Senin, 23 April 2018

Ubloo, Part Four

Catatan: Ini adalah bagian keempat dari Seri Ubloo. Anda bisa membaca bagian-bagian sebelumnya di sini: Bagian 1 / Bagian 2 / Bagian 3.

Aku mondar-mandir di kamar hotelku sambil memegang segelas gin, pikiranku terasa tenggelam. Besok aku akan bertemu dengan seseorang dari Bank Louisiana untuk melihat bangunan sekolah tua yang diminati Robert Jennings. Ketika aku mengatakan pada mereka bahwa aku tertarik untuk membelinya, mereka sedikit terkejut, dan ketika aku mendengar bahwa tidak ada yang menarik dari tempat itu, aku juga terkejut. Meskipun reyot, namun jika renovasi dilakukan rumah itu pasti akan tampak indah. Wanita yang bicara denganku di telepon mengatakan bahwa sekolah itu telah menjadi cerita hantu setempat bagi penduduk kota. Sekolah itu ditutup karena kehabisan dana, banyak murid dan keluarga yang kecewa dengan keputusan pemerintah setempat yang memilih untuk memindahkan mereka ke sekolah lain daripada memberikan tambahan dana. Kemudian rumah itu dipasarkan, namun kukira tidak seorang pun yang mau mengambil sesuatu yang sangat berharga bagi anak-anak itu. Amukan badai dan kondisi yang tak terawat mengakibatkan tempat itu telah menjadi daya tarik bagi orang-orang paranormal, meskipun tidak ada aktivitas nyata yang pernah didokumentasikan di sana.



Aku menyesap gin dan meneguknya. Aku tidak percaya bisa terbiasa dengan minuman yang satu ini. Ketika sebelumnya aku belum terlalu sering minum, aku selalu tertarik pada wiski. Sekarang, hanya gin yang bisa kuminum.

Kamar hotel yang kutempati gelap dan pengap. Rekening bank milikku mulai menipis karena sekarang ini aku hidup tanpa penghasilan selama lebih dari dua bulan, dan aku tidak boleh boros. Pemikiran tentang menulis resep serta menjualnya sempat terlintas, namun aku tidak bisa memaksakan diri untuk melakukannya. Meskipun itu ide yang bagus untuk mendatangkan uang, aku menolak untuk berpaling dari siapa diriku yang dulu. Siapa tahu? Mungkin sekolah ini akan memberikan informasi yang bisa kugunakan untuk membunuh Ubloo. Membunuh? Aku menggelengkan kepala. Dia adalah kutukan voodoo, bagaimana bisa seseorang membunuh sesuatu seperti itu?

Aku meletakkan tanganku di atas meja rias dan menunduk di depan gelas gin, mengamati es batu yang berdenting.

“Dokter.”

Suara itu datang dari belakangku. Dengan cepat aku berbalik sehingga nyaris terjatuh, dan mataku berfokus. Aku melihat seseorang berdiri di hadapanku.

Itu adalah Andrew.

Kami saling menatap. Dia mengenakan kemeja hitam polos dan celana jeans. Rambutnya berantakan dan kusut, matanya yang dulu berwarna hijau terang kini digantikan dengan bola mata yang putih alami.

“Dokter, kenapa kau ada di sini?” Dia kembali berbicara.

Kata-kataku terhenti di tenggorokan, namun akhirnya aku berhasil mengeluarkan suara.

“Aku berusaha mencari jalan keluar, Andrew. Aku berusaha mengalahkannya. Aku berusaha mengalahkan Ubloo.”

Dengan perlahan Andrew menggelengkan kepala.

“Kau tidak bisa mengalahkan Ubloo, Dokter. Kau tidak bisa.” Katanya. “Ubloo selalu ada, selalu menunggu, selalu mengawasi.”

Kami berdiri dalam kesunyian, perutku terasa kaku karena depresi dan gugup yang kualami.

“Aku harus mencoba Andrew.” Akhirnya aku berbicara. “Aku harus berusaha, karena aku tidak bisa membiarkan mimpi buruk ini terjadi pada orang lain, aku tidak bisa.”

Dan kemudian aku melihatnya. Dia muncul dari bayangan di belakang Andrew dengan perlahan. Kulitnya licin dan berwarna abu-abu, aku melihat setiap tulang dan otot yang mengejang ketika dia merangkak dengan enam kakinya yang panjang. Setidaknya tinggi dia enam kaki, mungkin lebih, karena dia membungkuk. Kepalanya bulat besar dan mata hitam yang gelap menatap tepat padaku. Meskipun tidak memiliki pupil, aku bisa mengatakan bahwa dia mengawasi setiap pergerakanku. Belalai panjang yang menjuntai dari kepalanya kembali terayun ketika dia berjalan. Dia berhenti tepat di belakang Andrew ketika pemuda itu mulai berbicara lagi.

“Semua ini akan terjadi pada orang lain Dokter.” Matanya yang putih menatap lurus padaku. “Hanya itu satu-satunya jalan keluar.”

Belalai Ubloo terangkat dan menempel pada telinga Andrew. Kemudian aku melihat lidahnya yang hitam muncul dari hidung Andrew dan dia menjerit.

Aku menutup telinga dengan tangan dan terjatuh pada meja rias.

“TIDAK! HENTIKAN!” Teriakku, namun tidak ada gunanya.

Daging Andrew mulai terlepas dari tulangnya, menetes seperti lilin yang mencair, sehingga memperlihatkan tulang dan jaringan ototnya. Dia terus menjerit sementara tubuhnya menjadi sup yang menumpuk di kakinya. Aku menyaksikan wajahnya meleleh dan memperlihatkan tulang rahangnya, kemudian aku mendengar bunyi dentingan tajam dan melihat otot rahangnya patah, semua itu terjadi dengan jeritan rasa sakit.

“KUMOHON! AKU TIDAK SANGGUP LAGI! HENTIKAN SEMUA INI KUMOHON!”

Pemandangan mengerikan itu berhenti, rahang Andrew masih terbuka. Kini dia hanyalah setengah kerangka, dengan sisa daging dan isi perut yang tersangkut di antara tulang-tulangnya. Dia mematung, kemudian kepalanya tersentak dan menghadap tepat ke arahku, bola matanya yang berwarna putih berputar untuk mengungkapkan mata hijau terang yang mengerikan. Di belakangnya, Ubloo menyaksikan semua ini.

“Akhir adalah awal Dokter.”

Kemudian kerangka dan sisa tubuhnya jatuh ke gundukan daging, yang tersisa hanyalah empedu, belalai Ubloo jatuh bergelantungan, dan aku mendengar suara itu.

“Ubloo.”

Seprai tempat tidur kusut karena sewaktu tertidur, kakiku terus meronta-ronta. Aku berkeringat dingin, terengah-engah, dan menatap langit-langit kamar di tengah kegelapan sampai kembali terfokus.

Aku hanya terbaring sambil terengah-engah selama beberapa saat. Segera setelah aku mengatur napas, aku berdiri dan berjalan ke meja rias, kemudian membuka salah satu laci. Di dalamnya terdapat sebotol pil, dan di samping botol itu adalah sepucuk revolver.

Meskipun aku masih berpegang teguh pada harapan untuk menemukan cara agar bisa lepas dari kutukan ini, namun ada sebagian kecil pada diriku yang mengatakan bahwa kemungkinan hanya ada satu jalan keluar.

Aku mengeluarkan botol yang dipenuhi adderall dan memasukkan sebanyak tiga butir ke mulutku. Aku meraih botol gin yang hampir kosong dan menenggak sisanya. Aku melihat ke sekeliling ruangan, tidak ada yang aneh. Aku menyalakan lampu dan memeriksa jam. Pukul 4:37 pagi.

Sudah waktunya untuk berkemas.

Aku berhasil sampai di bank pada pukul 7 pagi. Tempat itu akan buka beberapa jam lagi, jadi aku mengeluarkan pint gin yang sekarang kusimpan di mobil dan mencampurnya dengan kopi. Teguk pertama seolah membakar lidahku namun aku tidak peduli lagi. Ada hal yang lebih buruk daripada mulut yang terbakar.

Aku terus terpikir dengan apa yang dikatakan Andrew, jika itu memang dirinya. Apa mungkin yang berbicara padaku tadi adalah Ubloo? Itu tidak masuk akal. Jika dia bisa mengatakan padaku untuk bangun kapan pun dia mau, kenapa harus menyerupai wujud Andrew? Mendengar makhluk itu berbicara akan terasa lebih aneh, menurutku.

Akhirnya aku bertemu dengan wanita yang menunjukkan sekolah itu di pintu masuk bank. Namanya adalah Linda. Usianya paruh baya dengan rambut cokelat dan wajah berbintik, deretan gigi putih bersih akan tampak ketika dia tersenyum. Aku meluangkan waktu untuk memperbaiki penampilanku di pertemuan ini. Jika aku ingin mendapat informasi darinya, maka aku harus berpenampilan layaknya seorang pembeli. Rambutku kusisir rapi, janggut dan bagian rambut yang berantakan telah kucukur. Aku mengenakan pakaian kerja lama yang kusetrika pada malam sebelumnya dan bahkan menyemprotkan cologne. Sejujurnya, aku merasa senang bisa kembali berdandan.

Kami melaju dengan mobilnya, lokasi tempat itu hanya berjarak beberapa blok dari bank. Ketika kami sampai, aku mendapat perasaan tidak nyaman di bagian perut, perasaan yang akan kau rasakan ketika bertemu dengan seseorang yang hanya kau lihat di foto sebelumnya. Aku merasa seolah mengenal tempat ini, mengingat betapa lama aku meneliti tentangnya.

“Tidak banyak yang tersisa, namun dulunya tempat ini tampak sangat indah.” Katanya sambil berjalan menuju gerbang besi yang besar.

Dia mengeluarkan gantungan kunci dari dalam tasnya. Aku mengamati dengan saksama. Dua kunci berwarna emas dan yang satunya lagi berwarna perak. Dia memilih yang perak dan memasukkannya ke lubang kunci gerbang. Aku menengadah pada pagar dan menatap pada besi tajam di bagian atasnya. Bukan pilihan bagus untuk memanjat, namun jika dilakukan secara hati-hati, ada kemungkinan akan berhasil.

“Halaman ini sedikit tertutup oleh rumput liar, biasanya kami mengirim seseorang untuk memotongnya setiap beberapa bulan sekali, dan memeriksa dalamnya, memastikan tidak ada orang yang mengacaukan tempat ini.

Kami menyusuri jalan dan menaiki tangga depan. Tangga berderit ketika kami berjalan di atasnya menuju pintu. Dari gantungan kunci yang sama dia memilih salah satu kunci emas dan memasukkannya ke lubang kunci. Pintu terbuka dan dia mulai masuk ke dalam.

“Jadi, di sinilah lobinya dan seperti yang kau lihat, segalanya tampak usang sekarang dengan langit-langit yang tinggi.” Katanya sambil menutup pintu di belakangku.

Rumah ini memang indah dan aku mengerti kenapa Robert begitu tertarik. Linda menunjukkan sisa bagian rumah yang suram dan berdebu. Lantai kayu berderit ketika kami berjalan, aku melihat bekas kerusakan air di dinding dan langit-langit. Sebagian besar yang ada di lantai pertama adalah ruang kelas, kecuali sebuah dapur kecil yang digunakan para guru sebagai ruang istirahat. Di lantai atas terdapat ruang kantor dekan dan selebihnya ruang kelas.

Aku terus berjalan di sepanjang rumah, hanya setengah yang dikatakan Linda kudengar, setengah lainnya mendengarkan suasana, namun tidak ada suara aneh yang terdengar. Aku merasa seolah berada di jalan buntu. Aku telah mengikuti petunjuk sampai di titik ini, sekarang aku tidak merasa terbantu, melainkan tersesat dan sendirian.

Ketika kami selesai melihat seisi rumah, aku dan Linda kembali ke bank untuk membahas soal dokumen dan harga. Aku duduk di ruang kerja Linda, berhadapan dengannya. Dia meletakkan tas miliknya dan pergi mengambilkan kopi untuk kami. Ketika kembali, dia duduk dan mengeluarkan dokumen.

“Harga minimum yang kami minta sebesar $685,000, beserta semua biaya akta. Ada juga biaya makelar sebesar $10,000 tetapi sejujurnya aku bisa melihat bahwa pihak bank akan melepasnya jika kau berminat, mereka sudah memutuskan untuk menyingkirkan properti yang satu ini.” Ketika dia selesai bicara, dia menyodorkan dokumen itu padaku.

Aku berpura-pura membacanya dan kemudian bersandar di kursi.

“$685,000 kedengarannya harga yang terjangkau.” Kataku. “Karena sekarang rumah seperti ini harganya hampir dua kali lipat di pasaran, terutama untuk ukuran dan arsitekturnya.”

Linda pasti sudah tahu tentang hal ini bahkan sebelum aku berkata demikian.

“Hanya saja,” Lanjutku “Aku telah mendengar beberapa rumor tentang properti ini ketika aku berada di daerah sana, dan meskipun aku ragu-ragu, tentunya aku juga sangat penasaran.”

Linda menghela napas meskipun aku berkata dengan sopan.

“Aku bisa menjamin bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan properti ini. Ketika sekolah ditutup, mereka mengirim para murid ke sekolah umum, banyak orang tua yang tidak senang dengan keputusan ini karena masalah rasial. Para orang tua memohon pada kami untuk membantu pendanaan, namun itu terlalu banyak makan biaya. Mereka menolak beberapa pembeli potensial pertama, rumah itu tetap kosong dalam jangka waktu yang lama dan kemudian cerita dimulai. Setelah itu, sangat sulit untuk menjual properti ini, terutama sudah mengalami kerusakan dan memiliki sejarah kelam di baliknya.”

Aku mengangguk. Cukup masuk akal. Sebagian diriku berharap bisa mendengar cerita yang lebih menarik seperti; sosok yang tampak di jendela, orang yang masuk ke sana dan tidak pernah keluar, dll. Namun ternyata hanyalah cerita biasa.

“Yah, aku harus membicarakan hal ini dengan istriku dan meminta pendapatnya.” Mengatakan itu terasa aneh bagiku. Aku menyesap kopiku, yang sudah mendingin ke suhu yang pas untuk bisa diminum. Ini membuatku merasa sedikit lebih baik terhadap apa yang akan kulakukan selanjutnya.

“Tentu saja, aku paham.” Jawab Linda sambil tersenyum.

“Apa kau keberatan kalau aku mengambil salinannya-” Aku mengulurkan tangan ke seberang meja untuk mengambil lembaran-lembaran itu dan menjatuhkan cangkir kopiku sehingga tumpah ke baju Linda. “Astaga, maaf.”

“Oh!” Dia berdiri dan melihat ke sekeliling ruangan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengelap. “Aku-umm-tolong tunggu sebentar.”

Dia meninggalkan ruangan dan aku mendengar tumit sepatunya seolah melangkah mondar-mandir di lorong.



“Maaf!” Kataku, ketika menggeledah tasnya dan mencari tiga kunci sebelumnya. “Aku sangat kikuk, seharusnya aku memberitahumu sejak awal!” Aku memasukkan kunci-kunci itu ke dalam saku, kemudian mengeluarkan kotak tisu yang telah kusembunyikan di bawah kursi dan meletakkannya kembali di atas meja.

“Oh, tidak apa-apa!” Katanya, ketika kembali dengan segulung handuk kertas. “Ini sudah biasa terjadi sayang. Akan kuminta salah satu karyawan magang untuk mencetak salinan perjanjian lagi.”

Linda mengantarku keluar dan aku kembali meminta maaf karena telah menumpahkan kopi. Dia berharap bisa secepatnya mendengar kabar dariku. Aku melambaikan tangan dari dalam mobil dan tidak bisa menahan tawa ketika melihat dia berdiri di sana dengan noda kopi di blusnya.

Begitu aku kembali ke kamar hotel, aku menuang segelas gin dan duduk di atas tempat tidur. Aku melempar dua adderall lagi ke mulutku dan menelannya.

Aku akan pergi ke rumah itu sekitar pukul 2 pagi. Aku harus ingat untuk membawa senter dan beberapa alat lainnya, berjaga-jaga jika aku salah mengambil kunci. Meskipun itu sangat tidak mungkin, aku tidak ingin pergi hanya untuk melakukan kesalahan. Aku mulai mengepak. Senter, palu, kunci Inggris, obeng, linggis. Aku berjalan ke lemari rias dan mengambil topeng ski. Aku merasa ada sesuatu yang bergetar di dalamnya, dan menatap revolver milikku. Kemudian aku tersentak ketika ternyata ponselku berdering.

Aku meraihnya dan membaca ID pemanggil.

Ternyata Eli. Aku ragu sejenak dan kemudian menjawab panggilan itu.

“Eli, bagaimana kabarmu?”

“Sehat Dokter, kau sendiri?” Katanya dengan logat Selatan yang khas.

“Kau tahu, aku merasa lebih baik sekarang.” Jawabku, kemudian kembali bertanya. “Ada yang bisa kubantu?”

“Begini Dokter, aku telah banyak meneliti tentang hal itu… kau tahulah.”

“Terus?” Tanyaku lagi. Ubloo bukanlah hal baru bagiku, jadi aku akan mendengarkan apa yang dia katakan.

“Sejujurnya aku tidak bisa menemukan hal lain tentang ‘Daiala Bu Umba’, tetapi aku menemukan sesuatu yang sepertinya mirip. Ini tertulis dalam beberapa sejarah suku lainnya.”

Telingaku seolah tertarik untuk mendengarnya dan perutku terasa berdebar.

“Ceritakan.”

“Di sini dikatakan, seorang anggota suku lain menderita mimpi buruk yang mengerikan. Mereka menemukan lelaki ini mati pada suatu pagi di gubuknya, dan orang yang menemukannya mulai mengalami mimpi buruk.

“Kedengarannya menjanjikan.” Kataku, sambil berusaha menyembunyikan nada gembira.

“Ini beberapa kali terjadi sebelum suku itu tertangkap, namun tidak seperti suku sebelumnya, mereka tidak mengasingkan orang yang bermimpi, sebaliknya mereka menugaskan seorang ‘Ubuala.’”

“Ubuala?”

“Ya Dokter, itu adalah Khoe kuno untuk ‘Si Pembangun.’ Ubuala akan duduk bersama penderita mimpi buruk dan membangunkan orang itu jika dia mulai mengalami mimpi buruk dengan cara menggoyangkan tubuh si pemimpi kemudian berteriak ‘Ubloo!’”

Perutku terasa sakit. Ini semakin menakutkan.

“Apakah yang dilakukan membantu?”

“Yah bisa dibilang begitu, hanya sedikit, namun kemudian anggota suku itu mulai melaporkan bahwa dia melihat monster dalam keadaan terjaga. Tidak ada yang percaya, dan kemudian pada suatu hari mereka menemukan dia tewas ketika diduga sedang mengangkut air dengan pergelangan tangannya.”

Entah bagaimana ini tidak mengejutkan bagiku.

“Terus, bagaimana kelanjutannya?”

“Tetua suku memutuskan bahwa dia akan menjadi Ubuala bagi pria yang menemukan mayat anggota suku itu, dan tidak pernah pergi dari sisinya. Sampai suatu malam, ketika pria itu terbangun dari mimpi buruknya, dia merebut sebilah pisau dari sang tetua dan bunuh diri seketika.”

“Sial…”

“Kau masih di sana Dokter?”

“Yah, kenapa?”

“Karena kau pasti tidak akan menyukai bagian selanjutnya. Dikatakan bahwa sang tetua ingin menyingkirkan kutukan ini dari sukunya, dan siapa pun yang menemukan mayatnya akan melanjutkan kutukan tersebut, jadi…”

Jantungku berdegup kencang.

“Jadi?”

“Jadi dia meminta anggota sukunya untuk membawa dia ke suatu tempat yang tidak akan pernah dijangkau oleh siapa pun.”

Seketika keadaan menjadi sunyi di antara kami.

“Di mana itu?”

“Mereka menguburnya, Dokter… Dalam keadaan masih hidup.”

Mendengar itu membuat perutku langsung terasa sakit.

“Ya Tuhan, Eli…”

“Aku tahu, Dokter. Sekarang di sinilah jejak itu menghilang dengan dingin. Aku telah menemukan laporan-laporan kecil tentang mimpi buruk ini di tempat lain dalam tulisan-tulisan sejarah namun tidak setelah yang satu ini. Jadi aku mempelajari seni voodoo. Aku tahu bahwa begitu kutukan ini telah diluncurkan, roh tersebut akan terus menghantui sampai dia menerima semua yang dijanjikan. Ini adalah satu-satunya cara untuk melenyapkan kutukan, jadi aku belum tahu apakah dengan mengubur tetua itu secara hidup-hidup bisa menghentikan kutukannya.”

Aku merasa mual dan sedih.

“Adakah cara lain untuk memanggilnya lagi setelah menyentuh jalan buntu seperti itu? Maksudku pasti ada alasan kenapa kutukannya kembali.”

“Ya, kutukan juga bisa direvitalisasi, namun tetap saja, dia hanya akan melakukan perintah dengan apa yang telah dijanjikan, dan siapa pun yang memanggilnya harus mengetahui segala tentang ritualnya. Kau lihat, ritual voodoo memerlukan bahan-bahan tertentu. Tertulis bahwa dukun yang memanggil Daiala Bu Umba menggunakan gading gajah, ular dan banyak hal lainnya, serta mayat-mayat anggota sukunya, buku yang kau berikan padaku pernah kutemukan dari sejarah Suku Binuma. Sebelumnya, semua orang berasumsi bahwa suku ini tidak pernah ada.”

Aku menggelengkan kepala dari semua informasi baru ini.

“Baiklah, aku tidak berencana untuk menyerah Eli. Dan jika dengan menguburku hidup-hidup tidak akan membunuh makhluk ini, aku akan mempertimbangkan cara apa pun sebelum melakukan sesuatu.”

“Aku mengerti Dokter. Maaf karena aku memberitahumu tentang ini.”

“Tidak apa-apa, Eli, apa pun informasi yang kau berikan cukup membantuku.” Kataku dengan ragu-ragu, dan kemudian menanyakan pertanyaan yang menggantung di antara kami. “Maukah kau menguburku jika memang itu harus dilakukan, Eli?”

Seketika terjadilah jeda panjang, namun akhirnya, aku mendengar suara khas Selatan itu lagi, dengan nada halus seperti air.

“Jika kita harus melakukannya Dokter, akan kulakukan.”



Aku sampai di sekolah itu hampir tepat pukul 2 pagi.

Aku mengambil tas dari kursi belakang dan meletakkannya di pangkuanku. Aku menghela napas, dan kemudian membuka pintu mobil.

Udara malam masih lembab. Aku telah memarkir mobil dengan jarak yang cukup jauh dari sekolah sehingga aku harus menggendong tas dengan bahu dan mulai berjalan kaki menuju gerbang.

Ketika berjalan, aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang dikatakan Eli padaku. Tentang tetua, Ubuala, dan segalanya. Bagaimana bisa Daiala Bu Umba mengatakan Ubloo? Kenapa dia terus mengatakan padaku untuk bangun dengan ketiadaan orang lain? Aku terus berjalan dan kemudian terlintaslah pikiran di benakku. Aku berhenti berjalan seketika.

Bagaimana jika bukan dia yang mengatakan Ubloo? Bagaimana jika itu adalah sesuatu yang lain? Ada roh lain yang berusaha untuk membantuku? Mencoba untuk menghentikan hal buruk terjadi? Itu masuk akal. Cukup masuk akal. Itu sebabnya aku terbangun dari mimpi, kenapa aku selalu mendengar kata itu sebelum tersadar.

Perutku terasa tidak nyaman ketika aku berjalan lagi. Jika sialan itu memakan keputusasaan maka akan masuk akal bagi beberapa roh baik untuk membangunkanku sebelum dia kenyang. Aku tak henti-hentinya berpikir dengan informasi baru ini, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya aku merasakan bahwa masih ada harapan meskipun kecil.

Ketika sampai di gerbang, bahuku mulai terasa sakit karena menggendong tas. Aku merogoh saku dan mengambil botol adderall. Aku mengambil satu lagi, untuk berjaga-jaga. Aku menyimpannya kembali ke dalam saku dan mengeluarkan kunci. Sambil menahan napas, aku memasukkan kunci berwarna perak ke lubangnya.

Dan bisa diputar.

Akhirnya, rencanaku berhasil lagi. Aku membuka gerbang dengan perlahan dan menyelinap masuk. Dengan waspada aku berlari menuju pintu. Aku memasukkan kunci berwarna emas ke lubang, membukanya, dan menyelinap masuk tanpa membuat suara.

Aku menutup pintu di belakangku dan dikepung oleh kegelapan pekat. Aku membuka ritsleting tas dan meraba-raba seperti orang buta sampai tanganku menemukan senter. Aku mengeluarkan dan menyalakannya. Aku menyorot ke sekitar ruang pertama, setengah berharap akan melihat sesuatu di sana. Kurasa aku terlalu banyak menonton film horor sewaktu masih anak-anak. Aku tertawa kecil, dan kemudian mulai menyusuri seisi rumah.

Sekali lagi, aku tidak tahu apa yang sedang kucari, namun entah kenapa aku merasa akan tahu ketika melihatnya. Aku mulai naik untuk memeriksa kantor dan seluruh kelas. Aku mengetuk dinding, mencoba untuk mencari keganjilan apa pun atau sesuatu di baliknya. Aku mengamati setiap ruangan dan kemudian kembali turun. Aku pergi melewati setiap ruang kelas, kemudian dapur dan ruang kelas lagi. Setelah satu atau dua jam menyusuri seisi rumah, aku berjongkok di atas tumit sepatu dan menghela napas.

Aku harus kembali pada malam berikutnya dan mencoba lagi. Sial.

Lucunya, bangunan ini tidak terlalu berbeda dengan yang kutinggali di Stoneham, Massachusetts. Aku bangkit, berjalan menuju dinding dan menyeka debu. Cat warna dan lantai kayu yang sama. Ada sesuatu mengenai karpet yang membuatku gelisah. Mungkin karena aku benci melakukan bersih-ber-

Kemudian aku melihatnya.

Salah satu papan lantai, tampak sedikit lebih mencolok dari yang lainnya.

Aku berjalan mendekat dan menyinarinya. Meskipun sama namun kayu yang satu ini lebih mencolok, sedikit lebih bagus. Itu tampak… masih baru.

Aku menurunkan tas, mengambil palu dan linggis. Aku mencungkil paku, kemudian papan itu. Meninggalkan lubang berukuran sekitar tiga inci. Aku mencoba menyinarinya namun aku tidak bisa melihat cukup banyak. Entah kenapa aku merasa gembira, kucungkil papan sepenuhnya. Kemudian menyinarinya lagi. Apa yang kulihat hampir membuatku muntah.

Pada tanah di bawah lantai kayu kulihat tulang belulang. Tidak jarang rumah-rumah di Louisiana dibangun dengan jarak beberapa meter di atas permukaan tanah, untuk menghindari banjir, namun yang satu ini berbeda. Ada ruang setinggi satu atau dua kaki dan kemudian tanah, yang berisikan tulang belulang yang hangus dan abu. Aku memeriksa bagian itu menggunakan senter dengan panik, dan kemudian aku melihatnya.

Luntur, namun masih ada, aku melihat lingkaran besar di sekitar gundukan abu dan tulang belulang, dengan simbol yang seketika mengingatkanku pada sesuatu.

Itu adalah Khoe kuno.

Aku duduk mematung, menatap tulisan mengerikan itu ketika kulihat selembar kertas di sampingnya. Aku mengulurkan tangan dan hanya dengan ujung jari aku meraihnya.

Aku membuka catatan itu dan membacanya:

“Aku ingin bertanya tentang bagaimana caramu tidur di malam hari, sekarang aku sudah mendapat jawabannya.”

Tertanda di bawahnya:

“Monaya Guthrie”

Aku duduk di atas tumit sepatuku.

“Monaya Guthrie.” Gumamku dengan marah. Entah bagaimana dia telah memanggil Ubloo kembali dengan melakukan ritual dan mengirimnya pada seseorang yang bertanggung jawab karena telah menutup sekolah ini. Mataku tergenang air mata amarah dan frustrasi. Tapi kenapa? Kenapa monster itu masih berkeliaran? Jika dia telah membunuh suku musuh kenapa masih ada di luar sana?

Dan kemudian aku teringat.

Dukun itu menulis bahwa istrinya sedang hamil ketika dibunuh, dan bahwa dia membakar seluruh anggota sukunya untuk memanggil monster itu. Namun bagaimana jika ternyata tidak seluruh anggota sukunya, bagaimana jika monster itu masih terus mencari anak ini? Bagaimana jika dukun itu entah bagaimana berhasil menyelamatkan anaknya?!

Pikiranku bercampur aduk dengan panik. Meskipun masih primitif, tidak jarang obat-obatan kuno mampu melakukan prosedur semacam itu. Maksudku, hanya dengan operasi caesar prematur.

Aku memasukkan alat dan catatan itu ke dalam tas, kemudian berdiri.

Monaya Guthrie, aku harus menemukannya. Atau setidaknya seseorang yang mengenalnya. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Bahkan ada kemungkinan si jalang ini adalah keturunan dari-

Papan lantai di belakangku berderit dan aku mematung ketakutan karena mendengar suara.

Aku berbalik, mengarahkan senter dan berteriak.

Dalam kegelapan, yang diterangi oleh cahaya senterku, sosok Ubloo berdiri di sana.

Dia menatapku dengan mata hitam dingin, sementara aku gemetar ketakutan.

Aku harus bangun. Sial sial sial aku harus bangun.

Aku hanya bisa menyaksikan sosok itu perlahan mulai merangkak ke arahku, tulang belulang tubuhnya tampak dengan setiap gerakan di bawah kulit kelabu yang halus.

Dan kemudian aku sadar. Tidak pernah dalam mimpi aku tahu bahwa aku sedang tertidur.

Kepanikan menguasai diriku seperti demam. Anggota suku yang melihat Ubloo dalam keadaan terjaga, keadaan Andrew yang ditemukan tewas bersandar pada dinding yang menghadap pintu. Jantungku berdegup kencang.

Itu bukanlah roh baik yang berusaha membangunkanku. Bagaimana bisa aku begitu bodoh?

Ternyata memang Ubloo. Selama ini adalah Ubloo. Dia terus berkata padaku untuk bangun. Membuatku merasa aman di saat-saat terakhir bahkan sampai saat ini, kali ini kusadari tidak ada lagi bagiku untuk bangun. Tidak ada lagi cara untuk kabur.

Ubloo berhenti, sedikit memiringkan kepalanya, dan kemudan berlari cepat ke arahku. Aku berteriak, berbalik dan berlari. Aku berlari keluar melewati pintu kelas menuju lorong. Setengah jalan di lorong, aku melihat sebuah pintu dan mendengar Ubloo menabrak dinding di belakangku selagi mengejar. Ini menguntungkanku. Aku mendobrak pintu dan mendapati bahwa aku berada di kelas lain. Aku berlari dan mencari pintu lain dengan panik. Setelah beberapa kaki aku berbalik dan meraih revolver di bagian belakang ikat pinggangku. Aku mengarahkan senterku pada pintu yang baru saja kulewati dan melihat kusen pintu hancur ketika Ubloo datang. Aku menembak sebanyak tiga kali dan melihat tubuhnya mengejang. Pada titik di mana tubuhnya terkena peluru, kulihat ada lubang-lubang hitam kecil yang membekas. Dia tidak berdarah, dan aku hanya bisa melihat dengan takut ketika lubang-lubang itu tertutup begitu saja.

Aku berlari melewati pintu di dekatku sampai ke tengah ruangan dan mencari jalan keluar dengan senter di tangan. Tidak ada jalan keluar. Aku merasa jantungku berdegup lebih kencang ketika kusadari hal ini. Aku terus mencari-cari dengan senter dan kemudian menyadari dengan kengerian bahwa tidak ada jendela satu pun.

“Tidak. Tidak tidak tidak tidak tidak. Sial sial SIAL!”

Aku mendengar Ubloo mendekati pintu dari ruangan sebelah. Aku berlari ke sudut ruangan dan berbalik berhadapan dengannya.

Perlahan kulihat belalainya muncul di kusen pintu, kemudian kepalanya, kedua mata hitamnya yang besar dan mengerikan menatapku, aku terpojok seperti seekor tikus yang terperangkap.

Aku menggenggam gagang revolver dengan erat dan tubuhku merosot pada dinding. Ini adalah akhir. Ini adalah akhir dari Thomas Abian. Dokter Abian si genius yang dipercaya menyelamatkan Andrew Jennings beberapa hari lalu.

Aku mulai menangis.

“Akhir adalah awal.” Kataku sambil menangis.

Ubloo memasuki ruangan dan perlahan merangkak menuju ke arahku.

Akhir adalah awal. Sungguh cara yang bodoh untuk mengatakannya. Aku menggelengkan kepala dan air mata menetes ke pangkuanku.

Aku bisa mendengar Ubloo semakin dekat sekarang.

Aku hanya akan menjadi petunjuk menyedihkan. Aku berpikir demikian ketika aku duduk tak berdaya di sana, menangis seperti bayi. Dan sebenarnya berharap untuk-

Dan kemudian kusadari.

Monster ini tidak memakan keputusasaan, atau kesedihan, melainkan harapan.

Dia terus membiarkan kami tetap hidup cukup lama untuk melihat apakah kami selamat, dan kemudian mengakhiri semuanya.

Papan lantai di sekitarku berderit ketika Ubloo semakin dekat.

Robert merasa masih ada harapan ketika dia menemukan buku itu, Andrew ketika aku memberinya cyproheptadine, aku ketika menemukan tempat ritual beserta catatan di bawah lantai, dan pikiran tentang keberadaan roh baik.

Namun kebanyakan dari keseluruhan, harapan ketika dia akhirnya mendatangi kami, kami akan dibangunkan.

Aku mulai menangis lebih keras karena semuanya menjadi masuk akal.

Kutukan yang sempurna. Dia akan semakin kuat ketika orang yang dikutuk berpikir bisa mengalahkannya. Akhir adalah awal setelah semua yang terjadi. Akhir dari hidupku adalah awal dari rasa laparnya untuk memberi kutukan pada orang lain.

Aku membuka mata dan menatap Ubloo. Kepalanya hanya berjarak sekitar satu kaki dari tempatku terduduk. Dia tahu, entah bagaimana dia tahu akan mengambil apa yang dia inginkan.

“Seharusnya aku membiarkan dia menguburku.” Tangisku sambil mengangkat revolver.

Kumasukkan moncong revolver ke dalam mulutku dan merasakan gigiku menggigitnya.

Aku membuka mataku cukup lama untuk melihat belalainya mengulur ke depan, untuk melihat refleksi menyedihkan diriku di mata hampanya yang gelap, untuk merasakan jariku menggerakkan pelatuk, dan kilatan cahaya menerangi kegelapan dan kesunyian ruangan. Gema terakhir dari pikiranku adalah bahwa seseorang yang bernasib malang akan menemukanku di sini.

Credit To – DifferentWind

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Ubloo part one bisa ditemukan di sini
Ubloo part two di sini
Ubloo part three di sini
Ubloo part four di sini
Ubloo part four and half di sini
Ubloo part five di sini
Ubloo part six di sini
Ubloo part seven di sini

1 komentar:

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna