Sabtu, 02 September 2017

Jane the Killer: The Real Story

Sebelum membaca cerita ini, pastikan Anda telah membaca cerita Jeff the Killer terlebih dahulu. Sekian terima kasih.


By Kuratani

Dengar, satu-satunya alasanku memutuskan untuk menceritakan semuanya adalah karena cerita "Jane the Killer" mulai membuatku muak.



Nama asliku adalah Jane Arkensaw, yang dijuluki sebagai "Jane the Killer" dan cerita ini akan menjelaskan tentang pertemuanku dengan Jeff, alasan yang membuatku jadi begini, dan ini menjadi penyebab kenapa aku ingin membunuhnya.

Ketika aku mendengar bahwa ada sebuah keluarga pindah di seberang rumahku, aku tidak merasa terkejut. Lingkungan perumahan di sini cukup nyaman, dan rumah itu relatif murah mengingat di mana letak rumah itu berada. Kukira aku berusia sekitar 13-14 tahun ketika segalanya berubah menjadi neraka.

Aku tidak pernah berbicara dengan Jeff semenjak kepindahannya. Terus terang aku tidak ingin berbicara dengannya sampai... peristiwa pada malam itu terjadi. Namun, masih terlalu cepat untuk menceritakan semuanya. Kesan pertamaku tentang Jeff yaitu dia adalah seorang anak yang baik. Mungkin dia anak pintar, dia juga jarang berkelahi, bahkan, mungkin dia adalah cowok yang keren jika dia senang bergaul dengan siswa lainnya.

Kukira saudaranya yang bernama Liu adalah anak pertama jika dilihat dari caranya duduk dengan saudaranya di trotoar pinggir jalan. Tentu saja pada waktu itu aku hanya menebak dan tidak terlalu memikirkan itu karena aku harus bersiap ke sekolah ketika aku melihat ke luar jendela dan aku sadar bahwa aku akan terlambat, tidak biasanya aku terlambat karena aku berusaha keras untuk tidak pernah terlambat di acara apa pun. Terutama sekolah.

Aku tidak terkejut ketika melihat Randy dan anggota gengnya menghampiri Jeff dan Liu dengan menggunakan skateboard jelek miliknya. Randy seringkali menindas siapa pun yang lebih kecil darinya.

Bahkan dialah penyebab kenapa orang tuaku memilih untuk mengatarku ke sekolah daripada membiarkanku naik bus seperti anak-anak lain. Semua anak harus menyerahkan uang jajan kepada Randy dan anggota gengnya.

Kami semua tahu bahwa geng Randy selalu membawa pisau dan mereka akan menggunakan pisau milik mereka untuk mengancam kami ketika mereka meminta uang kepada anak-anak. Semuanya, kecuali dua anak baru itu yang sedang menjadi target berikutnya.

Ketika aku melihat Randy berbicara dengan mereka, aku langsung berpaling dari jendela. Karena aku tidak ingin membuang-buang waktuku. Lebih baik aku mempersiapkan perlengkapan sekolahku dan berangkat ke sekolah daripada menyaksikan mereka memberikan uang jajan kepada Randy. Namun aku semakin penasaran dengan apa yang akan terjadi, dan beberapa saat kemudian aku kembali melihat ke luar jendela. Apa yang kulihat benar-benar membuatku terdiam. Jeff berdiri sekarang, dan tampaknya ini adalah momen yang diinginkan Randy.

"Kau harus duduk kembali," teriakku dalam hati, "Jangan bertindak bodoh."

Kemudian aku melihat Jeff menghajar Randy tepat di bagian wajah lalu ketika Randy hendak membalasnya, Jeff mematahkan pergelangan tangan Randy.

"Ya Tuhan." bisikku. Kemudian aku berteriak, "Dasar idiot!"

Orang tuaku berlari menuruni tangga dan menanyakan apa yang terjadi. Kemudian mereka melihat ke luar jendela dan melihat apa yang terjadi. Jeff telah menusuk lengan salah satu anggota geng Randy, kukira dia adalah anak yang bernama Keith, lalu dia terjatuh dan menjerit. Sedangkan Troy dengan mudahnya dikalahkan Jeff dengan sekali pukul. Karena rumahku terletak di seberang jalan dari tempat di mana Jeff dan saudaranya Liu duduk, dan juga ukuran jendela depan yang besar, kami melihat semua yang terjadi. Atau paling tidak aku menyaksikan semua yang terjadi dari awal, kedua orang tuaku datang setelah bagian di mana Randy mengambil dompet mereka, sehingga mereka tidak menyaksikan semuanya.

Menyaksikan Jeff berkelahi cukup membuatku gelisah. Dia tampak menikmati perkelahian itu. Perutku terasa tidak nyaman seolah-olah sesuatu yang kusaksikan tidak seharusnya terjadi, dan dari raut wajah Liu, Jeff hampir tidak pernah melakukan hal seperti ini. Hal selanjutnya yang kutahu aku mendengar sirene dan dua anak baru itu melarikan diri. Polisi datang dengan sopir bus untuk memeriksa "para korban". Tampaknya mereka akan baik-baik saja.

Kau tahu, mengingat mereka dikalahkan oleh satu orang ini pasti akan membuat mereka malu.

Salah satu peraturan orang tuaku adalah "anti polisi" karena ayahku pernah dijebak oleh seorang rekan polisinya. Dia pun mengundurkan diri dari kepolisian. Jadi ketika kami mendengar sirene, kami langsung pergi ke halaman belakang dan masuk ke dalam mobil, lalu kami pun melaju pergi.

Selama perjalanan ke sekolah, orang tuaku memperingatkanku untuk tidak berbicara dengan Jeff. Aku menuruti perkataan mereka.

Pelajaran pertama adalah kesenian, aku masih belum melihat Jeff sampai menjelang berakhirnya pelajaran kesenian. Aku bisa melihat warna-warni karya seniku jika aku tetap fokus. Namun ketika aku mencoba untuk melihat hal lain, semuanya tampak berwarna putih abu-abu. Kurasa itu adalah harga yang harus dibayar oleh seseorang karena tidak peduli dengan mereka yang tidak bersalah.

Aku masih tidak melihat Jeff sampai pelajaran terakhir. Sampai aku melihatnya, dia tampak... seolah-olah tidak ada yang terjadi. Pada awalnya kupikir dia hanya berpura-pura ceria sehingga siswa lain tidak mencurigainya atas kejahatan yang dilakukan dia. Namun dia memang tampak santai. Bukan karena dia senang berada di sekolah, aku bisa menggambarkan apa yang kulihat darinya. Senyuman itu tampak sadis untukku. Itu adalah senyuman dari seorang lelaki yang gila. Bel berdering dan aku keluar dari kelas secepat yang aku bisa. Tidak ada yang tahu siapa Jeff sebenarnya, kecuali aku. Lelaki sinting.

Keesokan harinya, semua tampak normal di awal. Kemudian aku melihat mobil polisi di depan rumah Jeff.

"Sepertinya kau tertangkap basah." kataku dalam hati.

Tidak ada yang bisa menghindari hal seperti itu (Terlebih banyak tetangga yang menyaksikan perkelahianmu). Namun dugaanku salah tentang siapa yang mereka tangkap. Pada awalnya kukira meraka akan menangkap Jeff, tetapi polisi malah menangkap Liu, saudaranya Jeff.

Kupikir Jeff telah menjebak saudaranya atas apa yang telah dia perbuat sampai aku melihat dia keluar dari dalam rumahnya dan berteriak pada Liu, "Liu, beritahu mereka bahwa akulah yang melakukannya!" (Aku bisa mendengarnya kali ini karena pintu depan rumahku terbuka).

Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Liu untuk merespons teriakan Jeff, pastinya itu bukan jawaban yang ingin didengar Jeff. Beberapa saat kemudian, para polisi itu pergi membawa Liu, meninggalkan Jeff dan ibunya. Ibu Jeff masuk ke dalam dan meninggalkan Jeff sendirian di luar. Meskipun aku tidak bisa mendengarnya, tetapi aku bisa melihat bahwa dia menangis.

Tetapi, siapa yang tidak menangis jika berada dalam situasi seperti itu.

Keesokan harinya rumor tentang Liu menyebar seperti api. Butuh waktu lama untuk memulai rumor tersebut karena semua murid takut untuk membicarakan Randy yang sudah dikalahkan. Ketika mereka tahu bahwa Randy tidak akan masuk selama beberapa hari ke depan, semuanya memutuskan untuk mengambil keuntungan ini dan menikmatinya semaksimal mungkin, tetapi, berbagai omong kosong mulai bermunculan.

"Kudengar Liu memotong lengan Keith!"

"Oh ya? Kudengar Liu juga menghajar Troy dengan begitu keras di bagian perutnya sampai dia muntah darah!"

"Itu belum seberapa! Kudengar dia juga meninju Randy di bagian hidungnya dengan sangat keras sampai tangannya menembus ke bagian belakang kepala Randy!" dan omong kosong lainnya.

Secara pribadi aku tidak ingin berurusan dengan Jeff ataupun saudaranya. Namun... Jeff tampak sangat kesepian dan aku ingin membantunya. Jadi, aku menulis sebuah catatan yang memberitahunya bahwa dia masih punya seorang teman di sekolah ini dan aku akan bersaksi di pengadilan Liu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku meninggalkan catatan itu di mejanya dengan tanda "J" di surat tersebut sebelum kelas dimulai, kemudian aku pergi. Ketika aku kembali, Jeff sedang duduk di bangkunya dan catatan yang kutinggalkan sudah tidak ada.

Hari sabtu tiba dan aku sendirian di rumah sementara kedua orang tuaku bekerja. Anak tetangga sebelah sedang berulang tahun. Aku membuka jendela karena aku ingin membiarkan angin sepoi-sepoi memasuki kamarku selagi aku mengerjakan PR. Namun, suara anak-anak yang sedang bersenang-senang di luar semakin keras sehingga aku memutuskan untuk menutup jendela kamarku. Aku hendak menutup jendela ketika aku melihat Jeff sedang bermain dengan anak-anak. Dia berlarian sambil memakai topi koboi palsu dan membawa sebuah pistol mainan. Dia tampak begitu konyol sehingga aku tertawa.

"Mungkin dia bukanlah monster seperti yang kupikirkan." pikirku dengan malu pada diriku sendiri karena telah berprasangka buruk terhadapnya.

Ketika aku menutup jendela, aku melihat Randy, Keith, dan Troy melompati pagar dengan skateboard milik mereka, lalu mereka mendarat tepat dihadapan Jeff.

"Tidak lagi!" kataku sambil membuka jendela.

Aku melihat Randy dan Jeff melakukan pembicaraan kecil tetapi aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan mereka karena anak-anak mulai berteriak. Kemudian Randy berlari menuju Jeff dan mereka berdua mulai berkelahi bergulingan di tanah. Aku hendak meraih ponsel dan memanggil 911 ketika mendengar Troy dan Keith berteriak, "Jangan mengganggu atau peluru akan ditembakkan!" aku memandang ke luar jendela lagi dan melihat bahwa keduanya memegang pistol. Aku tidak bisa mencari pertolongan tanpa membahayakan keselamatan orang lain. Aku tidak bisa memanggil 911 karena baterai ponselku sudah habis.

Randy menendang wajah Jeff, setelah tiga tendangan Jeff meraih kaki Randy dan memelintirnya. Randy terjatuh dan Jeff berusaha berjalan ke pintu belakang, kemudian Troy menangkap Jeff di bagian belakang kerahnya dan melempar dia ke pintu teras. Aku mendengar suara kaca pecah dan menyadari bahwa mereka berniat untuk membunuhnya.

"Bajingan kau Randy!" teriakku padanya. Namun dia tidak bisa mendengarku karena suara teriakan anak-anak.

Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, jadi aku berlari ke kamar orang tuaku dan mencari ponsel ayah, berharap bahwa dia lupa membawanya. Jantungku berdetak kencang, mengingat bahwa aku telah membuang-buang waktu, dan semakin besar kemungkinan dia akan terbunuh. Akhirnya aku menemukan ponsel di bawah tempat tidur. Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku langsung menekan nomor 911.

"Dengan 911 di sini, ada yang bisa kami bantu?"

"Saya butuh bantuan, keadaan darurat sedang terjadi di sebelah rumah saya! Beberapa lelaki melompati pagar dan memukuli seseorang! Mereka membawa pistol, kumohon, kalian harus bergegas datang ke sini!"

"Oke nona, beritahu alamatnya dan akan saya kirimkan beberapa petugas ke sana."

Aku langsung memberi tahu alamat rumahku kepada wanita di telepon beserta alamat rumah tetangga sebelah juga.

"Kumohon, cepatlah!" kataku.

"Tenanglah nona, tetaplah-" DOR DOR DOR!

Aku mendengar suara tembakan pistol yang berasal dari rumah sebelah. Tembakan itu membuatku kaget sehingga aku menjatuhkan ponsel ke lantai yang mengakibatkan ponsel tersebut pecah. Kemudian aku berlari ke jendela kamarku untuk melihat apa yang sedang terjadi. Namun tak lama setelah aku memajukan kepalaku keluar jendela, aku mendengar suara kobaran api dan jeritan... Aku akan membuat Jeff menjerit seperti itu lagi ketika aku menemukannya. Satu-satunya hal yang bisa disamakan dengan suara itu adalah tangisan kematian dari seekor hewan. Pada saat itu, jeritan yang kudengar cukup mengerikan. Namun sekarang, suara itu terdengar seperti musik dan tidak ada yang ingin kudengar lagi di dunia ini selain suara jeritannya.

Aku melihat api menyembur keluar dari dalam rumah itu seperti seekor naga yang sedang marah. Aku secara langsung berlari menuruni tangga dan meraih alat pemadam api portable dari dapur dan berlari ke luar rumah. Selagi aku berlari, aku membuka penutupnya agar langsung bisa digunakan. Untungnya pintu tidak dikunci sehingga aku bisa masuk ke dalam, tetapi ketika aku melihat Jeff, aku sepenuhnya mematung.

Jeff terbaring di bawah tangga, hampir sepenuhnya terbakar api. Para orang dewasa berusaha untuk memadamkan api yang membakar tubuhnya. Aku bisa sedikit melihat kulitnya melalui keributan yang sedang terjadi. Sebagian tampak berwarna merah muda, sebagian gosong, tetapi seluruh tubuhnya tertutupi dengan warna merah. Aku tidak sanggup melihat pemandangan ini, aku berteriak dan kemudian pingsan. Hal terakhir yang kuingat adalah beberapa orang dewasa berlari ke arahku. Apakah mereka ingin menolongku atau hanya mengambil alat pemadam api, aku tidak tahu.



Ketika aku sadar, aku terbaring di atas tempat tidur dan mengenakan gaun yang biasa dipakai oleh seorang pasien. Beberapa saat kemudian, seorang perawat wanita datang ke kamarku. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat dimasukkan ke dalam topi susternya. Dia tampak enggan berada di sana. Aku bertanya padanya tentang apa yang telah terjadi.

"Setahu saya, kamu dibawa ke sini bersama beberapa anak lain karena kamu terjatuh dan membenturkan kepalamu di alat pemadam api." katanya, seolah dia terganggu dengan pertanyaanku.

"Alat pemadam api?" aku mengangkat tangan dan meraba kepalaku. Aku merasakan perban dan benjolan sebesar buah jeruk. Kemudian aku teringat Jeff. "Apakah salah satu lelaki yang dibawa ke sini bersamaku baik-baik saja? Anak itu telah terbakar di ketika insiden itu terjadi."

Perawat itu menghela napas, "Dengar ya, ada dua anak laki-laki yang dibawa ke sini bersamamu yang mendapati luka bakar, dan aku tidak akan mengizinkanmu untuk menengoknya hanya karena anak itu adalah pacarmu."

Aku merasakan suhu panas memenuhi wajahku. "Dia bukan pacarku! Aku hanya mengkhawatirkan dia! Tidakkah suster akan mengkhawatirkan seseorang yang baru saja Anda lihat terbakar hidup-hidup di depan Anda?!" aku mencoba untuk tetap menstabilkan suaraku, tetapi suaraku yang gemetar cukup untuk membuatku seolah-olah sedang berbohong.

"Terserah. Orang tuamu sudah datang untuk menjengukmu. Apa kamu ingin melihat mereka?" tanya perawat itu.

"Ya, tentu saja!" berharap aku bisa segera menjauh darinya.

Orang tuaku memasuki kamar dan perawat itu akhirnya pergi. Mereka menanyakan apa yang telah terjadi. Aku memberitahu mereka semua yang terjadi. Perkelahian, catatan, semuanya.

"Ibu juga tahu bahwa Randy memang bukan anak yang baik!" kata ibuku.

"Jadi, apa ibu dan ayah sudah mendengar kondisi tentang Jeff?" tanyaku.

"Belum, sama sekali belum," jawab ayahku, "kami langsung datang ke sini segera setelah kami mendengar tentang apa yang terjadi padamu."

"Tapi siapa yang memberitahu ayah dan ibu?" tanyaku. Aku tidak melihat ada orang di pesta itu yang kenal dengan keluargaku.

"Pihak rumah sakit yang menelepon kami." jawab ibuku.

"Oh, jadi begitu." Meskipun demikian, ini sama sekali tidak masuk akal bagiku. Bagaimana bisa seseorang mengenaliku sedangkan pada saat itu aku tidak membawa identitas apa pun.

Aku memalingkan pandangan ke arah pintu dan melihat seorang pria dan wanita berdiri di sana. Kedua orang tuaku pun ikut memandang ke arah pintu dan melihat mereka juga.

"Permisi, apakah ini kamar Jane Arkensaw?" tanya wanita itu.

"Iya." jawab ibuku, "Siapa kalian?"

"Saya Margret, dan ini suami saya, Peter." dia memberi isyarat ke arah pria di sampingnya. "Kami orang tua Jeff."

Aku bangkit dan duduk di tempat tidurku.

"Saya Isabelle, ini suami saya, Greg, dan ini Jane putri kami." ibuku memberi isyarat ke arahku.

"Jadi, kamu adalah gadis yang berlari sambil membawa alat pemadam api itu." kata Margret.

"Iya." jawabku dengan tenang dan malu. "Apakah putra Anda baik-baik saja?"

"Dia baru saja selesai menjalani operasi beberapa jam yang lalu. Dokter mengatakan bahwa kondisinya akan membaik."

Aku merasa lega setelah mendengar kabar itu. "Baguslah." kataku. "Dengar. Saya tahu apa yang terjadi pada Jeff dan Liu di hari pertama mereka sekolah..." kemudian aku memberitahu orang tua Jeff apa yang sebenarnya terjadi tentang perkelahian putranya dengan Randy dan anggota gengnya.

"Kami tidak tahu bahwa Jeff mampu melakukan sesuatu seperti ini." kata Peter.

"Saya akan memberi kesaksian bahwa Liu tidak pernah menghajar siapa pun, juga Jeff hanya melawan Randy dan anggota gengnya untuk membela diri."

"Tidak perlu," kata Margret, "Liu sedang dalam proses pembebasan dari penjara setelah apa yang terjadi pada para penindas itu."

"Begitu ya." kataku.

"Jane, sebenarnya kedatangan kami ke sini hanya untuk mengucapkan terima kasih padamu karena telah berusaha untuk menolong putra kami. Hal ini melegakan hati saya karena melihat masih ada seseorang yang menolong tanpa pamrih di generasimu sekarang ini."

Pipiku memerah, "Saya hanya melakukan sesuatu yang akan dilakukan oleh siapa pun jika berada dalam situasi seperti itu." aku menunduk, "Saya bukanlah seorang pahlawan."

"Tidak!" kata Margret, "Setidaknya kami bisa mengundang kalian untuk makan malam ketika Jeff keluar dari rumah sakit!"

Aku memandang ibu dan ayahku. "Tentu saja, kami menerima undangan makan malam kalian." Kata ibuku.

"Bagus! Kami akan mengabari kalian segera setelah Jeff keluar dari rumah sakit." kami mengucapkan salam perpisahan, kemudian mereka pergi.

Sekitar 2 hari berlalu dan aku diizinkan untuk meninggalkan rumah sakit. Sejak saat itu, aku tidak mendapat kabar tentang Jeff ataupun keluarganya, tetapi kudengar Liu sudah dibebaskan dari penjara dan luka-luka yang didapat Jeff perlahan mulai sembuh.

Ketika aku kembali masuk sekolah, aku menjadi pusat perhatian, kurang lebih karena akulah satu-satunya murid di sekolahku yang melihat kejadian di pesta itu. Namun aku menceritakan kejadian itu hanya kepada teman-temanku, yaitu: Dani, Marcy, dan Erica. Aku tidak tahu harus bagaimana menceritakannya, jadi aku memberitahu mereka apa yang telah kulihat.

"Sepertinya Jeff juga terkena dampak akibat perkelahiannya." kata Dani, dia adalah gadis berambut hitam mengkilap, dan bermata biru safir. Dialah yang paling banyak omong di antara kami.

"Yah, paling tidak dia melawan balik. Kudengar dia membawa beberapa anak idiot itu ke rumah sakit bersamanya." kata Erica sambil tertawa kecil. Dia selalu memakai setelan yang sudah ketinggalan jaman, seolah-olah dia adalah gadis dari tahun 80-an atau semacamnya. Dia memakai kaos kaki berwarna-warni yang panjangnya sepaha, dengan rambut yang disesuaikan, dan selalu membawa tas sejenis ransel.

"Dia juga membawa Jane ke rumah sakit. Mungkin Jane juga berusaha untuk menghajarnya." tawa Marcy. Dialah yang paling tampak "kegadis-gadisan" di antara kelompok kecil kami. Rambut pirang dengan mata yang berwarna cokelat, dan setiap kali kami melihatnya, dia pasti memakai sesuatu yang berwarna merah muda. Entah itu warna bajunya, ataupun kalung di lehernya, dan dia merupakan salah satu dari ratu drama yang kukenal. Selalu melebih-lebihkan fakta ataupun menyembunyikan kebenaran.

"Aku kan sudah bilang, kalau aku pergi ke sana untuk mencoba menolong Jeff karena ada sesuatu yang tidak beres." gumamku. Aku hanyalah "si polos Jane", berambut cokelat, mata hijau, dan cukup bijak serta tampak biasa-biasa saja.

"Atau mungkin... Kau ingin menolongnya karena kau cinta padanya." kata Marcy dengan suara dramatis.

Aku hanya menatap dia dengan mata selebar piring.

"Ap... Apa?"

"Kau tidak bisa menyangkalnya Jane Arkensaw! Kau suka sama Jeff kan!"

Setiap sel darah di tubuhku bermigrasi ke wajahku ketika dia mengatakan kalimat itu.

"Apa?! Tidak! Aku h-hanya ingin menolongnya, itu saja!"

"Pembohong! Aku melihat kau meninggalkan catatan di atas mejanya! Catatan apa sebenarnya itu? Surat cintamu untuk dia?"

"Tidak! Sama sekali tidak seperti itu! Aku hanya-"

"Jadi kau sudah mengaku bahwa catatan itu ditulis olehmu!"

"Apa maksudmu?"

"Tidak, aku hanya menebak-nebak saja." dia sedikit tersenyum sinis dan setelah itu dia menunggu respons dariku.

Gadis-gadis lain mulai menertawakanku.

"Jane ini hanya lelucon! Aku cuma bercanda!" Marcy tersenyum.

"Wajahmu lebih merah dari sebuah tomat!" Erica tertawa kecil.

"Aku benci kalian semua." gerutuku.

"Ah, jangan baper deh!" Dani merangkul pundakku. "Ayo, kita masuk ke kelas."

Beberapa minggu berlalu, semua berjalan dengan normal. Kukira Liu sudah mendapatkan beberapa teman. Segalanya kembali normal tanpa para penindas itu. Suatu hari, Liu mendatangiku dan memberitahuku tentang kondisi Jeff.

"Permisi, namamu adalah Jane kan?"

Aku berbalik dan memandangnya. Ternyata Liu.

"Ya. Kau Liu kan? Saudaranya Jeff?"

"Iya." dia tampak sedikit kaku. Begitu juga denganku. "Orang tuaku menyuruh aku untuk memberitahumu bahwa perban Jeff akan dibuka dalam jangka waktu beberapa hari lagi, jadi kami akan segera menelepon keluargamu tentang makan malam kita."

"Oke, baiklah, makasih." kataku.

Dia hendak berpaling ketika aku berkata, "Hei, dengar, apa yang kau lakukan untuk Jeff... sungguh mengesankan."

"Terima kasih. Kudengar kau mencoba menolong saudaraku dengan membawa alat pemadam api. Itu cukup keren."

"Benarkah? Terima kasih atas pujiannya. Sampai jumpa lagi."

"Iya, sampai jumpa lagi."

Ketika aku melihatnya berjalan menjauh, aku mendengar suara bisikan di sampingku yang mengatakan, "Menyelingkuhi pacarmu?"

"Apa sih?!" aku berbalik, dan terkejut. Ternyata Marcy.

"Saudara kandungnya pun juga kau goda!" katanya sambil berpura-pura menghela napas.

"Jaga mulutmu!" teriakku. Kemudian aku mengalihkan pandanganku untuk memastikan Liu tidak mendengar. Untungnya dia tidak mendengar apa yang dikatakan Marcy.

"Ayo masuk ke kelas." gerutuku.

Dua hari berlalu sampai telepon rumah kami berdering. Ibuku menjawab panggilan itu. Beberapa menit kemudian, dia menaruh telepon dan memberitahuku:

"Jeff akan dipulangkan dari rumah sakit pada hari ini Jane."

Aku menatap ibuku dan berkata, "Itu bagus!"

"Sepertinya kita akan makan malam secara gratis selama beberapa hari ke depan!" kata ibuku sambil tertawa kecil.

Beberapa jam berlalu dan aku mendengar suara mobil yang memasuki jalur mobil di seberang jalan. Aku memandang ke luar jendela dan melihat mobil Jeff terparkir di depan rumahnya.

"Jeff sudah pulang." kataku dalam hati. Aku terus mengawasinya karena penasaran, untuk melihat seperti apa sosok Jeff sekarang. Ya Tuhan, ternyata aku salah.


Ayahnya yang pertama kali keluar dari mobil. Kemudian ibunya. Kemudian Liu. Namun apa yang kuharapkan tentang sosok Jeff tidak jauh dari apa yang kulihat. Rambutnya menghitam dengan panjang sebahu, kulitnya menjadi sangat putih serta kasar, dan senyumannya... senyuman yang sama seperti yang kulihat ketika dia di kelas setelah menghajar Randy, Keith, dan Troy.

Namun, tanpa kusadari Jeff sudah memandang tepat ke arahku. Dalam mataku, aku bisa merasakan bahwa dia tidak memiliki jiwa, mata sadistisnya membakar tepat di jiwaku. Tatapannya cukup membuatku merinding, bahkan sampai sekarang ketika aku mengetik cerita ini. Rasanya seperti dia menatapku selama berjam-jam dengan senyuman itu, sampai akhirnya dia berpaling. Aku melihatnya berjalan memasuki rumah bersama orang tuanya. Aku bahkan tidak bernapas sampai pintu tersebut tertutup di belakang mereka. Setelah itu, orang tuaku datang ke ruang keluarga dan bertanya padaku apakah ada yang tidak beres.

Satu-satunya respons dariku adalah jeritan keras dan panjang. Setelah itu aku pingsan.

Ketika aku siuman, di luar sudah gelap. Orang tuaku tidak ada di kamar mereka. Keadaan rumah sangat sunyi. Aku bangkit dan pergi ke lantai bawah. Aku memakai gaun tidur panjang yang tidak kupakai sebelum aku pingsan. Aku menuruni tangga untuk pergi ke dapur. Lampu di sana menyala, tidak seperti biasanya, orang tuaku selalu memberitahuku untuk mematikan lampu ketika aku meninggalkan ruangan.

Ada sebuah catatan di atas meja.

Aku mengambilnya.

Apa yang tertulis di kertas itu terbaca:

"Apa kau tidak datang untuk makan malam? Teman-temanmu juga hadir di acara makan malam ini."

Aku mulai merinding dan menjatuhkan kertas itu. Aku berjalan ke jendela di ruang keluarga dan melihat ke luar. Lampu-lampu di rumah Jeff menyala. Aku tahu bahwa aku harus pergi ke sana, tetapi rasa takut memenuhi pikiranku. Aku menggelengkan kepala dan melihat ke luar kembali. Aku melihat Jeff bersandar di jendela rumahnya, dia menatapku sambil memegang sebilah pisau di tangannya dan mengetuk-ngetuk jendela dengan pisau itu.

Tok. Tok. Tok.

Dia masih tersenyum.

Tok. Tok. Tok.

Aku mulai melangkah mundur dari jendela, tanpa mengalihkan pandanganku darinya. Kemudian aku berbalik dan berlari ke dapur untuk menjauh dari jendela. Ketika aku mengintip dari dapur untuk melihat ke luar jendela, apa yang kulihat hanya noda merah di jendela.

Kemudian, aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling dapur. Semua tampak masih berada di tempat. Begitu juga dengan semua pisau. Aku meraih salah satu pisau dan memegangnya erat-erat. Kemudian aku mengangkat telepon dan mencoba menghubungi 911. Namun saluran telepon terputus. Aku tidak tahu di mana ponsel ayahku berada, dan juga aku tidak tahu apakah ponsel itu sudah diperbaiki. Aku tidak ingin pergi ke lantai atas. Aku tidak ingin ditikam dari belakang selagi aku mencari benda itu; dan jika aku pergi ke salah satu tetangga untuk meminta bantuan, Jeff bisa saja membunuh ataupun melukai siapa saja yang telah dia sandera. Jadi hanya ada satu pilihan. Yaitu pergi melawan Jeff sendirian.

Aku menggenggam pisau erat-erat dan pergi ke pintu depan, memakai sepatu, dan pergi keluar. Tanganku tidak ingin lepas dari gagang pintu ketika aku hendak melangkah keluar. Namun aku tahu apa yang harus dilakukan. Aku melepas gagang pintu dan berjalan ke seberang di mana rumah Jeff berada.

Ketika aku semakin dekat, aku mulai melambatkan langkahku. Lututku mulai gemetar, telapak tanganku mulai berkeringat, dan napasku mulai terengah-engah. Tanpa kusadari, aku sudah berdiri di depan pintu dan masih terengah-engah seperti seekor anjing. Aku menggenggam gagang pintu lalu memejamkan mata dan menyentak pintu hingga terbuka.

Aku hanya berdiri di sana, dengan pisau di tangan kananku dan gagang pintu di tangan kiriku, terlalu takut untuk membuka mata. Sampai aku mendengar suara yang mengatakan, "Oh sudah sampai ya. Aku senang kau memberanikan diri untuk datang, teman." Aku membuka mata. Kemudian berteriak.

Matanya melotot dan tidak berkedip, serta senyumannya yang berwarna merah. Dia telah mengukir senyuman di wajahnya! Pakaiannya berlumuran darah, dan tak lama setelah itu, aku pingsan.

Ketika aku siuman, aku berada di sekeliling meja makan. Pisauku hilang, dan ketika aku memandang ke sekeliling, aku melihat beberapa orang duduk di kursi lainnya. Di antara mereka adalah orang tuaku, orang tua Jeff, saudaranya Liu, dan teman-temanku. Mereka semua sudah mati. Dengan senyuman yang terukir di wajah mereka dan rongga merah besar di dada mereka. Aku mencium bau yang sangat menyengat, bau yang tak tertahankan... belum pernah aku mencium bau seperti ini. Bau mayat.

Aku mencoba untuk berteriak tetapi mulutku terbungkam dan aku diikat ke kursi. Aku melihat ke sekeliling ruangan dan tidak percaya dengan semua yang terjadi. Air mataku mulai mengalir, aku tidak sanggup untuk melihat pemandangan dan bau dari mayat-mayat ini.

"Lihat siapa yang sudah bangun."

Aku mengalihkan pandangan ke samping. Jeff berdiri di sana. Aku berusaha untuk berteriak, tetapi usahaku sia-sia karena mulutku sedang terbungkam. Dengan sekejap, dia sudah berada di sampingku sambil menodongkan pisau di leherku.

"Shhhhhhh, diamlah, diamlah, diamlah. Tidak sopan meneriaki teman seperti itu." dia mulai meluncurkan mata pisau ke wajahku. Terus-menerus membuat garis tipis dari sudut mulutku hingga pipiku membentuk senyum lebar. Aku hanya bisa gemetar selagi dia melakukan ini. Ketika aku berpaling dia menjambak rambutku dan memaksaku untuk melihat pemandangan mengerikan di seberang meja. "Wah, wah, jangan kasar begitu, kau menghina semua orang di sini dengan tidak melihat wajah mereka yang indah."

Aku melihat kembali ke meja makan, memandang semua orang dengan wajah mereka yang telah diukir senyuman dan beberapa dari mereka masih meneteskan darah segar dari dadanya. Air mata mulai mengalir di wajahku dan aku mulai menangis.

"Awww apa yang salah?" tanya Jeff, "Apakah kau kesal karena kau tidak terlihat secantik mereka?"

Aku menatapnya, mencoba memahami apa yang dia katakan. Namun aku langsung mengalihkan pandangan ketika melihat wajahnya lagi dan kembali melihat ke meja makan.

"Jangan khawatir, aku akan membuatmu terlihat cantik juga. Apa komentarmu?" dia kemudian menyelipkan pisaunya ke bungkaman mulutku dan memotongnya.

Aku meludahkan sisa bungkaman itu dan mengunci pandanganku tepat ke matanya, mencoba untuk menahan pandangannya. Dia memiringkan kepala lalu kembali menatap padaku. Kemudian aku memejamkan mata dan berpaling dari wajahnya. Aku bergumam dengan pelan, "Uruslah dirimu sendiri." kemudian aku memandangnya lagi, "Dasar kau Joker tiruan!"

Kemudian, dia hanya tertawa di depan wajahku. Ini membuatku semakin muak, aku lebih suka ketika dia hanya tersenyum.

"Kau bahkan lebih lucu dari yang kuduga."

Dia mendekatkan wajahnya. Aku memalingkan wajahku lagi, aku bisa merasakan hembusan napasnya di kulitku.

"Sesama teman harus saling berbuat kebaikan benar? Baiklah aku akan berbuat baik padamu."

Dia melepaskan jambakannya dari rambutku. Ketika aku kembali memandangnya, dia berjalan keluar ruangan. Aku kembali memandang meja, menyaksikan semua pemandangan di hadapanku. Air mata kembali mengalir di wajahku ketika aku teringat keluarga dan teman-temanku yang masih hidup beberapa jam lalu. Aku masih menangis ketika Jeff kembali.

"Jangan menangis." katanya, "Ini semua akan segera berakhir."

Aku menunduk dan melihat dia memegang sebotol pemutih dan sekaleng bensin.

Mataku melebar dan aku kembali memandangnya.

"Aku tidak punya alkohol, jadi aku menggantinya dengan ini."

Kemudian dia mulai menyiramku dengan pemutih dan bensin.

"Sebaiknya kita bergegas, Jane. Aku sudah memanggil petugas pemadam kebakaran."

Kemudian dia mengeluarkan sebuah korek api kayu.

Lalu menyalakannya.

Kemudian melemparkannya ke arahku.

Api berkobar segera setelah korek api kayu tersebut mengenai diriku. Aku berteriak dengan sangat keras. Rasa sakit yang kurasakan sungguh tak tertahankan. Aku bisa merasakan dagingku meleleh, hawa panas menjalar di seluruh pori-pori tubuhku. Darah yang berada di pembuluh darahku mulai mendidih, dan tulang-tulangku menjadi hangus dan rapuh.

Sebelum aku pingsan, aku mendengar suara tawa Jeff, "Sampai jumpa temanku! Kuharap kau menjadi secantik diriku! AHAHAHAHA!"

Kemudian, segalanya menjadi gelap.

Ketika aku siuman, aku sedang duduk menyandar di tempat tidur rumah sakit, terbalut perban dari kepala sampai ujung kaki. Segalanya terasa berputar, dan aku merasa sakit ketika berkedip, dan bernapas.

Aku melihat ke sekeliling, dan aku sadar bahwa aku sedang berada di sebuah ruangan kosong. Aku merintih keras karena balutan perban di mulutku. Segalanya terasa sakit. Beberapa menit kemudian, seorang perawat wanita datang.

"Jane? Bisakah kamu mendengar saya?"

Aku memandang perawat itu. Ruangan mulai terasa semakin berputar.

"Jane, saya adalah perawatmu, nama saya Jackie, saya tidak tahu harus bagaimana mengatakannya tapi, keluarga kamu tewas dalam kebakaran itu. Saya turut berduka."

Air mata kembali mengalir di wajahku. Aku terisak.

"Tidak usah menangis sayang. Kamu tidak akan bisa bernapas kalau kamu menangis."

Aku tidak bisa berhenti menangis.

"Jane saya akan memberikan kamu sesuatu untuk membantumu agar tetap tenang ok?"

Aku merasakan sesuatu mengalir ke aliran darahku, beberapa saat kemudian aku tertidur lagi.

Ketika aku terbangun, aku semakin kesulitan untuk bergerak dan perban ditubuhku tidak sebanyak seperti ketika aku pertama kali siuman. Aku memandang ke sekeliling dan melihat bahwa kamarku dihiasi banyak bunga. Beberapa masih segar, beberapa sudah layu. Aku mencoba untuk duduk tetapi seorang perawat memasuki kamar dan membaringkanku kembali.

"Pelan-pelan Jane, kamu masih harus beristirahat. Kamu harus melakukannya dengan perlahan."

Aku mencoba untuk berbicara. Suaraku terdengar kasar, dan halus. "Berapa, berapa lama saya tertidur?"

"Hampir 2 minggu. Kamu harus banyak istirahat, jadi kamu disuntik dengan obat tidur untuk membuat tubuhmu pulih kembali. Saya adalah perawat yang sama dengan yang kamu lihat ketika pertama kali kamu siuman."

"Berikan saya cermin." kataku.

"Jane, saya pikir itu tidak ak-"

"BERIKAN SAYA CERMIN!"

Aku merasakan gagang cermin diselipkan ke tanganku. Ketika aku bercermin, aku menjatuhkan cermin tersebut ke lantai. Pecahnya cermin itu tidak sebanding dengan hancurnya kesadaranku. Kulitku kasar dan berwarna cokelat, tidak ada sehelai pun rambut di kepalaku, dan kulit di sekitar mataku kendor. Aku hampir tampak seburuk Jeff.

Segalanya kembali membanjiri ingatanku. Aku mulai menangis lebih keras dari yang sebelumnya. Perawat itu memelukku, tetapi itu tidak terlalu membantuku. Pada puncak isak tangisku, aku terkejut bahwa tidak ada orang lain yang masuk untuk menjengukku. Ketika aku berhenti menangis, aku hampir tidak bisa berbicara.

Seseorang berdiri di pintu kamar.

"Permisi, saya membawakan sebuah kiriman untuk 'Nona Arkensaw'?"

"Aku akan mengambilkannya." Jackie berdiri dan pergi ke pintu. Aku tidak ingin pria yang mengantarkan kiriman itu melihatku, jadi aku menatap dinding di depanku.

"Seseorang pasti peduli denganmu Jane. Sepertinya ini dari orang yang mengirimkan semua bunga-bunga ini untukmu."

Aku menatapnya. Dia sedang memegang sebuah paket yang dibungkus dengan kertas merah muda dan diikat dengan tali cokelat. Aku mengulurkan tangan dan mengambil paket tersebut darinya. Ini adalah yang kedua kalinya perawat itu menerima paket, aku tahu bahwa ada yang tidak beres.

"Maaf tapi, bisakah saya meminta sesuatu untuk dimakan?" tanyaku dengan semanis mungkin.

"Tentu saja, saya akan segera membawakanmu makanan." jawab Jackie sambil tersenyum, lalu dia meninggalkan kamar.

Tanganku gemetar ketika menyentuh tali di paket dan menariknya. Kertas yang membungkus mulai terbuka dan aku melihat sesuatu yang mengubah darahku membeku seperti es. Itu adalah sebuah topeng putih dengan warna hitam di sekitar lubang mata dan senyum feminin berwarna hitam. Topeng tersebut juga memiliki lapisan hitam yang menutupi lubang mata, jadi meskipun seseorang tidak bisa melihat mataku, aku tetap bisa melihat mereka. Dalam paket tersebut juga terdapat gaun hitam panjang dengan kerah yang tinggi, sarung tangan hitam, dan rambut ikal palsu berwarna hitam. Dengan semua benda-benda ini, ada sebuah karangan bunga mawar hitam dan sebilah pisau dapur yang tajam.

Ada secarik catatan yang terlampir di topeng tersebut:

'"Jane, aku minta maaf karena gagal membuatmu cantik. Jadi aku memberikanmu sebuah topeng yang akan membuatmu terlihat cantik sampai kau sembuh. Kau juga lupa dengan pisaumu, kupikir kau pasti menginginkannya kembali."'

'-Jeff '

Ketika Jackie kembali, aku menyembunyikan paket yang dikirimkan oleh Jeff di bawah tempat tidur. Aku memberitahunya bahwa paket itu hanya berisikan karangan bunga mawar hitam. Dia tampak jijik dengan bunga-bunga itu sehingga dia membuangnya. Aku berterima kasih padanya karena membuang karangan bunga tersebut.

Malam itu, ketika semua orang sudah tertidur atau pulang ke rumah, aku menyelinap keluar. Satu-satunya yang harus kupakai adalah gaun itu. Jadi aku memakainya dan aku menemukan sepasang sepatu di luar lorong, terlupakan oleh beberapa perawat yang ceroboh. Aku memakai rambut palsu agar tampak tidak terlalu mencolok.

Aku tidak tahu ke mana harus pergi, dan aku tidak peduli. Ketika akhirnya aku berhenti berjalan, aku berada di depan sebuah pemakaman. Aku memasuki pemakaman itu dan menemukan dua batu nisan. Di batu nisan tersebut, tertulis nama Isabelle Arkensaw dan Gregory Arkensaw. Aku berlutut di depan batu nisan mereka dan kembali menangis. Ketika akhirnya aku berdiri, matahari mulai terbit, dan hidup baruku segera dimulai. Aku mengambil topengku dan memakainya. Kemudian aku mengeluarkan pisauku dan menggenggamnya erat-erat. Kemudian aku berbalik dan melihat ke arah matahari yang terbit, pada hari itu aku bersumpah untuk membalaskan dendam terhadap Jeff the Killer dan menggunakan nama baruku "Jane Everlasting". Karena satu-satunya hal yang kuinginkan adalah menjadi kekal melebihi Jeff dan merubah kegilaannya menjadi kematian.

Sejak hari itu aku terus mencari Jeff dan berusaha untuk membunuhnya.

Memburunya.

Memburunya seolah-olah dia adalah binatang.

Aku akan menemukanmu Jeff, dan aku akan membunuhmu.



Sedangkan untuk fotoku yang sudah beredar dengan kalimat: "Jangan tertidur, kau tidak akan terbangun" itu cukup untuk menjelaskan apa yang ingin kulakukan terhadap korban Jeff, dengan tujuan untuk mencegah mereka menjadi korban. Siapa pun yang mengatakan bahwa aku membunuh seseorang agar mereka tidak terbunuh oleh Jeff itu merupakan perkataan yang berlebihan.

Jadi, inilah kisahku. Entah kau menerimanya sebagai fakta atau tidak kaulah yang memutuskan. Sekarang, matahari hampir terbenam, dan perburuanku akan dimulai sekali lagi.

Original Author: MrAngryDog

Translator: Gugun Reaper

Source: Jeff the Killer Wiki

2 komentar:

  1. Jadi yg diburu si "jane" ini si jeff atw yg dia anggap calon korban si jeff??

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna