Kamis, 20 Juli 2017

The Smiling Man



Change language: Arabic



Sekitar lima tahun yang lalu, saat aku masih tinggal di pusat kota yang besar di Amerika Serikat. Aku selalu keluar pada malam hari, karena aku akan merasa bosan ketika teman sekamarku sudah tertidur, dia bukanlah tipe orang yang suka keluar malam, jadi dia akan tidur pada malam hari. Aku akan berjalan-jalan pada malam hari untuk menghabiskan waktu dan untuk menenangkan pikiranku.

Seperti itulah aku menghabiskan waktuku selama empat tahun, berjalan sendirian di malam hari, dan tidak pernah punya alasan untuk merasa takut. Aku selalu bercanda dengan teman sekamarku bahkan kami menjadi pengedar narkoba di kota yang sopan itu. Tapi semua itu berubah hanya dalam beberapa menit karena suatu malam.

Saat itu adalah hari Rabu, ini terjadi di suatu tempat pada pukul satu atau dua pagi, dan aku sedang berjalan di dekat taman yang jaraknya cukup jauh dari apartemenku. Itu adalah malam yang cukup tenang, bahkan untuk malam di akhir pekan, dengan keadaan lalu lintas yang sangat sepi dan hampir tidak ada satu pun pejalan kaki. Seperti itulah keadaan taman tersebut di malam hari, benar-benar kosong.



Aku berbalik dan berjalan di atas trotoar untuk kembali ke apartemenku saat itulah aku pertama kali melihatnya. Dia sedang berdiri di sudut jalan, apa yang ada dihadapanku adalah siluet dari seorang pria yang sedang menari. Itu adalah suatu tarian yang aneh, tarian itu mirip dengan waltz, tapi dia mengakhiri setiap "gerakannya" dengan hentakan kaki ke depan yang aneh. Kukira kau bisa membayangkannya bahwa dia sedang menari sambil berjalan, dan dia secara langsung menuju ke arahku.

Kupikir dia mungkin sedang mabuk, jadi aku melangkah lebih dekat dengan jalan untuk memberinya ruang trotoar yang cukup untuk melewatiku. Dia semakin dekat denganku, aku semakin menyadari betapa anggunnya cara dia menggerakkan tubuhnya. Dia sangat tinggi dan kurus, dan dia memakai setelan yang sudah ketinggalan jaman. Dia masih menari dan semakin mendekat sampai aku bisa melihat wajahnya. Kedua matanya terbuka dengan lebar dan terlihat begitu liar, kepalanya sedikit miring ke belakang, pandangannya menatap ke arah langit. Senyum yang terbentuk di mulutnya hanya dapat kau lihat di serial kartun. Di antara ke anehan yang ada pada mata dan senyumannya, aku memutuskan untuk menyebrangi jalan sebelum dia menari lebih dekat denganku.

Aku melepas pandanganku darinya untuk menyebrangi jalan yang kosong. Ketika aku menyebrang jalan, aku kembali melihat ke arahnya... dan kemudian aku berhenti melangkah. Dia berhenti menari dan hanya berdiri dengan satu kaki di jalan, dia benar-benar sejajar menghadap ke arahku. Dia menghadap ke arahku tapi dia masih menatap langit. Senyumannya masih melebar di bibirnya.

Aku benar-benar terkesima dengan hal ini. Aku mulai berjalan lagi, tapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Dia masih tidak bergerak. Ketika aku telah sampai sekitar setengah blok, aku berpaling darinya sejenak untuk memperhatikan trotoar di depanku. Keadaan jalan dan trotoar di depanku benar-benar kosong. Aku masih terkesima, aku kembali melihat ke arah tempat di mana dia berdiri tadi untuk menemukan bahwa dia sudah tidak ada di sana. Aku merasa lega selama beberapa saat, sampai aku melihatnya lagi. Dia telah menyeberangi jalan, dan pandangannya yang sekarang sedikit menurun. Aku tidak tahu pasti karena jarak kami sudah berjauhan ditambah lagi keadaan yang begitu gelap, tapi aku tahu pasti bahwa dia sedang menghadap ke arahku. Aku mengalihkan pandanganku darinya selama tidak lebih dari sepuluh detik, jadi itu sudah terlihat jelas bahwa dia telah bergerak dengan lebih cepat.

Aku sangat terkejut bahwa aku berdiri di sana untuk melihat dirinya hanya terdiam selama beberapa saat. Dan kemudian dia mulai bergerak ke arahku lagi. Dia mengambil langkah yang panjang, dia melangkah sambil berjinjit, seolah-olah dia adalah karakter kartun yang sedang membuntuti seseorang. Tapi cara dia bergerak berbeda, dia sangat cepat.

Aku seharusnya melakukan sesuatu pada titik ini, apakah aku harus melarikan diri atau menyemprotkan merica padanya atau menelepon seseorang atau melakukan semuanya, tapi aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya berdiri di sana, benar-benar membeku selagi pria yang tersenyum itu menjalar ke arahku.

Dan kemudian dia berhenti kembali, sekitar beberapa jarak dariku. Dia masih tersenyum, dan masih menatap ke langit.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan suaraku, aku menyerukan kata-kata yang pertama kali datang di benakku. Apa yang kumaksud adalah bertanya padanya, "Apa yang sebenarnya kau inginkan?!" tanyaku dalam amarahku, dengan nada yang kuat. Kemudian dia mengeluarkan suara rengekan: "Appaaa…?"

Terlepas dari apa yang ada di hadapanku, manusia pasti akan merasa takut, mereka pasti bisa mendengarnya. Aku pun bisa mendengarnya, dan itu hanya membuatku semakin takut. Tapi dia tidak bereaksi sama sekali. Dia hanya berdiri di sana, sambil tersenyum.

Dan kemudian, setelah apa yang terasa seperti keabadian itu, dia pun berbalik, dengan sangat perlahan, dan dia mulai berjalan pergi sambil menari. Yah, seperti itulah. Aku tidak ingin kembali mengalihkan pandanganku terhadapnya lagi, aku hanya menyaksikan kepergiannya, sampai dia cukup jauh sehingga dia hampir keluar dari pandanganku. Dan kemudian aku menyadari sesuatu. Dia tidak bergerak menjauh, dia pun tidak menari lagi. Aku menyaksikannya dengan rasa takutku ketika bayangan dari dirinya yang berada di kejauhan mulai semakin membesar dan semakin membesar. Dia kembali datang ke arahku. Dan kali ini dia berlari.

Aku pun berlari secepat yang kubisa.

Aku berlari menuju sisi jalan yang lebih terang. Kemudian aku menoleh ke belakangku, dia sudah tidak terlihat lagi. Sepanjang sisa perjalanan pulang, aku terus menoleh ke belakangku, dengan selalu berharap aku bisa melihat senyum bodohnya, tapi dia tidak pernah terlihat lagi.

Aku tinggal di kota itu selama enam bulan, dan setelah malam itu aku tidak pernah pergi keluar untuk berjalan-jalan sendirian lagi. Ada sesuatu tentang wajahnya yang selalu menghantuiku. Dia tidak terlihat sedang mabuk ataupun gembira. Dia tampak sepenuhnya gila. Dan itu adalah hal yang sangat sangat menakutkan untuk dilihat.



Credited to blue_tidal 

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki