Selasa, 13 Juni 2017

Bloody Painter 2: 10 Age Story-on the Snow

(beberapa tahun yang lalu....)

Ini adalah Helen, yang berusia 10 tahun. Dia adalah seorang anak riang yang mempunyai banyak teman. Seperti anak-anak lain, permainan dan tawa adalah segala baginya.



Teman terbaiknya, Phil, sering pergi ke rumah Helen untuk bermain bersama. Orang tua Helen selalu sibuk dengan pekerjaan mereka, ayahnya sering bepergian selama beberapa bulan, dan ibunya selalu pulang pada tengah malam.

Dibandingkan dengan yang lain, Phil adalah anak yang lebih dewasa. Phil dan Helen menikmati gambar mereka. Namun Phil selalu menggambar hal-hal negatif dan menyeramkan. Dia mengatakan bahwa itu adalah gambar terbaiknya, dan ini membuat dia merasa lebih baik.

Pada suatu hari bersalju, seperti biasa Phil mengambil tas yang berisi peralatan menggambar dan pergi ke rumah Helen. Helen menyalakan penghangat ruangan dan menyambutnya. Meskipun saat itu musim dingin, pemanas ruangan itu membuat Phil merasa hangat. "Kau berkeringat! Lepaskan mantelmu, aku akan menggantungnya di suatu tempat." kata Helen, karena dia melihat Phil berkeringat di sekujur tubuhnya. Phil merasa ragu selama beberapa saat. "Tidak, terima kasih." dia menggelengkan kepala. Helen bergegas ke Phil untuk melepaskan lengan mantel yang dipakai, dan kemudian dia melihat pergelangan tangan Phil dipenuhi luka memar. "Apakah luka-luka ini disebabkan oleh ayahmu? Apakah dia mabuk lagi?" tanya Helen. "....." Phil menunduk, tetapi dia tidak merespons pertanyaan Helen. "Ayo ikut aku ke kamar mandi. Aku akan mengoleskan krim analgesik di tubuhmu" kata Helen. Mereka memasuki kamar mandi, dan Phil melepaskan mantel. Leher dan punggungnya dipenuhi luka memar. Tangan Helen mengoleskan obat salep ke punggung Phil. Helen tidak bisa membayangkan apa yang ayah Phil perbuat sampai-sampai tubuh Phil bisa dipenuhi luka memar.

Ayah Phil adalah seorang pemabuk. Dia selalu melakukan hal-hal keji kepada istri dan anaknya. Ibu Phil tidak tahan dengan tingkah lakunya, jadi dia meninggalkan keluarganya. Setelah itu, ibunya menikah lagi, dan hidup bahagia. Terkadang, dia akan membawakan beberapa hadiah untuk Phil. Namun ayahnya tidak setuju. Dia menolak kebenaran itu, dan mengklaim bahwa semua itu adalah kesalahan ibu Phil.

"Kau seharusnya tidak tinggal dengannya, dia tidak pantas menjadi ayahmu" kata Helen.
"Aku tahu itu, tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku cuma anak-anak" kata Phil.
"Aku hanya tidak ingin kau tersakiti, kawan."
"......." Phil terdiam selama beberapa saat, dan menjawab, "Akan ada waktunya di mana semua menjadi lebih baik... benar?" Dia sedikit tersenyum.
Helen tidak mengerti kenapa Phil tidak memberi perlawanan, dan kenapa dia selalu berpura-pura seolah-olah tidak ada yang terjadi di depan orang lain, bahkan jika itu adalah sesuatu yang begitu kejam.

Pada suatu pagi, Phil terbangun ketika ayahnya masih tertidur, dan bersiap untuk pergi ke rumah Helen. Dia memakai sepatu, lalu dia berjalan keluar rumah, dan setelah berjalan selama beberapa langkah dia melihat seseorang melambaikan tangan padanya. "Phil, sayang. Ini ibu" kata ibu Phil. Phil bergegas untuk memeluk ibunya. "Ibu membeli pakaian-pakaian baru untukmu, ini sudah musim dingin, ingat untuk memakai pakaian hangat" ibunya membawa tas-tas yang penuh dengan pakaian baru, mainan, cat air dan kapur berwarna, dan juga kata-kata mutiara yang datang dari seorang ibu tercinta. Bisa bertemu dengan ibunya adalah sesuatu yang menyenangkan untuk Phil. Setelah mengobrol selama beberapa saat, ibu Phil bersiap untuk pergi meninggalkannya. "Ibu, tidak bisakah kau bersamaku sedikit lebih lama lagi?" kata Phil. "Ibu minta maaf, sayang. Suami ibu sedang menunggu di dalam mobil." Ibu Phil memberikan semua hadiah itu, dan berjalan ke mobil di mana suami barunya menunggu.

Phil mengambil hadiah yang diberikan oleh ibunya, lalu dia berjalan ke taman, duduk di atas salju dan memandang ke langit; dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pernah, ketika dia membawa hadiah yang diberikan ibunya ke rumah, ayahnya sangat marah dan membakar semua hadiah yang dibawa Phil. Dia tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Kemudian, tiga anak mendatanginya. "Apakah kau diberikan hadiah-hadiah sampah oleh si jalang itu lagi?" kata salah satu anak. "Apa yang baru saja kau katakan?" Phil menatapnya. "Kami melihat ibumu, orang tuaku mengatakan bahwa, dia adalah wanita jalang yang meninggalkan suami dan anaknya untuk tinggal dengan pria lain" "TIDAK, DIA TIDAK SEPERTI ITU!" Phil berteriak marah kepada mereka. "Itu adalah fakta, apa gerangan yang bisa kau lakukan?" Katanya dengan agresif. Dia mendorong bahu Phil untuk memancing kemarahan, tetapi Phil memukulnya, dengan pukulan itu perkelahian dimulai.

Salah satu anak mengambil batu dan melemparkannya ke kepala Phil. Batu dan salju tercampur dengan warna merah. Phil terjatuh, matanya melebar, dan dia berhenti bergerak. "YA TUHAN!!!! Apa yang kau lakukan!!??" "Aku takut, anak sialan itu berhenti bergerak... Apa yang harus kita lakukan sekarang???"
.
.
.
.
.

"Mungkin, kita bisa menguburnya?"

---------------------------------------

Pada saat itu, Helen menunggu Phil. Dia melihat ke luar jendela, dan tidak melihat seorang pun yang datang. Dia bergegas keluar untuk mencari Phil, karena dia mengkhawatirkannya. Namun dia tidak bisa menemukannya. Dia datang ke taman, dan duduk di bangku taman. Namun kemudian dia menyadari bahwa salju-salju yang seharusnya berwarna putih menjadi berwarna merah. Seketika dia mendapatkan perasaan yang sangat buruk. Dia melepas sarung tangan, dan menggali salju dengan tangannya. Dia kemudian melihat semakin banyak salju yang berwarna merah. Ada yang tidak beres, pikirnya. Setelah itu, dia berpikir bahwa dia menyentuh sesuatu. Hidung, kemudian wajah - ternyata itu adalah wajah Phil. Teman terbaik Helen terkubur di dalam salju. "Oh tidak..." Helen menyentuh wajah itu dan menangis. Kemudian, dia mendengar suara langkah kaki, dan melihat ada tiga anak yang berdiri di belakangnya. Mereka menatap dengan tatapan yang keji dan berlari tanpa mengucapkan sepatah kata. Helen tidak tahu apa yang terjadi, dan tidak mengerti apa maksud dari semua ini.

Helen menangis dalam kurun waktu lama di samping tubuh tak bernyawa teman terbaiknya. Sampai seseorang memegang bahunya dari belakang. "Apakah kau Helen Otis?" Helen berbalik dan melihat seorang polisi dan ibunya. Ketiga anak itu menjebaknya sebagai pembunuh. Helen tidak mempunyai bukti untuk membuktikan apa yang terjadi. Mereka menduga bahwa Helen melemparkan sebuah batu ke kepala Phil, membunuhnya, dan berusaha untuk menguburnya, menurut tiga saksi. Setelah investigasi dan interogasi, Helen pulang ke rumah, memasuki kamarnya, dan duduk di tempat tidurnya, setelah beberapa menit, ibunya datang memasuki kamar, dan duduk di sampingnya. "Ibu, aku tidak membunuh siapa pun." mata biru Helen menunjukkan rasa takut. "Ibu tahu, tapi situasi ini tidak bagus untukmu." Ibunya memeluk Helen yang berbicara dengan suara sesak. Tidak ada bukti yang jelas bahwa Helen membunuh Phil, tetapi sebagai seorang yang dituduh, dia tidak mempunyai argumen spesifik untuk menyangkal, dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi.

Keesokan harinya, Helen melihat anak-anak lain bermain di taman, dan mereka semua melihat ke arahnya "Hai, ada apa?" "......." "Kau membunuh Phil, orang tuaku mengatakan untuk menjauh darimu." kata seorang anak. "Kata ayah kau adalah seorang pembunuh." "ITU TIDAK BENAR!!" jawab Helen. "Kami tidak bisa percaya. Mungkin kau berbohong." kata salah satu anak. Helen tahu apa yang dia katakan akan sia-sia. Semua teman melangkah mundur darinya, tidak ada yang percaya padanya.

Semua orang menganggapnya sebagai seorang pembunuh.

---------------------------------

"Helen, kabar bagus!!!" Ibu Helen membangunkannya di pagi hari. "Ada seorang saksi yang melihat semuanya, dia bersedia memberikan kesaksian untukmu." Helen terkejut, dia tidak percaya ada seorang saksi yang menyaksikan semua itu. Dia menjelaskan semua, dan semuanya berakhir. "Helen, ibu ingin berterima kasih kepada saksi itu besok, apakah kau ingin pergi bersama ibu? Mungkin kau bisa berteman dengannya." Ibu Helen menyiapkan beberapa hadiah untuk orang yang menjadi saksi itu. "Tidak, aku ingin tetap menggambar di rumah." Helen sudah menyerah mendapatkan teman; dia sudah berubah. Dia sudah menjadi acuh tak acuh, dengan menggambar hal-hal yang dipenuhi unsur negatif dan coretan aneh.



Ketika hari bersalju tiba, dia akan mengingat... mata mengerikan dari mayat yang dikubur di dalam salju. Itu adalah ingatan yang tidak bisa dilupakan bahkan jika dia ingin melupakan ingatan itu.

Saksi itu adalah Vic Steven, tiga tahun kemudian dia mengubah namanya menjadi Tom Steven.


Original Author: DeluCat

English Translation by WennyRay

Indonesian Translation by Gugun Reaper

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, dimohon untuk tidak melucu karena ini bukan tempatnya. Jikalau terdapat kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan/terjemahan silakan kirim kata pengganti untuk menyempurnakan cerita.

Berikan rating dengan cara berkomentar:

0/10 = Jelek
10/10 = Sempurna