Jumat, 17 November 2017

A Knock on the Window

Aku sedang berbaring di tempat tidurku, gelisah dan sendirian, pada malam gelap dan sunyi. Aku berguling ke sana sini, mencoba untuk mencari posisi yang nyaman, tetapi aku merasa gelisah. Ada sesuatu tentang malam ini yang membuatku merasa tidak nyaman. Aku terus berguling sampai akhirnya aku menemukan posisi yang nyaman.



Aku memejamkan mata, tetapi tak ada yang berbeda, terlalu gelap di kamarku untuk melihat sesuatu. Kurasa butuh waktu lama bagi mataku untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan. Aku masih berbaring, terdiam di malam yang gelap dan lembap. Tubuhku mulai rileks, pikiranku kosong, dan aku siap untuk beristirahat. Seketika, suasana yang sunyi hancur berantakan dan pikiranku terpenuhi dengan hal-hal negatif menakutkan ketika mataku sekejap terbuka.

Tok. Tok.

Tidak diragukan lagi, ada sesuatu yang mengetuk kaca jendela. Namun tidak, tidak mungkin, apa alasan seseorang membangunkan orang lain yang sedang sendirian di rumahnya? Pikirkan secara logis. Jika ada seseorang yang ingin masuk dengan paksa, kenapa dia memberi kode suara ketukan? Dia hanya perlu masuk, membuat keributan dan jelas, atau dengan sehening mungkin. Jadi kenapa dia mengetuk kaca jendela?

Monster itu tidak ada. Aku harus tenang dan melihat ke luar jendela, tetapi aku menghadap ke arah yang berlawanan dan aku terlalu takut untuk melihat ke jendela, aku takut untuk melihat sesuatu yang menyeramkan berdiri di luar jendelaku. Apa gerangan yang bisa membuat suara itu? Mungkinkah ada beberapa burung yang terbang dan menabrak jendelaku. Tidak, itu terlalu tidak realistis. Apa mungkin ada sekelompok anak yang berkeliaran di larut malam begini, mengetuk kaca jendelaku sambil tertawa? Namun itu cukup masuk akal. Setelah kupikir-pikir, mungkin ini semua hanya imajinasiku. Mungkin aku mendengar bunyi deritan biasa di dalam rumah dan paranoid di pikiranku mengasumsikan bahwa ada suara ketukan di jendela.

Tok. Tok.

Tidak, jelas itu bukan imajinasiku. Anak-anak nakal itu masih menggangguku. Mereka tidak mau berhenti sampai merasa puas. Mungkin beberapa anak nakal sedang berdiri di luar sambil menungguku melihat ke jendela sehingga mereka bisa mendobrak dan menyerangku. Tidak, jangan berpikir demikian. Jangan paranoid. Lagi pula, mereka berada di luar, sedangkan aku berada di dalam, sampai aku mendengar suara kaca pecah, aku tahu bahwa aku masih aman. Monster itu tidak ada. Lagi pula, aku belum bergerak, kuharap anak-anak itu akan mengira bahwa aku tertidur pulas dan meninggalkanku sendirian.

Tok. Tok.

Tidak, itu bukan anak-anak. Tidak ada anak yang akan menunggu selama ini hanya untuk melihat reaksi dari seorang lelaki yang kesepian; mereka pasti akan bosan dan pergi begitu saja. Namun, jika bukan anak-anak siapa yang mengetuk jendela? Kenapa seorang pembunuh berantai menjadikanku sebagai targetnya, dari sekian banyak orang? Berpikirlah secara logis. Monster itu tidak ada. Jangan paranoid. Mereka berada di luar, sedangkan aku berada di dalam, sampai aku mendengar suara kaca pecah, aku tahu bahwa aku masih aman. Namun jika itu bukan monster ataupun pembunuh, apa yang menyebabkan suara ketukan itu? Aku hanya perlu berpura-pura tidur dan mungkin sesuatu yang mengetuk jendela akan pergi.

Tok. Tok.

Ya ampun, aku tidak bisa memikirkan kebisingan yang lebih kubenci selain suara ketukan di kaca jendela! Tolong pergilah! Tinggalkan aku sendiri! Tidak ada harapan lagi. Dia akan masuk dan melakukan hal-hal mengerikan padaku. Aku harus tetap tenang. Ambil napas dalam-dalam dan hembuskan. Aku bisa merasakan jantungku yang berdebar kencang di dadaku mulai rileks.

Monster itu tidak ada. Ingat, mereka ada di luar, sedangkan aku berada di dalam, sampai aku mendengar suara kaca pecah, aku tahu bahwa aku masih aman. Ulangi itu. Jangan biarkan rasa takut menguasaimu. Aku hanya perlu berpura-pura tidur. Jangan bergerak sedikit pun.

Tok. Tok.

Mereka ada di luar, sedangkan aku berada di dalam, sampai aku mendengar suara kaca pecah, aku tahu bahwa aku masih aman. Monster itu tidak ada. Aku hanya perlu berpura-pura tidur dan berdoa agar dia segera pergi.

Tok. Tok.

Mereka ada di luar, sedangkan aku berada di dalam, sampai aku mendengar suara kaca pecah, aku tahu bahwa aku masih aman. Air mata mulai menetes menuruni pipiku. Monster itu tidak ada. Monster itu tidak ada. Aku mulai berbisik pada diriku sendiri,

“Mereka ada di luar, sedangkan aku berada di dalam, sampai aku mendengar suara kaca pecah, aku tahu bahwa aku masih aman. Mereka ada di luar, sedangkan aku berada di dalam, sampai aku mendengar suara kaca pecah, aku tahu bahwa aku masih aman.”

Tok. Tok.

Aku tidak tahan lagi! Aku bisa gila jika aku terus mendengar suara ketukan ini! Paling tidak jika aku melihat apa yang menyebabkan suara ketukan itu, pikiranku akan tenang! Ambil napas dalam-dalam dan hembuskan. Aku mengulanginya, sekali lagi,

“Mereka ada di luar, sedangkan aku berada di dalam, sampai aku mendengar suara kaca pecah, aku tahu bahwa aku masih aman.”

Aku mengambil napas dalam-dalam, hatiku berdebar kencang seperti ditumbuk di setiap detiknya. Aku perlahan menoleh ke arah jendela.



Jantungku terasa seolah-olah tenggelam dan aku terlalu takut untuk berteriak ataupun bergerak. Aku menoleh hanya untuk melihat sesosok pucat dengan mata hitam yang menatapku, seolah-olah menusuk jiwaku ketika seringai di wajahnya yang menyeramkan menghadap tepat ke arahku. Makhluk itu sudah berdiri di dalam kamarku sepanjang waktu, sambil mengetuk-ngetuk kaca jendelaku.

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna