Sabtu, 14 Oktober 2017

My Older Sister.

Dulu, hidupku biasa-biasa saja.

Aku tinggal di sebuah keluarga dengan 2 gadis dan 1 laki-laki. Ada kakak tertuaku, Jenny, aku, dan adik laki-lakiku, Alex. Kurasa, kami punya masa kanak-kanak yang khas. Jenny itu populer, dengan rambut pirang, mata biru, dan tubuhnya yang langsing. Alex, yang sejak awal menunjukkan kegemaran pada olahraga menjadi bintang atlet di keluarga kami. Namun diriku... tidak seperti yang lainnya, hidupku biasa-biasa saja.

Aku tidak terlalu pintar. Aku tidak jelek tetapi aku tidak menonjol. Aku punya sebuah grup teman yang kecil.

Aku biasa-biasa saja.

Namun aku mengidolakan kakakku.

Jenny adalah segala yang tak pernah kudapatkan. Dia punya banyak teman. Dia bahkan sudah mempunyai pacar sejak dia berumur 11 tahun. Selalu ada seorang laki-laki dan drama. Dia menjadi lelah dengan semua itu, tetapi aku menyukainya.

Jenny menyayangiku juga. Kami sangat dekat sebagai anak-anak. Tentu saja, ibu dan ayahku juga menyayangiku, tetapi mereka tidak memerhatikanku seperti mereka memerhatikan Jenny dan Alex. Karena tidak ada yang benar-benar spesial dariku. Namun Jenny tidak bisa melihat hal itu. Lihat, dia memberi perhatian padaku. Dia memberiku alat-alat kecantikan dan mengajariku tentang berdandan. Dia pernah mengajakku berbelanja bersama dengan teman-teman populernya dan menunjukkan padaku pakaian yang bagus dipakai untuk bentuk tubuhku. Dia akan mengatakan semua tentang kehidupannya yang menakjubkan dan berkilauan, dia akan mendengarkan dengan saksama ketika aku sedikit berkontribusi pada percakapan kami.

Dia adalah panutanku.

Namun terkadang hidup itu tidaklah biasa-biasa saja. Kadang-kadang tidak secara khusus. Ketika Jenny berumur 16 tahun dan aku berumur 13 tahun, dia ditemukan di kamarnya, dengan sebuah botol pil tumpah di sebelahnya. Aku tidak berpikir mereka mau menghiraukan banyaknya penyelidikan. Apa yang kakakku lakukan sudah jelas, walaupun tidak ada yang tahu kenapa. Hidup bisa selucu itu. Terkadang seseorang yang terlihat sangat bahagia adalah orang yang telah banyak berjuang.

Saat itu adalah waktu yang sulit untuk keluargaku.

Namun hidup terus berlanjut. Seiring bertambahnya usia, aku tumbuh untuk mencintai kehidupanku yang biasa-biasa ini. Orang tuaku memberikan lebih banyak perhatian padaku, setelah Jenny pergi. Aku bersekolah di Universitas jurusan Jurnalistik, di mana aku bertemu suamiku, Alan. Kami menikah tepat setelah lulus. Aku bekerja di koran lokal dan dia mendapat pekerjaan kantor di sebuah perusahaan yang hanya beberapa blok di jalan. Hidup kami bahagia, indah, dan tidak biasa.

Sampai aku hamil.

Ini bermula ketika sudah 2 minggu lamanya. Aku selalu melakukan aktivitas seperti biasa, tetapi saat ini aku cukup sibuk melakukan pekerjaan dan aku tidak terlalu memerhatikannya.

Lalu, pada suatu malam, aku mengalami mimpi yang nyata, mimpi aneh yang mengerikan.

Dalam mimpiku, aku berada di kamar masa kecilku, duduk di selimut berpola bunga di tempat tidurku, memainkan dot dan hanya Tuhan yang tahu alasannya. Jenny berjalan ke arahku. Dia datang dan naik ke tempat tidur. Dia memainkan botol pil yang kosong. Dia menatap mataku.

Aku tak tahu kenapa, tetapi aku terbangun dan menjerit. Sejujurnya, aku tidak terlalu memikirkan Jenny selama bertahun-tahun, dan aku tidak pernah bermimpi seperti itu. Suamiku terbangun untuk menghiburku, tetapi aku sudah berjalan ke kamar mandi. Aku muntah ke toilet selama sekitar dua puluh menit, memikirkan haidku yang terlambat, botol pil, dan Jenny.

Aku menjalani tes kehamilan pada hari itu. Dan hasilnya positif.

Suamiku dan aku sangat gembira. Kami merayakan dengan makan malam yang menyenangkan. Kami menghubungi orang tua kami, keduanya merasa sangat gembira. Kami membicarakan tentang nama bayi, perawatan, dan semua hal yang ada kaitannya dengan bayi. Kami terlambat tidur, kami lelah tetapi bahagia lalu berpelukan seperti pengantin baru, memimpikan ada malaikat kecil yang menari di pelukan kami.

Aku terbangun dan melihat kakakku berdiri di sebelah tempat tidurku.

Jika malam sebelumnya saja sudah menakutkan, kau tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ini. Jenny berada di sini, Jenny yang asli, yang sebenarnya terlihat tidak begitu hidup. Dia menatapku. Aku mengulurkan tangan, aku hampir merasa bisa menyentuhnya. Namun dia berbalik dan pergi keluar kamar.

Sejak hari itu, Jenny selalu di sini.

Dia berdiri di samping tempat tidur saat aku bangun di pagi hari. Dia mengikutiku saat bekerja. Dia melihat pakaian bayi yang kupilih.

Dia selalu di sini.

Tentu, aku berpikir untuk memberi tahu suamiku. Namun apa yang akan aku katakan? Bahwa istrinya yang biasa-biasa saja ini akan mengganggu kehidupannya dengan kemampuan baru yang bisa melihat orang mati? Sepertinya tidak. Sebaliknya, aku menganggapnya sebagai pengalaman aneh dan luar biasa dalam hidupku yang sudah tidak biasa ini.

Di satu sisi, aku menikmati hal itu.

Inilah kakakku yang telah lama hilang. Teman lamaku, satu-satunya orang yang kucari. Orang yang kuinginkan saat aku dewasa. Dia kembali lagi. Ini membuatku nyaman saat membawanya ke sana sementara perutku membesar dan bundar, aku mulai bergoyang maju mundur, mencoba mengendalikan hormon gilaku.

Terkadang, dia akan meletakkan tangannya di perutku untuk merasakan bayiku. Saat dia melakukannya, bayiku akan mulai menendang. Betapa leganya mengetahui bahwa bayiku akan berbagi hubungan khusus dengan Jenny.

Jenny di sana saat suamiku mengantarkanku ke rumah sakit, aku menangis karena sakitnya mengalami kontraksi. Dia mengikuti kami ke ruang bersalin dan berdiri dengan tenang di sampingku saat aku mendorong, mendorong, dan mendorong. Jenny terus meletakkan tangannya di atas perutku, dan itu adalah sebuah penghiburan.

Lalu semuanya berakhir.

Mereka menempatkan bayi ke pelukanku. Seorang perempuan! Seorang bayi perempuan yang cantik, tangisannya adalah hal terindah di dunia. Alan dan aku bermain dengan jari mungilnya yang melengkung. Saat aku melihat ke samping tempat tidur, Jenny sudah pergi.

Sekarang, jangan salah paham. Aku selalu merindukan kakak perempuanku, dia sangat penting bagiku dan aku merindukannya. Namun aku agak lega melihatnya pergi. Aku merindukannya, tetapi dia tidak pernah bisa menjadi bagian dari hidupku lagi. Sekarang aku bisa kembali ke kehidupanku yang khas. Aku hidup bahagia bersama bayi dan suamiku.

Aku merasa senang selama beberapa minggu sebelum aku melihatnya.

Aku sedang bermain dengan Ellen bayi kecilku saat dia menatapku dan aku memerhatikannya. Mata birunya yang mengejutkan. Mata yang tidak dimiliki ayahnya maupun aku. Dia menatapku dengan ketenangan yang mengerikan.

Ketika aku menatap matanya, aku melihat Jenny.

Keesokan paginya, aku terjatuh ke lantai dalam air mata dan jeritan. Alan dengan panik menghubungi layanan darurat karena aku memeluk tubuh anakku saat terjatuh. Ketika teknisi medis gawat darurat tiba, mereka menyelidiki tubuh dingin dan tak bernyawa dari pelukanku dan aku pun jatuh ke pelukan Alan.

Aku akan sedih. Aku akan merindukannya, sama seperti aku merindukan Jenny. Namun Jenny tidak pernah bisa menjadi bagian dari hidupku lagi, tidak peduli berapa pun dia menginginkannya.

Setelah semuanya, aku butuh waktu selama bertahun-tahun untuk bebas darinya.

Original Author: KibaInuzuka

Translator:Reta

Source: Creepypasta Index

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna