Rabu, 27 September 2017

Jeff the Killer versus Slenderman

Prequel:Jeff the KillerSlenderman




Gelap gang basah sedikit diterangi cahaya ponsel Sarah, cahaya itu digunakan untuk melihat ke arah mana dia berjalan. Matanya terus waspada dalam kegelapan, dan tubuhnya gemetar. Apa yang terjadi semalam adalah misteri. Dia teringat kembali bahwa pada saat itu dia berada di sebuah bar. Dia datang ke sana bersama beberapa teman, untuk bersenang-senang. Jadi dia berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Sekarang dia berjalan sambil gemetar ketakutan, melewati satu per satu setiap bangunan, waktu menunjukkan bahwa sudah pukul tiga pagi. Dia mencoba mengingat kembali, tetapi semuanya tampak kabur. Dia melewati sebuah motel tua yang dipenuhi tikus, dan sebuah pub.



Sarah terus menyusuri pinggir jalan di lingkungan tempat tinggalnya, yang dikeliling banyak pepohonan. Dia berjalan, terkadang dia memejamkan mata selama beberapa saat. Dia menghangatkan dirinya di balik mantel selagi hujan yang dingin membasahinya. Sesaat sebelum kelopak matanya mengedip, sesuatu berkilat di sudut penglihatannya. Seketika dia kembali membuka mata, dan pupilnya melebar. Dia melihat ke sekeliling. Tidak ada apa pun yang terlihat dalam kegelapan dan derasnya hujan. Dia berbalik dan kembali melanjutkan perjalanan, berharap bisa segera sampai di rumah. Ketika dia mengamati sekeliling, dia teringat jalan pintas yang pernah dia lewati sewaktu kecil ketika bermain “Petak Umpet” dengan teman-teman masa kecilnya.

Namun, jalan itu mengarah ke hutan. Wanita yang sedang kedinginan itu merasa ragu, tetapi terlintas di benaknya bahwa jalan pintas itu akan membawanya sampai ke rumah yang hangat dengan lebih cepat. Sarah berjalan ke hutan. Ketika dia hendak memasuki hutan, pohon pertama yang dilihatnya telah ditandai. Apa yang tertanda di pohon membuat dia bingung, yaitu ukiran sebuah lingkaran dengan tanda X di tengahnya. Dia tidak mengetahui tentang asal atau makna tanda itu, jadi dia hanya mengira bahwa itu hanya lambang geng, atau semacamnya. Dia kembali berjalan memasuki hutan, dan teringat saat-saat menyenangkan yang dia alami sewaktu masih kecil. Dia berbicara dalam hati kepada dirinya sendiri.

“Aku rindu saat-saat itu. Ketika dunia masih belum menjadi tempat yang bur-”

Pembicaraannya terpotong oleh sesuatu. Sarah mendengar suara ranting patah yang keras dari salah satu pohon di kejauhan dari arah belakang. Ketakutan, dia mulai berlari di sepanjang hutan, dan dengan segera tersesat. Dia terus berlari ke segela arah, berharap menemukan jalan keluar. Karena begitu panik, kakinya tersandung akar yang menjulur di tanah, dan dia terjatuh. Usahanya untuk berdiri hanya mengakibatkan rasa sakit bertambah. Pergelangan kakinya terkilir.

“Seseorang kumohon... Tolong aku!” teriaknya.

Suara gemerisik dedaunan terdengar lagi. Dia berusaha untuk berdiri dan berlari lagi, tetapi luka yang didapat membuat dia tak mampu beranjak dari tempat. Dia memejamkan mata dengan ketakutan, dan ketika dia membuka kembali matanya, seorang pria tinggi berkulit putih yang mengenakan setelan jas hitam berdiri di hadapannya. Penglihatan menjadi buram ketika dia melihat pria ini. Dia mulai menjerit dalam rasa takut, tetapi dengan segera terdiam oleh sosok pria pucat kurus yang berdiri di hadapannya dalam kegelapan.

- Jeff the Killer versus Slenderman -

Pukul empat. Seorang yang dulunya anak muda, sekarang telah berubah menjadi psikopat berdarah dingin. Jeff si pembunuh baru saja menyelesaikan apa yang dia sebut “Kegiatan harian”. Kegiatan itu adalah pembantaian orang-orang yang tak bersalah, ini adalah yang memenuhi pikiran Jeff. Dia menyeret kakinya ke atas semen basah ketika dia hendak memasuki apa yang dia sebut sebagai rumah selama bertahun-tahun. Jeff melangkahkan kaki ke dalam dunia kenangan tragis, tangannya menggenggam dua botol wiski. Jeff telah menjadi seorang pemabuk sekaligus mesin pembunuh. Otaknya dipenuhi dengan aroma pembunuhan. Pikiran psikosis telah memenuhi otaknya sejak insiden itu terjadi. Selagi air hujan membasahi rumahnya, Jeff mulai kembali mengingat malam di mana dia membantai seluruh anggota keluarganya. Dia tertawa kecil. Jika bukan karena kegilaannya, dia mungkin akan menyesali perbuatan itu. Penyesalan karena merenggut nyawa orang-orang yang dia sayangi. Namun dia sudah tidak mungkin punya rasa belas kasih saat ini. Jeff sudah tidak memikirkan apa pun lagi, karena yang dipikirkan olehnya hanya satu. Kematian.

Sudah pukul lima lewat enam pagi. Dia meneguk alkoholnya.

“Sial, ngapain juga aku duduk di sini...” gerutu Jeff.

Dia berdiri lalu pergi menuju kegelapan, dia mengulet, dan menenggak wiski lagi. Alkohol melumuri bibir berdarahnya yang hangat, dan dia merasakan sensasi aneh. Tiba-tiba sesuatu melintas di benaknya. Dia berdiri di ruangan itu, menatap keluar ke arah hutan di luar sana. Jeff memeriksa sakunya yang berisikan- rokok, korek api gas, dan tentu saja sebilah pisau miliknya. Jeff tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Perasaan yang dia rasakan adalah perpaduan antara dorongan untuk membunuh lagi, dan sesuatu yang jauh berbeda dari apa yang pernah dia rasakan sebelumnya.

Dengan cepat dia keluar dari rumah, menuju dinginnya udara dan gelapnya langit. Jeff sekarang berada di jalan yang gelap, hanya lampu di jalan yang menjadi sumber penerangan. Hujan masih lebat, dan membasahi punggung Jeff. Dia mulai berjalan langsung ke hutan. Dia sedikit merasa pusing, karena konsumsi alkohol yang sangat tinggi. Pembunuh itu semakin dekat dengan hutan terpencil. Sebelum dia memasuki hutan, dengan cepat dia menoleh ke kiri. Jeff tidak jauh dari area pemakaman. Dia berjalan ke sana sambil gemetar. Suatu pemikiran melintas di benaknya, hampir seperti angin yang berhembus di sore hari. Makam keluarganya hanya berjarak beberapa kaki, seolah-olah mengisyaratkan pada dirinya.

Dia menjauhi hutan, dan bergerak ke pemakaman. Dengan perlahan Jeff berjalan, dia beberapa kali tersandung ketika jaraknya semakin dekat. Dia sampai di sana. Jeff menyebarkan bau busuk kematian di pemakaman itu, jaket yang dipakai telah berlumuran darah para korbannya. Jeff hanya mematung menatap batu nisan yang basah. Penglihatannya terlalu kabur untuk membaca tulisan yang terukir di batu nisan itu, hal ini menyebabkannya, hanya berdiri dan menatap dalam kesunyian. Sesuatu di dalam diri Jeff mulai terasa tidak nyaman, dan tenggorokannya mulai terasa kering. Perasaan yang sama dari beberapa menit sebelumnya.

Jeff dengan terhuyung-huyung kembali menuju hutan. Dia berjalan ke hutan sambil gemetar, matanya menatap ke arah sebuah pohon yang berjarak beberapa kaki jauhnya dari pohon lain. Terlihat ada selembar kertas kecil berwarna abu-abu yang tertancap di pohon itu. Matanya memburam, dia tidak bisa membaca tulisan di kertas itu. Dia mengabaikannya, dan berjalan lebih jauh ke kegelapan dengan perlahan. Rasanya dia mengingat tempat ini, seolah-olah hutan adalah rumah sebenarnya.

Dia mencengkeram kedua botol wiskinya sambil mengamati hutan dalam keadaan mabuk. Kegelapan hutan membuat Jeff kagum, karena mengingatkannya dengan lorong yang gelap, salah satu tempat di mana si pembunuh bisa dengan mudahnya menggorok leher para korban tanpa terlihat. Dia melanjutkan perjalanan, dan semakin kagum. Kegelapan yang hampa mengelilinginya. Bergumam pada dirinya sendiri dengan kata-kata yang tidak jelas, dia mulai berlari kecil. Ada sesuatu yang terasa sedikit aneh. Suara gemerisik dedaunan terdengar terlalu keras untuk menjelaskan bahwa dia tidak sendirian di hutan. Jeff seolah-olah merasa bahwa ada sesuatu yang mengintainya di luar jangkauan penglihatannya.

“Siapa di sana?” geram Jeff.

Gema dari kebisingan bisa didengarnya, tidak ada yang aneh. Suara jangkrik semakin terdengar lebih keras selagi Jeff mengamati keadaan di sekelilingnya.

“Ayolah pengecut, aku tidak suka bermain-main, apalagi petak umpet.”

Ketika Jeff meneriaki kalimat ini, dengan cepat suara gemerisik dari semak-semak terdekat bisa didengar. Dia menebasnya sebelum suara itu menghilang. Jeff kemudian melihat makhluk yang bersembunyi dari pandangannya sepanjang waktu.

“Dasar tikus-tikus sialan, kalian tidak lebih dari sekadar hama.” seru Jeff terhadap tikus-tikus yang keluar dari dedaunan.

Setelah dia melihat apa yang bersembunyi di semak-semak, dia melanjutkan perjalanan. Hujan yang membasahi punggungnya mulai mereda. Penglihatan semakin kabur, dan suara keras memenuhi kepalanya. Apa yang didengar ternyata hanya imajinasi gila Jeff, karena hutan sepenuhnya sunyi. Dia mengamati ke sekeliling, menyeret kakinya dan mulai kesal dengan kebisingan yang tak tertahankan. Dia tidak pernah mendengar suara yang menyebalkan seperti itu sebelumnya.





Kebisingan yang menenggelamkan Jeff perlahan menghilang. Karena merasa begitu pusing, Jeff terjatuh ke salah satu pohon. Kedua botol yang digenggamnya terlepas jatuh ke tanah. Salah satu botol pecah karena membentur kayu, dan berserakan di mana-mana. Suara pecahan itu memaksa Jeff untuk kembali tersadar. Ketika dia menyesuaikan mata terhadap kegelapan, penglihatan Jeff yang samar-samar tertuju kepada sosok berwarna putih dan lonjong yang berdiri di hadapannya. Matanya dengan cepat terfokus karena terkejut, tetapi sosok yang tadi berdiri di hadapannya sekejap menghilang.

“Gerangan apa itu tadi?”

Jeff tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri. Apakah itu semacam tipuan yang dimainkan oleh pikirannya?

“Sekarang aku tahu bahwa itu bukan tikus-tikus sialan”

Dia dengan cepat menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang mengintainya dari dalam kegelapan, yang terus mengikutinya dari kejauhan.

“Hentikan, aku tidak sedang bermain-main. Di mana kau, dasar sialan!?” teriak Jeff di bagian atas paru-parunya berharap bisa mendapatkan respon apa pun. Ketika dia mulai berjalan lagi, dia merasakan gelitikan lembut di lehernya. Dia kembali berteriak dengan kata-kata kasar.

“Itu bukan angin sialan, dasar pengecut. Keluarlah dari semak-semak sebelum aku memutuskan untuk menghabisimu!” Jeff mulai emosi pada titik ini. Ada yang tidak beres dengan tempat ini, tetapi dia menikmati setiap menitnya di sana. Dengan cepat, dia menarik pisau yang bersinar dari dalam sakunya, dan mulai menebas pepohonan di kegelapan.

“Keluarlah, dasar jalang!” Teriaknya. “Jangan bersembunyi, atau aku akan memotong setiap lapisan kayu untuk menggorok lehermu!”

Jeff mengacungkan pisau ke arah pohon tinggi serta tipis yang berada di samping kiri penglihatan dia, dan menusuknya. Dia merasa heran ketika melihat dengan saksama, pohon itu memudar ke kegelapan dalam hitungan sepersekian detik. Tidak tahu harus berbuat apa, dia menoleh dengan cepat ke sebelah kanan, dan memandang ke kegelapan malam. Dia memerhatikan pepohonan, dan melihat sesuatu yang tidak dia duga. Apa yang berdiri di hadapan anak lelaki psikotik itu adalah seorang pria kurus yang sangat tinggi, dengan setelan jas hitam. Itu semua adalah apa yang Jeff lihat, hujan menyebabkan penglihatannya terganggu.

Mata Jeff kembali terfokus, dan dengan cepat dia mulai memerhatikan pria itu. Pria itu sangat kurus, wajahnya pucat, hampir berwarna putih murni. Selagi Jeff mengamati wajah pria itu, dia dengan segera menyadari bahwa tidak ada apa pun di wajah pria ini. Wajah “Makhluk” ini sepenuhnya kosong, tanpa mata, hidung, ataupun mulut. Hanya kepala putih yang rata. Ini membuat Jeff merasa sedikit tidak nyaman, dan segera setelah itu, dia tertawa terbahak-bahak. Meski merasa takjub, Jeff segera memaki sosok di hadapannya.

“Jadi kau si bajingan yang terus mengikutiku di sepanjang hutan ini, ya?”

Jeff kembali menatap pria berwajah rata itu.

“Aku tidak tahu makhluk apaan kau ini, tapi kau mengingatkanku pada diriku sendiri” “Kau mempunyai wajah putih yang indah, tapi kau akan lebih sempurna dengan senyuman!”

Jeff mulai tertawa tak terkendali oleh perkataannya sendiri. Tawanya pun terhenti, telinga Jeff terserang oleh suara statis, dan dia terjatuh ke tanah. Dia terjebak ke dalam kegelapan total selagi dia menutup telinganya yang terasa sakit. Sosok yang baru saja diejeknya kini membuat Jeff sangat kesakitan, sementara tempat di mana mata pria itu seharusnya berada menatap langsung ke arah Jeff. Pada saat itu, Jeff tersentak. Rasa sakit yang dirasakannya hilang, dia menarik pisaunya sekali lagi, dan mulai berusaha untuk menyayat pria itu. Namun setiap gerakan yang dilakukannya sia-sia, karena pria itu bergerak dengan sangat cepat, seolah-olah dia melakukan teleportasi dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari serangan Jeff.

Pria tinggi itu mulai melawan balik. Jeff baru saja menyadari bahwa seperti ada tentakel yang bergelayut di punggung musuhnya. Tentakel-tentakel itu berusaha menangkap Jeff, dan dia meresponsnya dengan mengayunkan pisau ke setiap tentakel yang mendekat. Jeff berhasil menyayat sesuatu yang mirip seperti lengan. Seketika, sesuatu yang baru saja ditebas Jeff tumbuh kembali. Apa yang baru saja terjadi membuat Jeff heran. Dia merasa hampir seolah-olah pria itu adalah pohon yang tinggi, dan tentakelnya berupa cabang. Jeff melarikan diri dari hutan, menyadari bahwa tidak mungkin untuknya mampu melawan makhluk sekuat itu di daerah kekuasaannya.

Jeff berlari sejauh mungkin dari musuhnya, dan mendapati bahwa dirinya berada di tempat yang sebelumnya telah dia masuki. Di sebelah kanan terdapat pemakaman. Ruang terbuka. Ketika dia berlari melewati pepohonan, dia melihat satu yang jauh dari pohon lainnya. Pohon yang sama dari sebelumnya. Dia berlari ke pohon itu, dan membaca catatan yang telah dia lihat dari kejauhan sebelumnya.

“Jangan memasuki hutan ini di malam hari, seorang pria tinggi telah terlihat baru-baru ini di dalam hutan, beberapa orang menyebutnya Slenderman. Berhati-hatilah, dan ingat risiko ditanggung oleh dirimu sendiri.”

Makhluk apa pun itu yang sebelumnya terus mengintainya di sepanjang hutan dijuluki dengan sebutan Slenderman. Nama yang sempurna dengan deskripsi dari sosok tinggi serta putih itu. Jeff bergegas ke pemakaman, kemudian menunggu musuhnya, sambil memegang pisau tajam miliknya yang berlumuran darah. Harapan Jeff terkabul, Slenderman muncul dari arah hutan. Makhluk itu tampak ragu-ragu untuk meninggalkan tempat asalnya. Meskipun ragu-ragu, makhluk itu memberanikan diri untuk meninggalkan wilayahnya, dan dengan cepat makhluk itu bergegas menuju Jeff. Naluri psikopatnya mulai kembali, dan dia melompat ke pria tinggi itu. Jeff dengan cepat tergenggam oleh tentakel musuhnya, dan dilempar ke pohon terdekat.





Jeff mengayunkan pisau lagi ke tentakel yang telah menangkapnya. Dia berhasil menebas salah satu lengan asli Slenderman. Darah mengalir dari luka yang dalam. Sosok putih itu tidak menunjukkan emosi apa pun, dan mulai menangkap Jeff lagi. Setelah itu, dia membenturkan Jeff secara bertubi-tubi terhadap pepohonan, dan lempengan batu, pisau milik Jeff terlepas dari genggamannya, dan jatuh ke tanah bersama Jeff. Setelah membentur tanah, pisau milik Jeff membalik sehingga menusuk perutnya sendiri hanya dalam hitungan detik. Darah mengucur dari lukanya, dan segera setelah itu tanah terbasahi cairan merah. Dia berdiri sambil manahan rasa sakit.

“Cuma itu serangan andalanmu Slendy?” “Aku pernah dipukuli oleh ayahku dengan sabuknya, dan lengan rantingmu yang lemah bukan apa-apa!”

Slenderman tetap tak berkata, dan mulai menyerangnya lagi. Pria tinggi itu meraih potongan batu besi dari salah satu makam, tetapi sebelum dia melemparkannya, Jeff mencabut pisau yang menancap di perutnya, dan langsung melemparkan ke arah Slenderman. Lemparan yang dilakukan Jeff tepat sasaran, dan memotong salah satu lengan pria itu. Lengan kiri Slenderman terputus, dan jatuh ke tanah dengan suara gedebuk. Dengan cepat terguyur dengan darah kental yang mengucur dari bahunya. Lengan itu sepenuhnya terbasahi darah. Slenderman dengan cepatnya menghilang ke dalam kegelapan, tetapi secara tiba-tiba dia berada di belakang Jeff. Di tangan kanannya, dia memegang patahan batu besi, yang kemudian dia benturkan ke samping kepala Jeff. Jeff terjatuh ke tanah lagi, dia hampir tak sadarkan diri.

Tak lama setelah itu dia kembali digenggam oleh musuhnya, dan dilempar ke salah satu batu nisan makam. Batu tersebut hancur karena terbentur oleh tubuh Jeff. Jeff kembali berdiri dan matanya terfokus pada nama yang tertulis di batu nisan yang hancur itu. Ketika matanya menatap nama di batu nisan itu, mata hitamnya melebar. Nama yang tertulis di lempengan batu berwarna abu-abu itu dikenali Jeff dalam sekejap. Tulisan di batu nisan itu adalah nama saudaranya, Liu. Ada sesuatu yang mengalir dalam diri Jeff. Amarah memenuhi dirinya dalam sekejap, dan dia menyerang Slenderman dengan kecepatan yang luar biasa. Jeff berhasil menyayat jas serta kulit pucat musuhnya. Slenderman mulai melakukan teleportasi ke hutan.

“Ayo pengecut, urusanku denganmu belum selesai!” teriak Jeff. “Aku ingin membantumu agar tertidur seperti Randy! Kau terlihat sangat lelah!”

Apa pun itu yang merasuki Jeff membuat kegilaan menguasai dirinya. Dia menjadi hilang akal. Dia berlari ke arah Slenderman yang kabur, dan kembali ke hutan. Dia bergegas menembus hutan, tanpa memerhatikan keadaan sekitar. Jeff terus memasuki pedalaman hutan, dan masih mengejar pria itu. Slenderman terus menyusuri hutan. Karena tidak berhati-hati Jeff tersandung dahan pohon. Dia terjatuh ke tanah, pecahan kaca menusuknya, dan isi saku jaketnya terlempar keluar. Barang-barang miliknya berserakan di tanah. Jeff mendongak dengan wajah berdarah, aroma alkohol tercium dari dirinya. Jeff tahu bahwa dia sebelumnya telah berada di sini, dia terjatuh di depan pohon ini dan menjatuhkan botol wiski.

Jeff dengan putus asa meraba-raba mencari pisau yang terjatuh ke tanah. Dia merasakan bahwa tangannya memegang sesuatu yang hangat, berharap benda itu adalah pisau miliknya. Jeff segera meraih korek api gas. Dia menyalakannya, untuk menjadi sumber penerangan. Tangannya yang berdarah melumuri plastik korek dengan cairan merah. Setelah banyak usaha yang sia-sia, sebuah api oranye kecil menyala. Jeff memajukan korek api ke depan ketika dia menemukan pisau yang tergeletak di dekatnya. Sebelum dia sempat mengambil, Slenderman muncul di hadapannya. Wajah putih serta rata yang pernah dia lihat sebelumnya sekarang dipenuhi luka gores dan darah yang berwarna hitam. Meskipun dia terlihat kesakitan, Slenderman tetap kuat.

Korek api meluncur dari genggaman tangan Jeff, darah membuat licin tangannya. Api kecil itu mengenai tanah. Kedua makhluk yang saling bermusuhan itu berusaha menjauh dari api yang menyala. Namun, sebelum mereka dapat menjauh dari sana, api membesar karena alkohol yang membasahi tanah. Dalam hitungan detik, hutan dilalap si jago merah. Jeff mencari perlindungan, tidak ada satu pun dari mereka yang terlalap api. Slenderman tidak memedulikan hal ini, dan mulai menyerang Jeff. Jeff melawan balik, mengabaikan kobaran api berwarna oranye dan merah yang menghanguskan sekitar. Monster tinggi itu menghunuskan tentakelnya ke Jeff. Jeff meraih pisaunya dan melompat.

Namun usaha itu tidak berhasil, Jeff ditangkap oleh Slenderman dan terjebak dalam genggamannya. Slenderman mulai membanting-banting Jeff, selagi dia melakukan hal ini terhadapnya, Jeff menggigit tentakel Slenderman, dan suara retakan tulang yang keras terdengar. Rasa sakit melanda Slenderman, ini membuatnya terkejut, dia melempar Jeff ke sebuah pohon besar. Ketika Jeff terbang ke pohon itu, rasa sakit yang tajam menimpa Jeff langsung dari belakang. Dilanjutkan dengan cabang pohon besar yang menusuk bagian depan tubuhnya. Jeff telah tertusuk dengan kejam oleh cabang pohon yang panjang.

Darah menyembur dari mulut dan lukanya yang lebar membuat dia menjerit kesakitan. Slenderman pergi melarikan diri. Dia mencari tempat yang aman, di mana lingkungan hutan belum terkena kobaran api. Dia melihat Jeff dari kejauhan yang sedang berusaha untuk melepaskan diri. Pada titik ini, Slenderman tahu bahwa Jeff tidak akan sempat untuk melarikan diri. Monster putih itu bisa mendengar jeritan Jeff, meskipun dari jarak jauh. Dia terus menjauhi wilayah itu, dan meninggalkan Jeff yang terbakar dalam kobaran api.

Api yang menyala semakin terang, dan mengepung Jeff. Berjuang untuk menghindari panasnya api, dia dengan kerasnya merosot dari pohon itu. Api menelan Jeff, semua yang ada di sekelilingnya terbakar. Dia terbungkus kobaran api, tidak ada harapan lagi bagi Jeff. Dia sudah kehilangan akalnya sejak dulu, tetapi kali ini berbeda. Dia telah mencapai batasnya, dan ingatannya terbakar bersama hutan.

.

“Seorang gadis muda bernama Sarah Burgess dilaporkan hilang. Terakhir kali dia terlihat berada di Drop In Bar & Grill pada sekitar jam 9 malam. Jika Anda tahu tentang keberadaan Sarah Burgess, silakan hubungi nomor 404-835-TOLONG (4357). Berita lainnya, kebakaran besar di hutan telah merambat hingga ke lingkungan warga, penyebab terbakarnya hutan masih belum diketahui. Para penyelidik sedang memeriksa sisa-sisa hutan. Api telah dipadamkan. Hal ini akan sangat merugikan kehidupan hewan di hutan yang tadinya sangat lebat ini. Kami akan segera kembali dengan membawakan informasi lebih lanjut tentang peristiwa ini.”

Mark mematikan televisi, dan bersandar ke bantalan sofa.

“Hei sayang, apa kamu mau pergi ke hutan itu dan melihat sisa-sisanya? Mereka sudah memadamkan api yang membakar hutan. Ada juga berita tentang seorang gadis yang hilang, mungkin kita akan menemukannya selagi kita berada di luar sana.”

“Bisa gak di lain waktu aja perginya? Sekarang aku agak sibuk Mark, dan kalau polisi tidak bisa menemukan gadis itu, apalagi kita!” protes Julia.

Mark membantah. “Ayolah, ini tidak ada ruginya kok. Perjalanannya tidak memakan waktu sampai lebih dari lima menit say!”

“Baiklah kurasa ini tidak ada salahnya, tapi lima menit aja ya!”.

Pria itu memakai sepatu, dan pergi meninggalkan rumah bersama istrinya. Ketika mereka berjalan ke hutan yang hangus terbakar, mereka bisa melihat sesuatu yang bergerak di arah yang berlawanan. Wujudnya terlihat seperti manusia. Ketika mereka mendekat, mereka melihat makhluk itu seperti mendapati luka bakar yang parah di wajahnya. Makhluk itu tidak mempunyai kelopak mata, dan senyuman aneh terukir di mulut. Wajahnya benar-benar putih, dengan keabu-abuan seperti telah dibakar. Rambutnya yang panjang dan hitam tampak hangus. Mereka berjalan mendekatinya, dan Mark bertanya.

“Hei sobat, apa kau perlu bantuan?”

“Jangan Mark, kita bahkan tidak tahu siapa dia! Bisa saja dia adalah pembunuh gila yang selama ini tidak kita ketahui!” bisik Julia, dengan ketakutan.

Pria itu dengan cepat bergerak menuju pasangan tersebut. Ketika dia mendekati mereka, dia menarik sebilah pisau tebal yang berlumuran cairan merah.

“Tidak, tapi aku bisa memberi tahu bahwa kalian perlu bantuan agar bisa tertidur dengan nyenyak.”

Jeff menyayat leher pria itu dengan pisaunya, dan dia terjatuh ke tanah. Istrinya mulai berteriak dengan keras. Dia sadar bahwa dia tidak bisa terus berteriak dengan tidak melakukan sesuatu, karena dialah korban berikutnya. Dia ditikam dengan pisau di bagian jantung.





“Kalian tidak perlu khawatir tentang diriku. Tidurlah.”

Credit To: Dylan R. (CustomCreepyPasta)

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna