Selasa, 04 Juli 2017

Psychosis


Creepypasta ini menceritakan tentang seorang programmer nolep yang suram dan menderita penyakit psychosis, yaitu penyakit mental dengan banyak khayalan.

Minggu

Aku tidak yakin kenapa aku menuliskan ini di kertas dan bukan di komputerku. Kukira aku baru saja menyadari beberapa hal aneh. Bukan berarti aku tidak percaya pada komputer... aku hanya... perlu mengatur pemikiranku. Aku harus pergi ke suatu tempat, suatu tempat di mana apa yang aku tulis tidak bisa dihapus atau... diubah... jangan sampai itu terjadi. Hanya saja... semua tampak kabur di sini, dan kabut di ingatanku menciptakan hal-hal aneh...



Aku mulai merasakan penderitaan di apartemen kecil ini. Mungkin itu adalah masalahnya. Aku baru saja memilih apartemen ini karena murah, hanya di ruang bawah tanah. Kurangnya jendela di sini membuat siang dan malam tampak cepat berlalu. Aku belum keluar dari apartemen ini selama beberapa hari, karena aku sedang mengerjakan projek pemrograman dengan begitu intensif. Kupikir aku hanya ingin segera menyelesaikannya. Duduk selama berjam-jam dan menatap layar monitor bisa membuat siapa saja merasa aneh, aku tahu, tetapi aku tidak hanya berpikir itu saja.

Aku tidak ingat kapan aku pertama kali mulai merasa seperti ada sesuatu yang aneh. Aku bahkan tidak bisa mendefinisikannya. Mungkin hanya karena aku tidak berbicara dengan siapa pun belakangan ini. Itu adalah hal pertama yang muncul di benakku. Semua orang yang biasanya berbicara padaku secara online ketika aku memprogram sedang diam, atau mereka tidak login sama sekali. Pesan instan yang kukirim tidak dijawab. E-mail terakhir yang kuterima adalah email yang dikirim oleh seorang temanku, dia mengatakan bahwa dia akan berbicara denganku ketika dia kembali dari toko, dan itu adalah kemarin. Aku akan meneleponnya dengan ponselku, tetapi sinyal di bawah sini sangat buruk. Ya, itu saja. Aku hanya perlu menelepon seseorang. Aku akan pergi ke luar.



Baiklah, itu tidak bekerja dengan baik. Kemudian rasa takutku memudar, aku merasa sedikit konyol untuk apa yang kutakuti. Aku melihat pantulan diriku di cermin sebelum aku pergi keluar, meskipun begitu, aku tidak mencukur janggutku yang sudah tumbuh selama dua hari. Kupikir aku hanya akan pergi keluar untuk menelepon sebentar. Meskipun demikian, aku memutuskan untuk mengganti kemejaku, karena sudah waktunya untuk makan siang, dan kukira aku akan bertemu dengan setidaknya satu orang yang kukenal. Namun, pada akhirnya itu tidak terjadi. Padahal aku sangat berharap.

Ketika aku hendak pergi keluar, aku membuka pintu apartemen kecil ini secara perlahan. Entah bagaimana aku mulai merasakan sedikit rasa takut, untuk beberapa alasan yang tak dapat dijelaskan. Aku menyembunyikan rasa takutku dengan tidak berbicara pada siapa pun kecuali diriku sendiri untuk satu atau dua hari. Aku mengintip ke lorong yang berwarna abu-abu kotor, aku menyadari bahwa itu adalah lorong ruang bawah tanah yang kotor. Pada salah satu ujungnya, ada sebuah pintu logam besar yang mengarah ke ruang perapian. Tentu saja, itu terkunci. Dua mesin soda yang suram berdiri di dekat pintu; aku telah membeli sekaleng minuman soda di mesin itu pada hari pertama aku pindah, tetapi minuman sodanya telah kadaluwarsa sejak dua tahun yang lalu. Aku yakin bahwa tidak ada orang yang mengetahui keberadaan mesin-mesin di bawah sini, atau wanita pemilik apartemen ini hanya tidak ingin mengisinya kembali.

Aku menutup pintu secara perlahan, dan berjalan ke arah yang lain, melangkah dengan hati-hati agar tidak membuat suara. Aku tidak tahu kenapa aku memilih untuk melakukannya, tetapi keanehan ini cukup menyenangkan untukku, setidaknya hanya untuk saat ini. Sampai aku tiba di tangga, dan kemudian menaikinya menuju pintu depan. Aku kemudian melihat melalui pintu besar di sana, dan aku terkejut: ini bukan waktu yang tepat untuk makan siang. Jalan-jalan di kota terlihat suram karena kegelapan, dan lampu lalu lintas di persimpangan jalan di kejauhan mengedipkan cahaya kuningnya. Awan-awan yang samar, dengan warna ungu dan hitam dari cahaya kota. Tidak ada pergerakan, hanya ada beberapa pohon di dekat trotoar yang bergerak karena hembusan angin. Kemudian aku menggigil, meskipun aku tidak kedinginan. Mungkin ini karena angin yang berasal dari luar sana. Aku bisa mendengar suara samar melalui pintu logam besar, dan aku tahu bahwa hal unik ini merupakan sejenis angin larut malam, hal yang konstan, dingin, dan tenang, angin yang berhembus menciptakan irama musik ketika melewati dedaunan pohon tak terlihat yang tak terhitung jumlahnya.

Aku memutuskan untuk tidak pergi ke luar.

Aku kemudian mengangkat ponselku, dan memeriksa meteran sinyal. Bar meteran sinyal terisi penuh, dan aku tersenyum. Waktunya untuk mendengar suara orang lain, pikirku dengan lega. Ini adalah suatu hal yang aneh, membuatku menjadi takut dari hal apa pun. Aku menggelengkan kepala, dan tertawa kecil. Aku menekan nomor telepon seorang teman perempuan yang dekat denganku, Amy, dan aku menggenggam ponsel di samping telingaku. Ponselku berdering sekali... tetapi, kemudian berhenti berdering. Tidak ada yang terjadi. Aku mendengar keheningan selama dua puluh detik, kemudian aku menutupnya. Aku mengerutkan dahi, dan melihat meteran sinyal lagi – masih penuh. Aku kemudian mencoba untuk menghubungi nomornya lagi, tetapi, kemudian ponselku berdering di tanganku, ini mengejutkanku. Aku menggenggam ponselku di samping telingaku.

"Halo?" tanyaku, dengan segera aku berusaha untuk menahan rasa terkejutku yang kecil ketika mendengar suara orang lain selama beberapa hari ini, bahkan jika itu adalah suaraku sendiri. Aku sudah terbiasa dengan suara dengungan di apartemen ini, komputerku, dan mesin soda di lorong. Pada awalnya tidak ada respons dari sapaanku, tetapi, kemudian, akhirnya, terdengarlah satu suara.

"Hei," kata suara laki-laki yang terdengar sangat jelas, tentu saja suaranya terdengar seperti anak kuliahan, seperti aku, "Siapa ini?"

"John," jawabku, dengan bingung.

"Oh, maaf, saya salah sambung," jawabnya, kemudian panggilan berakhir.

Aku menurunkan ponsel dengan perlahan dan bersandar di dinding tangga yang terbuat dari bata tebal. Ini cukup aneh. Aku memeriksa daftar panggilan yang kuterima, tetapi nomor itu tidak kukenal. Sebelum aku bisa memikirkannya lebih jauh lagi, ponselku berdering dengan keras, mengejutkanku sekali lagi. Kali ini, aku memandang nomor si pemanggil sebelum menjawab panggilannya. Nomor lain yang tak kukenal. Kali ini, aku mengangkat ponsel ke samping telingaku, tetapi aku tidak mengatakan sepatah kata. Aku tidak mendengar suara apa pun kecuali latar belakang kebisingan ponsel. Kemudian, suara yang kukenal memecahkan keteganganku.

"John?" itu adalah kata pertama, yang diucapkan Amy.

Aku menghela napas lega.

"Hei, ternyata kau," jawabku.

"Siapa lagi jika bukan aku?" balasnya, "Oh, jadi benar ini nomormu. Aku sedang berada di sebuah pesta di Seventh Street, dan ponselku baru saja mati ketika kau meneleponku. Saat ini aku sedang meminjam ponsel teman."

"Oh, oke," kataku.

"Kau sendiri lagi di mana?" katanya.

Mataku melirik ke mesin putih yang membosankan di blok dinding dan pintu logam besar dengan jendela kecil.

"Di apartemenku," kataku sambil menghela napas, "Aku hanya merasa sedang mengurung diri. Aku tidak sadar bahwa sekarang sudah sangat larut."

"Kau harus datang ke sini," katanya sambil tertawa.

"Yah, kurasa aku tidak suka hal-hal seperti itu hanya demi mencari tempat-tempat aneh dan berjalan sendirian di tengah malam begini," kataku, aku melihat ke luar jendela pada jalan sunyi yang berangin dan itu cukup sedikit menakutiku, "Kupikir aku harus melanjutkan pekerjaanku atau pergi ke tempat tidur."

"Omong kosong!" jawabnya, "Aku bisa menjemputmu! Apartemenmu tidak jauh dari Seventh Street, kan?"

"Kau mabuk ya?" tanyaku dengan santai, "Kau tahu di mana aku tinggal."

"Oh, tentu saja,” jawabnya dengan cepat, "Kukira aku tidak bisa pergi ke sana hanya dengan berjalan kaki, ya?"

"Kau bisa jika kau ingin membuang waktumu hingga setengah jam," jawabku.

"Yap," katanya, "Oke, aku harus pergi, semoga beruntung dengan pekerjaanmu!"

Aku menurunkan ponselku lagi, melihat dengan sekilas nomor-nomor itu ketika panggilan berakhir. Kemudian, suara dengungan keheningan tiba-tiba menekan masuk ke telingaku. Dua panggilan aneh ini dan jalan yang menakutkan di luar sana baru saja membuatku semakin kesepian di tangga hampa ini. Mungkin karena aku terlalu banyak menonton film menakutkan, tiba-tiba aku mendapat gagasan yang sulit untuk dijelaskan bahwa bisa saja ada sesuatu yang mengawasiku di balik jendela pintu, semacam wujud mengerikan yang melayang pada rasa kesendirianku, yang hanya menunggu untuk merayap pada orang-orang tersesat jauh. Aku tahu rasa takut ini tidak logis, tetapi tidak ada orang lain di sekitarku, jadi... aku melompat ke bawah tangga, berlari menyusuri lorong menuju kamarku, dan menutup pintu kamar secepat yang kubisa selagi suasana masih hening. Seperti yang kukatakan, aku sedikit merasa konyol untuk rasa takut yang disebabkan oleh hal yang tidak ada, dan rasa takut itu telah memudar. Menuliskan ini sangat membantu – membuatku menyadari bahwa tidak ada yang salah. Juga menyaring setengah dari pemikiranku dan rasa takut dan hanya meninggalkan udara dingin, fakta yang kuat. Sudah terlambat, aku mendapat panggilan telepon dari seseorang yang salah menekan nomor, dan ponsel Amy mati, jadi dia meneleponku kembali dari nomor yang berbeda. Tidak ada hal aneh yang terjadi.

Namun, ada sesuatu yang sedikit aneh tentang percakapan tadi. Aku tahu bahwa itu disebabkan oleh alkohol yang diminumnya... atau apakah dia memang tampak aneh bagiku? Atau karena hal itu... ya, hal itu! Aku tidak menyadari hal itu sampai saat ini, jadi aku menuliskan semua ini. Aku tahu menuliskan ini akan membantu. Dia berkata bahwa dia sedang berada di sebuah pesta, tetapi aku hanya mendengar suara keheningan di latar belakang! Tentu saja, hal itu tidak berarti istimewa, karena dia bisa saja pergi keluar untuk meneleponku. Tidak... itu tidak bisa menjadi satu alasan. Aku tidak mendengar suara angin! Aku harus melihat apakah angin masih bertiup atau tidak!

Senin

Aku lupa untuk menyelesaikan tulisanku semalam. Aku tidak yakin terhadap apa yang kulihat ketika aku berlari menaiki tangga dan melihat ke luar jendela pintu logam besar. Aku merasa konyol. Ketakutanku semalam tampak tidak jelas dan tidak masuk akal bagiku bahkan sampai sekarang. Aku tidak bisa menunggu lagi untuk pergi keluar, dan melihat cahaya matahari. Aku akan memeriksa emailku, bercukur, mandi, dan akhirnya pergi keluar dari sini! Tunggu... kupikir aku mendengar sesuatu.



Itu adalah suara petir. Bahwa sinar matahari dan udara segar tidak ada di luar. Aku pergi keluar menuju tangga dan naik, hanya untuk menemukan hal yang mengecewakan. Jendela kecil di pintu logam besar hanya menunjukkan air yang mengalir, hujan sangat deras. Tampak sangat suram, dengan kilatan cahaya petir, tetapi setidaknya aku tahu bahwa saat ini siang hari, bahkan jika langit terlihat mendung, seharusnya ini siang hari yang kering, tetapi di luar sana basah karena sedang hujan. Aku mencoba untuk melihat ke luar jendela dan menunggu kilat untuk menerangi kegelapan ini, tetapi hujan terlalu deras dan aku tidak bisa melihat apa pun kecuali keanehan dari bentuk gelombang yang mengalir di jendela. Ini membuatku kecewa, jadi aku berbalik, tetapi aku tidak ingin kembali ke kamarku. Aku berjalan menaiki tangga lagi, melewati lantai pertama, dan kedua. Tangga berakhir di lantai ketiga, lantai teratas di apartemen ini. Aku melihat ke arah kaca di dinding ketika aku berlari menaiki tangga, tetapi kaca itu terlihat melengkung, kaca itu tebal sehingga cahaya menyebar, tidak ada banyak yang bisa dilihat di kaca ketika hujan.

Aku membuka pintu tangga dan berjalan di lorong. Ada sepuluh atau lebih pintu kayu yang tebal, dicat dengan warna biru dan sudah lama, semua pintu tertutup. Aku mencoba untuk mendengar suara di sekitarku dengan teliti ketika berjalan, tetapi masih siang hari, jadi aku tidak terkejut bahwa aku tidak mendengar apa pun kecuali suara hujan di luar. Ketika aku berdiri di lorong yang suram, sambil mendengarkan suara hujan, aku mendapat pemikiran aneh bahwa pintu-pintu yang berdiri seperti terbuat dari batu besi kuno yang melupakan peradaban untuk beberapa alasan tak terduga. Petir masih terus menyambar, dan aku berani bersumpah, selama beberapa saat, pintu kayu tua dengan warna biru tampak seperti bebatuan yang kasar. Aku tertawa sendiri karena membiarkan imajinasiku menguasai diriku, tetapi kemudian, aku menyadari bahwa lampu yang redup dan kilatan cahaya petir seharusnya berarti bahwa ada sebuah jendela di suatu tempat di lorong ini. Ingatan itu samar-samar di benakku, dan aku tiba-tiba teringat bahwa di lantai tiga ada satu ruangan kecil dan sebuah jendela yang disisipkan di separuh jalan.



Aku bersemangat untuk melihat hujan dan melihat manusia lain, aku dengan cepat berjalan menuju ruangan kecil itu, aku menemukan sebuah jendela besar yang memiliki kaca tipis. Hujan membasahi jendela, sama seperti jendela di pintu depan, tetapi aku bisa membuka jendela yang satu ini. Aku menjangkau jendela itu dengan satu tangan untuk membukanya, tetapi aku merasa ragu. Aku mendapat perasaan aneh bahwa jika aku membuka jendela itu, aku akan melihat sesuatu yang sepenuhnya mengerikan di sisi lain. Segalanya telah begitu terasa aneh akhir-akhir ini... jadi aku tiba dengan pemikiran yang kurang menarik, dan aku akan kembali ke sini untuk mendapatkan apa yang aku butuhkan. Aku tidak serius memikirkan hal apa pun yang akan datang, tetapi aku merasa bosan, sekarang masih hujan, dan aku mulai menggila. Aku kembali untuk mengambil webcam milikku. Kabelnya tidak cukup panjang untuk menjangkau lantai tiga seperti yang kumaksud, jadi aku menyembunyikannya di antara dua mesin soda di ujung kegelapan di lorong ruang bawah tanahku, kabel itu kutarik memanjang di dinding dan di bawah pintuku, dan menempelkannya dengan solasi hitam di sepanjang dinding lorong. Aku tahu ini konyol, tetapi aku tidak punya kegiatan yang lebih baik untuk dilakukan...

Baik, tidak ada yang terjadi. Aku bersandar membuka pintu lorong-menuju-tangga, menyemangati diriku, kemudian aku membuka pintu depan yang berat dengan sekuat tenaga dan berlari seperti berada di neraka ketika menuruni tangga menuju kamarku dan menghantam pintu. Aku menyaksikan apa yang terlihat di webcam melalui komputerku dan menyaksikan dengan saksama, aku melihat lorong di luar pintu dan sejumlah besar tangga. Aku mengamati hal itu sekarang, dan aku tidak melihat sesuatu yang menarik. Aku hanya berharap posisi kameraku tidak berbeda dengan posisi yang kuinginkan, sehingga aku bisa melihat ke luar pintu depan. Hei! Ada yang sedang online!



Aku mengeluarkan webcamku yang lebih tua, webcam ini memiliki fungsi yang lebih sedikit, aku mengambilnya dari dalam lemariku untuk melakukan obrolan video dengan seorang teman lelaki yang sedang online. Aku benar-benar tidak bisa menjelaskan kenapa aku ingin melakukan obrolan video dengannya, tetapi aku merasa senang karena bisa melihat wajah orang lain. Dia tidak bisa berbicara dalam jangka waktu lama, dan kami tidak berbicara tentang sesuatu yang berarti, tetapi aku merasa jauh lebih baik. Rasa takutku yang aneh hampir menghilang. Aku sepenuhnya merasa lebih baik, tetapi ada sesuatu... yang aneh... tentang percakapan kami. Aku tahu bahwa aku telah mengatakan semua yang tampak aneh, tetapi... tetap saja, responsnya sangat tidak jelas. Aku tidak bisa mengingat satu pun yang dia katakan... tidak ada nama, atau tempat, atau peristiwa... tetapi dia meminta alamat emailku agar kami tetap terhubung. Tunggu, aku baru saja menerima sebuah email.

Aku akan pergi keluar. Aku baru saja menerima sebuah email dari Amy yang memintaku untuk menemuinya makan malam di "tempat kami biasa pergi." Aku menyukai pizza, dan aku baru saja mengkonsumsi makanan secara acak dari kulkasku selama beberapa hari, jadi aku tidak bisa menunggu. Sekali lagi, aku merasa konyol tentang beberapa hari aneh yang telah kualami. Aku harus memusnahkan jurnal ini ketika aku kembali. Oh, aku masih punya email lain.



Ya Tuhan. Aku hampir meninggalkan email itu dan membuka pintu. Aku hampir membuka pintu. Aku hampir membuka pintu, tetapi aku membaca email itu untuk pertama kalinya! Email itu dari seorang teman lelaki yang sudah lama tidak kudengar kabarnya, dan email itu dikirim dengan jumlah yang banyak untuk yang seharusnya telah dia simpan di dalam daftar alamat email. Email itu dikirim tanpa subjek, dan email itu berisi kalimat yang singkat:

"Lihatlah dengan matamu sendiri dan jangan percaya pada siapa pun".

Apa maksud dari gerangan itu? Kata-kata itu mengejutkanku, dan aku terus memikirkannya. Apakah itu adalah sebuah email yang dikirim karena iseng... atau ada sesuatu yang terjadi? Kata-kata itu terlihat seperti terpotong sebelum kalimat itu selesai! Jika aku mendapat email lain yang seperti ini, maka aku akan menghapus ini sebagai spam dari sebuah virus komputer atau sesuatu yang sejenisnya, tetapi kata-kata itu... lihatlah dengan matamu sendiri! Aku tidak bisa tertolong dengan ini, tetapi aku tetap membaca jurnal ini dan berpikir kembali pada beberapa hari terakhir dan menyadari bahwa aku tidak melihat orang lain dengan mataku sendiri atau berbicara secara langsung. Percakapan webcam dengan temanku terasa begitu aneh, begitu tidak jelas, begitu... menakutkan, sekarang aku memikirkan. Apakah itu menakutkan? Atau rasa takut itu telah menyelimuti ingatanku? Pikiranku telah bermain-main dengan percakapan yang kutulis di sini, tetapi aku masih belum menemukan satu fakta dan bahwa aku secara khusus masih belum yakin dengan semua ini. Aku mengalami kejadian aneh yang diacak seperti seseorang meneleponku dan mengatakan "salah sambung" bahwa dia telah tahu namaku dan hal aneh selanjutnya adalah panggilan dari Amy, juga teman yang meminta alamat emailku... akulah yang pertama kali mengirim pesan ketika aku melihat dia sedang online! Dan kemudian aku mendapatkan email pertamaku beberapa menit setelah percakapan itu! Ya Tuhan! Itu adalah panggilan telepon dari Amy! Aku mengatakan di telepon – Aku mengatakan bahwa aku membutuhkan waktu hingga setengah jam untuk berjalan dari Seventh Street! Dia tahu bahwa aku berada di dekat sana! Apakah dia mencoba untuk mencariku?! Di mana orang-orang? Kenapa aku tidak bisa melihat atau mendengar suara orang lain dalam beberapa hari ini?

Tidak, tidak, ini gila. Ini sepenuhnya gila. Aku harus tetap tenang. Kegilaan ini harus segera berakhir.



Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan. Aku berlari di sekitar apartemenku dengan marah, sambil memegang ponselku pada setiap sudut untuk melihat apakah dengan melakukan ini aku bisa mendapatkan sinyal melalui dinding-dinding yang tebal ini. Akhirnya, di dalam kamar mandi yang kecil, di dekat salah satu plafon, aku mendapatkan satu bar sinyal. Aku menggenggam ponselku, kemudian mengirimkan satu pesan teks kepada setiap nomor yang ada di dalam daftar kontakku. Aku tidak bermaksud untuk mengkhianati apa pun tentang rasa takutku, aku hanya mengirim pesan yang mengatakan:

Kau bertemu orang lain akhir-akhir ini?

Pada saat itu, aku hanya ingin seseorang membalas pesanku. Aku tidak peduli apa pun balasannya, bahkan jika aku akan membuat diriku malu. Aku mencoba untuk menelepon seseorang beberapa kali, tetapi aku tidak bisa menaikkan kepala dengan cukup tinggi, dan jika aku menurunkan ponselku, bahkan jika hanya satu inci saja, sinyal itu akan menghilang. Kemudian aku teringat dengan komputer, dan bergegas memakainya, aku mengirimkan pesan instan kepada semua orang yang sedang online. Sebagian besar dari mereka tidak menanggapi atau sedang afk. Tidak ada yang merespons. Pesanku menjadi semakin membingungkan, dan aku mulai memberi tahu orang-orang di mana aku tinggal dan aku mulai berhenti ketika aku menyuruh mereka datang ke tempatku. Aku tidak peduli tentang apa pun pada saat itu. Aku hanya ingin melihat orang lain!

Aku mengobrak-abrik apartemenku untuk mencari sesuatu yang mungkin telah kulewatkan; mencari cara untuk menghubungi manusia lain tanpa harus membuka pintu. Aku tahu ini gila, aku tahu ini belum kutemukan, tetapi jika sudah? JIKA SUDAH? Aku hanya perlu memastikan! Aku menaruh ponselku ke plafon kamar mandi.

Selasa

PONSELKU BERDERING! Rasa lelah dari amukanku tadi malam pasti telah membuatku tertidur. Aku kemudian bangun untuk mencari suara ponselku yang berdering, dan berlari menuju kamar mandi, lalu berdiri di toilet, dan membuka ponselku yang kutaruh di atas plafon. Itu dari Amy, dan aku merasa jauh lebih baik. Dia benar-benar mengkhawatirkanku, dan tampak dia telah berusaha menghubungiku sejak terakhir kali aku berbicara dengannya. Dia akan segera datang, dan, tentu saja, dia bisa tahu di mana aku tinggal tanpa kuberi tahu. Aku merasa sangat malu. Aku pasti akan membuang jurnal ini sebelum ada seseorang yang membacanya. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku menuliskan ini sekarang. Mungkin karena hanya ini komunikasi yang telah kulakukan sejak… Tuhan yang mengetahuinya. Aku terlihat kacau. Aku melihat diriku di cermin sebelum aku datang kembali. Mataku terlihat cekung, janggutku sudah menebal, dan aku melihat bahwa kondisiku tidak sehat.

Apartemenku tampak kotor, tetapi aku tidak akan bersih-bersih. Kupikir aku ingin orang lain melihat apa yang telah kulalui. Akhir-akhir ini semua tampak TIDAK normal. Tidak ada hal yang kubayangkan. Aku tahu aku telah menjadi korban dari sesuatu yang ekstrim. Aku mungkin merasa rindu untuk melihat orang lain. Aku harus pergi keluar ketika sudah larut malam, atau siang hari ketika semua orang tidak ada. Semua tampak baik-baik saja, aku tahu sekarang. Ditambah lagi, aku menemukan sesuatu di dalam lemariku tadi malam yang amat membantu: sebuah televisi! Aku sudah mengaturnya sebelum aku menuliskan ini, dan benda itu masih menyala di latar belakang. Televisi selalu menjadi pelarian untukku, dan itu mengingatkanku bahwa ada dunia lain di balik dinding-dinding yang kotor.

Aku senang Amy adalah satu-satunya orang yang meresponsku setelah tadi malam aku mengganggu semua orang yang bisa kuhubungi. Dia telah menjadi teman terbaikku selama bertahun-tahun. Dia tidak mengetahuinya, tetapi aku menganggap bahwa hari di mana aku bertemu dengannya adalah momen-momen dari kebahagiaan yang sebenarnya dalam hidupku. Aku ingat bahwa itu adalah hari di musim panas yang hangat dengan penuh harapan. Tampak berbeda dengan kegelapan saat ini, hujan, dan tempat ini terasa sunyi. Aku merasa seperti aku ingin menghabiskan hari-hariku duduk di taman bermain, tetapi aku sudah terlalu tua untuk bermain, aku hanya ingin berbicara dengan dan duduk di dekatnya. Terkadang, aku masih merasa seperti bisa kembali ke saat-saat itu, dan itu mengingatkanku dengan tempat sialan ini bahwa tidak semua hal bisa kulakukan seperti di sana... akhirnya, ada suara ketukan di pintu!



Kupikir ini aneh karena aku tidak bisa melihat melalui kamera yang kusembunyikan di antara dua mesin soda. Kupikir karena posisi kamera yang tidak pas, seperti ketika aku tidak bisa melihat ke luar pintu depan. Aku harus mengetahuinya. Aku harus mengetahuinya! Setelah ketukan itu, aku berteriak melalui pintu dengan nada bercanda bahwa aku menyembunyikan sebuah kamera di antara mesin-mesin soda itu, karena aku malu pada diriku sendiri bahwa aku menyembunyikan paranoid ini begitu jauh. Setelah aku melakukannya, aku melihat gambaran dirinya berjalan ke arah kamera dan menatap kamera. Dia tersenyum dan melambaikan tangan.

"Hei!" katanya sambil melihat ke kamera dengan wajah semangat, dan masam.

"Ini aneh, aku tahu itu," kataku melalui mikrofon di dekat komputerku, "Aku telah melalui beberapa hari yang aneh."



"Itu pasti," jawabnya, "Buka pintunya, John."

Aku merasa ragu. Bagaimana aku bisa memercayainya?

"Hei, buatlah aku terhibur," kataku melalui mikrofon, "Beri tahu aku satu hal tentang kita. Buktikan padaku jika itu memang dirimu."

Dia terlihat memberikan ekspresi kebingungan di kamera.

"Um, baiklah," katanya dengan pelan, sambil berpikir, "Kita bertemu secara tidak sengaja di suatu tempat bermain ketika kita berdua sudah terlalu tua untuk berada di sana?"

Aku menghela napas ketika kenyataan itu kembali dan rasa takutku memudar. Ya Tuhan, aku merasa sangat konyol. Tentu saja itu adalah Amy! Hari itu tidak akan ada di dunia mana pun kecuali di ingatanku. Aku tidak akan pernah mengatakan kepada siapa pun, bukannya ini konyol, tetapi aku merindukan hari-hari itu dan berharap hari-hari itu akan terulang kembali. Apakah ada seseorang tak kukenal yang mencoba untuk mempermainkanku, seperti yang kutakutkan, tidak mungkin dia bisa tahu tentang hari itu.

"Haha, baiklah, aku akan menjelaskan," kataku, "Tetap di sana ya."

Aku berlari menuju kamar mandiku yang kecil dan merapikan rambut sebisaku. Aku terlihat sangat berantakan, tetapi dia akan mengerti. Aku terkekeh-kekeh pada diriku sendiri atas rasa tidak percaya pada perilaku diriku sendiri dan kekacauan yang kubuat di tempat ini, aku berjalan menuju pintu. Aku meletakkan tangan di kenop pintu dan melihat kekacauan diriku untuk terakhir kalinya. Kupikir ini sangat konyol. Mataku tertuju pada makanan sisa yang tergeletak di lantai, tong sampah yang penuh, dan tempat tidurku yang kunaikkan ke sisi dinding untuk... Tuhan yang mengetahuinya. Aku sudah dekat dengan pintu dan hendak membuka, tetapi mataku melihat satu hal: webcam lamaku, yang kugunakan untuk melakukan obrolan video dengan temanku.

Bulatan hitam itu terbaring di sisi webcam, lensanya tertuju ke meja di mana jurnal ini berada. Aku menyadari teror yang luar biasa bahwa bisa saja seseorang sedang mengawasiku melalui kamera itu, dia akan melihat apa yang baru saja kutulis tentang hari itu. Aku bertanya lagi padanya satu hal tentang kami, dan dia memutuskan untuk mengatakan sesuatu yang kupikir mereka atau dia tidak tahu... tetapi DIA TAHU! DIA MENGETAHUINYA! DIA TELAH MENGAWASIKU SEPANJANG WAKTU!

Aku tidak membuka pintu. Aku berteriak. Aku berteriak tak terkendali dari teror itu. Aku menginjak-injak webcam lamaku di lantai. Pintunya bergetar, dan kenop pintu berputar, tetapi aku tidak mendengar suara Amy melalui pintu. Apakah pintu ruang bawah tanah ini, dibuat untuk menahan suara, karena ketebalannya? Atau Amy tidak ada di luar? Siapa yang mencoba untuk masuk, jika bukan dia? Siapa gerangan di luar sana?! Aku melihatnya ke layar komputerku melalui kamera di luar, aku mendengar suaranya di speaker melalui mikrofon di luar, tetapi apakah ini nyata?! Bagaimana bisa aku tahu?! Dia sudah pergi sekarang – aku berteriak, dan berteriak untuk meminta pertolongan! Aku menumpuk segala yang ada di apartemenku menghadap pintu depan –

Jum'at

Paling tidak, kupikir sekarang adalah hari Jum'at. Aku merusak semua benda elektronik. Aku membanting komputerku sampai hancur berkeping-keping. Setiap hal bisa saja diakses dengan akses internet, atau bisa saja hal yang lebih buruk terjadi. Aku tahu, aku adalah seorang programmer. Setiap informasi yang kuberi sejak ini dimulai – namaku, emailku, lokasiku – tak seorang pun kecuali dia yang datang ke apartemenku. Aku telah membaca ini lagi dan lagi tentang apa yang kutulis. Aku telah melangkah ke sana dan ke sini, kebingungan di antara rasa takutku dan ini sangat sulit untuk dipercaya. Terkadang, aku sepenuhnya yakin beberapa hantu di sini bertujuan untuk membuatku pergi keluar. Kembali ke awal, dengan panggilan telepon dari Amy, dia secara efektif memintaku untuk membuka pintu dan pergi ke luar.

Aku terus memikirkan di kepalaku. Satu gambaran di kepalaku mengatakan bahwa aku bertindak seperti orang gila, dan semua ini adalah tindakan ekstrim – ini tidak pernah keluar pada waktu yang tepat dengan suatu kebetulan, tidak pernah melihat orang lain juga suatu kebetulan, mendapat email yang berisikan omong kosong secara acak dari beberapa virus komputer juga pada waktu yang kebetulan. Hal lain dari gambaran di kepalaku mengatakan bahwa tindakan ekstrim itulah alasannya. Aku terus berpikir: aku tidak pernah membuka jendela yang berada di lantai tiga. Aku tidak pernah membuka pintu depan, sampai hal bodoh itu menghilang dari kamera setelah aku berlari menuju kamarku dan membanting pintu. Aku tidak harus membuka pintu depan. Apa pun yang ada di luar sana – jika ada sesuatu di luar sana – dia tidak pernah "menampakkan diri" di bangunan ini sebelum aku membuka pintu depan. Mungkin alasan dia tidak ada di luar karena dia telah berada di tempat lain... dan kemudian dia menunggu orang lain, sampai aku mengkhianati keberadaanku dengan mencoba untuk menelepon Amy... yang mana panggilan itu tidak berhasil, sampai dia memanggilku dan menanyakan namaku...

Teror ini sepenuhnya menguasaiku setiap kali aku mencoba untuk menyusun kembali potongan-potongan dari mimpi buruk ini menjadi satu. Email itu – pendek, terpotong – apakah itu dari seseorang yang mencoba untuk mengatakan sesuatu? Apakah suara ramah dengan putus asa itu mencoba untuk memperingatkanku sebelum dia datang? Lihatlah dengan mataku sendiri, jangan percaya pada siapa pun – ini sangat mencurigakan. Bisa saja dia hebat dalam mengendalikan semua alat elektronik, dan ini adalah tipuan untuk membuatku keluar. Kenapa dia tidak bisa masuk? Dia bisa mengetuk pintu – dia seharusnya memiliki bentuk yang padat... pintu itu... gambaran dari pintu-pintu di lorong yang terbuat dari batu granit peradaban kuno selalu terlintas dalam benakku setiap kali aku memikirkannya. Jika ada hantu yang mencoba untuk membuatku pergi keluar, mungkin dia tidak bisa masuk melalui pintu. Aku terus berpikir kembali pada semua buku yang telah kubaca atau film yang telah kutonton, mencoba untuk menghasilkan beberapa penjelasan untuk hal ini. Pintu selalu terfokus dari imajinasi manusia, selalu terlihat seperti portal yang spesial. Atau karena pintunya yang terlalu tebal? Aku tahu bahwa aku tidak bisa menerobos pintu mana pun dari pintu-pintu di bangunan ini, terutama di ruang bawah tanah. Di samping itu, pertanyaan yang sebenarnya adalah, kenapa dia menginginkanku? Jika dia hanya ingin membunuhku, dia bisa melakukannya dengan cara apa pun, termasuk menunggu sampai aku mati kelaparan. Bagaimana jika dia tidak ingin membunuhku? Bagaimana jika dia memiliki beberapa rencana yang jauh lebih mengerikan? Ya tuhan, apakah aku bisa melakukan sesuatu untuk melarikan diri dari mimpi buruk ini?!

Terdengar suara ketukan di pintu...



Aku mengatakan kepada orang di luar bahwa aku butuh beberapa menit untuk berpikir dan aku akan pergi keluar. Aku menuliskan ini sehingga aku bisa mengetahui apa yang harus kulakukan terhadap sosok di luar sana. Setidaknya, kali ini aku mendengar suara mereka. Paranoidku – dan ya, aku menjadi paranoid – kupikir suara telah dipalsukan dengan alat elektronik. Bisa saja di luar sana tidak ada apa pun kecuali speaker, yang menirukan suara manusia. Apa benar dia membutuhkan waktu selama tiga hari untuk datang berbicara padaku? Kuharap Amy ada di luar sana, bersama dua pria polisi dan seorang pria psikiater. Mungkin mereka membutuhkan waktu selama tiga hari untuk memikirkan apa yang harus dikatakan padaku – psikiater bisa cukup meyakinkan, ini semua hanya kesalahpahaman yang gila, dan tidak ada makhluk yang mencoba menipuku untuk membuka pintu.

Suara psikiater itu seperti orang dewasa, mutlak tetapi masih memedulikanku. Aku suka itu. Aku sudah tidak sabar untuk melihat seseorang dengan mataku! Dia berkata bahwa aku menderita penyakit mental yang disebut cyber-psychosis, dan aku salah satu yang terkena wabah dari ribuan orang yang menerima email itu "yang entah bagaimana bisa mendapatkan email tersebut." Aku bersumpah dia mengatakan "yang entah bagaimana bisa mendapatkan email tersebut." Kupikir maksudnya adalah bagaimana cara email itu bisa menyebar ke seluruh wilayah tanpa alasan yang jelas, tetapi aku dengan tidak percaya mencurigai sosok itu dan ingin mengungkapkan sesuatu. Dia memberi tahuku bahwa beberapa di antaranya "bertingkah dengan tidak wajar", bahwa mereka mendapat masalah yang sama dengan rasa takut yang sama, bahkan meskipun kami tidak pernah berkomunikasi.

Dia menjelaskan tentang email aneh yang kudapat. Aku tidak mendapatkan email yang asli. Aku mendapatkan email itu - dari temanku yang mungkin juga sedang mendapatkan masalah sepertiku, dan mencoba untuk memberi tahu semua orang bahwa dia sedang melawan rasa takut dari paranoidnya. Itulah bagaimana permasalahan ini menyebar, kata psikiater itu dengan tegas. Aku juga telah menyebarkannya, dengan teks-teks dan pesan instan online kepada semua orang yang kukenal. Salah satu dari mereka mungkin kebingungan, setelah aku mengirimkan email itu, beberapa dari mereka mungkin mengartikan pesan itu dengan cara apa pun yang mereka inginkan, seperti teks yang mengatakan, "lihatlah orang-orang dengan matamu sendiri?" Psikiater itu mengatakan padaku bahwa dia tidak ingin "kehilangan satu orang", bahwa orang-orang sepertiku cerdas, dan itu adalah kekurangan kami. Kami memikirkannya dengan sangat baik bahkan ketika itu seharusnya tidak ada. Dia berkata bahwa mudah bagiku mendapatkan paranoid ini di dunia kami yang begitu cepat, sering kali dunia kami mengalami perubahan...

Aku harus memberinya satu hal. Itu adalah penjelasan yang hebat. Penjelasan yang rapi. Penjelasan yang sempurna, dari kenyataannya. Aku mempunyai setiap alasan untuk menghilangkan rasa takutku dari mimpi buruk ini bahwa makhluk itu ingin aku membuka pintu sehingga dia bisa menangkapku, aku sepertinya sudah ditakdirkan untuk mati. Ini akan menjadi hal bodoh, setelah mendengarkan penjelasan itu, untuk tetap berada di sini sampai aku mati kelaparan hanya untuk membuat makhluk itu kesal dan mungkin dia akan pergi mencari orang lain. Ini akan menjadi sangat bodoh untuk memikirkannya, setelah mendengarkan penjelasan itu, aku mungkin menjadi orang terakhir yang hidup di dunia hampa ini, bersembunyi di ruang bawah tanah yang aman, menolak untuk keluar karena aku tidak ingin ditangkap oleh makhluk yang tidak nyata. Itu adalah penjelasan yang paling sempurna dari setiap hal yang pernah kulihat atau kudengar, dan aku sudah bisa melepaskan semua rasa takutku, dan membuka pintu.

Itulah alasan kenapa aku tidak ingin pergi keluar.

Bagaimana bisa aku yakin?! Bagaimana caranya aku bisa mengetahui apakah ini nyata atau tidak? Semua hal terkutuk ini dengan kabel dan sinyal yang datang dari beberapa tempat tak terlihat! Ini tidak nyata, aku tidak bisa yakin! Sinyal kamera, video palsu, panggilan telepon secara tiba-tiba, dan email-email itu! Bahkan televisi, yang tergeletak rusak di lantai – bagaimana bisa aku tahu ini nyata? Itu hanya sinyal, cahaya... dan pintu! Pintunya mulai bergetar! Dia mencoba untuk masuk! Penemuan gila apa yang dia gunakan untuk menirukan suara pria yang menyerang pintu kayu besar ini?! Setidaknya aku akan melihatnya dengan mataku sendiri... tidak ada lagi yang bisa menipuku, aku telah menghancurkan segalanya! Dia tidak bisa menipu mataku, kan? Lihatlah dengan matamu sendiri jangan percaya pada siapa pun... tunggu... apakah pesan itu memberi tahuku untuk percaya pada mataku, atau memperingatkan mataku?! Ya Tuhan, apa perbedaan antara sebuah kamera dan mataku? Keduanya mengubah cahaya menjadi sinyal-sinyal elektrik – itu sama! Aku tidak bisa tertipu! Aku harus yakin! Aku harus yakin!

Tanggal Tidak Diketahui

Aku dengan tenang meminta kertas dan pulpen, selama berhari-hari, sampai akhirnya mereka memberikannya untukku. Itu bukanlah hal yang penting. Apa yang harus kulakukan dengan benda-benda ini? Mencungkil keluar bola mataku? Perban-perban ini sudah terasa seperti bagian dari diriku. Rasa sakit telah hilang. Kukira ini akan menjadi kesempatan terakhirku untuk menulis, karena, tanpa penglihatanku ini akan menjadi sulit untuk melakukannya, kedua tanganku perlahan akan mulai melupakan gerakannya. Ini adalah bagian dari kegemaranku, tulisan ini... akan menjadi sebuah peninggalan yang berharga di lain waktu, karena aku percaya semua orang akan meninggalkan dunia ini dengan kematian... atau sesuatu yang jauh lebih buruk.

Aku duduk menghadap dinding selama berhari-hari. Makhluk itu membawakanku makanan dan air. Dia menyamar seperti seorang perawat, dan seperti seorang dokter yang tidak pengertian. Kupikir dia tahu pendengaranku sudah semakin tajam sekarang karena aku hidup di kegelapan. Dia memalsukan percakapan-percakapan di lorong-lorong itu, mungkin dia tidak ingin aku mendengarnya. Salah satu perawat membicarakan tentang bayi yang akan segera dimilikinya. Salah satu dokter kehilangan istrinya dalam kecelakaan mobil. Tidak ada yang kupedulikan, tidak ada yang nyata. Tidak ada yang kumengerti, tidak seperti yang perawat itu lakukan.

Itu adalah bagian terburuk, bagian itu nyaris tidak bisa kukendalikan. Sosok itu datang padaku, yang menyamar seperti Amy. Penyamaran yang sempurna. Suaranya persis seperti Amy, persis seperti dia. Dia bahkan mengeluarkan linangan air mata yang mengalir di pipinya bahwa ini membuatku berpikir kalau dia memang Amy. Ketika dia untuk pertama kalinya membawaku ke sini, dia memberi tahuku semua yang ingin kudengar. Dia mengatakan padaku bahwa dia mencintaiku, bahwa dia akan selalu mencintaiku, bahwa dia tidak mengerti kenapa aku melakukan semua ini, bahwa kami bisa tetap hidup bersama, jika saja aku berhenti berpikir bahwa aku sedang diperdaya. Dia ingin aku percaya... tidak, dia memerlukanku untuk percaya bahwa dirinya nyata.

Aku nyaris terpedaya olehnya. Aku hampir sepenuhnya terpedaya. Aku meragukan diriku sendiri untuk waktu yang sangat panjang. Pada akhirnya, aku berpikir, semua ini terlalu sempurna, terlalu mulus, dan terlalu nyata. Amy palsu itu akan datang setiap hari, dan kemudian setiap minggu, dan akhirnya berhenti datang sepenuhnya... tetapi aku tidak pernah berpikir makhluk itu akan menyerah. Kupikir menunggu permainan ini berakhir adalah satu cara dia memulainya. Aku akan menolaknya untuk tinggal di kehidupanku, jika aku harus melakukannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dunia ini, tetapi aku tahu bahwa makhluk ini memerlukanku untuk terkena tipu dayanya. Jika dia memerlukanku untuk itu, kemudian mungkin, hanya saja mungkin, aku adalah seorang penghalang rencananya. Mungkin Amy masih hidup di suatu tempat di luar sana, berusaha untuk tetap hidup karena aku terus berusaha untuk menolak tipuan makhluk itu. Aku berpegang teguh terhadap harapan itu, bergerak maju dan mundur di penjara ini untuk melalui waktu. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan kalah. Aku adalah... seorang pahlawan!

====

Sang dokter membaca kertas yang telah ditulis oleh pasien tersebut. Tulisan itu sulit untuk bisa dibaca, ditulis oleh seseorang yang tidak bisa melihat. Dia ingin tersenyum kepada pria itu karena sudah berusaha untuk menyelesaikan, itu menunjukkan keinginannya untuk tetap terus bertahan hidup, tetapi dokter itu tahu bahwa si pasien masih sepenuhnya berada dalam halusinasinya.

Setelah semua itu, seorang pria yang akalnya sehat bisa saja terjatuh karena muslihat dirinya sendiri sejak lama.



Sang dokter ingin tersenyum. Dia ingin membisikkan kata-kata penyemangat kepada pria yang masih berada dalam halusinasinya sendiri. Dia ingin berteriak, tetapi perban yang dibalut di sekitar kepala dan matanya membuat dia tidak bisa melakukannya. Tubuhnya berjalan memasuki ruangan seperti sebuah boneka, dan dia memberitahu si pasien, sekali lagi, bahwa dia salah, dan tidak ada seorang pun yang berusaha untuk menipunya.


Credited to Matt Dymerski

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta