Minggu, 05 November 2017

Gateway of the Mind

Pada tahun 1983, sekelompok ilmuwan yang sangat religius melakukan eksperimen radikal di fasilitas yang tidak diketahui. Para ilmuan itu menganut teori bahwa jika manusia tidak menggunakan setiap indranya atau merasakan rangsangan akan dapat merasakan kehadiran Tuhan.



Mereka percaya bahwa kelima indra itu menutupi kesadaran kita akan keabadian, dan tanpa lima indra itu, manusia dapat sepenuhnya melakukan kontak dengan Tuhan melalui pikiran. Seorang pria tua mengklaim bahwa “tidak ada lagi yang tersisa untuk hidup”, pria itu merupakan satu-satunya subjek tes yang bersedia menjadi sukarelawan. Untuk membuatnya terlepas dari semua indranya, para ilmuwan melakukan operasi di mana setiap saraf sensorik yang terhubung ke otaknya diputuskan.* Meskipun subjek tes itu mempertahankan fungsi otot secara penuh, dia tidak bisa melihat, mendengar, mengecap, mencium, ataupun merasakan. Dengan cara ketidakmungkinan untuk berkomunikasi atau bahkan merasakan dunia luar, dia hanya sendirian dengan pikirannya.

Para ilmuwan memantau selagi dia berbicara keras tentang keadaan pikiran campur aduk, kalimat tidak jelas yang bahkan dia sendiri tidak bisa mendengarnya. Setelah empat hari, pria itu mengaku bahwa apa yang dia dengar adalah kesunyian, suara yang tidak bisa dimengerti terdengar di kepalanya. Dengan asumsi itu adalah permulaan psikosis, para ilmuwan sedikit cemas melihat keadaan pria itu.

Dua hari kemudian, pria itu menangis karena mendengar suara istrinya yang sudah meninggal sedang berbicara dengannya, dan bahkan dia bisa mendengar semakin jelas, dia bisa berkomunikasi kembali. Para ilmuwan semakin penasaran, tetapi tidak sampai subjek itu mulai menyebutkan nama keluarga para ilmuwan yang sudah tiada. Dia mengulangi informasi pribadi ke para ilmuwan yang mana hanya pasangan dan orang tua mereka yang tahu. Pada titik ini, sebagian besar ilmuwan meninggalkan penelitian itu.

Setelah seminggu dia melakukan percakapan dengan orang-orang yang sudah meninggal melalui pikiran, subjek itu menjadi tertekan, dia mengatakan bahwa suara yang didengar semakin banyak. Setiap kali dia terbangun, kesadaran dibombardir oleh ratusan suara yang menolak untuk meninggalkannya sendirian. Dia sering kali membenturkan diri terhadap dinding, mencoba merasakan rasa sakit. Dia memohon kepada para ilmuwan agar diberi obat penenang, sehingga bisa terlepas dari suara-suara itu dengan cara tertidur. Taktik ini bekerja selama tiga hari, sampai dia mulai mengalami teror malam yang kejam. Subjek itu berulang kali mengatakan bahwa dia bisa melihat dan mendengar suara orang yang sudah meninggal di dalam mimpinya.

Hanya sehari kemudian, subjek itu mulai berteriak dan mencakar matanya yang sudah tidak berfungsi, berharap bisa merasakan sesuatu di dunia fisik. Subjek itu dengan histeris sekarang mengatakan bahwa suara orang-orang yang sudah meninggal memekakkan telinga dan berseteru, membicarakan tentang neraka dan akhir dunia. Di satu titik, dia berteriak, “Tidak ada Surga, tidak ada pengampunan,” terus-menerus selama lima jam. Dia terus memohon untuk dibunuh, tetapi para ilmuwan yakin bahwa dia semakin dekat untuk menjalin kontak dengan Tuhan.

Setelah hari lain, subjek itu tidak bisa lagi mengatakan kalimat yang jelas. Terlihat gila, dia mulai menggigit daging di lengannya. Para ilmuwan bergegas memasuki ruang pengetesan dan menahannya ke atas meja agar dia tidak bisa bunuh diri. Setelah beberapa jam diikat, subjek itu berhenti memberontak dan berteriak. Dia menatap kosong ke langit-langit selagi tetesan air mata mengalir di wajahnya. Selama dua minggu, subjek itu rehidrasi karena terus-menerus menangis. Akhirnya, dia menolehkan kepala dan, meskipun dia buta, dia membuat kontak mata yang terfokus ke ilmuwan untuk pertama kalinya dalam penelitian ini.

Dia berbisik, “Aku sudah berbicara dengan Tuhan, dan Dia telah meninggalkan kita,” dan tanda-tanda vitalnya berhenti.

Tidak ada penyebab yang jelas tentang kematian subjek itu.

* Penelitian lebih lanjut, di tahun 2000: Dr. G.F., Departemen Neurologi, [nama rumah sakit dirahasiakan], San Francisco, CA. Studi terbaru tentang penyakit degeneratif yang menargetkan fungsi motorik dan penurunan kognitif sering menyebabkan 'halusinasi' dari orang-orang yang sudah meninggal. Kematian sel yang ditargetkan dan bahan kimia di otak oleh penyakit ini menyebabkan hilangnya penciuman, antara indra lainnya. Penyebab penyakit ini tidak diketahui. Halusinasi terjadi pada 39,8% pasien, yang jatuh ke dalam tiga kategori: sensasi kehadiran (orang), bagian samping (yang biasanya dari hewan) atau ilusi. Kehadiran sebanyak 25,5% pasien (kejadian terisolasi 14,3%), terbentuknya halusinasi penglihatan sebanyak 22,2% (terisolasi dalam 9,3%) dan halusinasi pendengaran terjadi sebanyak 9,7% (terisolasi sebanyak 2,3%). Penelitian ini dilakukan di San Francisco, CA. 2003-sekarang

Galeri





Translator: Gugun Reaper

Source: CreepypastaCreepypasta Wiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna