Senin, 17 Juli 2017

NoEnd House 2

Sudah tiga minggu berlalu sejak aku berbicara dengan David. Enam bulan yang lalu kami mulai berpacaran, kami pernah tidak berbicara selama tiga hari, dan itu terjadi karena kami berkelahi. Tidak ada yang aneh dengan percakapan terakhir kami, dia hanya mengatakan ingin memeriksa tempat yang diceritakan oleh seorang temannya. Namun kemudian, kemarin malam aku mendapat pesan yang aneh. Pesan itu dari David, tetapi tidak dikirim dari nomornya. Pesan itu hanya terdiri dari lima kata:



“tanpa ujung jangan pergi david”

Kurasa ada yang tidak beres. Setelah aku membaca pesan itu aku merasa mual, seolah-olah aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat. Aku memutuskan untuk bertanya pada Peter, tetapi aku pernah berbicara dengan si bodoh ini sebelumnya. Dia adalah tipe orang yang tidak peduli, tetapi setidaknya mungkin dia punya beberapa informasi tentang tempat itu. Aku memutuskan untuk masuk ke AIM dengan akun milik David, kupikir cara ini akan lebih mudah untuk berbicara dengan Peter jika dia tidak tahu bahwa yang memakai akun David adalah aku. Ketika aku masuk, dia langsung mengirim pesan kepadaku.

“David?! Sial kau telah membuatku khawatir, kupikir kau pergi ke rumah itu.”

“Apa maksudmu?”

“NoEnd House men, tempat yang kuceritakan padamu itu, aku berani bersumpah kau bersikeras untuk pergi ke sana.” NoEnd. Dia sepertinya tahu apa yang sedang terjadi.

“Yah, aku tidak bisa menemukannya. Mungkin aku akan mencobanya lagi besok. Di mana tempat itu sebenarnya? Aku ingin pergi ke sana”

“Mustahil jika kau pergi ke sana, kau telah membuatku khawatir. Persetan dengan tempat itu, aku sudah pernah ke sana dan kau jangan coba-coba untuk pergi ke sana.”

“Peter. Ini Maggie.”

“Apa? Tunggu, di mana David?”

“Aku tidak tahu, kukira kau tahu di mana dia berada tetapi sepertinya tidak.”

“Oh sial. Oh sialsialsialsial.”

“Apa? Cobalah untuk serius Peter, kau harus memberitahuku apa yang sebenarnya sedang terjadi.”

“Kupikir dia pergi ke rumah itu. Rumah itu berada di luar kota, mungkin jaraknya empat mil menuruni Terrence St. Ketika kau menemukan jalan tidak bertanda belok saja ke kanan. Sial, dia ternyata telah pergi ke tempat itu ow men.”

“Tidak, aku tidak kepikiran bahwa dia akan pergi ke sana.”

“Apa yang kau rencanakan?”

“Aku akan membawa David kembali”

Aku pergi menuju rumah itu di malam selanjutnya pada sekitar jam delapan malam. Tidak ada mobil yang melintas selama perjalanan, dan ketika aku berbelok ke jalan tanpa tanda aku melihat sebuah tanda menunjuk ke jalan yang menurun:

NoEnd House ke arah sini
Buka 24jam

Napasku sudah tidak stabil sejak aku meninggalkan rumahku, dan melihat rumah itu sama sekali tidak membantu. Tidak ada mobil lain di sekitar rumah itu, kupikir rumah itu sudah tutup. Cahaya dari teras depan menerangi kawasan sekitar, dan jendela rumah itu menampilkan cahaya yang berasal dari dalam rumah. Aku memarkirkan mobilku dan berjalan ke depan rumah itu, kemudian masuk ke dalam.

Lobi depan tampak cukup normal, tetapi seperti yang kuprediksi, tidak ada orang di sana. Semua lampu menyala. Di samping pintu yang kulewati, ada satu pintu lain. Di samping pintu itu terdapat tanda yang terbaca:

“Kau akan menuju Ruang 1 dengan melalui jalan ini. Terdapat lebih dari delapan ruangan. Capailah ruangan terakhir dan kau menang!

Bukan tulisan itu yang membuat perutku bergejolak. Dan bukan tulisan itu yang membuat jantungku seolah-olah berhenti. Melainkan ada tulisan lagi di bawahnya, yang ditulis dengan tulisan tangan berwarna merah:

Kau tidak akan menyelamatkan dia.

Aku mungkin sudah berdiri di lobi selama satu jam. Aku mematung. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk menyelamatkannya. Apa aku harus memasuki pintu di depanku? Apa aku harus menelepon polisi? Setelah membaca tulisan itu kupikir aku cuma punya sedikit harapan. Aku hanya seorang gadis dengan tinggi rata-rata, dan cukup langsing. Aku tidak ingin melawan si gila yang menyandera David. Aku memutuskan bahwa menelepon polisi adalah cara terbaik yang bisa kulakukan, jadi aku merogoh saku untuk mengeluarkan ponselku dan hendak menelepon polisi. Tidak ada jaringan. Rumah ini pasti memblokir sinyal, dan terlebih lagi dengan letak rumah ini. Aku berjalan menuju pintu masuk, untuk mencari sinyal di luar sana. Aku mencapai gagang pintu dan memutarnya, tidak terbuka. Pintu terkunci. Aku sudah mencoba membuka pintu dan tidak ada hasil. Pintu masuk telah dikunci dari luar. Aku menggedor-gedor pintu dan berteriak memanggil siapa pun yang bisa mendengarku. Aku tahu ini sia-sia, tidak ada orang di tempat ini selain aku. Kemudian aku merasa ada sesuatu di dalam saku yang bergetar. Aku meraih ponsel dari dalam saku dan memandang layar ponselku. Ada satu pesan yang belum dibaca. Pada awalnya aku sangat senang karena bisa mendapatkan sinyal, aku merasa terselamatkan. Mungkin pesan itu dari David yang ingin memberitahuku bahwa dia baik-baik saja. Namun pesan ini dari nomor yang berbeda, nomor ini tidak ada di daftar kontakku. Aku menekan tombol buka, dan aku hampir menjatuhkan ponselku:

“Kau pun tidak akan bisa menyelamatkan dirimu sendiri.”

Tubuhku gemetar. Aku ingin pingsan. Aku terjebak di sini. Aku terjebak dengan ponsel tanpa sinyal, di dalam ruangan tanpa jalan keluar. Mataku mengamati ke sekitar ruangan, dan aku melihat ada pintu di seberang ruangan. Terdapat angka ‘1’ di kotak berwarna emas yang terpasang di bagian depan pintu, tampak seperti pintu kamar di hotel. Jarak menuju pintu seolah-olah cukup jauh ketika aku berjalan mendekat. Beberapa saat kemudian pintu sudah berada tepat di hadapanku, dan aku menyandarkan kepalaku di pintu kayu itu dan kudengar suara yang berasal dari dalam. Semua yang kudengar hanya musik Halloween di kejauhan. Musik instrumental menyeramkan yang akan kau dengar di setiap rumah berhantu. Seketika aku merasa sedikit tenang. David selalu dikenal dengan kejahilannya. Dia pernah bercerita padaku bahwa dia dan teman-temannya akan menjahili para pemain baru di tim sepak bola mereka. Entah bagaimana aku bisa tersenyum di saat seperti ini, dan kubuka pintu di hadapanku tanpa rasa takut.

Memasuki ruang pertama cukup mengurangi rasa takutku. Ruangan ini mirip seperti rumah berhantu, meskipun ada yang kurang. Di setiap sudut ruangan terdapat orang-orangan sawah, tetapi tidak ada yang menakutkan. Orang-orangan sawah yang biasa dipakai di perayaan SD, dengan senyum lebar di wajah mereka. Kulihat hantu yang terbuat dari kertas digantung di langit-langit, dan kipas angin di sudut ruangan menambahkan angin sejuk sehingga mereka berputar. Di samping salah satu orang-orangan sawah ada satu pintu lain. Di bagian depan pintu terdapat kotak yang menempel, mirip dengan pintu pertama, ada angka ‘2’ besar yang tertulis di sana. Aku tertawa dan meninggalkan ruangan lemah ini.

Ketika aku membuka pintu menuju ruang ke-2 aku tidak bisa melihat apa pun yang ada di depanku. Ruangan ini dipenuhi kabut berwarna abu-abu yang baunya seperti karet. Kukira ada beberapa mesin kabut di sini, dan mesin itu pasti telah menyala selama berjam-jam. Tidak ada jendela di ruangan ini, sehingga ventilasi sangat buruk. Perlahan aku berjalan ke depan dan berteriak kecil. Aku menabrak robot Jason Vorhees. Mata yang menyala dalam warna merah dan pisau di tangannya bergerak naik turun seolah-olah hendak menusuk. Jantungku berdetak kencang, dan jika ada seseorang bersamaku aku akan merasa sangat malu. Aku menutup mulutku dan berjalan melewati Robot Jason, kabut semakin banyak. Aku mulai merasa pusing ketika menemukan pintu menuju ruang ke-3. Aku menggenggam gagang pintu dan segera melepaskan, aku berteriak. Gagang pintu terasa sangat panas. Aku menempelkan tangan di pintu dan terasa sangat hangat. Aku tidak bisa mendengar suara dari sisi lain pintu, aku menempelkan telingaku terhadap kayu yang hangat berharap bisa mendengar suara api, dan aku tetap tidak mendengar suara. Aku berasumsi bahwa pintu hanya terasa hangat, mungkin mereka memompa panas pintu seperti di ruangan terakhir di Mr Toad's Wild Ride di Disneyland. Aku meraih ujung gaunku dan membungkus tanganku, kemudian memutar gagang pintu secepat yang kubisa dan masuk ke Ruang 3. Tidak ada api di ruangan ini. Hanya kegelapan pekat, dan udara dingin. Ruang ke-3 tidak seperti ruangan lain. Sama sekali tidak.

Pada saat itu, aku tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Aku mencoba untuk melihat sesuatu di ruangan ini, tetapi aku bahkan tidak bisa melihat tanganku sendiri, aku meraba-raba mencari gagang pintu di belakangku, yang entah bagaimana sekarang menghilang begitu saja. Aku terperangkap di kegelapan, aku terus berputar karena tidak bisa melihat. Kemudian sebuah lampu di langit-langit menyala. Cahaya lampu secara langsung terarah ke bawah, menyinari sebuah meja kecil, dan di atas meja kecil itu terdapat sebuah senter. Meskipun aku tidak bisa melihat di mana aku berada, aku akan berjalan ke depan, cahaya di langit-langit sudah cukup bagiku untuk berjalan menuju meja. Ketika aku meraih senter aku melihat ada tanda kecil yang menempel di gagangnya:

Untuk Maggie – Dari Manajemen

Ketika aku selesai membaca tanda itu, tiba-tiba lampu mati, dan aku kembali berada di kegelapan pekat. Aku meraba-raba senter selama sesaat sebelum aku bisa menyalakannya. Dari segala arah, terdengar dengungan rendah yang mengepungku. Jantungku berdetak kencang dan aku mulai berputar di tempat, membiarkan cahaya senter menyinari sekitarku. Tidak ada apa pun di ruangan ini, tetapi setelah beberapa saat aku melihat sesuatu yang mengerikan. Bisa saja itu hanya imajinasiku, tetapi aku bisa melihat sosok yang melintas dengan cepat dari kejauhan pada detik terakhir ketika cahaya senter menyorotnya. Aku mulai panik. Aku melangkah mundur dari meja kecil, dengan tidak yakin ke arah mana aku mundur. Dengungan terdengar semakin keras, dan kemudian aku mulai merasakan kehadiran sosok yang menghindari cahaya senterku. Tanganku gemetar karena panik terhadap cahaya senter yang menyinari apa pun itu. Dia selalu berada di sana, hampir melarikan diri kembali ke dalam kegelapan. Namun dia semakin dekat. Mataku mulai dipenuhi genangan air mata. Kupikir aku akan menjatuhkan senter di tanganku karena aku gemetaran, sampai aku melihatnya. Cahaya senterku secara langsung terarah ke angka ‘4’ yang kecil. Angka itu ditulis di atas selembar kertas dan ditempelkan di pintu kayu. Aku berlari. Aku berlari secepat yang kubisa dengan senter yang diarahkan secara langsung ke pintu di hadapanku. Aku bisa merasakan sesuatu di belakangku. Dengungan terdengar semakin keras dan kupikir aku merasakan napas di leherku. Aku berlari dengan sangat cepat, hanya beberapa kaki lagi untuk sampai. Dalam satu gerakan aku meraih gagang pintu, memutar dan membantingnya hingga tertutup ketika pintu sudah di belakangku. Aku sekarang berada di ruang keempat.

Aku berada di luar. Aku tidak lagi berada di dalam rumah itu. Apa yang menungguku setelah membuka pintu ruang ke-4 sepertinya adalah gua. Aku menunduk, dan menyadari ada sesuatu yang aneh dan mengganggu. Aku tidak berdiri di tanah atau batu, melainkan papan kayu. Lantai yang sama seperti di ruang-ruang tadi. Ini adalah ruang ke-4. Entah bagaimana aku masih berada di dalam rumah itu. Ada beberapa obor di sisi batu yang mengelilingiku, dan gua ini gelap gulita. Tampak seolah-olah obor bisa diambil, jadi aku berjalan ke salah satu yang terdekat dan mengambilnya. Tubuhku dipenuhi keringat, dan perlahan aku berjalan memasuki gua. Dengungan sudah tak terdengar, berharap semua akan membaik. Suara yang terdengar di dalam gua ini, hanya hembusan angin. Gua ini sangat panjang, dan aku merasa telah berjalan di dalam gua ini selama berjam-jam, sampai aku melihat cahaya biru dari kejauhan. Aku berjalan menuju cahaya itu. Cahaya itu ada di ujung terowongan ini. Aku mulai berjalan lebih cepat, aku selalu benci dengan ruangan sempit seperti gua dan terowongan. Jalan keluar dari gua ini hanya tinggal beberapa kaki, kukira itu adalah ujung dari gua ini. Dan kemudian, aku mencapai ujung gua ini. Hanya ada tebing curam, dan tidak ada jalan lain. Aku melihat kembali ke gua yang gelap di belakangku. Tidak ada yang berubah. Aku berbalik dan melihat ke bawah tebing. Apa yang kulihat membuat perutku mual. Semua yang kulihat adalah air, tidak ada yang lain. Ketinggian tebing ini pasti seratus kaki, dengan formasi batu kecil di bagian bawahnya. Setelah beberapa detik mengamati bebatuan, perutku terasa semakin sakit, dan tubuhku berkeringat. Bebatuan itu membentuk sebuah angka. Yaitu angka ‘5’.

Aku berdiri dan mundur dari pinggir tebing. Aku benci ketinggian. Aku dihentikan oleh dinding yang seharusnya tidak ada. Aku berbalik dan bertemu dengan pemandangan yang mengerikan. Gua telah hilang. Aku berhadapan dengan dinding batu yang kokoh, apakah ini sisi gunung? Aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku masih berada di dalam NoEnd House. Aku belum pergi meninggalkan rumah itu. Jelas ini bukan gunung asli. Namun ini terasa sangat nyata. Aku berbalik dan melihat ke jurang lagi. Tidak ada jalan. Rumah ini kacau. Demi Tuhan aku sudah berada di luar. Namun apa yang diharapkan rumah ini padaku sekarang sudah di luar batas. Aku tahu apa maksud bebatuan di bawah sana. Itu adalah pintu masuk menuju ruang ke-5. Tidak ada tangga untuk ke bawah, tidak ada jalan lain yang bisa digunakan. Aku terperangkap lagi. Rumah ini ingin aku melompat. Rumah ini ingin aku melompat. Aku menjatuhkan diri di tanah dan meringkuk seperti bola. Aku tidak bisa melakukannya. Tidak mungkin bagiku untuk melompat dari tebing yang di bawahnya terdapat formasi batu bergerigi dan menantiku dengan jarak seratus kaki. Pikiranku terbelah dua. Aku tahu bahwa aku masih berada di dalam, tetapi lingkungan di sekitarku berteriak di telingaku yang berkebalikan. Aku berbaring di atas lantai kayu selama beberapa saat, pada saat itu aku telah kehilangan semua konsep waktu. Setelah apa yang terasa seperti sudah seminggu akhirnya aku berdiri. Aku berjalan dengan perlahan menuju tepi tebing dan melihat ke bawah. Angka ‘5’ yang besar ini mengejekku untuk melompat. Dia tahu bahwa aku tidak bisa melakukannya dan dia mengejekku. Kemudian dengungan kembali terdengar, pelan dan jauh. Sepertinya berasal dari dalam gunung. Aku tidak tahu apa yang merasukiku, tetapi setelah mendengar suara itu, sesuatu di dalam diriku menyala. Aku memejamkan mata, dan melompat.



Angin berhembus kencang ketika aku terjatuh, dan kekuatan yang mendalam menyelimutiku. Aku akan mati. Aku akan menabrak bebatuan itu dan mati. Bebatuan itu akan merobek tubuhku dan aku akan mati. Aku tidak berani membuka mata, aku akan terjatuh. Bahkan dengan angin yang berhembus kencang di sekitarku, sekarang dengungan itu menulikan telingaku. Aku hanya ingin semua ini berakhir. Aku hanya ingin semua ini berakhir, aku hanya ingin menghantam bebatuan itu dan aku ingin semua ini berakhir-

Dan kemudian aku berhenti. Aku tidak terjatuh lagi, tetapi aku tidak menghantam bebatuan itu. Aku membuka mata dan melihat ke sekeliling. Aku berdiri di panel kayu rumah yang cukup familiar. Dengungan sudah tak terdengar, dan tempat ini hening. Aku berhasil. Aku sudah berada di ruang ke-5. Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tetapi aku sudah berada di ruang ke-5. Perasaan takut telah hilang, aku hanya merasa sangat senang karena masih hidup. Setelah beberapa saat menenangkan diri, aku memutuskan untuk mengamati ruangan ini. Kesenanganku dengan cepat memudar. Ruangan ini kosong. Dinding ruangan ini sama seperti lantainya, dan langit-langit ruangan ini juga sama seperti dinding dan dinding ruangan ini tidak memiliki pintu ataupun jendela. Aku berada di dalam sebuah kotak tertutup. Kemudian aku sadar bahwa aku tidak berhasil. Aku tidak aman. Aku telah berhasil keluar dari ruang keempat, tetapi hanya untuk memasuki ruang ke-5, dan tidak ada cara untuk meninggalkan ruangan ini.

Pada saat itu aku bertanya-tanya apakah David berada di dalam ruangan ini. Aku bertanya-tanya apakah dia telah melompat dari tebing dengan ketinggian seratus kaki dan akhirnya terjebak di dalam ruangan ini. Dan jika dia melakukannya, itu artinya dia sudah keluar. Dia tidak berada di sini, aku sendirian. Dia sudah keluar, dan aku akan keluar juga. Memikirkan David yang bisa keluar dari ruangan ini memberikanku kepercayaan diri yang baru, dan angin yang berhembus menyemangatiku. Aku akan keluar dari ruangan ini, menemukan David, dan kami akan keluar dari neraka ini. Aku berjalan di pinggir dinding dan mencoba merasakan sesuatu. Tidak ada. Dinding yang sempurna, hampir tidak ada goresan pada setiap dinding apalagi pintu keluar rahasia. Aku mulai mengetuk dinding secara acak. Dinding yang keras. Kepercayaan diri mulai meninggalkanku. Aku kehabisan ide. Dan saat itulah dia berbicara padaku.

“Maggie. Kau seharusnya tidak datang ke sini, Maggie.”

Aku terkejut. Aku masih menghadap dinding, dan suara itu datang dari tengah ruangan. Suara itu berasal dari seorang gadis kecil, setidaknya seperti itulah yang terdengar, perlahan aku berbalik, dan mataku berhadapan dengannya. Aku benar, ada seorang gadis kecil berambut pirang, usianya tidak lebih dari tujuh tahun dengan mata biru muda dan gaun panjang berwarna putih. Dia tersenyum padaku dan berbicara lagi.

“Namun karena kau sudah di sini, ayo kita mainkan suatu permainan.”

Ada sesuatu yang mengerikan dari gadis kecil itu. Dia tidak menakutkan seperti gadis-gadis di film horor Jepang. Dia tampak sepenuhnya normal. Jika aku melihatnya berjalan aku hanya akan berjalan juga. Namun jika menatap matanya, aku merasa sepenuhnya diteror. Melompat dari tebing memang menakutkan, tetapi aku akan melompati dua puluh tebing yang lebih tinggi jika artinya aku bisa mengambil kembali waktu satu menit dari menatap mata tanpa jiwa dari gadis kecil itu. Setelah beberapa saat menatap matanya, aku akhirnya berbicara.

“Permainan apa? Siapa kau?” gumamku.

“Jika kau kalah, kau mati.”

“Jika aku menang?”

“Dia yang mati.”

Hatiku terasa seperti ditusuk. Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar, tetapi aku tahu dia mengatakan yang sebenarnya.

“Apa pilihanmu?” Dia tersenyum.

“Tidak ada.” Aku tidak tahu di mana aku menemukan keberanian ini untuk berbicara kembali kepada anak iblis ini, tetapi aku sudah datang sejauh ini hanya untuk membiarkan David mati. Dan jika aku mati, semua ini akan sia-sia. Tidak, aku memilih tidak. Namun kemudian aku melihatnya. Alasan kenapa gadis kecil itu membuatku takut. Dia lebih dari sekadar anak kecil. Ketika aku menatapnya, aku juga melihat apa yang tampak seperti seorang pria bertubuh besar, yang tubuhnya berbulu, dengan kepala kambing jantan. Itu adalah pemandangan yang mengerikan. Aku tidak bisa melihat salah satu dari mereka tanpa melihat yang lainnya. Gadis kecil itu berdiri di hadapanku, tetapi aku tahu wujud asli gadis itu. Ini adalah pemandangan paling buruk yang pernah kulihat.

“Sayang sekali.” Dan dia menghilang bersama kalimat itu. Aku sendirian lagi, di dalam ruang kosong dan sunyi. Hanya saja kali ini ada sesuatu yang ditambahkan. Ada sebuah meja kecil di mana gadis itu berdiri yang muncul entah dari mana, seolah-olah sudah ada di sini sepanjang waktu. Ada sesuatu di atasnya, tetapi aku tidak tahu dari mana. Aku berjalan ke meja dan menatap benda kecil itu. Itu adalah sebilah pisau kecil, sejenis exacto pisau. Aku mengulurkan tangan dan kemudian aku berteriak. Ketika tanganku hendak mengambilnya, aku melihat sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Ada sesuatu yang dicap ke dalam kulitku, yaitu angka 6. Aku menatap kembali ke pisau dan melihat ada tanda yang menempel di benda itu:

Untuk Maggie – Dari Manajemen
*Saya pikir Anda mungkin membutuhkan benda ini*

Setelah membaca catatan itu, aku mulai menangis tak terkendali. Air mata mengalir di wajahku dengan deras. Aku tidak pernah menangis seperti ini dan aku tidak berpikir aku akan melakukannya lagi. Aku terjatuh dan kepalaku membentur lantai kayu yang keras. Aku menangis selama berjam-jam, hanya terbaring di sana, di atas lantai. Dan kemudian aku berhenti menangis dan napasku sudah teratur. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku menangis. Ini bukan tentang David, ini bahkan bukan tentang bagaimana aku terjebak di sini. Masih tidak ada pintu di ruangan ini, aku masih terperangkap di ruangan ini. Namun aku tidak tahu kenapa aku menangis. Mungkin aku sedang depresi. Sepenuhnya depresi dan tanpa emosi. Aku merasa kosong, dan setelah itu aku mencakar lantai dan menenangkan diriku, kemudian berdiri menghadap meja. Mataku tertuju pada pisau, dan aku mengambilnya. Aku akan membunuh diriku sendiri. Aku tidak bisa menanganinya lagi. Aku harus melakukannya. David mungkin akan mati. Aku terperangkap di sini. Ini sudah berakhir. Aku menancapkan pisau itu terhadap pergelangan tanganku, tepat di atas angka 6 yang muncul di kulitku. Aku kembali menangis, dan hanya berdiri di sana, menangis dengan pisau yang ditancapkan ke pergelangan tanganku. David sudah mati, aku hampir mati. Tidak ada yang berarti lagi, dan dengan satu luka sayatan, aku mengiris pergelangan tanganku.

Segera setelah aku menancapkan pisau ke pergelangan tanganku, aku sudah tidak berada di dalam ruang ke-5 lagi. Aku tidak mati, aku tahu itu pasti. Depresi yang kurasakan hilang, tetapi bukan berarti aku merasa senang. Air mata masih mengalir di wajahku. Aku berada di ruangan yang mirip dengan ruangan sebelumnya, dan lagi, tidak ada pintu. Tidak ada lampu di langit-langit, tetapi entah bagaimana aku masih bisa melihat dengan jelas. Ruangan ini kosong, tetapi sebelum aku sempat berpikir apa yang harus kulakukan, ruangan ini menjadi gelap, dan dengungan kembali terdengar. Aku menutup telinga dengan rasa protes, dengungan terdengar lebih keras dari yang sebelumnya pernah kudengar. Namun dalam sekejap, ruangan ini kembali terang, hanya saja kali ini ada sesuatu yang ditambahkan ke ruangan ini. Dan kemudian aku berteriak. Ada seseorang di tengah ruangan, yang digantung dengan rantai dan telanjang dari pinggang sampai kepala, dan itu adalah David. Dia tampak sedang disiksa, ada luka sayatan pisau di dada dan lengannya.

“DAVID!” Aku berlari menghampirinya secepat yang kubisa. Dia kemudian tersadar, aku melihat dadanya bergerak naik dan turun, tetapi dia tidak berbicara. Dan saat itulah aku melihat apa yang terukir di dadanya. Aku berlutut ketika melihatnya. Angka 7 menatapku seolah-olah angka itu adalah mata.

Aku mendengar David berusaha untuk berbicara, dan aku menaikkan lututku dan aku mendekatinya sehingga aku bisa mendengar apa yang ingin dia katakan.

“David! David, bisakah kau mendengarku?!”

“Maggie… apa yang kau… apa yang kau lakukan di sini?” Suaranya sedikit mulai terdengar, dia bisa berbicara dan aku bersyukur.

“David, aku sedang berusaha untuk menyelamatkanmu. Apa yang harus kulakukan agar kau turun?” Ada gembok besar pada rantai yang menggantungnya. Aku melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari kunci gembok itu, tetapi yang kutemukan adalah sebilah pisau kecil di salah satu sudut ruangan. Logam gembok itu terlalu tebal untuk pisau yang bahkan bentuknya penyok, jadi aku mengabaikannya karena pisau itu tidak bisa digunakan. Aku kembali menghampiri David, dia tampak berada di ambang kematian, dan kemudian aku merasa kantongku bergetar. Ini adalah sesuatu yang buruk dan cukup mengejutkan, aku mengambil ponsel. Seperti yang kuduga, ada satu pesan yang belum dibaca. Aku membuka pesan itu dan membacanya:

“Orang itu bukan aku.”

Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan. David berada tepat di hadapanku, tetapi pesan itu dari nomor pertama yang menghubungiku. Nomor itu seperti nomor di pesan yang pertama kali kuterima dari David yang menyebutkan NoEnd House.

“Maggie…” Aku mendengar suaranya dengan cukup jelas di telinga dan pikiranku. Seolah-olah, suara yang kudengar berasal dari segala penjuru. “Maggie… Kau harus pergi.”

“Apa maksudmu? Bagaimana caranya?” Aku berhadapan dengan David, atau siapa pun itu yang dirantai di ruangan ini.

“Pisau itu…” dia membuat sedikit gerakan dari kepalanya ke arah sudut itu. “Pergi dan ambil pisau itu.” Aku berlari dan segera kembali dengan pisau di kepalan tanganku hanya dalam hitungan beberapa detik. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi aku harus menyelamatkannya dan aku akan melakukan apa-

“Sekarang tusuk dadaku.”

“…apa?” Aku terkejut. David tergantung di sana, menatap langsung ke mataku.

“Kau harus menancapkan pisau itu di angka tujuh yang terukir di dadaku. Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kita berdua.”

“Tidak…” Aku terhuyung mundur. “Tidak, kata-katamu tidak masuk akal.”

“Maggie!” Dia berteriak sekarang, matanya terlihat panik. Sisi mulutnya melengkung menjadi senyum menyeringai aneh. “Maggie, tusuk aku sekarang, ini adalah satu-satunya cara!” Aku menatap pisau di tanganku, kepalaku terasa seolah-olah dipukul dengan tongkat. Aku putus asa. Aku menutup rapat kedua mataku dan mencengkram pisau di tanganku.

“MAGGIE!” Dan bersama teriakkan itu, aku mendorong pisau di tanganku ke arah David tepat di dadanya. Aku tidak tahu apa yang merasukiku, aku tahu ini adalah satu-satunya cara. Aku membuka mataku dan melihat wajahnya. Dia ketakutan. Air mata mengalir di pipinya dan David menatapku.

“Kenapa… kau melakukan… ini…?”

Dia tidak bisa menipuku. Aku tahu dia bukan David. Jika dia adalah David, aku tidak akan mampu menikamnya. Aku tahu itu bukan dia aku tahu itu bukan dia. Bola matanya berputar sebagai tanda bahwa dia sudah tak bernyawa, tetapi ketika bola matanya berubah. Angka tujuh di tubuhnya menghilang, darahnya menetes ke lantai dan menjadi kolam tepat di mana aku berdiri. Cairan merah itu semakin membentang ke segala arah, hampir memenuhi ruangan, dan aku mulai tenggelam. Aku berusaha untuk bergerak tetapi aku tidak bisa. Rasanya seperti ditelan pasir hisap. Darah sudah sampai di lututku sekarang. Ketika aku berusaha untuk berontak aku hanya semakin tenggelam lebih dalam. Darah sudah sampai di dadaku sekarang. Aku mencakar-cakar kayu di sekitarku. Tubuh tak bernyawa David yang tergantung, menghadap ke arahku, sambil tersenyum. Darah mulai mencapai leherku. Aku sungguh ketakutan. Aku tenggelam, dan terjatuh ke dalam kegelapan.

Ketika aku terbangun, aku berada di luar rumah itu. Aku bisa merasakan tanah yang dingin di bawahku. Aku berguling telentang dan menatap langit malam. NoEnd House menjulang tepat di hadapanku, lengkap dengan mobilku yang terparkir. Aku tidak yakin apakah aku harus tertawa atau menangis. Aku sudah berada di luar. Aku sudah berada di luar aku sudah berada di luar aku sudah berada di luar. Aku berdiri dan membersihkan tanah dari celanaku. Tubuhku masih gemetaran ketika aku berjalan ke mobil, tetapi perasaan gelisah menyelimutiku. Tidak ada cara untuk membuatku melarikan diri. Rumah itu tidak akan membiarkanku pergi. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku tahu itu. Aku tahu aku tidak membunuh David di ruang keenam. Aku tahu aku tidak membunuhnya. Namun dia tidak bisa ditemukan di mana pun. Aku memasukkan tanganku ke dalam kantong dan mengeluarkan ponsel. Tidak ada pesan yang belum dibaca. Namun aku mendapatkan sinyal. Aku membuka menu pesan di ponselku dan aku mulai mengetikkan pesan kepada David.

“Di mana kau?” Aku menulis kalimat itu di ponselku. Dalam hitungan detik ketika aku mengirimkan pesan itu, aku mendapatkan balasan. Aku menekan tombol buka dengan penuh semangat.



“Ruang ke-10, dan kau sedang berada di ruang ke-7, larilah!” Dan dengungan kembali menulikan telingaku.

Aku berlari secepat mungkin. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi, tetapi aku tahu aku tidak berada di luar. Aku masih berada di dalam rumah itu. Dengungan menggetarkan segala di sekitarku. Termasuk angin yang mengguncang pepohonan. Aku hanya harus menemukan angka 8. Aku harus menemukan ruang selanjutnya. Itu adalah satu-satunya kesempatanku. Aku harus menemukan ruang ke-8. Beberapa ruangan pertama memang tampak sangat jelas, tetapi ketika aku menjelajahi lebih dalam, ruangan semakin sulit untuk dilalui, entah di mana ruangan dimulai dan berakhir. Aku tidak tahu di mana aku harus mencari, yang penting aku harus menemukan sesuatu yang memiliki nomor 8 di atasnya. Aku harus menemukan sesuatu yang memiliki angka 8 aku harus menemukan sesuatu yang memiliki angka 8 aku harus menemukan-

Ada pesan yang belum dibaca:

“alamatmu”

Apa maksudnya? Alamatku? Aku memasukkan ponselku kembali ke dalam kantongku, dengungan terdengar semakin keras dan lebih keras. Dan saat itulah aku tertekan. Alamatku. Alamatku. Alamatku. Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin.

4896 Forest ln.
Unit #8

Aku berlari ke mobil dan membuka pintunya, kemudian aku masuk ke dalam. Dengungan menggetarkan mobil dan tampaknya dengungan juga mengikutiku sampai ke dalam. Aku kebingungan dan berjalan kembali menyusuri jalan menuju apartemenku.

Ini tidak masuk akal. Bagaimana bisa ruang ke-8 adalah apartemenku? Haruskah aku percaya dengan pesan itu? Pesan itu dari David. Aku tahu itu. Tidak ada alasan untuk tidak percaya. Ini tidak akan memakan waktu yang panjang untuk sampai ke kompleks apartemenku, dan sejujurnya aku bahkan tidak ingat bahwa aku sedang mengemudi. Rasanya seperti ketika kau sedang tertidur sejenak dan terbangun di tengah jalan. Akhirnya aku sampai. Aku bahkan tidak mengunci mobilku ketika berlari menuju gerbang depan. Tanganku meraba-raba kunci ketika aku berusaha untuk membuka pintu yang terkunci secepat mungkin dan aku membuka pintu gerbang kemudian masuk menyusuri lorong pertama yang berada di sebelah kiri. Kompleks apartemenku cukup besar, tetapi apartemenku berada di urutan yang pertama di salah satu apartemen-apartemen yang berada di sebelah kiri. Aku berlari secepat yang kubisa, melewati unit 4, melewati unit 5. Aku merasa pusing, malam yang cukup merepotkan. Aku melewati unit 6. Semakin jauh aku menyusuri lorong, dengungan itu juga terdengar semakin jauh. Ketika aku melewati unit 7 aku hampir tidak bisa mendengar apa pun lagi. Dan ketika aku berhenti di depan unit apartemenku, aku sepenuhnya terdiam. Aku hanya berdiri di sana, berdiri di depan apartemenku. Angka ‘8’ kecil yang berwarna emas berada tepat di depan mataku. Aku meraih gagang pintu dan perlahan memasukkan kunci pintu ke dalam lubang kunci, kemudian aku memutar gagang pintu, pintu apartemenku terbuka dan aku masuk ke dalam seperti tersedot pembersih debu, pintu di belakangku terbanting menutup.

Ruang ke-8. Aku bangkit dari lantai dan melihat ke sekeliling. Ruangan ini sangat mirip dengan apartemenku. Jika aku tidak berpikir dengan lebih baik, aku akan mengira bahwa aku sudah pulang dan bahwa semua ini hanya mimpi buruk. Pikiranku beralih ke David, dan bertanya-tanya apakah dia juga berada di ruang ke-8, apakah rumah ini akan memperlihatkan sosok dirinya. Aku berjalan ke sekeliling dan mengamati ruangan ini. Segalanya tampak persis seperti keadaan bagaimana aku meninggalkan apartemenku, sisa makanan China yang kutinggalkan di sebelah wastafel masih berada di sana. Aku melihat ke arah meja komputerku yang berada di ruang keluarga. Monitornya masih menyala, dan AIM masih aktif. Aku berjalan dan duduk di depan komputer, kemudian membaca percakapanku dengan Peter. Percakapan masih sama, kata demi kata. Rumah ini tahu segalanya, dan ini tidak terpikirkan olehku. Sejujurnya, aku berusaha untuk tidak memikirkannya, jawabannya tidak diragukan lagi, ada sesuatu yang lebih baik untuk tidak diketahui. Aku mencoba untuk mengklik tombol keluar dari AIM tetapi hal ini tidak membiarkanku. Komputer sama sekali tidak merespon. Aku mengklik tombol matikan. Tidak terjadi apa pun. Aku menekan tombol ctrl-alt-del. Tidak terjadi apa pun. Aku menekan tombol power monitor. Tidak terjadi apa pun. Dan kemudian pop-up muncul di layar. Itu adalah obrolan video. Aku melihat daftar orang di dalamnya, dan ada dua nama. Maggie, dan Manajemen. Umpan video secara langsung, dan semua yang diperlihatkan oleh video itu adalah dinding abu-abu. Kemudian pesan dari Manajemen muncul di dalam kotak teks.

“Semua yang diharapkan adalah bagaimana caramu meninggalkannya :)”

“Siapa kau?” Jawabku.

“Nikmatilah pertunjukannya :)” Dan saat itulah rekaman di kamera berubah. Kamera terfokus pada seorang pemuda yang diikat di meja bedah. Dia sepenuhnya telanjang dan menangis. Gambar tidak begitu jelas, tetapi kupikir aku mengenal pria yang terbaring di sana. Dia tinggi, berambut cokelat pendek, dan kulit yang cukup pucat.

“Ini adalah apa yang terjadi ketika ada orang yang mencoba untuk berbuat curang :)”

Saat itulah aku menyadari siapa orang itu. Seseorang yang diikat di meja bedah adalah Peter Terry. Dan dia tidak sendirian.

Aku tidak ingin menjelaskan apa yang kusaksikan pada saat itu. Jeritan itu, suara yang dibuat Peter tidak seperti suara yang pernah kudengar dari manusia. Aku tidak bisa berpaling dari pemandangan itu. Aku ingin berpaling dari pemandangan itu, tetapi kupikir ini adalah kekuatan dari ruangan ini, aku tidak bisa berpaling dari pemandangan itu. Peter mengeluarkan satu jiwa terakhir dari jeritan yang kental, tetapi aku tidak mendengar jeritan itu melalui speaker komputer, jeritan itu berasal dari kamarku. Hatiku tenggelam ketika aku berbalik ke arah lorong. Aku bangun dari kursi, dan masih bisa mendengar jeritan itu ketika aku berjalan menuju sumbernya. Aku mencapai pintu kamar tidurku dan jeritan itu sekarang digantikan oleh dengungan. Dengungan itu. Itu telah menghantuiku sepanjang waktu. Perlahan aku membuka pintu, dan melihat ke dalam kamarku kemudian apa yang kulihat persis seperti yang ada di layar komputer. Terdapat meja bedah di sana, dengan sisa tubuh Peter Terry yang berserakan di atasnya. Tidak ada orang lain di sana. Orang lain yang berada di ruangan ini telah menghilang, tetapi aku merasakan hawa dingin yang naik ke tulang punggungku. Manajemen rumah ini berada di sini bersamaku, di sisi lain dari kejauhan ruangan ini. Aku berjalan mendekati meja, bau busuk yang mengerikan, dan itu membutuhkan waktu untuk menghentikanku dari rasa ingin muntah. Aku tahu aku sudah mendekati akhir. Aku harus mengakhiri ini. Aku melihat ke sekeliling ruangan. Di suatu tempat di sini terdapat pintu masuk menuju ruang selanjutnya. Aku tahu itu pasti. Dan pintu itu berada di sekitar sini. Namun itu lebih sederhana dari yang diharapkan. Di seberang ruangan, adalah di mana pintu kamar mandiku berada, yang seharusnya menggunakan pintu kayu sederhana, tetapi pintu itu mirip dengan salah satu pintu-pintu di awal Rumah itu. Ada sesuatu yang dilampirkan di pintu, sesuatu yang panjang, dan berdarah. Itu adalah isi perut Peter Terry, dan isi perutnya membentuk angka 9.

Kurasa ini buruk untuk Peter, tetapi aku sudah melewati neraka pada malam itu. Aku berjalan melewati meja, kemudian mengambil sebilah pisau bedah yang panjang dan tidak mengambil sedetik pun untuk memandangi mayat Peter. Pintu terakhir berada di sana, dan aku berjalan menuju pintu itu. Malam ini hampir berakhir, dan aku akan keluar dari ruangan ini bersama David, aku akan menghentikan siapa pun yang membuatnya tetap berada di sini. Pintu terbuka dengan mudahnya, dan ketika aku melangkah masuk aku melihat apa yang sedang menungguku. Ini adalah ruang kosong, ruangan ini mirip seperti ruang tunggu di rumah sakit. Ada beberapa kursi yang bersandar di dinding dan majalah lama di dalam keranjang yang berada di sudut. Di seberang ruangan dari tempat di mana aku datang, terdapat satu pintu. Hatiku tenggelam ketika membaca label yang berada di kayu itu. Itu bukan sebuah angka. Itu adalah suatu kata.

MANAJEMEN

Aku mengepalkan pisau bedah di tanganku.

“Baiklah, aku harus mengakhiri hal-hal sialan ini.”

Mereka berada di sisi lain pintu. Aku bisa merasakannya. Dan juga David. Dengungan terdengar lebih keras dari yang sebelumnya. Aku bisa merasakannya di dalam diriku. Itu berasal dari dalam diriku. Ketika aku berjalan menuju pintu, dengungan terdengar semakin keras, dan ketika aku meletakkan tanganku di pintu aku bisa merasakan ruangan itu dipenuhi dengan suara. Aku memutar gagang pintu dan membukanya. Ruangan yang menungguku tidak seperti apa yang kuharapkan. Itu adalah lobi depan. Lobi depan yang sama yang memulai seluruh neraka ini. Hanya saja kali ini, ada seseorang di belakang meja. Jantungku berdetak kencang ketika aku melihat siapa orang itu. Itu adalah Peter Terry.

“Halo Maggie.”

“Peter?” Bukan, itu tidak mungkin dia. “Bagaimana bisa? Siapa kau?”

“Kau kira aku ini siapa? Hantu? Setan? Gadis kecil berambut pirang yang menyeramkan?” Dia tersenyum. Dan aku sama sekali tidak tersenyum.

“Apa yang terjadi di sini?”

“Maggie. Ayolah. Berpikirlah selama dua detik. Siapa yang pertama kali menceritakan pada David tentang tempat ini?”

“Kau… tidak…”

“Siapa yang memberitahumu tentang keberadaan David di sini?”

“Terkutuklah kau Peter, kau adalah temannya!”

“Aku minta maaf Maggie, tetapi seperti itulah bagaimana cara kami menjalankan bisnis di sini.”

“Di mana dia? DI MANA DIA?!”

“Dia di sini bersama kami, dia di dalam Rumah itu, Maggie. Dia tidak akan berhasil, dan begitu juga dengan dirimu.” Aku tidak tahu apa yang mengambil alih diriku, tetapi aku tidak bisa menahan diri. Aku melompat ke atas meja dan mendorong Peter ke lantai. Aku mencengkeram rambutnya dan membanting kepalanya ke lantai, pisau bedah di tanganku yang lain tertancap tepat di lehernya. Aku ingin membunuhnya. Aku harus membunuhnya. Dia telah membunuh David. Namun dia tidak membunuhku.

“Maggie, kau tidak bisa melakukan ini terhadapku. Aku harus selalu menghidupkan Rumah ini.”



“Tidak.” Aku menikam lehernya dengan pisau dan membanting kepalanya lebih keras ke lantai. “Kupikir tidak akan ada lagi yang bisa menghidupkan rumah ini.” Dengan kematiannya, tiba-tiba ruangan menjadi gelap. Aku masih bisa merasakan pisau bedah di tanganku, tetapi aku tidak lagi memegangi rambut Peter. Aku tidak tahu sampai kapan aku berada di dalam kegelapan, tetapi terasa sangat lama. Aku berdiri dan meraba-raba meja, berusaha menyeimbangkan diriku dengan satu tangan di atas permukaan marmer. Kemudian lampu menyala. Aku bisa melihat jendela di seberang ruangan, ini masih malam. Aku melihat ke luar jendela dan melihatnya. David sedang berjalan di luar, dia tampak tidak mengalami luka. Aku berlari menuju pintu dan mencoba untuk membukanya. Aku merasa sangat senang. Namun pintu tidak mau terbuka. Aku berusaha sekuat tenaga, tetapi pintu ini tidak membiarkanku keluar. Aku melihat ke luar jendela dan melihat David ketika dia mulai berjalan menyusuri jalan. Aku menyandarkan kepala terhadap pintu dan melihatnya. Perutku terasa mual. Terdapat tanda nama yang ditempelkan di dadaku, dengan sepatah kata:

MANAJEMEN


Credited to Brian Russell

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki

< Previous        |        Next >