Senin, 10 Juli 2017

Laughing Jack


Saat itu adalah hari yang indah di musim panas, putraku James yang berusia 5 tahun sedang bermain di halaman belakang rumah kami yang berada di pinggiran kota. James adalah anak pendiam, dia selalu bermain sendirian, dia tidak pernah punya banyak teman, namun dia selalu mempunyai imajinasi liar. Aku sedang berada di dapur dan memberi makan anjing kami yang bernama Fido, ketika aku mendengar James berbicara dengan seseorang di halaman belakang. Aku tidak tahu siapa yang berbicara dengannya, mungkinkah dia akhirnya mendapatkan seorang teman? Menjadi seorang janda sulit bagiku untuk selalu mengawasi putraku, jadi aku memutuskan untuk pergi ke luar dan memeriksanya.



Ketika aku sampai di halaman belakang aku merasa sedikit bingung, karena James adalah satu-satunya orang di sana. Apakah dia berbicara sendiri? Aku bersumpah bahwa aku mendengar suara lain. “James! Sudah waktunya untuk masuk ke dalam.” Panggilku padanya. Dia masuk ke dalam dan duduk di meja dapur, saat itu sudah waktunya untuk makan siang jadi aku memutuskan untuk membuat sandwich kalkun. “James. Siapa yang berbicara denganmu di luar sana?” tanyaku. James menengadah selama beberapa saat, “Aku sedang bermain dengan teman baruku,” katanya sambil tersenyum. Aku menuangkan segelas susu untuknya dan terus bertanya, karena setiap ibu yang baik pasti akan melakukan itu. “Siapa nama temanmu? Kenapa kau tidak mengajaknya untuk makan siang bersama kita?” tanyaku. James menatapku selama beberapa saat sebelum dia menjawab, “Namanya adalah Laughing Jack.” Aku sedikit bingung dengan apa yang dikatakannya. “Oh? Itu nama yang aneh. Apa ciri-ciri temanmu?”. “Dia adalah seorang badut. Dia berambut panjang dan mempunyai hidung bulat kerucut yang besar. Lengannya panjang dan celana longgar, dengan kaus kaki bergaris, dan dia selalu tersenyum.” Aku menyadari bahwa putraku sedang membicarakan tentang seorang teman khayalan. Kukira ini normal untuk anak-anak seusianya, terutama karena dia tidak mempunyai teman yang nyata untuk bermain dengannya. Ini mungkin hanya tahap perkembangan anak.

Sisa hari berlalu seperti biasa, dan hari sudah mulai larut, jadi aku menempatkan James ke tempat tidur lalu memberinya ciuman, aku memastikan untuk menyalakan lampu malam sebelum aku menutup pintu. Aku cukup lelah, jadi aku memutuskan untuk pergi ke tempat tidur dan tidak lama setelah itu aku tertidur. Aku mengalami mimpi buruk yang mengerikan…

Segalanya tampak gelap. Aku berada di lingkungan kumuh di taman hiburan. Aku takut, aku berlari melalui lapangan tak berujung di tenda kosong, dan pondok permainan yang ditinggalkan. Seluruh tempat tampak mengerikan. Segalanya berwarna hitam dan putih, aku melihat ada banyak boneka hewan tergantung, mereka tersenyum menyeramkan dengan jahitan di wajah. Rasanya seperti seluruh taman menatapku, meskipun tidak ada makhluk hidup lain yang tampak. Seketika, aku mulai mendengar suara musik yang dimainkan. Suara musik Pop Goes the Weasel yang dimainkan di squeezebox bergema melalui taman, suara itu seolah-olah menghipnotisku. Aku mengikuti lagu itu menuju tenda sirkus seolah-olah aku kesurupan, dan tidak mampu menghentikan langkah kaki yang bergerak maju. Segalanya tampak gelap gulita, satu-satunya pencerahan adalah cahaya dari lampu sorot tunggal yang bersinar di tengah tenda utama di dalam sirkus. Ketika aku berjalan menuju cahaya itu musik mulai melambat, aku menyadari bahwa diriku sedang bernyanyi dan tidak bisa berhenti.

“All around the mulberry bush

The monkey chased the weasel

The monkey though twas all in fun…”

Musik berhenti tepat sebelum klimaksnya, dan tiba-tiba lampu menyorotku. Intensitas cahaya menyilaukan, semua yang bisa kulihat adalah bayangan hitam gelap kecil bergerak ke arahku. Kemudian bayangan itu semakin bertambah, lagi, lagi, dan lagi. Ada sekitar puluhan dari jumlah mereka, dan mereka semua menuju ke arahku. Aku tidak bisa bergerak, seolah-olah kakiku membeku, semua yang bisa kulakukan hanya menyaksikan mereka semakin dekat. Ketika mereka semakin dekat denganku, aku bisa melihatnya… MEREKA ADALAH ANAK-ANAK! Ketika aku menatap setiap dari mereka, aku melihat bahwa mereka semua tampak mengerikan dan tubuh mereka dimutilasi. Beberapa mendapati luka di seluruh tubuh, dibakar, dan kehilangan anggota tubuhnya, bahkan matanya! Anak-anak itu menyerbuku, mencakar dagingku, menyeretku, dan mencabik-cabik diriku. Ketika anak-anak itu mencabik-cabik diriku, semua yang bisa kudengar adalah suara tertawa mengerikan.

Aku terbangun di keesokan harinya dengan keringat dingin. Setelah mengambil napas dalam-dalam aku menoleh dan melihat beberapa action figure milik James berada di atas rak diposisikan menghadap ke arahku. Aku menghela napas, James mungkin sudah bangun lebih awal dan menempatkan mainannya di sini. Aku mengumpulkan mainan-mainan itu dan berjalan ke kamar James, namun ketika aku membuka pintu kamar James, dia masih tidur. Aku hanya mengangkat bahu dan menempatkan mainan-mainannya kembali ke dalam kotak mainan, aku berjalan ke ruang tamu. Beberapa saat kemudian James terbangun dan aku membuatkan sarapan. Dia cukup tenang dan tampak sedikit grogi, mungkin dia tidak tidur dengan nyenyak. Aku memutuskan untuk bertanya tentang mainan-mainan miliknya, “James sayang, apakah kamu yang menempatkan mainan-mainan itu di kamar mama pagi ini?” Matanya memandangku selama beberapa saat kemudian dan dengan cepat melirik kembali ke serealnya, dia berkata “Laughing Jack yang melakukannya.” Aku memutar mataku dan meresponsnya, “Baiklah, kamu harus memberitahu 'Laughing Jack' untuk menjaga mainan milikmu tetap berada di kamarmu.” James mengangguk dan menghabiskan sarapan, kemudian dia memutuskan untuk pergi bermain di halaman belakang.

Aku bersantai di ruang tamu dan aku tertidur, aku terbangun beberapa jam kemudian. “Sial! Aku harus memeriksa James.” Aku sedikit cemas, sudah lebih dari 2 jam dan aku belum memeriksanya. Aku pergi ke halaman belakang, namun James tidak ada. Aku mulai cemas jadi aku memanggilnya, “JAMES! JAMES DI MANA KAMU?!” Aku mendengar suara tertawa yang berasal dari halaman depan. Aku bergegas melewati pintu pagar dan ke depan rumah. James duduk di trotoar. Aku menghela napas lega dan berjalan menghampirinya, “James berapa kali mama katakan untuk tetap di halaman bela… James, apa yang kamu makan?” James menatapku kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan tangan yang dipenuhi dengan permen warna-warni. Ini membuatku sangat cemas, “James, siapa yang memberikanmu permen-permen itu?” James hanya menatapku tanpa mengatakan sepatah kata. “JAMES! Tolonglah, beritahu mama di mana kamu mendapatkan permen-permen itu.” James menundukkan kepala dan berkata “Laughing Jack yang memberiku permen.” Hatiku tenggelam, aku berlutut dan menatap matanya, “James mama sudah muak dengan Laughing Jack sialan itu, DIA TIDAK NYATA! Sekarang adalah situasi yang sangat serius dan mama harus tahu siapa yang memberikanmu permen-permen ini!” Aku bisa melihat mata putraku berkaca-kaca, “Tapi mama, Laughing Jack-LAH yang memberiku permen-permen ini.” Aku memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam, James tidak pernah berbohong padaku namun apa yang dia katakan mustahil. Aku menyuruhnya untuk melepehkan permen-permen itu dan aku membuang sisanya, James tampak baik-baik saja. Mungkin aku hanya berlebihan, dia bisa mendapatkan permen-permen itu dari Tom dan Linda tetangga sebelah, atau Tn. Walker di seberang jalan. Baik aku harus menjaga mataku pada James. Malam itu aku menempatkan James ke tempat tidur seperti biasa, dan memutuskan untuk tidur lebih awal.

Tiba-tiba aku dibangunkan oleh suara keras dari dapur. Aku dengan cepat bangun dari tempat tidur dan bergegas menuruni tangga. Ketika aku sampai di dapur aku merasa takut. Semua benda di dapur tergeletak di lantai, dan anjing kami Fido mati tergantung di lampu gantung. Perutnya robek dan diisi dengan permen, sama seperti yang dimakan James sebelumnya. Aku dengan cepat dikejutkan oleh jeritan tajam yang datang dari kamar James diikuti suara keras benda jatuh. Aku dengan cepat meraih pisau dari dalam laci dan menaiki tangga dengan cepat seolah-olah aku adalah ibu yang anaknya berada dalam bahaya. Aku mendobrak pintu dan menyalakan lampu. Segala yang ada di kamar terjatuh di lantai, anakku yang malang sedang berada di tempat tidurnya, menangis dan gemetar ketakutan. Aku membawa putraku, berlari keluar dari rumah, pergi ke rumah Tom dan Linda, untungnya mereka masih belum tidur. Mereka mengizinkanku menggunakan telepon dan aku menelepon polisi. Tidak lama setelah itu polisi tiba, dan aku menjelaskan apa yang terjadi, mereka menatapku seolah-olah aku gila. Mereka kemudian memeriksa rumahku, namun semua yang mereka temukan adalah anjing dalam keadaan mati dan 2 kamar berantakan. Petugas mengatakan bahwa seseorang mungkin telah masuk ke dalam rumah dan melakukan semua ini sebelum melarikan diri ketika dia mendengarku menaiki tangga. Aku tahu itu tidak benar. Semua pintu sudah dikunci dan tidak ada jendela yang terbuka, siapa pun itu dia tidak datang dari luar.

Keesokan harinya James tetap di dalam rumah, aku tidak akan membiarkannya lepas dari pandanganku. Aku pergi ke garasi dan menemukan monitor bayi lama milik James dan memasangnya di kamar James, jika ada seseorang yang masuk ke kamarnya malam ini, aku akan mendengarnya. Aku pergi ke dapur dan mengambil sebilah pisau besar dari dalam laci dan menaruhnya di atas meja. Teman khayalan atau bukan, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti putraku.

Malam pun tiba. Aku menempatkan James ke tempat tidur, dan dia merasa takut, namun aku berjanji bahwa aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya. Aku menyelimutinya, memberinya ciuman, dan menyalakan lampu malam. Sebelum menutup pintu aku berbisik “Selamat malam James, mama menyayangimu.”

Aku berusaha untuk tetap terjaga selama yang kubisa, namun setelah beberapa jam aku tidak sanggup menahan ngantuk. Putra kesayanganku akan aman malam ini dan aku bisa tidur. Kepalaku bersandar di bantal dan aku mendengar suara lembut dari monitor bayi yang ditempatkan di atas mejaku. Pada awalnya suara itu terdengar seperti suara radio. Kemudian suara itu berubah menjadi erangan lembut. Apakah James sudah tidur? Kemudian aku mendengarnya, suara tertawa dari mimpi burukku, suara tertawa yang mengerikan. Aku dengan cepat bangun dari tempat tidur dan mengambil pisau dari bawah bantal. Aku bergegas ke kamar James dan mendobrak pintu hingga terbuka. Aku menyalakan lampu namun lampu tidak menyala. Aku melangkah masuk dan aku bisa merasakan cairan kental yang hangat di kakiku. Tiba-tiba lampu malam James menyala dan aku bisa melihat kengerian mutlak yang berada di depanku.

Tubuh James dipaku di dinding, paku menusuk di tangan dan kaki. Dadanya robek terbuka lebar dan organ-organ tubuhnya berserakan di lantai. Mata, lidah dan beberapa giginya sudah tidak ada. Aku merasa jijik, aku hampir tidak bisa percaya bahwa itu adalah putra kesayanganku. Kemudian aku mendengarnya lagi, erangan putus asa yang lembut. JAMES MASIH HIDUP! Putra kesayanganku, putraku yang malang, dengan begitu banyak rasa sakit yang dia rasakan dia berpegang teguh untuk tetap hidup. Aku berlari ke seberang kamar dan muntah di lantai, aku terganggu oleh suara tertawa kecil mengerikan yang datang dari belakangku. Aku berbalik ketika aku masih menyeka cairan empedu dari dalam mulutku, lalu keluarlah dari bayang-bayang dan muncul sosok iblis yang bertanggung jawab untuk semua kengerian ini, Laughing Jack. Kulit putih pucat dan rambut hitam kusut yang menjuntai ke bahu. Mata putih yang menusuk dengan lingkaran hitam gelap di sekitar matanya. Senyum gilanya memperlihatkan deretan gigi bergerigi yang tajam, dan kulitnya tidak tampak seperti kulit sama sekali, hampir seperti karet atau plastik. Dia memakai pakaian belang-belang, hitam dan putih, pakaian badut dengan lengan dan kaus kaki bergaris. Tubuhnya sendiri pun aneh sekali, lengannya yang panjang menggantung ke bawah melewati pinggang dan caranya menyeimbangkan tubuh membuat dirinya tampak hampir seperti tidak mempunyai tulang, seperti boneka kain. Dia tertawa menjijikkan seolah-olah memberitahuku atas kesenangan yang dia rasakan terhadap reaksiku karena itu adalah 'perbuatannya'. Kemudian dia berbalik, perlahan menuju James dan mulai tertawa bahkan lebih pada pemandangan mengerikan yang telah dia rencanakan. Itu sudah cukup untuk mengguncangku dari terornya, aku membentaknya, “MENJAUHLAH DARINYA DASAR KAU BAJINGAN!” Aku berlari menuju monster itu dan mengangkat pisau lebih tinggi di atas kepalaku, dan menikamnya, namun segera setelah pisau itu menyentuhnya dia menghilang dalam asap hitam. Pisau itu dengan tepat melewatinya dan menusuk James yang jantungnya masih berdetak, darah hangat muncrat tepat di wajahku….

Tidak… apa yang sudah kulakukan? Anakku, aku membunuh anakku! Aku seketika berlutut, dan aku bisa mendengar sirene di kejauhan semakin keras… Putraku, putra kesayanganku… Mama berjanji akan melindungimu… Namun mama gagal… Mama minta maaf James… Mama minta maaf…


Polisi tiba dan menemukanku berada di depan putraku, masih memegang pisau berlumuran darah anak tercintaku. Pemeriksaan berjalan secara singkat, dan aku diduga menderita penyakit jiwa. Aku ditempatkan di Phiropoulos House tempat untuk para Penjahat Gila, aku sudah berada di sana selama 2 bulan terakhir. Tidak buruk, satu-satunya alasan aku terjaga sekarang ini adalah karena seseorang memainkan lagu Pop Goes the Weasel di luar jendelaku… Aku akan memberitahu perawat tentang ini di esok pagi…

Original Author: SnuffBomb

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Index

< Previous        |        Next >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna