Jumat, 14 Juli 2017

The Russian Sleep Experiment

Pada akhir tahun 1940-an, para peneliti Rusia melakukan eksperimen agar lima orang tetap terjaga selama lima belas hari dengan menggunakan gas eksperimental berbahan dasar perangsang. Mereka dikurung di dalam ruangan yang tertutup, dengan hati-hati mengawasi pipa masuk oksigen sehingga gas tidak membunuh mereka, karena itu adalah racun dalam konsentrasi tinggi. Pada saat itu kamera CCTV belum ada sehingga mereka hanya memakai mikrofon dan para peneliti hanya bisa memantau mereka melalui lubang sebesar lima inci yang menghadap ke arah ruangan. Ruangan itu dilengkapi dengan buku-buku, cots untuk tidur tetapi tidak ada selimut, keran air dan toilet, juga makanan kering yang cukup untuk mereka berlima selama lebih dari sebulan.



Subjek percobaan itu adalah tahanan politik yang dianggap sebagai musuh negara selama Perang Dunia II.

Semuanya baik-baik saja selama lima hari pertama; para subjek tidak mengeluh karena mereka telah dijanjikan (dengan janji palsu) bahwa mereka akan dibebaskan jika mereka menyerahkan diri untuk melakukan tes dan tidak tidur selama 30 hari. Percakapan dan aktivitas mereka diawasi dan dicatat bahwa mereka terus membicarakan tentang insiden traumatis di masa lalu, dan percakapan mereka mengarah ke aspek yang lebih gelap setelah hari keempat.

Setelah lima hari, mereka mulai mengeluh tentang suasana dan perihal yang membawa mereka ke tempat itu dan mereka mulai menunjukkan paranoia yang berat. Mereka berhenti berbicara satu sama lain dan mulai bergantian berbisik ke mikrofon dan lubang cermin. Anehnya mereka semua tampak berpikir bahwa mereka bisa memenangkan kepercayaan dari para peneliti dengan menyerang rekan-rekan mereka, yaitu para subjek lainnya. Pada awalnya para peneliti menduga ini adalah efek dari gas itu sendiri...

Setelah sembilan hari, salah satu subjek mulai berteriak. Dia berlari bolak-balik di sepanjang ruangan dan berteriak dengan keras selama tiga jam penuh, dia terus berteriak, akhirnya, dia hanya mampu menghasilkan suara deritan. Para peneliti menduga bahwa dia secara fisik telah merobek pita suaranya. Hal yang paling mengejutkan tentang perilaku ini adalah bagaimana reaksi para tahanan lainnya... atau lebih tepatnya tahanan lain tidak memberi reaksi pada subjek itu. Mereka terus berbisik ke mikrofon sampai tahanan kedua mulai berteriak. Kedua tahanan yang tidak berteriak mengambil buku dan merobeknya, melumuri halaman demi halaman dengan kotoran mereka sendiri dan menempelkannya ke lubang kaca. Teriakan itu dengan segera mulai berhenti.

Begitu juga dengan bisikan di mikrofon.

Setelah tiga hari berlalu. Para peneliti memeriksa mikrofon selama berjam-jam untuk memastikan bahwa mikrofon masih berfungsi, karena mereka berpikir bahwa mustahil tidak ada suara yang datang padahal ada lima orang di dalam ruangan itu. Konsumsi oksigen dalam ruangan menunjukkan bahwa mereka berlima masih hidup. Bahkan jumlah oksigen yang dihirup oleh kelima orang itu sangat berat seolah-olah mereka sedang berolahraga. Pada pagi hari ke-14 para peneliti melakukan sesuatu, berniat mendapatkan reaksi dari para tahanan, mereka menggunakan interkom di dalam ruangan, berharap dapat memancing respon dari para tahanan, mereka takut bahwa para tahanan telah mati atau dalam keadaan koma.

Kemudian para peneliti mengumumkan: "Kami akan membuka ruangan ini untuk memeriksa mikrofon; menjauhlah dari pintu dan berbaringlah di lantai atau kalian akan ditembak. Patuhi perintah dan kami akan membebaskan salah satu dari kalian dengan segera."

Para peneliti terkejut ketika mereka mendengar kalimat tunggal dengan suara tenang yang direspon oleh para subjek: "Kami tidak lagi ingin dibebaskan."

Perdebatan pecah antara para peneliti dan pasukan militer yang mendanai penelitian. Mereka tidak dapat memancing respon lainnya menggunakan interkom, akhirnya mereka memutuskan untuk membuka ruangan itu di tengah malam pada hari ke-15.

Ruangan yang dipenuhi gas stimulan mulai terpompa udara segar dan dengan segera suara mikrofon mulai terdengar. 3 suara berbeda yang berasal dari subjek pun mulai terdengar, mereka memohon agar gas dinyalakan kembali. Ruangan dibuka dan para tentara dikirim memasuki ruangan untuk mengamankan subjek percobaan. Mereka mulai berteriak lebih keras dari sebelumnya, dan begitu pula dengan para tentara ketika mereka melihat apa yang ada di dalam. Hanya empat dari lima subjek yang masih hidup, meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang bisa disebut dalam keadaan 'hidup.'

Persediaan makanan dari lima hari terakhir tampak tidak tersentuh. Daging dari subjek percobaan yang sudah mati terpotong, daging yang terpotong itu adalah paha dan dada yang menyumbat saluran pembuangan di tengah ruangan, saluran pembuangan yang tersumbat itu menyebabkan lantai dibanjiri genangan air setinggi empat inci. Genangan air di lantai bercampur dengan darah. Keempat subjek yang 'bertahan hidup' juga mendapati luka robek di bagian otot dan kulit tubuh mereka. Kerusakan daging dan tulang di ujung jari mereka menunjukkan bahwa luka-luka itu disebabkan oleh tangan mereka sendiri, bukan disebabkan oleh gigi, seperti yang pada awalnya mereka duga. Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa kebanyakan luka yang didapati mereka diakibatkan karena mereka melukai diri sendiri.

Organ-organ perut di bawah tulang rusuk dari keempat subjek percobaan telah berpindah. Sementara jantung, paru-paru dan diafragma masih tetap di tempat, kulit dan otot-otot yang melekat pada tulang rusuk telah robek, yang mengakibatkan paru-paru dapat terlihat melalui tulang rusuk. Semua pembuluh darah dan organ mereka yang masih utuh telah ditarik keluar bertebaran di atas lantai, namun para subjek masih dalam keadaan hidup. Saluran pencernaan dari keempat subjek terlihat masih berfungsi, dan sedang mencerna makanan. Dengan cepat terlihat jelas bahwa apa yang mereka cerna adalah daging mereka sendiri yang telah mereka cabik dan dimakan selama berhari-hari.

Sebagian besar dari para tentara adalah detektif khusus Rusia di fasilitas itu, namun masih banyak yang menolak untuk kembali ke ruangan itu untuk memindahkan para subjek percobaan. Mereka terus berteriak untuk ditinggalkan di dalam ruangan itu dan memohon secara bergantian dan meminta agar gas dihidupkan kembali, supaya mereka tidak tertidur...

Semuanya terkejut, para subjek percobaan melakukan perlawanan sengit selagi proses dikeluarkan dari ruangan itu berlangsung. Salah satu tentara Rusia tewas karena tenggorokannya robek, yang lainnya terluka parah karena testisnya robek dan arteri di kaki salah satu tentara lainnya terputus akibat digigit oleh salah satu subjek. 5 tentara lainnya kehilangan nyawa jika kau menghitung tentara yang bunuh diri dalam beberapa minggu setelah kejadian itu.

Dalam perlawanan itu, salah satu subjek yang masih hidup telah merobek limpanya dan dia mengalami pendarahan. Peneliti dari tim medis berusaha untuk menenangkannya, namun hal itu nampak sia-sia. Dia disuntik dengan lebih dari sepuluh kali dosis untuk manusia biasa dan masih melawan seperti binatang yang terpojok, subjek itu mematahkan tulang rusuk dan lengan salah satu dokter. Jantung subjek itu tampak berdetak kencang selama dua menit penuh setelah dia mengalami pendarahan sampai titik di mana terdapat lebih banyak udara di dalam sistem pembuluhnya daripada darah. Bahkan setelah jantungnya hampir berhenti berdetak dia terus menjerit dan kesetanan selama tiga menit, berusaha untuk menyerang siapa pun yang berada di dekatnya dan hanya mengulangi kata "LAGI" secara terus-menerus, dia mulai semakin melemah, sampai akhirnya dia jatuh.

Ketiga subjek percobaan yang masih hidup berhasil diamankan dan dipindahkan ke fasilitas medis, dua subjek dengan pita suara yang masih berfungsi terus-menerus meminta gas dan menuntut agar mereka dibiarkan tetap terjaga...

Salah satu subjek yang mendapati luka paling parah dibawa menuju satu-satunya ruang operasi bedah yang dimiliki fasilitas itu. Dalam proses persiapan subjek untuk menempatkan kembali organ-organ tubuhnya, diketahui bahwa dia secara efektif kebal terhadap obat penenang yang telah mereka bius di tubuh subjek itu guna mempersiapkan operasi. Dia berjuang dengan mati-matian untuk melepaskan restraint ketika gas anestetik digunakan untuk melumpuhkannya. Dia berhasil merobek sabuk kulit selebar empat inci pada salah satu pergelangan tangannya, bahkan melawan seorang tentara berbobot 200 pound yang memegangi pergelangan tangannya. Hanya butuh sedikit lebih banyak anestesi dari jumlah normal untuk membuatnya lumpuh, dan bola matanya berkedip-kedip lalu menutup, jantungnya berhenti berdetak. Ketika autopsi dilakukan pada subjek percobaan yang tewas di atas meja operasi, diketahui bahwa kadar oksigen dalam darahnya tiga kali lebih banyak dari level normal. Otot-ototnya yang masih menempel pada tulangnya telah robek dengan sangat buruk dan dia telah mematahkan 9 tulang ketika memberontak untuk diberi obat penenang. Kebanyakan dari tulang-tulangnya yang patah disebabkan tekanan dari otot-ototnya sendiri.

Subjek kedua yang berhasil selamat adalah subjek yang pertama kali berteriak dari kelima subjek lainnya. Pita suaranya telah hancur sehingga dia tidak bisa memohon ataupun menolak operasi, dan dia hanya bereaksi dengan menggelengkan kepalanya karena ketidaksetujuannya ketika gas anestesi dibawa ke dekatnya. Dia sempat menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju ketika seseorang menyarankannya, meskipun sebenarnya dia tidak mau, mereka mencoba melakukan operasi tanpa anestesi, dan dia tidak memberi reaksi apa pun selama enam jam ketika organ perutnya kembali ditempatkan seperti semula dan mencoba menutupinya kembali dengan sisa-sisa kulitnya. Dokter bedah yang memimpin pembedahan itu berulang kali mengatakan bahwa secara medis mungkin pasien itu masih dapat bertahan hidup. Salah satu perawat yang membantu operasi itu ketakutan, dia mengatakan bahwa dia melihat bibir pasien melengkung membentuk senyuman beberapa kali, setiap kali mata mereka saling bertemu pandang.

Ketika operasi berakhir subjek itu menatap ke arah dokter bedah dan mulai mendesah keras, berusaha untuk berbicara sambil meronta-ronta. Diduga dia pasti ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting, sang dokter pun mengambilkan pena dan buku catatan sehingga pasien itu bisa menulis apa yang ingin dia sampaikan. Dia menuliskan kalimat sederhana yang terbaca. "Lanjutkan pembedahannya."

Kedua subjek percobaan lainnya diberikan operasi yang sama, tanpa obat bius juga. Meskipun mereka harus disuntik dengan obat pelumpuh selama operasi berlangsung. Dokter bedah menemukan hal yang mustahil karena pasien terus-menerus tertawa ketika operasi itu berlangsung. Ketika subjek itu lumpuh, dia hanya bisa mengikuti pergerakan para peneliti yang hadir dengan kedua matanya. Obat pelumpuh itu dengan cepat kehilangan efek di sistem saraf mereka dalam kurun waktu yang tidak normal dan mereka dengan segera mencoba untuk melepaskan diri mereka dari pengikat. Ketika mereka kembali bisa berbicara, mereka kembali meminta gas stimulan. Para peneliti berusaha menanyakan mengapa mereka melukai diri mereka sendiri, mengapa mereka merobek perut mereka, mengeluarkan isi perut mereka dan mengapa mereka menginginkan gas itu lagi.

Hanya satu jawaban yang terucap: "Aku harus tetap terjaga."

Ikatan pada ketiga subjek itu diperkuat dan mereka dipindahkan kembali ke ruang tahanan, menunggu keputusan mengenai apa yang harus dilakukan terhadap mereka. Para peneliti menghadapi kemarahan dari militer yang 'mendanai' penelitian mereka karena telah gagal pada tujuan proyek mereka dan mempertimbangkan untuk melakukan eutanasia (suntik mati) pada para subjek yang masih hidup. Komandan paling berkuasa, yang seorang mantan Komite Keamanan Negara justru melihat potensi, dan ingin melihat apa yang akan terjadi jika mereka dikembalikan ke dalam ruangan yang dipenuhi gas. Para peneliti sangat keberatan, tetapi mereka tidak bisa menolaknya.

Dalam persiapan untuk mengurung mereka ke dalam ruangan sebelumnya, para subjek dihubungkan ke monitor EEG dan mereka diikat dengan sangat lama selama penahanan. Semuanya terkejut, ketiga subjek berhenti melawan ketika mereka mengetahui bahwa mereka akan dikembalikan ke dalam ruangan yang dipenuhi gas. Pada titik ini terlihat jelas bahwa mereka bertiga berjuang keras untuk tetap terjaga. Salah satu subjek yang bisa berbicara mendengung dengan sangat keras secara terus-menerus; subjek yang bisu mempertegang kakinya terhadap ikatan yang menahannya dengan tenaga yang kuat, pertama kaki yang kirinya, kemudian kaki kanannya, lalu kaki kirinya lagi untuk berfokus pada sesuatu. Subjek yang satunya lagi menahan kepalanya agar tidak bersandar di bantal dan mengedipkan matanya dengan begitu cepat. Setelah mereka melakukan pemeriksaan EEG pertama pada salah satu subjek, para peneliti terkejut ketika melihat gelombang otaknya. Gelombang yang dihasilkan tampak normal tapi entah mengapa terkadang monitor menampilkan gelombang datar. Seolah-olah dia berulang kali mengalami kematian otak, sampai tampak kembali normal. Ketika para peneliti berfokus pada kertas yang menggulung keluar dari monitor gelombang otak, salah satu perawat melihat subjek itu menutup matanya di saat dia menjatuhkan kepalanya tepat di atas bantal. Segera setelah itu gelombang otaknya berubah seolah-olah dia tertidur dengan nyenyak, kemudian mendatar untuk terakhir kalinya dan secara bersamaan jantungnya berhenti berdetak.

Satu-satunya subjek yang bisa berbicara mulai berteriak untuk segera dimasukkan ke dalam ruangan yang dipenuhi gas. Gelombang otaknya menampilkan garis datar yang sama seperti salah satu subjek yang telah tertidur nyenyak untuk selamanya. Sang komandan memberi perintah untuk mengunci ruangan bersama kedua subjek, serta ketiga peneliti. Salah satu dari ketiga peneliti yang disebutkan namanya langsung penarik pistolnya dan menembak sang komandan tepat di titik buta di antara kedua matanya, kemudian mengarahkan pistolnya pada subjek yang bisu dan menembaknya hingga peluru menembus otak subjek itu.

Kemudian dia mengarahkan pistolnya pada subjek yang tersisa, subjek itu masih terbaring di atas tempat tidur selagi sisa anggota medis dan tim peneliti meninggalkan ruangan. "Aku tidak mau dikunci di dalam sini bersama makhluk seperti kalian! Tidak denganmu!" teriaknya pada pria yang diikat di tempat dia berbaring. "KAU INI SEBENARNYA APA?" dia meminta penjelasan. "Aku harus tahu!"

Subjek itu tersenyum.

"Apakah kau sudah lupa dengan begitu mudahnya?" tanya subjek itu. "Kami adalah kalian. Kami adalah kegilaan yang mengintai di dalam diri kalian semua, yang memohon untuk dibebaskan pada waktu yang tepat di dalam pikiran kebinatangan kalian yang terdalam. Kami adalah apa yang tersembunyi dari dalam tempat tidurmu setiap malam. Kami adalah apa yang kalian lumpuhkan dalam keheningan dan kelumpuhan ketika kalian pergi ke dunia mimpi di mana kami tidak bisa menggapainya."

Peneliti itu terdiam. Kemudian dia mengarahkan pistolnya ke arah jantung subjek itu dan menarik pelatuknya. Gelombang otak subjek di EEG mendatar ketika subjek itu terbengkalai lemah, "Kami... hampir... bebas..."



Original author unknown

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki