Senin, 01 Januari 2018

The Black Hand

Ketika aku menulis surat ini, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kutulis. Maksudku, aku tidak yakin apakah aku akan bangun besok, jadi aku tidak bisa memutuskan apakah ini akan menjadi semacam surat wasiatku. Ini adalah ucapan selamat tinggalku kepada semua orang yang kukenal, apakah mereka akan percaya dengan apa yang terjadi padaku atau tidak. Pada pemikiranku yang kedua, jika aku selamat, dan seseorang menemukan surat ini, katakan saja, mereka tidak akan memikirkanku seperti yang dilakukan sebelumnya. Tidak ada yang pasti bagiku saat ini, dan aku menulis semua ini hanya untuk menyingkirkan bebanku, sesuatu yang kutakuti sejak aku masih kecil.



Ini dimulai sejak aku berusia delapan tahun, atau, mungkin, sembilan. Bahkan aku tidak tahu pasti. Ada seorang anak laki-laki yang sering bermain denganku, dia tinggal di seberang jalan rumah kami. Suatu Minggu pagi aku ingin bertemu dengannya, namun dia tidak juga datang. Aku pun pergi ke rumahnya dan membunyikan bel di pintunya. Tidak ada jawaban – apartemennya kosong.

Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya dan keluarganya. Orang tuaku mengatakan bahwa ayahnya mendapat pekerjaan baru, dan mereka pindah. Aku tidak percaya, dan aku tidak akan percaya bahkan sampai saat ini. Hal seperti itu tidak akan terjadi, kalau memang benar begitu dia pasti akan memberitahuku tentang kepindahannya. Hal terburuk adalah bahwa bahkan akhir-akhir ini, di era jejaring sosial, aku masih tidak dapat menemukan jejak temanku itu. Dia menghilang, lenyap ke udara yang tipis.

Segera setelah itu, hal aneh terjadi. Aku memasuki kamar nenekku, dan dia mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan.

“Si Tangan Hitam telah mengambil mereka,” bisiknya padaku, seolah dia tidak ingin siapa pun mendengarnya, namun aku mendengarkan apa yang dia katakan.

“Apa itu?” tanyaku, dengan perasaan gelisah.

“Dia bagaikan lalat di malam hari, memasuki jendela yang terbuka, mencekik orang dewasa dan menculik anak-anak,” katanya dengan suara yang pelan dan gemetaran.

“Ke mana dia membawa mereka?” tanyaku.

Dia tidak pernah menjawab pertanyaanku. Kau lihat, nenekku merasa tidak nyaman pada saat itu. Tahun berikutnya dia meninggal dunia, dan sekali lagi, kematiannya mengingatkanku dengan kata-katanya. Aku menghabiskan waktu selama bertahun-tahun mengawasi jendelaku agar selalu dalam keadaan tertutup, bahkan di malam musim panas, meskipun hawa panas tak tertahankan. Ketakutanku tumbuh semakin kuat, dan aku tidak punya bukti untuk membuktikan apa yang telah dia ceritakan padaku benar-benar ada, namun aku juga tidak punya bukti bahwa yang dikatakannya itu bohong. Aku tinggal di penjara ketidakpastian. Aku sudah mencoba untuk berbicara dengan orang tuaku, namun kapan pun aku menyebut Si Tangan Hitam, mereka hanya akan mengatakan bahwa hal seperti itu tidak ada. Hanya legenda lama.

Ketika aku tumbuh dewasa, akhirnya aku berhasil bebas dari kegelisahan yang kualami. Aku pernah mendengar legenda Si Tangan Hitam di sekitar daerah Hutgen, dan untuk beberapa waktu aku hanya bisa menertawakan ketakutan masa kecilku. Ada banyak penelitian tentang mitos ini, dan meskipun tidak ada yang tahu bagaimana asal usul mitos ini, semua peneliti setuju tentang era di mana mitos ini menyebar.

Sebelum dan selama Perang Dunia Kedua, banyak orang di Hutgen yang hilang tanpa jejak. Ada sesuatu yang berbeda tentang orang-orang itu, sesuatu yang tak terlihat oleh mata anak kecil. Semua orang sudah tahu di mana dan mengapa mereka hilang, namun tidak ada yang berani membicarakannya, terutama kepada anak-anak mereka. Jadi cerita ini berfokus tentang jendela dan serangan makhluk – ini cukup memberikan penjelasan untuk semua hal aneh yang terjadi, juga merupakan peringatan yang bagus bagi anak-anak untuk menghindari orang asing dan sebagai pengingat untuk selalu mengunci pintu di malam hari. Nenekku tumbuh tepat pada saat itu, dan dia mengetahui legenda ini sewaktu kecil. Mungkin, ini merupakan tipuan pikirannya yang menakutkan sehingga membuat dia ingat dengan cerita ini tepat pada saat itu ketika aku sibuk dengan hilangnya temanku.

Seperti yang sudah kukatakan, aku berhenti untuk percaya dengan legenda Si Tangan Hitam itu bertahun-tahun yang lalu. Aku masih belum tahu apa yang terjadi pada temanku, dan aku tidak tahu apakah aku akan menemukan keberadaannya.

Aku mencoba untuk tidak memikirkannya, dan aku masih berpikir bahwa itu hanyalah perasaan kegelisahanku. Aku pun pindah ke asrama, masuk Universitas Hutgen adalah hal yang tidak menyenangkan bagiku. Mungkin, hanya kurangnya privasi, aku terbiasa tinggal di rumah. Tidak, teman sekamarku baik padaku, dan bahkan aku akan mengatakan bahwa aku mulai terbiasa dengan kehidupan baru ini.

Semuanya berubah ketika aku mendengar sesuatu menepuk jendela. Aku tidak bisa tidur, sehingga aku mendengar kebisingan itu dengan jelas. “Mungkin burung,” pikirku. “Atau, mungkin, kelelawar – mereka sering terlihat di sini.” Tapi kemudian, kebisingan itu mulai terdengar seperti tangan manusia. Dari suaranya, semakin jelas bahwa ada yang mengetuk. Itu benar, suaranya terdengar seperti ada seseorang yang mengetuk jendela dengan kepalan tangan. Pada titik ini, aku mulai merasa gelisah. Aku bangkit, berusaha untuk tidak membangunkan teman sekamarku, perlahan-lahan berjalan menuju jendela. Melihat ke luar jendela, namun aku tidak bisa melihat apa pun – sangat gelap, dan aku membutuhkan cahaya. Aku tidak bisa menyalakan lampu, itu akan membangunkan teman sekamarku, jadi aku meraih ponselku, mencoba untuk menggunakan cahaya ponsel. Suara ketukan mulai terdengar pelan, dan segera setelah itu aku menyalakan sedikit cahaya ponsel, suara ketukan itu sudah menghilang.

Aku berbaring di tempat tidurku dengan bingung. Bingung dan ketakutan. Ketakutan masa kecilku kembali, namun aku masih tidak bisa membiarkan rasa takut menguasaiku. Kemudian, aku memutuskan untuk memeriksa jendela lagi. Untuk berjaga-jaga. Selama beberapa menit aku menatap kegelapan. Aku tahu sekarang bahwa itu tidak ada. Tidak ada Tangan Hitam. Akhirnya, aku berani melakukannya.

Aku membuka jendela.

Kemarin pagi aku terlambat bangun. Aku kesiangan, tidak menghadiri beberapa mata kuliahku. Namun, aku punya beberapa hal lain yang perlu dikhawatirkan. Jendela di kamar tertutup, dan kukira teman sekamarku yang melakukannya sebelum pergi meninggalkan kamar.

Dia tidak pernah kembali, dan dia masih belum menjawab panggilan teleponku. Aku mencemaskannya, dan begitu juga dengan yang lainnya. Ada yang mengatakan, dia keluar dari perguruan tinggi dan pindah keluar kota bersama pacar perempuan-nya. Aku ingin percaya itu. Aku ingin percaya itu.

Namun malam ini, aku tidak yakin. Aku sudah bukan anak kecil lagi, dan aku tidak percaya dengan cerita-cerita konyol. Aku tidak percaya takhayul, tapi aku takut. Aku takut, karena aku sendirian, dan tak seorang pun yang bisa memberitahuku bahwa ketakutanku tidak akan pudar. Aku sudah mendengar ketukan di jendelaku, tapi malam ini aku akan tidur dengan jendela yang terbuka.

Aku hanya ingin memastikan.

Credit To – CandleClock

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna