Jumat, 04 Agustus 2017

The Closet of Clowns

Ini adalah lukisan yang kubuat mengenai gambaran badut itu. 
Sering kali, kami pindah ke berbagai tempat. Hanya orang tuaku, saudaraku, dan aku. Bagiku, hal yang berat dari setiap pindah tempat adalah aku harus menjalin pertemanan baru. Maksudku, aku hanyalah seorang anak yang berusia 15 tahun dan aku mencoba mendalami olahraga, tetapi ini masih terasa sulit.

Aku tidak begitu mengingat setiap tempat yang pernah aku tinggali. Ada sebuah kota yang pernah aku tinggali, yang aku ingat seolah-olah baru terjadi kemarin. Biarkan aku menceritakan, aku tidak akan pernah melihat badut yang sama lagi.

Baik, sebelum aku memulainya, aku akan mengatakan bahwa sebenarnya aku adalah seorang anak yatim piatu. Setelah orang tuaku meninggal, paman dan bibiku mengadopsiku, dan menjadikan sepupuku seperti saudara kandungku. Mereka menjadi keluargaku sekarang.

Pada malam pertama di rumah itu, setelah aku mengerjakan urusanku, aku pergi ke kamarku dan berbaring di kasur setelah menyetel stasiun radio favoritku. Aku mematikan lampu dan menutup mataku… Namun aku tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada seseorang yang sedang mengawasiku. Jadi aku bangun dan melihat ke sekeliling, tetapi aku tidak melihat bahwa ada seseorang yang sedang mengawasiku. Aku pun berbaring kembali dan menutup mata.

Tiba-tiba, aku mendengar suara cakaran di kegelapan kamarku. Suara apa itu? Aku bangun dari tempat tidur, dan mencari sumber suara. Suara itu sepertinya berasal dari dalam lemari. Aku menatap ke arah pintu lemari. Aku merasa takut, karena aku melihat cahaya merah di bawah pintu lemari itu.

Aku mendengar suara cakaran itu semakin keras dan knop pintu lemari bergoyang seolah-olah ada seseorang yang mencoba membukanya, tetapi pintu lemari itu tidak bisa terbuka. Dengan bodohnya, aku malah mendekati lemari dan memegang knopnya. Aku pun membatalkan niatku untuk membuka pintu lemari dan pergi lebih dulu untuk mengambil senter yang ada di kasurku. Aku menyalakan dan membuka knop pintu lemari itu. Lalu pintu itu terbuka dengan keras dan menghempaskan diriku ke tembok.

Aku melompat dari kasurku, terengah-engah dan bernapas berat. Aku memegang kepalaku, “Cih, itu hanyalah mimpi,” pikirku. Kemudian aku mendengar suara. Aku mematung dan menatap ke arah lemari, aku melihat siluet yang berdiri di sana dan menatapku. Mata kami saling bertatapan, dan matanya terlihat seperti menatap ke dalam jiwaku. Aku sangat ketakutan hingga tidak bisa bergerak. Dengan segera, aku mengumpulkan keberanianku untuk mengambil senter dan menyalakannya. Sosok itu tiba-tiba menghilang.

Aku menyadari bahwa ada suara ketukan dari luar jendelaku. Aku memutuskan untuk memeriksanya. Aku mengintip dari jendela dan melihat ada dahan tepat di jendelaku. “Mungkin dahan itu yang membuat suara ketukan itu,” pikirku.

Aku menghela napas dan berbalik. Kemudian aku menengadah dan berteriak sampai ujung paru-paruku. Ada siluet yang terlihat di ambang pintu.

“Sayang, apakah kau baik-baik saja?” aku mendengar suara yang familiar. Sosok itu menyalakan lampu, dan itu adalah ibuku.

“Aku baik-baik saja bu, aku bermimpi buruk.”

Dia berjalan ke arahku dan menempelkan tangannya di dahiku. “Dahimu panas. Berbaringlah dan beristirahatlah. Kau harus pergi ke sekolah besok,” kata ibuku sambil membaringkanku ke kasur.

Beberapa malam selanjutnya, aku mengalami hal yang sama. Ketukan, cakaran, getaran di knop pintu lemari dan munculnya siluet itu. Aku pun menceritakannya kepada orang tuaku. Mereka mengatakan padaku jangan khawatir, semua itu hanyalah imajinasiku. Kupikir, apa yang mereka katakan mungkin benar. Namun sebenarnya kami salah.

Dua malam selanjutnya, suara itu mulai kembali terdengar. Aku memutuskan untuk mencoba kembali tidur. Namun ada sesuatu yang berbeda pada malam ini… Aku mendengar suara bisikan. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Aku bangun dan suara bisikan itu berhenti. Namun, daripada berbaring kembali aku memutuskan untuk berdiri dan mencari tahu hal itu. Aku berdiri terdiam, aku merasakan napas hangat di belakang leherku.

Aku diselimuti oleh rasa takut. Ketika aku mendapat keberanian untuk berbalik, aku melihat ada sosok dalam kegelapan dan aku tersungkur ke belakang. Cahaya rembulan yang menyinari jendela membuatku mampu melihat wajahnya yang mirip badut. Wajahnya berlumuran darah. Dia melompat ke arahku dan aku langsung menutup mata. Aku tidak ingin melihat wajahnya yang mengerikan sebelum aku mati. Namun setelah itu, tidak ada yang terjadi. Padahal aku melihatnya melompat ke arahku. Aku membuka mata dan melihat ke sekeliling.

Aku bangun dan langsung berlari ke arah pintu dan pergi ke lorong. Aku melihat ke sekeliling dan tidak ada siapa pun di sana. Aku berusaha melihat dengan saksama di dalam kegelapan. Apa yang kulihat selanjutnya, adalah sesuatu yang sangat mengerikan yang pernah kulihat. Tidak sekadar melihat badut itu, tetapi badut itu juga menunjuk ke plafon di atasku. Senyum di wajahnya itu tidak pernah bisa kulupakan, meskipun aku berusaha untuk melupakannya.

Kemudian, aku merasakan tetesan cairan yang menetes ke kepala dan tanganku. Aku melihat ke atas dan berteriak. Aku hampir ingin menangis. Karena apa yang kulihat di atas plafon, adalah orang tuaku… Aku melihat ada pisau yang ditancapkan di tubuh ayahku. Masing-masing ditancapkan di jantung, kepala, bahu, dan paha ayahku. Ibuku ditancapkan pisau di jantungnya, bibirnya dijahit rapat, dan dia digantung, aku tidak ingin menyebutkannya tetapi semua itu terjadi, setengah bagian bawah tubuhnya hilang. Aku menutup mulutku, aku terkejut dengan pemandangan ini. Aku melihat ke bawah, badut itu berada di depanku dan menikam perutku. Aku tersungkur ke belakang dan jatuh pingsan.

Aku terbangun oleh suara sirine polisi dan menangis. Kemudian bibiku berlari ke arahku dan memelukku dengan erat. Aku merasa kesakitan ketika dia secara tak sengaja menyentuh lukaku. Aku bertanya apa yang terjadi, berpikir dan berharap apa yang kuingat hanyalah mimpi dan luka yang kudapati berasal dari hal lain. Bibiku lalu menjelaskan sambil berlinang air mata bahwa dia dan pamanku mungkin akan mengadopsiku, melihat bagaimana mereka menjadi orang tua angkatku.

Aku akan terus mengingat kejadian di malam itu sampai aku mati. Aku tidak pernah berpikir ada manusia yang mampu melakukan apa yang terjadi pada orang tuaku. Malam yang mengerikan dan sosok itu membuatku tidak ingin mengunjungi sirkus atau karnaval selamanya. Bibi dan pamanku berpikir aku harus mengunjungi pskiater. Aku tidak berpikir bahwa aku gila. Aku hanya berpikir bahwa apa yang kulihat sepenuhnya terjadi… Karena aku masih bisa merasakan napas di belakang leherku dan mata yang menatapku.

Translator: RIFLAME666

Source: Creepypasta Wiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna