Sabtu, 30 September 2017

Homicidal Liu

Catatan: Ini merupakan sequel untuk cerita Jeff the Killer.



Semuanya dimulai pada suatu malam. Malam itu saudara tercinta Liu yang bernama Jeff berhenti menjadi manusia normal dan berubah menjadi seorang monster tanpa jiwa. Jeff membunuh ibu dan ayahnya, dia juga mencoba untuk membunuh Liu. Tapi ajaibnya, Liu masih hidup dengan banyak luka tusuk dan sayatan.

Yap, dia selamat dari serangan saudaranya. Dia merangkak hampir seperti cacing, dia nyaris mati karena kehabisan darah, melalui setiap pembuluh darah yang mengalir. Dia tenggelam dalam darahnya sendiri, detak jantungnya semakin melemah dan hampir berhenti. Liu tetap tidak putus asa untuk terus hidup. Kemarahannya terhadap Jeff adalah semua yang membuatnya tetap berusaha untuk terus hidup.

Tiba-tiba, segalanya menjadi gelap, lalu dia pingsan.

Ketika Liu membuka kedua matanya, dia berada di ruangan yang berwarna putih terang. Setelah cukup lama tertidur dia akhirnya benar-benar terjaga.

Selang infus dan alat-alat kedokteran lainnya yang tidak dia ketahui terpasang di lengannya. Dia tidak bisa bergerak. Itu terlalu menyakitkan untuknya, Liu diberi makan melalui infus, dia sering kali memandang ke langit-langit dan memikirkan sesuatu tentang apa yang harus dia lakukan.

Dia hampir tidak bisa mengingat siapa dirinya.

Hari yang membosankan untuknya, kamar yang sepenuhnya hening, kemudian dia mendengar seseorang yang sedang berbicara di pintu.

"Pasien ini bernama... Liu woods. Organ-organ tubuhnya semakin melemah dan tubuhnya bahkan tidak punya kekuatan yang cukup. Paru-paru kirinya rusak, kondisi jantungnya sekarat dan dia membutuhkan beberapa transplantasi. Jika tidak dia takkan mungkin selamat..."



Kata-kata itu menghancurkan semua harapan Liu untuk bertahan hidup setelah semua yang terjadi.

Akhirnya, tibalah hari di mana Liu akan mendapatkan semua transplantasi yang dibutuhkan. Dia masih belum bisa berbicara dan dia telah diberikan obat penenang, dia tidak bisa mengungkapkan kegembiraan yang ada di dalam hatinya. Dia akan menyimpan perasaan itu sampai dia pulih sepenuhnya.

Tiba-tiba, seorang perawat berjalan masuk dan memindahkan sebuah kursi ke samping Liu. Liu tidak keberatan sama sekali, dia sangat kesepian sepanjang waktu dan tidak ada seorang pun yang mengunjunginya.

"Hai, namaku Susan." Dia berkata dengan pelan. "Aku... adalah perawat di sini..." Perawat itu terlihat sangat muda, Liu terkejut perawat itu cukup umur bahkan untuk bekerja di rumah sakit ini. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku berharap yang terbaik untuk keberuntunganmu. Kau cukup kuat, dan aku kagum dengan kekuatanmu itu. Mungkin suatu hari ketika kau diperbolehkan untuk keluar dari sini, kita bisa berbicara..." Perawat itu mengangkat bahunya.

Liu mencapai perawat itu dengan semua tenaganya dan mencium pipinya.

Liu tidak akan menyangkal fakta bahwa Susan adalah seorang wanita yang sangat cantik.

Perawat itu jadi tersipu ketika hal ini terjadi. Perawat itu perlahan berdiri lalu tersenyum dan berjalan pergi. Perawat itu tahu bahwa Liu tidak bisa meresponnya.

Liu mencoba untuk membalas senyumannya. Liu berharap bisa melihat perawat itu lagi, tapi dia hanya punya sedikit keyakinan apakah dia akan bisa bertahan hidup ketika operasi yang sangat beresiko dimulai.

'Sampai jumpa Susan.' Liu mengatakan kalimat itu di dalam pikirannya.

Sudah tiba waktunya untuk melakukan operasi, itu adalah saat di mana diputuskannya apakah dia akan tetap hidup atau mati. Liu merasa ketakutan.

Dokter berkata bahwa dia adalah seorang lelaki yang kuat dan dia memiliki kegigihan untuk terus bertahan hidup. Tapi Liu masih tidak yakin.

Dia berbaring dan hampir tertidur.

Obat penenang berada di dalam dirinya, namun rasa sakit tersebut dimulai.

Pada saat itu, dia merasa pisau yang dingin menembus dadanya. Kemudian dia menutup kedua matanya dan tidak ada cara untuk berbicara atau bergerak, dia merasakan sayatan demi sayatan yang menyakiti tubuhnya.

Liu berpikir bahwa sayatan pertama akan menjadi yang paling menyakitkan, tapi kemudian dia merasakan sayatan itu membuka kulitnya. Rasa sakit semakin meningkat setiap detiknya. Setiap sayatan semakin memburuk dibandingkan dengan yang sebelumnya.

Tapi itu belum seberapa, kali ini dia merasakan tangan yang memegang jantung di dadanya. Jeritan memenuhi isi kepalanya, jeritan itu berasal dari ketakutannya sendiri.

Itu merupakan saat-saat penyiksaan Liu dimulai. Rasa sakit menyiksanya selama berjam-jam, setiap sayatan, dan penggantian organ tunggal.

Setiap sayatan sedikit menghancurkan kewarasannya, seolah dirinya telah hancur.

Dia menghabiskan hari-harinya hanya di atas tempat tidur, dia masih tidak bisa bergerak, ataupun berbicara, dia bahkan tidak bisa membuka kedua matanya. Meskipun dia telah sadar. Dia hanya bisa mendengar suara Susan. Susan selalu bersamanya sepanjang siang dan malam. Mendukungnya untuk terus menentang rasa sakit, Susan ingin Liu tetap hidup. Susan ingin memiliki kesempatan untuk melihatnya, melihat Liu woods yang sebenarnya. Dia ingin mendengar suara Liu.

Susan mulai sering mengunjungi Liu, membaca dan bernyanyi untuk Liu. Dia berada di sana hanya untuk Liu.

Dan akhirnya, suatu hari sebelum Susan datang mengunjunginya, keajaiban terjadi. Liu bisa merasakan pergerakan tubuhnya. Dia membuka kedua matanya dan Susan berteriak gembira melihat Liu akhirnya terbangun.

"Hai, Susan." Kata Liu dengan pelan. "Aku adalah Liu woods." Liu tersenyum. Susan menatap Liu dengan kagum.

"Serius... Kau... Saudaranya Jeffery Woods... Dia sebelumnya pernah dirawat di sini dalam jangka waktu beberapa minggu. Ketika dia sedang sakit. Kudengar dia menjadi gila... Dan membunuh keluarganya." kata Susan dengan rasa takut. "Bagaimana bisa kau selamat dari pembunuhan itu?" tanya Susan. "Pembunuhan telah terjadi di sekitar sini dan mereka semua sedang mencarinya. Aku... Turut berduka atas meninggalnya kedua orang tuamu... Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, karena ibu dan ayahku tewas dalam suatu kecelakaan mobil tahun lalu."

Liu merasa bahwa ini buruk bagi Susan.

"Bagaimana kalau kita makan malam ketika aku sudah diperbolehkan keluar?" tanya Liu.

"Itu ide yang bagus." kata Susan  sambil tersenyum. "Aku harus membiarkanmu istirahat. Kau membutuhkan itu." Susan meraba tangan Liu dengan lembut dan beberapa detik kemudian Liu tertidur.

Kemudian, Susan semakin sering datang mengunjunginya. Mereka berbicara dan tertawa. Akhirnya ulang tahun Liu yang kedelapan belas tiba.

Sejak mereka semakin dekat, rasanya hampir membuat mereka seperti sepasang suami istri... Liu meminta Susan untuk menjadi pacarnya.

Mata Susan menjadi berseri-seri karena merasa bahagia. "Liu, aku mau jadi pacarmu. Aku sangat menginginkannya sejak dulu, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan perasaanku padamu." Susan mendekati Liu dan mereka pun berciuman dengan romantisnya, dalam waktu yang singkat.

Liu sangat senang. Kejadian ini membuat hidupnya terasa lebih indah, dia telah memiliki seseorang untuk memulai sebuah keluarga.

Malam itu, Susan menanyakan Liu apakah dia ingin tinggal bersamanya. Susan mengira bahwa Liu tidak ingin kembali ke rumahnya karena itu adalah tempat di mana semua hal yang mengerikan terjadi. Dan Liu dengan senang hati menerima tawaran Susan.

Liu telah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit, itu adalah hari pertama dia keluar, Susan menyambutnya dengan tangan terbuka. Hari itu, Liu berencana untuk pergi kembali ke rumahnya dan mengambil pakaiannya.

Mereka pun pergi menuju rumah lama Liu, dan dengan segera mereka sampai.

Liu menendang pintu rumahnya hingga terbuka untuk melihat darah dan hal-hal yang mengerikan di mana-mana.

Liu merasa jijik dan kemudian dia menutup mulut dengan tangannya.

Itu adalah bau busuk yang sangat menyengat.

Darah kedua orang tuanya membasahi lantai, satu galon bensin, sebotol pemutih yang sudah kosong dan beberapa korek api. Liu dan Susan berjalan memasuki rumah, keduanya menutupi hidung mereka.

Mereka pergi memasuki kamar mandi untuk melihat kalimat 'tersenyumlah' yang ditulis dengan darah di cermin dan wastafel yang berlumuran darah kering.

Berikutnya adalah seprei yang lebih banyak noda darah. Seluruh rumahnya di penuh dengan darah.

Akhirnya mereka pergi ke tempat yang paling mengganggu di rumah. Yaitu kamar Liu.

'Tidurlah.' Itu adalah apa yang tertulis di dinding dengan darahnya sendiri. Hal ini sama seperti yang Susan ceritakan sebelumnya.

Liu meraih semua barang-barang dari lemarinya. MP3 player, ponsel, dan pakaian miliknya. Hanya itu saja yang tidak terbasahi cairan yang menjijikan.

Liu mulai berbalik untuk melihat kamarnya lagi. Dia masih ingat bahwa dia melihat kedua mata Jeff yang sangat mengganggu dan dipenuhi oleh kegilaannya. Kata-kata Jeff masih teringat dengan jelas ketika dia membisikkan kalimat 'Shh. Tidurlah.' Suara itu terus terdengar di telinganya lagi dan lagi.

Dia menggelengkan kepalanya. Kalimat itu menghancurkan kewarasannya.

Liu memberikan tasnya kepada Susan dan berkata padanya untuk menunggu di dalam mobil.

Liu dengan perlahan berjalan memasuki kamar mandi dan menatap pada pantulan dirinya di cermin.

"Aku akan menemuimu di neraka setelah aku membunuhmu." Bisiknya melalui pecahan cermin sambil memukul.

Liu berjalan keluar dari rumahnya dan menutup pintu di belakangnya.

Dia melihat Susan menunggunya, Susan pun datang menghampirinya.

"Aku minta maaf sayangku. Tapi aku harus mencari Jeff untuk membalaskan dendamku. Aku harus kembali pada Jeff untuk apa yang telah dia lakukan. Aku sangat minta maaf Susan. Tapi aku tidak ingin melihatmu mati di tangannya."

Susan tahu bahwa ketika dia memasuki rumahnya, Liu telah dipengaruhi oleh rasa ingin membalaskan dendam dan dia memohon pada Liu untuk tidak pergi meninggalkannya. Susan pun menghela napas dan meraih tangan Liu dengan lembut.

"Aku mencintaimu Liu, aku tahu bagaimana rasanya menjadi begitu dekat dengan kematian yang dapat mempengaruhi orang-orang di sekitarmu." Susan memberikan ciuman yang hangat kepada Liu, kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.

Ketika mereka sampai di rumah Susan. Liu mandi dan mulai menangis. Mengingat semua kesenangannya di setiap waktu. Dia selalu bersama Jeff dan keluarganya. Dia senang karena air di sana mengurangi suara tangisannya.

Malam pertama Liu cukup membuatnya traumatis. Dia bisa melihat Jeff di dalam mimpinya, yang dia ingat adalah Jeff berusaha membunuhnya, namun Jeff gagal. Saudaranya yang gila kemudian berbalik padanya dan berkata; 'Kenapa kau tidak tertidur seperti yang kuminta?'.

Liu terbangun dengan rasa takut dan kemudian dia mengusap keringat dingin di dahinya. Susan mendengarnya terengah-engah dan kemudian dia dengan cepat berlari ke kamar Liu.

"Apa yang terjadi?" Susan mulai panik ketika dia tidak mendengar respon dari Liu. "Liu, apakah kamu baik-baik saja?"

"Ya Susan. Aku baik-baik saja. Aku hanya bermimpi buruk, jangan khawatir." Liu tersenyum padanya untuk meyakinkan Susan dan kemudian Susan kembali ke kamarnya.

Ketika Liu terbangun di keesokan harinya, dia mencium sesuatu yang aromanya begitu nikmat. Susan baru saja membuat pancake.

Liu pergi ke ruang makan dan menatap ke arah Susan. Susan sedang mempersiapkan sarapan seperti yang dulu ibunya lakukan.

Liu dengan tenang mengatakan selamat pagi dan mulai memakan sarapannya.

Berapa banyak yang dia lalui di rumah sakit membuatnya sudah lama tidak memakan pancake yang 'dibuat dengan cinta'.

Dia tidak tahu, tapi rasa pancake itu... Sangat enak. Liu merasa dicintai sekali lagi.

Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Dia akan menjadi gila, setiap hari yang dia lalui bersama Susan mengingatkan Liu lagi dan lagi pada ibunya.

Malam itu Liu pergi ke kamar Susan, Susan terlihat begitu cantik, malam itu adalah malam di mana mereka akan berkencan untuk pertama kalinya.

Dia tidak mampu membunuhnya. Tidak seperti ini, tidak tanpa mengatakan pada Susan betapa dia mencintainya. Dia harus merasakan cinta untuk terakhir kalinya.

Ini membuatnya semakin gila di setiap harinya tanpa menusuk Susan dengan sebilah pisau di hatinya. Liu tidak ingin membunuhnya, tapi tidak ada pilihan lain.

Mereka kemudian pergi meninggalkan teater film yang sedang mereka tonton dan mereka mulai berjalan pulang.

"Susan, aku sangat mencintaimu, tapi ada sesuatu dalam diriku yang membunuhku. Aku ingin kau tahu bahwa segala sesuatu yang telah kita lalui, aku akan selalu mencintaimu."

Setelah Liu mengatakan kalimat itu, seorang pria datang entah dari mana dan menyerang Susan. Pria itu mencuri tas milik Susan.

Liu sangat marah. Dia ingin membunuh pria yang telah menyakiti Susan. Dia mulai mengejarnya dengan sebilah pisaunya yang telah disimpan di dalam saku mantelnya.

Liu pun berhasil menangkap pria itu lalu menyeretnya ke gang kecil dan memaksanya untuk meminta maaf, tapi permintaan maaf saja masih tidak cukup bagi Liu.

Liu ingin mengambil nyawa pria itu. Tidak ada yang dia inginkan selain itu.

"Larilah Susan, aku tidak ingin kamu melihat ini." Kata Liu sebelum Susan pergi sejauh yang dia bisa.

"Aku tidak akan memaafkanmu karena kau telah menyakiti Susan." Liu mengatakan kalimat itu dengan marah kepada pria di bawahnya. "Dia adalah wanita yang sempurna dan suci. Mengambil nyawamu adalah satu-satunya cara agar kau dapat membayar atas kejahatanmu karena kau telah menyakitinya."

Kemudian Liu meraih pisaunya yang berada di dalam sakunya dan mulai menusuk pria itu berulang kali. Dia bisa melihat rasa sakit dan penderitaan di matanya, kemudian pria itu perlahan-lahan mati kehabisan darah.

Sayangnya, jaket kulitnya sedikit terkena noda darah, dia pun melepas dan melipat jaketnya, lalu menyembunyikannya di mayat pencuri itu. Liu berjalan mencari susan, dan dengan segera dia menemukan Susan di dalam sudut ruangan kedai kopi dan dia sedang meminum secangkir espresso.

Susan terlihat baik-baik saja, Liu melihat manager kedai kopi itu telah membalut luka-lukanya, kemudian Liu berterima kasih. Liu membawa Susan pulang dan membaringkannya di atas tempat tidur.

"Aku minta maaf Susan, aku tidak ingin hal ini terjadi. Tapi hari ini aku telah belajar satu hal, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu." Liu mencium Susan dan kemudian dia pergi mandi.

Liu menyadari bahwa dia benar-benar tidak bisa membunuhnya, Susan adalah satu-satunya keluarga yang dia milik di dunia ini. Liu merasa bahwa Susan adalah satu-satunya sumber kebahagiaannya.

Meskipun Liu menikmati pembunuhan pria itu. Tapi dia tidak akan membunuh siapa pun lagi, Liu hanya akan membunuh orang-orang yang menyakiti seseorang yang tidak bersalah. Orang-orang yang pantas untuk mati.

Hari-hari berlalu kemudian dia mulai membunuh lebih banyak orang. Hal menjengkalkan adalah celananya dipenuhi oleh darah jadi dia memakai jaket kulit dan celana kulitnya sehingga dia bisa dengan mudah membersihkannya dengan minyak putih.

Membunuh semakin menjadi kebiasaan yang alami ketika dia merasa bosan. Bahkan satu tusukan sederhana dapat mendorongnya untuk membunuh sehingga dia menusuk korbannya secara berulang-ulang. Kemudian dia mulai menggunakan cara yang aneh dan tidak wajar untuk membunuh seseorang. Beberapa dibakar hidup-hidup dengan bensin, dan dengan cara lainnya, dia membedah korbannya tanpa anestesi, beberapa bahkan dipaksa untuk memakan bagian dalam tubuhnya sendiri, memotong-motong bagian tubuh mereka dan membuangnya ke anjing-anjing liar. Tapi dia tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah. Dia hanya membunuh para preman dan pelaku kriminal. Tidakkah itu membuatnya menjadi seorang pahlawan?

Susan dan Liu selalu duduk dan berbicara satu sama lain ketika Liu tidak melakukan hobinya.

Suatu hari Liu membawanya ke sebuah restoran yang indah, karena Liu bekerja di sana pada waktu itu. Dengan cahaya lilin. "Susan, kita telah bersama hampir selama satu tahun, aku tahu kau adalah cinta yang mewarnai hidupku sehingga aku tidak pernah bisa hidup tanpa dirimu." Liu kemudian mengambil cincin dari dalam saku belakangnya. "Susan... Maukah kau menikah denganku?" Kata Liu dengan penuh gairah.

Dengan air mata di mata Susan dia merespon Liu. "Ya Liu, tentu saja, aku mau menikah denganmu!" Mereka kemudian meninggalkan restoran itu. Liu tidak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya.

Segalanya benar-benar sempurna. Sampai tembakan senapan keras terdengar dari kejauhan dan mengenai Susan.

Liu sangat marah dan dia ingin membunuh pria itu, tapi dia tidak bisa meninggalkan Susan yang sedang sekarat.

Liu pun menggendong Susan dan berlari menuju rumah sakit.

Sang dokter mengatakan kepadanya untuk tidak terlalu berharap.

Dia ingin membunuh orang yang menempatkan kekasihnya yang segera-akan-menjadi-istrinya di ambang kematian.

Ketika Liu pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Susan, Susan sedang menunggunya di sana.

"Liu." Kata Susan dengan tersenyum. "Aku senang kamu datang. Aku tahu bahwa tidak akan mungkin bagiku untuk bertahan hidup, dan aku tidak ingin mati. Aku berharap bisa bertahan hidup seperti yang kamu lakukan. Tapi jika aku mati, aku tidak ingin kamu membunuh dirimu. Aku sangat mencintaimu bahkan sampai aku mati, aku akan tetap mencintaimu. Aku tahu apa yang kamu lakukan, aku tahu kamu membunuh para pelaku kriminal, dan itu adalah tujuan yang sangat mulia. Aku tidak ingin kamu berhenti melakukannya."

Setelah satu jam Liu mengatakan semua yang perlu untuk dia katakan. Liu tidak bisa kehilangan Susan. Satu-satunya orang yang dia miliki akan meninggalkan dunia.

Seorang dokter mengatakan kepada Liu bahwa sudah waktunya untuk melakukan operasi, jadi Liu menunggu di luar. Selama tiga jam berlalu. Bagi dirinya itu terasa seperti selamanya.

Tapi dengan segera dokter yang sama dari yang sebelumnya, berjalan ke arahnya.

"Operasi berjalan dengan lancar, kondisi Susan sekarang sudah stabil. Dia bisa keluar dari sini dalam jangka waktu dua minggu."

Kata-kata mengubah segalanya bagi Liu, dia merasa begitu kagum, sekarang dia tahu bahwa Susan tercintanya akan baik-baik saja.

Tapi ketika Susan berjalan keluar dan berkata. "Kamu siapa? Di mana ibu dan ayahku?" Liu merasa hancur dan putus asa.

Dirinya dipenuhi dengan kesedihan, Susan telah kehilangan ingatannya pada Liu.

Ketika Susan sembuh, Liu membawanya ke rumah sakit tempat mereka bertemu dan Susan mengingat bahwa dia adalah Liu Woods. Susan mulai mendapat ingatannya kembali.

Liu membawanya ke rumah lamanya dan mengingatkannya apa yang telah mereka lakukan di sana.

Akhirnya Liu sampai pada reaksi di mana dia sebelumnya melamar Susan.

"Liu, aku ingat semuanya. Terima kasih. Untuk segalanya..." Liu mencium Susan namun ketika mereka hendak menempelkan bibir mereka Susan mulai mengejang.

Liu menjadi panik dan dengan cepat dia membawanya kembali ke rumah sakit.

Segera setelah itu dokter pergi menghampiri Liu. "Aku sangat.... Minta maaf tuan. Tapi kekasihmu telah meninggal dunia."

Ucapan itu memenuhi Liu dengan kemarahan, rasa sakit dan kejahatan yang murni. Liu pun kemudian mendekati sang dokter dan membunuhnya tepat di sana. Dengan Susan yang telah tak bernyawa, semua orang di sana tidak dapat menahan amukan Liu.

Liu mulai membunuh semua orang di rumah sakit. Pria, wanita, anak-anak, orang yang sedang sakit, orang yang sedang diobati, dan orang yang sedang menunggu.

Dia tidak tahan melihat mereka semua hidup dengan bahagia, sedangkan kekasihnya Susan hanya terbaring dengan dingin, meninggal dan tak bernyawa.

Liu mengambil sebilah pisau dan menatap ke dadanya.

Dia mulai mengukir inisial Susan di bagian hatinya sendiri, dia juga menulis waktu kematian Susan dan hari ulang tahun mereka.

Liu menjahit mulutnya menjadi senyuman. Setelah itu dia mengambil semua barang-barangnya dan meninggalkan wilayah itu.

Liu sekarang membunuh semua orang dan segalanya. Untuk kesenangan dirinya sendiri.

Karena jika Susan mati semua orang juga pantas untuk mati.

Jika kau melihat Liu jangan menunjukkan tanda-tanda dari kebahagiaanmu, dia akan membunuhmu dalam kematian tanpa ampun yang menyakitkan.

English Translation by XsoverOs
Indonesian Translation by Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki

1 komentar:

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna