Selasa, 13 Juni 2017

Bloody Painter


Ini adalah Helen, yang berusia 14 tahun. Kantung mata berwarna hitam membuat dia seolah-olah tampak tidak pernah cukup tidur. Dia tidak peduli dengan rambut hitam berantakan, karena dia tidak ingin merapikan diri; dia rasa itu tidak perlu.



Tempat duduknya berada di belakang, di samping jendela; dia selalu duduk di sana menggambar dengan tenang, seolah-olah menggambar adalah segalanya. Dia tidak suka bersosialisasi dengan orang lain, membuat dia menjadi seorang yang kesepian.

Ada seseorang yang didorong ke lantai setelah pulang sekolah. Itu adalah Tom, yang selalu menjadi korban penindasan, bukan karena dia telah melakukan sesuatu yang buruk, tetapi karena murid-murid di sekitar tidak menyukainya. Ini sering terjadi, dan Helen selalu menyaksikan. Meskipun dia merasa kasihan dengan Tom, dia tidak ingin ikut campur, karena itu mengganggu.

Selama jam istirahat, Judy mengatakan bahwa dia kehilangan jam tangan dan mencarinya. Helen tidak membantu, karena itu bukan urusannya. Tiba-tiba, seseorang melihat sesuatu yang berkedip di dalam tas Helen.

“Apa ini?” kata Ban, ketika dia memasukkan tangannya ke dalam tas Helen, dan mengeluarkan sebuah jam tangan yang dihiasi berlian palsu. Helen sangat terkejut ketika melihat itu adalah jam tangan Judy yang hilang, dia tidak tahu bagaimana bisa jam tangan Judy berada di dalam tasnya. “Ah! Itu jam tanganku!” Judy menerima jam tangannya dari Ban. Mereka berdua menatap Helen dengan sorotan aneh. “Bukan aku yang mengambilnya” kata Helen, masih menggambar di buku tulis tanpa mengangkat kepala. “Pasti kau yang mengambilnya” Judy meninggalkan kelas bersama Ban.

Keesokan harinya, seperti biasa, Helen duduk di tempat dia biasa menggambar. Dia menyadari bahwa suasana tidak seperti biasa, ada sesuatu yang tidak beres; murid-murid mulai berbisik tentang dirinya, dan bahkan beberapa mulai memanggil dengan sebutan seorang “Pencuri”. Dia memutuskan untuk tidak menjelaskan, karena dia tahu kalau itu percuma.

Seiring berjalannya waktu, Helen menjadi target baru korban penindasan; semua berlebihan sekarang. Dia tidak suka, tetapi dia tidak bisa melawan. Dia menahan perasaan itu di dalam hatinya, dia hanya bisa diam.

Sampai suatu hari, Ban mendatanginya dan merampas buku tulis Helen dengan gambar yang belum selesai. “Selalu melakukan hal-hal yang tidak berarti” kata Ban ketika merobek beberapa halaman di buku gambar Helen, merobek menjadi potongan-potongan kecil, Ban ingin melihat reaksi Helen. Pada saat itu, dia sudah mulai kehilangan kesabaran, jadi dia tidak bisa menahan. Dia menghajar Ban di bagian wajah, dan mereka mulai berkelahi. Namun Helen tidak punya cukup kekuatan, sehingga dia dikalahkan dalam waktu singkat. Murid-murid lain pergi untuk melihat perkelahian itu, beberapa bahkan menginjak wajah dan perut Helen.

Tepat setelah bel berbunyi, mereka berhenti melakukan itu dan kembali ke tempat duduk masing-masing sebelum guru datang. Helen kembali ke tempat duduknya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Seorang guru masuk dan berkata, “Ya tuhan, Otis (Helen)! Apa yang terjadi?” Helen mendapati begitu banyak luka memar sehingga gurunya langsung menyadari ketika masuk. Semua murid mulai menatap dengan sorotan pembunuh, menunggu respons dari Helen. “Saya jatuh dari tangga, Bu.” jawab Helen, sorotan mengerikan hilang.

Setelah pulang sekolah, kedua orang tuanya juga bertanya apa yang terjadi, dan dia merespons dengan jawaban yang sama. Jaket biru yang dipakai menutupi semua luka memar selain luka di wajah. Orang tuanya memercayai tanpa ragu. Biasanya, ketika orang tua Helen bertanya tentang bagaimana dia di sekolah, dia selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Dia bahkan berbohong kalau mendapatkan banyak teman, menjalani kehidupan menyenangkan setiap hari. Helen menolak untuk memberitahu yang sebenarnya, karena dia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.

Beberapa bulan kemudian, dia sudah terbiasa dengan komentar negatif, dan dipukuli atau dipermalukan sudah menjadi peristiwa normal; dia benar-benar kebal sekarang. Siapa yang menjebaknya di tempat pertama? Kenapa melakukan hal jahat ini kepada Helen? Itu tidak penting lagi. Tidak ada yang penting lagi sekarang.

“Hai! Kau di sana?” Helen menerima 1 pesan dari seorang pengguna yang tidak diketahui di Facebook. “Siapa kau?” jawab Helen. “Aku Tom, teman sekelasmu.” Tom tidak pernah berinteraksi dengan Helen sebelumnya. Ini membuat dia sedikit terkejut. “Ada apa?” tanya Helen. “Um… apa kau baik-baik saja?” “Itu bukan urusanmu.” Helen menjawab pertanyaan Tom. Tom mengetik selama beberapa saat sebelum akhirnya mengirim pesan, “Dengar, aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Kau sedang berada di dalam situasi yang sama sepertiku. Aku sangat ingin membantumu, tapi aku tidak bisa… maaf.” Setelah itu, Tom dan Helen saling mengirim pesan satu sama lain, dan Helen merasa lebih baik setelah menceritakan semua rasa sakit dan perasaan yang telah dirasakan. Dia bahkan bisa membuat lelucon dengan Tom, sampai mereka sering menggunakan emot senyum “:)” untuk menunjukkan kesenangan. Ini adalah pertama kalinya dia berpikir bahwa dia mendapatkan seorang teman.


Saat itu adalah cuaca yang hangat di sore hari. “Temui aku di atap setelah jam pelajaran pertama di sore hari. Kita harus bicara, jangan bertanya kenapa.” pesan itu dikirim Tom kemarin malam. Mengikuti instruksinya, Helen menemui Tom di atap, Helen melambaikan tangan dan berjalan ke Tom lalu berkata “Hei Tom! Ada apa, teman?”. “Um… Aku punya sesuatu yang harus kukatakan… sesuatu yang penting…” kata Tom dengan wajah serius. “Ingat kejadian pencurian jam tangan?” Bagaimana bisa Helen melupakan kejadian itu? Itu adalah bagaimana dia mulai menderita! Helen mengangguk untuk menunjukkan bahwa dia ingat. “Aku adalah pelakunya!” Tom menunduk, takut untuk menatap mata Helen. “APA?!” Helen terkejut. “Aku mencuri jam tangan Judy dan menjebakmu sebagai pelakunya.” “Kenapa kau melakukan itu?” “Dengan kau sebagai target baru korban penindasan, hidupku terasa jauh lebih baik.” Tom menyeringai. Itu benar, ketika semua murid memutuskan untuk menindas Helen, mereka tidak mengganggu Tom lagi. Dia seperti sebuah mainan yang ditinggalkan. Semua berjalan dengan sempurna. Selama dia terus diam, dia bisa menjalani kehidupan di sekolah dengan aman dan nyaman. Dia berhasil; rencana itu berjalan dengan sempurna.

Helen meraih kerah baju Tom, dan setelah itu dia sedikit mendorongnya, mereka berada di dekat tepi atap. Tom tergelincir dan terjatuh dari atap. Helen dengan cepat meraih tangannya, dan berusaha untuk menarik kembali, tetapi Helen tidak punya cukup tenaga untuk melakukannya.

“Aku minta maaf, Helen” Tom terjatuh. Helen menutup mata, dia takut untuk melihat apa yang terjadi. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah seseorang terjatuh dari gedung dengan tinggi mencapai 6 kaki.

Setelah polisi tiba, mereka mewawancarai Helen. Dia terlalu takut dengan kecelakaan itu, sehingga dia tidak mengatakan sepatah kata.

Sekali lagi, Helen menjadi topik pembicaraan antar murid. Beberapa berpikir Helen mendorong Tom dari atap, tetapi sebagian besar yang lain berpikir bahwa Tom melakukan aksi bunuh diri, dan Helen gagal menyelamatkan, karena mereka melihatnya meraih tangan Tom sebelum dia terjatuh.

Malam itu, Helen berada di dalam kamar sambil menangis, menggigil, dan tidak bisa menghentikan rasa bersalah yang tumbuh dari dalam dirinya. Dia harus menenangkan diri, dan tiba-tiba satu pemikiran terlintas di benaknya: “Ini bukan salahku bahwa Tom mati. Dia pantas untuk mati!” Itu membuat perasaannya jauh lebih baik, dan rasa bersalah juga memudar. Helen tersenyum mengerikan, “Tom sudah mendapatkan hukuman… Kukira sudah waktunya untuk menghukum yang lain, benar?” Tangisan berubah menjadi tawa dalam kegelapan.

Teman sekelas Helen memutuskan untuk mengadakan pesta pada hari Halloween, tetapi itu bukan untuk merayakan hari Halloween, hanya untuk berkumpul bersama. Tentu saja, Helen tidak diundang ke pesta itu. Pada malam sebelum hari Halloween Judy dan Maggie saling mengirimkan pesan satu sama lain melalui Facebook. Keduanya tinggal di asrama sekolah, dan kamar Judy bersebelahan dengan kamar Maggie.

09:03 – Judy: siapa yang akan datang di pesta besok? Aku sangat bersemangat :D
09:03 – Maggie: murid kelas kita akan banyak yang datang. Tapi aku sudah beberapa kali mengirimkan pesan kepada Ban, dan bahkan meskipun semua pesan yang kukirimkan sudah dibaca, dia tidak membalas pesanku. Apa ada yang salah dengannya?
09:04 – Judy: kukira dia mungkin sedang sibuk
09:06 – Maggie: ada sesuatu yang tidak beres… Aku sudah mendengar suara langkah kaki yang datang dari pintu kamarku sebanyak 4 kali… Kupikir ada seseorang yang berjalan di sekitar asrama
09:06 – Maggie: tunggu, aku akan pergi memeriksanya
(Maggie mengintip melalui lubang pintu dan melihat sesuatu yang tidak biasa…)
09:07 – Maggie: ya Tuhan!! ada seseorang yang memakai topeng dan jaket biru di luar, dan dia memegang sebilah pisau. dan DIA BERLUMURAN DARAH!!
09:07 – Maggie: sial! dia mengetuk pintu kamarku sekarang
09:08 – Maggie: ya Tuhan ya Tuhan ya Tuhan!!!!
09:08 – Judy: kau harus tetap tenang, dan carilah senjata atau sesuatu yang bisa digunakan
09:08 – Judy: untuk melindungi dirimu!
09:09 – Maggie: Dia memutar kenop pintu, syukurlah aku sudah mengunci pintu kamar
09:09 – Maggie: Aku takut!!
09:09 – Judy: Maggie
09:09 – Maggie: apa yang harus kulakukan?!
09:09 – Judy: Maggie, dengar
09:09 – Maggie: SELAMATKAN AKU!!
09:09 – Judy: Maggie, cobalah untuk tetap tenang
09:09 – Judy: Maggie
09:10 – Judy: Maggie?
09:10 – Judy: kau di sana?

Pesan menampilkan tanda bahwa sudah dibaca, tetapi Judy tidak mendapatkan respons dari Maggie. Tiba-tiba Judy mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Kemudian dia berbalik, dia merasakan rasa sakit yang amat perih di bagian perutnya. Seorang lelaki berlumuran darah yang memakai topeng dan jaket biru menerobos masuk ke dalam kamar dan menusuknya.



Malam itu, seluruh murid di asrama tewas dibunuh. Tidak ada yang tahu kenapa pembunuh itu melakukan semua ini. Pembunuh itu menggunakan darah korban untuk melukis di dinding asrama, sebagian besar lukisan itu membentuk wajah senyum “:)”. Sebagian besar korban dicincang dan dihaluskan, mungkin untuk mendapatkan lebih banyak “pigmen”. Helen Otis, sang pelaku kejahatan, masih menghilang sampai saat ini.



Namun, di ruang obrolan di mana Judy dan Maggie saling mengirimkan pesan satu sama lain, terdapat satu pesan yang menuliskan respons untuk pesan pertama Judy di jam 09:03:
“11:15 – Judy: jangan bersemangat tentang hari esok ":)" karena tidak akan ada hari esok.

Original Author: DeluCat

English Translation by WennyRay

Indonesian Translation by Gugun Reaper

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna