menuju sudut belakang di mana kulihat kusen pintu hancur.

Aku sudah setengah jalan ketika menyadari bahwa tidak mungkin aku berjalan di papan lantai tanpa berderit. Aku merasa gelisah dan sedikit mempercepat langkah.

Kusen pintu rusak parah. Sepertinya, siapa pun itu pasti dia telah menghantamnya ketika menuju lorong. Aku memasuki ruangan dan tak lama kemudian aku melihat lubang di lantai. Tampak empat atau lima papan telah dicungkil.

Perlahan aku menghampiri lubang itu dan menyinarinya. Ada sesuatu di bawah sana, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku berjongkok di atas tumit sepatuku dan menatap selama beberapa detik sebelum menyadari.

Ternyata tulang belulang.

Aku mengarahkan cahaya senter ke sekitar. Sangat banyak. Aku mengakui, aku memang tidak takut… sampai aku melihat lukisan itu.

Tulang belulang menumpuk di bawah sini, namun di sekitarnya terdapat beberapa penggambaran aneh. Tampak seperti persilangan antara bahasa Arab dan Mandarin.

Aku menggigil dan kemudian menekan tombol komunikasi di radio.

“Mobil 4 ke Mobil 2, bagaimana statusmu?”

“Akan sampai dalam waktu sekitar dua menit Mobil 4.”

“Baik. Percepatlah. Sampai bertemu.”

Aku berdiri dan memeriksa seisi ruangan dengan teliti. Papan lantai sedikit menonjol. Siapa pun yang melakukan ini pasti mencari sesuatu. Beberapa mengalami kerusakan, orang itu pasti tergesa-gesa, dan panik, hampir seolah—

“Persetan, kawan.” Kataku dengan suara pelan.

Aku melihat sesuatu di lantai dengan senterku.



Di seberang lantai ada jejak dan goresan. Aku memeriksa yang terdekat. Tampak seperti dua kaki, namun meninggalkan dua goresan di setiap langkahnya.

Aku merinding. Ada yang tidak beres.

Aku berdiri, mengikuti tanda goresan di luar pintu dan menyusuri lorong. Mereka belok ke kanan, tampak seperti ada sesuatu yang menghantam. Kemudian memasuki ruangan di sebelah kiri. Aku memperlambat langkah ketika menyadari bahwa kusen pintu di sini hancur juga, namun kali ini hancur dari lorong menuju ruangan.

Ketika aku berdiri sambil memeriksa kusen, aku mendengar sesuatu. Suara tetesan, seperti setetes air di keran yang mendarat ke sebuah piring.

Mungkin ada seseorang di sini.

Aku menelan ludah dan kemudian masuk, menyinari segalanya ke mana pun aku mengarahkan pistolku. Kemudian aku melihatnya.

Di sana, yang menyandar di dinding, adalah tubuh manusia.

Aku mengarahkan cahaya senterku ke tangannya dan melihat sepucuk revolver. Bunuh diri.

Perlahan aku mendekat. Dia membawa satu tas besar, yang berisi banyak alat. Kukira sekarang aku tahu siapa yang mencungkil papan lantai di ruangan tadi.

Aku mendengar pintu mobil patroli Bill dibanting menutup di luar sana.

Ini aneh. Aku telah menemukan korban bunuh diri sebelumnya, dan melihat banyak mayat, namun kurasa ada hubungannya dengan yang satu ini.

Aku mendengar langkah berat Bill ketika dia memasuki serambi.

“… Jeff?” Panggilnya dengan gugup.

“Kembalilah Bill, aku di sini.” Teriakku.

Aku mendengar dia berjalan ke tempatku berada, dan napasnya terengah-engah bahkan sebelum dia sampai di dalam ruangan. Dasar Bill. Mungkin dia terkena efek konsumsi bar tab.

“Oh, Persetan Jeff.” Katanya ketika dia melihat mayat di sana.

“Ya, persetan Bill teman lama.” Kataku, sambil menatap mayat itu. “Orang ini mencungkil papan lantai di ruangan lain entah apa alasannya lalu dia masuk ke sini dan kehabisan akal.”

Bill berdiri di sana dalam keheningan selama sesaat. Dua polisi sedang berada di lokasi kejadian sambil berpikir. Dengan kondisi seperti ini, katakanlah aku bermain catur dan dia bermain dam.

“Baiklah, aku akan memberitahu Pengirim dan memintanya untuk mengirimkan tim forensik—“

Apa yang dikatakan Bill terpotong oleh sebuah suara.

Ternyata suara dering ponsel. Ponsel miliknya. Milik si mayat.

Sekarang kami mencemari salah satu peraturan; jangan menyentuh apa pun di lokasi kejadian sampai tim forensik tiba. Aku tidak pernah melanggar peraturan sebelumnya. Sial, aku bahkan selalu menyetrika seragam sialan ini setiap pagi sebelum mengenakannya, namun ada sesuatu di dalam diriku yang mengatakan bahwa aku harus menjawab panggilan itu.

Aku berjongkok di atas tumit sepatuku lagi dan merogoh saku si mayat.

“Jeff! Sedang apa kau, kita tidak boleh melakukannya!—”

“Diamlah Bill sialan.” Kataku sambil mengambil ponsel.

Aku menatap layar. Hanya tertera nama depan si pemanggil. “Eli.”

Aku menjawab panggilan dan mengangkat ponsel ke telingaku, namun tidak berkata apa pun.

Ada jeda singkat, dan kemudian:

“Halo? Dokter?”

“Ini adalah Petugas Jeff Danvers dari kepolisian Tawson.”

Ada jeda lagi, kali ini lebih lama.

“Di mana kau menemukan ponsel ini?”

Siapa pun Eli ini, dia tidak bodoh.

“Aku menemukannya di saku mayat di lokasi kejadian. Mohon maaf, tapi kupikir Dokter yang kau maksud sudah meninggal.”

Ada jeda lagi, dan aku mulai merasa gelisah. Sial, kenapa aku menjawab panggilan ini?

“Halo, tuan.” Kataku.

“Apakah kau orang yang menemukan mayatnya?” Dia bertanya padaku.

Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan ini.

“Menemukan mayatnya?” Jawabku dengan bingung.

“Ya. Apakah kau orang yang pertama kali menemukan mayatnya?” Dia bertanya lagi, terdengar lebih khawatir kali ini.

“Ya tuan. Aku baru saja menemukan mayatnya sekitar lima menit yang la—”

Apa yang kudengar selanjutnya, meskipun aku tidak paham, hidupku tetap akan berubah selamanya.

“Ya Tuhan… Sungguh menyedihkan nasibmu nak.” Kata orang itu sebelum dia mengakhiri panggilan.

Credit To – DifferentWind

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Ubloo part one bisa ditemukan di sini
Ubloo part two di sini
Ubloo part three di sini
Ubloo part four di sini
Ubloo part four and half di sini
Ubloo part five di sini
Ubloo part six di sini
Ubloo part seven di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna