Selasa, 03 April 2018

Ubloo, Part Three

Catatan: Ini adalah bagian ketiga dari Seri Ubloo. Bagian pertama bisa ditemukan di sini, bagian kedua di sini dan bagian keempat di sini.

Aku menyaksikan garis-garis putih di tengah jalan raya menghilang satu per satu di bawah kap mobilku ketika aku melaju ke negara bagian. Jika menatapnya cukup lama, garis-garis itu akan berubah menjadi satu garis putih panjang di lautan aspal, kemudian aku akan tersentak, dan melihatnya kembali terpisah.



Aku mengulurkan tangan ke kursi penumpang di samping dan meraih botol gin. Menyedihkan bagaimana aku membuka tutupnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain berada di setir. Aku meneguk dengan cukup banyak sehingga menghabiskan isinya, kemudian melemparkan botol ke jendela di sampingku dan mendengar suara kaca pecah dalam nada yang menyenangkan.

“Pasti aku telah mengalami microsleep.” Kataku pada diri sendiri. Aku tidak tahu apakah akhirnya aku mulai kalah atau terlalu banyak minum pada tengah hari dan mengoceh tidak jelas, namun aku harus merasionalisasikan fakta bahwa aku telah melihat Ubloo, dan tidak mendengar suara itu kemudian.

Pada akhirnya aku menduga bahwa itu adalah halusinasi karena kurang tidur, dan mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku akan berusaha untuk tidur setidaknya 5 jam malam ini. Selama beberapa minggu terakhir, aku tidur selama sekitar 4 jam setiap malam, atau bagaimanapun agar aku mampu untuk menghadapi mimpi buruk yang mengerikan itu.

Di kaca spion atas, aku melirik kotak yang menyimpan barang-barang milik Robert Jennings. Hari ini adalah hari di mana akhirnya aku akan tahu apa makna dalam buku itu. Aku tidak bisa mengatakan berapa lama aku membandingkan tulisan ini dengan contoh di laptopku, dan melalui keberuntungan buta aku mengetahui tulisan itu.

Aku sedang duduk di sebuah bar hotel di Pennsylvania ketika seorang pria datang dan duduk di sebelahku. Awalnya kami melakukan sedikit percakapan namun aku mengira bahwa dia takut dengan penampilanku yang berantakan. Kami minum dengan saling terdiam selama beberapa menit dan kemudian tiba-tiba dia memecahkan keheningan.

“Kau bisa membaca omong kosong itu?” Tanya si pria dengan sopan.

“Sayangnya tidak.” Desahku. “Sejujurnya aku sedang mencari tahu bahasa apa yang ditulis dalam buku itu.”

“Oh.” Dia menatap pada birnya dan mulai membaca judul yang tertera. “Keberatankah jika aku melihatnya?”

“Silakan saja, tetapi kumohon berhati-hatilah.” Aku menggeser buku itu kepadanya dengan hati-hati. Dia membuka halaman sampul depan dan membalik beberapa halaman pertama.

“Yah aku akan memberitahumu.” Katanya memulai. “Ini semacam tulisan Afrika.”

Telingaku seolah tertarik pada apa yang dia katakan.

“Afrika?” Tanyaku dengan penuh harap.

“Ya, dulunya aku petugas keamanan di Museum Sejarah Nasional di Kota New York. Aku bersumpah pernah melihat sesuatu seperti ini di sana.”

Aku bahkan tidak mengucapkan terima kasih pada pria itu. Aku menarik buku itu darinya dan bergegas menuju kamar hotelku untuk memulai pekerjaan. Aku pasti telah menulis hampir 500 e-mail pada malam itu, dengan contoh kecil tulisan yang dilampirkan, kepada setiap profesor sejarah Afrika, kurator museum dan penerjemah bahasa Afrika yang bisa kutemukan alamat e-mailnya.

Begitulah bagaimana aku bisa bertemu Eli.

Eli adalah seorang pria yang pernah bekerja sebagai profesor sejarah Afrika, dia tinggal di Natchez, Mississippi. E-mail balasan yang dia kirim seolah merasa terkejut sekaligus bersemangat. Dia mengatakan padaku bahwa tulisan ini ditulis dalam bahasa yang hampir punah, yang pernah dia terjemahkan untuk seorang profesor sewaktu di program studi doktoral. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan membayar jika dia mau membantuku menerjemahkan buku ini, selama aku mengantar buku itu padanya dan dia membacakan langsung padaku. Aku tidak bisa mengambil risiko kehilangan buku ini dengan mengirimnya melalui pos, dan selain itu, Natchez berada di rute perjalananku menuju rumah di Louisiana.

Aku telah selesai membaca Jurnal Robert sekitar dua minggu yang lalu. Dia menuliskan tentang mimpi-mimpinya, betapa sulit untuk menanggung berat beban dan itu merusak kehidupan keluarganya. Robert mengetuk pintu salah satu penyewa properti, setelah tidak mendengar kabar darinya (atau menerima uang sewa) selama berminggu-minggu. Dia memutuskan untuk masuk dan menemukan sang pemilik tergeletak di bak mandi dengan pergelangan tangan tersayat. Tampaknya celana jins pria itu tergeletak di lantai kamar mandi, dan Robert menemukan sebuah foto rumah Louisiana di dalam saku celana itu, dengan alamat yang tertera di belakangnya. Aku penasaran karena dia tidak menyebutkan di mana dia menemukan buku yang satunya.

Robert juga berteori tentang apa yang sebenarnya Ubloo coba lakukan. Dia sepertinya percaya bahwa Ubloo adalah roh penuh dendam, yang berada pada mimpi buruk atau rasa takut. Terus terang Jurnalnya tidak terlalu membantu, hanya berisikan catatan yang telah dia lalui selama tiga tahun ketika berhadapan dengan kutukan ini.

Aku terkejut ketika mendengar suara jeritan wanita.

GEDEBUK

Dan kemudian benturan keras mengakibatkan kaca depan mobilku membentuk pola seperti jaring laba-laba dan melengkung ke dalam. Secara naluri aku membanting setir dan kehilangan kendali mobil. Mobil berubah arah keluar dari jalan dan menghantam pembatas, wanita itu terlempar dan berguling-guling sampai terhentikan oleh sebatang pohon, aku mendengar tulang punggungnya berderak akibat benturan itu.

Mobilku akhirnya berhenti dan kemudian aku mendengar suara seorang pria.

“YA TUHAN! MARY!”

Seorang pria tua berlari menuruni pembatas jalan menuju tempat wanita itu terbaring.

“MARY! OH SAYANGKU!”

Dia berlutut dan menaruh kepala wanita itu di pelukannya, kaki wanita itu terpelintir dalam keadaan yang memuakkan. Pria itu berbalik dan menatap ke arahku, aku masih syok, tanganku memutih karena mencengkeram setir dengan begitu erat. Akhirnya aku berhasil menenangkan diri dan menyadari kegentingan dari apa yang baru saja terjadi.

“MUNDUR! AKU SEORANG DOKTER!” Teriakku, sambil membuka pintu dan berlari menghampiri pria itu.

“Dia MATI di tanganmu idiot! Kau telah MEMBUNUHNYA!” Pria tua itu menangis sambil memeluk kepala istrinya.

Aku berhenti setengah jalan di antara mobil dan pohon. Mereka berdua tidak lebih muda dari usia 70 tahun. Aku menengadah ke tepi jalan dan melihat ada sebuah mobil terparkir. Mobil mereka pasti mogok atau kempes pada ban, wanita itu mungkin berusaha untuk meminta pertolonganku, atau hanya berdiri terlalu ke tengah.

“Aku minta maaf, aku…” Kataku tergagap. “Aku tidak memperhatikan.”

“Dasar kau pemabuk sialan!” Bentaknya padaku. “Kau pemabuk yang mirip dengan orang tuamu! Itulah yang menyebabkan ayah dan juga ibumu mati!”

Aku terkejut mendengar hal ini.

“Tidak, itu tidak benar!”

“Itu benar!” Pria tua itu mengulurkan tangan ke belakang punggungnya dan mengeluarkan senjata api jenis revolver. “Lihatlah apa yang telah kau perbuat nak! Semua ini salahmu!”

Dan dengan itu, dia mengokang revolver, memasukkan moncongnya ke dalam mulut, dan aku menyaksikan isi otaknya menyembur di bagian belakang kepala.

Aku berdiri dengan syok, hanya suasana yang sunyi setelahnya. Aku menggaruk bagian belakang kepalaku dan menatap mayat mereka. Bagaimana caranya aku bisa keluar dari semua ini? Aku menggaruk bagian belakang kepalaku lagi, momen aneh ini membuatku gatal.

Kemudian aku merasakan rambutku berkibar. Aku berputar dengan bertumpu di bagian tumit, aku terkejut dan merasa takut, di sanalah dia berada. Belalainya yang panjang melambai-lambai dan pada ujungnya adalah lidah runcing hitam panjang. Dia menatapku dengan mata hitam pekat yang mengerikan. Begitu hitam sehingga aku bisa melihat pantulan diriku di dalamnya, yang sedang berdiri di sana mematung ketakutan. Tubuhnya naik turun secara perlahan di atas kaki-kakinya dan mundur dengan gemulai. Kepalanya mendongak ke samping sekitar satu inci dan tanpa gerakan lagi aku mendengar suara itu.

“Ubloo!”

Aku terbangun dan menghirup udara pengap. Kesadaranku kembali secara perlahan ketika aku mengamati sekitar, begitu juga ingatanku. Sebelumnya aku berhenti di tempat istirahat di luar Natchez untuk menambal bal dan minum kopi. Aku pasti tertidur di dalam mobil.

“SIAL.” Aku membanting tangan ke setir.

Setidaknya aku telah memimpikan makhluk itu sebanyak 50 kali, namun entah bagaimana dia berhasil menyerangku ketika aku lengah. Aku membuka konsol tengah dan mengambil botol pil adderall. Aku memasukkan dua butir ke dalam mulut dan menelannya dengan gin yang kuteguk.

Untuk sesaat aku hanya duduk di sana, dengan kepala menyandar pada setir berusaha untuk menenangkan pikiran, kemudian aku memutar kunci untuk menyalakan mesin dan meninggalkan parkiran.

Butuh waktu sekitar setengah jam lagi untuk sampai ke tempat Eli. Rumahnya besar dan tua dari apa yang terlihat. Jalan menuju rumahnya jauh lebih panjang dari yang kubayangkan. Tanah yang mengelilingi rumahnya terbentang luas. Kukira kehidupan di kota telah membuat tempat seperti ini tampak tidak bersahabat bagiku.

Aku melaju ke depan rumahnya, dia pun keluar dan melambaikan tangan. Dia telah menungguku, aku meneleponnya sekitar dua menit yang lalu. Tingginya kira-kira sepertiku namun jauh lebih tua, menjelang akhir enam puluh tahun. Seluruh rambut dan janggutnya berwarna putih. Kulitnya keriput dan dia memakai sepasang kacamata setengah bingkai yang bertumpu pada hidungnya.

Dia menyalakan rokok ketika aku keluar dari mobil dan meregangkan kaki.



“Sore Dokter.” Dia menyapaku dari tangga depan rumahnya. “Harus kukatakan bahwa aku tertarik dengan buku ini. Jarang buku seperti ini ditemukan, dan jika aku mendapat beberapa penemuan baru ketika menerjemahkan buku ini, kuanggap kita impas.”

Dia berbicara dengan logat Mississippi yang kental namun aku bisa mengerti kata-katanya. Dia menatapku selama beberapa saat dan kemudian berbicara lagi.

“Kau tampak kacau Dokter. Perjalanan yang panjangkah?” Dia bertanya padaku, dengan nada tulus.

“Hanya malam yang berat.”

Aku tidak bisa menahan senyum. Aku membuka pintu belakang mobil dan mengeluarkan buku itu dari kotaknya. Menutup pintu dan kemudian mengamati sampulnya ketika aku berjalan menuju Eli.

“Ini bukunya.” Kataku sambil menyerahkan buku.

Eli mengambil buku dan mendorong kacamatanya untuk memperjelas penglihatan. Dia menyipitkan mata pada sampul karena pantulan sinar matahari selama sekitar tiga detik sebelum aku melihat matanya melebar dan mulutnya sedikit menganga.

“Dokter.” Katanya dengan serius. “Di mana kau menemukan buku ini?”

“Buku ini pemberian seorang teman.” Aku berbohong, namun tidak sepenuhnya. “Kenapa, ada yang salah?”

Eli berbalik dan menatapku dalam jangka waktu yang lama, aku bisa melihat bahwa dia mulai menyadari kenapa aku tampak kurang tidur.

“Tulisan di sini adalah tulisan keagamaan.” Katanya dengan suara gemetar. “Ditulis oleh seorang dukun dari Suku Binuma.”

“Dukun?” Tanyaku dengan penasaran. “Seperti voodoo?”

“Ya Dokter.” Eli berbalik menatapku ketika dia berbicara. “Namun bukan sembarang voodoo. Suku Binuma, dan khususnya dukun ini, dalam cerita rakyat Afrika disebutkan sebagai salah satu yang paling kejam dalam sejarah.”

Kami hanya berdiri di tangga depan rumahnya selama beberapa saat. Dengan suara angin yang berembus.

“Baiklah Dokter.” Kata Eli memulai. “Ayo masuk ke dalam, dan pastikan ini bukan yang palsu sebelum kita dengan gegabah menyimpulkan.”

Kami masuk bersama dan Eli membawaku ke ruang kerjanya. Dia mulai memeriksa buku itu, tulisan, kertas, semuanya. Sementara dia melakukan hal ini, dia menyuruhku untuk melakukan berbagai tugas. Mengambil contoh dari lemari arsipnya, mencari tulisan yang tidak diketahui di internet, mengambil teh manis dari kulkas. Setelah sekitar dua jam berlalu, akhirnya dia duduk bersandar di kursi dan berbalik menatapku.

“Astaga Dokter, ini asli.”

Aku sangat gembira mendengar ini. Sebenarnya aku bahkan belum sempat mempertimbangkan bahwa ada kemungkinan tulisan ini palsu, dan sekarang aku hanya perlu menunggu beberapa menit lagi untuk mendengar jawaban tentang Ubloo, tentang cara menghentikan atau membunuhnya, akhirnya aku merasa beban di bahuku sedikit terangkat.

“Jadi.” Kata Eli memulai. “Aku punya kamar tamu di lantai atas. Jika kau tidak ada tempat lain untuk singgah, kau bisa menginap di sini dan kita bisa menerjemahkan buku ini bersama—oh aku tidak tahu kapan batas waktunya—tiga hari?”

Perutku terasa sakit.

“Maaf Eli tetapi itu terlalu lama.” Dia menatapku lagi. “Aku harus kembali melakukan perjalanan ketika matahari terbenam.”

Dia tampak terkejut, dan cemas.

“Astaga, kau bahkan tampak seperti belum tidur selama berhari-hari nak! Kau tidak ingin beristirahat semalaman ini?”

“Maaf tetapi aku tidak mau membuang-buang waktu.” Aku bangkit dan berjalan mendekati Eli. “Bolehkah aku mengambilnya?”

“Yah tentu saja Dokter, itu adalah hakmu sebagai pemilik.”

Aku membalik halaman demi halaman ke bab yang kubutuhkan.

“Tidak lagi, Eli.” Kataku ketika semakin dekat dengan tulisan yang harus kudengar. “Setelah aku pergi dari sini, buku ini menjadi milikmu, lakukan apa pun yang kau inginkan dengan benda ini.”

Akhirnya aku sampai di halaman yang kubutuhkan. Gambaran kasar Ubloo yang menatapku dan dikelilingi oleh tulisan.

“Silakan, ini adalah tulisan yang kubutuhkan.” Kataku sebelum dia bisa menanyakan apa pun.

Eli menoleh ke halaman dan membaca dalam kesunyian selama beberapa menit, dan ketika dia melakukannya, aku bisa melihat bahwa dia mengerti apa yang sedang dia baca. Ketika akhirnya selesai dia mengalihkan pandangan dan menatapku dengan mata ekspresi sedih.

“Sudah berapa lama?” Dia bertanya.

“Sekitar dua bulan.” Jawabku, aku merasa patah hati karena akhirnya bisa memberitahu penderitaanku pada seseorang yang pengertian.

“Ya Tuhan…” Katanya dengan terdiam sejenak, dan kemudian; “tunggu sebentar Dokter.”

Dia bangkit dan berjalan ke dapur, kemudian kembali dengan sebuah nampan. Di atasnya, terdapat dua gelas yang dipenuhi es, dan satu botol yang tampak seperti wiski. Aku tertawa, dan selama beberapa saat aku merasa seperti menjadi manusia lagi. Eli menuangkannya pada sebuah gelas untukku, kemudian dia, dan kami minum bersama dalam kesunyian.

“Jadi sekarang kau mengerti kenapa aku tidak bisa menginap.” Akhirnya aku berkata demikian.

“Aku mengerti Dokter. Sekarang, kau mungkin harus duduk, karena ini cerita yang panjang.”

Aku duduk di samping Eli dan menguatkan diri, jantungku berdebar kencang menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Makhluk ini, sosok… ini, disebut ‘Daiala Bu Umba.’”

“Daiala Bu Umba?” Tanyaku dengan penasaran, terasa aneh karena mereka tidak menyebutnya dengan sebutan itu baik Robert maupun Andrew.

“Ya, Daiala Bu Umba, yang apabila diterjemahkan menjadi ‘Sesuatu Yang Memunculkan Diri.’”

Aku merinding mendengarnya, sementara Eli melanjutkan.

“Dikatakan di sini bahwa dukun ini sangat kuat, dan bahwa orang-orangnya—Suku Binuma—sedang dikejar oleh klan musuh. Tentu saja klan itu mengejar mereka dalam pertempuran, mereka mengirim prajurit-prajurit terbaik mereka ke kamp Binuma di malam hari, dan membantai mereka selagi tertidur.

Sang dukun sedang pergi, berdoa kepada para dewa agar rakyatnya kabur dari kamp, namun para dewa telah berpaling darinya karena menggunakan voodoo untuk mengalahkan musuh-musuhnya, dan doanya tidak dijawab. Ketika dia kembali ke kamp, dia mendapati semua anggota sukunya tewas di tempat tidur mereka, termasuk istri dan anaknya. Sang dukun dipenuhi perasaan duka dan kebencian, dia pun menggunakan voodoo terkuatnya untuk membalaskan dendam pada klan musuh, dan berpaling dari para dewa yang tak menjawab doanya.

Dia mengumpulkan semua benda yang tersisa dari serangan itu; gading gajah, kulit ular, tulang binatang dan benda lainnya yang masih bisa digunakan. Dia menumpuknya bersama dengan tubuh-tubuh anggota sukunya yang tak bernyawa, kemudian membakarnya dan menyanyikan lagu kutukan voodoo yang ditujukan pada klan musuh untuk memanggil roh yang akan menghantui tidur mereka seperti yang telah mereka lakukan kepada anggota Sukunya.”

Eli berhenti dan menatapku.

“Apa kau ingin aku melanjutkan ceritanya, Dokter?”

Aku menyesap wiski dan mengangguk dengan raut wajah serius.

“Dalam hitungan hari, klan musuh mengalami mimpi buruk yang mengerikan dan tidak bisa tidur. Mereka bermimpi diserang oleh suku-suku lain, menyaksikan wanita dan anak-anak mereka diperkosa serta diperbudak, ladang mereka terbakar dan musim kemarau tidak pernah berganti. Tidak lama kemudian, seluruh orang di klan itu saling membunuh, atau mencabut nyawanya sendiri, sampai tidak ada yang tersisa.

Namun ada sesuatu yang tidak beres. Ketika dukun itu merayakan kemusnahan klan musuh, dia terus mendengar kabar tentang orang-orang yang diganggu oleh Sesuatu Yang Memunculkan Diri. Dia menyadari bahwa roh sialan yang dia buat tidak bisa dihentikan, karena dia tidak akan pernah berhenti untuk melihat orang-orang menderita. Satu per satu, orang-orang diganggu oleh roh itu, dan ketika mereka mati, dia akan berpindah ke yang lain, secara terus-menerus.”

Dia berhenti dan menatapku lagi.

“Terus? Bisakah mereka menghentikannya?” Tanyaku.

“Soal itu tidak disebutkan di sini.” Kata Eli dengan sedih. “Dikatakan bahwa banyak suku yang mulai mengasingkan siapa pun yang terhubung dengan roh mematikan itu, karena mustahil untuk melawannya. Setiap suku hanya membiarkan agar roh itu mengganggu orang di suku yang berbeda.”

Perutku terasa sakit sepenuhnya. Yah informasi itu saja yang bisa kudapat. Tidak ada cara bagiku untuk kabur. Aku harus berhadapan dengan Ubloo seumur hidupku… Atau sepanjang sisa hidupku yang pendek. Aku mengerti sekarang kenapa Andrew dan Robert mencabut nyawa mereka sendiri.

Mataku mulai berlinang dan Eli menuangkan segelas wiski lagi untukku.

“Aku mengerti kenapa kau ingin kembali melakukan perjalanan Dokter. Aku akan terus menerjemahkan buku ini dan akan meneleponmu jika aku menemukan sesuatu yang membantu.”

Aku menenggak wiski dalam sekali teguk dan menyeka mataku dengan lengan bajuku.

“Terima kasih Eli.” Aku memaksa pergi. “Aku harus pergi.”

Aku bangkit sebelum dia bisa menghentikanku dan menuju pintu depan. Sebelum aku sampai di mobil, Eli ada di ambang pintu dan memanggilku.

“Dokter! Jika kau tidak keberatan aku ingin bertanya. Ke mana kau akan pergi?” Katanya, kesedihan pada suaranya membuat pertanyaan yang dia berikan seperti menggantung di udara petang.

“Mengikuti jejak orang yang sudah mati.” Jawabku. “Ke suatu tempat di Louisiana.”

Eli menatapku dan matanya mulai berlinang.

“Kuharap kau baik-baik saja Dokter. Aku tidak bisa membayangkan hal-hal yang telah kau lihat dan aku tidak akan berpura-pura, namun semoga Tuhan memberkatimu karena telah berjuang.”

Aku mengangguk dan membuka pintu mobil, namun aku berhenti dan menatap Eli.

“Daiala Bu Umba.” Kataku hampir tertawa. “Itu terdengar jauh lebih baik daripada yang biasa kusebut.”

“Kau bilang apa, Dokter?”

Aku terdiam sejenak dan memikirkan betapa konyolnya nama yang kuberikan pada makhluk itu.

“Ubloo.” Kataku hampir tersenyum.

“Ubloo?” Eli menatapku dengan bingung.

“Yah, itulah yang selalu dia katakan padaku tepat di akhir mimpi.” Kataku dengan bimbang. “Apakah kata itu berarti sesuatu?”

Eli menatapku dengan tatapan yang tidak akan pernah kulupakan, sorot matanya yang aku tahu tidak akan pernah dia berikan kepada orang lain dalam hidupnya, dan dia berkata:

“Ya, Dokter. Ubloo adalah sebutan pendek untuk ‘Ubua Loo.’”

Angin berembus dengan lembut di antara kami dan rumput bergoyang di bawah sinar matahari yang memudar ketika aku menanti apa yang kemungkinan besar menjadi hal terakhir yang pernah kudengar darinya.

“Artinya bangunlah.”

Credit To – DifferentWind

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Ubloo part one bisa ditemukan di sini
Ubloo part two di sini
Ubloo part three di sini
Ubloo part four di sini
Ubloo part four and half di sini
Ubloo part five di sini
Ubloo part six di sini
Ubloo part seven di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna