Sabtu, 10 Juni 2017

Barbie.avi

Sebuah foto gudang logam

Halo. Ini terjadi padaku beberapa bulan yang lalu; hanya saja aku merasa bahwa harus membagikan cerita ini kepada seseorang.



Semuanya berawal ketika aku berada di pesta temanku. Dia adalah seorang seniman yang menyewakan apartemennya di bagian industri kota. Jika kau bisa menggambarkan sebuah tempat seperti Detroit yang terlihat seperti di tahun 1920-an – seperti itulah daerah ini sekarang. Sekelompok pabrik tua yang berjajar di dalam sepuluh blok.

Kebanyakan dari tempat-tempat itu sudah ditinggalkan.

Jadi aku sedikit berpesta dengan terlalu bersemangat pada malam itu dan memutuskan untuk tidur di sofa yang berada di lantai atas. Aku terbangun sekitar jam 4 pagi, matahari belum terbit dan kau masih bisa melihat langit yang berwarna biru redup. Aku pergi ke kamar mandi, dengan berhati-hati agar tidak menginjak orang-orang yang pingsan di lantai. Ketika aku buang air kecil, aku berjinjit untuk melihat ke luar jendela kamar mandi dan aku melihat panorama kota yang sepi.

Aku ingat betapa aku menyukai tempat-tempat seperti ini. Keadaan sangat gelap dan sunyi, dan anehnya ini terasa menyenangkan.

Jadi aku kembali ke sofa dan mencoba untuk kembali tidur. Setelah 45 menit menatap langit-langit, aku tidak ingin berlama-lama lagi berada di sini, jadi aku memutuskan untuk membangunkan pacarku melalui telepon dan memintanya untuk segera menjemputku, karena berjalan di sekitar jalan yang kosong pada saat ini bukanlah suatu pilihan yang tepat. Gadis yang cukup baik, dia dengan senang hati akan menjemputku dan memberi tahuku bahwa dia akan sampai dalam waktu sekitar setengah jam dan dia akan meneleponku ketika sudah berada di luar. Sepuluh menit kemudian, ponselku mati, jadi aku memutuskan untuk duduk di dekat jendela dan melihat ke luar sambil menunggu mobil pacarku tiba. Aku duduk di sana selama beberapa saat dan mataku mulai terasa berat dan aku mulai tertidur.

Suara keributan di luar membangunkanku. Suara itu bukan suara yang keras, tetapi cukup mengagetkanku sampai aku terbangun. Aku melihat ke luar jendela dan mencari sumber suara itu, tetapi aku tidak melihat siapa pun di sana. Di seberang jalan di luar sana, aku melihat tumpukan kantong sampah dan salah satu dari kantong sampah itu aku melihat sebuah komputer dan monitornya yang membentur lantai, padahal tidak ada komputer itu sebelumnya.

Ketika pacarku tiba aku turun ke bawah dan menyapanya. Ketika aku hendak masuk ke dalam mobil, aku ingat salah seorang temanku telah merusak power supply miliknya. Jadi aku memutuskan untuk berjalan ke tempat sampah itu dan melihat apa yang bisa kuselamatkan dari komputer itu. Monitor komputer itu sudah tidak berharga, tetapi komponen CPU komputer itu tampak hampir tidak memiliki kerusakan, jadi aku memasukkannya ke dalam bagasi dan kami melaju pergi.

Sudah sekitar seminggu berlalu dan aku sepenuhnya melupakan tentang komponen CPU itu sampai pacarku meneleponku untuk memberi tahuku bahwa komponen CPU itu masih berada di dalam bagasi mobilnya dan dia memintaku untuk mengeluarkan komponen CPU itu. Malam itu aku membawanya pulang. Sebelum aku membongkar aku memutuskan untuk menghubungkan komponen CPU itu ke monitor komputerku untuk melihat apakah komponen itu masih bisa bekerja, dan aku terkejut bahwa komponen itu masih berfungsi. OS yang terinstall di hard disk adalah Windows XP dan data di hard disk sepertinya sudah dibersihkan. Aku memutuskan untuk melakukan pencarian kata-kata seperti “payudara” dan “vagina” dengan harapan bisa menemukan beberapa data rahasia si pemilik termasuk data porno yang lupa dia hapus. Kukira aku benar-benar penasaran. Aku mencari dan tidak menemukan file apa pun. Aku mencoba untuk mencari di file-file gambar dan tidak ada hasil sama sekali. Kemudian aku mencari di file film dan ada satu file yang berhasil ditemukan. Itu adalah sebuah file berformat .avi di dalam sebuah folder berjudul “barbie” yang tersembunyi di direktori WINDOWS/system32.

Jadi aku memutarnya, sekarang adalah di mana hal ini mulai mengganggu.

Film itu berdurasi sekitar satu jam, dan terlihat seperti jenis film footage. Rekaman ini dimulai dari seorang wanita yang duduk di sebuah kursi dan berbicara dengan latar belakang tembok berwarna putih. Aku melewatkan hampir seluruh film karena terus menampilkan hal yang sama. Kemudian aku memutuskan untuk duduk dan menonton rekaman itu untuk mencari tahu apa yang sedang dia bicarakan. Lima belas detik kemudian audio pada rekaman itu mulai sepenuhnya buruk dan suaranya tenggelam dalam statis yang keras/kebisingan latar belakang. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan.

Jadi aku mengimpor rekaman itu ke potongan terakhir dan mencoba untuk mengotak-atik tingkat pengaturan suara untuk mengisolasi suara wanita itu. Ini sedikit membantu, tetapi aku masih tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Sekarang aku semakin tertarik, dan aku mulai benar-benar memerhatikan wajah dan bahasa tubuhnya. Tampaknya dia sedang ditanyakan beberapa jenis pertanyaan, karena dia berhenti selama beberapa saat untuk menyimak, dan kemudian dilanjutkan dengan berbicara.

Sekitar 15 menit kemudian, wajah wanita itu mulai memerah dan menggelengkan kepala seolah-olah pertanyaan yang diajukan mengganggu... Namun dia terus menjawab. Tak lama setelah itu dia mulai menangis. Dia terisak-isak histeris selama film berlangsung. Salah satu dari beberapa kata yang bisa kubaca dari gerakan bibirnya adalah “kulit”. Dia mengulangi kata ini berkali-kali sepanjang rekaman berlangsung dan pada suatu waktu dia bahkan menarik kulit tangan dan mengeluarkan kata itu di mulutnya. Dia tampak tidak senang dengan kulitnya.

Ada banyak lagi yang harus kucerna, tetapi sudah terlambat dan aku tidak bisa melanjutkan. Aku akan membagikan cerita tentang sisa dari rekaman itu besok. Semoga Tuhan menyelamatkan jiwaku.

Film ini masih berlangsung secara terus menerus, sekitar 40 menit dia menangis sangat keras dan hampir tidak bisa melihat ke kamera. Kemudian dia berhenti berbicara dan sisa rekaman itu hanya menampilkan dirinya yang menangis dengan menundukkan kepala. Anehnya dia tidak mengangkat kepala ataupun bergerak, layar hanya memudar menjadi hitam.

Gerangan ini semakin membuatku kebingungan.

Aku sudah memutar film tersebut selama berkali-kali pada malam itu, mencoba untuk menemukan perubahan suara dan perubahan dalam gerakan yang akan mengungkapkan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku belum merasa puas, aku ingin tahu lebih banyak. Saat itulah aku menyadari bahwa ada sekitar 10 menit yang tersisa di garis waktu setelah layar berubah menjadi hitam, dan sekitar 2 menit rekaman tambahan.

Rekaman itu bergetar dengan luar biasa, hampir tidak bisa dilihat, dan rekaman itu menunjukkan sepasang kaki yang berjalan di sepanjang rel kereta api. Kukira kamera itu secara tidak sengaja tertinggal di suatu tempat. Orang dalam rekaman ini berjalan di sepanjang rel kereta api selama sekitar 6 menit dan kemudian berbelok ke hutan dan berjalan ke apa yang tampak seperti dedaunan yang diratakan oleh sepotong kayu lapis. Orang itu terus berjalan di atas jalan yang terbuat dari kayu lapis sampai klip film berakhir.

Sekarang jantungku mulai berdetak kencang karena ada rel kereta api yang berjarak beberapa mil tampak sangat mirip dengan yang ada di dalam video pertama. Aku harus memeriksanya.

Aku menelepon temanku yang bernama Ezra; dia memiliki tinggi 6.4 kaki dan berat 250 pound dari sebagian besar otot di tubuhnya. Aku meyakinkan dia untuk pergi ke petualangan kecil denganku. Aku tidak memaksakan diri, tetapi aku merasa jika aku harus pergi ke hutan untuk mencari sesuatu, tidak ada salahnya jika aku mengajak teman yang berotot. Ide tentang penyelidikan video ini membuatku sangat besemangat sampai aku tidak bisa tidur.

Keesokan paginya pada hari Sabtu yang cerah, aku mengambil senter, kamera, dan pisau ka-bar milikku yang memiliki panjang 7 inci dengan warna hitam dan tepi pisau bergerigi, kemudian aku pergi untuk menjemput Ezra. Ketika aku sampai di rumahnya, dia masih tidur. Ketika aku membangunkan, dia mengatakan padaku untuk pergi sendiri saja. Aku sudah menyimpan semua barang-barang yang kubutuhkan dan aku telah menyiapkan mentalku jadi aku memutuskan untuk pergi meskipun tanpa dirinya. Aku memarkirkan mobilku di stasiun kereta api, mengambil barang-barangku, dan turun ke atas rel.

Setelah berjalan selama sekitar dua jam, aku melihat sepotong patahan kayu lapis dan lututku hampir lemas karena rasa takut. Aku mencari dedaunan terdekat, dan aku melihat jalan kayu lapis kecil yang mengarah ke hutan.

Aku berjalan secara perlahan di sepanjang jalan, memerhatikan segala yang ada di sekitarku. Terkadang aku akan berhenti berjalan, lalu menurunkan lututku, dan mendengarkan sesuatu atau siapa pun… tetapi suasana di sana sangat tenang. Ini adalah salah satu hal yang paling menegangkan yang pernah kulakukan. Aku tidak tahu apa yang kuharapkan dari ujung tempat ini.

Barisan pohon itu memberikan jalan ke lapangan rumput, dan kemudian aku melihatnya, sebuah rumah yang sudah dimakan oleh hutan. Rumah itu tampak sudah tidak dihuni selama 20, atau 30 tahun. Aku mengambil kameraku dan memotret beberapa gambar. Beberapa yard dari rumah itu ada sebuah gudang penyimpanan alat yang terbuat dari logam berkarat. Aku hanya duduk di sana di antara pohon-pohon selama beberapa saat, untuk menghirup udara segar.

Aku tidak ingin pergi ke lapangan rumput terbuka itu, aku mendapatkan firasat yang buruk bahwa ada sesuatu yang sedang mengawasiku.

Butuh waktu beberapa saat bagiku mengumpulkan keberanian untuk pergi ke rumah itu. Pintu rumah itu sedikit terbuka. Aku mendorong dengan senter di tanganku dan merasa lega bahwa di dalamnya sangat remang. Aku menyimpan senterku, lalu mengambil kameraku dan memotret beberapa gambar. Di sana tidak ada perabotan apa pun. Lantai rumah dipenuhi dengan batu bata, kayu, puing-puing, dan dinding yang memiliki beberapa lubang besar. Ketika aku pergi lebih jauh untuk menelusuri rumah itu, aku melihat beberapa hal yang tidak terlalu kupikirkan pada saat itu, tetapi sekarang aku memikirkan tentang hal itu, mereka sangat mengganggu.

Hal pertama yang tampak sedikit aneh adalah salah satu pintu di ruangan pertama, yang kuanggap menuju ruang bawah tanah, pintu tersebut tampak terlalu baru untuk berada di dalam rumah ini. Pintu tersebut juga merupakan satu-satunya pintu di dalam rumah yang terkunci. Juga, ketika aku sampai ke lantai dua, aku melihat beberapa kursi dan meja lipat yang juga tampak sedikit terlalu baru untuk berada di sana. Namun apa yang paling menggangguku untuk beberapa alasan, adalah kamar mandi. Debu pada cermin kamar mandi telah dihilangkan, dan di dalam bak mandi, aku melihat terpal plastik bening yang masih memiliki tetesan air di atasnya, kukira, itu sedang dicuci. Saat itulah aku mendengar sesuatu yang mengerang dengan suara keras, dan saat itulah aku melompat ke luar jendela dari lantai dua dan berlari kembali menuju rel.

Ketika aku sudah separuh jalan aku menyadari bahwa erangan itu terdengar seperti pipa air yang sedang bekerja atau suara kontraktor, dan saat itulah aku merasa lega dari pengalaman seramku ketika aku bertanya-tanya kenapa air di sana menyala padahal itu adalah sebuah rumah yang sudah ditinggalkan dan berada di tengah hutan sialan.



Sudah sekitar 2 bulan sejak hal ini terjadi dan aku tidak pergi kembali ke sana, aku juga tidak punya rencana untuk kembali ke sana.

Videos*

  

Tambahkan foto ke galeri ini
* Harap dicatat bahwa video asli terdiri dari enam bagian, tetapi hanya tiga bagian yang pernah diunggah (1, 2 dan 4).

Translator: Gugun Reaper

Source: Creepypasta Wiki