Sabtu, 23 September 2017

Crossroads

Aku beristirahat sebentar. Sekarang sudah saatnya untuk bangun dan mencoba sekali lagi untuk mencari jalan keluar. Aku berjalan dan melihat banyak tanda di dinding, sebuah noda, sebuah goresan, dan sarang laba-laba yang sebelumnya tak ku lihat. Tidak ada apa pun di sini. Semua yang terlihat adalah dinding sempurna, yang tak pernah tersentuh. Aku memeriksa salah satu darinya dan mencari kelemahannya. Labirin ini sepertinya terbentuk secara alami, sebuah jebakan kecil diciptakan oleh kekuatan dari alam semesta sehingga mereka dapat bersenang-senang melihat orang hina seperti diriku yang berusaha untuk mencari sedikit cahaya matahari.



Aku berjalan 10 langkah ke depan. Ada persimpangan. Ke kiri. 20 langkah. Ada pertigaan. 1000 langkah. 2000 langkah. 5000 langkah. Aku tidak dapat menghitungnya. Ada persimpangan lagi. Atau apakah ini persimpangan yang sama dari sebelumnya?

Aku ingin menandai dinding, tapi aku tak punya alat apa pun... hanya ada kedua tanganku. Aku mengambil napas dalam-dalam dan mulai menggoreskan jari ke dinding. Tidak ada yang terjadi. Salah satu kuku ku patah setengah. Sakit rasanya. Sangat sakit. Aku melihat ke dinding. Aku tidak boleh menyerah. Kupukul dinding dengan seluruh kekuatan yang kupunya. Aku mendengar kegaduhan dari sesuatu yang retak. Rasa sakit ditunjukkan pada jari-jari ku. Aku terduduk di lantai, punggungku menyender pada dinding. Sementara itu, ku lihat darahku di dinding perlahan-lahan memudar, yang tadi terlihat berwarna merah muda terang, kemudian benar-benar menghilang.

Aku menutup mataku selama beberapa detik. Hening. Aku hanya dapat mendengar suara napasku.

Tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang lain. Mulanya itu terdengar sangat pelan seperti suara detak jantung yang sedikit demi sedikit mulai terdengar keras. Itu terdengar seperti suara langkah kaki. Apakah ini pertolongan? Semangat harapan menyala di dadaku. Aku bangun dan berjalan secara hati-hati ke arah suara itu. Jantung ku berdebar kencang pada setiap langkahku selagi suara itu semakin keras.

Lalu rasa senangku perlahan berubah menjadi ketakutan. Ya, itu suara langkah kaki. Aku yakin. Tapi itu bukan suara langkah kaki manusia. Suara itu rupanya tidak mengikuti pola dan irama apa pun. Ada keheningan antara langkah yang tak menyenangkan, dan rasanya itu seperti sesuatu yang tidak berasal dari duniaku, seperti Labirin ini. Aku berhenti selama beberapa detik untuk mengambil napas, kemudian aku mulai berlari ke arah sebaliknya secepat yang ku bisa.

Persimpangan. Lurus. 20 langkah. Persimpangan. Ke kiri. 50 langkah. Pertigaan. Ke kiri. 30 langkah. Persimpangan. Ke kanan. Aku tidak bisa menghitungnya lagi. Jalan buntu. Sebuah tembok yang sangat besar muncul di depanku dan tidak ada tempat lagi untuk lari. Sekarang aku mendengar suara langkah kaki terkutuk itu di belakangku, semakin mendekat dan mendekat.

Aku terduduk dengan punggung menyender di dinding. Aku lelah, sangat lelah. Aku tidak peduli lagi. Sesuatu bisa saja datang dan menghancurkan ku seketika. Aku tidak punya alasan lagi untuk tetap hidup. Aku menutup mataku. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat dan aku tetap menutup mataku, menanti semuanya berakhir.

Kemudian itu berhenti. Suara itu tepat berada di depanku. Aku dapat mendengar deru napasnya yang berat. Beberapa detik sesudahnya yang dapat ku dengar hanyalah deru napas di depan ku. Aku pun membuka mataku.

Apa yang kulihat adalah sesuatu yang tidak bisa aku gambarkan. Itu terlihat mengerikan, bentuknya sama sekali tidak masuk akal. Aku merasa lumpuh, sambil menatap ke matanya, dia hanya memiliki satu mata. Kemudian dia menarik napas panjang. Sebuah desahan kekecewaan yang aneh. Dia berbalik dan berjalan pergi ke arah kegelapan labirin.

Aku duduk di sini sebentar. Aku tidak dapat menceritakan berapa lama aku sudah berada di tempat ini. Waktu sudah menjadi tidak masuk akal lagi. Aku butuh istirahat. Aku pun tertidur.

Ketika aku terbangun, aku masih merasa sedikit letih. Aku bangun dan berjalan, mencari jalan keluar lagi. Kemungkinan aku akan melihat makhluk itu lagi di persimpangan, yang membuat jantungku berdetak kencang dan semakin kencang. Sekarang aku memikirkan tentang matanya, aku mengerti itulah yang membuatku sangat takut.

Matanya terlihat mirip seperti mataku, tapi tampaknya dia sedikit lebih lelah. Kurasa dia merasa selelah itu karena sudah berada di tempat ini selama beberapa abad.

Original Author: mattumpierre

Translator: frstgirl

Source: Creepypasta Index

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna