Senin, 08 Januari 2018

The Seer of Possibilities

Terkadang, makhluk-makhluk dunia lain menemukan cara yang menarik untuk mencoba berhubungan denganmu. Mereka mungkin menggunakan Papan Ouija, atau mungkin datang ke dalam mimpi, terkadang juga dengan perantara orang lain. Masing-masing dari mereka punya gaya dan preferensi tersendiri. Salah satunya, yang berbicara dengan Jack melalui komputernya, atau, lebih tepatnya komunikasi ini terjadi melalui teks di layar monitor. Ini terjadi untuk yang pertama kalinya, Jack sedang duduk di depan komputernya memainkan permainan Solitaire di internet. Lampu merah yang berkedip di router menunjukkan bahwa koneksi internetnya melemah lagi. Ini sering terjadi, dan Jack mulai terbiasa dengan layanan internetnya yang kurang memuaskan. Ketika dia memindahkan kartunya, permainan memudar dengan layar yang menghitam dan teks berwarna merah muncul.



“Hai Jack, aku butuh bantuanmu. Kau adalah orang yang sangat spesial dan aku tahu kau akan membantuku. Ini adalah yang pertama kalinya aku meminta bantuanmu. Aku sangat butuh bantuanmu.”

Jack terdiam sejenak. Lampu router masih berkedip merah. “Apakah ini semacam lelucon?” Dia kebingungan.

Beberapa saat kemudian, pesan lain muncul, “Ya Jack, aku tahu ini aneh bagimu. Tetapi jangan khawatir. Hanya masalah kecil, aku butuh bantuan. Aku akan memberimu imbalan.”

Sekarang Jack mulai panik, dia mengulurkan tangan dan mencabut kabel internet di router.

“Aku masih di sini, Jack. Aku tidak ingin buang-buang waktu jadi aku akan langsung memberitahumu. Besok ketika kau pergi ke tempat kerja aku ingin kau memindahkan tanaman pot besar yang berada di sebelah lift di lantai dasar kantormu. Kau harus menggesernya tiga inci dari dinding. Lakukan pada pukul 8:17 pagi karena tidak ada orang lain yang berada di sana.”

Jack hanya duduk di depan komputer, menolak untuk merespon, masih berusaha untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Tulisan di layar berganti lagi, “Lihat Jack, aku meminta bantuan padamu karena aku TAHU bahwa kau akan melakukannya. Kau tidak akan mengecewakanku. Kau itu orangnya spesial. Kita bicara lagi besok.”

Jack mencabut kabel power dan komputernya mati. “Apa yang baru saja terjadi?” pikirnya.

Dia masih gemetaran dengan apa yang dialaminya, dia pun mandi air hangat dan bersiap untuk tidur, meyakinkan dirinya bahwa dia pasti bermimpi aneh atau itu hanyalah lelucon yang dibuat orang iseng. Namun siapa yang akan memainkan lelucon seperti itu padanya? Dia sama sekali tidak punya teman, atau musuh.

Dia terbangun di keesokan paginya dan merasa segar kembali. Jam kerjanya akan dimulai pukul 8:30 pagi, dan Jack tidak pernah terlambat. Dia sampai di parkiran pada pukul 8:10 pagi. Biasanya dia langsung masuk, namun pesan semalam memberitahunya untuk memindahkan tanaman pot itu pada pukul 8:17 pagi. Apakah dia benar-benar akan melakukannya? Semalam dia merasa takut, namun ketakutan Jack berubah menjadi rasa penasaran. Katakanlah dia memindahkan pot itu, dia tidak akan melakukan sesuatu yang salah atau ilegal, kan? Di benak Jack, tak ada salahnya dia mencoba untuk memindahkan tanaman pot itu. Jika dia melakukannya, dan tidak ada apa pun yang terjadi, dia bisa melupakan semua masalah gila ini. Semenit sebelum pukul 8:17 Jack meninggalkan mobilnya dan berjalan menuju gedung. Dia memasuki lobi tepat pada saat yang seharusnya. Pesan itu benar, tidak ada orang lain di sekitar sana.

“Aneh,” pikir Jack. Biasanya suasana di gedung ini cukup sibuk pada jam-jam segini, namun prediksi bahwa saat ini akan sepi benar-benar terjadi.

“Baiklah! Mari lihat apa yang akan terjadi,” gumam Jack pada dirinya sendiri.

Dia berjalan ke tanaman pot besar yang ditempatkan kokoh di antara dua lift di lobi gedung bertingkat sepuluh. Tanaman itu tampak seperti palsu, orang-orang yang setiap hari lewat sepertinya benar-benar tidak memperhatikan. Tanaman pot itu lebih berat dari yang dibayangkan Jack. Dia harus mengeluarkan banyak tenaga dan menarik tanaman itu sejauh tiga inci. Dia berdiri kembali dan memandang ke tanaman itu, kemudian melihat ke sekeliling lobi. Orang-orang mulai berdatangan di belakangnya dan lobi mulai ramai seperti biasanya. Tidak ada orang yang melihat bahwa tanaman itu sedikit tergeser, seolah tidak ada yang berbeda. Jack melewatkan lift berikutnya dan menunggu, menunggu untuk… sesuatu. Namun tidak ada yang terjadi. Akhirnya Jack memasuki lift dan pergi ke lantai 7, tepat waktu seperti biasa.

Jika kau bertanya kepada rekan kerja Jack bagaimana mereka mendeskripsikan dirinya, kau akan mendengar jawaban seperti sopan, pendiam, penuh hormat, dan kompeten. Meskipun mereka mengatakan dengan akurat, mereka sedikit menutupi kebenaran, kebenaran bahwa Jack tidak menyukai banyak orang. Bukan berarti dia tidak menyukai mereka, hanya saja rasa ketertarikannya untuk mengenal atau berteman dengan mereka sangat sedikit, namun ada pengecualian bagi satu orang. Allie, gadis yang duduk dua bilik komputer darinya, adalah satu-satunya orang yang ingin dia kenal lebih banyak. Dengan senyum manis, rambut pirang, dan sosoknya yang cantik, Jack sangat tertarik dengan segala tentang dirinya. Meskipun kurang sukses dengan wanita di masa lalunya, kali ini dia punya karier yang bagus untuk mengenalnya. Setiap pagi ketika Jack melewati biliknya, dia akan berhenti sebentar untuk mengobrol dengannya. Awalnya obrolan berlangsung selama semenit, lalu dua menit, lalu beberapa menit. Jack terkejut ketika dia sadar bahwa sebenarnya Allie suka padanya.

Pagi ini, percakapan mereka hanya berlangsung selama beberapa menit. Ketika mereka saling menyapa dan membicarakan tentang malam liar Allie, pintu lift di belakang mereka terbuka. Keluarlah bos mereka, James Bentley yang berjalan pincang.

Keluhan keras James terdengar di sepanjang ruangan, “Sial, kakiku sakit!”

“Apa yang terjadi, James?” tanya orang-orang.

“Tanaman pot sialan yang ada di lobi. Aku berlari tepat ke arah tanaman pot itu sehingga tak sengaja menendangnya dan pergelangan kakiku terkilir.”

“James, kau berjalan dengan pincang. Kau harus pergi ke rumah sakit,” kata Allie menghampiri James.

“Tidak bisa. Ada rapat yang harus kuhadiri hari ini. Rapat yang penting dan tidak bisa ditunda. Aku hanya harus menahan rasa sakit ini.”

Jack, merasa tertegun, dia meninggalkan bilik komputer Allie dan duduk di kursinya. Ini salahnya, dia yakin akan hal itu. Bagaimana bisa dia melakukan hal ceroboh dan bodoh seperti itu? Tetap saja, tidak ada gunanya khawatir sekarang. Pergelangan kaki yang terkilir akan sembuh dengan sendirinya, semuanya akan baik-baik saja.

Ketika pulang, Jack langsung menyalakan komputernya. Segera setelah komputer booting, tampilan layar menjadi hitam dan ada pesan baru yang muncul.

“Bagaimana harimu, Jack?”

Dia hanya duduk di sana, menatap layar, tidak tahu bagaimana menjawabnya. Pesan di layar terus berlanjut, “Sebenarnya, aku tahu bagaimana harimu, tetapi jangan mengatakan bahwa aku tidak sopan. Kau mungkin heran dengan apa yang sedang terjadi. Kau ingin tahu kenapa pergelangan kaki James Bentley terkilir. Baiklah Jack, rantai peristiwa ini belum selesai. Aku tidak ingin terlalu banyak memberitahumu, namun semua ini akan segera kau mengerti. Kau cukup pergi bekerja seperti biasanya besok. Jangan khawatir Jack. Kau akan mendapat imbalannya nanti. Kau itu spesial. Kita bicara lagi besok.”

Jack bersandar di kursinya. Apa yang sedang terjadi? Siapa yang mengirimkan pesan-pesan ini? Jack kini sepenuhnya penasaran, dan mulai sedikit bersemangat untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Keesokan paginya di tempat kerja, semuanya nampak seperti biasa. Jack memperhatikan bahwa tanaman pot itu telah dikembalikan ke posisi semula, mungkin petugas kebersihan yang melakukannya semalam. James Bentley muncul sesaat setelah makan siang, dia masih berjalan dengan terpincang-pincang.

“Ow men kaki ini membunuhku,” Jack bisa mendengar suara keluhan James, namun tampaknya James masih ingin menghadiri rapat yang tidak ingin dia lewatkan. Sekitar jam 3 sore Jack melihatnya lagi. James, yang sepertinya juga menyukai Allie, berjalan terpincang-pincang ke bilik komputer Allie.

“Allie, kau sedang tidak sibuk, kan?”

“Em, tidak. Kurasa aku masih bisa mengerjakan semua ini besok.”

“Baguslah, bisakah kau mengantarku ke Dokter? Mungkin harusnya aku sudah pergi dari kemarin, namun aku tidak bisa. Rasa sakit ini seolah membunuhku, kukira aku tidak bisa menyetir sendiri, aku harus bersusah payah untuk sampai ke sini tadi pagi dan sepertinya kali ini aku sudah tidak kuat untuk menginjak pedal gas. Kita akan pergi pakai mobilku jika kau mau.”

“Ya itu ide bagus James, tak masalah aku bersedia mengantarmu.” Allie berbalik menghadap Jack dan berpamitan, “Sampai jumpa besok, Jackie.” Dia memakai mantelnya dan perlahan mengikuti James yang berjuang menyusuri lorong. Allie sedikit berbalik dan mengangkat bahu ke arah Jack, dengan senyuman kecil dia pun berjalan pergi. Jack merasa lebih kesepian dari yang biasanya ketika Allie pergi.

Sepuluh menit kemudian mereka semua mendengar suara klakson truk roda 18 dan rem berdecit. Seperti suara dua benda logam besar yang berbenturan. Bahkan meski di lantai 7 suara itu terdengar dengan cukup keras. Para pekerja di kantor itu pun tersentak dan lari ke jendela.

“Bukankah itu mobilnya James?” Tanya salah satu dari mereka.

“Mungkin, sulit melihatnya dari atas sini,” jawab seseorang, “Mobilnya rusak parah.”

Kecelakaan mengerikan yang baru saja terjadi membuat Jack ketakutan.

“Tidak, tidak, tidak,” pikirnya. “Ini tidak mungkin terjadi.”

Gemetaran, dia berlari ke lift dan pergi ke lantai dasar dengan beberapa pekerja lainnya. Beberapa dari mereka menangis. Ketika mereka bergabung dengan kerumunan orang yang berada di sekitar lokasi kecelakaan, Jack bisa mendengar suara sirene ambulans di kejauhan. Dia bisa melihat truk roda 18 itu menghantam mobil James, pengemudi truk terlempar ke trotoar dan tergeletak tak bergerak. James duduk di kursi belakang mobilnya, tak bergerak sedikit pun dengan ekspresi syok di wajahnya yang berdarah. Jack tidak tahu apakah dia hidup atau mati. Di bangku pengemudi, tempat Allie duduk, telah hancur parah. Ruang yang tersisa hanya sepertiga dari ukuran aslinya. Kepala Allie bocor, tulangnya patah dan tubuhnya dipenuhi luka memar. Orang-orang yang menyaksikan pemandangan ini tertegun. Tangisan, jeritan, sirene; hanya itu yang bisa didengar Jack. Jack pun berlari ke mobilnya dan pulang ke rumah, perasaan marah dan sedih bercampur aduk.

Dia melakukan perjalanan pulang, sesampainya di rumah dia langsung menuju komputernya. Duduk di depan layar monitor, dia ingin menyalakannya, namun dia takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah dia yang bertanggung jawab atas kematian Allie? Seluruh peristiwa yang terjadi berawal darinya. Dia tahu bahwa dialah yang harus disalahkan. Jack hendak menekan tombol power, dan kemudian menarik tangannya kembali. Akhirnya, setelah beberapa menit, dia sudah berani untuk menyalakannya. Layar berkedip dan kemudian menghitam, dan teks yang sudah tak asing baginya mulai muncul di layar.

“Tidak Jack, itu bukan salahmu. Aku tahu kau menyalahkan dirimu sendiri. Namun semua orang pasti akan mati, beberapa dari mereka punya takdir kematian yang lebih cepat.”

Jack hanya menatap layar. Dia menahan dorongan untuk membanting monitornya ke lantai.

Setelah beberapa saat, tulisan di layar berlanjut, “Jack, aku akan memberitahumu sesuatu, dan aku sangat ingin kau mempertimbangkan dengan serius semua yang kukatakan padamu. Kau berpikir bahwa kau sedang jatuh cinta dengan Allie. Kenyataannya, kau hanya ingin menidurinya. Dan aku minta maaf mengenai bahasaku yang kasar, namun sesekali kita harus blak-blakan. Jack, dia bukanlah orang yang tepat untukmu. Dia akan membuat hidupmu sengsara. Ya, kau akhirnya akan berani untuk mengajaknya kencan. Dia sebetulnya juga tertarik padamu. Namun dia hanya menganggapmu sebagai “proyek” yang bagus. Sangat menyedihkan, dia, bukan untukmu. Aku ingin kau mengingat kembali tentang semua hal yang pernah dia ceritakan padamu. Kenapa dia putus dengan pacarnya yang terakhir?”

“Karena Allie selingkuh,” gumam Jack.

“Karena dia selingkuh, Jack. Dia akan melakukan hal yang sama padamu. Dia akan membuatmu bahagia selama sekitar 2 bulan, dan setelah itu kau akan sengsara selama 4 tahun ke depan. Dia akan menyelinap, menertawakanmu dari belakang, menghabiskan semua uangmu. Setelah akhirnya kau putus dengannya, kau begitu lelah menerima kenyataan pahitmu sehingga kau tidak akan pernah mau berpacaran lagi. Ini nyata Jack. Aku melihat semuanya di masa depan, yang akan terjadi dan yang tidak. Kau sudah melihat bagaimana sifat dia sebenarnya Jack, namun kau membiarkan nafsumu membutakan dirimu. Bersama, kita akan menghindari hal itu. Satu hal lagi Jack, semua ini belum selesai. Masih ada lagi yang akan datang.”

“Tidak! Persetan dengan kau! Kau telah membunuhnya!” Jack berteriak dan melempar layar monitornya ke lantai hingga hancur.

Jack nyaris tidak tidur semalaman, dan keesokan harinya dia tidak yakin dia ingin pergi bekerja, kata-kata terakhir di layar monitor membuatnya penasaran, dan kemarahannya sedikit mereda. Hari itu, tidak ada kerjaan di kantor. Perusahaan memanggil konselor duka, saling berbagi pemikiran satu sama lain, mereka menangis dan berpelukan. James ternyata selamat dari kecelakaan itu, namun dia mengalami koma. Para dokter meyakinkan bahwa dia pasti akan sembuh, namun tak seorang pun yang yakin.

Sore harinya, Jack dihampiri oleh Diego Salbara, si kepala divisi. Diego adalah tipe orang yang blak-blakan, dan dia menawarkan posisi James kepada Jack. Secara teknis itu adalah promosi sementara, namun sepertinya James tidak akan kembali dalam waktu dekat. Diego berjanji padanya bahwa posisi itu akan tetap menjadi miliknya setelah waktu yang diperkirakan sudah lewat.

“Tetapi saat ini kita rahasiakan dulu.” kata Diego padanya. “Aku tahu ini mungkin mendadak, tetapi proyek Lancaster yang sedang dikerjakan James tidak boleh berhenti. Ini sangat penting. Aku butuh seseorang yang mampu menanganinya, tidak ada waktu untuk menunggu.”

Dengan tertegun, Jack menerima promosi itu. Dia pun pulang dengan perasaan acak yang aneh, dia tidak begitu yakin. Dalam perjalanan pulang, dia berhenti di toko elektronik dan membeli monitor baru. Sesampainya di rumah, dia pun menyalakan komputer dengan layar monitor yang baru. Sekali lagi, tulisan itu kembali muncul di layar.

“Jack, aku ingin menjadi orang pertama yang memberi ucapan selamat padamu! Aku bangga dengan apa yang telah kau capai.”

Jack hanya menatap layar.

“Jack, aku harus meminta maaf karena belum memperkenalkan diri. Panggil aku Peramal. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku bisa melihat apa yang akan dan bisa terjadi di masa depan. Ini adalah pemberian hebat yang kumiliki. Tetapi apa kau tahu, Jack? Dari semua kekuatan yang kumiliki, aku masih tidak bisa melakukan sesuatu yang jasmani. Aku bisa meramal, aku bisa melihat, dan dengan cukup usaha, aku bahkan bisa berkomunikasi. Tetapi aku tidak punya tubuh, itu adalah sesuatu yang sudah lama tidak kumiliki, lama sekali. Itu sebabnya aku membutuhkanmu Jack. Aku adalah seniman, seniman yang memanipulasi manusia. Kau akan menjadi kuas dan kanvasku. Aku ingin kau bekerja sama denganku Jack. Sangat mudah, cukup melaksanakan tugas sederhana, dari waktu ke waktu.”

Jack menjadi semakin penasaran.

“Dan Jack, sebelum kau memberiku jawaban, aku ingin kau mengetahui beberapa hal. Pertama, aku tidak akan pernah membohongimu. Kedua, aku tidak akan pernah memintamu untuk melakukan sesuatu yang salah atau ilegal. Ya, hal buruk akan terjadi, dan terkadang akan ada orang yang mati. Tetapi pada akhirnya semua orang pasti akan mati, ya kan Jack? Dan sesuatu yang buruk akan selalu diimbangi dengan sesuatu yang baik.”

Jack memejamkan mata ketika mendengar gagasan terakhir ini, namun dia melawan keinginan untuk mematikan komputernya. Sang Peramal benar. Semua orang pasti akan mati, jadi mengapa dia tidak membiarkan sesuatu yang baik? Dan kira-kira bagaimana dengan ucapan bahwa tidak akan pernah berbohong? Jika dia tahu pada saat Allie akan mati, dia tidak akan pernah mau melakukannya. Namun setelah dipikir-pikir, dia menyadari bahwa sang Peramal tidak berbohong padanya, namun dia hanya menahan informasi. Meski begitu, Jack bertanya-tanya apakah dia bisa mempercayai sang Peramal.

“Bekerja samalah denganku Jack, bersama kita akan menciptakan hal-hal yang luar biasa. Aku hanya memintamu untuk melakukan tugas-tugas kecil dari waktu ke waktu. Oh, namun semua tugas kecil ini akan mendatangkan sesuatu yang hebat! Ini akan menjadi indah Jack, dan akan selalu ada imbalan untukmu. Itulah keindahan seniku, satu tugas saja akan menghasilkan sesuatu yang buruk dan baik. Oh, satu hal lagi Jack, aku bisa melihat masalahmu dengan hal ini. Jika aku berhenti berbicara denganmu saat ini juga, butuh waktu sekitar dua minggu untuk memutuskan bergabung denganku. Tetapi kau tahu Jack, kau pastinya AKAN bergabung denganku. Itu benar, kau akan mengatakan ya. Jadi daripada menunggu, kenapa kau tidak bilang ya padaku sekarang? Ayo kita mulai Jack. Dan ketika semua ini berakhir, kau akan berterima kasih padaku. Aku janji.”

Jack mempertimbangkan apa yang baru saja dikatakan sang Peramal. Perasaan marahnya perlahan memudar. Dia terdiam sejenak, dan kemudian untuk pertama kalinya, dia menempatkan jari-jarinya di atas keyboard dan merespon sang Peramal secara langsung. “Kau ingin aku melakukan apa setelah ini?”
_____________________________

Seiring tahun-tahun berlalu, Jack melakukan setiap pertolongan yang diminta sang Peramal, dan seperti yang Peramal janjikan, Jack selalu diberi imbalan. Imbalannya datang dengan cara yang tak terduga dan menarik. Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Jack terjadi sekitar 2 tahun setelah dia pertama kali setuju untuk membantu sang Peramal.

“Jack, aku ingin kau pergi ke pusat kota besok,” pinta sang Peramal. “Masuklah ke toko minuman keras Garmin tepat pada pukul 12:37 siang. Seorang pria akan mengajukan sebuah pertanyaan. Jawaban yang harus kau berikan padanya adalah ‘dua puluh tujuh.’”

Seperti biasa, petunjuk yang diberikan sang Peramal sederhana dan langsung pada tujuan, namun misterius. Keesokan harinya, seperti yang diminta, Jack masuk ke toko tersebut. Di depannya, seorang pekerja konstruksi yang besar ada di konter sedang mengisi permainan undian lotre.

“Mari kita lihat,” kata pekerja konstruksi itu, “Ulang tahunku, tanggal 15, ulang tahun istriku, tanggal 24, dan usia anak-anakku, dua, sepuluh dan tiga belas.”

Pria itu menggaruk-garuk kepalanya dan melihat ke sekeliling, menatap ke arah Jack, “Hey kawan! Aku butuh satu nomor lagi. Ya, kau punya nomor yang tepat?”

Jack tersenyum, “Dua puluh tujuh.”

“Sungguh? Tadinya aku pikir nomor yang tepat adalah tiga puluh lima. Tetapi kau tahu? Aku suka wajahmu, aku akan memilih nomor dua puluh tujuh!”

Dengan ucapan itu, si pria menyelesaikan angka pilihannya dan membayar tiket undian. “Sampai jumpa, kawan!” katanya dengan gembira dan menepuk bahu Jack ketika pergi keluar pintu.

Jack mencoba untuk tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada pria ini. “Biarkan semua ini berjalan dengan sendirinya, Jack. Kau tidak akan pernah tahu bagaimana hasilnya, jadi tunggu saja sampai dirimu terkejut,” ucap sang Peramal. Tetap saja, tidak mungkin baginya untuk tidak memikirkan hal-hal ini. Dia tahu, mengingat cara yang dilakukan sang Peramal, tidak mungkin dia membantu pria ini. Namun mungkinkah sang Peramal memberi nomor lotre yang kalah? Itu terlalu mudah bagi sang Peramal. Atau dia memberi pria ini angka kemenangan? Jack pun terkejut, dua minggu kemudian, dia bertemu dengan pria yang sama, kali ini di toko makanan.

“Hey kawan! Itu kau! Aku ingat kau! Coba lihat, aku menang!” Sepertinya dia berkata jujur, pria ini tampak seperti seorang miliarder. Mengenakan pakaian baru, jam tangan emas baru, dan senyum lebar, pria itu berjalan mendekati Jack.

“Aku tidak mengira kita akan bertemu lagi, tetapi aku senang kau di sini. Aku tidak akan menang tanpamu. Hey, bagaimana kalau aku yang membayar belanjaanmu. Tidak, ini belum cukup, kau adalah jimat keberuntunganku. "Kau harus selalu baik kepada orang-orang," itulah yang dikatakan ibuku.”

Pria itu merogoh sakunya, lalu mengeluarkan buku cek dan segera menuliskan cek kepada Jack sebesar sepuluh ribu dolar. “Paling tidak ini yang bisa kuberikan untukmu.”

Setelah berterima kasih pada pria itu, dan merasa sedikit bingung dengan semua yang terjadi, Jack bergegas pulang dan menyalakan komputer. Setelah komputernya menyala, tulisan sang Peramal muncul di layar. “Yah Jack, bagaimana rasanya dapat sepuluh ribu dolar?”

“Menyenangkan. Tetapi aku heran, kita belum pernah membantu siapa pun sebelumnya. Kenapa baru sekarang?” tanya Jack dengan merasa sedikit bersalah. Dia benci mengakui bahwa orang-orang terluka karena tindakannya, namun pada kasus ini, rasa ingin tahunya mengalihkan rasa bersalah yang tersembunyi.

“Oh Jack, kita tidak membantu siapa pun. Ya, pria itu memang senang sekarang, namun dia akan kehilangan setiap keping sennya dalam waktu dua tahun. Kau melihatnya kan, dia hanya menghambur-hamburkan uangnya. Teman lama, keluarga yang sudah lama tak bertemu, mereka semua akan datang untuk meminta uangnya. Dan akan ada investasi yang sangat buruk juga. Tekanan atas kehilangan segalanya akan menyebabkan istrinya pergi. Istrinya akan membawa anak-anaknya juga. Dia akan bangkrut dan kesepian, hidup pria itu akan jauh lebih baik jika dia tidak pernah memenangkan lotre itu. Kau tidak perlu merasa bersalah Jack, itu terjadi karena kebodohan dan keserakahannya sendiri.”

Jack merasa menyesal, namun sang Peramal mencari-cari alasan, dan mengalihkan perhatian dengan imbalan yang dijanjikan, yang akhirnya selalu membuatnya merasa tenang.

Selama beberapa tahun, tidak ada tugas yang sama. Terkadang efek atas tindakannya langsung terlihat, pada lain waktu mereka melakukan aksi berantai yang begitu rumit sehingga sulit dia ikuti.

“Pergilah ke gedung Administrator Daerah, parkir mobilmu di tempat parkir nomor 43 pada pukul 4:47 sore.” bunyi satu tugas yang muncul. Jack melaksanakannya, dan dua bulan setelah itu dia bertemu dengan Donna, Jack jatuh cinta padanya dan berakhir sampai ke pernikahan. Dia bahkan tidak tahu bahwa kedua kejadian itu berkaitan jika dia tidak bertanya dengan sang Peramal tentang hal tersebut.

“Jack, ketika kau parkir di tempat itu, kau menyebabkan orang yang seharusnya parkir di sana harus parkir di tempat lain, namun tak sengaja wanita itu menabrak mobil di sebelahnya. Dia sedikit membuat goresan, jadi dia menelepon agen asuransinya, yang menyebabkan si agen pria ini terlambat pulang dari kantor. Dia ketinggalan kereta, dan selagi dia menunggu kereta berikutnya, dia dirampok dan ditikam, dia tak pernah pulih. Para perampok itu mengambil kartu kreditnya yang kemudian mereka gunakan…..dan Jack, aku bisa saja terus menjelaskannya, tetapi intinya ada dua puluh tiga orang lagi yang terlibat. Terkadang hal ini akan sangat rumit, tetapi katakanlah tindakanmu akhirnya membuat Donna berada di posisi yang tepat sehingga kalian dipertemukan.”

Hubungan Jack dengan sang Peramal semakin berkembang. Meski masih misterius, sang Peramal membeberkan informasi yang cukup dari waktu ke waktu sehingga Jack bisa semakin memahami tentang riwayat hidup sang Peramal. Dari banyak referensi riwayat, Jack tahu bahwa sang Peramal sudah berusia ribuan tahun. Ketika masih hidup, dia adalah seorang peramal sekaligus seniman hebat, yang meramalkan kejadian di masa depan melalui lukisan. Seorang raja bodoh, yang salah menafsirkan prediksi sang Peramal dan hasilnya kalah perang, memberi sang Peramal hukuman eksekusi. Kini dia hidup dalam dimensi hampa, dan kemampuan sang Peramal semakin berkembang. Akhirnya dia mempelajari cara untuk berkomunikasi dengan orang hidup, sang Peramal mulai berhasil berkomunikasi dengan orang-orang yang dianggap akan meresponnya, termasuk Jack. Dan tentu saja, sang Peramal tahu segala tentang Jack. Artinya, Jack bersahabat dengan orang yang sudah meninggal. Dan Jack berterima kasih pada sang Peramal. Kini dia punya karier yang bagus, rumah mewah, istri cantik, dan orang-orang menghormatinya. Perasaan bahagia adalah sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelum sang Peramal menghubunginya.

Dua belas tahun berlalu, dua belas tahun yang menyenangkan bagi Jack. Tugas demi tugas dia selesaikan, biasanya ada sekitar satu tugas tiap bulan. Jack sedang duduk di ruang kerja di rumah mewahnya yang berlokasi di pedesaan, ketika dihubungi oleh sang Peramal lagi.

“Hai Jack, aku punya tugas untukmu. Tugas ini adalah yang paling mudah, kau bahkan tidak perlu bangun dari kursi. Hubungi Riago's Pizza tepat dua menit lagi, biarkan telepon berdering sebanyak tiga kali, lalu tutuplah.”

Jack tersenyum, tugas yang mudah. Dia tidak lagi bertanya-tanya akan bagaimana tugas ini. Dia mempercayai sang Peramal dan hanya melakukan seperti yang diperintahkan. Jack menelepon, tepatnya dua menit kemudian.

Kesunyian rumah pun pecah 30 menit kemudian oleh bunyi bel pintu. “Aneh,” pikir Jack. Baik dia maupun Donna tidak sedang menunggu siapa pun. Jack mengintip melalui lubang intip di pintu dan melihat seorang lelaki pengantar pizza. Logo di topinya bertuliskan “Riago’s Pizza”.

Jack membuka pintu. “Ini pizza Anda,” kata si pengantar pizza sambil mengulurkan kotaknya ke tangan Jack.

“Tetapi saya tidak memesan ini.” Jack membantah.

“Hei pak, saya tidak peduli apakah Anda memesan pizza ini atau tidak. Tuan Riago menyuruh saya untuk mengantarnya ke sini, jadi saya melakukannya.” bantah si pengirim pizza, dia tampak semakin kesal dan meludah ke semak-semak.

Jack menatap lelaki di depannya. Dia tampak berusia sekitar tujuh belas tahun, namun hal yang paling mencolok adalah ukuran tubuhnya, besar sekali. Mungkin tingginya sekitar enam setengah kaki, dan sangat berotot.

“Ini sudah dibayar dengan kartu kredit, ambil saja, karena saya tidak mau membawa kembali pizza ini.” Pengantar pizza itu mengulurkan tangannya untuk meminta tip.

“Saya, saya tidak punya uang tunai.” kata Jack dengan jujur.

“Terserah,” jawab si pengantar pizza dengan muak. Pengantar pizza memandangi rumah Jack, kemudian berbalik dan berjalan dengan perlahan ke mobil yang sedang menunggunya, dia sedikit kembali menengok ke arah Jack sambil berjalan.

Jack menutup pintu dan membawa pizza itu ke ruang tamu, di mana Donna sedang menonton TV. Setelah menjelaskan apa yang terjadi, dia berkata bahwa dia akan ke ruang kerjanya, dan akan segera kembali.

Donna membuka kotak tersebut dan mengambil sepotong pizza. “Cepat kembali sayang, pizza ini ditaburi topping favoritmu.” Donna tertawa genit sambil menggigit pizza.

Sesampainya di depan komputer, tulisan sang Peramal muncul di layar. “Kau bingung, Jack? Aku akan menjelaskannya. Sebenarnya yang memesan pizza itu adalah tetanggamu yang tinggal di ujung jalan. Tuan Riago memberitahu anak itu alamat yang benar, tetapi deringan teleponmu membuatnya sulit mendengar dengan jelas. Tetap, kau harus menghargai usaha anak itu, setidaknya dia sudah berada di jalan yang benar.”

“Jadi imbalanku kali ini adalah sekotak pizza?” ketik Jack, dengan sedikit bingung.

“Ya Jack, imbalanmu kali ini adalah sekotak pizza, dan juga kesempatan untuk meluangkan waktu bersama istrimu. Pergilah ke sana, berbagi pizza dan bersenang-senanglah. Setelah selesai, bercintalah dengan Donna. Ini bukan tugas, hanya saran yang harus kau ikuti. Oh, ngomong-ngomong, tetanggamu yang memesan pizza sedang memperdebatkan pizzanya sekarang, karena kenyataan konyol ini pizzanya salah kirim. Hal-hal sepele seperti ini sering membuatku takjub, mereka benar-benar berdebat. Perkelahian mereka akan menjadi sangat panas, tetapi kau tidak perlu khawatir tentang itu. Pergilah, nikmati malammu.”

Jack mengikuti saran sang Peramal, dia memeluk Donna dengan penuh kasih sayang ketika mereka menikmati makanan mereka, kemudian bercinta dengannya, di atas sofa ruang tamu yang nyaman. Donna tertidur di atas sofa tidak lama setelah pukul 11:00 malam. Jack berbaring di sana dan terjaga, tugas terakhir ini, terasa ganjil. Dengan hati-hati dia mengangkat lengannya dari bawah tubuh Donna, Jack meninggalkan ruang tamu dan menuju lantai atas. Jack duduk di depan komputer dan mengetik, “Kau di sana?”

“Ya Jack, aku selalu di sini. Aku sudah menunggumu untuk kembali. Lelaki pengantar pizza itu. Sepertinya dia cukup bagus untuk dijadikan bahan percobaan, bukan?”

Jack menatap layar dengan bingung.

Sang Peramal melanjutkan, “Dia adalah pegawai yang buruk. Dia dipekerjakan dari tiga hari yang lalu dan Tuan Riago sudah ingin memecatnya, namun sebagai seorang fisik bahan percobaan, dia kuat, cepat, dan SANGAT jeli. Contohnya, dia memperhatikan bahwa kau tidak mengunci pintu depan setelah dia mengantarkan pizzamu.”

“Apa?” kata Jack dengan keras dan mulai bangkit dari tempat duduknya.

“Duduklah Jack. Aku harus memberitahumu sesuatu yang penting, dan mengunci pintu sekarang tidak akan mengubah situasimu.”

Jack perlahan kembali duduk di depan komputer, dan melihat ke belakang ketika dia melakukannya.

“Kau lihat Jack, memang benar aku tidak pernah berbohong padamu. Semua yang pernah kukatakan padamu adalah 100% jujur. Tetapi ya, aku telah menyembunyikan beberapa fakta. Kau lihat, sudah kukatakan bahwa setiap tugas menyebabkan sesuatu yang buruk terjadi pada orang lain dan sesuatu yang baik terjadi padamu, namun ada hal ketiga. Di setiap tugas pasti ada tujuan akhir. Masih ingat Allie? Tentu saja kau ingat. Apa yang mungkin tidak kau ingat tentangnya adalah bahwa dia membantu membayar biaya kuliah adik laki-lakinya. Ketika dia meninggal, adiknya harus putus kuliah. Dia akan menjadi seorang psikolog hebat, tetapi sekarang dia bekerja di pabrik. Ini sangat buruk untuk lelaki pengiriman pizza kita, dia bisa saja mendapatkan ahli terapis yang baik beberapa tahun yang lalu, tetapi ahli terapis yang baik itu tidak ada untuknya, dia malah mendapatkan ahli terapis yang menganut aliran Freudian. Dan ingat pemenang lotre kita? Ya tentu kau ingat. Dia adalah tetangga dari lelaki pengantar pizza kita, tentu saja setelah dia kehilangan semua uangnya. Dia menghajar lelaki itu dengan kejam setelah lelaki itu melompat ke depan mobilnya. Ingatan traumatis bagi anak muda kita. Dan ibunya tidak peduli dengan kejadian itu, sama sekali tidak melindungi anak itu. Dia tidak bisa melindunginya, tidak setelah memakai semua obat yang diberikan oleh pacarnya, yang kebetulan adalah salah satu perampok yang merampok agen asuransi itu. Pacarnya membeli obat-obatan itu dengan uang dari hasil perampokan tersebut. Apakah sekarang kau melihat hasil dari karya seniku?”

Jack hanya duduk, melotot pada layar monitor. Dia ingin bangun, untuk memeriksa Donna, namun dia terlalu takut untuk bergerak.

Sang Peramal melanjutkan, “Jack, kau telah menyelesaikan lebih dari seratus tugas untukku, dan setiap tugas punya tujuan akhir, untuk menghancurkan lelaki ini secara psikologis, mengubahnya menjadi monster, dan untuk membawanya ke sini malam ini. Tidakkah kau melihatnya Jack? Ini melibatkan puluhan ribu orang, dan miliaran kemungkinan. Jika kau gagal menyelesaikan salah satu tugas, keseluruhan rantai ini akan hancur berantakan. Ini adalah orkestra yang dibuat olehku, dan dimainkan olehmu. Bersama-sama kita telah melakukan sesuatu yang mengagumkan, ini adalah mahakarya manipulasi manusia. Mahakarya kita. Dan semua ini dimulai dan berakhir pada dirimu, dua poin yang sempurna. Malam ini, salah alamat, tanpa tip, lelaki malang ini akhirnya mengamuk. Dia sudah ada di bawah sekarang. Dia sedang menggorok leher Donna, tepat pada saat ini.

Jack bisa mendengar jeritan pendek, yang terdengar dari ruang tamu, diikuti oleh suara berkumur-kumur ludah dan darah.

“Tidak!” teriak Jack dan berdiri, dia mulai berlari menuruni tangga.

“Jack, berhenti!” Suara itu mengejutkan Jack. Suara itu datang dari dalam kepalanya. Untuk pertama kalinya, sang Peramal langsung berbicara padanya. Suara yang lembut, dan terdengar seperti suara perempuan. “Kau tidak bisa melakukan apa pun, dia sudah tiada. Lelaki itu akan segera mendatangimu, dan kau tidak bisa menghentikannya.”

“Tapi kenapa?” tangis Jack dengan air mata yang berlinang di matanya.

“Bukan mahakarya seni namanya jika tidak bermula dan berakhir padamu, Jack.” Suaranya terdengar menyejukkan. “Aku ingin kau menghargai kenyataan bahwa aku berbicara langsung padamu. Ini membutuhkan semua energiku, dan sebagai hasilnya, aku harus beristirahat selama beberapa tahun sebelum aku bisa menghubungi siapa pun lagi. Kau sangat spesial bagiku. Tolong jangan merasa buruk tentang ini, Jack. Aku ingin kau berhenti dan menikmati pencapaian kita.” Suara itu berhenti sejenak, dan kemudian melanjutkan. “Kau tahu Jack? Jika aku tidak pernah menghubungimu, kau akan hidup selama delapan puluh lima tahun. Delapan puluh lima tahun yang membosankan, tak berarti, dan pahit. Ketika kau meninggal, tidak ada yang akan menghadiri pemakamanmu. Aku memberimu dua belas tahun yang hebat, dan penuh arti. Kau bahagia, dan bersama, kita melakukan sesuatu yang indah, sesuatu yang unik.”

Jack berhenti sejenak dan merenungkan bahwa dua belas tahun yang dia jalani penuh kebahagiaan, air mata kesedihannya tercampur dengan air mata kebahagiaan. Dia berbalik dan melihat ke arah monitor komputernya, sementara di belakangnya, lelaki pengantar pizza yang sudah menggila itu berdiri di ambang pintu, memegang sebilah pisau yang berlumuran darah di tangan kirinya.

Di layar, kata-kata terakhir dari sang Peramal muncul, “Bukankah ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, Jack?”

Jack mengusap air matanya, dan menyerap semua yang baru saja dikatakan sang Peramal padanya.

Selagi si lelaki pizza yang sudah menggila mulai mendekatinya, Jack mengucapkan kata-kata terakhirnya, “Terima kasih.”

Credit To – Thomas O.

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna