Sabtu, 01 Juli 2017

Mr. Widemouth


Selama masa kecilku, keluargaku tidak pernah tinggal di satu tempat dalam waktu yang lama. Kami pindah ke Rhode Island ketika aku masih berusia delapan tahun, dan kami menetap di sana sampai aku pergi ke perguruan tinggi di Colorado Springs. Kebanyakan dari kenanganku yang berharga adalah ketika aku masih tinggal di Rhode Island, tetapi ada beberapa kenangan di otakku yang masih bisa kuingat termasuk berbagai rumah yang pernah kami singgah ketika aku masih kecil.



Kebanyakan dari kenangan lainnya tidak jelas dan tidak berarti– seperti mengejar anak laki-laki lain di halaman belakang rumah yang berada di Carolina Utara, mencoba membuat rakit yang bisa mengapung di atas muara sungai yang berada di belakang apartemen yang kami sewa di Pennsylvania, dan kenangan-kenangan lainnya. Namun ada satu kenangan yang masih bisa kuingat dengan jelas seperti kaca, seolah-olah kenangan itu baru saja terjadi kemarin. Sering kali aku bertanya-tanya, apakah ingatan dari kenangan ini hanya mimpi yang terasa begitu nyata karena aku sedang sakit pada musim semi itu, tetapi di dalam hatiku, aku tahu itu benar-benar nyata.

Kami tinggal di sebuah rumah di luar kota metropolis yang ramai di New Vineyard, Maine. Rumah yang kami beli cukup besar, terutama untuk satu keluarga. Terdapat satu dari beberapa kamar yang tidak pernah kulihat selama lima bulan ketika kami tinggal di sana. Dengan kata lain kami membeli rumah yang kelebihan kamar, tetapi pada saat itu, itu adalah satu-satunya rumah yang berada di dekat pasar, setidaknya hanya membutuhkan waktu satu jam untuk pergi ke tempat ayahku bekerja.

Sehari setelah ulang tahunku yang kelima (yang hanya dihadiri oleh kedua orang tuaku sendiri), aku demam. Dokter berkata bahwa aku mengidap mononukleosis, yang berarti aku tidak boleh bermain terlalu lelah dan demam yang sedang kualami akan memakan waktu setidaknya lebih dari tiga minggu. Itu adalah waktu yang mengerikan untuk hanya terbaring di atas tempat tidur karena kami sedang mengemasi barang-barang kami untuk pindah ke Pennsylvania, dan semua barang-barangku sudah dikemas di dalam kotak, sehingga membuat kamarku menjadi kosong. Ibuku membawakanku minuman jahe dan buku beberapa kali sehari, dan ini berguna untuk menjadi hiburanku selama beberapa minggu ke depan. Kebosanan ini selalu membuatku sengsara.

Aku tidak begitu ingat bagaimana aku bisa bertemu dengan Mr. Widemouth. Kupikir pertemuan itu terjadi sekitar seminggu setelah aku didiagnosis mengidap mononukleosis. Ingatan pertamaku dari makhluk kecil itu adalah bertanya padanya apakah dia mempunyai nama. Dia mengatakan untuk memanggilnya Mr. Widemouth, karena mulutnya yang besar. Pada kenyataannya, segala tentang dia juga mempunyai besar yang sama dengan ukuran tubuhnya– kepalanya, matanya, telinganya yang melengkung– tetapi mulutnya adalah yang paling besar.

“Kau terlihat seperti sejenis Furby,” kataku ketika dia membalik halaman salah satu buku.

Mr. Widemouth berhenti dan menatapku dengan kebingungan. “Furby? Apa itu Furby?” dia bertanya padaku.

Aku mengangkat bahu. “Kau tahu… itu adalah mainan. Robot kecil dengan telinga besar. Kau bisa memelihara dan memberi makan mereka, hampir seperti hewan peliharaan sungguhan.”

“Oh.” Mr. Widemouth melanjutkan aktivitasnya. “Kau tidak harus mempunyai salah satu dari mereka. Mereka tidak sama seperti mempunyai seorang teman yang nyata.”

Aku ingat Mr. Widemouth menghilang setiap kali ibuku datang untuk memeriksa keadaanku. “Aku berbaring di bawah tempat tidurmu,” dia kemudian menjelaskannya. “Aku tidak ingin orang tuamu melihatku karena aku takut mereka tidak akan membiarkan kita bermain lagi.”

Kami tidak melakukan banyak hal selama beberapa hari pertama. Mr. Widemouth hanya melihat buku-buku milikku, tertarik dengan cerita dan gambar-gambar di dalam buku. Pada pagi ketiga atau keempat setelah aku bertemu dengannya, dia menyapaku dengan senyum lebar di wajahnya. “Aku punya permainan baru yang bisa kita mainkan,” katanya. “Kita harus menunggu setelah ibumu datang dan selesai memeriksamu, karena itu adalah waktu yang tepat sehingga dia tidak akan melihat kita memainkan permainan ini. Ini adalah permainan rahasia.”

Setelah ibuku membawakan lebih banyak buku dan soda seperti biasanya, Mr. Widemouth menyelinap keluar dari bawah tempat tidur dan menarik tanganku. “Kita harus pergi ke ruangan di ujung lorong ini,” katanya. Aku merasa keberatan pada awalnya, karena orang tuaku melarangku untuk meninggalkan tempat tidurku tanpa izin dari mereka, tetapi Mr. Widemouth tetap bersikeras mengajakku ke ruangan itu sampai aku menyerah.

Di dalam ruangan itu tidak ada barang ataupun kertas dinding. Sesuatu yang berbeda hanya jendela di seberang pintu. Mr. Widemouth berlari dengan cepat menuju seberang ruangan dan mendorong jendela dengan keras, sampai jendela terbuka. Dia kemudian memberi isyarat padaku untuk melihat tanah di luar jendela.

Kami berada di lantai dua rumah ini, tetapi di luar sana tampak bahwa kami berada di atas bukit, dan mustahil rasanya untuk turun dari sudut ini karena lebih tinggi dari lantai dua. “Aku suka memainkan permainan berpura-pura di atas sini,” Mr. Widemouth menjelaskan. “Aku berpura-pura bahwa ada trampolin lembut yang besar di bawah jendela ini, dan aku melompat. Jika kau berpura-pura dengan cukup baik, maka kau akan memantul seperti bulu. Aku ingin kau mencobanya.”

Aku hanya seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang sedang demam, jadi hanya ada isyarat dari rasa curiga yang melesat melalui pikiranku ketika aku melihat ke bawah dan mempertimbangkan kemungkinan apa yang akan terjadi. “Ini akan menjadi penurunan yang cukup panjang,” kataku.

“Tapi itu adalah bagian dari kesenangannya. Tidak akan menyenangkan jika jaraknya dekat. Jika jaraknya sedekat itu kau mungkin hanya akan memantul di trampolin seperti biasanya.”

Aku dipermainkan oleh pemikirannya, membayangkan diriku yang terjatuh melalui udara tipis hanya untuk memantul kembali ke jendela di atas sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia. Tapi kenyataannya aku tidak melihat apa pun. “Mungkin lain kali,” kataku. “Aku tidak tahu apakah aku punya imajinasi yang cukup. Aku bisa terluka.”

Wajah Mr. Widemouth berubah menjadi geram, tetapi hanya sesaat. Kemarahannya berubah menjadi kekecewaan. “Baiklah jika kau berkata seperti itu,” katanya. Dia menghabiskan sisa hari itu di bawah tempat tidurku, terdiam seperti seekor tikus.

Keesokan paginya Mr. Widemouth datang sambil memegang kotak kecil. “Aku ingin mengajarimu cara melakukan sulap,” katanya. “Di sini ada beberapa benda yang bisa kau gunakan untuk berlatih, sebelum aku mulai memberimu pelajarannya.”

Aku melihat ke dalam kotak itu. Kotak itu dipenuhi dengan pisau. “Orang tuaku akan membunuhku!” teriakku, takut bahwa Mr. Widemouth membawa pisau-pisau ini ke dalam kamarku– benda yang dilarang oleh orang tuaku untuk kusentuh. “Aku akan ditampar dan dilarang keluar kamar selama setahun!”

Mr. Widemouth mengerutkan dahi. “Sangat menyenangkan untuk melakukan sulap dengan benda-benda ini. Aku ingin kau mencobanya.”

Aku mendorong kotak itu. “Aku tidak bisa. Aku akan mendapat masalah. Pisau tidak aman untuk dilempar-lempar ke udara.”

Kerutan dahi Mr. Widemouth yang mendalam berubah menjadi cemberut. Dia mengambil kotak pisau itu dan masuk ke bawah tempat tidurku, terus di sana selama sisa hari itu. Aku mulai bertanya-tanya seberapa sering dia berada di bawah tempat tidurku.

Aku mulai kesulitan tidur setelah itu. Mr. Widemouth sering membangunkanku di malam hari, berkata bahwa dia sudah menempatkan trampolin yang nyata di bawah jendela, trampolin yang besar, yang tidak bisa kulihat di dalam kegelapan. Aku selalu menolak dan mencoba untuk kembali tidur, tetapi Mr. Widemouth selalu bersikeras untuk membuatku melompat. Terkadang dia tetap berada di sampingku sampai pagi, menyuruhku untuk melompat.

Dia tidak menyenangkan untuk diajak bermain lagi.

Ibuku mendatangiku di suatu pagi dan mengatakan bahwa aku diizinkan untuk berjalan-jalan di luar. Dia pikir udara segar akan baik untukku, terutama setelah dikurung di dalam kamarku untuk waktu yang cukup lama. Aku merasa sangat senang, aku memakai sepatu dan berlari keluar ke teras belakang, merasa rindu dengan sinar matahari di wajahku.

Mr. Widemouth menungguku. “Aku punya sesuatu, aku ingin kau melihatnya,” kata dia. Aku memberikan ekspresi wajah yang tampak kebingungan, karena kemudian dia mengatakan, “Ini aman, aku janji.”

Aku mengikutinya menuju jejak yang mengarah ke hutan di belakang rumah. “Ini adalah jalan yang penting,” dia menjelaskan. “Aku sudah mempunyai banyak teman yang kira-kira seusia denganmu. Ketika mereka sudah siap, aku membawa mereka menempuh jalan ini, menuju tempat yang istimewa. Kau sekarang belum siap, tetapi suatu hari nanti, kuharap aku bisa membawamu ke sana.”

Aku kembali ke rumah, bertanya-tanya tempat seperti apa yang berada di ujung jejak-jejak itu.

Dua minggu setelah aku bertemu dengan Mr. Widemouth, barang terakhir kami sudah dikemas ke dalam truk. Aku akan berada di tempat duduk truk, duduk di samping ayahku selama perjalanan yang panjang ke Pennsylvania. Aku mempertimbangkan untuk tidak memberi tahu Mr. Widemouth bahwa aku akan pergi, tetapi bahkan di saat aku berusia lima tahun, aku mulai curiga bahwa mungkin niat makhluk itu tidak menguntungkanku, meskipun apa yang dia katakan adalah yang sebaliknya. Untuk alasan ini, aku memutuskan untuk tetap pergi dan merahasiakan darinya.

Ayahku dan aku sudah berada di dalam truk pada pukul 4 pagi. Dia berharap perjalanan ke Pennyslvania akan sampai pada jam makan siang besok dengan bantuan persediaan kopi dan enam kaleng minuman energi. Dia lebih terlihat seperti seorang pria yang akan lari maraton dibandingkan dengan seseorang yang akan duduk dengan tenang selama dua hari.

“Bukankah ini terlalu pagi untukmu, apa kau yakin?” dia bertanya padaku.

Aku mengangguk dan menyandarkan kepalaku terhadap jendela, berharap mendapatkan tidur yang cukup sebelum matahari terbit. Aku merasakan tangan ayahku di atas bahuku. “Ini adalah terakhir kalinya kita pindah, putraku, ayah janji. Aku tahu ini sulit untukmu, terlebih lagi dengan sakit yang kau derita. Setelah ayah mendapatkan promosi pekerjaan, kita bisa menetap dengan waktu yang cukup lama dan kau bisa mendapatkan banyak teman.”

Aku membuka mata ketika kami mundur dari jalan masuk mobil. Aku melihat siluet Mr. Widemouth di jendela kamarku. Dia berdiri seperti patung sampai truk hendak berbelok ke jalan utama. Dia melambaikan tangan sebagai ucapan selamat tinggal dengan ekspresi menyedihkan, dengan pisau di tangannya. Aku tidak membalas lambaian tangannya.



Bertahun-tahun kemudian, aku kembali ke New Vineyard. Sebidang tanah di atas rumah kami sekarang kosong, sepertinya rumah itu telah terbakar beberapa tahun setelah keluargaku meninggalkan rumah itu. Karena penasaran, aku mengikuti jejak yang Mr. Widemouth tunjukkan padaku. Bagian dalam diriku mengharapkan dia akan melompat keluar dari balik pohon dan menakut-nakutiku, tetapi kurasa Mr. Widemouth sudah pergi, entah bagaimana bisa dia terikat dengan rumah yang sekarang sudah tidak ada lagi.

Jejak itu berakhir di Pemakaman yang bernama New Vineyard Memorial Cemetery.

Aku melihat bahwa kebanyakan tanggal lahir dan tanggal kematian yang terukir di batu nisan itu adalah anak-anak.




Credited to perfectcircle35

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki