Minggu, 25 Februari 2018

Ubloo, Part One

Catatan: Ini adalah bagian pertama dari cerita Ubloo. Link menuju bagian lainnya ada di bawah artikel.

Di kehidupan sebelumnya aku adalah seorang psikiater. Baiklah, aku akan bercerita. Sebelum hidupku hancur, aku adalah seorang psikiater, sebuah profesi yang bagus. Sukar untuk dikatakan bahwa psikiater adalah profesi yang “bagus” pada apa yang mereka lakukan, namun aku memulai bidang ini dengan lebih awal, mendapat banyak pengalaman selama beberapa tahun pertama dan tidak lama kemudian banyak klien yang berdatangan sehingga aku tidak mampu menangani jumlah sebanyak itu. Aku tidak akan mengatakan bahwa ada seseorang yang masuk ke kantorku untuk bunuh diri dan melakukan sesuatu yang sepenuhnya berkebalikan dalam satu hari, namun klien-klienku mempercayaiku dan merasa bahwa aku benar-benar membantu mereka, sehingga aku sangat direkomendasikan, dan tarifku memang terbilang mahal. Mereka mengatakan bahwa, aku adalah psikiater untuk pasien “kalangan menengah ke atas”.



Aku tidak tahu bagaimana caranya keluarga Jennings menemukanku, namun aku berasumsi bahwa mereka mengetahui alamatku dari psikiater sebelumnya, terkadang hal seperti ini terjadi. Seseorang berjalan melewati pintu rumahmu dan kau tidak bisa membantunya karena suatu alasan sehingga kau memberi rekomendasi. Suatu hari aku mendapat telepon dari Ny. Gloria Jennings, seorang pemilik real estat yang sangat kaya dan dia ingin aku bekerja dengan putranya, Andrew. Rupanya Andrew sudah pergi ke semua psikiater yang ada dan aku merupakan harapan terakhir mereka. Andrew adalah penyalahguna obat yang khas, racun pilihannya adalah heroin, dan sebagai orang yang bekerja dalam bidangku, menangani orang-orang seperti ini tentu membuat kepala pusing. Jika mereka tidak bersih, berkepala angin dan suka berbicara tidak jelas. Aku tidak mau menjadikan dia sebagai pasien namun Ny. Jennings menawarkanku tarif dobel sehingga aku tidak bisa mengatakan tidak. Ini adalah keputusan terburuk yang pernah kubuat.

Aku bertemu Andrew pada Senin pagi. Dari pengalamanku, jauh lebih mudah untuk menangani tipe orang ini sebelum mereka sempat memakai obat. Skenario terbaik mereka bahkan tidak muncul dan kau mendapatkan satu jam kosong, namun Andrew datang lima belas menit lebih awal. Dia memang terlihat seperti seorang pecandu heroin. Kantung mata di bawah matanya yang hijau begitu gelap, rambut acak-acakan, dan janggut yang tumbuh di wajahnya. Usianya mungkin baru memasuki 20 tahunan. Tubuhnya tinggi dan kurus, dia memakai baju polos dan celana longgar yang begitu mencolok. Aku mempersilakannya masuk dan menawarkan kursi. Dia duduk dan mulai menggosok-gosok tangannya, matanya melihat ke sekeliling ruanganku dengan begitu cepat.

Demi privasiku sendiri, aku akan menyebut diriku sebagai “Dokter A.”

“Jadi, Andrew.” Aku memulai percakapan. “Aku adalah Dokter A. Maukah kau menceritakan sedikit tentang dirimu?”

Untuk pertama kalinya dia melakukan kontak mata. Sejenak dia ragu dan kemudian berbicara.

“Oi, ini sudah sekitar delapan atau sembilan kalinya aku memulai dari awal, jadi aku hanya akan langsung ke intinya. Ibuku mungkin mengatakan bahwa aku adalah seorang pemakai. Aku memakai heroin dan kokain jika aku mendapatkannya.”

Aku membuka mulut untuk bertanya apakah dia pernah menggunakan keduanya sekaligus, untuk menjelaskan bahwa itu berbahaya, namun dia membantah.

“Tidak, aku selalu memakainya dalam waktu berbeda. Aku bukan orang idiot.” Katanya.

“Aku tidak berpikir kau orang idiot.” Kataku berbohong. “Aku sudah sering melihat pemakai dalam keseharianku. Percayalah padaku.” Andrew tidak berhenti menatapku. Aku menggeser posisi duduk dengan tidak nyaman dan menanyakannya lagi. “Kenapa kau memakainya?”

“Begini, pada malam di mana aku tidak ingin tidur aku memakai kokain, dan pada malam aku tidak ingin bermimpi, aku memakai heroin.” Ketika dia mengatakan semua ini dia menunduk menatap lantai, masih menggosok-gosok tangannya.

“Maaf, jadi pada malam kau tidak ingin tidur kau memakai kokain?” Tanyaku, untuk memastikan bahwa dia mengatakannya dengan jujur.

“Itu benar Dokter.” Katanya, masih menatap lantai.

“Dan kenapa kau tidak ingin tidur Andrew?”

“Karena, aku tidak ingin melihat Ubloo.” Jawabnya, sambil mengalihkan pandangannya ke arahku, dan mencatat reaksiku terhadap perkataannya.

“Maaf, siapa Ubloo?” (Diucapkan “Oo-blue”) Tanyaku penasaran.

Andrew menghela napas. “Ubloo adalah monster yang terkadang kulihat dalam mimpi, monster yang mengendalikan mimpi.”

“Dan bagaimana “Ubloo” ini mengendalikan mimpimu Andrew?”

“Yah aku tidak tahu apakah namanya memang Ubloo atau itu sebatas sebutan, namun hanya itu yang pernah dia katakan. Dan aku tahu bahwa dialah yang mengendalikan mimpi karena omong kosong ini terjadi dalam mimpiku ketika dia ada, tidak seorang pun yang pernah mengalami mimpi itu.” Katanya padaku, akhirnya dia melepas genggaman tangannya dan mengepalkan tangan ke sampingnya.

Ini mulai menarik, aku memutuskan untuk sedikit menggali lebih dalam dan mengajukan pertanyaan; “Dan hal-hal seperti apa yang kau mimpikan?”

“Lihatlah aku tidak gila. Semua ini tidak seperti aku hanya meminum minuman keras dan memimpikan hal-hal yang kacau ini. Dulu aku adalah seorang atlet bintang dan aku sedang dalam tahap untuk pidato perpisahan sebelum hal ini mulai mendatangiku.” Dia tampak sangat marah.

“Aku tidak berpikir bahwa kau gila.” Aku berbohong lagi. “Jika aku melakukannya, aku pasti sudah menyerah dan menyuruhmu pergi saja, aku adalah seorang psikiater, Andrew. Aku akan tahu orang itu gila atau tidak hanya dengan melihatnya.” Sepertinya perkataanku membuatnya sedikit tenang. “Tetapi kau perlu memahami bahwa aku perlu tahu segalanya sebelum aku bisa mendiagnosis bagaimana cara membantumu, jadi aku akan bertanya lagi; hal-hal seperti apa yang pernah kau mimpikan?”

Aku melihat dia mulai membuka diri, dan aku telah berhasil. “Hal-hal yang mengerikan.” Katanya. “Orang-orang dan berbagai hal yang kusukai, hanya hal terburuk yang bisa menimpa mereka.” Dia menunduk lagi.

“Hal-hal seperti apa, Andrew?”

“Waktu itu…” Dia menelan ludah dengan sulit. “Waktu itu aku bermimpi bahwa aku terjebak dalam kurungan, di ruang bawah tanah yang belum pernah kulihat sebelumnya, ada tiga pria bertopeng yang memperkosa dan memukuli ibuku.”

Ini mengejutkanku, dan dia menyadari bahwa aku sedikit tersentak. Aku kehilangan dirinya. “Lanjutkan Andrew.” Kataku menenangkannya, menutupi rasa terkejutku dengan tipu daya.

“Ibu berteriak memanggilku, aku hanya bisa menangis, setiap kali dia menangis meminta tolong, salah satu pria akan memukulinya, tidak peduli berapa banyak darah yang menyembur ibu terus berteriak, mereka terus memukuli dan memperkosa ibu.”

Pada titik ini aku menyela dan mengatakan bahwa orang biasa tidak memimpikan hal-hal ini. Mimpi-mimpi seperti ini jarang terjadi bahkan di antara psikopat paling parah sekalipun, dan sekarang aku mulai mengerti bagaimana Andrew telah sering berganti-ganti psikiater hanya dalam beberapa tahun. Bisa saja dia adalah bom waktu psikopat paling berbahaya dalam sejarah, atau dia mengalami gangguan tidur yang belum pernah kulihat di sepanjang karierku. Diagnosis profesional kelainan baru ini sangat tersamarkan oleh perkembangan seorang anak yang berpotensi membuat Ted Bundy terlihat seperti pencopet.

Aku terguncang namun aku berhasil untuk tetap tenang. Dalam situasi ini penting untuk tidak kehilangan rinciannya dan mengumpulkan semua fakta yang ada terlebih dahulu. “Bagaimana kau bisa tahu bahwa Ubloo adalah dalang dari mimpi ini?” Tanyaku.

“Karena di akhir mimpi, aku selalu mendengarnya mengeluarkan suara mengerikan itu; ‘oo-blue!'” Dia menirukan suara yang didengar dalam mimpi, dengan nada tinggi seperti yang binatang kecil keluarkan.

“Dan kau selalu mendengar suara ini? Begitukah caramu mengetahui bahwa dia ‘mengendalikan’ mimpimu?”

“Aku selalu mendengarnya, namun terkadang aku juga melihatnya, namun hanya sebentar, dan kemudian aku terbangun.”

“Yah aku paham. Bisakah kau menggambarkan Ubloo ini untukku Andrew?” Aku menyodorkan sebuah buku catatan dan pena. Awalnya dia terlihat bingung, mungkin karena aku (baginya) percaya dengan semua yang dikatakannya, namun dia meraih buku catatan dan mulai mencoret-coret. Aku melirik arlojiku, dua puluh menit telah berlalu, tidak buruk, kemudian aku memandangi langit biru yang cerah di jendela. Aku mendengar suara pena membentur meja dan buku catatan yang disodorkan kembali padaku. Aku melihat pada buku catatan dan dadaku terasa sesak diikuti jantung yang berdebar kencang.



Makhluk itu memiliki moncong panjang yang menjuntai, hampir seperti belalai gajah dengan lidah yang terjulur. Tidak ada fitur di wajahnya kecuali dua mata lonjong berwarna hitam. Makhluk ini memiliki enam kaki dan batang tubuh panjang yang ramping. Makhluk ini membungkuk, bagian belakang dan tengah lututnya sedikit berada di atas tubuhnya, jelas makhluk ini akan menjadi sangat tinggi jika berdiri. Keenam kakinya mencuat, ke segala arah, berjauhan dari yang lain. Dua kaki depannya jauh lebih panjang, dan hanya memiliki dua jari yang sangat panjang di ujungnya, ke arah yang sama. Makhluk yang mengerikan. Dia tidak memiliki fitur yang terlihat berbahaya; tidak ada cakar dan gigi, tetapi tetap saja aku tidak bisa menahan diri untuk merasakan udara dingin di tulang punggungku ketika aku melihatnya.

Aku tersentak dan melihat kembali pada Andrew, yang menatapku dan menunggu dengan gelisah. Kupikir aku sudah bisa mendiagnosis. “Baiklah Andrew, kupikir aku tahu apa yang terjadi.”

Dia sama sekali tidak terlihat lega. “Oh?” Katanya dengan monoton.

“Ya, kupikir kau mengalami lu-”

“Lucid dream, ya aku juga berpikir sama.” Dia menyela. Aku hanya bisa duduk dengan terkejut. “Kau berpikir bahwa aku mengalami mimpi buruk traumatis tentang makhluk ini dan sekarang setiap kali aku lucid dream, aku secara tidak sadar memasukkannya ke dalam pikiranku, yang memicu skenario traumatis untuk diputar di depanku.”

Selama sepuluh tahun praktek, jarang aku tidak bisa mengatakan apa pun, dan duduk dengan mulut ternganga. Andrew menatap balik padaku dan aku melihatnya menyeringai.

“Sudah kubilang Dokter A, aku bukan orang idiot. Aku sudah melihat ini semua sejak pertama kali terjadi. Itu sebabnya aku mulai memakai. Aku mempelajari bahwa opioid bisa menahan lucid dream dan awalnya itu berhasil, namun dia terus bersikeras untuk masuk, dan semakin banyak aku memakai semakin keras dia untuk terus kembali, jadi aku mencoba kokain untuk membuatku tetap terjaga, namun aku menyadari bahwa keadaan semakin memburuk. Aku terlalu lama terjaga, dan aku mulai mengalami microsleep. Aku tidak tahu apakah aku sudah bangun atau bermimpi, dan dia pasti sudah mengetahui ini. Kau lihat, ketika pertama kali aku mencoba, aku bisa menyimpulkan dengan samar bahwa itu adalah mimpi. Aku menyadari bahwa mereka memiliki efek kabur, namun ketika aku microsleep, mimpi yang kualami terasa sangat nyata. Dia mempelajari hal ini, Dokter A, dia tahu bahwa aku lebih takut dengan microsleep dan entah bagaimana dia membuat setiap mimpi yang kualami sama jelasnya sejak saat itu.”

Terus terang aku tidak tahu harus berkata apa. Entah Andrew memang gila, atau begitu cerdas sehingga dia mampu menutupi kegilaannya sendiri. Aku mengajukan satu-satunya pertanyaan yang tersisa.

“Kapan kau pertama kali memimpikan Ubloo?”

“Tepat setelah ayahku meninggal.” Katanya, tatapannya beralih kembali ke lantai. Dia bunuh diri, dengan menembak kepalanya sendiri ketika aku masih berusia tujuh belas tahun. Malam itu setelah pemakaman, aku bermimpi bahwa aku berdiri di makamnya, memandang pada rumput. Segalanya terasa normal untuk sesaat namun tak lama kemudian aku mendengar suaranya, aku mendengar dia berteriak dari dalam tanah, berteriak meminta tolong, memintaku untuk menggali dan mengeluarkannya dari sana, tetapi aku tidak bisa bergerak. Aku membeku. Aku hanya berdiri di sana, mendengarkan dia menghantam tutup peti matinya dengan begitu keras sehingga tanah bergetar dan aku terus mendengar dia berteriak ketakutan tetapi aku tidak bisa bergerak, kemudian aku mendengarnya, ‘Ubloo’, dan aku terbangun.”

Aku hanya terduduk dan menatapnya cukup lama. Meskipun penolakannya terhadap lucid dream mengesankan, bukan hal biasa bagi anak-anak untuk menghubungkan kejadian traumatis dengan gambaran yang lebih mudah untuk dipahami pada apa yang sedang terjadi. Aku merasa tertarik lagi.

“Kapan pertama kali kau melihat Ubloo?” Dia terlihat ragu-ragu selama setengah detik, namun kemudian dia mulai berbicara.

“Waktu itu aku memimpikan tentang anjingku, Buster. Aku berdiri di belakang pagar tinggi, dan saat itu aku masih kecil sehingga aku tidak bisa memanjatnya. Buster berada di sisi lain jalan raya yang sibuk, hanya duduk di sana sambil menatapku, dan aku tahu–entah bagaimana aku tahu–dia akan menyeberang dan mendatangiku, aku tahu dia tidak akan berhasil. Dia berlari ke jalan raya dan seketika tertabrak mobil. Aku sudah berteriak dan menangis namun mobil itu tidak berhenti, hanya terus melaju. Buster hanya tergeletak di sana dan mengalami pendarahan. Aku melihatnya mencoba bangkit, dia mencoba merangkak maju, mobil lain melaju kencang dan menabraknya lagi. Aku terus menyaksikannya terlindas dan tercabik oleh mobil-mobil ini, mereka tidak pernah berhenti. Saat itulah aku pertama kali melihatnya. Aku mendengar suaranya tepat di telingaku, ‘Ubloo!’ kemudian aku berbalik dan wajahnya hanya berjarak satu inci dariku, mata hitamnya yang besar menatap lurus ke arahku, dan kemudian aku terbangun.”

Dia gemetaran sekarang, dan aku bisa mengatakan bahwa dia hampir pingsan. Aku harus berhenti menanyainya.

“Baiklah Andrew, kupikir hari ini cukup sampai di sini dulu.” Aku berdiri, berjalan ke mejaku dan mengambil buku resep.

Andrew hanya terduduk di sana dan berkedip padaku. “Kau akan… Kau akan memberiku sesuatu untuk menghentikannya?”

“Sekarang, aku akan memberimu sesuatu untuk menekan mimpimu. Sampai aku bisa mendiagnosis dari mana mimpi-mimpi ini berasal, penting bagimu untuk tidur di malam hari, dan membersihkan pikiranmu. Aku membantumu untuk membantuku membantumu, paham?”

Dia berkedip lagi. “Ya, aku paham, terima kasih. Jadi ada obat untuk menekan mimpi ya?”

“Secara teknis tidak ada. Tetapi ada obat baru yang disebut cyproheptadine yang digunakan dalam pengobatan alergi serbuk bunga, namun salah satu efek sampingnya adalah penekanan mimpi-khususnya mimpi buruk yang disebabkan oleh gangguan stres pasca-trauma.”

Aku terus menulis resep dalam keheningan, dan masih bisa merasakan tatapan Andrew pada diriku. “Tetapi bukan dari gangguan stres pasca-trauma, melainkan dari Ubloo.”

“Aku tahu Andrew” Aku berbohong untuk yang terakhir kalinya. “Tetapi ini akan membuahkan hasil untuk mengusir Ubloo dari mimpimu.”

Apa yang kukatakan membuatnya percaya. Dia terlihat sangat gembira dan berdiri dari sofa. Dia terus berterima kasih padaku dan mengatakan bahwa aku adalah dokter terbaik yang pernah dia temui. Akhirnya dia merasa memiliki kesempatan untuk melawan balik. Aku tidak bisa menahan senyum pada titik ini, kurasa ini adalah alasan mengapa aku tetap bertahan dalam praktek ini setelah sekian lama. Aku mengantarnya menuju pintu dan menjabat tangannya. Dia menatap tepat ke mataku, tersenyum untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dengannya, dan meninggalkan kantorku.

Itulah terakhir kalinya aku melihat Andrew Jennings dalam keadaan hidup.

Seminggu telah berlalu dan pada Senin berikutnya, Andrew tidak datang. Pada saat ini biasanya aku akan bernapas lega, mengatakan pada nona sekretaris bahwa aku sedang keluar dan minum kopi, namun aku tidak bisa menghilangkan Andrew dari pikiranku. Aku telah memikirkan mimpi-mimpi ini sejak dia pergi, dan terus terang aku hampir tidak sabar untuk mendapat kabar darinya. Aku meninggalkan kantorku dan mengatakan pada sekretarisku bahwa aku sedang keluar untuk membatalkan janjiku. Di tanganku, aku menggenggam tagihan Andrew Jennings untuk pertemuan terakhir kami, yang tertera alamat di atasnya.

Dia tinggal di sebuah apartemen milik ibunya yang berada di luar kota. Butuh waktu sekitar 15 menit perjalanan yang ditempuh dari kantorku. Aku berhasil menyelinap masuk lewat pintu depan ketika seseorang keluar dan menemukan namanya di daftar. Namanya tertulis di bagian bawah sehingga aku tahu bahwa dia belum lama tinggal di sini, mungkin ibunya telah mengatur semua ini agar dia lebih dekat dengan kantorku, untuk memudahkan perjalanannya.

Tempatnya berada di unit terakhir di lantai satu. Aku berjalan menyusuri lorong yang panjang sampai akhirnya aku berhenti di depan pintunya. Aku terdiam sejenak, memikirkan apa yang sedang kulakukan, namun aku semakin penasaran dan mengetuk pintu sebanyak tiga kali dengan keras.

Tidak ada jawaban. Tidak ada suara gerakan di dalam. Setelah aku mendengarkan dengan saksama, aku mengetuk lagi, namun lebih keras.

“Andrew, ini Dokter A. Bisa tolong buka pintunya?”

Masih tidak ada jawaban. Aku menggenggam kenop pintu dan terkejut, kenop pintu bisa kuputar. Aku merasakan berat pintu, dan aku tahu bahwa pintu tidak terkunci.

Aku tidak bisa mengatakan berapa lama aku berdiri di sana, sambil menggenggam kenop pintu, dan terus berpikir. Berpikir tentang bagaimana ini akan terlihat; Dokter yang masuk ke dalam apartemen Pasiennya. Dokter yang berpotensi menemukan Pasiennya dalam pengaruh heroin, atau overdosis. Overdosis heroin, namun mungkin juga karena obat baru yang diresepkan seminggu yang lalu. Namun apa yang lebih buruk, adalah mimpi-mimpi mengerikan yang dia ceritakan padaku, kini hanya pintu kayu yang memisahkan dia dan aku.

Aku menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu.

Hal pertama yang kulihat seperti perkiraanku, dan tidak ada cahaya kecuali lampu dengan watt rendah di sudut ruangan. Udara pengap dan bau keringat, benda-benda yang berserakan di atas meja adalah jarum, sendok dan kantung plastik kosong.

Aku berjalan melewati ruang tamu dan tidak melihat tanda-tanda keberadaan Andrew. Ada sebuah lorong di sebelah sofa. Aku mengeluarkan ponselku dan menyalakan lampu senter. Aku berjalan menyusuri lorong dengan perlahan, napas pendek dan tangan yang gemetaran. Seketika ada pintu di sebelah kiriku yang sedikit terbuka. Dengan hati-hati, aku mengintip dan menyorotkan senter ponselku ke dalam. Itu adalah kamar mandi. Cukup kotor namun bukan bagian terburuk yang kulihat. Tidak ada tanda-tanda pergulatan, tidak ada muntah di toilet, tidak ada tanda yang mengindikasikan overdosis.

Aku sedikit lega dan berjalan kembali ke lorong. Ada satu pintu yang tersisa, lurus ke depan. Pintu itu tertutup sepenuhnya, berwarna putih dengan kenop perak. Aku berdiri dalam kegelapan dengan senter ponselku dan mencari saklar lampu. Apartemen ini sudah tua. Saklarnya pasti berada di kamar Andrew, di balik pintu ini.

Menyadari bahwa semua ini tidak akan menjadi lebih mudah, dan setelah menenangkan diri aku mulai merayap maju ke pintu. Setiap langkah yang kuambil terasa seperti satu mil. Kakiku terasa kaku dan berat. Ketika aku sampai di pintu, terasa seperti satu jam telah berlalu. Aku membungkuk dan menatap pintu berwarna putih itu, aku mengangkat tangan dan mengetuk pintu dengan pelan.

“Andrew?” Tanyaku sambil mengetuk, pintu berderit dan dengan lembut berayun ke dalam. Melalui celah aku bisa melihat sosok seseorang, dan kemudian aku mendorong pintu agar terbuka sepenuhnya.

Andrew ada di atas lantai, bersandar dan duduk di sudut ruangan, kulitnya terlihat putih dan pucat, matanya yang berwarna hijau terang menatap lebar pada pintu yang baru saja kulewati.

Aku berdiri dan menatapnya dengan syok. Ini adalah pertama kalinya aku melihat mayat di luar peti mati. Tatapan kosong dan tak bernyawa. Aku melihat darah di atas karpet, kuku jarinya retak dan berdarah, terlepas dari jarinya di beberapa bagian. Entah bagaimana aku berhasil menemukan saklar dan menyalakan lampu, saat itulah aku melihatnya.

“AKHIR ADALAH AWAL”

Tulisan itu diukir pada kayu di sampingnya. Aku menatap tulisan itu cukup lama untuk bisa mengetahui apa yang terbaca ketika bau busuk tercium olehku. Bau paling busuk yang pernah kucium, pada saat itu semua tampak jelas dan aku merasakan mual yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.

Aku berlari secepat yang kubisa menuju lorong dan muntah seketika. Aku berdiri sambil membungkuk karena muntah ketika seorang wanita tua dari kamar sebelah membuka pintu dan tersentak melihatku.

“PANGGIL 911!” Teriakku padanya, dan muntah lagi. Aku mendengar suara pintu yang dibanting dan aku berusaha menyusuri lorong menuju lobi, berhenti setiap 20 kaki atau lebih untuk menahan muntah.

Ketika petugas datang, mereka mengatakan bahwa Andrew meninggal di tempat kejadian. Mereka pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini karena mereka tampak tidak terganggu sedikit pun.

Aku memberikan sebuah pernyataan kepada polisi dan mengatakan pada mereka bahwa dia adalah pasienku, aku sedang memeriksanya. Mereka tampak tidak terlalu curiga dan mengatakan padaku bahwa jika mereka ada perlu, mereka akan meneleponku. Aku memberikan kartu namaku dan berjalan menuju mobilku. Tak lama kemudian, aku mendengar decitan ban mobil di tempat parkir dan aku melihat seorang wanita keluar. Itu adalah Ny. Jennings. Dia menangis dan berteriak, sehingga beberapa petugas harus menahannya.

“ITU PUTRA KESAYANGANKU! YA TUHAN JANGAN!” Teriaknya sambil berusaha melawan polisi. Aku melihat semua itu, dan kemudian aku melaju keluar dari tempat parkir. Aku menelepon sekretarisku dan mengatakan padanya untuk membatalkan semua pertemuanku di hari itu, aku berhenti di toko minuman keras untuk membeli sebotol wiski dan melaju pulang. Sesampainya di rumah, aku duduk dan menenggak minuman dalam keheningan untuk waktu yang lama. Akhirnya aku menyalakan TV untuk menonton pertandingan bola dan memesan beberapa makanan, namun saat itu aku tidak nafsu makan.

Ketika aku selesai menghabiskan wiski, hari sudah larut. Aku berdiri dan terhuyung-huyung menyusuri lorong menuju kamarku, menendang melepaskan sepatuku dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku dengan wajah yang mendarat lebih dulu. Aku berbaring di sana memikirkan Andrew, tentang tubuh pucat tak bernyawa yang bersandar di sudut ruangan sambil menatapku dengan mata hijaunya yang lebar, dan tentang pesan terakhirnya “akhir adalah awal” itu terus bergema di otakku mencoba untuk menemukan sajak atau alasannya. Pikiranku semakin melambat dan kelopak mataku terasa semakin berat. “akhir adalah awal” kata itu dimainkan secara berulang di kepalaku. Aku merasa diriku hanya hendak tertidur ketika aku mendengarnya. Entah dari mana suara itu berasal.

“Ubloo.”

Credit To – DifferentWind

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Ubloo part one bisa ditemukan di sini
Ubloo part two di sini
Ubloo part three di sini
Ubloo part four di sini
Ubloo part four and half di sini
Ubloo part five di sini
Ubloo part six di sini
Ubloo part seven di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna