Kamis, 15 Maret 2018

Ubloo, Part Two

Catatan: Ini adalah bagian kedua dari Seri Ubloo. Bagian pertama bisa ditemukan di sini; link menuju bagian selanjutnya ada di bawah artikel.

“ITU PUTRA KESAYANGANKU! YA TUHAN JANGAN!”



“Kubilang MUNDUR dasar wanita JALANG!” Polisi itu memukul mulut Ny. Jennings dengan tongkat pemukul diikuti suara yang memuakkan.

Aku mendengar tangisannya ketika dia terkena pukulan itu, dan melihat beberapa giginya terlempar, berdentum di kaki petugas polisi. Kemudian, mereka memukulinya dengan tongkat di bagian punggung secara bergantian. Dia masih memohon agar mereka tidak membawa pergi putranya, namun mereka mengabaikannya, dan terus tertawa. Tertawa seperti orang gila, itu membuat perutku terasa sakit.

Kemudian petugas medis darurat muncul dari bangunan apartemen, mendorong mayat Andrew dengan meja jenazah. Mereka mendorong dengan kikuk, lengan Andrew terlihat dari balik selimut putih saat di anak tangga pertama karena guncangan yang dihasilkan. Aku menyaksikan tubuh tak bernyawa itu melambung dari meja dan jatuh ke bawah, selimut putih yang menutupi tertiup angin sehingga mayat Andrew terlihat sepenuhnya.

“Oh, dasar kau pecandu bodoh sialan, tidurlah sebentar sementara kami mengerjakan TUGAS sialan ini!” Dengan kata terakhir, teknisi medis darurat itu menendang mayat Andrew di bagian perut.

Aku melihat tubuhnya tersentak dan bergerak. Teknisi medis darurat lainnya juga ikut bergabung, keduanya menendang dan menginjak-injak mayat Andrew. Aku mencoba berteriak pada mereka untuk berhenti melakukannya, namun ketika aku merasakan pita suaraku bergetar di dadaku, tidak ada suara yang keluar. Aku menyaksikan salah satu teknisi medis darurat mengambil batu besar dari petak bunga dan membawanya ke tempat di mana tubuh Andrew terbaring. Teknisi medis darurat lainnya menelentangkan tubuh Andrew dan aku berteriak dengan lebih keras ketika aku melihat batu besar itu menghantam wajah Andrew, namun tidak seorang pun yang mendengar. Aku mendengar suara tengkorak retak yang mendalam. Kepalanya memutar, menghadap tepat ke arahku, berdarah dan hancur.

Kemudian aku melihat matanya terbuka, mata hijau melotot yang dikelilingi oleh warna putih bercampur merah.

“AKHIR ADALAH AWAL DOKTER.” Katanya padaku dengan setengah rahang yang melekat. “AKHIR ADALAH AWAL.”

Dan kemudian aku mendengar dia mengatakannya. Lembut namun nyaring, kecil namun tegas, tajam seperti pisau namun tidak menyakitkan seperti air.

“Ubloo!”

Aku terbangun dari tidurku, terengah-engah dan berkeringat. Aku berada dalam kegelapan, tanganku meraba-raba meja di samping sampai aku menemukan senter. Aku menyalakannya dan mengarahkan cahaya senter ke sekeliling kamar, ke setiap sudut, mencari sesuatu, namun tidak ada apa pun di sana, kecuali kotak-kotak yang bertumpuk di kamar hotelku.

Aku menyalakan lampu tidur dan memeriksa waktu. Pukul 4:12 Pagi. Tidur selama tiga jam sepertinya masih bisa.

Aku membuka laci meja dan mengambil botol pil. Sudah tersisa setengah sekarang, aku harus segera menulis resep baru, waktu yang tepat untuk pindah lagi. Aku membuka botol dan memasukkan dua adderall ke dalam mulutku. Aku meraih segelas air yang telah kusiapkan dan meminum setengahnya.

Aku harus berkemas sekarang jika ingin memanfaatkan waktu yang memungkinkan untuk mencari hotel lain. Aku berdiri dan meregangkan kaki serta punggungku. Setelah meminum obat dan tidur selama beberapa jam aku bisa merasakan seolah tubuhku remuk. Aku berjalan ke meja rias dan memutar tutup botol gin. Aku meneguknya dan bergidik. Aku bukanlah penggemar gin namun minuman inilah yang terbaik untuk tidak meninggalkan bau alkohol pada napasmu. Ketika aku berbalik untuk mulai berkemas, aku melihat sekilas diriku di cermin dan mematung.

Mataku memerah dan kantung mataku kendur serta gelap. Rambutku acak-acakan sehingga membentuk jambul. Janggutku yang tadinya rapi kini menjadi berewok.

“Ya Tuhan…” Kataku dengan jeda. “Bagaimana bisa aku sampai begini?”

ENAM MINGGU SEBELUMNYA:

Tibalah hari di mana pemakaman Andrew Jennings berlangsung, tanpa kehadiranku. Sebagian diriku mengatakan bahwa hal ini dikarenakan aku malu untuk bertatap muka dengan Ny. Jennings, sebagian diriku yang lain mengatakan hal ini dikarenakan aku takut pada Andrew. Seminggu menjelang pemakaman, aku hampir tidak bisa fokus dengan pekerjaanku, suara yang kudengar pada malam itu terus membayangiku sebelum aku tidur.

Seminggu setelah itu, aku merespon dengan minuman keras dan imajinasi liar semakin menguasai diriku. Selain itu, aku bahkan tidak bisa tidur ketika hal itu terjadi, jadi tidak mungkin aku sedang bermimpi.

Kuputuskan bahwa aku akan pergi menemui Ny. Jennings untuk mengakhiri semua ini. Kantornya tidak jauh dari kantorku karena dia adalah seorang pemilik setengah kompleks apartemen di daerah Middlesex, dan aku memutuskan untuk cuti atas segala peristiwa yang telah kualami.

Ketika aku pergi menemui Ny. Jennings, itu adalah suatu hari yang sejuk di musim semi. Aku merasa gugup, sangat gugup. Di sekolah kedokteran, sebelum aku melakukan presentasi, aku akan meredakan keteganganku dengan minum satu atau dua sloki. Pagi itu aku juga melakukan hal yang sama, namun kukira seharusnya aku menambah porsi sarapanku karena pada saat aku keluar dari mobilku di depan gedung kantornya, kepalaku terasa pusing.

Di lobi, aku melihat seorang resepsionis muda yang manis. Kutanyakan padanya di mana aku bisa menemui Ny. Jennings dan dia dengan sangat sopan mengatakan di lantai tiga deretan satu. Aku naik lift bersama pria lain. Selagi kami berdiri di sana, aku mendengar dia mengendus udara sebanyak dua kali, kemudian menengok ke arahku. Sial, dia pasti bisa mencium bau alkohol dariku.

Ketika aku sampai di lantai tiga, aku menemukan air mancur dan meminum beberapa tegukan. Aku mengambil sepotong permen karet dari dalam saku dan mengunyahnya semenit sebelum aku mengetuk pintu Ny. Jennings.

Pintu terbuka dan matanya menatapku, aku melihat bahwa dirinya seperti ingin menangis.

“Oh, Dokter A.” Katanya, tanpa ekspresi apa pun. “Silakan masuk.”

Dia melangkah ke samping dan aku berjalan memasuki kantornya. Dengan segera aku menyadari bahwa dia sedang mengemasi barang-barang, kantornya praktis rapi kecuali untuk beberapa dokumen dan komputer.

“Mau pindah ya?” Tanyaku sambil setengah tersenyum, mencoba untuk menghibur suasana hatinya.

“Iya.” Jawabnya, sambil mengalihkan pandangannya dariku ke sekeliling ruangan. “Aku menemukan seseorang yang akan membeli semua propertiku. Biasanya akan mahal, tetapi aku memberi mereka harga yang cocok. Aku akan bepergian, berkunjung ke Eropa seperti yang selalu Robert dan aku inginkan.”

“Yah, kedengarannya menarik!” Kataku, sedikit terlalu antusias. Aku melihat kesedihan menguasai Ny. Jennings dan aku melanjutkan, mengganti topik pembicaraan. “Ny. Jennings, aku turut berduka atas kepergian Andrew. Dia adalah pemuda yang sangat cerdas.”

Hal ini mengakibatkan air matanya menetes.

“Seperti itulah dia.” Katanya sambil terisak. “Aku ingin mengucapkan terima kasih, Dokter, pada hari ketika dia meninggalkan kantormu, dia meneleponku dan mengatakan bahwa dia merasa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Terima kasih telah memberiku momen itu sebelum aku kehilangan dia untuk selamanya.”

Dia mulai menangis. Aku mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan gugup, dan mataku menemukan foto Ny. Jennings sewaktu masih muda, dia berdiri di samping pria tinggi dengan bahu lebar, dan seorang pemuda, Andrew yang tampan. Di sebelah Andrew ada seekor anjing berwarna keemasan sedang duduk, yang kusimpulkan itu adalah Buster. Aku teringat mimpi yang Andrew ceritakan padaku dan merasa gemetar. Aku berjalan menuju foto itu dan mengambilnya dari dalam kotak.

“Ini Robert, kah?” Tanyaku. Dia mendongak dari tangisannya dan menatap foto di tanganku.

“Oh, iya.” Jawabnya sambil berjalan mendekat. “Itu Robertku, dia pria yang tampan. Dan tentu saja itu adalah Andrew dan anjingnya, Buster.”

Aku merinding ketika dia mengucapkan nama itu. Sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa Ny. Jennings hanya tahu sedikit mengenai mimpi-mimpi yang dialami putranya. Aku menunduk ke kotak di mana aku mengambil foto itu dan melihat proposal untuk pembelian properti. Aku hendak membuang muka ketika melihat sesuatu yang menarik perhatianku.

“Ny. Jennings?” Kataku, tanpa mengalihkan pandangan dari kertas itu.

“Tolong, panggil aku Gloria saja. Aku tidak merasa seperti seorang Nyonya lagi.”

“Gloria, kupikir semua properti yang kau miliki ada di Massachusetts?” Dia mengerjapkan mata karena aku mendadak menanyakan hal itu.

“Yah, itu benar.” Jawabnya, sambil mengamati wajahku.

“Maaf, aku tidak bisa membantu tetapi kusadari bahwa proposal di sini, untuk properti di Louisiana, kan?” Dia terdiam selama beberapa detik dan kemudian aku melihat ingatannya kembali.

“Oh ya, itu adalah properti yang Robert cari. Dia menginginkan rumah Louisiana itu. Terus terang aku tidak tahu bagaimana caranya dia menemukan tempat itu. Kenyataannya, ketika dia mulai sering terbang ke sana di setiap akhir pekan, aku curiga bahwa dia selingkuh dariku, tetapi ketika aku bertanya apakah aku bisa pergi bersamanya dia tampak tidak merasa keberatan.” Dia mengambil proposal itu, membuka setiap halaman satu per satu sampai dia menemukan sebuah foto dan memperlihatkannya padaku.

Rumah itu sangat besar dan tua, dengan tiang-tiang besar yang membingkai di bagian depan, dan pagar hitam bergerbang yang mengelilingi pekarangan. Jendela-jendela itu terlalu gelap untuk dilihat namun sepertinya punya dua tingkat, hanya cukup lebar untuk terlihat dalam foto. Rumah itu tampak tidak terurus namun aku bisa melihat kenapa Robert tertarik dengan rumah ini, karena punya potensi untuk menjadi tampak indah.

Setelah mengamati foto itu selama beberapa saat akhirnya aku berbicara.

“Dan rumah ini…” Kataku. “Apakah kau menjualnya juga?”

“Wah, tidak, bukan kami pemiliknya Dokter.” Katanya, dia tampak terluka oleh kata-kata itu. “Robert telah pergi sebelum kami bisa menyelesaikan transaksi. Sangat disayangkan, padahal tempat itu begitu indah.”

Aku tidak tahu kenapa namun hatiku seperti tenggelam dengan kenyataan ini.



“Tetapi sebelum meninggal Robert sering pergi ke sana, kan?” Tanyaku.

“Iya. Begitulah.” Jawab Gloria. “Lucunya, Robert dikenal sebagai orang yang cepat menyelesaikan transaksi properti, terkadang terlalu cepat.” Katanya sambil tertawa kecil. “Sepertinya dia takut untuk melewati kesempatan itu.”

Dia mengamatiku yang sedang menatap foto rumah itu dengan saksama. “Kau sepertinya tertarik Dokter.” Katanya, sambil tertawa kecil lagi. “Kau mau pindah juga? Atau ingin terjun ke bisnis real estat?”

“Mungkin…” Jawabku dengan singkat.

“Baiklah, aku akan memberitahumu. Kotak itu dipenuhi informasi yang Robert kumpulkan tentang rumah itu, dengan beberapa kertas kerja lainnya. Aku hendak menyingkirkan semua ini jika kau tertarik menolong dirimu.”

Butuh beberapa saat untuk mencerna apa yang baru saja dia katakan.

“Yah, itu pasti.” Akhirnya aku berhasil menyimak. “Kedengarannya menarik Gloria, terima kasih.”

Aku mengambil kotak itu dan mulai berjalan dengan pelan menuju pintu.

“Katakanlah, aku melakukan ini hanya karena penasaran…” Kataku. “Siapa pemilik sebelumnya rumah ini?”

“Oh rumah itu tidak ada pemiliknya, tidak terurus ketika kami berkunjung.” Katanya. “Secara teknis rumah itu dimiliki oleh Bank dari Louisiana. Sebelumnya, rumah itu adalah sekolah.”

“Sekolah?” Tanyaku.

“Yap. Jika wanita yang menunjukkan pada kami properti itu jujur, rumah itu awalnya adalah sekolah bagi orang berkulit hitam di seluruh negara itu.”

Aku berdiri di sana selama semenit. Memikirkan tentang betapa ganjilnya semua hal ini. Kenapa Robert ingin membeli sebuah bangunan sekolah tua di Louisiana? Kenapa harus yang satu ini? Dan kenapa dia tidak menyelesaikan transaksi properti itu?

Ketika aku berbalik untuk pergi, aku mendengar Ny. Jennings memanggilku dari belakang.

“Oh, Dokter.” Katanya. “Satu hal lagi.”

“Ya?”

“Aku tidak akan bertanya–meskipun kupikir aku tahu sebabnya–tetapi jika kau ingin meminum minuman keras, minumlah gin.”

Aku terkejut.

“Maaf?”

“Gin, sayang.” Katanya. “Baunya tidak terlalu menyengat. Robert biasa meminumnya.”

Aku meninggalkan kantor itu dengan perasaan tersesat. Seolah bahwa segala yang terjadi hanyalah mimpi. Aku mengendarai mobilku menuju rumah dan langsung mempelajari kertas kerja Robert. Awalnya pekerjaan ini terasa sulit. Aku tidak terlalu mahir mengidentifikasi dokumen-dokumen real estat, jadi aku hanya mematung karena bingung, namun sekitar satu jam telah berlalu akhirnya aku mengerti.

Aku memisahkan kertas kerja itu di meja ruang makan. Dalam satu tumpukan aku memperoleh semua informasi tentang rumah itu. Ternyata rumah itu dimiliki oleh beberapa keluarga yang kaya raya pada awal tahun 1800-an. Faktanya, mereka adalah keluarga pertama yang pindah ke Louisiana setelah kami mendapatkannya dari Prancis. Tanggal ketika mereka mengubah tempat itu menjadi sekolah tidak bisa kutemukan, namun sepertinya kepemilikan Bank tidak terjadi sampai tahun 1960-an.

Aku duduk bersandar dan menggaruk kepala. Melihat ke dua tumpukan lainnya. Salah satunya adalah tulisan Robert atau orang lain yang tidak ada hubungannya dengan rumah ini dan satunya lagi hanyalah sampah. Aku berjalan ke tumpukan sampah itu dan mulai memasukkan kertas-kertas itu ke kotak lagi, satu per satu. Di separuh jalan, aku menemukan map manila yang sudah usang. Aku membuka penjepitnya dan mengeluarkan kertas-kertas yang ada di dalam.

Aku membolak-balik beberapa halaman pertama, dan melihat ada banyak perjanjian sewa untuk properti Massachusetts. Ketika hendak memasukkannya kembali aku melihat serangkaian angka di sudut halaman.

“12-4-21”

Aku mengeluarkan kertas ini dan mengamatinya. Kertas itu adalah perjanjian sewa apartemen studio di Cambridge. Ketika aku memeriksa kertas itu aku menyadari bahwa ada selembaran cek di bagian belakang. Bertuliskan angka $180,000.00, untuk dibayar kepada Cambridge Realty Trust Company. Dia telah membayar properti ini dalam jangka waktu selama sepuluh tahun. Ada sesuatu yang aneh. Kenapa salah satu pemilik apartemen terbesar di negara bagian menyewa apartemen orang lain? Aku menjatuhkan amplop itu ke meja dan mendengar suara berdenting. Aku mengambil amplop itu lagi dan membaliknya. Aku merasa ada sesuatu yang meluncur dari amplop dan jatuh ke tanganku, ketika aku melihatnya, aku menemukan sebuah kunci, dengan “Unit E335” yang tertera di atasnya. Aku memeriksa perjanjian sewa lagi dan tentu saja, alamat properti tertera di sana:

375 Broadway St. Unit E335 Cambridge MA

Aku mematung selama beberapa detik, dan kemudian mengambil mantel. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku ingin pergi ke tempat ini, namun aku merasa aneh untuk mengabaikan rasa penasaranku. Instingku mengatakan bahwa aku harus pergi ke sana dan aku percaya.

Aku sampai di apartemen itu dengan cepat dan menaiki tangga. Pintu depan dikunci dan aku mencoba menggunakan kunci sebelumnya. Kunci itu pas dengan lubang dan perlahan aku memutarnya. Aku merasa bahwa syarafku tegang. Aku memasuki lobi dan menemukan tangga. Aku berlari menaiki tangga lantai dua hingga aku mencapai lantai tiga. Aku membuka pintu dan cukup yakin, tepat di depanku adalah Unit E335. Waktu terasa seolah berhenti, dan aku hanya berdiri di sana menatap pintu ini. Pagi ini aku minum-minum, mencoba mencari penutupan, dan sekarang aku mengacak-acak benda-benda di sini, kemudian berjalan di atas jejak kakinya. Untuk siapa aku melakukan semua ini? Diriku? Robert? Andrew? Aku menghentikan pemikiran-pemikiran itu dari kepalaku. Ini hari libur—aku merasionalkan—aku hanya meluangkan waktu dengan bermain layaknya seorang detektif.

Aku berjalan ke pintu, memasukkan kunci ke lubang dan memutar kenopnya.

Pintu berayun ke dalam dan aku menatap pada sebuah ruangan yang luas. Aku menemukan saklar dan menyalakan lampu. Ruangan yang khas dengan apartemen studio. Dapur kecil dan kamar mandi menjadi satu dalam area yang luas.

Namun tidak ada perabot rumah di dalamnya.

Ruangan ini sepenuhnya kosong, dengan dinding yang telanjang, kecuali di tengah ruangan, apa yang tergeletak di atas lantai dan menghadap ke arahku, adalah sebuah brankas.

Aku berjalan dengan perlahan menuju brankas itu dan menyentuhnya. Logamnya terasa dingin. Aku mencoba untuk memindahkannya dan sulit dipercaya, benda itu sangat berat dan pasti tebal.

Aku berdiri di sana dan menatap pada benda itu, mempertimbangkan keganjilan dari semua ini. Kemudian aku berlutut, dan memasukkan tiga angka, dengan mengira bahwa itu tidak akan berhasil.

“12-4-21”

Aku mendengar mekanisme di dalamnya mengeluarkan bunyi klik dan jantungku berdegup kencang.

Perlahan, aku membuka pintu dan mengintip bagian dalamnya. Ada dua buku yang tergeletak di dasar brankas. Aku mengambil yang paling atas dan membaca sampulnya:

“Jurnal Pribadi Robert A. Jennings”

Tanganku gemetar. Aku mengambil buku yang satu lagi dan mengamatinya. Buku itu ditulis dalam bahasa asing yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku membuka sampulnya dan menemukan selembar kertas yang terlipat. Kuambil kertas itu, membuka lipatannya dan perutku terasa sakit seketika.

Seolah ini merupakan salinan dari gambar Andrew yang menarik perhatianku pada saat itu. Apa yang duduk di sana sambil menatapku dalam warna hitam dan putih, adalah monster mengerikan itu, Ubloo.

Aku tidak tahu apa yang pertama kali harus kulakukan, menutup buku atau bangkit untuk meninggalkan tempat ini. Aku tidak tahu kenapa, namun aku tidak bisa berada di ruangan ini lebih lama lagi. Aku tidak seharusnya menemukan benda-benda ini. Dengan buku-buku di tanganku, aku berlari keluar dari pintu apartemen bahkan tanpa menutup pintu di belakangku. Aku berlari langsung menuju mobilku, melemparkan semua buku di kursi penumpang dan melaju pulang. Sesampainya di rumah aku meraih buku itu kembali dan berlari masuk. Aku sampai di dalam dan membanting pintu, berlari ke meja makan dan melempar buku-buku itu ke atas meja.

Aku mulai membaca buku yang ditulis dalam bahasa asing. Buku tua yang penuh dengan gambar. Aku terhenti pada satu halaman yang berisikan gambar seperti Ubloo. Dengan panik aku membolak-balik sisa halaman buku itu namun aku tidak bisa memahami bahasa yang digunakan jadi aku membuangnya. Kemudian aku meraih jurnal Robert dan membuka halaman pertama.

“Namaku adalah Robert A. Jennings, dan selama setahun terakhir ini aku mengalami hal-hal paranormal dalam mimpiku oleh monster yang kusebut Ubloo. Aku tahu bagaimana kedengarannya, namun semua yang kutulis di sini tidak jelas untuk dibaca, karena aku takut dengan hidupku yang tidak akan lama lagi.”

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Ini pasti hanya mimpi. Mimpi yang aneh. Aku membolak-balik beberapa halaman berikutnya dan membaca catatan mimpi yang dialami Robert sungguh mengerikan. Mimpi di mana dia berdiri dan menyaksikan putranya melompat dari gedung bertingkat enam, hanya untuk menyemburkan darah pada trotoar di depannya lagi dan lagi. Mimpi di mana dia berjalan memergoki istrinya yang berselingkuh dengan tetangga, sementara putranya merekam apa yang terjadi, kemudian mereka berbalik ke arah Robert dan menghajarnya dengan kejam sedangkan istrinya hanya menyaksikan semua itu sambil tertawa. Mimpi di mana orang tuanya dibakar hidup-hidup sementara petugas pemadam kebakaran tertawa dan menganiaya istrinya. Hal-hal yang mengerikan. Bagaimana caranya pria ini menjalani hidup dengan memikul semua beban itu, aku tidak akan pernah tahu.

Dengan cepat aku membolak-balik halaman sampai tidak ada apa pun kecuali kertas kosong berwarna putih. Aku berhenti ketika mencapai akhir dan mengetahui bahwa Robert sudah meninggal sebelum dia bisa melengkapi jurnal ini. Perlahan, aku membalik halaman hingga aku mencapai halaman terakhir yang terdapat tulisan tangannya. Ketika membaca kata-kata itu aku menjatuhkan buku seolah buku itu terbakar dan aku mundur beberapa langkah ke belakang, menatap benda yang tergeletak di atas lantai.

Kata-kata mengerikan itu kembali terukir di sudut mataku.

“Akhir adalah awal”

Aku mondar-mandir di sekitar ruangan dalam jangka waktu yang lama dan berpikir betapa rumitnya segala yang terjadi. Kemudian, aku mendengar suara keributan dari arah dapur. Aku berjalan ke sana untuk memeriksanya dan kemudian kurasakan rasa sakit di belakang tengkorakku. Aku jatuh ke lantai dengan wajah yang mendarat lebih dulu dan kepalaku terasa seperti terbelah.

“Lihat sayang dia ADA di rumah!” Suara asing itu terdengar di telingaku. Aku melihat sepasang sepatu bot hitam berjalan di samping wajahku, dan dengan entengnya menendangku di bagian dahi. “Bangun Dok bangun!”

Dari tempatku terbaring aku bisa melihat sepasang sepatu bot. Aku melihat pria lainnya di sudut dapurku, berpakaian serba hitam dengan topeng ski, sedang menodongkan pistol ke kepala seorang gadis.

“Kumohon Dokter A! Tolong aku!”

Aku mengenali suara itu, tetapi dari mana suara itu berasal?

“Tutup mulutmu jalang, dia tidak bisa menolongmu!” Aku mendengar pria lainnya berkata kasar sambil mengayunkan dan menghantamkan pistolnya ke samping kepala gadis itu. Dia mulai menangis.

Penglihatanku sudah mulai terfokus dan kemudian aku menyadari siapa dia. Dia adalah Andrea, resepsionisku.

“ANDREA!” Teriakku, namun kemudian aku ditendang di bagian perut.

“Tidakkah kau mendengar kata temanku?” Katanya sambil berdiri di atasku sementara aku menggeliat kesakitan. “Kau tidak bisa menolongnya.”

Dia mundur selangkah dan menginjak-injakku, kurasakan sepatu botnya yang berat menekan tempurung lututku diikuti rasa sakit yang meledak di kaki. Aku berteriak dengan keras dan memegangi kakiku, namun ketika aku melakukannya pria itu hanya menendangku lagi, dengan lebih menyakitkan.

“Kumohon Dokter A! Tolong aku! Mereka mengatakan bahwa mereka akan membunuhku!” Andrea memohon dari belakang dapur.

“Dasar jalang, kubilang TUTUP mulutmu!” Aku mendengar suara pistol menghantam Andrea lagi diikuti isak tangisnya.

“Nah itu baru gadis cantik yang baik.” Kata pria pertama. “Memang benar kami akan membunuhmu. Tetapi pertama-tama, kami akan menyiksamu terlebih dahulu, dan kemudian, kami akan sedikit bersenang-senang.”

“Tidak kumohon, hentikan!” Aku mendongak tepat untuk melihat moncong pistol menyala, mendengar Andrea menjerit, kemudian suara jeritan dan tembakan seolah bercampur, aku mendengar semua itu di belakang kepalaku.

“Ubloo!”

Aku terbangun dalam kegelapan dan menyadari bahwa aku telah menjerit. Tenggorokanku terasa sakit dan kemejaku basah oleh keringat. Aku mulai panik. Aku menyadari sedang duduk di meja makan dan berlari untuk menyalakan lampu. Ketika lampu menyala, tidak ada apa pun di sana. Tidak ada kebisingan, tidak ada orang di dapur, tidak ada apa pun. Seketika aku ingat semuanya. Bagaimana bisa aku lupa? Setelah aku membaca jurnal Robert aku duduk dan memutuskan untuk memeriksa kertas perjanjian sewa lagi, yang tergeletak di depanku. Aku pasti tertidur ketika melakukannya, namun bagaimana bisa aku tidak ingat sedang duduk untuk melakukan hal ini?

Kemudian aku teringat percakapanku dengan Andrew. Bagaimana bisa Ubloo menyadari bahwa dia bisa menakut-nakutinya dengan microsleep dibandingkan mimpi normal. Bagaimana bisa cara itu lebih efektif. Aku terjebak dalam teori ini sehingga bahkan aku tidak menyadari apa yang terjadi, namun seketika, perutku terasa sakit. Ini tidak mungkin terjadi, tidak mungkin. Ini bahkan tidak nyata. Aku memaksa untuk terus memikirannya, namun aku tidak bisa. Tidak bisa.

Ubloo mengendalikan mimpiku sekarang.

Aku muntah di lantai ruang makan. Ini semua terjadi begitu cepat.

Aku melihat ke sekeliling ruangan dengan panik. Aku harus berkemas. Aku harus keluar dari sini. Mungkin jika aku lari, dia harus mengejarku terlebih dahulu. Ini layak untuk dicoba.

Aku bergegas ke kamar dan mulai mengumpulkan barang-barangku. Aku meraih koperku dan mengeluarkan buku resep obat. Aku pasti akan membutuhkan ini. Aku mulai berkemas dalam kegilaan bahkan sebelum aku menyadari bahwa aku tidak tahu ke mana aku akan pergi. Namun kemudian, pemikiran itu melintas di benakku.

Louisiana.

Aku akan terbang ke Louisiana. Aku mengemasi barang-barangku dengan ide ini namun aku mulai merasa muak memikirkannya. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk mengakui bahwa aku akan pergi ke sana untuk melanjutkan pekerjaan Robert. Aku belum bisa, aku tidak tahu.

Aku akan mengemudi.

Aku akan menginap di setiap hotel dan melakukan penelitian. Membaca Jurnal Robert, mencari tahu apa yang tertulis dalam buku lainnya, meneliti rumah yang ingin dibeli Robert. Terlalu banyak PR untuk terbang ke Louisiana. Aku harus mempelajari semua yang Robert tulis dan mencari tahu apakah aku akan mendapat kesempatan untuk menyingkirkan Ubloo.

6 MINGGU KEMUDIAN

Aku menarik koper di belakangku ketika mendekati meja penerimaan tamu.

“Sudah mau pergi Tn. Abian?” Kata gadis di belakang meja.

“Ya, maaf tetapi aku harus kembali melakukan perjalanan.” Kataku sambil tersenyum.

“Baiklah, sungguh menyenangkan punya tamu sepertimu. Aku selalu merasa aman ketika Dokter menginap di tempat ini bersama kami.” Dia membalas senyumanku.

Aku mengucapkan salam perpisahan dan berjalan menuju pintu. Aku melirik arlojiku. Pukul 7:01 Pagi. Sempurna. Aku akan sampai di Mississippi pada malam nanti. Kemudian aku bisa menemukan suatu tempat dan berharap bertemu dengan Eli, jika dia bersedia terjaga selarut itu.

Aku mengalihkan pandangan dari arlojiku.

Akan menjadi sesuatu yang luar biasa jika mengetahui apa isi buku i-

Dalam sekejap harapan itu hilang, namun aku tahu apa yang kulihat. Aku melihatnya. Aku melihatnya tepat sebelum itu menghilang di balik sudut bangunan.

Ada sesuatu yang menatapku, kepalanya berwarna abu-abu dengan kulit berkilau dan dua mata kosong hitam yang mendalam. Di bagian bawah kepalanya ada moncong panjang yang menggantung dan mencambuk ketika dia mundur.

Aku mematung di tempat dengan koper di tanganku. Aku hanya berdiri dan menunggu. Aku menunggu untuk bangun.

Namun aku tidak bisa.

Credit To – DifferentWind

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Ubloo part one bisa ditemukan di sini
Ubloo part two di sini
Ubloo part three di sini
Ubloo part four di sini
Ubloo part four and half di sini
Ubloo part five di sini
Ubloo part six di sini
Ubloo part seven di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna