Rabu, 05 Juli 2017

Black Child

Awalnya aku hanya berniat untuk sekadar mencoba memainkan permainan yang menurutku menarik, aku pertama kali melihatnya di sebuah situs hitam. Situs yang menyediakan tentang legenda dan mitos mengerikan tentang mereka yang tidak ingin kau kenal.



Aku pikir ini hanya kerjaan orang iseng yang membuang-buang waktu hanya untuk membuatmu ketakutan di dalam rumahmu.

Aku memulai permainan ini pada malam jum’at. Saat itu, kedua orang tuaku sedang pergi ke acara pernikahan sepupuku, aku tidak datang dan beralasan aku sedang sakit perut, padahal aku sedang mempersiapkan permainan ini jauh-jauh hari. Mungkin aku adalah bocah bodoh yang entah bagaimana bisa terbujuk dengan tulisan iseng dalam situs tersebut, tetapi tetap saja bagiku ini sangat menarik, dan tentu membuat rasa penasaran yang sudah terpendam dalam otakku akan mencair.

Aku mulai menyalakan air keran dalam bak mandiku, menaburinya garam dan wewangian, kemudian membiarkan air akan memenuhi bak hingga mengalir menuju pembuangan, air akan mengenang pada lantai kamar mandi.

Aku mengangkat telepon dan membiarkanya dalam mode aktif, jadi tidak ada siapa pun yang akan bisa menelponmu, karena gagang telepon terangkat lebih tepatnya tergeletak begitu saja.

Aku menyalakan TV dengan volume standar, dan mematikan semua lampu di dalam rumah, hanya lilin yang menjadi sumber pencahayaan di sini.

Aku berjalan keluar rumah, dan melihat rumahku dari persimpangan jalan. Kupikir, aku benar-benar bodoh karena telah mengikuti instruksi ini. Namun aku tetap melakukanya.

Aku menuju pintu kemudian mengetuknya sebanyak tiga kali, dan berbicara seolah-olah aku adalah tamu asing lebih tepatnya, bukan tuan rumah.

“Halo. Ada orang di sana?” ucapku berulang-ulang.

Pintu masih tertutup. (Aku tidak menguncinya, dan sebenarnya aku bisa saja masuk kapan pun).

“Untuk tuan rumah yang baik hati, bolehkah aku masuk ke kediamanmu... wahai Black Child,” aku berteriak dengan sedikit gugup, entah kenapa, jantungku berdebar-debar.

Tidak ada siapa pun yang menjawab, dan aku cukup kecewa, “Ya. Sepertinya orang iseng yang menulis ini benar-benar berhasil mengerjaiku.”

Namun tiba-tiba, aku mendengar suara tertawa anak-anak yang sedang bermain seperti terdengar begitu saja dari dalam rumahku, dengan reflek cepat aku segera membukanya. “Halo. Ada orang di sana?”



Beberapa kali aku menelan ludah kering, aku merasakan perasaan yang tidak mampu ku jelaskan, seperti ketakutan dan kengerian bercampur aduk menjadi satu.

Aku mulai mencari tombol lampu, sementara suara TV terdengar di ruang santai, aku mengambil satu lilin sebagai pencahayaanku. Kupikir, tadi mungkin aku sedang melamun atau apa pun yang kudengar itu hanyalah imajinasiku. Saat, aku berhasil sampai sekitar beberapa puluh kaki dari tombol lampu, tiba-tiba suara itu terdengar kembali. Suara anak-anak yang seperti tertawa dan melewatimu begitu cepat, aku sampai harus mengusap beberapa kali keringat di keningku.

Aku berjalan mundur sembari melihat sekelilingku, sementara tanganku mulai meraba-raba tembok dan mencari tombol lampu, tiba-tiba tanganku menyentuh benda lain, sesuatu yang berambut, aku berbalik dan menyaksikan seorang anak gadis dengan pakaian putih dress, menatapku dengan ekspresi mulut mengangah, di wajahnya, aku tidak melihat ada bola mata... Hanya cairan merah yang mengalir di kelopak mata sampai pipi kecilnya.

Aku menjerit, mematung tak bisa bergerak... dan gadis itu ikut menjerit, suaranya melengking tajam kemudian meniup lilinku sampai semuanya menjadi gelap, tanganku dengan cepat menekan tombol lampu, dan gadis itu menghilang begitu saja.

Aku mulai ketakutan setengah mati, bahkan aku tidak berani untuk melihat apa yang ada di belakangku. Suara TV semakin menambah suasana berdebar yang hampir membuat jantungku melompat keluar.

Aku berjalan entah ke mana, aku begitu kebingungan dengan semuanya.

Yang aku pikirkan hanya “Black Child” apa pun itu, aku sangat ketakutan.

Aku mengambil remote TV, mematikanya dan melihat ke sekelilingku dengan khawatir. “Jangan—” tiba-tiba suara berat terdengar di telingaku, “Jangan matikan TV-nya kak” aku mendekati sofa, saat aku melihat 3 anak lelaki menatapku, tatapan yang sama seperti gadis itu, dia tidak memiliki bola mata, seolah-olah bola matanya di congkel, mereka melihat ke arahku dengan kepala berputar 360 derajat. Aku tersentak mundur, dan anak-anak itu berlarian pergi dengan tawa cekikikan.

Aku merangkak berusaha mencari sumber suara telepon yang berdering, air mataku mulai menetes, sementara kakiku tidak berhenti untuk gemetaran.

Aku hanya merangkak dan merangkak, saat aku menyadari ada sesuatu yang salah. Telepon tidak seharusnya berdering, terlebih bila kau sebelumnya sudah mengangkatnya.

Aku melihat gadis lain, kali ini berambut pendek, dia melihat tepat ke arahku, dia tersenyum sangat sinis, dan mulai merangkak mendekatiku. Aku menjerit dan menjerit, hingga dia menghilang begitu saja.

Aku mulai bangkit dan berlari menuju pintu, sampai aku menyaksikan puluhan anak berdiri di sana, merentangkan tanganya ke arahku, aku berbalik dan puluhan anak lain berada di sana, mengepungku dari segala sisi, mereka menyeretku dengan tubuh kecil mereka. Membawaku menuju kamar mandi, membenamkan kepalaku masuk ke dalam bak berisi air garam yang menghitam, aku meronta-ronta, suara cekikikan terdengar terus menerus, saat aku tersadar. Aku menjerit di pelukan kedua orang tuaku.

Ya, aku melihat kedua orang tuaku tampak khawatir, mereka bertanya apa yang kulakukan di kamar mandi dengan air terus mengalir.

Aku hanya diam, seolah-olah aku tidak boleh menceritakan tentang semua yang terjadi. Jadi, sekarang aku berada di dalam kamarku.

Aku mencari Situs itu kembali, dan membaca sebuah pesan yang kulupakan. “Saat kau memulai permainannya, maka semua yang ada di sekitarmu, bukanlah duniamu lagi.”



Aku membenamkan kepalaku, dan mulai menangis, aku berusaha menutup kedua telingaku. Sejak saat itu, aku selalu melihat dan mendengar suara cekikikan mereka di sekitar rumahku. Melihatku tanpa bola mata mereka.

Credited to Pio

Source: Creepypasta Indonesia