Minggu, 09 Juli 2017

Jeff the Killer


Kutipan dari koran lokal:
PEMBUNUH TAK MENYENANGKAN YANG TAK DIKENAL MASIH BERKELIARAN.



Setelah berminggu-minggu pembunuhan dijelaskan, pembunuh yang belum diketahui dan tak menyenangkan ini masih semakin meresahkan. Berikut adalah sedikit bukti yang telah ditemukan; seorang anak laki-laki yang berhasil selamat dari serangan sang pembunuh menceritakan kisahnya.

“Aku bermimpi buruk dan terbangun di tengah malam,” kata anak itu, “Aku melihat bahwa entah kenapa jendela kamarku terbuka, padahal aku ingat sudah menutupnya sebelum aku tidur. Aku bangkit dan menutup jendela lagi. Setelah itu, aku kembali ke tempat tidurku dan mencoba untuk kembali tidur. Saat itulah aku mendapat perasaan aneh, seperti ada seseorang yang sedang mengawasiku. Aku menatap padanya, dan hampir melompat dari tempat tidur. Dalam kegelapan aku melihat sepasang mata. Itu bukan mata biasa, mata yang gelap dan cukup menakutkan. Mata yang dibatasi dengan warna hitam dan... itu membuatku takut. Saat itulah aku melihat mulutnya. Senyum lebar mengerikan yang bikin merinding. Sosok itu berdiri di sana, dan mengawasiku. Akhirnya, setelah semua yang kulihat, dia mengatakan sesuatu. Dia mengatakan kalimat sederhana, tetapi mengatakan dengan cara seperti orang gila yang bisa berbicara.”

“Dia mengatakan, 'Tidurlah.' Kemudian aku berteriak, kalimat itulah yang dikatakannya padaku. Dia kemudian menarik sebilah pisau, bermaksud untuk menusukku tepat di jantung. Dia melompat ke atas tempat tidur. Aku melawan balik, menendang, memukul, dan berguling-guling, berusaha untuk menyingkirkan dia dariku. Saat itulah ayahku datang. Pria itu melemparkan pisaunya ke bahu ayahku. Dia mungkin akan menghabisi ayahku jika salah satu tetangga tidak memanggil polisi.”

“Kemudian polisi datang melaju parkiran, dan berlari ke pintu. Pria itu berbalik dan berlari menyusuri lorong. Aku mendengar suara kaca pecah. Suara itu terdengar ketika dia keluar dari kamarku, aku mendapati jendela yang mengarah ke bagian belakang rumahku pecah. Aku melihat ke luar dan melihatnya menghilang dari kejauhan. Aku bisa memberi tahumu satu hal, aku tidak akan pernah melupakan wajah itu. Wajah dingin, mata jahat, dan senyum psikosis. Semua itu tidak akan pernah pergi dari benakku.”

Polisi masih mencari pembunuh ini. Jika kau bertemu siapa pun yang cocok dengan deskripsi dalam cerita ini, silakan hubungi departemen kepolisian setempat.

-

Jeff dan keluarganya baru saja pindah ke lingkungan baru. Ayahnya mendapat promosi pekerjaan, dan mereka pikir akan lebih baik untuk tinggal di salah satu lingkungan yang “elit”. Tentu saja, Jeff dan saudaranya Liu tidak bisa protes dengan kehidupan yang lebih baik. Karena mereka akan tinggal di rumah baru. Siapa yang tidak bahagia tinggal di rumah yang bagus? Ketika mereka berkemas, salah satu tetangga datang.

“Halo,” sapanya, “Nama saya Barbara, saya tinggal di seberang jalan rumah kalian. Ya, saya hanya ingin memperkenalkan diri saya dan juga putra saya.” Kemudian dia berbalik dan memanggil anaknya. “Billy, ini adalah tetangga baru kita.” Billy hanya mengatakan “Hai” dan berlari kembali untuk bermain di halaman rumahnya.

“Ya,” kata ibu Jeff, “Nama saya Margaret, dan ini suami saya Peter, dan ini kedua putra saya, Jeff dan Liu.” Mereka masing-masing memperkenalkan diri, dan kemudian Barbara mengundang mereka untuk datang ke pesta ulang tahun putranya. Jeff dan saudaranya merasa cukup keberatan, kemudian ibu mereka mengatakan dengan senang hati akan pergi ke pesta ulang tahun putranya. Ketika Jeff dan keluarganya selesai berkemas, Jeff menghampiri sang ibu.

“Ibu, kenapa kau mengajak kami ke pesta ulang tahun anak itu? Aku bukan anak bodoh seperti yang ibu kira.”

“Jeff,” kata ibunya, “Kita baru saja pindah ke sini, kita harus menunjukkan bahwa kita ingin menghabiskan waktu bersama tetangga kita. Jadi, kita akan datang ke pesta itu.” Jeff hendak berbicara lagi, tetapi dia menghentikan niatnya, dia sadar bahwa dia tidak bisa melakukan apa pun. Setiap kali ibunya mengatakan sesuatu, dia tidak bisa menolak. Kemudian, dia berjalan ke kamarnya dan duduk di atas tempat tidur. Dia duduk dan memandangi langit-langit, tetapi seketika dia mendapatkan perasaan aneh. Perasaan yang didapat tidak begitu terasa sakit, tetapi... itu adalah perasaan aneh. Dia menganggap bahwa itu cuma perasaan biasa. Kemudian, dia mendengar ibunya memanggil dan dia berjalan menuruni tangga untuk mengambil barang-barang miliknya.

Keesokan harinya, Jeff berjalan menuruni tangga untuk memakan sarapan dan bersiap untuk berangkat sekolah. Ketika dia duduk, sambil memakan sarapan, dia merasakan perasaan itu lagi. Namun, kali ini terasa lebih kuat. Perasaan ini memberinya rasa sakit yang sedikit mengganggu, tetapi dia kembali mengabaikan perasaan itu. Ketika Jeff dan Liu selesai menghabiskan sarapan, mereka berjalan ke halte bus. Mereka duduk sambil menunggu bus, dan kemudian, tiba-tiba, beberapa anak dengan skateboard melompat, hanya beberapa inci di atas tempat mereka berada. Mereka berdua terkejut. “Hei, apa-apaan ini?”

Anak itu turun dari skateboard miliknya dan berbalik ke arah mereka. Dia menendang skateboard itu dan menangkapnya dengan tangan. Anak itu tampak berusia sekitar dua belas tahun, satu tahun lebih muda dari Jeff. Dia memakai kemeja Aeropostale dan celana jeans biru yang robek.

“Ya, ya, ya. Sepertinya kita punya santapan baru.” Tiba-tiba, dua anak lain muncul. Salah satunya sangat kurus dan yang satunya lagi berbadan besar. “Baiklah, karena kalian anak baru di sini, aku ingin memperkenalkan diri, di sebelah sana adalah Keith.” Jeff dan Liu menoleh ke anak yang kurus. Dia berwajah idiot. “Dan dia adalah Troy.” Mereka melihat ke arah anak yang gemuk. Anak gemuk itu tampak seperti babi berlemak. Seperti belum pernah berolahraga sejak dia masih merangkak.

“Dan aku,” kata anak pertama, “Namaku adalah Randy. Sekarang, bagi semua anak di lingkungan ini ada sedikit harga tambahan untuk ongkos bus, kuharap kalian mengerti maksudku.” Liu kemudian berdiri, dan bersiap untuk menghajar anak itu, tetapi salah satu dari mereka menarik sebilah pisau padanya. “Tsk, ck, ck, kuharap kalian akan lebih patuh, tapi sepertinya kami harus menggunakan cara yang lebih kasar.” Anak itu berjalan ke Liu dan mencuri dompetnya dari saku. Jeff mendapatkan perasaan itu lagi. Sekarang, perasaan ini benar-benar kuat, seperti sensasi yang terbakar. Jeff kemudian berdiri, tetapi Liu memberinya isyarat untuk tetap duduk. Jeff mengabaikan dan berjalan ke anak itu.

“Dengar, si kecil yang tidak berarti, kembalikan dompet saudaraku atau kalau tidak.” Randy menaruh dompet Liu ke dalam sakunya dan mengeluarkan pisau.

“Oh? Dan apa yang akan kau lakukan?” Randy baru saja mengakhiri kalimat Jeff, kemudian Jeff menghajar anak itu di bagian hidung. Ketika Randy hendak menghajar wajah Jeff, Jeff menangkap pergelangan tangan Randy dan mematahkannya. Randy menjerit kesakitan dan Jeff merampas pisau dari tangannya. Troy dan Keith berlari ke Jeff dengan tujuan untuk menyerangnya, tetapi Jeff terlalu cepat. Jeff membanting Randy ke tanah. Keith melayangkan pukulan, tetapi Jeff membungkuk dan menusuknya di lengan. Keith menjatuhkan pisaunya, dia terjatuh dan menjerit kesakitan. Begitu juga dengan Troy, dia juga menyerang Jeff, tetapi Jeff bahkan tidak memerlukan pisau. Dia hanya memukul Troy di bagian perutnya dan Troy terjatuh. Selagi dia terjatuh, dia muntah. Liu tidak bisa berbuat apa pun selain menyaksikan dengan kagum pada Jeff.

“Jeff bagaimana bisa kau melakukan semua ini?” hanya itu yang dia katakan. Mereka melihat bus datang dan mereka tahu bahwa mereka akan disalahkan atas kejadian ini. Jadi mereka mulai berlari secepat yang mereka bisa. Ketika mereka berlari, mereka menoleh ke belakang dan melihat supir bus bergegas ke Randy dan yang lainnya. Jeff dan Liu berhasil sampai ke sekolah, mereka tidak berani mengatakan apa yang telah terjadi. Hanya duduk dan mendengarkan apa yang sedang diajarkan oleh guru mereka. Liu berpikir bahwa saudaranya hanya menghajar anak-anak itu, tetapi Jeff tahu bahwa yang telah dia lakukan lebih dari itu. Jauh lebih menakutkan. Ketika dia mendapatkan perasaan itu, dia merasakan betapa kuatnya perasaan itu, perasaan itu mendorongnya untuk menyakiti seseorang. Dia tidak suka dengan perasaan itu, tetapi dia tidak bisa menahan perasaan senang karena telah memukuli anak-anak itu. Dia merasa bahwa perasaan aneh itu telah pergi, dan apa yang dia rasakan sekarang hanya hari normal di sekolah. Bahkan ketika dia berjalan pulang dari sekolah ke halte bus, dia berpikir bahwa sekarang dia mungkin tidak akan menunggu bus lagi, hanya perasaan senang yang dia rasakan. Ketika sampai di rumah, orang tuanya menanyakan bagaimana tentang hari yang telah dia lalui, dan dia menjawab dengan nada riang, “Ini adalah hari yang sangat menyenangkan.” Keesokan paginya, dia mendengar ketukan di pintu depan. Dia berjalan ke lantai bawah dan melihat ada dua petugas polisi yang berdiri di pintu, ibunya memandang Jeff dengan raut wajah marah.

“Jeff, kedua petugas ini mengatakan bahwa kau menyerang tiga anak. Dan itu bukan perkelahian biasa, mereka ditikam, dan ditusuk, Nak!” Jeff menunduk, dia sadar bahwa apa yang dikatakan ibunya itu benar.

“Ibu, mereka duluan yang menghunuskan pisau padaku dan Liu.”

“Nak,” kata salah satu polisi, “Kami menemukan tiga anak babak belur, dua ditikam, dan yang satunya mengalami luka memar di bagian perutnya, kami punya saksi mata yang membuktikan bahwa kau melarikan diri dari tempat kejadian. Sekarang, apa yang akan kau katakan pada kami?” Jeff tahu bahwa tidak ada gunanya untuk menjelaskan. Dia bisa mengatakan bahwa dia dan Liu telah diserang, tetapi tidak ada bukti bahwa bukan mereka yang menyerang lebih dulu. Mereka tidak bisa mengatakan bahwa mereka tidak melarikan diri, karena tidak ada kebenaran yang berpihak pada mereka. Jadi, Jeff atau Liu tidak bisa membela diri.

“Nak, panggil saudaramu.” Jeff tidak bisa melakukannya, karena bukan Liu yang menghajar anak-anak itu.

“Pak, semua itu adalah perbuatanku. Aku adalah orang yang menghajar anak-anak itu. Liu mencoba untuk menahanku, tetapi dia tidak bisa menghentikanku.” Polisi itu saling memandang rekan dan mengangguk.



“Baiklah nak, kau akan ditahan di penjara khusus remaja selama setahun...”

“Tunggu!” teriak Liu. Dia memegang sebilah pisau di tangannya. Para petugas kemudian menarik senapan mereka dan mengarahkannya pada Liu.

“Semua itu adalah perbuatanku, aku yang telah menghajar mereka termasuk bajingan kecil itu. Aku punya bukti.” Dia menarik lengan bajunya untuk memperlihatkan luka dan memar, seolah-olah dia telah berkelahi sebelumnya.

“Nak, taruh pisau itu ke lantai,” kata petugas. Liu mengangkat tangan dan menjatuhkannya ke lantai. Setelah itu dia berjalan ke para polisi.

“Tidak, bukan Liu pelakunya, semua itu perbuatanku! Akulah yang melakukannya!” mata Jeff mulai berkaca-kaca, dan kemudian air mata mengalir di wajahnya.

“Huh, saudaraku yang malang. Berusaha untuk disalahkan atas segala apa yang telah kuperbuat. Baiklah, bawa aku pergi.” Polisi itu kemudian membawa Liu ke mobil patroli.

“Liu, beri tahu mereka bahwa akulah yang melakukannya! Beri tahu mereka! Aku adalah orang yang menghajar anak-anak itu!” sang ibu meletakkan tangannya di pundak Jeff.

“Jeff, kau tidak usah berbohong. Ibu tahu bahwa Liu yang melakukannya, kau bisa berhenti berbohong sekarang.” Jeff memandang tanpa daya ketika mobil polisi melaju membawa Liu. Beberapa menit setelah itu ayah Jeff pulang, dia melihat wajah Jeff dan menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

“Ada apa nak?” Jeff tidak bisa menjawab. Pita suaranya tegang karena tangisan. Sebaliknya, sang ibu berjalan ke ayahnya untuk menyampaikan berita buruk sementara Jeff masih menangis. Setelah hampir satu jam Jeff berjalan kembali memasuki rumah, dia melihat bahwa orang tuanya merasa sedih, dan kecewa. Dia tidak tega melihat mereka karena berpikir bahwa Liu yang bersalah atas semua ini. Kemudian Jeff pergi ke kamarnya untuk segera tidur, dia mencoba untuk menenangkan pikiran. Dua hari berlalu, tanpa kabar dari Liu di Pusat Penahanan Remaja. Tidak ada teman untuk berbaur dengannya. Hanya kesedihan dan rasa bersalah yang dia rasakan. Ketika sudah hari Sabtu, Jeff dibangunkan oleh ibunya, dengan wajah riang, dan gembira.

“Jeff, sudah hari Sabtu.” kata ibunya sambil membuka tirai dan membiarkan cahaya matahari menyinari kamar Jeff.

“Ada apa dengan hari ini?” tanya Jeff sambil berusaha untuk bangun.

“Ada apa dengan hari ini? Sekarang adalah hari ulang tahun Billy.” Jeff sekarang sepenuhnya terbangun.

“Ibu, kau bercanda, kan? Kau tidak mengharapkanku untuk pergi ke pesta anak itu...” suasana hening sejenak.

“Jeff, kita berdua tahu apa yang telah terjadi. Ibu pikir pesta ini bisa menyinari hari-hari terakhir kita. Sekarang, ganti bajumu.” ibu Jeff berjalan keluar dari kamar ke lantai bawah untuk bersiap-siap. Jeff berusaha bangkit. Dia memilih kemeja secara acak dan celana jeans, kemudian dia berjalan menuruni tangga. Dia melihat ibu dan ayahnya berpakaian rapi, ibunya memakai gaun dan ayahnya memakai setelan jas. Dia merasa heran, kenapa mereka memakai pakaian semewah itu hanya untuk datang ke pesta anak-anak?

“Nak, kau mau memakai itu?” tanya ibu Jeff.

“Lebih baik seperti ini daripada terlalu berlebihan.” jawab Jeff. Ibunya ingin sekali marah, tetapi dia menahan dan menyembunyikan dengan senyuman.

“Baiklah Jeff, kita mungkin berpakaian terlalu berlebihan, tetapi beginilah caranya jika kau pergi dan ingin memberikan kesan.” kata ayahnya. Jeff bergumam dan kembali ke kamarnya.

“Aku tidak punya pakaian bagus!” teriaknya.

“Kau hanya cukup memakai pakaian sepantasnya.” Kata sang ibu. Dia mencari pakaian yang tampak bagus. Kemudian, Jeff menemukan celana panjang hitam untuk acara-acara khusus dan kaos. Dia tidak bisa menemukan kemeja untuk pergi ke acara itu. Dia masih terus mencari, dan menemukan kemeja yang hanya bermotif garis. Akhirnya dia menemukan jaket bertudung berwarna putih dan memakainya.

“Kau akan memakai setelan itu?” kata orang tuanya. Sang ibu melirik jam. “Oh, tidak ada waktu untuk mengganti. Ayo berangkat.” kata ibunya sambil membawa Jeff dan si ayah keluar melewati pintu. Mereka menyeberangi jalan ke rumah Barbara dan Billy. Mereka mengetuk pintu dan Barbara membuka pintu, tetapi cara berpakaian mereka tampak berlebihan. Ketika mereka berjalan ke dalam, Jeff menyadari bahwa semua yang berada di sana hanya orang dewasa, dan tidak ada anak-anak.

“Anak-anak ada di halaman belakang. Bagaimana kalau kau pergi dan berkumpul bersama mereka, Jeff?” kata Barbara.

Jeff berjalan keluar menuju halaman yang dipenuhi anak-anak. Mereka berlarian memakai kostum koboi palsu dan saling menembak dengan senjata plastik. Dia mungkin juga akan pergi ke toko mainan Toys R Us. Tiba-tiba seorang anak laki-laki mendekatinya dan memberi pistol dan topi mainan miliknya.

“Hei. Ingin belmain?” kata anak itu.

“Ah, tidak nak. Aku terlalu tua untuk hal ini.” Anak itu menatap Jeff dengan wajah melas.

“Belmainlah kumohon?” kata anak itu. “Baiklah,” kata Jeff. Dia memakai topi dan mulai berpura-pura menembaki anak-anak. Pada awalnya dia pikir ini benar-benar konyol, tetapi kemudian dia mulai bersenang-senang. Ini mungkin tidak sangat keren, tetapi itu pertama kalinya dia melakukan sesuatu yang mengalihkan pikiran dari Liu. Jadi dia bermain dengan anak-anak untuk sementara waktu, sampai dia mendengar keributan. Keributan yang cukup aneh. Kemudian Randy, Troy, dan Keith melompati pagar dengan skateboard milik mereka. Jeff menjatuhkan pistol palsu dan merobek topi yang dia pakai. Randy menatap Jeff dengan kebencian terbakar.

“Halo Jeff” kata Randy. “Kita punya urusan yang belum selesai.” Jeff melihat ke hidung Randy yang memar. “Kupikir kita impas sekarang. Aku menghajar kalian, dan kalian membuat saudaraku dikirim ke Pusat Penahanan Remaja.”

Randy tampak marah di matanya. “Oh tidak, kupikir kita tidak akan impas kali ini, kali ini aku yang akan menang. Kau mungkin telah menendang pantat kami waktu itu, tetapi tidak untuk hari ini.” Ketika dia mengatakan kalimat itu, Randy berlari ke Jeff. Mereka berdua mulai berkelahi berguling-gulingan di tanah. Randy memukul Jeff tepat di hidung, dan Jeff menarik telinga Randy dan memukulnya di bagian kepala. Jeff mendorong Randy darinya dan keduanya kembali bangkit. Anak-anak berteriak dan orang tua mereka berlari keluar dari rumah. Troy dan Keith menarik senjata dari dalam saku mereka.

“Jangan ikut campur atau peluru akan ditembakkan!” kata mereka. Randy menarik pisau dan menusuk Jeff tepat di bahu.

Jeff menjerit kesakitan dan jatuh berlutut. Randy mulai menendang wajahnya. Setelah tiga tendangan Jeff meraih kaki Randy dan menariknya, Randy terjatuh. Jeff berdiri dan berjalan ke pintu belakang. Kemudian Troy menangkap Jeff di bagian belakang kerahnya.

“Perlu bantuan?” Dia mengangkat Jeff dan melemparnya ke pintu teras. Kemudian Jeff berusaha untuk berdiri, Randy menendangnya. Randy berkali-kali menendang Jeff, sampai dia mulai batuk darah.



“Ayo Jeff, bertarunglah denganku!” Dia mengangkat Jeff dan melemparnya ke dapur. Randy melihat sebotol vodka di atas meja dan menghancurkannya di kepala Jeff.

“Bertarunglah denganku!” Dia melempar Jeff lagi ke ruang depan.

“Ayo Jeff, lihat aku!” Jeff mengangkat wajahnya yang dipenuhi darah. “Aku adalah orang yang mengakibatkan saudaramu dikirim ke Pusat Penahanan Remaja! Dan sekarang kau hanya duduk di sini dan membiarkannya membusuk di sana selama setahun! Kau seharusnya malu!” Jeff mulai bangkit.

“Akhirnya kau berdiri! Cepat lawan aku” Jeff sekarang berdiri, darah dan vodka melumuri wajahnya. Sekali lagi dia mendapat perasaan yang aneh, kemudian dia tidak merasakannya untuk sementara waktu. “Akhirnya. Dia bangun!” kata Randy ketika dia berjalan ke Jeff. Saat itulah terjadi. Sesuatu dalam diri Jeff membentak. Jiwanya hancur, semua pemikiran rasional hilang, semua yang bisa dia lakukan, adalah membunuh. Dia meraih Randy dan mendorongnya ke lantai. Jeff berdiri di hadapan Randy dan memukulnya tepat di bagian jantung. Pukulan itu menyebabkan jantung Randy berhenti berdetak. Sementara Randy terengah-engah mencoba untuk bernapas. Jeff secara terus-menerus menghajar Randy. Pukulan demi pukulan, darah menyembur dari tubuh Randy, sampai dia mengambil napas terakhir, dan mati.

Semua orang melihat ke arah Jeff sekarang. Orang tua, dan anak-anak menangis, bahkan Troy dan Keith. Mereka dengan mudah tersadar dari keterkejutan itu dan mengarahkan senjata ke Jeff. Jeff melihat senjata yang diarahkan pada dirinya dan berjalan ke tangga. Ketika Jeff berjalan, Troy dan Keith menembakkan pistol pada Jeff. Jeff berjalan menaiki tangga. Dia mendengar Troy dan Keith mengikutinya dari belakang. Ketika mereka mengeluarkan peluru terakhir, Jeff berhasil menghindar dan memasuki kamar mandi. Dia menggenggam rak handuk dan mencabutnya dari dinding. Troy dan Keith mengejarnya, mereka bersiap menggunakan pisau.

Troy mengayunkan pisau pada Jeff, tetapi Jeff berhasil menghindar, dan memukul pipa besi dari rak handuk ke wajah Troy. Troy tergeletak di lantai dan sekarang yang tersisa hanya Keith. Namun dia lebih lincah dari Troy, dan ketika Jeff mengayunkan pipa besi. Keith menjatuhkan pisau dan mencengkeram Jeff di leher. Dia mendorong Jeff ke dinding. Kemudian, sebotol pemutih jatuh tepat di atas mereka dari rak yang paling atas. Mereka berdua kehabisan tenaga dan mereka mulai berteriak. Jeff mengusap matanya sebisa mungkin. Dia meraih kembali pipa besi dan mengayunkannya langsung ke kepala Keith. Keith terjatuh dan terbaring di lantai. Ketika dia terbaring, dia tersenyum jahat.

“Apanya yang lucu?” tanya Jeff. Keith mengeluarkan sebuah korek api gas dan menyalakannya. “Apanya yang lucu?” katanya, “Yang lucu adalah kau berlumuran pemutih dan alkohol.” mata Jeff melebar ketika Keith melemparkan korek api ke arahnya. Ketika korek itu menyentuh tubuhnya, api segera berkobar. Selagi alkohol membakarnya, cairan pemutih memutihkan kulitnya. Jeff menjerit mengerikan ketika terbakar. Dia berusaha untuk memadamkan api yang membakar dirinya tetapi percuma, alkohol telah membesarkan kobaran api. Dia berlari menyusuri lorong, dan menuruni tangga. Semua orang mulai berteriak karena mereka melihat Jeff terbakar, sekarang dia sepenuhnya terbakar, Jeff terjatuh ke lantai, dia nyaris mati. Hal terakhir yang Jeff lihat adalah ibunya dan orang tua lain berusaha memadamkan api. Setelah itu, dia pingsan.

Ketika Jeff terbangun, dia mendapati perban yang membalut wajahnya. Sehingga tidak bisa melihat apa pun, tetapi dia merasakan balutan perban di bahunya, dan jahitan di sekujur tubuhnya. Dia berusaha berdiri, tetapi dia menyadari bahwa ada selang infus di lengannya, dan ketika dia berusaha untuk bangkit dia terjatuh, seorang perawat bergegas masuk.

“Kurasa belum saatnya kau turun dari tempat tidur ini.” kata perawat itu sambil membantu Jeff kembali ke tempat tidurnya dan memasang kembali selang infus. Jeff hanya duduk, tanpa bisa melihat, tidak tahu apa yang ada di sekitarnya. Akhirnya, setelah beberapa jam kemudian, dia mendengar suara ibunya.

“Sayang, apa kau baik-baik saja?” tanya ibunya. Jeff tidak bisa menjawab karena wajahnya tertutup perban, dan dia tidak mampu berbicara. “Oh sayang, ibu punya kabar gembira. Setelah semua saksi mengatakan kepada polisi bahwa Randy yang menyerangmu, mereka memutuskan untuk membebaskan Liu.” Kabar ini membuat Jeff hampir melompat, tetapi dia ingat bahwa jika dia melakukannya maka selang infus akan lepas dari lengannya. “Liu akan dibebaskan besok, dan kemudian kalian bisa bersama lagi.”

Sang ibu memeluk Jeff dan mengucapkan selamat tinggal. Beberapa minggu berikutnya adalah hari di mana keluarga Jeff datang menjenguknya. Hari di mana perban di tubuhnya dilepas. Ketika dokter membuka perban di wajah Jeff semua orang di sana duduk di kursi mereka. Menunggu sampai perban terakhir yang menutupi wajahnya dilepas.

“Mari berharap untuk yang terbaik,” kata sang dokter. Dia dengan cepat melepaskan perban yang ada di wajah Jeff, membiarkan sisa perban itu jatuh dari wajah Jeff.

Ibu Jeff berteriak ketika melihat wajah Jeff. Liu dan Ayah Jeff memandang dengan terpesona pada wajah Jeff.

“Apa? Apa yang terjadi dengan wajahku?” kata Jeff. Dia bergegas turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Dia melihat ke cermin dan mengingat penyebab marabahaya. Wajahnya... wajahnya tampak mengerikan. Bibirnya terbakar sehingga warna bibirnya semakin memerah. Kulit wajahnya berubah menjadi warna putih bersih, dan rambutnya terbakar dari cokelat menjadi hitam. Dia dengan perlahan meraba wajahnya. Sekarang wajahnya terasa kasar. Dia melirik keluarganya dan kemudian kembali memandang cermin.

“Jeff,” kata Liu, “Tidak buruk....”

“Tidak buruk?” kata Jeff, “Ini sempurna!” Keluarganya terkejut. Jeff mulai tertawa tak terkendali sementara orang tuanya melihat bahwa mata dan tangan Jeff berkedut.

“Uh… Jeff, kau baik-baik saja?”

“Baik-baik saja? Aku tidak pernah merasa segembira ini! Ha ha ha ha ha haaaaaa, lihat aku. Wajah ini begitu sempurna untukku!” Dia tidak bisa berhenti tertawa. Dia mengusap-usap wajahnya, merasakan tekstur wajahnya. Sambil melihat ke cermin. Apa yang menyebabkan semua ini? Ya, kau ingat ketika Jeff berkelahi dengan Randy bahwa ada sesuatu dalam pikirannya, kewarasannya, yang membentak. Sekarang yang tersisa dari dirinya hanya mesin pembunuh, tetapi, orang tuanya tidak tahu.

“Dokter,” kata ibu Jeff, “Apakah putra saya baik-baik saja… apakah Anda tahu. Apa yang ada di pikirannya?”

“Oh ya, perilaku ini khas untuk pasien yang menggunakan obat penghilang rasa sakit terlalu banyak. Jika perilakunya tidak berubah dalam beberapa minggu, bawalah dia kembali ke sini, dan kami akan memberinya tes psikologis.”

“Oh terima kasih dokter.” kemudian ibu Jeff mendatangi Jeff. “Jeff sayang. Sudah waktunya untuk pulang.”

Jeff berpaling dari cermin, wajahnya masih membentuk senyum gila. “Ok bu, ha ha haaaaaaaaaaaa!” sang ibu menuntunnya dan mengambil pakaian milik Jeff.

“Ini baru saja diantar,” kata wanita di meja depan. Ibu Jeff melihat ke celana panjang hitam dan hoodie putih milik anaknya. Sekarang pakaian itu sudah bersih dari noda darah dan sudah dijahit. Ibu Jeff membawanya kembali ke kamar dan menyuruhnya mengganti pakaian. Kemudian mereka meninggalkan rumah sakit, tidak tahu bahwa itu adalah hari terakhir dalam hidup mereka.

Malam itu, ibu Jeff dibangunkan oleh suara yang berasal dari kamar mandi. Terdengar seperti seseorang yang menangis. Dengan perlahan dia berjalan untuk memeriksanya. Ketika sampai di depan kamar mandi, dia melihat pemandangan mengerikan. Jeff telah mengambil pisau dan mengukir senyum di pipinya.

“Jeff, apa yang sedang kau lakukan?” tanya ibunya.

Jeff memandang ibunya. “Aku tidak bisa terus tersenyum bu. Setelah merasakan rasa sakit selama beberapa saat. Sekarang, aku bisa tersenyum selamanya.” Ibu Jeff melihat kedua mata anaknya, mata anaknya terlihat dibatasi oleh cincin hitam.

“Jeff, matamu!” Matanya tampak tidak bisa tertutup.

“Aku tidak bisa melihat wajahku. Aku lelah dengan mataku yang mulai tertutup. Aku sudah membakar kelopak mataku sehingga aku selamanya bisa melihat diriku sendiri, dan wajah baruku.” ibu Jeff perlahan mulai melangkah mundur, dia sadar bahwa anaknya sudah gila. “Kenapa bu, ada yang salah? Tidakkah aku terlihat memesona?”

“Iya nak,” katanya, “Kau terlihat memesona. B-Biarkan aku memberitahu ayahmu, sehingga dia bisa melihat wajahmu.” Dia berlari ke kamar dan membangunkan ayah Jeff. “Sayang, ambil pistol kita...” Kata-katanya terpotong ketika dia melihat Jeff berada di ambang pintu, dan memegang sebilah pisau.

“Ibu, kau berbohong.” Itu adalah hal terakhir yang mereka dengar dari Jeff sebelum dia membunuh mereka dengan pisau.



Saudaranya Liu terbangun, dia dibangunkan oleh keributan itu. Setelah itu, dia tidak mendengar apa pun lagi, jadi dia hanya memejamkan mata dan mencoba untuk kembali tidur. Ketika dia hendak pulas, dia mendapat perasaan aneh bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya. Dia melihat ke sekeliling, sebelum tangan Jeff menutup mulutnya. Jeff perlahan-lahan mengangkat pisaunya dan bersiap untuk menusuk Liu. Liu meronta ke sana-sini berusaha untuk melarikan diri dari cengkeraman Jeff.


“Shhhhhhh,” kata Jeff, “Diam dan Tidurlah.”

Credit To: Sesseur

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna