Sabtu, 20 Januari 2018

The Thing That Will Kill Me

Aku dibesarkan di sebuah kota kecil di Vermont. Kecil dalam hal populasi, bukan dalam hal ukuran—ada peternakan yang besar dan daerah berhutan, namun hampir tidak ada orang di sana. Lebih banyak sapi daripada manusia, cukup normal bagi kebanyakan kota kecil di Vermont. Jadi, sudah jelas, ini merupakan hal yang paling tidak menyenangkan bagi anak yang sedang sakit di musim dingin yang membeku dan mengerikan, musim panas yang nyaman dengan penduduk Vermont yang membosankan bahwa tidak ada banyak anak yang seusia denganku.



Satu-satunya teman dekatku adalah Tina, yang setahun lebih tua dariku. Kami menghabiskan sebagian besar waktu kami bersama, terus bermimpi tentang kehidupan di luar Vermont. Orang-orang di kota kami cukup aneh. Berbeda. Berbeda dengan yang di tempat lain. Satu hal yang tidak kusadari tentang kota kecil itu sampai aku pindah ke kota adalah betapa sangat takhayul. Mereka percaya dengan hal-hal aneh, termasuk paranormal. Mereka percaya pada Luvia.

Luvia adalah wanita tua berdarah Prancis-Kanada yang pindah ke Vermont ketika menemui suaminya. Dan semua orang di kota mengira bahwa dia adalah seorang peramal. Cenayang. Bahkan orang tuaku juga percaya. Suatu hari, ibuku kehilangan cincin pernikahannya. Dia sudah mencari ke mana pun. Mereka memanggil Luvia, dan dia segera berkata “di bawah kayu tua yang membusuk”. Mereka mencari ke halaman belakang, ayahku mencari di bawah sebuah piano tua yang membusuk. Ibuku pun membantunya. Cincin itu ada di sana. Di bawah kayu tua yang membusuk.

Setelah mendengar banyak tentang Luvia dari penduduk kota yang menganggapnya 100% dapat dipercaya, Tina dan aku memutuskan untuk pergi menemuinya pada suatu petang dan mencoba untuk mencari tahu apakah dia dapat menceritakan tentang kami “di masa depan”. Aku sedikit ragu-ragu. Namun ini lebih seperti lelucon bagi kami.

Jadi, kami mampir ke rumahnya di sore itu, dan dia membuka pintu ketika kami menyusuri jalan setapak menuju rumahnya, bahkan sebelum kami sempat mengetuk. Tina menyikut tulang rusukku dan berbisik bahwa Luvia sepertinya memang seorang cenayang—dia merasakan kehadiran kami yang berjalan menuju pintu! Aku berbisik balik bahwa itu mungkin karena rumahnya punya banyak jendela, dan dia melihat kami datang dari kejauhan. Aku mulai merasakan perasaan aneh ketika kami mendekatinya. Dia sangat tua, kecil dan… kurus. Kantung mata, tulang pipi dan rongga dadanya begitu mencolok. Dia tampak sedikit mengerikan. Namun dia tersenyum, menyambut kami dengan ramah, dan aku mulai berkata ramah padanya. Tidak ada yang aneh tentang dia atau rumahnya, dia bukanlah “cenayang menyeramkan” bagiku—dia hanyalah wanita tua yang berpakaian seperti seorang cenayang di rumah bergaya kabin. Seperti rumah nenek kebanyakan, merajut, majalah keluarga, dll.

Kami mengatakan padanya bahwa kami tertarik dengan kemampuannya “membaca masa depan”, dan memberi sekitar dua puluh dolar padanya. Dia membawa kami ke meja dapurnya, dan bertanya siapa di antara kami yang ingin lebih dulu.

“Bisakah Anda menceritakan tentang kisah cinta saya di masa depan?” tanya Tina.

Luvia tidak memiliki bola kristal, kartu tarot, ataupun daun teh. Dia hanya duduk sambil memejamkan mata dan diam selama sekitar dua menit. Kemudian, menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Michael Carten.”

Tina menatapnya selama beberapa saat, sampai Luvia mengulangi: “Michael Carten. Itu adalah pria yang akan menikahi kamu. Michael Carten."

Tina berterima kasih padanya, dan mengulangi nama itu beberapa kali. Michael Carten. Michael Carten. Michael Carten. Luvia kemudian berpaling ke arahku.

“Apa pun yang Anda katakan, saya ingin mendengarnya,” kataku. “Tidak harus tentang kisah cintaku.”

Luvia menutup matanya selama beberapa saat, namun informasi tentang diriku lebih cepat didapat dibandingkan penglihatannya terhadap suami Tina. Dia menatap lurus ke mataku, meraih tanganku dan berkata:

“Sesuatu yang akan membunuhmu berganti kulit.”

“Sesuatu yang akan membunuhmu mengasah giginya.”

“Sesuatu yang akan membunuhmu membersihkan darah dari cakarnya.”

“Sesuatu yang akan membunuhmu mengumpulkan kulit.”

“Sesuatu yang akan membunuhmu… kamu tidak akan melihatnya datang.”

Kami bertiga duduk dalam keheningan selama beberapa saat. Aku merasa sakit. Gemetaran. Luvia tampak seolah menyesal karena mengatakan hal itu padaku. “A… apa ada yang bisa saya lakukan untuk menghentikannya?” tanyaku. Luvia mengembalikan uang kami ke meja.

“Tidak ada pungutan biaya untuk ramalan kali ini.”

Tina dan aku meninggalkan rumah Luvia. Kami tidak mengucapkan sepatah kata pun dalam perjalanan pulang. Tina baru saja menemukan nama pasangan cintanya. Aku mendapat pesan samar yang mengerikan tentang kematianku. Aku masih berusia dua belas tahun. Aku sangat ketakutan.

Ketika Tina hendak meninggalkan ambang pintu rumahku, dia mencoba untuk menghiburku. “Bagaimana dia bisa tahu dengan siapa aku akan menikah?” tanya Tina. “Dan tidak untuk monster yang akan membunuhmu. Berganti kulit, berdarah, gigi dan cakar yang tajam. Tidak ada… monster yang akan membunuhmu.”

Selama bertahun-tahun aku memikirkan ramalan itu. Sesuatu yang akan membunuhku. Aku hampir bisa merasakannya. Merasakannya di mobil, di antara pepohonan pada malam hari. Di bawah salju yang dingin. Menunggu di luar jendela rumahku. Dengan setiap langkahku yang waswas. Setiap malam sebelum aku tidur, aku hampir bisa melihatnya. Seperti yang dia katakan. Aku melihat kulitnya yang terkelupas, dan darah yang berlumuran.

Namun aku tidak pernah menemukannya.

Ketika aku berusia delapan belas tahun, aku kuliah di California, untuk menjauh dari salju yang sangat dingin di kota itu dan sesuatu yang akan membunuhku. Aku berhenti merasakan keberadaannya. Jantungku berhenti berdebar setiap kali aku berjalan sendirian di malam hari. Mungkin, apa pun itu, dia tinggal di Vermont. Mungkin dia bukanlah monster sama sekali. Orang-orang di California akan tertawa ketika aku menceritakan kisah itu. Hanya seorang nenek berdarah Prancis-Kanada biasa.

Ketika aku berusia 27 tahun, aku mendapat undangan pernikahan di kotak suratku. Tina akan menikah! Ini adalah kabar pertama yang kudengar darinya. Aku masih tinggal di California, dan hampir tidak pernah berkomunikasi dengannya. Terasa seperti kehidupan masa lalu yang kembali.

“Anda diundang ke pesta pernikahan Michael Carten dan Tina—”

Tunggu. Tidak. Jelas… aku ingat dengan nama itu. Michael Carten. Dan Tina sudah mendapatkannya. Ini pasti tidak ada hubungannya dengan ramalan Luvia. Ramalannya tidak mungkin benar. Mereka tidak ada. Tidak ada yang namanya peramal. Hal seperti itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata.

Aku pergi ke pesta pernikahan itu. Tina, Michael, dan aku tertawa tentang segala yang terjadi—si cenayang “tahu”! Dia “meramalkan” ini akan terjadi! Tentu saja tidak. Tina dan Michael memutuskan bahwa ini tidak lebih dari sekedar cerita lucu untuk diceritakan pada anak mereka di masa depan.

“Beritahu kami jika kau bertemu dengan monster bergigi tajam yang ‘mengumpulkan kulit’, ok? Kami akan berpikir bahwa itu hanya kebetulan.”

Aku meninggalkan pesta pernikahan itu dengan yakin bahwa “sesuatu yang akan membunuhku” tidak nyata. Monster itu tidak ada. Aku melihat ke balik pepohonan dan belakang mobil. Tidak ada sesuatu yang menantiku. Tidak ada yang bersiap untuk mengulitiku. Aku tidak tahu mengapa aku terus merasa takut.

Hal terbaik tentang pernikahan Tina adalah kami kembali dekat setelah sekian lama tidak bertemu. Kami sudah berbeda karena kami bukan anak-anak lagi, namun kami masih berhubungan tanpa kami sadari. Dia bahagia, tinggal di Vermont bersama Michael. Dia menceritakan segala yang terjadi di kota itu. Populasi perlahan meningkat. Mereka membangun sekolah baru. Banyak bayi yang lahir.

Luvia sudah sakit-sakitan.

Bertahun-tahun kemudian, aku semakin jarang menerima panggilan telepon dan email darinya. Dia sepertinya selalu sibuk. Dengan segera aku sepenuhnya tidak mendapat kabar. Aku merindukannya, tentu saja, namun aku punya kehidupan sendiri. Dan aku bisa pergi ke rumah masa kecilku kapan pun aku mau. Pada suatu musim dingin, aku mengunjungi rumah orang tuaku di kota itu untuk berlibur, dan memutuskan untuk mampir ke rumah Tina. Tidak biasanya aku melakukan ini, namun dia tidak pernah menjawab teleponku, dan aku sangat ingin menemuinya.

Aku memarkirkan mobilku di depan rumah mereka. Ada dua mobil yang terparkir di sana, jadi kupikir mereka berdua ada di rumah. Aku berjalan ke pintu dan membunyikan bel. Michael membukanya, dia memakai mantel yang tebal, seolah baru datang dari luar. Dia mengajakku masuk. Dia tampak sangat terkejut melihatku, dan bertanya apakah aku berbicara dengan Tina akhir-akhir ini.

“Belum. Selama beberapa bulan ini aku belum berkomunikasi dengannya. Maaf mengganggu, tidak biasanya aku mampir seperti ini, tapi apakah aku bisa bertemu dengannya?”

“Oh, kupikir kau sudah tahu. Aku akan memberitahumu. Dia meninggalkanku. Beberapa bulan yang lalu. Hanya pergi begitu saja. Tidak pernah berbicara denganku sejak saat itu.”

“Ya Tuhan,” kataku. “Maaf, aku tidak tahu.”

Dia melepaskan mantelnya dan menggantungnya di rak mantel yang berada di dekat pintu. “Bisakah aku menggantung mantelmu?” tanya Michael. Aku menjawabnya bahwa tidak apa; karena aku tidak akan berlama-lama. Aku sangat terkejut karena Tina bisa melakukan hal seperti itu. Michael adalah pria yang baik.

“Maaf—sebentar lagi aku akan tidur. Aku harus bekerja besok. Kau tidak keberatan untuk menunggu?”

Dia melepaskan sepatu dan switernya, berjalan menuju kamar mandi. Aku duduk. Melihat-lihat rumah mereka.

“Tentu saja aku tidak keberatan. Apa kau tahu ke mana dia pergi?”

“Tidak,” teriaknya dari kamar mandi, dengan mulut penuh pasta gigi. “Dia tidak pernah meneleponku sejak dia pergi.”

“Itu terdengar buruk, maaf.”

Dia mulai membersihkan giginya dengan benang, dan ketika dia melihatku memandang ke arahnya dari kaca, dia menutup pintu untuk privasi. Ketika aku mendengar shower mulai menyala, aku mengeluarkan ponselku, kupikir aku akan melihat-lihat pesan terakhir yang Tina kirim padaku, untuk melihat apakah dia memberi petunjuk ke mana dia pergi. Apa pun petunjuknya. Ponselku jatuh ketika aku mengambilnya dari dalam tas, dan aku mencari ke bawah sofa. Ketika aku meraba-raba di bawah sofa, tanganku menyentuh sesuatu yang lain. Gumpalan rambut yang panjang.

Aku menarik gumpalan rambut itu. Ini sangat aneh, seperti rambut manusia.

Warnanya cokelat, seperti rambut Tina.

Rambut dengan kulit kepala yang masih melekat.

“Sesuatu yang akan membunuhmu mengumpulkan kulit.”

Aku berbalik melihat ke pintu kamar mandi. Michael masih mandi.

“Sesuatu yang akan membunuhmu membersihkan darah dari cakarnya.”

Menyikat dan membersihkan giginya dengan benang.

“Sesuatu yang akan membunuhmu mengasah giginya.”

Melepas sepatu dan pakaian terluarnya.

“Sesuatu yang akan membunuhmu berganti kulit.”

Ya Tuhan. Sesuatu yang akan membunuhku.

Aku mendengar shower di kamar mandi dimatikan. Gerakan dari dalam kamar mandi.

Aku berlari. Keluar dari pintu. Membanting pintu. Berlari ke mobilku. Gemetaran. Memperhatikan pintu. Tanganku meraba-raba kunci. Gemetaran. Gemetaran. Pintu rumah terbuka. Mobilku menyala. Aku melaju. Aku tidak melihat ke belakang. Aku melaju. Sepanjang malam. Aku tidak berhenti kecuali jika harus. Aku tidak tahu apakah dia mengikutiku. Aku tidak tahu apa yang baru saja kulihat. Jantungku mulai tidak berdetak dengan normal lagi hingga aku melintasi dua negara bagian. Aku pulang.

Beberapa bulan kemudian. Aku menelepon polisi. Mereka melakukan investigasi. Tidak ada yang ditemukan. Mereka yakin bahwa Tina hanya meninggalkannya. Pindah ke suatu tempat.

Mungkin dia memang pindah. Mungkin dia pindah ke suatu tempat yang jauh. Tempat yang aman. Mungkin tidak ada yang menungguku. Mungkin Michael hanya pria malang yang ditinggal istrinya. Mungkin tidak ada sesuatu yang berada di balik pepohonan, di bawah salju, di bawah mobil. Di luar pintu rumahku pada malam hari. Dan jendela. Mungkin hal itu tidak ada. Tidak ada.

Aku ingat dengan ramalan Luvia yang terakhir.

Tidakkah dia mengucapkannya?

“Sesuatu yang akan membunuhmu… kamu tidak akan melihatnya datang.”

Written by Ashley Rose Wellman

Translator: Gugun Reaper

Source: Reddit NoSleep

1 komentar:

  1. Fak .. kurang mengerti kesimpulan nya. ... Ada yang bisa kasih tau ?

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna