Rabu, 12 Juli 2017

KageKao


Mark menghela napas dan memandangi langit malam. Dia berdiri di atas atap bangunan apartemennya. Terkadang Mark hanya suka berdiri di atas sana dan melihat pemandangan, suasana di atas sungguh tenang dan damai. Jika melihat ke bawah kau bisa melihat keramaian yang normal dan kesibukan dari kehidupan kota, tetapi jika kau melihat ke atas maka kau bisa melihat langit yang indah, dan bahkan terkadang kau bisa melihat bulan purnama atau bintang-bintang.



Mark berjalan di sepanjang perbatasan atap yang membantu menjaga dirinya agar tidak mati akibat terjatuh. Sudah cukup larut sehingga dia harus segera kembali ke kamar apartemennya. Kemudian dia melihat ada sesuatu yang melayang tertiup angin dengan jarak beberapa meter. Mark berjalan ke benda itu dan mengambilnya, itu adalah surat kabar hari ini, dan dia mulai membaca halaman depan:

"SEORANG PEMUDA DITEMUKAN TEWAS DI DEKAT HUTAN".

Kemarin, John Parker, pemuda yang berusia 20 tahun, ditemukan tewas di dekat hutan utara. Keluarganya mengatakan bahwa dia tidak pernah punya musuh yang nyata, tetapi dia sedikit perusuh. Mereka masih tidak tahu siapa yang menginginkan dirinya mati. Kematiannya tampak disebabkan karena kehabisan darah. Luka-luka di tubuhnya tampak seperti luka yang disebabkan oleh serangan hewan buas, tetapi setelah itu mereka menduga bahwa luka-luka itu bukan disebabkan oleh hewan karena mereka melihat seperti ada simbol yang terukir di dahi pria itu. Simbol itu adalah –

Mark meletakkan surat kabar itu ke bawah di mana dia menemukannya; dia tidak ingin artikel seperti itu merusak malamnya. Dia berjalan di sepanjang perbatasan dengan merentangkan tangan, sambil memandangi langit. Dua puluh tahun, masih sangat muda. Dia merasa kasihan pada anak itu, usia Mark sendiri hampir tiga puluh tahun. Dia memikirkan tentang bagaimana lelaki itu bisa kehilangan nyawanya. Mark mencoba untuk berhenti memikirkan; dia tidak ingin mengalami depresi karena memikirkan hal seperti itu.

Tanpa disadari, tangan Mark menambrak sebuah kotak kardus kosong yang berada di pinggir atap. Dia mencoba untuk menangkap kotak itu tetapi sudah terlambat; kotak itu jatuh ke jalan. Ini aneh, dia tidak melihat satu mobil yang melintas; jalanan benar-benar sepi, hanya ada satu orang yang berjalan di sepanjang trotoar.

“Hei! Awas!” teriaknya, tetapi sudah terlambat. Kotak itu jatuh tepat di atas kepala orang itu; baik setidaknya itu hanya sebuah kotak kardus kosong. Mark kemudian berteriak ke bawah meminta maaf kepada orang itu, apa yang terjadi selanjutnya membuat dia mematung. Orang yang berada di trotoar itu menatapnya, dia mengenakan hoodie hitam dan syal bergaris hitam dan putih. Tentu saja bukan itu yang membuat dia mematung, orang itu juga memakai topeng yang aneh; setengah berwarna hitam pekat dan setengahnya lagi berwarna putih terang.

Dia hendak mengeluarkan suara dan berniat untuk berteriak meminta maaf lagi; mungkin pria ini baru saja pulang dari suatu pesta aneh; ketika dia hendak berteriak, sekali lagi dia dibekukan oleh apa yang terlihat. Pria itu mengatakan sesuatu yang tidak bisa Mark dengar, dan kemudian melompat ke dinding. Dia mulai memanjat di sisi bangunan dengan gaya mirip seperti laba-laba atau cicak. Mark hanya mematung, dengan mulut ternganga, dia mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya dia lihat. Pria aneh, bukan, tetapi monster! Kemudian apa yang dia lihat berhasil mencapai puncak bangunan dan berjongkok di pinggir perbatasan. Mark sekarang melihat bagaimana sosok di hadapannya bisa memanjat bangunan itu dengan sangat mudah; dia mengenakan sarung tangan berwarna putih, tetapi ada sesuatu yang panjang di sana, berwarna hitam, itu terlihat seperti cakar kucing yang membentang di setiap ujung jari melalui sarung tangan yang dia pakai. Mark melihat bahwa topeng yang dipakai oleh sosok itu membentuk wajah, tetapi hanya membentuk setengah wajah. Di sisi putih topeng itu ada bentuk mata yang terlihat marah dan mulut yang membentuk senyuman.

Mark dan monster itu hanya saling menatap. Ini terjadi selama beberapa detik tetapi bagi Mark terasa seperti kekekalan. Kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Topeng monster itu berubah, mulutnya terlihat seperti mulut seseorang yang marah dan matanya menghilang dan di sisi hitam topeng itu muncul satu mata yang terlihat senang dan senyuman aneh.

Monster itu memiringkan kepalanya dan berkata:

“遊びたいか?” (Apa kau ingin bermain?)

Mark berteriak dan berlari ke pintu kecil yang mengarah ke dalam bangunan. Dia berdoa agar monster itu tidak mengikutinya. Dia berhasil mencapai pintu dan membukanya, dengan cepat dia masuk ke dalam, dan menutup pintu itu dengan cara membanting. Dia bersandar di pintu sambil terengah-engah.

Setelah beberapa saat dia bertanya-tanya dalam hati apakah monster itu masih berada di sana, dan kenapa dia tidak mencoba untuk membuka pintu. Mark tidak tahu apa yang monster itu katakan, tetapi ada sesuatu yang aneh dengan cara dia mengatakannya. Dia tampak bahagia dan senang, tetapi dia juga terlihat marah dan jahat. Mark mengumpulkan keberanian dan memutuskan untuk membuka pintu. Dia mulai menempatkan salah satu tangannya di gagang pintu, dia mengambil napas dalam-dalam dan perlahan membuka pintu; bersiap untuk melihat apakah gerangan itu masih di sana.

Mark berharap bahwa dirinya bisa berhadapan dengan si topeng aneh itu lagi. Kemudian dia melihat bahwa monster itu masih berada di tempat di mana dia meninggalkannya, monster itu sedang duduk di pinggir atap sambil memberinya senyuman aneh dan senyuman itu terlihat sedikit jahat.

Monster itu mengatakan suatu kalimat lagi:

“遊びたいか, おまえ?ケケケ!私はあなたがあそびしたい!” (Apa kau ingin bermain?

kekeke! - tertawa!* aku ingin kau bermain!)

Mark kembali membanting pintu. Dia duduk di lantai. Dia tidak menyukai cara monster itu mengatakan kalimat-kalimat itu pada dirinya. Dia hanya duduk selama beberapa saat, mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Baik, itu sangat larut; mungkin dia sudah tertidur di atap dan mengalami mimpi buruk. Dia memutuskan untuk memeriksanya lagi.

Mark berdiri dan perlahan membuka pintu. Bagian dari dirinya mengatakan bahwa monster itu masih berada di tempat yang sama, dan mengatakan kalimat yang sama; bagian yang lainnya mengatakan pada bahwa monster itu berada tepat di sebelah pintu, dia menghunuskan jari dan bersiap untuk mencakarnya. Ternyata dia salah, monster itu sudah pergi. Tidak ada apa pun di sana kecuali lampu-lampu kota dan suara dari beberapa mobil yang melintas. Dia menghela napas lega, itu semua hanya mimpi.

Pintu terbanting menutup tepat di depan wajahnya. Dia menjerit kesakitan ketika pintu logam itu membentur dahinya. Mark mengusap kepala dan jatuh ke lantai.

“Apa-apaan ini!?” teriaknya kepada seseorang di sana. Dia tidak menutup pintu, bahkan monster itu tidak mungkin; dan angin sepertinya tidak cukup kuat untuk menutup pintu logam itu. Dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa mungkin itu hanya hembusan angin yang aneh, tetapi pemikiran itu dengan cepat berubah ketika dia mendengar suara tawa itu lagi.

“ケケケ!” (kekeke! - Tertawa)



Suara itu datang tepat dari luar pintu, terdengar sedikit dari atas. Monster itu pasti sedang berdiri di atasnya.

*   *

Mark terbangun dengan kebingungan; dia berada di kamar apartemennya sendiri, di tempat tidurnya. Dia melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa ini benar kamar apartemennya, ini memang kamar apartemennya. Dia kembali menghela napas; itu semua hanya mimpi. Mimpi itu terasa sungguh nyata; tetapi dia kemudian sadar bahwa mimpi itu juga begitu aneh.

Mark tertawa kecil; membayangkan seolah-olah monster seperti itu ada. Seketika rasa sakit di dahinya muncul sehingga dia berhenti tertawa. Mungkin monster itu nyata dan dia tidak ingin mengingatnya kembali. Mark dengan cepat menolak gagasan itu; mungkin mimpi yang dialaminya terlalu nyata dan kemudian dia merasakan mimpi itu kembali; sehingga hal seperti itu seolah-olah terjadi.

Mark bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke lemari es untuk mendapatkan sesuatu yang bisa diminum. Mark meraih sebuah gelas dan sekotak jus dari dalam lemari es, dia kemudian membuka kotak jus jeruk yang dia punya untuk sarapan di pagi hari. Dia memiringkan kotak untuk menuangkan jus jeruk ke gelas, ketika jus tumpah ke meja. Dia berhenti menuangkan jus dan menatap kotak dengan bingung. Kemudian dia menyadari bahwa ada satu robekan yang tipis di sisi kotak jus itu, sehingga ketika kotak dimiringkan jus tidak mencapai ujung kotak tetapi malah tumpah keluar di celah yang lain.

“ケケケ!” (kekeke! - Tertawa)

Suara itu terdengar lagi. Suara itu datang dari dalam apartemen. Dia dengan cepat berbalik, mengamati ruangan dari monster itu. Kemudian dia berhenti, menyadari bahwa itu hanya paranoid dan kegilaannya; semua itu hanya imajinasi. Mengenai robekan di kotak jus itu, mungkin saja doi yang melakukannya; mereka baru saja bertengkar.

Mark membersihkan kekacauan ini dan memutuskan untuk membuang semua sarapan; dia merasa tidak nafsu makan. Dia mengkhawatirkan pacarnya, yang bernama Beatrice. Dia mencintai doi dan ingin membuat Beatrice mengerti betapa dia mencintainya. Dia menyalakan televisi dan menonton suatu acara di televisinya selama beberapa jam untuk melupakan semua masalah.

*   *

Hari sudah siang. Dia bangun dan berjalan ke dapur, meninggalkan televisi yang masih menyala. Dia membuka lemari tempat dia menyimpan alkohol. Lalu mengambil sebotol bir, dia menuangkannya ke sebuah gelas dan hampir menjatuhkan botol itu ketika melihat bahwa itu bukan bir; itu hanya air biasa. Dia mengerutkan dahi dan sedikit meminum air di gelasnya, dan itu hanya air biasa. Dia menatap gelas dengan marah dan mengambil botol lain, kemudian terus mengambil botol yang lainnya. Isi semua botol telah diganti dengan air biasa. Dia menghela napas marah, dan kemudian mengambil satu botol lagi.

“ケケケ!” (kekeke! - Tertawa)

Mark sedikit melompat, suara tawa terdengar lagi. Dia mengatakan kepada dirinya sendiri lagi dan lagi bahwa itu hanya imajinasi saja. Dia hanya mengalami paranoid karena mimpi yang dialami terasa begitu nyata. Beatrice juga bisa melakukan semua ini, tidak ada yang namanya monster.

Dia meraba-raba lemari untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang tersisa di sana. Di belakang, dia tahu bahwa dia mempunyai dua botol anggur merah dan sebotol anggur putih, tetapi dia ingin menyimpan anggur-anggur itu sampai Beatrice memaafkannya. Dia melihat dua botol yang terdiri dari sebotol anggur merah dan sebotol anggur putih, dia mengambil keduanya dan menutup lemari, sebotol anggur merah lainnya hilang. Mark melihat ke tempat di mana dia menyimpan gelas-gelas anggur dan salah satu gelas itu juga hilang.

“Beatrice juga bisa melakukan semua ini, karena dia marah padaku,” kata Mark pada dirinya sendiri mencoba untuk tetap tenang, dia bersumpah dia mungkin lupa bahwa pasti Beatrice yang melakukannya. Kemudian dia mendengar suara itu lagi.

“ケケケ!” (kekeke! - Tertawa)

Suara itu datang dari ruang tamu, di mana dia meninggalkan televisinya yang masih menyala. Kali ini dia tahu bahwa itu bukan imajinasinya, suara tawa itu terdengar begitu nyata. Dia menutup lemari dan berlari ke ruang tamu.

Tentu saja monster itu berada di sana. Dia duduk di sofa sambil meminum segelas anggur, monster itu juga sedang menonton suatu acara di televisi yang dia tinggalkan dalam keadaan masih menyala. Monster itu mengecilkan volume tv dan menatap Mark, lalu tersenyum. Dia mengangkat botol anggur yang sudah dibuka di salah satu tangannya dan sedikit mengocok botol itu ke arahnya.

“ウイン?” (Anggur merah?)

Mark berhenti menatap monster itu. Dia dengan cepat mengalihkan pandangan dan berlari kembali ke dapur secepat yang dia bisa; monster itu nyata. Dia berpikir bahwa monster itu datang untuk membunuh dan memakan dirinya; karena itu adalah apa yang monster lakukan. Namun monster itu tetap di sana; dia bisa mendengar monster itu menertawakannya.

Mark ketakutan; dia harus membuat monster itu keluar dari tempat tinggal dan kehidupannya. Dia melihat ke sekeliling dapur untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan. Mark begitu panik, dia meraih pisau di dekatnya dan berlari kembali ke ruang tamu, bersiap untuk bertarung.

Monster itu sudah pergi. Tidak ada jejak yang ditemukan; hanya ada satu barang bukti yaitu botol dan gelas anggur merah yang hilang. Dia tegang; mungkin dia akan menjadi gila karena mimpi ini.

“Tidak, tidak, tidak, aku tidak gila, semua ini tidak mungkin terjadi. Ini tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi!” Dia berbicara tidak teratur pada diri sendiri. Dia kembali ke dapur dan menaruh pisau ke semula. Dia berjalan kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa. Dia mengambil remote lalu mematikan televisi agar bisa berpikir.



“Mungkin aku berhalusinasi. Mungkin aku akan menjadi gila karena aku depresi karena Beatrice marah padaku! Mimpi aneh baru saja terjadi dan bercampur dengan kemarahannya!” Mark bangun dan meraih telepon untuk menelepon Beatrice. Dia menekan nomor dan menunggu sampai Beatrice mengangkat, Mark sangat senang ketika dia mengangkatnya sampai-sampai Mark tidak menyadari ada seseorang yang menyelinap melalui jendela dan mengawasinya.

“Hai! Beatrice? Ini aku! Aku minta maaf tentang perkelahian kita harusnya aku-! . . . Tidak aku sangat minta maaf! . . . Aku berjanji akan menebus kesalahanku padamu! Aku bersumpah aku akan . . .” Mark menaruh telepon, Beatrice telah mengakhiri panggilan. Kemudian dia melihat sesuatu di sudut matanya, tetapi ketika dia berbalik sesuatu itu menghilang.

“Aku akan menebus kesalahanku!” Katanya pada diri sendiri, dia meraih jaket dan memakainya. “Aku akan meminta maaf secara langsung!” Mark berjalan mondar-mandir di sekitar apartemen, memikirkan apa yang harus diberikan. Kemudian dia ingat dan membuka lemari untuk mengambil sebotol anggur putih, tetapi ketika dia membukanya botol itu sudah kosong. Dia pikir bahwa permintaan maaf yang tulus sudah cukup, dia keluar melewati pintu untuk pergi bertemu dengannya.

Mark berjalan dengan cepat, sambil berlatih apa yang akan dikatakannya nanti. Setiap waktu ketika dia berjalan, dia selalu merasa bahwa ada seseorang yang mengikutinya. Dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu disebabkan karena rasa gelisah.

Mark sudah tiba di depan rumah Beatrice dan berdiri di tangga depan. Dia merasa takut; takut bahwa Beatrice tidak akan memaafkannya dan meminta putus. Dia mengepalkan tangan dan hendak mengetuk pintu, tetapi dia membatalkan niat itu. Dia masih merasa takut.

Mark menghela napas dan bersumpah di bawah hembusan napasnya, dia mengatakan pada diri sendiri bahwa dia adalah seorang pengecut. Dia berbalik dan berjalan pergi, dia tidak menyadari bahwa ada suara tawa tepat di belakangnya, diikuti oleh suara jendela yang dibuka.

“ケケケ!” (kekeke! - Tertawa)

Bagian 2

Mark hendak meninggalkan bar di mana dia berada. Dia memutuskan untuk datang ke bar ini untuk sedikit minum-minum sebelum berhadapan dengan Beatrice, tetapi dia tidak merasa seperti sedang minum sama sekali dan hampir tidak meminum apa yang telah dipesan. Mark mengatakan pada diri sendiri bahwa dia akan pergi ke rumah Beatrice dan meminta maaf seperti seorang pria jantan, lalu dia berangkat ke rumah Beatrice. Mark mengepalkan tangan dan mengetuk pintu dengan keras. Dia menunggu. Tidak ada jawaban. Dia menekan bel pintu beberapa kali, dan bisa mendengar bel itu berdering melalui rumah Beatrice. Masih tidak ada jawaban. Dia mulai khawatir, dia mengetuk pintu rumah lagi dan berteriak nama Beatrice, masih tidak ada jawaban. Dia mencoba menggenggam kenop pintu, dan membukanya. Ini aneh; Beatrice biasanya selalu mengunci pintu. Hal pertama yang dia lihat ketika memasuki rumah itu adalah jendela yang terbuka, kayu pembatas jendela juga terlihat ada banyak bekas cakaran, sepertinya ada seekor kucing yang mencakar-cakar kayu pembatas jendela. Dia berjalan ke ruang makan, memanggil nama Beatrice. Dia berhenti ketika melihat sebotol anggur putih di atas meja. Itu adalah botol yang dia simpan di dalam lemari kacanya, dan sudah dibuka. Dia mengambil dan memeriksanya. Ada secarik catatan yang ditempelkan di botol itu. Catatan itu terbaca:

"Beatrice aku sangat minta maaf tentang perkelahian kita! Aku ingin menebusnya karena aku mencintaimu dengan sepenuh hati dan jiwaku!" ~ Mark

Mark menatap catatan itu, melihat ke kata hati yang diikuti dengan kata “jiwa”, dia tidak ingat kapan dia mengirimkan botol ini beserta catatan di botol kepada Beatrice. “Beatrice!?” teriaknya. Dia berjalan mengitari meja dan tubuhnya mematung. Dia melihatnya, Beatrice tercinta, tergeletak di lantai. Dia tidak bergerak, dan pecahan-pecahan kaca mengepungnya.

“Beatrice!” teriak Mark dan menurunkan lutut ke lantai lalu berusaha mengangkat Beatrice, Mark mengabaikan luka sayatan yang diakibatkan pecahan kaca; dia melihat dari bentuk pecahan-pecahan kaca itu bahwa pecahan itu berasal dari gelas anggur merah. Air mata mengalir dan dia memeluk Beatrice, dia menyadari bahwa Beatrice sudah mati.

“So sweet!”

Mark terdiam dan menengadah. Monster itu berada di sana. Dia duduk di jendela, meniru suara Beatrice. “Aku sangat menyesali perkelahian kita di tempat pertama!” Mark menatap monster itu, kemarahan mendidih di dalam dirinya.

“それがのんだ。死んだ!ケケケ! 毒だよ!ケケケ!” (Beatrice meminumnya. Kemudian dia mati! -Tertawa- Itu adalah racun! -Tertawa-)

Monster itu tertawa dengan suara keras, mengangkat tangan ke wajahnya lalu berhenti tertawa.

“Kau pikir ini lucu!? Kau membunuhnya! Aku akan membunuhmu!” Mark berdiri dan meraih botol.

"おまえ 怒ってるかい~?" (Kau marah?)

Mark melempar botol di tangannya tetapi monster itu melompat keluar dari jendela. Dia berusaha untuk membunuh monster itu. Dia akan membuatnya membayar atas kematian Beatrice. Mark berjalan ke lemari Beatrice; dia tahu itu adalah tempat di mana dia menyimpan pistol untuk berjaga-jaga. Dia mengeluarkan pistol itu dan membuka amunisi, dia melihat bahwa hanya ada empat peluru yang tersisa; cukup bagus, dia hanya membutuhkan satu peluru. Mark berlari ke luar pintu, tidak ada tanda-tanda dari keberadaan monster itu di mana pun. Meskipun demikian dia tahu bahwa monster itu akan kembali ke apartemennya. Mark berlari secepat yang dia bisa, mengabaikan rambu-rambu jalan dan orang lain; dia hanya terus berlari. Dia sudah sampai di bangunan apartemennya dan dia berlari ke lantai kamar apartemennya. Mark mendobrak pintu kamar apartemennya hingga terbuka. Ternyata dugaannya benar, monster itu berada di sana. Dia berbaring di atas rak buku sambil memegang segelas anggur merah, botol anggur merah itu berada di tangan yang lain.

“ワイン がもない!” (Semua anggur merah sudah habis!)

Mark sepenuhnya marah dan mengarahkan pistol terhadap monster itu, menembak sebutir peluru. Monster itu bangkit dan melompat ke dinding, meninggalkan gelas anggur merah itu dan menancapkan cakar di dinding sehingga monster itu membelakangi mark. Dia menembak monster itu untuk kedua kalinya, dan monster itu berbalik sehingga dia sekarang menghadap ke arah Mark, tangan kiri dan kaki monster itu terlihat lebih membungkuk daripada manusia normal. Dia menembak lagi dan monster itu jatuh ke lantai, sekarang hanya tersisa peluru keempat. Mark menembak lagi dan monster itu berhasil menghindari peluru yang ditembak, kemudian monster itu melompat kembali ke dinding, dia tetap berada di sana dan menatapnya. Mark berjalan ke monster itu dengan kemarahan dan mengarahkan pistol ke dahi monster itu. Dia menarik pelatuk, tetapi hanya terdengar bunyi klik, sebagai tanda bahwa tidak ada peluru yang tersisa. Monster itu mulai tertawa seperti orang gila.

“フェイル!” (Kau gagal!)

Mark sangat marah dan mengayunkan pistol ke monster itu untuk serangan jarak dekat, tetapi monster itu merayap ke samping, mengambil gelas anggur merah yang telah dia tinggalkan di atas rak buku. Monster itu melemparkan gelas anggur merah ke Mark tetapi Mark berhasil menghindar, kemudian monster itu melemparkan botol anggur merah dan botol itu membentur tepat di sekitar matanya. Mark jatuh pingsan.

Mark kembali sadar; dia bertatap muka dengan monster itu. Monster itu menempel di langit-langit, tangan dan kaki monster itu kembali menekuk pada sudut sembilan puluh derajat sehingga monster itu menghadap ke arahnya. Topeng monster itu berubah lagi. Bentuk senyum yang terang di sisi hitam pada topeng itu menghilang, dan kerutanan kemarahan muncul kembali di sisi putih topengnya. Kemudian dia berkata kepada Mark dengan suara gelap, dengan kurang gembira:

“おまえは面白くない。” (Kau membosankan.)

Monster itu membuat suara mendesis yang rendah, dan menerkam Mark.

Polisi tiba di apartemen Mark, tetangganya menelepon polisi karena mendengar suara tembakan pistol. Mark ditemukan tewas, seluruh tubuh Mark dipenuhi luka cakar dan tenggorokannya juga robek akibat cakaran itu. Pembunuhan ini tampak seperti diakibat oleh hewan, dan di sepanjang dinding penuhi bekas cakaran dan begitu juga langit-langit. Jejak kaki darah juga ditemukan di lantai yang menuju jendela, sehingga mereka memutuskan bahwa semua ini dilakukan oleh manusia. Setelah pemeriksaan lebih lanjut mengenai tubuh Mark, mereka menemukan sesuatu yang diukir di dahinya.



“退屈な。” (Membosankan.)...

Original Author: GingaAkam

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki