Minggu, 12 November 2017

We Don’t Deliver

Setelah pindah ke sebuah kota kecil di Michigan Selatan aku mendapat pekerjaan sebagai seorang kasir di toko setempat. Setelah bekerja aku akan berjalan pulang ke rumah kecilku dan memesan pizza.



Ini adalah rutinitasku selama dua minggu sampai keadaan berubah. Aku menelepon restoran pizza seperti biasa, kemudian aku mendengar suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya, dan orang di telepon berkata “Pesan seperti biasa? Tidak masalah. Saya akan mengantar pesanan Anda dalam waktu kurang dari lima menit.”

Pesananku datang dalam waktu lima menit dan persis seperti apa yang kupesan di setiap malam sebelumnya. Ketika aku memberi tip kepada si pengantar dia menolak, dia berkata bahwa dia tidak membutuhkannya, dia bekerja di restoran pizza hanya untuk keluar rumah bertemu dengan orang-orang.

Ini telah menjadi rutinitas baruku selama sekitar tiga bulan. Aku akan memesan, bertemu dengan pria pengantar pizza dan di waktu yang sama. Ini menjadi semacam lelucon di antara kami bagaimana dia bisa mengetahui rutinitasku dengan tepat dan bahwa aku selalu ada ketika dia mengantar pizza.

Aku mulai bosan dengan memakan makanan yang sama di setiap malam. Pada suatu malam, aku berhenti di sebuah restoran kecil di seberang jalan restoran pizza dan menikmati makan malam yang menyenangkan. Melalui jendela aku melihat si pengantar pizza yang biasa kutemui pergi meninggalkan restoran pizza dengan sebuah kotak di tangan, menuju ke arah rumahku.

Aku kembali ke rumah, seperti biasa, dan aku menemukan sekotak pizza yang tergeletak di depan pintu rumahku. Ada secarik catatan di atas kotak yang terbaca, “Aku merindukanmu. Kurasa kau berhutang budi padaku dan aku akan mendapatkannya besok.”

Catatan ini membuatku merinding. Aku menelepon restoran pizza dan memberitahu manajer apa yang telah kutemukan. Aku menceritakan padanya tentang pesan itu dan ternyata sudah tiga bulan pria itu telah berhenti bekerja, aku yakin dialah yang meninggalkan catatan itu.

Saat itulah manajer memberitahuku sesuatu yang tidak pernah kuduga. “Maaf nyonya, kami tidak pernah lagi mengantar pesanan Anda sejak hari itu.”

Original Author: WayWardWanderer

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Index

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna