Jumat, 12 Januari 2018

The Thing in the Window

Aku sangat ketakutan.

Makhluk itu sudah berada di sana selama hampir seminggu. Sosok di balik jendela. Dia tidak mempunyai wajah, hanya kulit yang membentuk tubuh manusia, dan dia menekan wajahnya pada jendela. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di sana, dan aku tidak tahu bagaimana cara menyingkirkannya.



Awalnya kukira ini hanya lelucon, ada boneka atau manekin yang diletakkan di sana untuk membuatku takut. Namun aku menyadari keanehan ketika aku keluar dari rumah untuk menyingkirkannya... sesuatu di sana sudah tidak ada. Aku mengangkat bahu, berpikir bahwa seseorang telah menyembunyikannya ketika aku berjalan ke pintu. Namun ketika aku masuk kembali dan melihat ke jendela yang sama, sosok itu masih ada, menatapku. Aku berjalan bolak-balik di rumahku, berteriak pada siapa pun di sana untuk menunjukkan diri, namun tidak ada orang di sana. Makhluk itu tidak memiliki rambut dan telanjang, dia tidak terlihat memiliki mata, atau bahkan wajah sama sekali. Namun kepalanya menoleh ke arahku ketika aku memasuki ruangan. Ketika aku duduk di depan komputerku, aku bisa merasakan kebencian dari sosok tak berwajah itu di leherku. Tetapi ketika aku berbalik, dia menatap ke arah yang lain.

Akhirnya pada hari Kamis, aku mencoba untuk membuka jendela, namun tidak bisa. Kupikir tangan makhluk itu yang menahannya. Namun aku melihat wajahnya dengan jelas. Mata dan mulutnya ada di balik lapisan kulit wajahnya, menonjol keluar.

Menatapku sambil tersenyum.

Aku melayangkan tinju ke kaca, dengan maksud untuk menyingkirkan monster di sana. Aku tahu bahwa pukulanku cukup kuat. Kaca itu seharusnya sudah retak.

Tetapi tidak. Kaca jendela bergetar di bawah tanganku dan tidak pecah. Senyum makhluk itu semakin lebar dan lebar dan melebar, sampai kupikir kepalanya akan terbelah menjadi dua. Makhluk itu mengangkat tangannya dan menghantam jendela dengan kepalanya. Dia mengejekku. Namun aku melihat celah kecil di bagian yang terkena hantamannya, dan aku mundur.

Mustahil aku menginginkan senyuman seperti itu di ruangan yang sama denganku.

Jadi aku mengambil lakban, dan mulai menutupi kaca jendela. Aku berusaha untuk tidak melihat langsung ke makhluk itu; aku hampir pipis di celana karena dia terus-menerus mengawasiku. Tetapi aku tidak tahan lagi. Aku melihat sekilas wajahnya yang tertutup kulit. Sedikit mengintip.

Dia terlihat marah.

Kini seringainya menganga dan memperlihatkan giginya. Kulit di mulutnya robek dan aku bisa melihat tenggorokannya. Suara geramannya mulai memenuhi rumah, dan retakkan kaca mulai menyebar seperti es yang pecah. Aku mengelupas lakban dari jendela. Geramannya berhenti, kulitnya yang robek telah pulih, dan dia mulai tersenyum lagi.

Sekarang sudah malam, dan kebisingan belum terdengar lagi. Tidak ada suara, tidak ada keributan, tidak ada retakkan kaca. Suasana sudah tenang sekarang.

Namun aku bisa merasakan cakar yang tajam di sandaran kursiku. Aku bisa mendengar kulitnya yang membentang ketika dia tersenyum.

Dia sedang mengawasiku mengetik tulisan ini.

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna