Sabtu, 15 Juli 2017

NoEnd House


Biarkan aku mulai menceritakannya dengan mengatakan bahwa Peter Terry adalah seorang pecandu heroin.



Kami adalah teman sekampus dan terus berlanjut setelah aku lulus. Perhatikan bahwa aku mengatakan kalimat "aku". Dia sudah dikeluarkan setelah dua tahun tidak masuk. Setelah aku pindah dari asrama ke apartemen kecil, aku tidak pernah melihat Peter lagi. Kami akan berbicara secara online untuk hari ini dan seterusnya di AIM (yang berkuasa sebelum Facebook didirikan). Ada suatu waktu di mana dia tidak online selama sekitar lima pekan berturut-turut. Aku tidak khawatir. Dia cukup terkenal karena perilakunya yang buruk, yaitu pecandu obat-obatan terlarang. Kemudian, pada suatu malam aku melihat Peter online. Sebelum aku memulai percakapan, dia mengirimkan pesan padaku.

"David, kita harus bicara men."

Saat itulah dia memberitahuku tentang NoEnd House. Itu adalah julukan yang diberikan karena tidak ada seorang pun yang pernah mencapai ujung rumah itu untuk keluar. Peraturannya cukup sederhana dan klise: capailah ujung ruangan dari bangunan itu dan kau akan memenangkan $500. Ada sembilan ruangan di NoEnd House. Rumah itu terletak di luar kotaku, jaraknya kira-kira empat mil dari rumahku. Ternyata, Peter telah mencobanya dan dia gagal. Dia adalah seorang pecandu heroin dan obat-obatan terlarang, jadi kukira ketika dia mabuk, dia mengetahui tentang hal ini dari surat kabar atau sesuatu yang lain. Dia memberitahuku bahwa rumah itu terlalu berlebihan untuk siapa pun. Rumah itu tidak masuk akal.

Aku tidak percaya. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan pergi menuju rumah itu pada malam berikutnya dan tidak memedulikan betapa kerasnya dia berusaha meyakinkanku untuk tidak pergi ke sana, $500 terdengar sangat banyak untuk menjadi kenyataan. Aku harus pergi. Aku berangkat pada malam berikutnya.

Ketika aku sampai, aku langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dari bangunan itu. Apakah kau pernah melihat atau membaca sesuatu yang seharusnya tidak menakutkan, tetapi untuk beberapa alasan kau merasa merinding? Seperti itulah rasanya. Aku berjalan menuju bangunan itu dan merasa gelisah, kemudian aku membuka pintu depan bangunan itu.

Jantungku berdetak dengan perlahan dan aku menghela napas ketika memasuki ruangan itu. Ruangan itu telihat seperti lobi hotel normal yang didekorasi dengan tema Halloween. Ada sebuah papan tanda yang ditempatkan di meja resepsionis. Tulisannya terbaca, "Kau akan sampai di Ruang 1 dengan melalui jalan ini. Terdapat lebih dari delapan ruangan. Capailah ruang terakhir dan kau menang!" Aku tertawa kecil dan berjalan menuju pintu pertama.

Area pertama hampir membuatku tertawa. Lorong ini didekorasi dengan tema Halloween, lengkap dengan hantu kain dan robot zombie yang mengeluarkan suara geram ketika kau melewati mereka. Di ujung ruangan terdapat sebuah pintu keluar; itu adalah satu-satunya pintu selain pintu yang kulewati tadi. Aku berjalan melalui jaring laba-laba palsu dan menuju ruang kedua.

Aku disambut oleh kabut asap ketika membuka pintu menuju ruang kedua. Ruangan ini pasti dibiayai dengan harga yang cukup tinggi dalam hal teknologi. Tidak hanya mesin kabut, tetapi ada kelelawar yang tergantung dari langit-langit dan terbang dalam bentuk lingkaran. Menakutkan. Mereka sepertinya memiliki musik tema Halloween yang bisa ditemukan di suatu toko. Aku tidak melihat alat stereo di sana, tetapi kukira mereka menggunakan Sistem PA. Aku menginjak beberapa mainan tikus yang berputar di lantai ketika berjalan menuju ruang selanjutnya.

Aku menggenggam gagang pintu dan jantungku terasa berdetak kencang. Aku tidak ingin membukanya. Perasaan takut dalam diriku memukulku dengan sangat keras, aku bahkan hampir tidak bisa berpikir. Setelah beberapa saat dari rasa takutku, aku membuka pintu dan memasuki ruang selanjutnya.

Ruang ketiga adalah di mana banyak hal yang mulai berubah.

Ruang ini tampak seperti ruangan biasa. Terdapat satu kursi yang berada di tengah-tengah ruangan berlantai kayu. Hanya ada satu lampu di sudut ruangan yang tidak cukup memberikan pencahayaan untuk ruangan ini, sehingga membuat banyak bayangan di lantai dan dinding. Itulah masalahnya. Bayangan-bayangan itu.

Kecuali bayangan dari kursi, ada bayangan lain di sana. Aku baru saja berjalan melewati pintu dan aku mulai merasa takut. Pada saat itu aku tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Aku bahkan tidak berpikir panjang dan langsung mencoba untuk membuka pintu di belakangku. Pintunya terkunci dari sisi yang lain.

Itu membuatku berpikir. Apakah ada seseorang yang mengunci pintu ketika aku sampai di ruangan ini? Itu tidak mungkin. Aku akan mendengarnya jika memang ada yang mengunci pintu. Mungkinkah mereka menggunakan kunci mekanis yang diatur secara otomatis? Mungkin. Namun aku terlalu takut untuk memikirkannya. Aku berbalik dan bayangan-bayangan di sana telah hilang. Bayangan kursi masih ada, tetapi bayangan yang lain telah hilang. Aku perlahan mulai berjalan. Aku kerap kali berhalusinasi ketika aku masih kecil, jadi kuanggap bahwa bayangan-bayangan itu sebagai khayalan imajinasiku. Aku mulai merasa lebih baik ketika berhasil mencapai bagian tengah ruangan ini. Aku menunduk ketika melangkah dan saat itulah aku melihatnya.

Atau tidak melihatnya. Bayanganku tidak ada di sana. Aku tidak punya waktu untuk berteriak. Aku berlari secepat mungkin menuju pintu yang lain dan langsung memasuki ruang selanjutnya tanpa berpikir panjang.

Ruang keempat mungkin adalah ruangan yang paling mengganggu. Ketika aku menutup pintu, semua cahaya menjadi redup dan pindah ke ruang sebelumnya. Aku berdiri di sana, dikelilingi oleh kegelapan, dan aku tidak mampu bergerak. Aku tidak takut kegelapan dan tidak akan pernah, tetapi saat ini aku sepenuhnya takut. Semua yang kulihat telah meninggalkanku. Aku mengangkat tangan ke depan wajah dan jika aku tidak tahu apa yang kulakukan, aku tidak akan pernah bisa menceritakannya. Kegelapan yang tidak bisa dijelaskan. Aku tidak bisa mendengar apa pun. Suasana di ruangan ini sepenuhnya sunyi. Ketika kau berada di ruang kedap suara, kau masih bisa mendengar suara napasmu. Kau bisa mendengar suara kehidupan dirimu.

Namun aku tidak bisa mendengarnya.

Aku mulai tersandung setelah beberapa saat, detak jantungku yang begitu kencang adalah satu-satunya hal yang bisa kurasakan. Tidak ada pintu yang terlihat. Bahkan aku tidak yakin ada satu pintu di ruangan ini. Kesunyian ini kemudian pecah oleh suara dengungan yang rendah.

Aku merasakan ada sesuatu di belakangku. Aku dengan cepat berbalik tetapi aku bahkan hampir tidak bisa melihat hidungku sendiri. Terlepas dari betapa gelapnya, aku tahu ada sesuatu di sana. Dengungan itu semakin bertambah keras, dan semakin dekat. Seolah sedang mengepungku, tetapi aku tahu apa pun yang menyebabkan kebisingan itu pasti berada tepat di hadapanku, semakin lebih dekat hanya beberapa inci. Aku mundur selangkah; aku belum pernah merasa ketakutan seperti ini sebelumnya. Aku tidak bisa menggambarkan rasa takut yang sebenarnya. Aku bahkan tidak takut jika aku akan mati; tetapi aku sangat ketakutan saat ini. Aku takut terhadap semua hal yang ada di ruangan ini. Kemudian lampu menyala selama sekejap dan aku bisa melihat.

Tidak ada apa pun. Aku tidak melihat apa pun dan aku tahu aku tidak melihat apa pun di sana. Ruangan ini kembali gelap dan dengungan itu menjadi suara deritan yang liar. Aku berteriak protes; aku tidak bisa mendengar suara sialan ini lagi. Aku berlari mundur ke belakang, menjauh dari kebisingan itu, dan meraba-raba pegangan pintu. Kemudian aku berbalik dan terjatuh ke ruang kelima.

Sebelum aku menggambarkan ruang kelima, kau harus mengerti sesuatu. Aku bukanlah seorang pecandu obat-obatan terlarang. Aku tidak memiliki riwayat penyalahgunaan obat atau psikosis kecil dari halusinasi masa kecilku yang telah kusebutkan sebelumnya, dan semua itu hanyalah ketika aku sangat lelah atau ketika aku baru terbangun dari tidur. Aku masuk ke dalam NoEnd House dengan pikiran jernih.

Setelah terjatuh dari ruangan sebelumnya dengan punggung lebih dulu, aku memandangi langit-langit. Apa yang kulihat kali ini tidak membuatku takut; itu hanya mengejutkanku. Pepohonan telah tumbuh di dalam ruangan. Langit-langit di ruangan ini lebih tinggi daripada yang di ruangan lain, kupikir aku sedang berada di dalam pusat rumah ini. Aku bangkit, membersihkan diriku dari debu, dan melihat ke sekitar. Ruangan ini sudah pasti adalah ruangan terbesar dari semua ruangan yang lain. Aku bahkan tidak bisa melihat pintu di ruangan ini; karena terhalangi oleh berbagai macam pohon sehingga aku tidak bisa melihat pintu keluar.

Sampai saat ini, kupikir ruangan-ruangan di rumah ini akan semakin menakutkan, tetapi ruangan yang satu ini bagaikan surga dibandingkan dengan ruangan tadi. Aku juga mengira dengungan di ruang keempat tadi akan tetap berada di sana. Ternyata perkiraanku salah.



Ketika aku berjalan lebih dalam menuju ruangan ini, aku mulai mendengar apa yang seseorang akan dengar jika sedang berada di pedalaman hutan; suara kicauan dan kepakan sayap burung-burung tampaknya menjadi satu-satunya temanku di ruangan ini. Itu adalah hal yang paling mengganggu. Aku mendengar suara serangga dan hewan lainnya, tetapi aku tidak melihat satu pun dari mereka. Aku mulai heran dengan seberapa besarnya rumah ini. Dari luar ketika aku pertama kali berjalan menuju rumah ini, rumah ini tampak seperti rumah biasa. Rumah ini pasti memiliki sisi yang besar, tetapi ruangan ini sepenuhnya mirip seperti hutan. Kanopi menghalangi pandanganku dari langit-langit, tetapi aku berasumsi bahwa hal itu masih berada di sana. Aku tidak bisa melihat dinding. Satu-satunya cara aku bisa tahu bahwa aku masih berada di ruang kelima adalah bahwa lantai di ruangan ini mirip seperti lantai di ruang lainnya: yaitu lantai kayu yang gelap.

Aku terus berjalan, berharap bahwa pohon selanjutnya yang kulalui akan memperlihatkan pintu. Setelah beberapa saat berjalan, aku merasakan ada nyamuk yang terbang di lenganku. Aku menggoyangkan lenganku dan terus berjalan. Beberapa detik kemudian, aku merasa ada sekitar sepuluh nyamuk yang menempel di kulitku di titik yang berbeda. Aku merasakan mereka di atas dan di bawah lenganku dan kakiku dan beberapa dari mereka merayap di wajahku. Aku memukul-mukul dengan liar tetapi mereka terus merayap di tubuhku. Aku menunduk dan berteriak - sejujurnya, teriakanku lebih terdengar seperti rengekan. Aku tidak melihat satu pun nyamuk. Tidak ada satu pun nyamuk yang menempel di tubuhku, tetapi aku bisa merasakan mereka sedang menempel di tubuhku. Aku mendengar mereka beterbangan di wajahku dan menggigit kulitku tetapi aku tidak bisa melihat satu pun nyamuk-nyamuk itu. Aku menjatuhkan diri ke lantai dan mulai berguling-guling dengan liar. Aku sudah putus asa. Aku benci serangga, terutama yang tidak bisa dilihat atau disentuh. Namun serangga-serangga ini bisa menyentuhku dan mereka ada di mana-mana.

Aku mulai merangkak. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi; pintu masuk sudah tidak terlihat dan aku bahkan masih belum melihat pintu keluar. Jadi aku hanya merangkak, kulitku menggeliat ketika serangga-serangga itu bertambah banyak. Setelah menunggu selama berjam-jam, aku menemukan sebuah pintu. Aku menggapai pohon terdekat dan berusaha untuk berdiri, tanpa berpikir panjang aku langsung memukul-mukul lengan dan kakiku, tetapi itu tidak membuahkan hasil. Aku mencoba berlari, tetapi aku tidak bisa; tubuhku kelelahan karena tadi terus merangkak dan berurusan dengan apa pun yang menempel di tubuhku. Aku mengambil beberapa langkah dengan gemetar menuju pintu, meraih setiap pohon di jalan untuk membantuku tetap berdiri.

Kemudian, aku mendengar suara itu lagi. Suara dengungan rendah yang sebelumnya kudengar. Suara itu berasal dari ruang selanjutnya dan itu terdengar lebih dalam. Aku hampir bisa merasakannya di tubuhku, seolah berdiri di samping sebuah penguat suara di konser. Suara dengungan yang keras perlahan memudar. Ketika aku meletakkan tanganku di gagang pintu, serangga-serangga itu menghilang, tetapi aku tidak sanggup untuk memutar gagang pintu. Aku tahu bahwa jika aku melepaskan tanganku, serangga-serangga itu akan kembali dan tidak mungkin aku akan memutuskan untuk kembali ke ruang keempat. Aku hanya berdiri di sana, kepalaku menekan pintu yang ditandai dengan angka enam dan tanganku dengan gemetar membuka pintu. Dengungan itu sangat keras, aku bahkan tidak bisa mendengar suara yang dibuat pikiranku sendiri. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali terus maju. Ruang keenam adalah yang selanjutnya, dan ruang keenam adalah Neraka.

Aku menutup pintu di belakangku, memejamkan mata dan telingaku berdengung. Dengungan itu mengerumuniku. Ketika pintu sepenuhnya tertutup, dengungan itu menghilang. Aku terkejut ketika membuka mataku dan pintu yang baru saja kututup juga menghilang. Pintu itu hanyalah dinding biasa sekarang. Aku melihat ke sekitar dengan syok. Ruangan ini serupa dengan ruang ketiga - kursi dan lampu yang sama - tetapi kali ini ada bayangan di kursi itu. Satu-satunya perbedaan yang nyata adalah bahwa tidak ada pintu keluar dan pintu yang kulewati tadi juga menghilang. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak punya masalah dalam hal gangguan mental, tetapi pada saat itu, aku jatuh ke dalam kegilaan. Aku tidak berteriak. Aku tidak mengeluarkan satu pun suara.

Pada awalnya aku mencakar dinding di ruangan ini dengan lembut. Dinding itu ternyata cukup keras, tetapi aku tahu pintu itu berada di suatu tempat. Aku tahu itu. Aku mencakar di titik di mana pintu masuk berada. Aku mencakar-cakar dinding dengan penuh ketakutan dengan kedua tanganku, kuku jariku lepas. Aku jatuh berlutut dalam keheningan, satu-satunya suara yang ada di ruangan hanyalah suara cakaran dinding. Aku tahu pintu itu berada di sana. Pintu itu berada di sana, aku tahu itu. Aku tahu aku bisa melewati dinding ini -

"Kau baik-baik saja?"

Aku melompat dari lantai dan berbalik dalam satu gerakan. Aku bersandar ke dinding di belakangku dan aku melihat apa yang berbicara padaku; sampai hari ini aku masih menyesal karena berbalik pada saat itu.

Ada seorang gadis kecil. Dia mengenakan gaun putih yang panjangnya mencapai ke pergelangan kaki. Dia memiliki rambut pirang dengan panjang mencapai ke tengah punggungnya, kulitnya berwarna putih dan kedua matanya berwarna biru. Dia adalah hal paling menakutkan yang pernah kulihat, dan aku tahu bahwa tidak ada satu pun hal dalam hidupku yang lebih mengerikan dari sesuatu dalam dirinya. Selagi aku menatapnya, aku melihat sesuatu yang lain. Di tempat di mana dia berdiri aku melihat mayat seorang pria, hanya saja ukuran tubuhnya lebih besar dari manusia normal dan dipenuhi bulu. Dia telanjang bulat dari kepala sampai kaki, tetapi kepalanya bukan manusia dan kakinya adalah kaki kuda. Dia bukanlah Iblis, tetapi pada saat itu, mungkin dia adalah sang Iblis. Bentuk kepalanya seperti kambing dan hidungnya seperti serigala.

Dia mengerikan dan mirip dengan gadis kecil itu. Mereka memiliki bentuk yang sama. Aku benar-benar tidak bisa menggambarkannya, tetapi aku melihat mereka pada waktu yang sama. Mereka berbagi tempat yang sama, tetapi terlihat seperti dua dimensi yang terpisah. Ketika aku melihat gadis itu, aku melihat sosok itu, dan ketika aku melihat sosok itu aku melihat gadis itu. Aku tidak bisa berbicara. Aku bahkan hampir tidak bisa melihat. Pikiranku muak terhadap semua ini. Aku telah merasa takut sebelumnya dalam kehidupanku dan aku tidak pernah merasa lebih takut kecuali ketika aku terperangkap di dalam ruang keempat, tetapi aku belum memasuki ruang keenam. Aku hanya berdiri di sana, menatap apa pun itu yang berbicara padaku. Tidak ada jalan keluar. Aku terperangkap di sini dengannya. Dan kemudian gadis itu berbicara lagi.

"David, kau seharusnya mendengarkan temanmu."

Ketika dia berbicara, aku mendengar kata-kata gadis kecil itu, tetapi sosok yang lainnya berbicara melalui pikiranku dalam suara yang tidak bisa kugambarkan. Tidak ada suara lain. Suara itu hanya terus mengulangi kalimat itu di dalam pikiranku, aku setuju. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hampir gila, tetapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari sesuatu yang berada di hadapanku. Aku terjatuh ke lantai. Kupikir aku telah pingsan, tetapi ruangan ini tidak membiarkanku pingsan. Aku hanya ingin semua ini berakhir. Mataku melebar dan sosok itu menatapku. Apa yang berlari di atas lantai adalah salah satu tikus bertenaga baterai dari ruang kedua.

Rumah ini mempermainkanku. Namun untuk beberapa alasan, melihat tikus itu menarik kembali pikiranku dari apa pun yang berada di hadapanku dan aku melihat ke sekitar ruangan. Aku berusaha mencari pintu keluar. Aku bertekad untuk keluar dari rumah ini dan kembali pada kehidupan normal dan tidak pernah memikirkan tentang tempat ini lagi. Aku tahu ruangan ini seperti Neraka dan aku tidak siap untuk mengambil risiko. Pada awalnya, aku merasa ragu untuk menggerakkan mataku. Aku mengamati setiap dinding. Ruangan ini tidak begitu besar, sehingga tidak butuh waktu lama untuk mengingat seluruh tata letak. Iblis itu masih mengejekku, suara itu semakin keras. Aku meletakkan tanganku di lantai, berusaha untuk berdiri dan berbalik untuk mengamati dinding di belakangku.

Kemudian aku melihat sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Sosok itu sekarang berada tepat di belakangku, berbisik padaku bahwa seharusnya aku tidak pernah datang ke tempat ini. Aku merasakan hembusan napasnya di belakang leherku, tetapi aku menolak untuk berbalik. Aku melihat persegi panjang yang besar terukir ke dalam kayu, dengan suatu bentuk di tengah-tengahnya. Tepat di depan mataku, aku melihat ukiran angka tujuh di dinding. Aku tahu: ruang ketujuh hanya berada di luar dinding di mana ruangan kelima berada pada beberapa saat yang lalu.

Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menemukannya - mungkin ini disebabkan oleh kondisi pikiranku - tetapi aku telah menemukan pintu tersebut. Aku tahu aku melakukannya. Dalam kegilaanku, aku telah mencakar-cakar dinding karena apa yang paling kubutuhkan adalah: jalan keluar menuju ruang selanjutnya. Ruang ketujuh sudah dekat. Aku tahu iblis itu tepat berada di belakangku, tetapi untuk beberapa alasan dia tidak bisa menyentuhku. Aku memejamkan mata dan kedua tanganku menyentuh ukiran angka tujuh. Kemudian aku mendorongnya. Aku mendorongnya sekeras yang kubisa. Iblis itu sekarang berteriak di telingaku. Dia mengatakan padaku untuk tidak meninggalkan tempat ini. Dia mengatakan padaku bahwa ruang selanjutnya adalah yang terakhir tetapi aku tidak akan mati di sini; dia memintaku untuk tetap tinggal di ruang keenam bersamanya. Namun aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku mendorong dinding dan berteriak di bagian atas paru-paruku. Aku tahu pada akhirnya aku mendorong dinding.

Aku menutup mata dan berteriak, iblis itu menghilang. Aku pergi dalam keheningan. Aku perlahan berbalik dan ketika aku melihat ruangan ini aku disambut dengan sebuah kursi dan lampu. Aku tidak bisa percaya, tetapi aku tidak punya banyak waktu. Aku kembali berbalik untuk melihat angka tujuh di dinding dan aku sedikit melompat. Apa yang kulihat adalah sebuah pintu. Itu bukanlah salah satu yang telah kucakar, tetapi pintu biasa dengan angka tujuh yang besar di atasnya. Seluruh tubuhku gemetar. Butuh waktu beberapa saat untuk memutar gagang pintu. Aku hanya berdiri di sana selama beberapa saat, menatap pintu. Aku tidak bisa terus berada di ruang keenam. Aku tidak bisa. Namun jika ini hanyalah ruang keenam, aku tidak bisa membayangkan ruang ketujuh. Aku sudah berdiri di sana selama satu jam, hanya menatap angka tujuh. Akhirnya, aku menghela napas dalam-dalam, memutar gagang pintu dan mendorongnya, aku memasuki ruang ketujuh.

Aku terjatuh ke lantai setelah membuka pintu karena kelelahan mental dan fisikku sudah melemah. Pintu di belakangku tertutup dan aku menyadari di mana aku berada. Aku berada di luar. Tidak di luar seperti di ruang kelima, tetapi benar-benar berada di luar. Mataku terasa pedih. Aku ingin menangis. Aku jatuh berlutut dan mencoba untuk berdiri tetapi aku tidak bisa. Akhirnya aku keluar dari neraka itu. Aku bahkan tidak peduli tentang hadiah yang dijanjikan. Aku berbalik dan melihat ke arah pintu yang tadi kumasuki. Aku berjalan menuju mobilku dan pulang ke rumah, aku akan mandi ketika sampai di rumah.

Ketika aku berhenti di depan rumahku, aku merasa gelisah. Kegembiraan karena meninggalkan NoEnd House telah memudar dan rasa takut perlahan kembali muncul. Aku terkejut ini adalah sisa dari rumahku, aku berjalan menuju pintu depan. Aku memasuki rumah dan langsung pergi ke kamarku. Aku melihat kucing jantanku yang bernama Baskerville sedang berada di atas tempat tidurku. Dia adalah hewan pertama yang kulihat di sepanjang malam ini dan aku mengelusnya. Dia mendesis dan mencakar tanganku. Aku kemudian mundur karena terkejut, dia tidak pernah bertingkah seperti itu sebelumnya. Aku hanya berpikir, "Apa pun itu, dia adalah kucing lamaku." Kemudian aku langsung mandi dan bersiap untuk menikmati malam tanpa tidur.

Setelah selesai mandi, aku pergi ke dapur, membuat sesuatu untuk dimakan. Aku menuruni tangga dan melihat ke arah ruang keluarga; apa yang kulihat pada saat itu tidak akan pernah terlupakan. Kedua orang tuaku tergeletak di atas lantai, telanjang dan berlumuran darah. Mereka telah dimutilasi dengan keadaan yang sulit untuk diidentifikasikan. Anggota tubuh mereka telah dipotong dan diletakkan di samping tubuh mereka, dan kepala mereka diletakkan di atas dada mereka menghadap ke arahku. Bagian yang paling mengganggu adalah ekspresi mereka. Mereka tersenyum, seolah mereka senang melihatku. Aku muntah dan menangis di sana, aku kemudian berjalan menuju ruang keluarga. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi; mereka bahkan tidak tinggal bersamaku pada saat itu. Aku merasa kacau. Kemudian aku melihatnya: sebuah pintu yang tidak pernah ada sebelumnya. Pintu dengan angka delapan besar yang ditulis dengan darah.

Aku masih berada di rumah itu. Aku sedang berdiri di ruang keluargaku, tetapi ternyata aku berada di ruang ketujuh. Wajah kedua orang tuaku tersenyum dengan semakin lebar ketika aku menyadari hal ini. Mereka bukanlah orang tuaku; mereka tidak mungkin orang tuaku, tetapi mereka tampak persis seperti orang tuaku. Pintu yang ditandai dengan angka delapan berada di seberang ruang keluarga, di belakang tubuh yang dimutilasi di hadapanku. Aku tahu aku harus terus berjalan, tetapi pada saat itu aku menyerah. Wajah yang tersenyum itu merobek pikiranku; mereka membuatku mematung. Aku kembali muntah dan hampir pingsan. Kemudian dengungan itu kembali terdengar. Lebih keras dan memenuhi rumah ini dan menggetarkan dinding. Dengungan itu memaksaku untuk terus berjalan.



Aku mulai berjalan dengan perlahan, membuatku semakin dekat dengan pintu dan tubuh itu. Aku hampir tidak bisa berdiri, apalagi berjalan, dan semakin dekat aku dengan tubuh kedua orang tuaku semakin dekat aku akan bunuh diri. Dinding rumah sekarang bergetar dengan begitu keras seolah akan runtuh, tetapi wajah mereka masih tersenyum padaku. Ketika aku semakin dekat, mata mereka mengikutiku. Aku sekarang berada di antara kedua mayat itu, aku hanya butuh beberapa langkah untuk sampai ke pintu. Kedua tangan mereka yang sudah dipotong mencakar-cakar karpet berusaha untuk mengejarku, sementara wajah mereka terus menatapku. Aku merasa seperti diteror, aku berjalan dengan lebih cepat. Aku tidak ingin mendengar mereka berbicara. Aku tidak ingin suara mereka mirip dengan suara orang tuaku. Mereka mulai membuka mulut dan tangan mereka hanya berjarak beberapa inci dari kakiku. Dalam keputusasaan, aku menerjang ke arah pintu, alhasil pintu terbuka, dan aku membantingnya dengan punggungku. Ruang kedelapan.

Aku berhasil melewati ruang ketujuh. Setelah apa yang baru saja kualami, aku tahu tidak ada hal lain di rumah sialan ini yang bisa dilontarkan lagi. Tidak ada api Neraka yang belum siap kulewati. Sayangnya, aku meremehkan kemampuan NoEnd House. Sayangnya, hal yang terjadi semakin mengganggu, semakin menakutkan, dan semakin memburuk di ruang kedelapan.

Aku masih sulit memercayai apa yang kulihat di ruang kedelapan. Sekali lagi, ruangan ini adalah salinan dari ruang ketiga dan keenam, tetapi kursi yang biasanya kosong sekarang diduduki oleh seorang pria. Setelah beberapa saat tidak percaya, pikiranku akhirnya menerima kenyataan bahwa pria yang duduk di kursi itu adalah diriku sendiri. Bukan seseorang yang mirip denganku; itu adalah David Williams. Aku berjalan mendekatinya. Aku harus melihat tampilan dirinya agar aku yakin bahwa orang itu memang diriku. Dia menengadah kemudian memandangku dan aku melihat matanya berkaca-kaca.

"Kumohon... kumohon, jangan lakukan itu. Kumohon, jangan menyakitiku."

"Apa?" Tanyaku. "Siapa kau? Aku tidak akan menyakitimu."

"Ya, kau akan melakukannya..." Dia mulai menangis sekarang. "Kau akan menyakitiku dan aku tidak ingin kau melakukannya." Dia duduk di atas kursi dengan kaki terangkat dan mulai menggoyang-goyangkan kursi. Sangat menyedihkan untuk dilihat, terutama karena dia adalah diriku sendiri.

"Jawab aku, siapa kau?" Aku sekarang berdiri hanya berjarak beberapa langkah dari kembaranku. Ini adalah pengalaman yang paling aneh, berdiri di sana dan berbicara pada diriku sendiri. Aku tidak takut, tetapi aku akan segera bertanya lagi. "Kenapa kau-"

"Kau akan menyakitiku kau akan menyakitiku jika kau pergi kau akan menyakitiku."

"Kenapa kau berkata seperti itu? Cobalah untuk tetap tenang, ok? Mari kita coba cari tahu tempat apa ini-" Dan kemudian aku melihatnya. David yang sedang duduk di sana mengenakan pakaian yang sama sepertiku, kecuali di bagian dadanya terdapat kain merah yang dijahit di bajunya dalam warna merah yang bertuliskan angka sembilan.

"Kau akan menyakitiku kau akan menyakitiku jangan kumohon kau akan menyakitiku..."

Aku tidak bisa memalingkan mataku dari nomor kecil itu yang berada tepat di dadanya. Aku tahu persis nomor apa itu. Beberapa pintu pertama tampak polos dan sederhana, tetapi setelah lebih dalam letak nomornya teracak. Nomor tujuh ditandai dengan cakaranku pada dinding, tetapi dengan kedua tanganku sendiri. Nomor delapan ditandai dengan darah mayat orang tuaku. Namun nomor sembilan - nomor ini ada pada seseorang, seseorang yang hidup. Hal yang lebih buruk adalah nomor itu ada pada seseorang yang tampak persis sepertiku.

"David?" Aku harus bertanya padanya.

"Ya... kau akan menyakitiku kau akan menyakitiku..." Dia terus menangis dan meronta-ronta.

Dia menjawab David. Dia adalah diriku, benar suaranya juga mirip denganku. Namun angka sembilan itu. Aku melangkah bolak-balik di sekitar ruangan selama beberapa menit sementara dia menangis di kursinya. Ruangan ini tidak memiliki pintu, demikian juga dengan ruang keenam, pintu yang telah kulewati tiba-tiba menghilang. Untuk beberapa alasan, aku berasumsi bahwa mencakar akan membuatku berada di tempat ini sekarang. Aku mengamati dinding dan lantai di sekitar kursi, kemudian aku menempelkan kepalaku pada lantai dan melihat apakah ada sesuatu di bawah sana. Sayangnya, ada. Di bawah kursi terdapat sebilah pisau. Terlampir sebuah tanda yang terbaca, "Untuk David - Dari Manajemen."

Ketika aku membaca tanda itu, aku merasakan ada sesuatu yang jahat. Aku ingin muntah dan hal terakhir yang ingin kulakukan adalah mencabut pisau itu dari bawah kursi. David yang lainnya masih menangis tak terkendali. Pikiranku berputar dari pertanyaan yang tak terjawab. Siapakah yang menempatkan tanda ini di sini dan bagaimana cara mereka mengetahui namaku? Belum lagi kenyataan bahwa ketika aku berlutut di atas lantai kayu yang dingin aku juga duduk di atas kursi itu, menangis protes karena disakiti oleh diriku sendiri. Itu semua terlalu banyak untuk diproses. Rumah ini dan pihak manajemennya telah mempermainkanku sepanjang waktu ini. Pemikiranku untuk beberapa alasan beralih ke Peter dan apakah dia melakukannya sampai sejauh ini. Jika dia melakukannya, apakah dia bertemu dengan seorang Peter Terry yang menangis di kursi ini, yang meronta-ronta... Aku berhenti memikirkan orang lain; mereka tidak peduli padaku. Aku mengambil pisau dari bawah kursi dan seketika David yang lainnya terdiam.

"David," Dia berbicara dengan suaraku, "Apa yang kau pikirkan? Apa yang akan kau lakukan?"

Aku berdiri dan menggenggam pisau.

"Aku akan keluar dari sini."

David masih duduk di kursi, meskipun dia sangat tenang sekarang. Dia menatapku dengan sedikit menyeringai. Aku tidak tahu apakah dia akan tertawa atau mencekikku. Perlahan, dia bangkit dari kursi dan berdiri, menghadap ke arahku. Ini aneh. Tinggi badannya dan bahkan caranya berdiri sama sepertiku. Aku merasakan gagang karet pisau di tanganku dan aku menggenggamnya dengan lebih erat. Aku tidak tahu apa yang kurencanakan dengan pisau ini, tetapi aku punya firasat bahwa aku akan melakukannya.

"Sekarang," Suaranya sedikit lebih mendalam daripada suaraku sendiri. "Aku akan menyakitimu. Aku akan menyakitimu dan aku akan membuatmu tetap berada di sini." Aku tidak merespon. Aku hanya menerjangnya sampai dia terjatuh. Aku telah mengunci dan menatapnya, aku mengarahkan pisau dan bersiap untuk menikamnya. Dia hanya bisa menatapku, dengan ketakutan. Rasanya seolah aku sedang bercermin. Kemudian dengungan itu kembali terdengar, rendah dan jauh, meskipun aku masih merasakannya jauh di dalam tubuhku. David menatapku karena aku menatap diriku sendiri. Suara dengungan itu terdengar semakin keras dan aku merasakan sesuatu dalam diriku membentak. Dengan satu gerakan, aku menikamnya tepat di bagian dada dan aku merobeknya. Kegelapan menyelimuti ruangan dan aku terjatuh.

Kegelapan di sekitarku tidak seperti yang kualami pada saat itu. Ruang keempat begitu gelap, tetapi kegelapan kali ini sepenuhnya menelanku. Aku bahkan tidak yakin jika aku terjatuh setelah beberapa saat. Tubuhku terasa ringan, dan diselimuti kegelapan. Kemudian kesedihan yang mendalam mendatangiku. Aku merasa tersesat, depresi, dan ingin bunuh diri. Sosok kedua orang tuaku memasuki pikiranku. Aku tahu ini tidak nyata, tetapi aku telah melihatnya dan pikiranku kesulitan untuk membedakan apakah nyata atau tidak. Kesedihan hanya semakin mendalam. Aku berada di ruang kesembilan, dan tampak seperti berada selama berhari-hari. Ruang terakhir. Dan aku sedang berada di dalamnya: sudah berakhir. NoEnd House telah berakhir dan aku telah mencapainya. Pada saat itu, aku menyerah. Aku tahu aku akan berada di dalam rumah ini untuk selamanya, tanpa hal apa pun kecuali kegelapan yang abadi. Bahkan dengungan itu sudah tidak terdengar.

Aku telah kehilangan semua kesadaran. Aku tidak bisa merasakan diriku. Aku tidak bisa mendengar apa pun. Aku benar-benar tidak berdaya di sini. Aku mencoba merasakan rasa mulutku dan aku tidak merasakan apa pun. Aku merasa seolah tidak memiliki tubuh dan diriku sepenuhnya tersesat. Aku tahu di mana aku berada. Ini adalah Neraka. Ruang kesembilan adalah Neraka. Kemudian ini terjadi. Aku melihat cahaya. Aku merasa ada tanah yang datang dari bawahku dan aku berdiri. Setelah beberapa saat mengumpulkan pikiran dan akal sehatku, aku perlahan berjalan menuju cahaya itu.

Ketika aku mendekati cahaya itu, cahaya itu membentuk suatu benda. Itu adalah celah vertikal di sisi pintu yang tidak ditandai. Aku perlahan berjalan melewati pintu dan menyadari bahwa diriku kembali di tempat di mana aku memulainya: lobi NoEnd House. Ini persis seperti ketika aku meninggalkannya: masih kosong, masih dihiasi dengan dekorasi Halloween yang kekanak-kanakan. Setelah semua yang terjadi, aku masih waspada. Setelah beberapa saat dari kenormalan, aku mengamati ke sekitar berusaha untuk menemukan sesuatu yang berbeda. Di atas meja resepsionis ada sebuah amplop putih polos dengan namaku yang ditulis dengan tulisan tangan di atasnya. Dengan sangat penasaran, tetapi masih berhati-hati, aku mengumpulkan keberanian untuk membuka amplop. Di dalamnya terdapat sepucuk surat, sekali lagi itu ditulis dengan tulisan tangan.

David Williams,

Selamat! Kau telah berhasil sampai ke ujung NoEnd House! Terimalah hadiah ini sebagai tanda prestasi besar.

Selamanya milikmu,
Manajemen NoEnd House.

Dengan surat itu aku juga mendapatkan lima uang kertas yang bernilai $100.



Aku tidak bisa berhenti tertawa. Aku tertawa cukup lama seolah berjam-jam. Aku tertawa ketika aku berjalan menuju mobilku dan tertawa ketika aku melaju pulang. Aku tertawa ketika memasuki jalan masuk rumahku. Aku tertawa ketika aku membuka pintu rumahku dan tertawa ketika aku melihat angka sepuluh kecil yang terukir di kayu.


Credited to Brian Russell

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki

< Previous        |        Next >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna