Minggu, 24 Desember 2017

Tulpa

Tahun lalu aku menghabiskan waktu selama enam bulan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang disebut sebagai eksperimen psikologis. Aku melihat sebuah iklan di koran lokal yang mencari orang imajinatif, bayarannya cukup besar dan itu adalah satu-satunya iklan mingguan yang sesuai dengan kualifikasiku, aku pun menghubungi nomor yang tertera dan kami mengatur jadwal pertemuan.



Mereka memberitahuku bahwa yang harus kulakukan adalah tinggal di sebuah ruangan, sendirian, dengan sensor-sensor yang menempel di kepalaku untuk membaca aktivitas otakku, dan selagi aku berada di sana aku akan memvisualisasi kembaranku. Mereka menyebutnya sebagai "tulpa".

Kedengarannya cukup mudah, dan aku pun setuju untuk melakukannya segera setelah mereka memberitahuku berapa banyak uang yang akan mereka berikan padaku. Keesokan harinya, eksperimen dimulai. Mereka membawaku ke sebuah ruangan sederhana dan menyuruhku untuk berbaring di tempat tidur, kemudian memasang sensor-sensor ke kepalaku dan menghubungkannya ke sebuah kotak hitam kecil yang berada di atas meja di sampingku. Mereka berbicara padaku melalui proses visualisasi kembaranku, dan menjelaskan bahwa jika aku bosan atau gelisah, aku harus memvisualisasikan gerak kembaranku, atau mencoba untuk berinteraksi dengannya, dan sebagainya. Idenya adalah untuk membuatnya tetap bersamaku sepanjang waktu di ruangan tersebut.

Aku mengalami masalah dengan kembaranku selama beberapa hari pertama. Dia semakin sulit terkontrol dibandingkan yang sebelumnya. Aku membayangkan kembaranku selama beberapa menit, kemudian menjadi semakin kacau. Tapi di hari keempat, aku berhasil "memvisualisasikannya" selama enam jam penuh. Mereka mengatakan bahwa aku melakukannya dengan sangat baik.

Di minggu kedua, mereka menempatkanku di ruangan yang berbeda, dengan speaker yang terpasang di dinding. Mereka memberitahuku bahwa mereka ingin melihat apakah aku masih dapat memvisualisasikan Tulpa dengan rangsangan pengalih perhatian. Musik yang diputar sumbang, jelek serta mengganggu, dan membuat prosesnya sedikit lebih sulit, namun aku tetap berhasil. Minggu berikutnya mereka memutar musik yang lebih mengganggu, dengan jeritan di latar belakang, putaran arus balik, yang terdengar seperti modem sekolah tua yang sedang menyambungkan, dan suara orang yang berbicara dengan bahasa asing. Aku hanya tertawa - karena saat ini aku sudah semakin handal.

Setelah sekitar sebulan, aku mulai bosan. Agar tetap semangat, aku mulai berinteraksi dengan kembaranku. Kami berbicara, atau bermain suit Jepang, atau membayangkannya melakukan juggling, atau menari break dance, atau hal apa pun yang membuatku tertarik. Aku bertanya kepada para peneliti apakah kekonyolanku akan memberi pengaruh negatif pada penelitian mereka, namun mereka mendorongku untuk melakukannya.

Jadi kami bermain, dan berkomunikasi, terasa menyenangkan untuk sesaat. Dan kemudian dia menjadi sedikit aneh. Aku bercerita padanya tentang kencan pertamaku pada suatu hari, dan dia mengoreksiku. Aku memberitahunya bahwa kekasih pertamaku mengenakan atasan kuning pada saat itu, dan dia berkata bahwa warnanya bukan kuning melainkan hijau. Aku pun kembali mengingatnya sejenak, dan menyadari bahwa dia benar. Ini membuatku merinding, dan setelah shiftku di hari itu selesai, aku membicarakan tentang hal itu dengan para peneliti. "Kau menggunakan bentuk pikiran untuk mengakses alam bawah sadarmu," jelas mereka. "Kau secara tidak sadar telah mengoreksi dirimu sendiri."

Apa yang tadinya terasa menyeramkan tiba-tiba menjadi sesuatu yang keren. Aku berbicara dengan alam bawah sadarku! Aku butuh banyak latihan, namun aku sudah bisa bertanya dengan Tulpa diriku dan mengakses kembali segala macam kenangan. Aku bisa mengutip seluruh halaman buku yang pernah kubaca, di tahun-tahun sebelumnya, atau hal-hal yang kupelajari dan seketika lupa begitu saja di SMA. Ini mengagumkan.

Saat itulah aku mulai "memanggil" kembaranku di luar pusat penelitian. Yang awalnya tidak sering, namun aku sudah terbiasa untuk membayangkannya sehingga rasanya aneh tidak melihatnya. Jadi kapan pun aku merasa bosan, aku akan memvisualisasikan kembaranku. Akhirnya aku mulai melakukan hal ini hampir di setiap saat. Terasa lucu untuk membawanya mengikutiku seperti teman yang tak terlihat. Aku membayangkannya ketika aku sedang berkumpul dengan teman, atau mengunjungi ibuku, aku bahkan mengajaknya ketika sedang berkencan. Aku tidak perlu berbicara dengan keras pada Tulpa, sehingga aku selalu bisa bercakap dengan Tulpa dan tidak ada yang lebih bijak darinya.

Aku tahu kedengarannya aneh, tapi ini menyenangkan. Dia bukan hanya sekedar memori, dia juga tampak semakin dekat denganku. Dia juga sangat paham secara detail tentang bahasa tubuh dan aku tidak sadar akan hal itu. Sebagai contoh, aku mengira bahwa kencanku akan berjalan dengan buruk, tapi dia menunjukkan padaku cara agar kekasihku tertawa terbahak-bahak, dan bersandar padaku ketika aku sedang berbicara, dan banyak petunjuk halus lainnya yang tidak terpikirkan olehku. Aku mendengarkannya, dan katakanlah, kencannya berjalan dengan mulus.

Ketika aku sudah empat bulan berada di pusat penelitian, dia senantiasa bersamaku. Para peneliti mendekatiku pada suatu hari setelah shiftku selesai, dan bertanya apakah aku sudah berhenti memvisualisasikan Tulpa. Aku pun menjawab belum, dan mereka tampak senang. Aku secara diam-diam bertanya pada kembaranku apakah dia tahu apa maksud pertanyaan mereka, namun dia hanya mengangkat bahu. Begitu juga denganku.

Aku menarik diri sedikit dari dunia pada saat itu. Aku mengalami masalah dengan orang-orang. Bagiku, mereka sangat bingung dan tidak yakin, sementara aku punya perwujudan diriku untuk diajak berbicara. Ini menyebabkan sosialisasi yang kurang baik. Tidak ada orang lain yang sadar akan alasan di balik tindakan mereka, mengapa mereka marah dan tertawa. Mereka tidak tahu apa yang menggerakkan mereka. Tapi tidak denganku - setidaknya, aku bisa bertanya dengan diriku sendiri dan mendapatkan jawabannya.

Seorang teman lelaki mendatangiku pada suatu malam. Dia menggedor pintu rumahku sampai aku membukakan pintu, dia masuk dengan raut wajah marah dan mencaci maki. "Kau tidak menjawab panggilan teleponku selama beberapa minggu ini keparat, k**t*l kau!" teriaknya. "Apa masalahmu keparat?"

Aku hendak meminta maaf padanya, dan mungkin akan mengajaknya untuk pergi ke bar bersamanya malam itu, namun Tulpaku seketika menjadi sangat marah. "Hajar dia," katanya, dan sebelum aku tahu apa yang harus kulakukan, aku telah menghajarnya. Aku mendengar tulang hidungnya patah. Dia terjatuh ke lantai dan melayangkan tinjunya, kami pun berkelahi di apartemenku.

Aku tak pernah semarah itu sebelumnya, dan aku tidak berbelas kasihan. Aku menjatuhkannya ke lantai dan menendangnya dengan keras sebanyak dua kali ke tulang rusuknya, saat itulah dia melarikan diri, membungkuk seolah menahan rasa sakit sambil terisak-isak.

Polisi datang beberapa menit kemudian, namun aku mengatakan kepada mereka bahwa temankulah yang memulainya, dan karena temanku tidak mampu untuk menyangkalnya, mereka hanya pergi begitu saja dengan memberi sebuah peringatan. Tulpaku menyeringai sepanjang waktu. Kami menghabiskan malam itu dengan rasa senang tentang kemenanganku dan mengejek betapa parahnya aku mengalahkan temanku.

Keesokan paginya, aku melihat mataku lebam dan bibirku robek, saat itulah aku teringat dengan apa yang telah terjadi. Kembarankulah yang menjadi sangat marah, bukan aku. Aku merasa bersalah dan sedikit malu, tapi dia telah membuatku berkelahi dengan teman yang mengkhawatirkanku. Dia muncul, tentu saja, dan tahu isi pikiranku. "Kau tidak butuh dia lagi. Kau tidak butuh orang lain," katanya padaku, dan aku merasakan kulitku merinding.

Aku menjelaskan semua hal ini kepada para peneliti yang mempekerjakanku, namun mereka hanya tertawa. "Kau tidak seharusnya takut dengan sesuatu yang kau imajinasikan," kata salah satu peneliti itu padaku. Kembaranku berdiri di sampingnya, dan mengangguk, kemudian menyeringai padaku.

Aku berusaha untuk menyimak kata-kata mereka, namun pada beberapa hari berikutnya aku menjadi semakin bertambah gelisah ketika berada di dekat Tulpaku, dan nampaknya dia sudah berubah. Dia tampak lebih tinggi, dan lebih menyeramkan. Matanya bersinar dengan kekejaman, dan aku melihat kesan jahat dalam senyumnya yang konstan. Kuputuskan tidak ada pekerjaan yang layak demi menghilangkan akal sehatku. Jika dia berada di luar kendali, aku akan melenyapkannya. Aku begitu terbiasa dengannya pada saat itu yang memvisualisasikannya dengan proses otomatis, jadi aku mulai berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak memvisualisasikannya. Butuh beberapa hari, namun usahaku nampaknya mulai membuahkan hasil. Aku bisa melenyapkannya selama beberapa jam di suatu waktu. Namun setiap kali dia kembali, dia tampak semakin mengerikan. Kulitnya tampak pucat, giginya lebih runcing. Dia berdesis, bergumam, mengancam dan bersumpah. Musik sumbang yang telah kudengar selama berbulan-bulan muncul bersama keberadaannya. Bahkan ketika aku sedang bersantai di rumah, tidak berkonsentrasi untuk melihatnya, dia tetap muncul bersama suara kebisingan yang menyebalkan itu.

Aku masih mengunjungi pusat penelitian dan menghabiskan enam jamku di sana. Aku butuh uang, dan kupikir mereka tidak sadar bahwa saat ini aku tidak memvisualisasikan Tulpaku. Ternyata aku salah. Suatu hari setelah shiftku selesai, memasuki sekitar lima setengah bulan, dua pria besar menarik dan menahanku, dan seseorang berjas lab menusukkan jarum suntik ke tubuhku.

Aku terbangun dari pingsanku di ruangan itu lagi, diikat di tempat tidur, musik yang mengganggu terdengar, dengan kembaranku yang berdiri di dekatku sambil tertawa mengerikan. Dia hampir tidak terlihat seperti manusia lagi. Wajahnya begitu aneh. Matanya cekung di rongganya dan seperti mayat di film. Dia jauh lebih tinggi dariku, namun dia membungkuk. Tangannya seolah terpelintir, dan kuku jarinya terlihat seperti cakar. Dia, singkatnya, menjadi mengerikan. Aku mencoba untuk melenyapkannya, tapi sepertinya aku tidak bisa berkonsentrasi. Dia terkekeh-kekeh, dan menarik infus di lenganku. Aku meronta-ronta dalam penahanku dengan segenap kekuatanku, namun aku hampir tidak bisa bergerak sama sekali.

"Mereka memasukkan sesuatu yang penuh omong kosong padamu, kukira. Bagaimana dengan pikiranmu? Semua nampak kabur?" Dia membungkuk lebih dekat dan semakin dekat sambil berbicara. Aku merasa mual; bau napasnya seperti daging busuk. Aku mencoba untuk fokus, namun aku tidak bisa melenyapkannya.

Beberapa minggu berikutnya sangat mengerikan. Sering sekali, seseorang dengan jas dokter akan masuk dan menyuntikku dengan sesuatu, atau memaksaku untuk menelan sebuah pil. Mereka membuatku pusing dan tidak fokus, terkadang membuatku berhalusinasi atau berkhayal. Wujud pikiranku masih ada, dan terus mengejekku. Aku berhalusinasi bahwa ibuku ada di sana, memarahiku, kemudian kembaranku menggorok leher ibuku dan darahnya menghujaniku. Itu semua terasa begitu nyata sehingga aku bisa merasakannya.

Para dokter tidak pernah berbicara padaku. Aku memohon di tiap waktu, berteriak, memaki, menuntut jawaban. Mereka tidak pernah berbicara padaku. Mereka mungkin sudah berbicara dengan Tulpaku, monster pribadiku. Aku tidak yakin. Aku terlalu banyak mengkonsumsi obat dan merasa bingung bahwa mungkin saja khayalan yang saat ini kurasakan tampak lebih nyata, namun aku ingat bahwa mereka berbicara dengannya. Aku yakin bahwa dialah yang asli, dan aku hanyalah bentuk pikiran. Dia selalu mendorongku agar berpikir demikian, dan terus mengejekku.

Hal lain yang kudoakan adalah khayalan belaka: dia bisa menyentuhku. Lebih dari itu, dia bisa menyakitiku. Dia akan menusuk dan mendorongku jika dia merasa aku tidak cukup memperhatikannya. Pernah dia memegang testisku dan meremasnya sampai aku mengatakan bahwa aku menyayanginya. Di lain waktu, dia menyayat lengan bawahku dengan salah satu cakarnya. Aku masih punya bekas luka itu - hampir setiap hari aku terus meyakinkan diriku bahwa akulah yang melukai diriku sendiri, dan hanya berhalusinasi bahwa dialah yang bertanggung jawab. Hampir setiap hari.

Lalu suatu hari, selagi dia menceritakan sebuah kisah tentang bagaimana dia akan memusnahkan semua orang yang kucintai, dimulai dengan saudara perempuanku, dia berhenti sejenak. Dengan ekspresi bersungut-sungut di wajahnya, dia mengulurkan tangannya dan menyentuh kepalaku. Seperti ibuku yang merawatku ketika aku demam. Dia masih tetap seperti itu dalam waktu yang lama, dan tersenyum. "Semua pikiran yang kreatif," katanya padaku. Kemudian dia berjalan keluar pintu.

Tiga jam setelah itu, aku diberi suntikan, dan pingsan. Aku terbangun dengan keadaan tak diikat. Dengan gemetar, aku berjalan ke pintu dan ternyata tidak dikunci. Aku berjalan keluar ke lorong yang kosong, dan kemudian berlari. Aku tersandung lebih dari sekali, namun aku berhasil menuruni tangga dan keluar ke bagian belakang gedung. Di sana, aku menjatuhkan diri, menangis seperti anak kecil. Aku tahu bahwa aku harus terus berusaha melarikan diri, namun aku tidak bisa mengendalikan diriku.

Akhirnya aku sampai di rumah - aku tidak ingat bagaimana caranya. Aku mengunci pintu, dan mengganjalnya dengan lemari, aku pun mandi dengan jangka waktu yang panjang, dan tidur selama satu setengah hari. Tidak ada yang mengunjungiku di malam hari, dan begitu juga di keesokan harinya, atau lusa. Ini sudah berakhir. Aku menghabiskan waktu semingguku terkunci di ruangan itu, tapi rasanya seperti satu abad. Aku telah melarikan diri dari kehidupanku sebelumnya sehingga tidak ada yang tahu bahwa aku hilang.

Polisi tidak menemukan apa pun. Pusat penelitian kosong ketika mereka menggeledahnya. Banyak kertas yang berserakan. Nama yang kuberikan adalah nama samaran. Bahkan uang yang kuterima ternyata tidak bisa dilacak.

Aku belum cukup pulih. Aku tidak meninggalkan rumah dengan sering, dan aku akan mengalami serangan panik ketika aku melakukannya. Aku banyak menangis. Aku tidak banyak tidur, dan mimpi burukku sangat mengerikan. Ini sudah berakhir, kataku pada diriku sendiri. Aku selamat. Aku melakukan konsentrasi yang diajari oleh para bajingan itu untuk meyakinkan diriku sendiri. Terkadang, ini berhasil.

Tidak hari ini, kukira. Tiga hari yang lalu, aku mendapat telepon dari ibuku. Ada tragedi yang terjadi. Saudara perempuanku adalah korban yang terakhir dalam kasus pembunuhan, kata polisi. Pelaku pembunuhan menyekap kemudian membunuh korbannya.

Upacara pemakaman berlangsung sore ini. Itu adalah pelayanan yang bagus seperti pemakaman, kiraku. Meskipun aku merasa sedikit terganggu. Semua yang bisa kudengar hanyalah musik yang berasal dari suatu tempat yang jauh. Sumbang, meresahkan, terdengar seperti umpan balik, jeritan, dan nada sebuah modem yang sedang menyambungkan. Aku masih mendengarnya - sedikit lebih keras sekarang.


Original author unknown

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna