Senin, 10 Juli 2017

The Origin of Laughing Jack


Itu adalah malam Natal bersalju di tahun 1800-an di kota London, Inggris, dan di sebuah rumah kecil di pinggir kota, hiduplah seorang anak yang kesepian, seorang anak berusia 7 tahun bernama Isaac. Isaac adalah anak menyedihkan karena tidak memiliki teman. Sementara sebagian besar anak-anak menghabiskan waktu dengan keluarga mereka dan bersemangat menantikan pembukaan hadiah yang ditempatkan dengan hati-hati di bawah pohon Natal yang dihiasi keindahan, Isaac kecil menghabiskan malam suci ini sendirian saja, kedinginan, di ruang loteng berdebu. Isaac tinggal bersama kedua orang tuanya yang miskin, ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang cukup galak dan dialah yang mendidik Isaac. Ayahnya bekerja selama berjam-jam di pelabuhan London untuk menafkahi keluarganya, meskipun sebagian besar penghasilannya dihabiskan untuk membeli dan mengkonsumsi alkohol secara berlebihan pada akhir kerja malamnya. Terkadang, dia akan pulang dalam keadaan mabuk, setelah dilempar keluar dari setiap bar di kota London, dan dia akan berteriak pada istri tercintanya, yaitu ibu Isaac.



Terkadang, hal ini akan membuatnya melakukan kekerasan dan dia akan memukuli istrinya dengan kejam, kemudian ketika dia selesai memukuli istrinya, dia akan melakukan sesuatu kepada istrinya, yaitu kemarahan seksual. Ketika itu terjadi di malam yang begitu istimewa ini. Isaac hanya terdiam, gemetaran di bawah seprai kotor sampai jeritan dan suara bantingan yang terdengar begitu keras reda. Setelah semua yang membuatnya ketakutan, akhirnya Isaac bisa tidur dengan nyenyak, di dalam mimpinya tampak bahwa dia memiliki seorang teman untuk bermain dengannya, sehingga dia akan tertawa dan bahagia seperti anak-anak lain di kota London. Isaac mendapatkan keberuntungan kecil di Malam Natal ini yang ditandai perubahan besar, kesepian itu menarik perhatian malaikat pelindung, dan kemudian terciptalah sebuah hadiah istimewa untuk seorang anak kecil yang sedang bersedih di kota London.

Keesokan paginya ketika matahari terbit, Isaac membuka mata dan melihat sebuah kotak kayu aneh tergeletak di kaki tempat tidurnya. Dengan mata lebar dan rasa kagum, dia menatap kotak berwarna-warni itu, kotak itu dibuat dengan kerajinan tangan, dia bertanya-tanya siapa yang meninggalkan kotak ini di kaki tempat tidurnya. Tidak biasanya dia menerima hadiah, terutama mainan. Apakah mainan kecil yang sedang Isaac lihat adalah milik seseorang di luar sana? Isaac dengan cepat berlari ke depan kotak misterius itu, dan kemudian mengangkat kotak itu. Kotak itu dicat dengan gaya warna-warni, dan terdapat ukiran wajah badut yang gembira. Ada sebuah tanda di kotak itu, tanda itu bertuliskan “Untuk Isaac.”


Isaac menyipitkan mata ketika dia membaca kata-kata, “L-laugh-ing-J-Jack-in-a-b-box…” dia kemudian berhenti sejenak, “…Laughing Jack-in-a-box?” Isaac pernah mendengar tentang Jack-in-a-box, namun tidak dengan Laughing Jack-in-a-box. Pikirannya berputar dengan rasa penasaran, kemudian dia menggenggam pemutar kotak yang terbuat dari logam. Isaac memutar pemutar kotak itu dan lagu Pop Goes The Weasel terdengar mengikuti irama perputaran pemutar kotak. Ketika lagu itu sampai ke klimaksnya, Isaac bernyanyi sepanjang bait terakhir lagu, “Pop goes the weasel,” namun, setelah itu, tidak ada yang terjadi. Isaac menghela napas dan berkata, “Sudah rusak…” Dia menempatkan kotak itu kembali di pinggir tempat tidur, kemudian berjalan ke lemari di mana dia mengganti pakaian tidur kotor dan baju compang-camping.

Tiba-tiba, Isaac mendengar suara yang datang dari tempat tidur di belakangnya. Kemudian dia berbalik untuk melihat kotak kayu itu bergerak. Tanpa disadari, bagian atas kotak itu terbuka, mengeluarkan asap berwarna-warni dan konfeti. Isaac mengusap matanya dengan rasa tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Ketika asap itu hilang, dia melihat sesosok badut bertubuh tinggi, kurus, berwarna-warni, dengan rambut merah terang sedang berdiri di hadapannya, dia memiliki hidung kerucut berwarna-warni, dan bahu yang berbulu, badut itu berpakaian serba berwarna-warni.

Terutama di bagian lengan badut itu, dan dengan penuh semangat dia berkata, “DATANGLAH SESEORANG, DATANGLAH SEMUANYA! BAIK BESAR ATAUPUN KECIL! UNTUK MELIHAT BADUT TERBAIK DARI SEMUA BADUT!! Satu, hanya satu, yaitu LAUGHING JACK-IN-A-BOX!!!”

Mata Isaac menunjukkan rasa kagum atas kehadiran badut itu, “S-Siapa kau?” tanyanya.

Badut itu turun dari tempat tidur dan dengan senyum bahagia mengatakan, “Aku senang kau bertanya! Aku adalah Laughing Jack, teman baru UNTUK HIDUPMU! Aku adalah badut ajaib, aku tidak pernah bosan bermain, aku juga ahli memainkan akordeon, aku beradaptasi dan berkembang dengan perubahan kepribadianmu sendiri… Dengan kata lain, apa pun yang kau suka, aku juga suka!”

Isaac menatap badut misterius itu, “K-Kita teman?” dia bicara dengan gagap.

Jack memandang anak itu sambil memiringkan alisnya, “TEMAN? Kita teman BAIK! Aku diciptakan untuk menjadi temanmu yang tidak terlalu imajiner, Isaac.”

Isaac menurunkan rahangnya dan bicara tergagap, “Kau tahu namaku?”

Jack tertawa, “Tentu saja aku tahu namamu! Aku tahu semua hal tentang dirimu! Jadi, kita sudahi dulu perkenalan kita… Apakah kau ingin memainkan permainan layaknya seorang mata-mata?”

Isaac menyeringai dari telinga ke telinga dan berkata, “SUNGGUH? Kita bisa memainkan permainan itu? Dengan senang hati! Aku-… Oh…”

Dia berhenti, “A-Aku tidak bisa… Aku harus menemui ibuku karena sekarang adalah waktunya untuk homeschooling dan mengerjakan tugas rumahku…” senyumnya memudar menjadi tampilan kekecewaan.

Jack meletakkan tangannya di bahu Isaac dan dia memberi senyum hangat sambil berkata, “Tidak apa-apa! Aku akan menunggumu di sini sampai kau kembali.” Isaac tersenyum kembali ketika dia menatap teman barunya. Kemudian, dia mendengar suara teriakan ibunya yang memanggil dari bawah.

“Baik aku harus pergi! Aku akan menemuimu setelah aku selesai, oke Jack?” Katanya sambil menuju pintu.

Jack tersenyum dan berkata, “Ok kido! Oh, tunggu Isaac!”

Isaac kembali melihat Jack, dia memberinya kedipan mata dan berkata, “Kau harus lebih sering tersenyum. Senyuman itu tampak cocok untukmu.”

Isaac tersenyum gembira kemudian berbalik dan berjalan keluar melewati pintu.

Setiap hari Isaac selalu memberitahu ibunya tentang badut berwarna-warni menakjubkan yang keluar dari kotak ajaib yang muncul di kaki tempat tidurnya. Namun, ibunya tidak percaya sedikit pun tentang hal itu. Akhirnya, dia membujuk ibunya untuk mengikutinya ke kamar sehingga ibunya bisa melihat Laughing Jack secara langsung. Mereka berjalan menaiki tangga dan Isaac membuka pintu kamarnya.

“Kau melihatnya bu? Dia ada-…” Isaac berhenti bicara lalu mengamati kamarnya tanpa terlihat ada seorang badut ajaib yang menari-nari, ataupun kotak kayu misterius itu. Ibu Isaac tampak tidak senang. Dia melototi Isaac sehingga hingga membuat lututnya gemetar dan merasa sakit di bagian perut.

“T-Tapi bu… dia-” ibu Isaac dengan cepat MENAMPARNYA. Mata Isaac mulai berkaca-kaca, dan bibirnya mulai gemetar.

“KURANG AJAR, DASAR ANAK BODOH! BERANINYA kau berbohong padaku tentang kebodohan kekanak-kanakan seperti ini! Siapa yang mau berteman dengan cacing yang tidak berguna sepertimu?! Kau akan tetap di kamar untuk sisa malam ini, dan tidak ada jatah makan malam untukmu... Sekarang apa yang akan kau katakan? Dasar anak ingusan yang tidak tahu terima kasih!”

Isaac menelan ludah dan bergumam membalas, “T-terima kasih bu.” Ibunya melotot sesaat sebelum meninggalkan kamar dengan rasa kesal.

Isaac berlutut, menyembunyikan wajahnya di tepi tempat tidur. Air mata mengalir di pipinya. “Apa ada yang salah kido?” dia mendengar suara Laughing Jack. Isaac menoleh, di mana Laughing Jack sekarang secara tiba-tiba duduk di sampingnya.

“K-ke mana kau tadi?” gumam Isaac.

Jack mengusap rambut Isaac untuk menghiburnya dan dengan lembut menjawab, “Aku bersembunyi… Aku tidak bisa membiarkan orang tuamu melihatku… Jika mereka melihatku, mereka tidak akan membiarkan kita bermain lagi.” Isaac mengusap air matanya.

“Aku minta maaf kido, aku harus bersembunyi, tapi aku akan membuat malam ini menjadi menyenangkan! Karena malam ini kita bisa memainkan banyak permainan dan punya banyak waktu untuk bersenang-senang!” kata Jack sambil tersenyum.

Isaac menatap sahabat terbaiknya dan perlahan mengangguk, sudut-sudut mulutnya mulai membentuk senyuman kecil. Malam itu, Laughing Jack dan Isaac memainkan begitu banyak permainan yang menarik. Dengan gerakan tangan, Jack membuat semua prajurit kaleng Isaac hidup dan berbaris di sekitar kamarnya. Isaac tampak kagum ketika dia melihat mainannya bergerak di sekitar kamarnya. Kemudian, Laughing Jack dan Isaac bercerita tentang cerita hantu yang menyeramkan. Isaac bertanya pada Jack apakah dia juga termasuk hantu, namun Jack menjelaskan bahwa dia lebih dari sekadar hantu. Di akhir malam itu, Jack merogoh sakunya dan mengeluarkan bermacam-macam permen yang enak. Isaac merasa gembira ketika dia memasukkan permen ke dalam mulutnya, karena itu adalah pertama kalinya dia mencicipi sesuatu yang begitu manis. Isaac begitu senang dan tertawa begitu keras, itu adalah kebahagiaan terakhir yang dirasakan oleh Isaac kecil… Setidaknya, sampai insiden yang terjadi pada tiga bulan kemudian…

Hari itu cuaca di London begitu cerah dan udara terasa hangat, suasana yang jarang terjadi. Jadi, dengan bantuan seorang teman yang tidak terlalu imajiner, Isaac mampu menyelesaikan tugas-tugasnya lebih awal dan diizinkan untuk pergi ke luar rumah untuk bermain. Keduanya pergi ke belakang rumah untuk bermain bajak laut, lalu Isaac melihat seekor kucing milik tetangga menyelinap ke kebun mereka.

“YEARGH! KAMI MELIHAT ADA MATA-MATA MUSUH DARI ARAH KANAN!” teriak Isaac, terpikat oleh fantasi dan imajinasi.

“Yo ho! Aku akan membiarkannya Kapten Isaac!” Seru pertama dari rekan Jack, dalam tekanan suara bajak laut. Laughing Jack mengulurkan lengannya di taman dan merampas kucing itu, dia mulai menggenggam kucing itu dengan cukup keras.


“JANGAN BIARKAN DIA PERGI JACKIE, ATAU AKU AKAN MEMBUATMU BERJALAN DI ATAS PAPAN!” kata Isaac dengan nada suara seperti seorang antagonis.

Genggaman Jack terhadap kucing itu diperkencang, dan lengan Jack menggulung seperti anaconda membungkus kucing yang sedang memberontak. Lengan Jack hanya terus meremas hewan itu, kucing itu tampak sesak napas. Ketika mata kucing peliharaan itu mulai menonjol keluar dari rongganya, terdengarlah suara JERITAN keras! Jack dengan cepat melepaskan makhluk itu dari genggamannya, lalu kulit berbulu tanpa nyawa itu jatuh ke tanah. Suasana mulai menjadi hening ketika keduanya mengamati mayat kucing yang tergeliat dan hancur. Keheningan akhirnya pecah oleh tawa terbahak-bahak… yang datang dari Isaac…

“AHAHAHAHA Wow! Kukira kucing memang TIDAK memiliki sembilan nyawa! AHAHAHA!” Isaac berseru dengan mata hampir tergenang karena tertawa.

Laughing Jack mulai tertawa kecil juga, “Heh heh. Ya… Tapi tidakkah kau akan mendapat masalah jika ibumu menemukan kucing tetanggamu mati di kebunnya?” tawa Isaac dengan cepat reda.

“Oh tidak! Kau benar! Um… aku akan… melempar kucing ini kembali ke halaman tetangga!” Isaac dengan panik meraih sekop di dekatnya dan menyendok mayat kucing itu dan melemparnya ke atas pagar halaman tetangga. Mereka dengan cepat kembali ke dalam rumah dan pergi ke kamar Isaac.

Sekitar satu jam kemudian. Terdengar suara ibu Isaac yang berteriak memanggil namanya dari bawah. Baik Jack maupun Isaac tidak mengatakan sepatah kata pun, ketika dia perlahan menuruni tangga sendirian dan menghadapi nasib mengerikan apa pun yang akan menimpanya. Jack hanya bisa mendengar teriakan-teriakan yang berasal dari bawah, namun dia tidak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh ibu Isaac. Setelah sekitar tiga puluh menit kemudian, Isaac menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya, mata Isaac dipenuhi dengan genangan air mata.

“Bagaimana?” Jack bertanya dengan gugup. Isaac hanya menunduk dan berkata, “Aku… Mencoba untuk memberitahu ibu bahwa ini adalah perbuatanmu… Tapi dia tidak percaya padaku… Dia berkata bahwa kau itu tidak nyata…” Jack mengerutkan dahi, menyadari bahwa semua ini salahannya.



Isaac menggunakan lengan bajunya untuk menghapus air mata, “Aku sedang dikirim ke sekolah asrama… aku akan pergi malam ini… dan kau tidak bisa ikut denganku…”

Wajah Laughing Jack tampak terkejut, “Apa?! A-Aku tidak bisa ikut? Ke mana aku akan pergi?” Isaac tidak mengatakan sepatah kata pun namun dia menunjuk ke arah kotak berwarna indah tempat di mana temannya berasal.

“Kembali ke dalam sana? Tapi aku tidak akan bisa keluar…” Jack berhenti sejenak.

Isaac menatap temannya dengan air mata yang mengalir di wajahnya, “Jack… Aku berjanji, aku akan kembali secepat yang kubisa!” Jack menatap ke arah kotak, lalu kembali menatap Isaac.

“Dan aku akan tetap berada di sini menunggumu kido.” Jack tersenyum, dan air mata mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah kotak, dan dengan kepulan asap, dia tersedot kembali, dia tidak bisa bebas sampai kotak itu kembali dibuka.

Malam itu, Isaac dikirim ke sekolah asrama. Untuk pertama kalinya, Laughing Jack merasakan apa yang disebut kesepian. Bahkan ketika terjebak di dalam kotak itu, Jack bisa melihat hal-hal yang terjadi di sekitarnya, setiap hari, dia hanya menunggu temannya pulang, dan setiap hari kamar itu menjadi semakin usang dan berdebu. Laughing Jack hanya punya satu tujuan yaitu menjadi teman terbaik Isaac, dan sekarang dia harus menunggu hari demi hari, bulan demi bulan, untuk kembali berjumpa dengan teman spesialnya. Orang tua Isaac masih tinggal di rumah itu, namun mereka tidak pernah datang ke kamar Isaac. Satu-satunya hal yang membuktikan bahwa mereka ada adalah ketika Jack mendengar mereka bertengkar. Jack merasakan apa yang disebut dengan sendirian, kesepian, dan kekecewaan. Tahun-tahun pun berlalu, warna-warna cerah Jack yang sangat terang mulai memudar menjadi hitam dan putih. Terjebak sendirian… kekal dan putus asa.

Tiga belas tahun berlalu sampai ayah Isaac pulang di malam hari dalam keadaan mabuk, dan bertengkar dengan istrinya, hal ini sudah sering terjadi. Sekali lagi hal ini meningkat ke arah kekerasan fisik, namun kali ini, ibu Isaac tidak mampu melawannya. Ayah Isaac memukuli istrinya sampai mengalami banyak pendarahan lalu ibu Isaac tewas, dan ayah Isaac dijatuhi hukuman gantung di tiang gantungan pada hari berikutnya. Dengan kematian kedua orang tuanya, ini artinya Isaac yang sekarang sudah berusia dua puluh tahun dan telah mewarisi rumah tua berdebu itu tempat di mana dia menghabiskan setengah masa kecilnya. Laughing Jack cukup terkejut ketika mendengar langkah kaki teman lamanya berjalan menaiki tangga ke ruang loteng itu untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun lamanya, namun itu bukanlah reuni yang Jack harapkan.

Isaac tampak... berbeda. Tidak hanya lebih tua, namun wajah suramnya juga menyeramkan. Padahal Jack berharap bisa bertemu Isaac, dan dia juga penasaran bagaimana keadaan anak muda yang pertama kali dia temui pada beberapa tahun yang lalu. Jack sudah menunggu selama bertahun-tahun sampai Isaac melepaskan dia dari kurungannya, namun kotak Jack masih berada di tempat, tidak pernah tersentuh dan diperhatikan. Isaac benar-benar melupakan teman lamanya, mengabaikannya seolah-olah itu hanya khayalan masa kecil. Anehnya, hal ini membuat Laughing Jack... tidak merasakan apa pun. Dia merasa hampa, tiga belas tahun menunggu dan hanya kekecewaan yang dia dapat. Jack tetap terkurung di dalam kotak itu, tanpa warna dan emosi.

Keesokan harinya, Isaac pergi bekerja, dia sekarang adalah seorang tukang melapis perabot rumah di London. Jack masih menunggu di dalam kurungannya. Berjam-jam kemudian, Isaac pulang dalam keadaan mabuk dan menaiki tangga menuju kamarnya, namun kali ini dia membawa seorang teman. Teman wanita Isaac yang dia bawa dari bar awal malam itu. Dia adalah seorang wanita yang cantik, dengan rambut pirang, mata biru safir, dan senyum yang bisa membuat hati meleleh. Laughing Jack memerhatikan tamu Isaac, “Siapa dia? Seorang teman baru? Kenapa Isaac membutuhkan teman baru? Bukankah teman Isaac cuma aku?” pikir Jack dari dalam kurungan nerakanya. Isaac dan teman wanitanya duduk di tempat tidur dan mengobrol tentang kehidupan di London. Isaac membuat lelucon tentang keadaan cuaca dan mereka berdua tertawa.

Laughing Jack merasa iri dengan teman baru Isaac. Isaac dan gadis itu tampak saling menatap satu sama lain lalu mereka perlahan berciuman, menempelkan bibir dan memainkan lidah mereka dalam rasa penuh gairah. Jack merasa bingung dengan pemandangan kasih sayang ini, karena dia belum pernah melihat seseorang berciuman sebelumnya. Ketika ciuman ini semakin intens, tangan Isaac meraba-raba di sepanjang paha mulus gadis itu dan gaunnya, namun dia hanya menepis menjauhkan tangan Isaac. Meskipun begitu Isaac tetap gigih, dan sekali lagi tangannya meraba-raba di sepanjang paha mulus gadis itu dan roknya, kali ini tangan Isaac berada tepat di pakaian dalam wanita itu. Wanita itu merasa tidak senang karena kemajuan hasrat seksual Isaac dan mendorong Isaac sebelum dia memberikan tamparan yang keras di wajahnya. Mata Isaac melotot ke arah wanita itu, gairah mabuknya berubah menjadi kemarahan. Detak jantuk wanita itu berdebar ketika dia melihat wajah Isaac mendidih dengan kemarahan.

“PELACUR BODOH!” teriak Isaac ketika melayangkan tinju ke wajah gadis itu.

Mata Laughing Jack melebar ketika dia menyaksikan cairan merah keluar dari hidung gadis itu, “Permainan apa ini?” pikirnya, sambil memandang perawan yang berada dalam kekerasan itu. Isaac dengan kuat menggenggam pergelangan tangan gadis itu dengan satu tangan ketika dia merobek celana dalam wanita itu dengan tangan yang lain.

Meskipun ketakutan, gadis itu berusaha untuk melawannya, namun Isaac terlalu kuat. Dengan kasar dia meremas-remas payudara wanita itu, sebelum dengan kejam meraih rambutnya dan menjilati leher wanita muda itu yang sedang menangis, dia hanya bisa merespons dengan menelan ludahnya sekeras yang dia bisa pada lidah Isaac. Jack menyaksikan pemandangan itu dengan mata lebar, Isaac memegang mulutnya yang dipenuhi darah merah hangat. Gadis itu dengan rasa takut jatuh dari tempat tidur dan menjatuhkan diri ke lantai lalu dia bergegas menuju pintu. Isaac dengan cepat berlari dan mampu menangkap alat permainannya yang sedang berusaha melarikan diri dengan meraih ujung gaunnya.

Isaac meraih sesuatu di sekitarnya, dia memegang kendi lilin dari meja di samping, dengan sekuat tenaga membanting benda itu ke bagian belakang kepala wanita muda itu, dan pecah seperti semangka matang. Darah kental berceceran di ruangan lalu tubuh gadis itu mengejang di lantai selama beberapa detik, sebelum akhirnya wanita itu tewas. Darah berceceran di mana-mana, bahkan kotak Laughing Jack terkena beberapa tetesan, dia sangat menikmati pertunjukan itu. Untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun yang panjang, senyuman mulai menghiasi wajah Laughing Jack, dan tiba-tiba dia mengeluarkan tawa di bibirnya yang dingin, secara terus-menerus, sampai Jack tertawa terbahak-bahak dari dalam kotak yang disegel.

“Sungguh permainan yang sangat menarik!” pikir Jack, ketika dia menyaksikan rambut pirang emas gadis itu berubah menjadi warna merah yang diakibatkan oleh genangan darah.

Ketika adrenalin itu mulai reda, Isaac menyadari bahwa dia harus membuang mayat itu. Dia mengangkat mayat gadis tak bernyawa itu dan menempatkannya di atas tempat tidur, kemudian dia meninggalkan ruangan, menutup pintu dan menguncinya sebelum meninggalkan rumah. Dia pulang pada hari berikutnya dan kembali memasuki ruangan itu dengan membawa sebuah tong sampah logam dan tas alat-alat kerja. Dia kemudian membersihkan segala sesuatu dari meja kayu di seberang pintu, dan kemudian menggeser tempat tidur dengan mayat yang berlumuran darah di atasnya ke tengah ruangan. Ini tidak hanya memberi Isaac ruang untuk bekerja, namun juga membuat Laughing Jack berada di kursi baris depan untuk seluruh tontonan. Jack menyaksikan, senyuman lebar Isaac yang memainkan permainan baru dengan mayat kotor. Setelah semua selesai diatur, dia siap untuk mulai bekerja.



Pertama, dia mengeluarkan alat-alat di tas ke meja kerja di belakangnya. Pisau, palu, tang, dan alat-alat lainnya sekarang tergeletak di depannya. Alat yang pertama dia pilih adalah pisau melengkung, dengan hati-hati dia menguliti mayat itu. Kulit itu kemudian ditempatkan di rak untuk direntangkan. Setelah itu dimasukkan ke dalam suatu tempat, Isaac kemudian menggunakan gergaji tangan untuk menggergaji lengan, kaki, dan kepala mayat itu, hal yang mengganggu rumah beberapa keluarga adalah belatung yang menggeliat. Setelah itu dia mengisi tempat sampah dengan pemutih dan bahan kimia keji lainnya, dia merendam anggota badan sampai dagingnya terlepas dari tulang. Isaac mengeluarkan tulang dari jus mayat yang pekat dan menempatkannya di meja kerja, kemudian pada tengah malam, dia membawa tempat sampah ke luar rumah dan membuang sisa-sisa busuk ke selokan London yang akan tersapu ke pelabuhan.

Selama tiga hari ke depan, Laughing Jack menyaksikan dengan takjub ketika Isaac sedang melakukan kerajinan anatomi manusia menjadi kursi kekejian yang aneh. Tulang paha sudah direndam dibuat menjadi kaki kursi bagian belakang, sementara tulang kering dibuat menjadi kaki kursi bagian depan. Sebuah bingkai kayu dipasang di tengah-tengah kursi sebagai dasar, namun sisi bingkai itu dibuat dengan menggunakan tulang punggung. Tulang lengan digunakan sebagai lengan kursi.

Daging itu sekarang dijahitkan ke kursi dan bingkai yang dipasang di tengah kursi, dan rambut pirang keemasan yang dikepang itu sudah menjadi lapisan bingkai. Kemudian, selesai sudah pembuatan kursi yang dibuat dari tulang yang dulunya adalah gadis berambut pirang emas, mata safir, dan senyum yang bisa melelehkan hati. Isaac merasa cukup senang dengan pekerjaannya, dan Laughing Jack terlalu terkesan karena teman bermain lamanya sangat kreatif. Setelah malam itu, Isaac tidak pernah meneguk setetes alkohol lagi, karena dia sekarang mempunyai kehausan yang jauh lebih mengerikan.

Minggu-minggu berikutnya, Isaac membuat beberapa perbaikan di ruang kerjanya yang mengerikan. Dia melepas kasur dari tempat tidur dan menempatkan sebaris papan kayu tebal di sana, kemudian dia mengencangkan papan kayu itu di lengan dan kaki tempat tidur. Artinya, dia bisa menghibur tamunya untuk jangka waktu yang lama tanpa bisa melarikan diri. Isaac hanya membutuhkan satu hal lagi, hal terakhir sebelum dia merencanakan pesta anehnya. Dia terus mengerjakan proyek gilanya selama seminggu dengan teratur, dia terus memahat kayu dengan tangannya sendiri.

Setelah itu dia mewarnai kayu itu dengan cat putih, kreasi Isaac pun selesai. Itu adalah topeng kayu, yang dipakai oleh orang-orang Venesia. Topeng itu memiliki alis yang berkerut, tonjolan hidung yang panjang, dan dengan topeng ini memungkinkannya untuk membuat para tamu tercinta ketakutan ketika dia menyerangnya. Dengan wajah barunya dan ruangan yang telah direnovasi, mengubah ruangan itu menjadi sarang pembunuhan yang berlumuran darah, akhirnya tiba saatnya untuk Isaac Lee Grossman membawa teman bermain baru ke rumah.

Malam pun tiba, Laughing Jack melihat Isaac Grossman yang bertopeng sedang berjalan menaiki tangga, dengan membawa karung goni besar dan tamu yang menggeliat. Dia kemudian mengeluarkan isi karung itu di atas tempat tidurnya, tempat di mana penyiksaan akan dilakukan, dan keluarlah seorang anak laki-laki yang terikat dari dalam karung itu, anak itu sangat ketakutan, mungkin anak itu baru berumur lima atau enam tahun. Isaac dengan cepat membuka ikatan anak itu, menahan tangan dan kaki anak itu ke rangka tempat tidur baja. Air mata mengalir tanpa henti pada wajah anak kecil yang tak berdaya itu, lalu Isaac mengeluarkan alat-alatnya di meja kerja. Isaac kembali ke anak itu dengan memegang sebuah tang berkarat, dan tanpa membuang-buang waktu dia menyelipkan tang itu ke kuku anak itu di jari telunjuk kanannya dan menjepit kukunya erat-erat. Anak itu tampak ketakutan lalu dia mulai berkomat-kamit melalui sumbatan mulutnya, memohon kepada Isaac untuk membiarkan dia pergi. Isaac hanya merespon dengan senyum bodoh, lalu perlahan dia menarik tang di tangannya, mencungkil kuku pertama anak itu dengan rasa sakit.

Anak itu menjerit kesakitan melalui sumbatan mulutnya, lalu dia menggeliat di atas papan kayu itu, jarinya mulai menyemburkan darah. Isaac kemudian memindahkan tang ke jari tengah anak itu, dengan kuat mencengkeram kuku anak itu dengan tang berkarat. Sekali lagi, dia kembali menarik tang, namun kali ini kuku anak itu hanya robek di setengah jalan. Anak itu menjerit kesakitan ketika jari-jarinya mengejang dan mengeluarkan darah. Isaac dengan paksa menarik kuku jari tengah anak itu lagi. Kuku anak itu tercabut, namun hal ini juga membuat banyak jaringan kulit anak itu robek. Bahkan, pada saat ini Isaac sedikit menolak pemandangan yang menyakitkan ini, tidak seperti Laughing Jack yang tertawa selagi dia menyaksikan pemandangan yang mengganggu itu dari dalam kotak tua berdebu.

Isaac kembali berjalan ke meja kerja dan menukar tang dengan palu besi yang besar. Kemudian dia berjalan ke kaki tempat tidur tempat dia menyiksa anak itu, kemudian dengan satu tangan, dia menekan kaki kiri anak itu. Kemudian mengangkat palu tinggi-tinggi di atas kepalanya, sedangkan anak itu hanya bisa menangis dan memohon belas kasih melalui bungkaman mulutnya yang kotor, kemudian dengan sekuat tenaga, Isaac membanting palu ke tempurung lutut anak itu, menghancurkan tulang menjadi kerikil dengan RETAKAN yang keras! Anak itu terguncang oleh rasa sakit yang amat menyakitkan dengan jeritan yang meredam melalui bungkaman kain di wajahnya.

Ketika anak itu berjuang dengan rasa sakit, Isaac menempatkan palu itu di tempat tidur kayu dan kembali lagi ke meja kerja, kemudian dia mengambil pisau panjang yang tajam. Tanpa menunda-nunda dia mulai mengukir kalimat “Cacing Yang Tidak Berguna” ke dada anak itu yang gemetaran. Ketika dia selesai mengukir kalimat itu, anak itu hampir tidak sadarkan diri. Isaac berlutut dan berbisik ke telinga anak itu, “Ini adalah apa yang terjadi pada anak-anak bodoh yang membuat raut wajah menjijikkan pada orang-orang…”

Mata anak itu penuh dengan genangan air mata untuk terakhir kalinya, lalu Isaac mulai mengukir kulit dari wajah anak itu, namun Isaac terkejut anak itu masih berpegang teguh untuk bertahan hidup. Anak yang sedang dimutilasi itu hanya menatap Isaac dengan mata melotot, yang memenuhi hati hitam Isaac dengan kemarahan dan kebencian.

“BAHKAN TANPA WAJAH KAU TETAP KOTORAN KECIL YANG JELEK!!” teriak Isaac sambil mengangkat palu dari kaki tempat tidur dan mulai membenturkannya dengan keras ke tengkorak anak yang malang itu.

Dia terus membenturkan palu ke tengkorak anak itu, sampai anak itu mengalami pendarahan, darah yang sangat merah dan potongan otak anak itu keluar. Di seberang ruangan, Laughing Jack dengan senangnya mengamati puncak akhir dari hal-hal gila yang dilakukan oleh Isaac.

Tamu Isaac yang berikutnya adalah seorang wanita tua buta yang dia undang untuk minum teh. Butuh waktu hampir lima menit untuk menyadari bahwa kursi yang sedang dia duduki dibuat dengan menggunakan sisa mayat manusia, dan 6 menit lainnya terpakai untuk mencari tangga, wanita tua itu terguling ke bawah tangga dan menjerit seperti burung yang kesakitan. Isaac memutuskan untuk mengakhiri lelucon yang kejam ini di sana dengan menusuk rongga mata wanita tua itu dengan alat pemecah es sederhana.

Setelah itu, dia membawa seorang gadis kecil yang dia paksa untuk memakan pecahan kaca sebelum menggunakan perut gadis kecil itu sebagai samsak tinju. Minggu-minggu berlalu, semakin banyak jiwa yang tidak beruntung menemui ajalnya di loteng Isaac Grossman, dan kepribadian gila Grossman menjadi lebih gelap dan sadis, kepribadian Laughing Jack mengikuti kepribadiannya selagi dia membusuk di dalam kotak berdebu… sampai suatu malam yang sangat dingin di bulan Desember pun tiba.

Paku berkarat yang menahan rak akhirnya sudah tidak sanggup untuk menahan beban pernak-pernik dan alhasil semua pernak-pernik jatuh ke lantai. Isaac mendengar bunyi keras itu dari bawah, dan dia memutuskan untuk naik ke loteng untuk mencari tahu bunyi apa sebenarnya itu. Dia berjalan melintasi noda darah yang berceceran di lantai kayu loteng itu, tepatnya dia berjalan ke rak di mana pernak-pernik jatuh. Isaac mengabaikan beberapa pernak-pernik yang pecah, akhirnya dia melihat kotak Jack-in-a-box dari masa kecilnya. Isaac mulai mengingat kotak tua itu, lalu memungutnya dan meniup kotak itu dari debu. Kemudian, untuk alasan apa pun dia merindukan kotak itu, dan dia mulai memutarnya.

Terdengar suara nada mengerikan dari lagu Pop Goes The Weasel yang berasal dari kotak tua usang itu, dan ketika lagu itu mencapai klimaksnya, Isaac bernyanyi sepanjang ayat terakhir lagu itu, “Pop goes the weasel…” Kemudian, bagian atas kotak itu terbuka, namun tidak ada yang terjadi, kotak itu kosong. Padahal Isaac sangat berharap, dan dia kemudian melempar kotak tua itu dengan pernak-pernik lainnya yang sudah pecah. Setelah dia membereskan kekacauan ini, dia pergi ke pintu dan membuka pintu untuk kembali turun, namun dia terjebak, pintu terkunci. Isaac menarik gagang pintu dengan keras namun pintu tidak bergerak. Setelah itu dia mendengar panggilan suara serak yang paling mengerikan dari arah belakang.


“IsSsaAac…” Terdengar suara yang membuat tubuh Isaac merinding dan perlahan dia berbalik... Di seberang ruangan terdapat sesosok mimpi buruk bagi yang sedang berdiri di antara sampah pecahan pernak-pernik, yaitu Laughing Jack. Dia sepenuhnya monokrom, rambutnya yang berwarna-warni sudah luntur menjadi warna hitam, gigi-gigi tajamnya dihiasi dengan senyum gila, dan lengannya yang panjang menggelantung ke bawah sehingga jari-jarinya hampir menggores lantai.

Kemudian, badut jahat itu mulai berbicara, “Sungguh menyenangkan bisa bebas dari kotak tua itu!... Apakah kau merindukanku Isaac?”

Isaac dilumpuhkan dalam ketakutan, “t-tapi kupikir kau itu tidak nyata… bukankah kau hanya seorang teman KHAYALAN?!” kata Isaac dengan tergagap. Jack membalasnya dengan tawa kecil panjang mengerikan.

“HAHAHAHA! Tentu saja aku nyata kiddo… Bahkan, aku sudah menunggu sekian lama hari demi hari dan akhirnya hari ini pun tiba… Hari di mana aku bisa bermain dengan teman terbaikku!” Sebelum Isaac bisa menjawab, lengan panjang Jack membentang di ruangan dan melilit kaki Isaac.

Badut aneh itu mulai menariknya hingga semakin dekat, menyeretnya ke tempat tidur penyiksaan kayu miliknya sendiri, hal ini membuat kuku Isaac tergores di sepanjang lantai. Jack dengan cepat meraih 4 paku yang memilki panjang tiga inci dari atas meja kerja Isaac dan langsung memaku tangan dan kaki Isaac, memakunya ke tempat tidur penyiksaan kayu miliknya sendiri. Isaac menggeram dalam rasa sakitnya, lalu dia berteriak pada badut itu, “AAAH! SIAL! DASAR BADUT BERHIDUNG ANEH!!”

Laughing Jack hanya tertawa kecil, lalu dia dengan sekuat tenaga memegang kepala Isaac dan berkata, “Jika kau tidak bisa mengatakan sesuatu dengan kalimat yang baik, maka jangan mengatakan sepatah kata pun!” Jack memasukkan jarinya yang panjang ke dalam mulut Isaac, lalu dengan kasar menjepit lidahnya dan menariknya keluar. Badut itu kemudian meraih pisau panjang yang tajam dari meja dan perlahan mulai mengiris lidah Isaac. Setelah itu, mulut Isaac mulai terisi darah. Jack kemudian mendorong tabung logam silinder ke tenggorokan Isaac sebagai lubang pernapasan sementara untuknya. Pada titik ini Isaac sudah sangat kesakitan, dan dia menutup rapat matanya agar tidak melihat pemandangan mengerikan yang memuakkan pada tubuhnya.

“Ayolah, ini tidak menyenangkan jika kau tidak menyaksikannya!” kata Laughing Jack selagi dia bermain-main dengan tubuh Isaac, namun Issac tetap menutup matanya dengan rapat. Laughing Jack mendesah, “Terserah.” Jack kemudian membuka salah satu mata Isaac dengan paksa. Dia kembali mencari sesuatu dengan lengannya yang besar dan mengambil beberapa kail pancingan yang runcing dan panjang dari meja kerja Isaac. Dengan perlahan Jack mendorong ujung kail yang tajam melalui kelopak mata atas Isaac, lalu mendorongnya hingga keluar ke bagian bawah alis Isaac, itu membuat bagian atas matanya terbuka. Kemudian, dia mengambil kail kedua, mendorongnya melalui kelopak mata bagian bawah dan menjepitnya ke pipi Isaac. Jack mengulangi proses itu di mata Isaac yang lain, dan tidak lama setelah itu, serangkaian kail yang tajam itu memastikan bahwa Isaac tidak akan kehilangan setiap pemandangan mengerikan. Laughing Jack kemudian mengambil pisau yang dia gunakan untuk mengiris lidah Isaac dan kali ini dia berniat mengiris bibir Isaac. Jack dengan hati-hati mengiris dua bagian daging dari mulut atas dan bawah Isaac, hal ini menyebabkan gigi dan gusinya terlihat.

“Hmm… sepertinya kau belum membersihkan gigimu dengan benang secara teratur…” kata Laughing Jack sambil tertawa dengan pelan, kemudian dia meraih sebuah palu. Isaac berusaha bergumam memohon kepada Laughing Jack agar dia mau mengasihaninya, namun dia hanya bisa berdeguk di tenggorokannya. Jack mengangkat palu itu, dan dengan senyum gila, dia membanting palu itu ke bawah, lalu terdengarlah suara RETAKAN yang keras, suara itu adalah suara palu besi yang menghancurkan gigi-gigi Isaac seperti tanah liat yang pecah. Jack menjatuhkan palu dan mulai tertawa-tawa selagi dia merobek baju Isaac. Kemudian, Jack mengambil pisau tajam dan mengiris dengan lurus dari bawah dada Isaac sampai ke bawah perut Isaac. Isaac hanya bisa merintih dengan rasa sakit yang amat pedih, lalu monster monokrom itu menjalarkan jarinya ke bawah kulit dada Isaac, mengelupas kulitnya sebelum dia melakukan autopsi yang mengerikan pada Isaac.

Pertama, Jack mulai menarik keluar usus Isaac dengan cara yang sama seperti seorang pesulap menarik serangkaian kain warna-warni dari dalam saku. Kemudian, setelah menarik beberapa bagian dari usus Isaac, Jack mulai meniup udara ke usus busuk Isaac. Setelah menggembung, dia memutar usus Isaac menjadi bentuk anjing pudel, dan Jack tertawa dengan keras sambil berseru, “Aku juga bisa melakukannya jerapah!” Isaac masih merasa kesakitan dan gemetar, lalu badut itu menempatkan balon hewan mengerikan yang dibuat dengan usus Isaac di samping kepala Isaac.

Untuk trik berikutnya, Laughing Jack memasukkan tangannya ke dalam rongga perut Isaac yang terbuka dan menarik keluar salah satu ginjalnya. Dia memegang ginjal Isaac di salah satu tangannya, Jack kembali melihat temannya yang sedang dia tawan dan Jack mengangkat bahu, Laughing Jack menyadari bahwa Isaac mulai diambang kematian.

“Kenapa, sudah cape ya? Padahal kita sudah dekat dengan akhir!” teriak Laughing Jack sambil merogoh lengan bajunya dan mengeluarkan jarum yang cukup panjang. “Ini seharusnya sudah menjadi kesenanganmu BENAR!” teriak Jack sambil menancapkan jarum ke dalam retina mata Isaac. Jack menggoyang-goyangkan jarum di dalam bola mata teman lamanya, lalu Isaac merasakan jarum yang tajam menggores bagian belakang rongga matanya. Dengan tawa sinis, Jack mencabut jarum, menarik bola mata Isaac hingga keluar dari rongganya. Mata kanan Isaac sekarang tergantung keluar dari rongganya, lalu matanya meneteskan air mata ke pipinya.

Jack tersenyum bodoh dan berkata, “Baiklah, sekarang aku sangat perhatian padamu…” Badut yang membahayakan itu kemudian menusuk lubang di perut Isaac dengan jari telunjuknya yang panjang. Jack menundukkan ke arah rongga dada Isaac yang terbuka dan membuka mulutnya dengan lebar. Dalam hitungan detik, badut itu menyemburkan kecoak yang menjijikan dari tenggorokannya, menumpahkannya ke dalam dada Isaac yang terbuka. Kecoak-kecoak yang menjijikan itu merangkak ke dalam lubang kecil di perut Isaac, membuat perutnya terisi dengan serangga yang menjijikan. Selagi perutnya mengembung akibat serangga di dalam perutnya, kecoak itu mulai merayap hingga ke tenggorokannya, sampai-sampai mereka keluar dari mulut dan rongga hidung Isaac.


Isaac hanya berada beberapa inci pada kematian ketika penawannya berlutut di sampingnya dan mengatakan sesuatu di telinganya, “Tadi itu adalah penutup permainan kita kido, tapi sepertinya waktu kita tentang kebersamaan sudah terbangun kembali. Kau tidak perlu menangis, karena aku berencana untuk menyebarkan persahabatanku kepada semua anak-anak yang kesepian di dunia!” dan dengan mengatakan kalimat itu, Laughing Jack memasukkan tangannya ke dalam dada Isaac dan menarik keluar hatinya yang masih berdetak.



Tubuhnya yang berada di atas tempat tidur kayu dingin mengeluarkan banyak darah, kehidupan yang sempat Isaac jalani melintas di depan matanya. Dia melihat ibu dan ayahnya, asrama sekolah, korbannya, dan pikiran terakhir yang melintasinya, adalah malam Natal yang sangat istimewa di mana ketika dia terbangun di pagi harinya menemukan sebuah kotak kayu yang berisi teman pertamanya...

Terdapat rumor bahwa, ketika polisi menemukan mayat Isaac Grossman yang sudah membusuk, belatung memenuhi mayatnya seminggu setelah malam Natal, meskipun wajahnya sudah hancur dan robek menjadi kepingan… Wajahnya hampir tampak menunjukkan perasaan… Bahagia.

~TAMAT~

Original Author: SnuffBomb

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki

< Previous        |        Next >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna